arti

November 5, 2008

Suatu hari aku membeli sebuah buku lama, kumpulan tulisan soekarno. Buku itu sudah dekil sekali, kertasnya menguning dimakan hari-hari, jilidannya sudah terlepas-lepas, tenaganya cuma cukup menghimpun lembar kertas-kertas tua itu beberapa puluh tahun saja.

Hampir mustahil, menemukan buku itu di toko buku manapun di pulau jawa ini, memang itu buku langka.

Sebenarnya aku sama sekali bukan penggemar pak karno, tapi buku-buku tua selalu menarik minatku, apalagi buku itu ditulis dengan bahasa sastra lama yang indah dan konteks sejarah yang zaman perjuangan itu seperti membakar, setiap kali aku membaca, aku merasa lebih muda lima tahun.

Dari dulu, aku selalu berusaha mencari-cari mutiara kebaikan yang bisa kita ambil dari sesiapa saja. Buku tua itu, dalam salah satu halamannya, memuat surat-surat pak karno kepada para sahabatnya. Apa yang  menarik dari sebuah surat? yang membuat surat itu menjadi begitu bernyawa adalah karna surat itu ditulis oleh beliau dalam masa tahanan, dari balik jeruji besi, dari balik tembok yang hampir satu meter tebalnya, penjara yang memasung seerat-eratnya kebebasan fisik siapa saja yang dipendam didalamnya.

dari kesendirian yang pahit, dibalik terpa siksa yang memalu dan mencincang itu, orang-orang besar tidak pernah terpasung pemikirannya. Soekarno, Hamka, Bukhari, dan banyak lagi orang-orang besar itu membuat kita malu dan mengutuk-ngutuk kelemahan jiwa kita sendiri. Mereka, sekali-kali tidak pernah berhenti memberi arti!!

Aku menunduk dan setengah mati beristighfar. Bukankah hal terhebat yang sampai saat ini kita lakukan adalah menjadi orang biasa saja???

Lama aku menerawang, itulah mengapa buku-buku tua memberi sentakan yang berbeda, seperti menembus dimensi ruang dimensi waktu, lalu kita bertemu dengan para bijak para cendikia, lalu mengangkat muka dan kepala saja malu tak alang kepalang rasanya.

Rasa malu dan terbakar hebat seperti inilah yang membuat aku bertekad, dalam kesendirian macam apapun juga, dalam belenggu setebal sekeras apa juga, aku akan tetap “menulis” dan menyampaikan sesuatu.

Itulah penyulut banyak sekali email yang kukirimkan pada teman-teman disaat-saat senggang, sekedar berbagi cerita dan kebijakan, yang dengan  tulus aku tak hiraukan pesan itu mereka baca atau simpan.

Itulah penyulut puluhan sms yang begitu seringnya kukirimkan untuk kawan-kawan di sebrang.

Itulah penyulut artikel-artikel kecil tentang banyak kebijaksanaan yang kupulung dari orang-orang.

Itulah penyulut perbincangan senja hari di tepian pantai, menasehati dengan pelan kepada saudara-saudara kecilku, menyemangati dan menyadarkan mereka bahwa sekali saja kita berhenti memberi arti maka kita sama saja mati.

Jikalah kapasitas orang macam kita ini tidak bisa se-menyengat surya untuk mengobarkan gelora banyak jiwa, maka cukuplah kita jadi perantara, mengajak teman dan saudara untuk sama-sama memulung kebijakan dari banyak manusia.

Sebelum waktunya kita nanti pergi, setidaknya biar berarti walau cuma sekali.

Entry Filed under: sketsa. Tag: , .

2 Comments Add your own

  • 1. dian  |  November 6, 2008 at 15:01

    i see, i see…

    Balas
  • 2. nursatwika  |  November 8, 2008 at 16:50

    hmm…yosh! keep writing..
    moga kekonsistenannya terjaga…=D

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi renungan kehidupan rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

November 2008
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

debuterbang di dari tetes tinta satu dua…
debuterbang di IBLIS TENGU
wee di dari tetes tinta satu dua…
wee di IBLIS TENGU
aveliasnyah di Surat
a little dreamer di mimpi
Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
37degree di Sampai Nanti, Sampai Mati…
37degree di jam jam JAAAAM
Hilma di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi