seratus juta hasta
April 21, 2009

Dari mata ibu.
Setiap kali menggenang setengah tertahan lelehan air mata di kelopaknya yang tua itu, setiap itu pula aku memulung kesadaran.
Aku rekam berpuluh-puluh babak tentangnya dan kuputar dibenakku lanskap seperti film zaman dulu.
Seorang ibu yang helai rambutnya sudah panjang dan memutih, lalu satu-satu gugur dan terbang pelan ditimang-timang angin.
Seperti hari ini.
Rasanya belum selesai aku berguru padamu, ibu. Dari padepokan yang kau buka sejak lama itu.
Dari kecil sekali usiaku dulu -waktu mengeja saja belum pandai rasanya- sudah kau ajarkan tentang sabar yang tertempa.
“Dilimpas musuh seraksasa, ditinju kepal seliat baja, jangan sekali-kali runtuh kita punya hati, tetap tegakkkan kita punya kepala, pancang berdiri kita punya kaki!” itukan katamu, Bu?
Dasawarsa berlari secepat senja yang terjepit itu. Muncul bilangan detik saja. Diberikan kesempatan sekedarnya oleh siang yang menyengat nyala, lalu diterkam gulita yang pongah jumawa.
Tiba-tiba hari ini, kami seratus juta hasta jaraknya darimu, dan menjelma anak-anak cengeng yang memilukan.
Bagaimana engkau bertahan bu? Dalam ratusan luka yang membelah kulit dan nadi, melewat ribu duri yang pelan-pelan menusuk kaki, menghela sunyi yang terlampau hening seperti membuat kita tuli, dalam segala yang menghantu seram, yang merangsek rangsek pertahanan, yang menghajar kepala kita sampai terbanting ke tanah, bagaimana bu?
Lalu tiba-tiba hari ini kami seratus juta hasta jaraknya darimu. Padahal segalanya sudah pula engkau ajarkan dengan pelan, sambil tersenyum dan menyeka keringat yang bulirnya mengalir dari keningmu yang bergurat-gurat letih.
Malu aku merutuk nasib, Bu. Embun basah dengan gampang nian menempeleng kami sampai tergelung dibalik selimut, lalu baru terbangun waktu hari terlanjur berlari setengah kepala. Sementara engkau menjerang nasi waktu kami belum bangun, menyapu rumah dari kala dimana ayam jantan saja enggan menggeliat.
Malu aku merutuk sepi, Bu. Padahal engkau tetap mengembang bibir, waktu sebalik badanmu tersembunyi dibalik pintu dan sebaliknya lagi menjulur tangan melambai-lambai kepada kami yang melanglang pergi tanpa sejenak juga membalikkan punggung dan mengucap barang satu dua frase terima kasih, basa-basi, atau apalah dari mulut kami yang pandai berorasi ini.
Seperti lanskap film zaman dulu, terputar di mataku ibu yang mengelap bingkai foto tua berdebu, memandangnya dengan tatap yang seperti senja, lalu memajangnya di atas buffet kayu jati yang rapuh setengah kakinya.
Sementara kami seratus juta hasta jaraknya darinya.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
anonim | April 21, 2009 at 15:02
Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya “bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita”.
21 april… hari kartini?? ah, bukan! hari buat ibuku
nice posting, thank you so much
2.
Anis | Oktober 30, 2009 at 16:08
Waduh..apik2 banget tulisannya..maaf ya aku kopi mau di print untuk di baca….