janji wisudawan
April 13, 2008

Ada rasa haru yang dalam saat mengenakan toga dan topi segilima waktu wisuda itu.Sebenarnya terlihat lucu, pakaian toga itu, dan segala asesorisnya, tapi biarlah aku berkhusnudzon saja bahwa segala hal itu adalah mewakili makna makna tertentu, segilima mewakili sesuatu dan juga jubah seperti penyihir itu mewakili sesuatu.
Saat orang tuaku hadir setelah menempuh perjalanan 24 jam bengkulu bandung, dalam sebuah bus yang penuh, dengan membawa bekal uang seadanya, ada perih menyayat dalam hati.
Pada malam harinya aku merenung dalam, inilah rupa-rupanya kenapa kebijakan universal dari dulu itu mewajibkan kita untuk sedalam dalamnya hormat pada kedua orang tua kita.
Tetes peluh keringat dan airmata mereka tidak bisa kita kumpulkan dan analisa statistiknya.
Doa-doa malam mereka masih jauh dari nalar kita, tentang bagaimana suara hati mereka itu lalu menjelma nada2 hening dalam malam2 sunyi senyap, lalu sampai pada kita nun disebrang lautan sana.
Untuk membantu kita menepis kantuk tengah malam demi beberapa lembar skripsi,
untuk membantu kita bertahan dari setiap lelah tak berujung sepulang kuliah kita,
untuk mendekap hangat ringkuk kita waktu kita benar-benar sendiri,
dan menopang kaki-kaki rapuh kita dalam perjalanan luar biasa panjang ini hingga kita merasa cukup tegar untuk tetap berdiri dan berjalan lagi…….. berjalan lagi……….. berjalan lagi.
Mengingat raut wajah mereka saja sudah menyulut bara dalam setiap renung kita, lalu kita berjanji sepenuh hati, bahwa segala kebodohan kita waktu masih sekolah dulu adalah masa lalu yang sekuat tenaga akan kita rubah,
segala bantah-membantah kita waktu masih kecil dulu adalah ketidakmatangan yang sepenuh hati kita akan gantikan dengan pengertian-pengertian.
Linang air mata bangga mereka hari wisuda itu mematri janji dalam hati paling dalam.
“bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa, dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita”.
Entry Filed under: sketsa. .
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
raisyarha | April 14, 2008 at 12:37
Jadi inget kala ibu membelikan makanan ‘iseng’ yang menemaniku begadang saat malam-malam UTS atau UAS..
Jadi inget kala ibu menyediakan sarapan pagi saat aku bangun pagi-pagi untuk mengerjakan tugas..
Jadi inget pengertiaan ibu saat aku bilang lagi banyak tugas ma,, ga bisa ikut pergi ke rumah saudara, padahal jarang sekali melewatkan waktu bersama saudara..
Jadi inget saat kakek dan nenek berkata ingin melihat cucunya diwisuda,, dan doa-doa mereka yang selalu dipanjatkan 4wI kala aku mencium pipi atau tangan mereka..
~semoga mereka diberi kesempatan untuk melihat cucunya sendiri di wisuda untuk pertama kalinya,, juga untuk mama..
yang doa-doanya selalu dipanjatkan untukku setiap malam.. ^-^
Ya 4wI buatlah mereka tersenyum hingga di syurga kelak…
~jadi smangat lagi untuk belajar dengan baik dalam kuliahku..
~mudah”an di wisuda satu tahun lagi…
2.
asa | April 19, 2008 at 11:50
terharu… jadi pengen nangis,,
teringat akan orang tua yang bekerja keras tuk membiayai studi saya dan menginginkan putra-putri mereka menjadi orang yang berhasil
saya setuju.. insyaAllah mereka tidak akan luput dari doa yang selalu dipanjatkan..
3.
Aqil | Juni 17, 2008 at 10:43
hiks..hiks..hiks..
makasih buat motivasinya,walaupun diriku ga harus nyebrang lautan..
4.
tHa_aDzeL | Agustus 16, 2008 at 13:34
kapan yak nyusul,,
sayang,,
tak pernah lengkap kebahagiaan itu, karena ia tak akan mungkin hadir disisi ku ketika mengenakan “jubah penyihir itu,,”
kemarin pernah baca guyonan,,
katanya kenapa pakaian wisuda itu berwarna hitam??
katanya untuk menyambut datang masamasa penganogguran,,
smoga kita tak perlu menyambutnya,,
smoga kita selalu tak putusnya bisa berbakti dengan apa yang telah diberi ALLAH untuk kita,,
5.
nursatwika | Oktober 29, 2008 at 19:20
@ tHa_aDzeL: tapi di kampus saya warnanya biru, yang hitam cuma bagian kerahnya doank….:p
Wah, tulisannya semakin memotivasi saya buat diwisuda as soon as possible. Biar bisa lihat senyum mereka (orang tua dan keluarga) as soon as possible juga.
Makasih ya…
6.
engkaudanaku | Mei 6, 2009 at 08:36
Terharu,… hikzz,
” Aku yakin doa Ayah Bunda selalu terkirim untukku, untukmu, untuk kita,
“
Tetap semangat!!!!! melanjutkan langkah ini…
Sampai akhirnya nanti, kita bisa tersenyum bersama …
7.
sendit | Juni 1, 2009 at 08:46
waaahhh…ayo semangat2!! Saya juga lagi skripsi nih….cuma molor terus…hehehe….
http://sendit.wordpress.com
8.
faris | Juli 16, 2009 at 19:28
ahir x penantian di wisuda tinggal menghitung hari >>> terimakasih bapak” ibu ” dan semua doa- doa nya