Surat

Agustus 25, 2009

Kutemukan remukan kertas di pinggir jembatan bambu reot, waktu aku menyusuri jalan setapak panjang sore tadi:

Surat untuk calon istriku.

Dek………. Bagaimana jadinya?

Ah….. bukan………….bukan, maaf, aku selalu tergesa. Harusnya kusampaikan dulu sebuah salam yang bukan basa-basi. Sepotong kalimat yang membahagiakan dan mendoakanmu. Itu visi yang membangun cerita panjang oret-oret suratku, “cintakah itu?” bila kau tanya mungkin jawabnya “ya!”

Dari malam tadi, aku selalu bermenung dan menghabiskan sepotong biskuit dengan teh panas. Tanpa rokok dek. Aku malu menjejali paru-paru yang menarik dan menghembus setiap nafas hidupku ini, dengan kabut. Semburat putih tipis yang nanti mungkin menghantar nikotin ke udara sekitarmu waktu aku jawab “ya” saat kau bertanya “cintakah itu?”

Menulis surat rasanya kebas jari tanganku. Bagaimana mengarang frasa yang memuat berkuintal-kuintal rasa yang tidak mudah sebenarnya dibahasakan? Maka aku remuk lagi kertas ke duapuluh lima yang kutulis malam ini lalu kuambil lagi secarik kertas baru, putih, dan bergaris, dari buku tipis seribu limaratusan. Kutulis salam dulu di bagian atasnya lalu langsung menjawab “ya” untuk tanya yang belum kau jadikan kata “cinta?”

Bagaimana menjanjikan keluarga ya, dek? Dengan harta yang sepeser-sepeser, dengan rumah yang sempit sekamar saja ini, dengan muka yang pias warna pucat sesederhana ini. Bagaimana dek?

Ah………… romansa tiba-tiba jadi begitu picis. Aku mohon maaf yang dalam, untuk telah menggoreskan tinta yang membingungkan. Karna bagiku, mungkin cinta memang tak harus dipuitis-puitiskan.

Aku menyeruput teh lagi dek, barusan…… lalu mengelap jari tangan keringatan dengan serbet tua agak dekil.

Setelah sekian lama waktu, baru malam ini aku beranikan berjanji, untuk nanti rasa-rasanya aku akan menatap lamat-lamat keringatmu yang membulir jatuh waktu mensetrikakan pakaianku! Waktu menggiling dengan susah payah, cabai yang biasanya kau pakai blender di rumahmu dulu! Waktu menyapu sehari enam kali di rumah sempit yang debu jatuh dari sana-sini! Waktu menenteng kantong plastik sekitar enam biji, di tangan kananmu sebelah di tangan kirimu sebelah, saat pulang dari pasar jauh yang biasanya kau pakai mobil di rumahmu dulu! Waktu kau melambai pelan sambil tersenyum, menguat-nguatkan bola mata bulatmu untuk tidak bergetar saat aku terpaksa pergi ke utarakah, ke selatankah, untuk belajar jadi lelaki dan menggenapkan tugas dengan mengantarkan sepotong rizki yang kutemukan di timurlaut atau mungkin baratdaya. Kau tidak sedang sakit meriang kan dek, waktu aku pergi?!

Moga-moga berani kutitipkan surat ini pada seorang kawan. Tak usahlah dibalas dek, aku bingung menjawabnya jika nanti kau bertanya tentang satu kata itu saja “cinta???”.

Dan jika kiranya waktu berbaik hati, menyempatkan kita berbagi banyak cerita, dalam satu rumah dikelilingi anak-anak yang berlari-lari dan berteriak teriak, baru aku akan jawab pertanyaanmu itu. setelah kau bikinkan secangkir teh panas dulu untukku.

Kusimpan kertas itu disaku bajuku sebelah kanan, lalu meniti jembatan reot itu pelan-pelan sambil menebak-nebak, siapa gerangan yang menulis surat ini?.

Entry Filed under: sketsa. Tag: .

7 Comments Add your own

  • 1. David  |  Agustus 25, 2009 at 15:26

    Salam kenal kawan. Blog yang bagus

    Balas
  • 2. Irvan  |  Agustus 27, 2009 at 07:13

    Keren bahasanya kang, keren pisan..
    boleh dicopy?

    Balas
  • 4. Irvan  |  Agustus 28, 2009 at 17:15

    oke

    Balas
  • 5. sulis  |  September 25, 2009 at 10:48

    ksh ttg ungkapan cinta lewat surat. aku menebak calon istri dalam tulisan ni adlh istrinya sekarang.

    Balas
  • 6. tia  |  Oktober 11, 2009 at 08:06

    thanks for the letter that u’ve shared….really impressed and inspires me….it’s been a great to have these nice words of wisdom to help at such difficult times.
    Is someone from the past on your mind?

    Balas
  • 7. Eka Iswahyuni  |  Oktober 13, 2009 at 15:57

    bagus,,
    cukup romantis, tidak kurang tidak lebih,, cukup =)

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

Agustus 2009
M S S R K J S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Hilma di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi