Archive for Mei 7th, 2009
Tuma’ninah

Duhai Yang Membangkitkan Gelora, izinkan kami untuk tertambat kuat pada rahmatMu yang tidak pernah putus.
Kami tumbuh dan besar satu ritme dengan bumi yang berputar cepat, dengan matahari yang timbul tenggelam, dengan malam siang yang pergi lalu datang, dengan panas yang digeser gerimis yang mensalju di berapa pojok-pojok, dengan belukar yang menjulang tinggi kekar lalu merangas rapuh diganti tunas yang bersemi hijau muda.
Tapi hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.
Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang mengisi bilik-bilik kami dengan jelaga, yang menanam dosa yang merumpun bambu, lalu tumbuh selayak gulma yang menjalar bersulur-sulur.
Sekali waktu pernah juga kami bersujud, dalam tunduk yang sama sekali tidak tuma’ninah, lalu beringsut buru-buru tak karuan seperti syurga sudah kami kavling seperempatnya.
Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang bertingkah bijak selayak nabi, lalu menari-nari belingsatan atas sejumput puja-puji yang tidak sekuku hitam layak kami terima.
Tingkah kami selalu saja seperti sudah paripurna menamatkan madrasah ilmuMu, kami nasehati orang lain dengan suara halus yang mencela sampai ke ubun-ubun.
Padahal hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.
Lalu pada suatu malam yang berhujan rintik, pada waktu dimana kami kadang-kadang sadar. Kami sempatkan sejenak untuk merangkai doa. Yang jujur, yang seadanya, bahwa kami tidak akan pernah bisa lepas dari semuanya tanpa Engkau melonggarkan ikatannya.
(picture taken from here)
4 comments Mei 7, 2009
Mozart guru cinta
![]()
Mataku sudah mulai remang-remang. Memang kehidupan di rig pengeboran kadang-kadang mengacaukan logika kita tentang waktu-waktu, kawan.
Kita bisa saja bekerja pada larut malam hari, terus siang-siang tidur sepanjang matahari menggelayut di biru langit. Bisa juga kita berkeringat berpeluh di terik siang untuk nantinya waktu tidur menjadi maju berapa dentang jam. Sesudah isya bisa langsung pulas.
Tapi kadang-kadang ada hal yang mengacau.seperti malam ini.
Tok..tok…tok….. “mas-mas…. Bisa minta tolong bentar?” seorang teman, tiba-tiba mengetuk kamarku dengan muka serius.
“kenapa Pak?”
“ini mas, aku ga bisa ngopi lagu ke mp3 playerku, ndak mau diputar dia”
Dengan mata yang sudah mulai remang-remang, rasanya malas nian beranjak untuk sekedar mengopi lagu dari cd ke player mp3. Kenapa tidak besok saja??
Tapi dengan payah aku berhasil menarik badanku untuk sedikit menggeliat. Aku sedikit heran memang, apa yang susah dari mengopi lagu? Kopi, paste, selesai.
Tapi baiklah….mengingat beliau ini adalah kru catering di rig, dan aku menimbang bahwa beliau ini sudah berjasa memberikan kami-kami ini makanan yang enak-enak di kantin, maka aku akan membantu, anggaplah ini sebagai balas jasa, air susu dibalas air susu. Begitu mungkin peribahasanya.
“kenapa…kenapa mas mp3 playernya?”
“ini, kemaren kan aku sudah beli kaset CD, aku mau kopikan ke mp3 player ini tapi ndak mau jalan dia”
“oh…..mungkin karna formatnya windows media audio, kita harus convert dulu ke mp3. Kaset apa memangnya mas?”
“MOZART”
“WHAT???”
Aku keceplosan. Kawan-kawan bisa bayangkan, MOZART!!! Mozart yang aneh itu, yang setengah mati aku coba dengarkan berulang kali biar tertarik tapi tetap gagal membuat kupingku mau menelannya. Mungkin karna terlampau high class.
Aku ingin tersenyum tapi kutahan sebisaku. Karna tiba-tiba aku teringat kata baginda nabi, kalau kita mendengarkan orang bicara, maka ekspresi kita haruslah serius dan memerhatikan. Bila perlu menangis waktu dia menangis. Tertawa waktu dia tertawa. Begitu ajarannya.
Lalu langsung aku mengoreksi diriku sendiri, cobalah kita pikir kawan-kawan sekalian. Apa yang salah dengan bapak ini menyukai mozart? Bahkan kalau dia cinta mati kepada lagu klasik elegan mozart itu juga tetap tak ada yang salah sama sekali. Tak ada!!
Aku lalu mengajaknya naik ke lantai atas, ke ruangan kantor, kunyalakan laptop hitam itu sambil mengerjapkan mata sebentar. Untuk sebuah niat baik, kita harus total. Jangan sampai aku menolong beliau ini sambil kesal menahan kantuk, maka aku pelototkan mataku lebar-lebar.
“ok Pak…. Mana kasetnya, sini aku coba pindahin ke mp3 player”
Dan disitulah aku baru tertegun. Cover kaset mozart elegan itu bergambar seorang ibu hamil, dan ada anak perempuan lucu disampingnya.
Bapak-bapak itu, kawanku tadi, ternyata membeli mozart untuk konsumsi anaknya yang belum lahir. Seorang bapak membeli mp3 player baru dan sekeping cd mozart versi asli, lalu dibawanya melintas pinggiran delta mahakam sampai ke anjungan ini. Astaga……… Inikah cinta?
Seorang kru catering malu-malu mengetuk pintu kamarku malam-malam, meminta tolong untuk memindahkan lagu asing itu ke player mp3nya, sebagai perangsang otak untuk diperdengarkan kepada calon bayi yang masih di rahim, di alam lain sana.
Aku jadi malu sendiri lalu mulai merutuk diri, sebegitu sulitkah mengconvert format lagu itu lalu kopi paste, sampai aku bergerak lamban macam siput. Jangan-jangan aku sudah mulai kehilangan cinta?
Baiklah pak. Sebagai rasa terimakasih atas pelajaran berharga malam ini, dan tebusan rasa bersalah untuk senyum simpul yang kukulum berapa menit lalu, akan aku berikan kau kursus singkat saat ini, sampai berapa jam pun engkau mau.
“satu lagi mas… Bisa tolong sekalian pindahin ayat alquran ke player ini ga? Jadi aku kepikirannya nanti pas disetel itu ayat-ayat pendek alquran dulu, baru mozart”
Aaahhhh……. Lagi-lagi aku malu.
Kepada orang yang kusenyumi dengan simpul yang paling tersembunyi ini, aku malah belajar banyak tentang cinta yang menyeruak tak tertutupi.
Jadi tolong kawan-kawan, sampaikan pada istri Bapak ini, bahwa suaminya seorang maha guru cinta.
12 comments Mei 7, 2009
