Dini hari tepat di jam tiga

Oktober 30, 2009

jam tiga

Tepat jam tiga pagi aku terbangun. Udara di sini memang keras. Panas menelusup sampai ke balik pintu, ke bawah karpet, sela-sela lemari dan sudut-sudut ruang kecil ini.

Aku beranjak duduk. Dengan pelan aku mendongak kesamping kiri kanan, ruang sempit putih ini penuh dengan barang-barang. Kardus-kardus berjejal abstrak. Motor dibalik pintu. Tas besar hitam di sudut sebelah kanan belakangku. Sajadah hijau tergolek saja di atas tumpukan plastik. Memang kami baru saja pindah.

Mataku masih memicing sebelah. Inilah yang umum benar dialami kita, setiap bangun tidur harus dikrenyitkan sebentar kening kita lalu mengingat-ingat, kapan mulanya kita berbaring disini? dan mengumpulkan sebentar memori yang lepas-lepas. Lalu kulihat tertidur pulas di sampingku seorang perempuan. Keringat di dahinya berjejer rapih, sebentar lagi menunggu momen untuk berlomba mengalir dan menghampiri karpet orange alas tidurnya dengan tidak bersuara. Kuseka keringat yang membulir di keningnya, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

****

Ternyata aku sudah menikah sekarang. Sudah kuceritakankah padamu tentang hal itu?

Jadi…………… aku mohon maaf yang dalam, untuk kadang-kadang melewatkan satu dua cerita. Sungguh bukan maksud hati ini untuk tidak jujur, bukan pula lancang menganggap kalian-kalian ini tidak cukup dekat di hatiku sampai aku rahasiakan potongan hidupku sebagian dan aku ceritakan saja sebagian lainnya. Tidak.

Cobalah hitung-hitung, baru belasan hari aku berganti status. Apa yang bisa aku ceritakan dari hari yang belum genap menjadi bulan?

Itulah mengapa kadang-kadang aku ingin benar duduk selonjoran saja di pinggir pantai, sambil berbincang-bincang dengan kalian. Lalu mereka-reka kata-kata apa yang cocok jadi pembuka? dari potongan episode yang mana baiknya aku tuturkan? dan dengan intonasi bagaimana baiknya aku mulai menembangkan ceritra itu? Sementara nanti mungkin kalian akan sibuk menikmati angin yang memutar-mutar dedaun jarum pohon-pohon pinus, atau masih sibuk melihat nelayan yang menarik jaring lalu melemparnya lagi, aku bisa tenang sedikit. Karna agak lama aku dalam merangkai kata, untunglah kalian tidak sibuk memburu-buru aku sepertinya.

Begini rupanya menjadi ksatria, rekan-rekan. Menahan haru biru yang menggeletar di dada agar tidak muncrat jadi air mata, waktu orang tua yang kini Bapakku dan Bapaknya, Ibuku dan Ibunya berpesan “baik-baiklah kalian disana”. Mengangkat sebuntelan besar tas penuh barang-barang lalu malam-malam kami menunggu bus di depan bandara, “naiklah duluan dek” kataku sambil menjejalkan timbunan tas ke bagasi, rasanya bukan main.

Begini rupanya menjadi ksatria. Menikmati ekstase kebanggaan menitipkan sejumlah rupiah untuk bekal makan satu bulan kepada istri. Memboncengnya panas-panas siang hari, lalu mengemudi hilir mudik masuk ke gang-gang kecil, bertanya sana sini, lalu sebentar berhenti di depan tulisan “ada kontrakan”, lalu bertanya sambil menoleh sedikit ke belakang “yang ini suka ga dek?”

Begini rupanya menjadi ksatria. Memotong kabel rol listrik limabelas meter, lalu menyambungnya dengan lampu neon dan menggantungnya di atas pelapon kamar mandi yang lampunya dari tadi siang itu malas menyala. Terus aku tersenyum dengan ekspresi paling salah tingkah, bisa juga aku jadi tukang listrik?

Beginilah menjadi ksatria, menggosok lantai kamar mandi dengan sikat yang meleot-leot. Wah… harusnya tadi pagi kita beli sikat WC yang mahalan sedikit tak apa, aku membatin sambil tetap menggosok lantai, menuangkan sesekali pembersih porselen cair wangi itu, sambil dengan cekatan tak karuan menghajar kecoa yang lewat lalu lalang.

Begini rupanya menjadi ksatria. Waktu peluh berjejal-jejal keluar dan lengket di kaos oblong coklatku itu, aku melihatnya mencuci piring-piring. Melihatnya memotong kacang panjang. Melihatnya menyilangkan tangan di depan mukanya waktu minyak goreng meletup-letup di kuali. Melihatnya bolak-balik mengepel dapur belakang, kamar tidur, ruang tamu, lalu teras. Melihatnya menyetrika kemeja hitam lengan panjang punyaku. Lalu melihatnya tertidur berkeringat di ruang tamu sempit disesaki dispenser, rice cooker, tas besar hitam, tas besar coklat, dan kipas angin miyako.

Begini rupanya menjadi ksatria, waktu aku terbangun dini hari tepat di jam tiga, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

Entry Filed under: sketsa. Tag: , , .

5 Comments Add your own

  • 1. nerisu  |  Oktober 30, 2009 at 21:24

    BARAKALLAH,,,, kang,,,

    Balas
  • 2. lia  |  Oktober 31, 2009 at 06:49

    selamat rio…
    barakallahu.. senang mendengarnya..
    semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah..
    langgeng hingga di syurga kelak..
    ammiin..

    Balas
  • 4. Hilma  |  Oktober 31, 2009 at 07:26

    Barokalloh Kang,,,
    Salam buat Tetehnya ya,,,
    Semoga Tetehnya selalu dilimpahkan kesabaran,,
    hehehehe….
    maen ke Nangor donk, bawa tetehnya,, :)

    Balas
  • 5. iezul  |  November 1, 2009 at 06:28

    Subhanallah. . .Barakallah,,,khdupan yg indah,tntram en dmai,shingga akn trciptalah rumahku surgaku. . .Amiin

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

Oktober 2009
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Hilma di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi