Archive for April, 2008

Mungkin ini rindu

sea

Senja masih putih, masih bersih.Semburat merah yang biasa itu masih ragu-ragu menimbang-nimbang, kiranya akan tertunda atau muncul lebih mula.

Nostalgi-ku waktu itu bergerak seperti kapal nelayan kecil di ujung sana. Tenang menyusur tempias ombak menuju tepian memori redup-redup.

Hari sepertinya belum pernah setenang ini, awan-awan putih bersinar terang di pinggir-pinggirnya, lalu berarak tenang seperti bergerak seperti diam.

Tiba-tiba aku merasa asing, rasa-rasanya aku ingin meloncat, dan berlari meniti hampar laut. Ingin kuceritakan pada bunda di belah dunia sana, bahwa betapa anaknya saat ini mengembara di negri-negri yang entah dimana.

Rasa-rasanya ingin melompat aku menangkap camar-camar hitam putih itu, lalu kulayangkan pada adik-adikku, kupesankan untuk bercerita bahwa kakaknya telah menempuh perjalanan separuh dunia.

Mungkin ini, rindu dalam sastra-sastra para pujangga, waktu tiba-tiba hatimu merasakan luasnya dunia dari sudut cakrawala, tapi tak tahu harus bercerita pada siapa.

Seperti waktu kailmu mengena ikan besar di laut kehidupan itu, tapi tak jua kau tarik, karna tiba-tiba hatimu bertanya “dengan siapa aku memakannya?”

Mungkin ini, rindu dari senandung syair negri-negri jauh, waktu senja tiba-tiba terasa begitu putih dan kau berlari diatas hampar ombak naik-turun-naik-turun, sembari menggenggam burung-burung camar, lalu menatap di kejauhan sana ada seorang putri.

5 comments April 13, 2008

janji wisudawan

wisuda

Ada rasa haru yang dalam saat mengenakan toga dan topi segilima waktu wisuda itu.Sebenarnya terlihat lucu, pakaian toga itu, dan segala asesorisnya, tapi biarlah aku berkhusnudzon saja bahwa segala hal itu adalah mewakili makna makna tertentu, segilima mewakili sesuatu dan juga jubah seperti penyihir itu mewakili sesuatu.

Saat orang tuaku hadir setelah menempuh perjalanan 24 jam bengkulu bandung, dalam sebuah bus yang penuh, dengan membawa bekal uang seadanya, ada perih menyayat dalam hati.

Pada malam harinya aku merenung dalam, inilah rupa-rupanya kenapa kebijakan universal dari dulu itu mewajibkan kita untuk sedalam dalamnya hormat pada kedua orang tua kita.

Tetes peluh keringat dan airmata mereka tidak bisa kita kumpulkan dan analisa statistiknya.

Doa-doa malam mereka masih jauh dari nalar kita, tentang bagaimana suara hati mereka itu lalu menjelma nada2 hening dalam malam2 sunyi senyap, lalu sampai pada kita nun disebrang lautan sana.

Untuk membantu kita menepis kantuk tengah malam demi beberapa lembar skripsi,
untuk membantu kita bertahan dari setiap lelah tak berujung sepulang kuliah kita,
untuk mendekap hangat ringkuk kita waktu kita benar-benar sendiri,
dan menopang kaki-kaki rapuh kita dalam perjalanan luar biasa panjang ini hingga kita merasa cukup tegar untuk tetap berdiri dan berjalan lagi…….. berjalan lagi……….. berjalan lagi.

Mengingat raut wajah mereka saja sudah menyulut bara dalam setiap renung kita, lalu kita berjanji sepenuh hati, bahwa segala kebodohan kita waktu masih sekolah dulu adalah masa lalu yang sekuat tenaga akan kita rubah,
segala bantah-membantah kita waktu masih kecil dulu adalah ketidakmatangan yang sepenuh hati kita akan gantikan dengan pengertian-pengertian.

Linang air mata bangga mereka hari wisuda itu mematri janji dalam hati paling dalam.

“bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa, dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita”.

8 comments April 13, 2008


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

April 2008
M S S R K J S
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Hilma di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi