Archive for Desember, 2008

Dari jalan yang naik dan yang turun

Tuhan hadirkan banyak hikmah dalam setiap hari yang kita lewati.

Pertemuan yang menyenangkan dengan banyak teman, orang-orang baik yang membangkitkan semangat, yang banyak sekali hal bisa kita tiru dari mereka-mereka. Atau kejadian kejadian yang menghibur dan mewarna halaman-halaman sejarah kita. Atau penghargaan yang membubungkan kita ke angkasa yang bertingkat-tingkat itu.

Menarik benar, menyadari betapa Tuhan dengan sangat bijaksananya mempergulirkan malam setelah siang benderang kita, mempersempit ruang setelah lapang kita, menelusupkan lelah setelah kuat menggelegarnya kita, mensenyapkan sunyi setelah hiruk pikuk kita.

Hari-hari selalu dibimbingnya dengan maha indah untuk mengajarkan kita arti tunduk dalam, arti syukur yang lapang, yang ikhlas, yang menerima benar atas segala naik turunnya cerita-cerita kita.

Kita ini sudah terlampau sering menangis dan ciut, bersembunyi dibalik rerimbun belukar, kita kutuk-kutuk gelap hari padahal Tuhan bimbing kita untuk jelma kesatria.

Banyak nian kita meratap-ratap nasib, kita iba-iba diri yang terseok-seok, padahal Tuhan tempa kita untuk sekeras karang sekeras baja.

Kita tanam susah duka dalam-dalam, padahal Tuhan bimbing kita untuk syukur.

Kemana lagi kita lari bersembunyi jika malam itu niscaya jika pagi itu niscaya?

Tuhan….
Syukurkan hati kami untuk setiap yang benderang.
Kuatkan hati kami untuk setiap yang gulita.
Ajarkan kami untuk percaya benar bahwa Engkau memandang kami dengan senyum, bangkitkan Jiwa kami yang ciut merangkak-rangkak ini.
Keluarkan kami dari sembunyi panjang ini.
Yakinkan kami akan setiap janji pagi yang mengintai dibalik pekat malam.
Cukupkan kami untuk memohon-mohon padaMu, ajarkan kami untuk berdiri tegak disetiap terjang topan badai.
Lalu lembutkan hati kami untuk selalu sujud menapak tanah serendah-rendah.

Telusupkan ketenangan ke dalam-dalam sumsum belulang kami ini, untuk berdiri dan mengamini doa kami tadi.

3 comments Desember 18, 2008

warisan

Aku sudah bisa membaca………..

Adalah Kakek, orang yang dengan sabar mengajarkan aku mengenal huruf demi huruf, membunyikan konsonan dan vokal, merangkai kata dan kalimat, terus begitu hingga kakek meninggal saat aku kelas 3 SD.

Tidak banyak warisan yang kakek tinggalkan, aku tidak ingat lagi dimana-mana saja barang-barang peninggalan beliau, satu-satunya benda yang aku tahu adalah sebuah buku tua.

Buku dengan ejaan melayu lama itu menjadi barang bersejarah buatku, itu adalah sebuah buku tanya jawab agama, bukan buku luar biasa.

Aku terus membaca buku itu lembar demi lembar, bahasan demi bahasan. Sampai aku sangat yakin, jika suatu ketika seseorang bertanya padaku, buku apa yang paling berpengaruh bagi kehidupanku, aku akan menjawab lantang dan cepat “buku tanya jawab agama, buku kuno warisan kakekku”.

Lembar-lembar buku tua itu mengajariku bagaimana menganalisa suatu masalah, bagaimana membandingkan banyak ragam pendapat, bagaimana memahami kenapa para bijak cendikia itu menghukumi suatu masalah dengan begini dengan begitu, akhirnya buku itu mengajariku bagaimana berpendirian ditengah gelombang perbedaan penafsiran banyak kepala manusia.

Tak putus-putus aku memikirkan betapa warisan itu telah mempengaruhi sepanjang ini perjalanan hidupku.

Jika suatu nanti aku telah menjadi kakek-kakek, akan aku ingat betul untuk meninggalkan sebuah buku berharga untuk anak cucuku nanti, tapi sebelum itu aku akan mengajarinya mengenal huruf dan angka, mengeja kata dan kata.

Jika cucu kita sudah bisa membaca sejak masih belia, dan dilahapnya pula buku tua peninggalan kita kata demi kata, maka semoga pahalanya mengalir deras sampai ke langit dan ujung-ujungnya, menerangi tempat pembaringan kita dengan temaram yang indah tak alang kepalang.

3 comments Desember 8, 2008


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

menghitung hari

Desember 2008
M S S R K J S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…
nerisu di Dini hari tepat di jam ti…
Anis di seratus juta hasta
setiawan di Untuk teman-teman terbaik (dar…
tia di dua windu dulu kala
Ananta di Lancang…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi