Dalam Do’aku (Poems by Sapardi Djoko Damono)
Oktober 20, 2007
salam hormatku untuk beliau (sapardi djoko damono), puisinya bagus Pak, aku pinjem ya……..

Dalam Doaku
(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
Entry Filed under: sketsa. .
13 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
maulana | Februari 10, 2008 at 12:31
sebuah puisi indah yang
menggunakan kata-kata
yang mengandung makna
begitu dalam…….
termasuk juga terjemahan sayap-sayap
patah pak sapardi
membuatnya menjadi
seniman yang akan selalu di kenang..
2.
Rijal | April 4, 2008 at 18:53
Saya sedang belajar membaca puisi ini untuk persiapan baca puisi beberapa bulan depan, buat saya puisi ini sangat bagus namun saya masih sulit menjiwainya… aku masih harus belajar..
3.
hexa | Mei 19, 2008 at 11:40
Aku begitu JATUH CINTA dengan puisi “Dalam Doaku”.
merinding…..
menyentuh….
ku bisa meneteskan airmata…..
Apalagi dengan bait terakhir….”Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu”
4.
mea | Juli 5, 2008 at 00:14
terjemahan inggrisnya, dalam buku “Before Dawn” (Yayasan Lontar, 2005)
In My Prayers
Sapardi Djoko Damono
(translated by John McGlynn)
in my prayers this morning you became the sky which through the entire night did not close its eyes, a clear expanse ready to receive the first light, a curve of silence in wait of sound
as the sun drifted above my head, you became in my prayers the tips of pines, eternally green and forever presenting abstruse questions to the wind that hisses from directions unknown
in my prayers at dusk you became the sparrow that fluffed its feathers in the mist, alighted on the branch and felled the tassel of the guava flowers and then in sudden excitement flew away to alight on the mango branch
in my prayers this evening you became the distant wind that descended ever so slowly, tiptoed down the path and slipped through the cracks of the panes and door to press its cheeks and lips against my hair, chin and eyelashes
in my prayers tonight you became the beating of my heart that has so patiently endured what seems to be limitless pain and faithfully revealed one secret after another, the unending song of my life
i love you, and for that reason, will never stop praying for your well-being
5.
hardy | September 27, 2008 at 19:38
sudah dengar musikalisasinya.. indah sekali..
6.
dian | Oktober 25, 2008 at 01:03
ah! saya juga suka puisi2 beliau ^_^
7.
idea | November 13, 2008 at 23:17
doa sbg bukti cinta??
hebat!!!
8.
tito | Desember 1, 2008 at 18:22
well..sudahkah kita membuktikan cinta kita pada mereka yang kita cintai..meski dengan doa??
menyentuh ya..
9.
mayssari | Januari 12, 2009 at 12:30
saya suka sekali semua puisi beliau.
dalam interpretasi saya, puisi ini bukan mengenai hubungan horisontal, melainkan hubungan vertikal, bagaimana kita selalu menemui-NYA di 5 waktu kita, kemudian pada bait terakhir merupakan bukti cinta pada semesta, ketika kita mengucapkan salam penutup sholat, kita mendoakan keselamatan bagi sesesta
salam kenal
10.
wayuk | Januari 22, 2009 at 01:10
sapardi
pak Doktor yang saya sukai.
pertama mengenal nya agak dalam ketika membaca majalah Horison edisi tahun berapa…, saya lupa, ada rview tentang dia dan karya2nya.
hmmm …
sapardi …
menggigit sepotong kebijaksanaan dan meminum segelas pencerahan, itulah yang tersa setiap kali selesai membaca karya2nya.
11.
pradipta | Februari 10, 2009 at 17:56
sebelum membaca puisinya, terlebih dahulu saya mendengar musikalisasi puisi ini, yang dibuat oleh ananda sukarlan.
tapi setelah saya membaca langsung puisinya, saya teringat ibu saya yang selalu mengatakan bahwa beliau tak pernah berhenti mendoakan saya disetiap shalatnya.
april mendatang saya akan coba persembahkan lagu dari puisi ini untuk beliau di ulang tahunya…
12.
el | Mei 27, 2009 at 03:51
Subhanallah…
13.
idea | Mei 31, 2009 at 17:49
gak pernah bosen baca puisi ini..