jam jam JAAAAM

November 14, 2009

jamJam tanganku merknya abal-abal. Kalau tidak salah sudah kupakai sekitar 1 tahun. Sekarang sudah kotor tak karuan, talinya hampir putus tapi masih nyantol sedikit. Prinsipku adalah, semakin lama suatu barang dipakai, semakin enak dibadan.

Ini, jam tangan ini, rasanya sudah seperti ada ikatan batinnya denganku, jadi meskipun jam ini sekarang kalau aku pencet tombol lampunya nanti jam ini tiba2 error dan reset waktunya jadi 00:00, aku tetap setia dengan jam ini. Sudah enak di tangan.

Harga jam ini? Pasti kalian bertanya begitu. Kurang dari seratus ribu rupiah sahaja. Murah meriah. Padahal bagi sekalian orang2, mungkin jam segitu harganya terlampau murah untuk sebuah jam yang dipakai gaya2-an.

Duluuuu sekali, waktu aku sedang asyik2-nya bekerja di rig pemboran di laut sana, waktu di galley(kantin)-nya, kami tiba2 ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana menyinggung-nyinggung jam.

Jam itu, kata temanku, yang pantas dipakai mejeng adalah paling tidak yang harganya limaratus ribu, dengan merk semisal G-SHOCK yang aseli. Lalu mereka mengadakan semacam uji komparasi antar jam. Jam seharga limaratusan ribu itu, menurut teori rekan2 adalah jam yg apabila anda celupkan kedalam air, atau semisal terkena hujan, atau semisal lagi terkena ac ruangan, tidak akan muncul embun di bagian kacanya. Tentulah rekan2 yg familiar dgn jam akan tahu, bahwa meskipun jam itu dikata orang “water proof” tapi tetap saja kadang2 kalau kena hujan kaca dalamnya berembun. Itu keunggulan pertama dari jam limaratus ribuan. Keunggulan kedua adalah jam limaratus ribuan memiliki banyak fitur: fitur stopwatch, fitur alarm anti alien, fitur penghitung kalori yang terbakar kalau kita jogging, fitur gps, fitur anti maling dan macam2 lagi.

Aku terbengong pucat. Lalu pelan2 menarik tangan kiriku dari piring makan dan kusembunyikan dibawah meja, lalu aku makan saja dengan sendok tanpa garpu. Lalu lagi ada yg bertanya “jam berapa ya, sekarang?” aku diam. Pssssttt……tak usah bilang2 kalau aku punya jam tangan!

Sekarang ini, kawan2 yg baik, yg sedang aku lakukan adalah memlototi jam tanganku yg tua ini, dan mengira2, tahu tidak ya orang2 bahwa jam tangan ini adalah jam emperan? Kasihan benar jam ini, aku jadi iba. Waktu aku beli, jam ini dulu tidak ada kotaknya. Beli, langsung pakai. Amat praktis dan efisien sekali. Sudah pula aku ikut mengurangi limbah plastik dengan membeli jam tanpa kotak, superrrr sekali.

Kembali ke masalah jam tadi, aku pikir tidak ada yang salah dengan kinerja jam kurang dari sratus ribu, bahkan jam puluhan ribu. Karna dr segi fungsi, yg aku butuhkan cuma penunjuk waktu sekarang jam berapa, dan skali2 stopwatch. Kalau alarm aku pikir tidak perlu lah ya, aku agak susah bangun dgn alarm kecil dari jam tangan.

Berfungsi baik2 saja, tidak banyak menuntut dan enak dipakai, itulah jam abal2 punyaku. Tentu saja jika kalian beli di emperan tidak dapat kotaknya.

Begitulah semua dulu berjalan teramat bersahaja sampai pada waktu hampir setiap kali makan di galley rekan2 satu pekerjaanku selalu sibuk membincangkan jam jam jam JAAAAAAAM.

Maka aku mulai terdistorsi. Kegunaan jam sebagai penunjuk waktu sudah agak bias di benakku. Kadang2 aku menyembunyikan jam tangan setiapkali makan di kantin, khawatir ketahuan kalau diperhatikan rekan2. Astagaaaaa, bukan jam G-SHOCK (di benakku tentu saja).

Dan itulah bodohnya aku, padahal peduli apa mereka dengan jam kita??

Tapi itu masih mendingan. Kalau diingat dulu waktu kecil, aku setengah mati mengidamkan jam tangan digital, dan ibuku membelikan sebuah jam tangan digital yang sangat bagus. Ada lampunya, penunjuk waktu (pastinya), ada stopwatch, alarm, kalender, pilihan bunyi alarm-nya ada 4 tipe, bukan main…….. Tapi setiba di sekolah aku harus menahan malu dan menyembunyikan jam di saku celana, pasalnya setiap bertemu orang mereka dengan kurang ajar berkata “wah….hadiah beli klise film ya rio?”.

Ibuku tidak peka merk, dan jam tanganku pas sd dulu merknya “fujifilm” kata ibu itu merk terkenal. Alamaaaaak.

Ah……….
Sampai sekarang aku tidak pernah punya jam tangan mahal. Dan sampai sekarang baru aku sadar, tololnya aku ini, padahal kan setiap kali orang tanya aku bisa jawab sekarang jam berapa, setiap lari pas olahraga di sekolah aku bisa pakai stopwatch, semua sudah terpenuhi. Dan jam itu sudah berjasa ratusan kali, ribuan mungkin. Ndak terhitung brapa kali kulirik-lirik jam itu, sampai jam itu putus talinya, sampai batrenya soak. Tapi toh aku tidak juga bahagia.

Mungkin, nanti aku akan bahagia kalau sudah punya jam tangan empatpuluh juta rupiah dibayar tunai. Jam tangan itu nanti haruslah pula penuh dgn fitur yg tak bisa aku rinci satu2 disini. Dan haruslah nanti kalau kupakai -dgn suatu cara entah bagaimana- merknya slalu kelihatan. Taruhlah G-SHOCK LIMITED EDITION. Lalu nanti haruslah pula orang2 yg melihatnya itu punya sedikit pengetahuan mengenai dunia perjaman, hingga paham mereka itu bahwa tanganku sekarang sedang dalam kondisi paling fit karna dibalut “yang dipertuan agung JAM”. Akan lebih bagus lagi bila setiap kupakai itu jam aku bertemu dengan penggila jam swiss, nanti mereka geleng2 kepala.

Tapi sekarang cukuplah dulu jam tangan biasa ini, mumpung batrenya masih nyala, talinya masih kuat juga.

Eh…ngomong2 jam brapa sekarang?

Entry Filed under: sketsa. Tag: .

1 Comment Add your own

  • 1. Tomy Linelejan  |  November 14, 2009 at 05:39

    Jadi ingat lagu minahasa: jam pukul 5..

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…
nerisu di Dini hari tepat di jam ti…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi