KIBAR!!!

Mei 22, 2009

035

Kawan. Dalam dunia pengeboran minyak, salah satu hal yang menjadi tantangan besar kita adalah kenyataan bahwa kita seringkali diharuskan berpindah-pindah tempat kerja.

Dengan jadwal kerja yang diluar orang normal kebanyakan, dan dengan tempat kerja yang juga diluar orang normal kebanyakan, para pemburu minyak bisa tidak bisa mestilah menjadi pandai dan terampil menyeting suasana hatinya.

Sebentar kita bekerja di anjungan pengeboran tengah laut, sebentar kemudian kita terasing di seberang negri antah berantah, di tengah belantara, di pusaran gurun, di pinggir rawa dan delta. Bertemu orang-orang yang baru. Yang berlainan budaya. Yang kepalanya sebatu karang.

Seperti di siang hari yang menyengat membakar ini, waktu baju jadi lengket dengan keringat dan badan gerah bukan main. Emosi bisa berlari seperti deret eksponensial, meloncat-loncat tak karuan beberapa digit.

Aku kesal bukan main. Memang suasana kerja yang panas dan segala letih penat yang mencakar-cakar itu kadang-kadang membuat orang jadi temperamen. Hal ini gampang sekali kau ukur kawanku, bisa diindra secara visual, kasat mata kawan!

Dan diwaktu-waktu seperti inilah aku belajar mengendali suasana hati. Rupanya hati kita itu banyak panel kontrolnya. Tidak bisa disetir dengan satu tombol. Susah sungguh mengaturnya.

Kupikir kawan, pastilah semua orang pernah mengalami kebosanan, muak, penat yang menggerus pondasi tempat kita berdiri, lalu kita limbung dan baru sadar bahwa mungkin ini bukan tempat kita.

Dan dimasa-masa sendiri, dirundung masalah yang brutal mendobrak pertahanan kita, kadang-kadang aku berharap menjelma semut, menjelma tanah kering, air, atau bunga rumput yang digendong angin pelan-pelan sampai ke negri jauh dimana ilalang tidur-tiduran dengan rapih seperti permadani.

Tapi aku sadar, bahwa hidup kita dan hidup siapapun saja adalah seperti perjalanan panjang mendaki terjal tebing. Batu-batu runtuh dan menggelinding siap menghantam kita kapan saja, dengan pola jatuh yang tidak bisa kita bikin permodelan dan cari kemungkinannya.
Lantas apa karna itu kita ingin dikenang sebagai pendaki menyedihkan? yang menangis menggeletek melihat sedemikian tinggi dakian sudah kita capai lalu lutut kita gemetar memandang jauh kebawah. Sungai dalam. Batu cadas!

Atau mungkin hidup kita adalah seperti berjalan di Sahara, menuju jauh pandang yang terlihat macam titik saja. Lantas apa kita ingin dikenang sebagai musafir memalukan? yang menciut dan menangis menggelusur tanah, mengerang-ngerang selayak bayi?

Kita gemetar memang! kita berpeluh memang!

Tapi kebanggaan kita adalah untuk mengenang diri sendiri bahwa di-liput terpa topan badai itu kita tetap menantang tegak, bukan ciut meringkuk!

Sampai nanti kita kibar bendera di puncak sana! Atau di ujung jauh sana!
Atau mati terhantam cadas atau terhempas terbanting badai pasir.
LAWAN!!!

Entry Filed under: biar bara menyala. Tag: .

1 Comment Add your own

  • 1. idea  |  Agustus 14, 2009 at 09:22

    ayooo,,serbuuuu,,kang!!!!

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

menghitung hari

Mei 2009
M S S R K J S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…
nerisu di Dini hari tepat di jam ti…
Anis di seratus juta hasta
setiawan di Untuk teman-teman terbaik (dar…
tia di dua windu dulu kala
Ananta di Lancang…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi