filosofi lima jari

21 10 2007

 fingers

Suatu kali, seseorang pernah menjelaskan padaku tentang filosofi lima jari. Kata beliau, tiap2 jari pada tangan kita merupakan perlambang sesuatu. Aku tercenung khusyuk mendengarkan, lalu dia bertutur.

Ibu jari, kata beliau, merupakan perlambang penguasa, ibu jari adalah jari yang mengumpulkan semua keunggulan empat jari yang lain, dan mengontrolnya untuk dapat melakukan sesuatu, mensinergikan semua kekuatan empat jari yang lain, dan meledakkannya pada momentum yang tepat. “Cobalah kau genggam palu dengan empat jarimu selain ibu jari” kata beliau padaku, “dan ayunkan palu itu sekuat tenaga, hampir pasti palu itu terbang entah kemana”. Itu cerita beliau tentang ibu jari, jari paling besar yang mengontrol empat jari lainnya.

Telunjuk, kata beliau lagi, adalah perlambang orang kaya, itulah kenapa kita terbiasa menunjuk-nunjuk sesuatu, atau memerintahkan seseorang melakukan sesuatu dengan telunjuk, persis seperti orang kaya yang kelakuannya mau apa-apa tinggal tunjuk. Aku tersenyum sedikit, kupikir bisa jadi juga begitu, lalu kudengarkan lamat2 dia meneruskan.

Jari Tengah, ujarnya bijak, adalah perlambang Ulama (orang yang berilmu), jari tengah merupakan jari yang paling tinggi diantara kelima jari,  akan tetapi setiap kali kita akan makan menggunakan tangan, atau mengambil suatu barang, secara anatomis jari tengah akan menarik diri menjadi sejajar dengan empat jari lainnya. Itulah perlambang kebijakan jari tengah, Ulama.

Aku tersenyum simpul, sambil curi-curi kupraktekkan mengambil kerikil di dekat kakiku dan itu dia si jari tengah mensejajarkan diri dengan yang lain.

Jari Manis, ujarnya lagi, ini adalah perlambang pemuda, pemuda selalu manis untuk dipandang, entah karna kepintarannya, luas pengetahuannya, anggun rupanya, atau karna hal2 lain, kau tahu, katanya, itulah kenapa kita pasang cincin di jari manis kita, itu perlambang keindahan pemuda!!

Tak sabar aku menanti yang terakhir, sambil tersenyum aku mendengarkan dia berkata merdu, Jari Kelingking, tak lain tak bukan adalah perlambang wanita, katanya. Kelingking jari terlemah diantara semuanya.

Aku mengangguk takzim, tapi lalu tersenyum nakal “bukankah tidak selamanya perempuan itu lemah?”

Kau benar, kata beliau, itulah kenapa permainan “suit” kita memenangkan kelingking dari ibu jari, penguasa saja bisa bertekuk lutut dengan wanita, kata beliau. Benar juga ya, pikirku, sesaat sebelum dia membuyarkan lamunanku dan berkata, kelingking kalah dengan telunjuk seperti wanita dengan harta ^_^.

About these ads

Aksi

Information

8 responses

6 11 2007
adek profesor

suit orang indonesia tuh! ternyata orang2 dahulu emang suka bikin filosofi ya!^_^
hmm…kalo suit japan?!

6 10 2008
cuvu

^o^ nice filosofi…
i see isee..

26 10 2008
fani ferdiana

hihi,,, unik,
tapi,,,
kalo kita suit kenapa jari telunjuk ma jari manis nggak ikut ikutan ya?

26 10 2008
fani ferdiana

eh, salah! JARI TENGAH ma JARI MANIS kok nggak ikutan suit

26 10 2008
dian

@ fani : mungkin saya tau jawabnya :D

jari tengah ga ikut, dia melambangkan ulama. masa’ boleh ya ulama maen judi (kalo suit diidentikkan judi yah…) :p

jari tengah n jari manis ga ikut, soalnya, yang biasanya diributkan kan harta-tahta-wanita : telunjuk-ibu jari-kelingking
:)

21 08 2009
dendy

mantap juga pilosofi nya

9 07 2013
ryan blog

sangat menarik untk dijadikan pelajaran,mantabz sob

9 07 2013
ryan blog

i like it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: