IBLIS TENGU

November 14, 2009

sesosok iblis bernama tengu muncul dalam mitologi jepang. Bermata merah menakutkan, rambut keemasan, badan tegap tinggi besar dan berhidung panjang.

Ingatan tentang tengu muncul tiba2 siang tadi. Setelah makan kusempatkan membuka email dan membaca surat dari kawan2. Seorang teman menyinggungnya dan jariku jadi gatal untuk menuliskannya kembali.

Meski baru seumuran jagung usia kerjaku di dunia oilfield, bisalah sedikit aku membuat kesimpulan, bahwa rata2 orang indonesia ini terlalu menganggap bule itu manusia superior. Superhuman yg dalam banyak aspek pastilah lebih unggul dibanding kita.

Aku termasuk yang berfikiran sedikit primitif begitu. Jadi jangan dulu berburuk sangka bahwa aku ini menceritakan jelek2nya orang lain, tidak, ini ceritaku sendiri.

Awalnya dari waktu wawancara kerja dulu. Aku diinterview oleh seorang bule dan seorang lagi pribumi asli. Entah kenapa, rasanya jantung ini sedikit berdegup lebih parah saat si bule melontar pertanyaan. Betapapun pewawancara yang pribumi itu lebih menusuk pertanyaannya.

Tentu saja keterbatasan bahasa jadi soal. Bahsa inggrisku masuk dalam kategori dibawah garis kemiskinan, itu memang salah satu faktor, tapi rasa2nya ada yang lebih dari sekedar itu.

Buktinya adalah, secara pelan2, penghalang besar berupa bahasa itu bisa aku atasi. Benarlah kata orang tua2 dulu kalau lancar kaji karna diulang. Sedikit2 aku bisa bercakap lancar dengan mereka, tapi dalam mindsetku susah sekali dihilangkan anggapan bahwa bule itu pastilah lebih pintar dan lebih segala-gala.

Padahal, dalam teori psikologi, bagaimana otak kita berfikir akan mempengaruhi bagaimana kita bersikap.

Setiap berbicara dengan bule maka tidak berani beradu pandang dalam2. Takut2 menjawab, mana tahu sang bule lebih paham. Setiap ada bule maka berlagak konsentrasi dan kerja keras. Dan setambun perilaku tolol lainnya.

Lha…..iblis tengu dimananya?

Setelah diteliti. Dalam mitologi jepang tadi, iblis tengu merupakan penggambaran ketakutan orang2 jepang akan orang2 eropa yang terdampar di perairan mereka waktu dulu.

Bahkan jepang, rekan2. Bangsa yg secara kasar saja kita pukul rata memiliki etos kerja yang jauh diatas kita, kebudayaan yang jauh lebih maju, dan rasanya berlipat-lipat lebih pintar masih juga susah menghilangkan paradigma itu. Bule sama dengan tengu. Iblis besar bermata merah atau biru, hidung panjang menyeramkan. Ketakutan dan inferioritas mereka menjelma mitos.

Itu jepang, apalagi kita. Mungkin ini penyakit bangsa asia yang mewabah. Dan dalam keseharian kita, banyak hal yang tidak perlu kita takuti tapi kita hantu seramkan sendiri dia dalam benak kita.

Paragrafku sebelumnya yang memukul rata bahwa jepang mungkin jauh lebih pintar dibanding kita, juga satu bentuk men-tengu-kan mereka. Jadi mungkin dalam hidup ini kita banyak memunculkan iblis tengu kita sendiri.

Seperti di suatu siang yg panas. Aku sedang duduk di kelas bisnis maskapai penerbangan paling yahud di negri ini. Pulang kerja dari pulau minyak kalimantan, menuju jakarta. Duduk di sampingku seorang bule darah inggris kalau tidak salah. Kami berbincang banyak. Syukurlah, dengan perjuangan mati2an aku bisa sedikit memapas kekerdilan jiwaku dulu, dan dengan lebih ringan sekarang bisa menganggap setiap yang kujumpai itu sama. Menilai mereka semanusianya manusia. Persetan warna kulit atau pupil mata.

Lama kami ngobrol ngalor ngidul. Dia orang yang baik. Friendly. Banyak bercerita. Sampai tiba saatnya makan siang sang pramugari menawarkan dua pilihan menu. Nasi dan daging ayam lalu kentang dan sapi.

Dari depan semua ditawarkan untuk memilih. Ada yg memilih nasi dan ayam, ada yang kentang dan sapi. Terserah.

Sampai di bangku terakhir, tempat kami berdua itu, malangnya hanya tinggal dua porsi menu makan siang. Siapapun yang memilih, maka yang kemudian tidak akan lagi punya pilihan.

Dengan ramah pramugrari tersenyum kepada bule tadi dan dengan baik menawarkan “which one do u prefer sir? Beef or chicken?”

Sang bule menjawab “beef”.
Maka diletakkanlah nampan beef di meja bule tadi.

Lalu dengan agak kurang beretika menurutku, sambil lalu sang pramugari mengatakan kepadaku “bapak yang ini aja ya” sambil meletakkan plate nasi ayam di mejaku.

Bule tadi tahu ada yg salah, dia merasa tak enak hati. Dengan rendah hati dia menawarkan padaku “if u want beef, it’s ok rio, u can take mine”.

Aku menggeleng, “no thanks” kujawab. Sebenarnya aku omnivora. Cobalah cek di buku biologi, manusia itu omnivora, aku tidak pula terlalu soal lauk ayam atau sapi. Tapi berasa ada yg menggelitik batinku.

Mungkin……bagi pramugari maskapai penerbangan terbesar di negri ini tadi, bule ini adalah sesosok tengu, manusia superior yang pastilah dalam segala-gala lebih daripada kita.
Entah kenapa aku tiba2 kasihan padanya.

Lalu aku meneruskan makan saja. Sambil dalam hati berjanji. Suatu nanti kutulis ini. Sambil mengajak siapa saja untuk menganggap manusia sebagai manusia. Untuk berdoa dan berlindung dari jiwa kerdil kita sendiri. Mana tahu dalam hidup ini banyak hal yang biasa, tapi kita hantuseramkan sendiri.

Ada iblis tengu-kah di sekitarmu? Ah…..itu khayalanmu saja.

Entry Filed under: sketsa. Tag: , .

2 Comments Add your own

  • 1. Fajar Ramadhitya P  |  November 15, 2009 at 10:19

    Biasanya mereka yang cemerlang di negara lain, cenderung lebih diapresiasi ketimbang sejawatnya yang mungkin sama berhasilnya di negeri sendiri. Di sisi lain, inferority complex yang menjangkiti sebagian masyarakat suatu bangsa ketika berhadapan dengan komunitas global sering menciptakan halangan produktivitas yang tak perlu. Karena sejatinya perbedaan kualitas sumber daya manusia antar negara berpulang pada pribadi itu sendiri dan tak bisa disematkan begitu saja atas dasar atribut kebangsaan. Hanya karena ia orang Jerman, belum tentu ia cerdas luar biasa. Hanya karena ia orang Indonesia, belum tentu…
    Orang Indonesia yang cemerlang membanggakan bejibun jumlahnya, tapi yang ga mutu juga banyak, dan ini adalah kewajaran di semua bangsa.

    Balas
  • 2. lia  |  November 21, 2009 at 15:44

    nice.. *and yep.. thats true

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…
nerisu di Dini hari tepat di jam ti…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi