<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>corat-coret dunia</title>
	<atom:link href="http://debuterbang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://debuterbang.wordpress.com</link>
	<description>&#34;Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis&#34;</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Nov 2009 02:24:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='debuterbang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/c312c66834330af6eebb02d571807bfe?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>corat-coret dunia</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Simpang</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/11/03/simpang/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/11/03/simpang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 01:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[
&#160;
Di persimpangan. Tiba-tiba aku terbangun. Begitulah keberuntungan bekerja. Datang dengan cara tak diduga, tiba diwaktu tak diduga.
Aku tertidur, tadi itu. Baru saja aku pulang dari bandara. Mengantar istriku ke kampung halaman mengurus satu dua hal. Bus damri yang ber AC itu dengan pandai menyanyikan sebuah serenade pengantar tidur. Aku luluh dengan rayuannya dan terbaring pulas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=249&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-250" title="persimpangan" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/11/persimpangan.jpg?w=384&#038;h=222" alt="persimpangan" width="384" height="222" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di persimpangan. Tiba-tiba aku terbangun. Begitulah keberuntungan bekerja. Datang dengan cara tak diduga, tiba diwaktu tak diduga.</p>
<p>Aku tertidur, tadi itu. Baru saja aku pulang dari bandara. Mengantar istriku ke kampung halaman mengurus satu dua hal. Bus damri yang ber AC itu dengan pandai menyanyikan sebuah serenade pengantar tidur. Aku luluh dengan rayuannya dan terbaring pulas sampai perempatan tadi.</p>
<p>Tersentak Aku bangun. Baru tadi itu aku mengalami berapa macam sensasi berurutan: bangun tidur, kaget, berdiri panik, lalu lari sekencang-kencangnya.</p>
<p>Dan sore yang hiruk pikuk itu memainkan peranannya dengan sangat baik. Belum lagi aku tiba dirumah tapi rasanya sudah ada yang kosong.</p>
<p>Kalian salah, jika mengira kutulis ini setiba aku di rumah dan menyalakan laptop di ruang tamu. Tidak. Kutulis ini dalam benakku sepanjang menyusur jalan pinang ranti tadi.</p>
<p>Motor-motor berjalan pelan. Azan maghrib merambat di udara. Dan langkahku cepat-cepat patah-patah, seperti modus stakato nyanyian mars pejuang-pejuang itu. Dengan situasi macam itu, tak bisalah aku melawan niatan menulis yang mendesak-desak.</p>
<p>Lalu kuturuti saja. Tiba-tiba aku serasa ingin mengajakmu menghitung-hitung. Berapa banyak persimpangan sudah kita lewati dari mula kita lahir dulu? Setiap fase hidup memberikan persimpangannya sendiri-sendiri.</p>
<p>Kita besar dan meninggi dengan beringas. Terus meronta-ronta melawan petuah Bapak Ibu kita. Kita melanglang ke tempat-tempat yang jauh. Lalu berlabuh di rumah kecil yang seorang perempuan kita pasrahkan memegang kunci pintunya. Lalu untuk berapa fase kemudian kita menunggu lahirnya bayi mungil, lalu kita pula yang giliran berperan jadi Bapak-bapak penuh nasehat atau ibu-ibu cerewet nantinya. Lalu kita menunggu ajal saja sesudahnya.</p>
<p>Setiap persimpangan, buatku selalu menyodorkan tantangan. Seperti menjawab essay fisika. Membahasakan essay untuk menjadi enak dibaca saja sudah setengah mati. Apatah lagi membumikan fisika??? Aku selalu menjadi pembelajar yang telat. Kadang-kadang juga pembelajar yang kalut. Takut aku kadang-kadang untuk berada di simpang.</p>
<p>Padahal bumi berputar itu niscaya. Daun hijau merangas menua lalu mati itu niscaya. Anak-anak tumbuh besar dan beranak pinak juga niscaya. Mau lari kemana???</p>
<p>Betapapun gentarnya kita menghadapi setiap fase hidup toh pilihan kita ya hadapi saja atau sirna ditelan sejarah.</p>
<p>Cobalah, sebagai misal. Seperti sukarno dengan retorika halilintar itu apa tidak pernah dia itu mengalami semacam nervous? Semacam gemeletar kakinya, atau sedikit berdiri bulu kuduknya kapan dia mau berbicara? Atau chriss john sang legenda itu apa tidak pernah dia berasa mau mati saja kapan menatap musuh beringas macam babi hutan di pojok ring sebelah sana???</p>
<p>Kurasa, mungkin ya, orang-orang besar itu pernah juga gemetaran kakinya, atau jedat-jedut jantungnya. Atau berkeringat dingin sebulir-bulir jagung. Tapi dibalik pucat pasi mereka, atau ciut nyalinya itu, mereka selalu saja bisa tampil natural. Terlihat tenang dan selalu tajam. Mereka bisa jadi takut memang, bisa jadi gemetaran memang, tapi mereka tidak pernah lari.</p>
<p>Dan orang-orang biasa macam kita-kita ini yang setiap hari merutuk nasib atau meratapi ketololan kita sendiri, untuk takut menghadapi masa depan, untuk mengkhawatiri kerja dan penghasilan, untuk skripsi yang bertumpuk-tumpuk, untuk ini untuk itu untuk apapun saja.</p>
<p>Dan tiba-tiba aku sudah di pengkolan jalan, gang kecil ke rumahku ada di sebelah kanannya. Aku menyeberang setengah berlari menghindari motor bebek berlampu redup dan mobil kijang hitam metalik. Lalu mengambil handphone dari saku celana dan mengetikkan sms buat istriku, sepertinya sebentar lagi dia sampai.</p>
<p>Untuknya, rasanya berani aku menyusur persimpangan mana saja.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=249&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/11/03/simpang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/11/persimpangan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">persimpangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dini hari tepat di jam tiga</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/10/30/dini-hari-tepat-di-jam-tiga/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/10/30/dini-hari-tepat-di-jam-tiga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 09:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[
Tepat jam tiga pagi aku terbangun. Udara di sini memang keras. Panas menelusup sampai ke balik pintu, ke bawah karpet, sela-sela lemari dan sudut-sudut ruang kecil ini.
Aku beranjak duduk. Dengan pelan aku mendongak kesamping kiri kanan, ruang sempit putih ini penuh dengan barang-barang. Kardus-kardus berjejal abstrak. Motor dibalik pintu. Tas besar hitam di sudut sebelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=244&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-247" title="jam tiga" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/10/jam-tiga2.jpg?w=455&#038;h=341" alt="jam tiga" width="455" height="341" /></p>
<p>Tepat jam tiga pagi aku terbangun. Udara di sini memang keras. Panas menelusup sampai ke balik pintu, ke bawah karpet, sela-sela lemari dan sudut-sudut ruang kecil ini.</p>
<p>Aku beranjak duduk. Dengan pelan aku mendongak kesamping kiri kanan, ruang sempit putih ini penuh dengan barang-barang. Kardus-kardus berjejal abstrak. Motor dibalik pintu. Tas besar hitam di sudut sebelah kanan belakangku. Sajadah hijau tergolek saja di atas tumpukan plastik. Memang kami baru saja pindah.</p>
<p>Mataku masih memicing sebelah. Inilah yang umum benar dialami kita, setiap bangun tidur harus dikrenyitkan sebentar kening kita lalu mengingat-ingat, kapan mulanya kita berbaring disini? dan mengumpulkan sebentar memori yang lepas-lepas. Lalu kulihat tertidur pulas di sampingku seorang perempuan. Keringat di dahinya berjejer rapih, sebentar lagi menunggu momen untuk berlomba mengalir dan menghampiri karpet orange alas tidurnya dengan tidak bersuara. Kuseka keringat yang membulir di keningnya, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.</p>
<p>****</p>
<p>Ternyata aku sudah menikah sekarang. Sudah kuceritakankah padamu tentang hal itu?</p>
<p>Jadi…………… aku mohon maaf yang dalam, untuk kadang-kadang melewatkan satu dua cerita. Sungguh bukan maksud hati ini untuk tidak jujur, bukan pula lancang menganggap kalian-kalian ini tidak cukup dekat di hatiku sampai aku rahasiakan potongan hidupku sebagian dan aku ceritakan saja sebagian lainnya. Tidak.</p>
<p>Cobalah hitung-hitung, baru belasan hari aku berganti status. Apa yang bisa aku ceritakan dari hari yang belum genap menjadi bulan?</p>
<p>Itulah mengapa kadang-kadang aku ingin benar duduk selonjoran saja di pinggir pantai, sambil berbincang-bincang dengan kalian. Lalu mereka-reka kata-kata apa yang cocok jadi pembuka? dari potongan episode yang mana baiknya aku tuturkan? dan dengan intonasi bagaimana baiknya aku mulai menembangkan ceritra itu? Sementara nanti mungkin kalian akan sibuk menikmati angin yang memutar-mutar dedaun jarum pohon-pohon pinus, atau masih sibuk melihat nelayan yang menarik jaring lalu melemparnya lagi, aku bisa tenang sedikit. Karna agak lama aku dalam merangkai kata, untunglah kalian tidak sibuk memburu-buru aku sepertinya.</p>
<p>Begini rupanya menjadi ksatria, rekan-rekan. Menahan haru biru yang menggeletar di dada agar tidak muncrat jadi air mata, waktu orang tua yang kini Bapakku dan Bapaknya, Ibuku dan Ibunya berpesan “baik-baiklah kalian disana”. Mengangkat sebuntelan besar tas penuh barang-barang lalu malam-malam kami menunggu bus di depan bandara, “naiklah duluan dek” kataku sambil menjejalkan timbunan tas ke bagasi, rasanya bukan main.</p>
<p>Begini rupanya menjadi ksatria. Menikmati ekstase kebanggaan menitipkan sejumlah rupiah untuk bekal makan satu bulan kepada istri. Memboncengnya panas-panas siang hari, lalu mengemudi hilir mudik masuk ke gang-gang kecil, bertanya sana sini, lalu sebentar berhenti di depan tulisan “ada kontrakan”, lalu bertanya sambil menoleh sedikit ke belakang “yang ini suka ga dek?”</p>
<p>Begini rupanya menjadi ksatria. Memotong kabel rol listrik limabelas meter, lalu menyambungnya dengan lampu neon dan menggantungnya di atas pelapon kamar mandi yang lampunya dari tadi siang itu malas menyala. Terus aku tersenyum dengan ekspresi paling salah tingkah, bisa juga aku jadi tukang listrik?</p>
<p>Beginilah menjadi ksatria, menggosok lantai kamar mandi dengan sikat yang meleot-leot. Wah… harusnya tadi pagi kita beli sikat WC yang mahalan sedikit tak apa, aku membatin sambil tetap menggosok lantai, menuangkan sesekali pembersih porselen cair wangi itu, sambil dengan cekatan tak karuan menghajar kecoa yang lewat lalu lalang.</p>
<p>Begini rupanya menjadi ksatria. Waktu peluh berjejal-jejal keluar dan lengket di kaos oblong coklatku itu, aku melihatnya mencuci piring-piring. Melihatnya memotong kacang panjang. Melihatnya menyilangkan tangan di depan mukanya waktu minyak goreng meletup-letup di kuali. Melihatnya bolak-balik mengepel dapur belakang, kamar tidur, ruang tamu, lalu teras. Melihatnya menyetrika kemeja hitam lengan panjang punyaku. Lalu melihatnya tertidur berkeringat di ruang tamu sempit disesaki dispenser, rice cooker, tas besar hitam, tas besar coklat, dan kipas angin miyako.</p>
<p>Begini rupanya menjadi ksatria, waktu aku terbangun dini hari tepat di jam tiga, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=244&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/10/30/dini-hari-tepat-di-jam-tiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/10/jam-tiga2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jam tiga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lancang&#8230;</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/09/07/lancang/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/09/07/lancang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 03:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[




Seperti pencuri saja.
Malam-malam kuketikkan ini. Menuliskan sebuah cerita tanpa izin, mungkin adalah sebuah kelancangan. Degap-degup jantungku memompa darah dan adrenalin, biar kiranya jemariku ini bisa bertingkah lebih cepat dari biasanya.
Sebelum lintasan memori yang selalu cuma sebentar nian mampir itu, lenyap. Sebelum malam yang ber-angin pelan ini ikut menyapu niatanku yang setengah ini sampai ludes.
Manusia tercipta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=242&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3516503&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=136144382550&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=136144382550&amp;id=621492924"></a></div>
</div>
<div><img class="alignnone size-full wp-image-241" title="lancang" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/09/lancang.jpg?w=455&#038;h=347" alt="lancang" width="455" height="347" /><br />
Seperti pencuri saja.<br />
Malam-malam kuketikkan ini. Menuliskan sebuah cerita tanpa izin, mungkin adalah sebuah kelancangan. Degap-degup jantungku memompa darah dan adrenalin, biar kiranya jemariku ini bisa bertingkah lebih cepat dari biasanya.<br />
Sebelum lintasan memori yang selalu cuma sebentar nian mampir itu, lenyap. Sebelum malam yang ber-angin pelan ini ikut menyapu niatanku yang setengah ini sampai ludes.</p>
<p>Manusia tercipta dengan tabiat yang gampang sekali lupa. Mungkin itu juga kiranya kenapa Tuhan mengajar kita dengan Kalam, dengan “Pena”. Cerita-cerita kalau tak dituliskan dan dibagikan akan hilang dan mati. Begitu juga ingatanku nanti mungkin membusuk dan ikut dikerubun belatung. Kau belum sempat baca. Tidak pula kawan yang lain sempat tahu. Sedangkan nama yang luarbiasa itu belum sempat diceritakan, dan mungkin nanti hilang ditelan sejarah. Akankah aku yang kalian salahkan???</p>
<p>Baiklah…….<br />
Sudah sekitar enam tahun, sahabatku itu aku kenal. Perkenalan yang biasa dan klise di kampus Padjadjaran. Aku tidak ingat bagaimana mulanya kami kenal. Tapi pastilah tidak dramatis. Sesuatu yang cukup biasa, sampai otak-ku yang masih banyak lowongnya ini tidak menyimpannya. Memori hanya muncul sekilas-sekilas. Rumahnya dulu cukup kecil seingatku, di pinggir jalan tanah yang rumput jalan dan ilalang menyeruak kemana-mana. Ada lapangan bola di seberang sananya, dan titian jalan-jalan setapak menyusur sawah setengah jadi di pinggir-pinggir perumahan yang masih lengang. Setengah pedesaan…… Alami……&#8230; Sepi…….. Dan berembun basah……… ya, memang waktu itu musim penghujan, aku ingat betul itu.</p>
<p>Dari sanalah, kalau kau paksa aku runut-runut, ingatan yang cukup baik buatku memulai melintas kebelakang. Ingatan setelah itu adalah rumah itu sudah kuanggap rumah sendiri.</p>
<p>***<br />
Setiap kali kuliah usai, dan aku yang sama sekali bukan aktivis kampus ini tidak punya kegiatan, maka seingatku aku akan bertandang kerumahnya. Menaiki angkot berjejal sambil berceloteh tentang masa ospek yang baru kami lalui, atau mungkin diam saja sampai kalau tidak aku mungkin dia yang akan tiba-tiba berujar tadi siang ada seorang gadis manis yang kita lihat di pinggir jalan kampus.</p>
<p>Dari depan gang kami masih harus berjalan sekitar 15 menit. Ini bagian yang aku paling senang. Sawah-sawah yang masih hijau di pepinggiran jalan itu seperti selintas menyadarkan aku bahwa masih banyak keindahan di sini, selain kejenuhan dan rasa penat yang seperti bercokol di punggung. Aku menyukai suasana itu, dan dia adalah orang yang pertama kali mengajakku untuk melewati jalan sawah itu. Disitulah aku mulai membatin bahwa beliau ini akan menjadi teman baikku. Aku susah berteman memang, tapi bersahabat seumur hidup.</p>
<p>Anak itu melankolis sejati. Dan sedikit-sedikit aku memahami jalan dia berfikir. Banyak yang sama dalam keseharian kami. Keluarga yang ekonomi seadanya. Kami marjinal. Bukan orang yang berperan krusial di konstelasi kampus. Menyukai seni. Merasa diri kami sebagai pria kharismatik yang romantis, dan dalam banyak kesempatan “mana-mana gadis yang dia anggap manis pastilah menurutku lumayan juga”.</p>
<p>Hampir setiap hari aku bertandang kesana. Menghabiskan masakan yang dimasak kakak perempuannya, lalu berbasa-basi seperti mau mencucikan piring. Nantinya anak itu juga tahu semacam basa-basi melarang aku mencuci. Lantas piring kotor kutumpuk saja dibelakang sambil berkomentar betapa enak masakan teteh-nya.</p>
<p>Dari sana aku tahu dia orang yang baik. Entah sudah berapa kali dia merogoh koceknya untuk membeli kerupuk putih atau sekedar membeli gorengan atau mie sebagai teman makan kami. Sudah setengah mati kukatakan padanya bahwa aku sudah lulus pelatihan sengsara di rumahku sebrang sana, masihlah dia tak percaya bahwa aku bisa survive hanya dengan makan nasi saja. Maka setiap kali niatan bertandang itu mengakibatkan uang sakunya keluar menjadi lauk pauk buatku, aku merasa bersalah. Tapi tiap hari pula kuulangi lagi dan aku bertandang lagi.</p>
<p>Dia menjadi sahabat yang aku percaya untuk setiap rahasia-rahasia. Dan aku juga mulai tahu kisah keluarganya. Kesulitan ekonominya. Gadis manis yang dia taksir. Tipu muslihatnya menarik si cantik jelita itu. Dan macam-macam lagi.</p>
<p>Kami sudah seperti anak kembar saja. Bedanya aku lebih tinggi sedikit darinya. Dia menjadi seperti rival. Orang yang aku iri dengan kepandaiannya menggubah lagu. Aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi sahabat yang mendengarkan dengan baik. Bagaimana hidup dengan bersahaja. Dari keluarganya aku belajar bagaimana potret keluarga yang sederhana tapi penuh canda.</p>
<p>Kami pergi ketempat-tempat yang jauh. Menyelesaikan tugas kampus untuk penelitian di Banten. Menyusur hutan. Kami menuruni jurang-jurang curam. Kami tersesat di hutan lebat yang men-tak berkutik-kan GPS kami. Kami sok-sok pandai bertutur sunda halus dengan penduduk kampung. Kami naik turun bus, naik turun ojek. Mandi di sungai deras. Buang air ala penduduk yang tidak punya jamban. Tak terlupakan.</p>
<p>Sampai waktu empat tahun seperti tidak terasa dan berhenti. Entah bagaimana mulanya aku tidak mengerti. Aku sudah lulus. Sedang beliau belum. Ekonomi keluarga yang merapuh kian hari, dan banyak problem <em>-yang sebagai teman aku malu untuk tidak tahu-. </em></p>
<p>Tapi nyatanya aku sudah menyandang toga, menghadiri wisuda yang riuh dan tatapan bangga orang tua. Sedang sahabatku itu tidak hadir dalam wisudaku.</p>
<p>Sejak saat aku diwisuda itu dia pergi ke pedalaman kalimantan. Mengerjakan sebuah proyek eksplorasi batubara. Ditinggalkannya tugas kuliah dan skripsi yang menunggu itu, demi membantu ekonomi keluarganya. Sendiri. Terasing. Berbulan-bulan. Samar tapi terasa, aku menyadari seperti ada yang salah dengan start yang kumulai lebih dulu ini. Aku telah diterima bekerja.</p>
<p>Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan menjalani lelakon baru. Berkemeja rapih bergaris dan memakai badge. Aku masuk di sebuah kantor perusahaan besar. Menghadiri meeting dengan para bule. Menikmati training berbulan-bulan di hotel megah berbintang. Tidur di kasur empuk bukan main. Tidak pernah lagi aku merasakan mencuci dan menyetrika. Makan empat sehat lima sempurna sampai berat badanku naik tak karuan. Tiap sore berenang di kolam renang yang banyak pepohonan pinggir-pinggirnya. Tapi seperti ada yang salah.</p>
<p>Maka setelah berbulan-bulan yang panjang, aku sempatkan menaiki bus siang-siang dari jakarta menuju Bandung. Lalu aku ketuk pintu rumahnya dan bertegur sapa dengan ibunya. Nyelonong naik ke lantai atas, dari tangga kayu yang tua dan berdecit, lalu bertemu anak itu yang sedang mengetik di komputer lusuh. Dia tersenyum. Senyum yang biasa dari sahabat melankolisku itu, tapi seperti ada yang sedikit getir.</p>
<p>Aku rahasiakan pada orang tua beliau. Tidak ada yang tahu bahwa aku sudah lulus dan bekerja. Tapi bisakah kita membohongi orang tua? Tatap mata ibunya seperti tahu benar ada yang berubah dari raut muka dan perawakanku. Maka disuatu sore yang tenang dan sangat biasa, kawanku itu bertutur jujur pada ibunya, bahwa aku, sahabatnya, sekarang sudah lulus dan bekerja. Ibunya diam……..diam yang lama. Tidak ada yang salah. Hanya doa dan harapan agar dia bisa lebih cepat menyelesaikan kuliah, yang terlontar dari bibir ibunya. Kawanku itu hening, dan aku tidak bisa berbuat selain tidak berkata-kata.</p>
<p>Kadang-kadang aku berfikir. Seandainya sebentar saja diberikan kita kesempatan oleh Tuhan untuk mencoba-coba drama kehidupan kawan-kawan, aku tak sanggup memainkan peranan beliau itu. Tinggal di kampus yang semakin hari semakin sedikit saja rekan-rekan yang masih rajin datang. Menikmati kesendirian bolak-balik laboratorium dimana kawan-kawan sudah bergelar S.T. Mengerjakan berlembar-lembar kertas saat tidak lagi ada rekanan tempat mengadu ide-ide, untuk sekedar membakar kembali semangat yang putarannya kian hari kian pelan. Sungguh aku tidak sanggup.</p>
<p>Maka di waktu-waktu aku pulang kembali ke jakarta, setelah bertandang dan sowan ke keluarganya itu, aku merasa ciut. Baru aku tahu lagi bahwa anak lugu itu adalah tipikal yang jatuh berdebam dan sempoyongan berulang kali tapi masih bangkit. Lalu kutitipkan saja doa dan sepenggal sms. Bahwa aku, kawannya yang sudah lulus lebih dulu, dan nama-nama yang baru saja di-toga-kan lainnya itu, menunggunya di sebrang. Kami sudah berteriak-teriak dan meloncat loncat melambai tangan. Kami tahu dia pasti datang.</p>
<p>***<br />
Lama rasanya, jeda waktu semenjak terakhir aku duduk di pinggiran bus yang melintas tol cipularang, terayun-ayun setengah tertidur, lalu nanti baru terbangun setelah sampai di pintu tol cileunyi didekat rumah kawanku itu. Lama rasanya……</p>
<p>Sampai aku mendengar kabar luar biasa itu. Bahwa kolega-ku itu sudah bergelar sarjana kini. Bukan main rasanya. Kugeleng-gelengkan kepala membayangkan dia jatuh tersungkur dan bangun dan sempoyongan dan sampai terjerembab dan bangun lagi dan sekarang dia berdiri!!!<br />
Kawanku itu sudah diterima pula bekerja. Takdir berjalan dengan cara yang unik. Secepat aku bekerja secepat itu pula dia bekerja setelah diwisuda.</p>
<p>Lalu kami bertemu lagi di jakarta. Dari sebuah kosan yang harganya tak mungkin terbayar waktu kami masih mahasiswa dulu, kami pergi kebanyak tempat. Lalu menyalakan laptop dan modem. Membeli kemeja dan celana panjang yang pantas.</p>
<p>Hei……. Roda berputar rupanya…… tak habis-habis aku menggeleng untuk setiap rupiah yang tercetak di saldo tabunganku, untuk setiap kami makan siang bukan dengan bakwan atau indomi goreng lagi, untuk setiap rupiah yang kawanku itu bisa berikan pada Ibunya, pada Bapaknya, pada Adik laki-laki tertuanya. Aku turut bangga.</p>
<p>Tapi pelan-pelan nian kami larut dalam euphoria Jakarta. Menghabiskan hari dengan memlototi layar datar monitor yang membuat mata kami berair. Duduk dibelakang meja yang disesaki kertas-kertas. Bernafas dengan setiap tarikan dan hembusan kami adalah rantai panjang hidrokarbon, barrel minyak, cadangan gas, mata bit yang berputar, pemboran sekian ribu feet dan segala yang mengkorupsi indah hidup.</p>
<p>Lalu Jakarta seperti berembug sepaham dengan rutinitas kami. Macet dimana-mana. Asap dimana-mana. Bunyi klakson. Orang berteriak. Sepeda motor yang berjalan di trotoar. Lampu merah yang menyala dan berganti dengan acak. Bau pesing. Jenuh penat dan menghabiskan tenaga.</p>
<p>Lama rasanya………… jeda waktu dari sejak terakhir kali kami pernah menempuh belasan kilometer belantara kalimantan. Tertawa-tawa dan makan nasi putih dengan ikan asin. Mandi di sungai jernih yang didasarnya batubara hitam mengilap. Naik kapal mesin yang menyusur alir sungai mahakam sampai hulu semalaman. Dan bercerita sebelum tidur tentang mimpi-mimpi masa depan, rencana merebut gadis impian, sambil sesekali menepuk nyamuk yang kurang ajar menginterupsi.</p>
<p>Maka sebelum cerita ini terlupa dan kami akan sibuk dengan anak istri, aku tuliskan lagi kisah ini. Meski menuliskan sebuah cerita tanpa izin mungkin adalah sebuah kelancangan.</p></div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=242&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/09/07/lancang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/09/lancang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lancang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tembang Tidur</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/09/04/tembang-tidur/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/09/04/tembang-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 12:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[




Menjadi yang pertama, sungguh bukan pilihanku. Ada hal-hal yang dalam kehidupan ini kita tidak bisa memilih. Jadi kepada ketiga adikku, dalam tiap-tiap kesempatan, aku gumamkan sendiri di dalam batin, bahwa tidak pernah aku -di dalam rahim sana misalnya- &#8220;mengojok-ojok Tuhan supaya memperkenankan aku lebih dulu hadir ke dunia ini. Biar nantinya kalian-kalian cukuplah jadi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=239&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3507185&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=135412717550&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=135412717550&amp;id=621492924"></a></div>
</div>
<div>
<img class="alignnone size-full wp-image-238" title="tembangtidur" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/09/tembangtidur.jpg?w=455&#038;h=303" alt="tembangtidur" width="455" height="303" /></div>
<div>Menjadi yang pertama, sungguh bukan pilihanku. Ada hal-hal yang dalam kehidupan ini kita tidak bisa memilih. Jadi kepada ketiga adikku, dalam tiap-tiap kesempatan, aku gumamkan sendiri di dalam batin, bahwa tidak pernah aku <em>-di dalam rahim sana misalnya-</em> &#8220;mengojok-ojok Tuhan supaya memperkenankan aku lebih dulu hadir ke dunia ini. Biar nantinya kalian-kalian cukuplah jadi yang nomor dua, atau tiga dan empat. Tidak, dek</p>
<p>Tinggal di rumah petak, menyisakan sebuah coretan nostalgi yang cukup membekas juga. Waktu itu aku masih kecil, belum lagi aku mulai masuk sekolah SD. Perasaan waktu itu banyak nian nyamuk dan serangga-serangga, sekeliling rumah bukan main ilalangnya itu tumbuh lebat, acak, dan keras kepala. Itu adalah komplek yang barusaja aku tempati. Disitulah Bapak ditugaskan, dan disitulah lembar baru dimulai. Aku ambil selembar putih kertas, dan kunomori di bagian pojok kanan bawah. SATU.</p>
<p>Dan disinilah aku sekarang menyempatkan diri, kesalahan yang cukup besar memang, mengingat sudah duapuluh lima <em>-tidak sebentar-</em> tahun aku menghabiskan waktu bersama kalian, tapi baru kali ini aku bercerita.</p>
<p>Sampai dimana tadi???<br />
Ah&#8230;. rumah petak itu.<br />
Rumah itu dek, adalah sebuah bukti cinta Bapak dan Ibu kita. Cinta yang tidak seromantis dalam novel tentu saja. Ada juga cekcok-cekcok sedikit. Bapak dan Ibu memang agak kurang pandai menyembunyikan raut muka. Aku ini kecil-kecil tapi pandailah juga, tahu benar aku kapan-kapan mereka ribut kapan-kapan mereka romantis.</p>
<p>Waktu itu kau belum lahir Chan! Akulah yang menghabiskan hari dengan main sepeda kecil yang dibelikan kakek dan mengitari komplek yang belum semua rumah ada orangnya. Menghabiskan hari dengan berpetualang tentu saja mengasikkan, kalau kau tanya, kecuali petualangan yang kuhabiskan sendiri dan dinikmat-nikmat sendiri.</p>
<p>Pulang kerumah tentulah aku diam-diam, Bapak akan muntab nantinya jika tahu aku keluyuran seperti setan, waktu sudah hampir senja. Tentulah aku sudah sholat ashar dek, tapi setelah itu aku lari lagi dan pulang ke rumah waktu hari sudah hampir menua. Itu pertaruhan yang mendebarkan. Petualangan yang mengasyikkan dibayar tunai dengan ancaman kemurkaan Bapak. Betul-betul mencekam. Kalau saja, aku tidak ingat bahwa perut Ibu kita semakin membesar semakin hari, pasti aku lebih sering main-main ke rawa ujung jalan itu, atau memasang jerat capung dari getah nangka, atau main gundu dengan rekan-rekan baru itu. Tapi perut ibu semakin membesar dan entah kenapa aku ingin pulang.</p>
<p>Kau lah yang mengkerut di dalam sana dek. Anggota baru keluarga kecil kami, yang sejak kau belum nongol juga sudah aku reka-reka nama yang pas untuk mu. Tapi Bapak dan Ibu tidak meng-approvenya. Sebuah bentuk arogansi orang tua, bukankah anak pertama juga sedikit banyak punya hak dalam menisbatkan nama untuk adiknya yang pertama? Begitu pikirku waktu kecil dulu. Tapi baru sekarang setelah dewasa aku menyadari kebijakan orang tua kita. Untunglah tidak dikabulkan oleh mereka dulu. Atau tidak, kau akan sedikit malas dan jengah tiap kali memperkenalkan namamu. Mengingat dulu aku usulkan Bapak dan Ibu untuk memberimu nama : BOBO.Majalah itulah yang aku gunakan, untuk memayungimu yang ada di gendongan ibu sepulang dari rumah sakit.</p>
<p>Pagi buta. Kenapa kau harus keluar pagi-pagi buta, dek? Ya&#8230;ya&#8230;aku tahu. Mana mungkin kau bisa memilih untuk keluar siang bolong atau semisal senja hari, iya kan? jadi dalam hal ini aku anggap saja kita impas. Aku anak pertama, dan kau lahir belakangan dengan merepotkan Ibu, Bapak, dan aku kena imbasnya juga. Pada suatu subuh di kota Bengkulu. Kota kecil yang kita tinggal di ujungnya sekali, dan sialnya jauh dari rumah sakit, dan sialnya lagi Bapak Ibu tidak punya motor apalagi mobil, dan itu saat-saat pertama kita pindah kesana, tak ada kerabat. Oke, Impaslah kita sekarang.</p>
<p>Jadi, saudaraku, kau lah satu-satunya dalam sejarah perikehidupan kita berempat, yang dilahirkan di Rumah Sakit. Ya…. Di rumah sakit. Aku lahir di rumah, asal kau tahu saja dek, Bayu adikmu itu, juga lahir dirumah, dan Giri si bungsu itu apalagi. Kita semua ditangani bidan dan kau harus diantar sekitar limabelas kilometer gelap-gelap menuju Rumah Sakit Bakti Husada kalau tidak salah. Sampai sekarang geli aku mengingatnya. Bukan masalah itu dek, bukan. Bukan perkara rumah sakitnya, tapi karna sewaktu kau lahir, Bapak tidak sempat meng-azani-mu, jadilah kau satu-satunya yang tidak diazani diantara kita berempat. Janganlah kau protes padaku, cobalah nanti bila mudik kau pinta saja Bapak untuk mengazanimu yang sudah besar ini, membayar hutang selama sembilan belas tahun. Hahahahaha…..</p>
<p>Masa-masa waktu aku menggendong kalian-kalian itu cepat sekali berlalu. Memang kalian itu merepotkan juga, aku selalu diteriaki ibu waktu aku main lompat gundu, terus aku bersungut-sungut pulang dan langsung menggendongmu yang kerjanya meracau saja, senang nian kau dan adik dua mu itu mengganggu ibu masak. Tidak tahu apa kalian? Bahwa memasak itu adalah sebuah ritual sakral buat ibu. Jangan main-main kalian mengacaunya. Sebagai anak kecil SD tentu saja aku kesal, tapi anehnya aku tidak marah. Aku ingat bagaimana aku menemukan teknik jitu dengan menutup semua korden kamar kita, lalu mengayunmu dengan ritmis sambil bernyanyi tembang jawa asal-asalan. Aku Cuma ingat nadanya waktu bapak suka menyanyikan aku dulu, lantas kukopi paste dan kuubah liriknya semau-mauku. Kau tidak protes, nyatanya kau tertidur pulas dan aku semakin lihai menurunkanmu dari gendongan tanpa membuat kau terbangun.</p>
<p>Mungkin begitulah Ibu melihat kita ya dek. Menghabiskan makanan yang dimasak ibu di dapur, dengan tandas, lalu secara tak karuan kita membesar dan menjejali rumah sempit dengan badan kita. Kalian cepat sekali dewasa. Aku senang tidak perlu lagi menggendong, tapi kita sering sekali bertengkar dan berebut mainan. Kapan ya terakhir kali kita bertengkar hebat? Aku lupa, yang aku paling ingat hanya kau merobek majalah Bobo-ku. Luar biasa marahnya aku, bagaimana mungkin kau robek sampul majalah yang hampir menjadi namamu itu? Lalu semakin hari semakin bisa aku menemukan celahnya. Dan aku tidak mungkin bertengkar dengan Bayu dan Giri bukan? Karna seperti kalian yang membesar dengan lincah maka aku tanpa sadar juga tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Sebuah perasaan yang asing dan membanggakan mengelindap saat kalian mengakuiku dan memanggilku dengan panggilan “kakak”.</p>
<p>Ah…… bukan.. bukan….. kata Bapak dan Ibu kalian harus memanggilku Mas… ya …………………..Mas!.</p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=239&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/09/04/tembang-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/09/tembangtidur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tembangtidur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/08/25/surat/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/08/25/surat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 00:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[


Kutemukan remukan kertas di pinggir jembatan bambu reot, waktu aku menyusuri jalan setapak panjang sore tadi:
Surat untuk calon istriku.
Dek………. Bagaimana jadinya?
Ah….. bukan………….bukan, maaf, aku selalu tergesa. Harusnya kusampaikan dulu sebuah salam yang bukan basa-basi. Sepotong kalimat yang membahagiakan dan mendoakanmu. Itu visi yang membangun cerita panjang oret-oret suratku, “cintakah itu?” bila kau tanya mungkin jawabnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=235&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="photo photo_none">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3095985&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=114543012550&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=114543012550&amp;id=621492924"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6332_130393537924_621492924_3095985_4899965_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p><em>Kutemukan remukan kertas di pinggir jembatan bambu reot, waktu aku menyusuri jalan setapak panjang sore tadi:</em></p>
<p><strong>Surat untuk calon istriku.</strong></p>
<p>Dek………. Bagaimana jadinya?</p>
<p>Ah….. bukan………….bukan, maaf, aku selalu tergesa. Harusnya kusampaikan dulu sebuah salam yang bukan basa-basi. Sepotong kalimat yang membahagiakan dan mendoakanmu. Itu visi yang membangun cerita panjang oret-oret suratku, “cintakah itu?” bila kau tanya mungkin jawabnya “ya!”</p>
<p>Dari malam tadi, aku selalu bermenung dan menghabiskan sepotong biskuit dengan teh panas. Tanpa rokok dek. Aku malu menjejali paru-paru yang menarik dan menghembus setiap nafas hidupku ini, dengan kabut. Semburat putih tipis yang nanti mungkin menghantar nikotin ke udara sekitarmu waktu aku jawab “ya” saat kau bertanya “cintakah itu?”</p>
<p>Menulis surat rasanya kebas jari tanganku. Bagaimana mengarang frasa yang memuat berkuintal-kuintal rasa yang tidak mudah sebenarnya dibahasakan? Maka aku remuk lagi kertas ke duapuluh lima yang kutulis malam ini lalu kuambil lagi secarik kertas baru, putih, dan bergaris, dari buku tipis seribu limaratusan. Kutulis salam dulu di bagian atasnya lalu langsung menjawab “ya” untuk tanya yang belum kau jadikan kata “cinta?”</p>
<p>Bagaimana menjanjikan keluarga ya, dek? Dengan harta yang sepeser-sepeser, dengan rumah yang sempit sekamar saja ini, dengan muka yang pias warna pucat sesederhana ini. Bagaimana dek?</p>
<p>Ah………… romansa tiba-tiba jadi begitu picis. Aku mohon maaf yang dalam, untuk telah menggoreskan tinta yang membingungkan. Karna bagiku, mungkin cinta memang tak harus dipuitis-puitiskan.</p>
<p>Aku menyeruput teh lagi dek, barusan…… lalu mengelap jari tangan keringatan dengan serbet tua agak dekil.</p>
<p>Setelah sekian lama waktu, baru malam ini aku beranikan berjanji, untuk nanti rasa-rasanya aku akan menatap lamat-lamat keringatmu yang membulir jatuh waktu mensetrikakan pakaianku! Waktu menggiling dengan susah payah, cabai yang biasanya kau pakai blender di rumahmu dulu! Waktu menyapu sehari enam kali di rumah sempit yang debu jatuh dari sana-sini! Waktu menenteng kantong plastik sekitar enam biji, di tangan kananmu sebelah di tangan kirimu sebelah, saat pulang dari pasar jauh yang biasanya kau pakai mobil di rumahmu dulu! Waktu kau melambai pelan sambil tersenyum, menguat-nguatkan bola mata bulatmu untuk tidak bergetar saat aku terpaksa pergi ke utarakah, ke selatankah, untuk belajar jadi lelaki dan menggenapkan tugas dengan mengantarkan sepotong rizki yang kutemukan di timurlaut atau mungkin baratdaya. Kau tidak sedang sakit meriang kan dek, waktu aku pergi?!</p>
<p>Moga-moga berani kutitipkan surat ini pada seorang kawan. Tak usahlah dibalas dek, aku bingung menjawabnya jika nanti kau bertanya tentang satu kata itu saja “cinta???”.</p>
<p>Dan jika kiranya waktu berbaik hati, menyempatkan kita berbagi banyak cerita, dalam satu rumah dikelilingi anak-anak yang berlari-lari dan berteriak teriak, baru aku akan jawab pertanyaanmu itu. setelah kau bikinkan secangkir teh panas dulu untukku.</p>
<p><em>Kusimpan kertas itu disaku bajuku sebelah kanan, lalu meniti jembatan reot itu pelan-pelan sambil menebak-nebak, siapa gerangan yang menulis surat ini?.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=235&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/08/25/surat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6332_130393537924_621492924_3095985_4899965_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>dua windu dulu kala</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/07/14/dua-windu-dulu-kala/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/07/14/dua-windu-dulu-kala/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 01:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[
sangat perkasa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. ceritanya motor tua itu dalam dua windu usianya sampai masa SMA-ku dulu, belum pernah turun mesin.
itu memang sebuah teknik berkilah turun temurun. Tidak begitu jelas siapa yang memulai model pengalihan seperti itu. Misalnya ada handphone sudah renta sekali, pasti dibilang &#8220;ini handphone begini-begini tahan banting, jatuh berapa kali ga apa-apa, ga kaya handphone [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=230&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-229" title="motor" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/07/motor3.jpg?w=455&#038;h=303" alt="motor" width="455" height="303" /></p>
<p>sangat perkasa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. ceritanya motor tua itu dalam dua windu usianya sampai masa SMA-ku dulu, belum pernah turun mesin.</p>
<p>itu memang sebuah teknik berkilah turun temurun. Tidak begitu jelas siapa yang memulai model pengalihan seperti itu. Misalnya ada handphone sudah renta sekali, pasti dibilang &#8220;ini handphone begini-begini tahan banting, jatuh berapa kali ga apa-apa, ga kaya handphone jaman sekarang&#8221;. Misalnya lagi ada motor tua pasti dielu-elukan &#8220;ini tua-tua bandel, ga pernah bongkar mesin sampai sekarang, suaranya aja masih halus&#8221;. Dan begitulah awalnya Bapak memuji-muji motor tua dirumah itu.</p>
<p>Aku sedikit kesal juga, buatku ya kalau barang sudah tua ya tua saja, tak usahlah dikasih embel-embel, tak usah banyak katabelece.</p>
<p>***<br />
Rasa-rasanya itu merupakan sebuah ujian, persis ulangan umum setelah aku menamatkan dua caturwulan belajar matapelajaran percaya diri.</p>
<p>Pertama kalinya begini. Jaman dulu itu, ditengah ekonomi yang morat-marit, memiliki kendaraan pribadi adalah semacam ide besar. Semacam cita-cita luhur yang belum kesampaian. Kalau tidak salah kan dulu sekali baginda nabi pernah sekali berpesan kepada kita: bahwa beberapa hal yang merupakan sumber kebahagiaan dunia itu adalah istri yang sholehah, rumah yang lapang, dan kendaraan yang baik yang bisa mengantarkan kita kemana kita hendak bepergian.</p>
<p>Tentu saja sub-bab istri yang sholehah itu urusan Bapakku, manalah mungkin aku ikut-ikutan membahas tema itu sedang aku masih SMA kelas dua baru mau naik kelas tiga. Aku percaya sekali ibuku adalah tipe wanita penyabar yang masih bisa bertahan dan berjuang dengan segala keminusan dalam hitung-hitungan aljabar ekonomi rumahku, dan aku percaya itu salah satu bentuk ke-sholehah-an juga, rekan-rekan. Jadi sekarang tinggal rumah yang lapang, dan kendaraan yang baik.</p>
<p>Rumah yang lapang adalah lebih rumit lagi pengejawantahannya. Maka atas analisa taktis dan mempertimbangkan latar belakang macam-macam maka diputuskan dengan seksama bahwa memiliki kendaraan adalah berada dalam quadrant sangat penting sangat mendesak. Jadi harus sesegera mungkin diwujudkan.</p>
<p>Itulah awal mula petaka, ujian berat dalam kehidupan pemuda tanggung seusiaku.</p>
<p>Waktu pulang sekolah di suatu sore yang masih sedikit menyala panasnya, sambil jalan terburu-buru dipacu lambung yang mengkerut dan beresonansi apik dengan udara, aku berjalan setengah berlari dari gang depan sampai ke ujung komplek. Lalu berhenti tertahan di depan pintu rumah waktu tertumbuk mataku melihat Bapak me-ngegas motor tua.</p>
<p>“Ini motor dua tak dengan oli samping” dimulailah retorika Bapak. Geli aku melihat motor itu. Ini adalah semacam reaksi natural saja dariku, tertawa setengah tertahan. Plat motor itu warnanya merah, bekas motor dinas yang sudah dilelang dan sekarang jadi milik pribadi tapi belum diganti platnya. Joknya sudah bergoyang goyang dinamis. Lampunya bersahaja, dengan kabel yang mencuat kemana-mana, tak ada itu saklar lampu jarak jauh jarak dekat. Pokoknya memprihatinkan. Satu-satunya yang “sangar”dari motor tua itu adalah suaranya. Knalpot motor memang boleh reteng dimana-mana, tapi suaranya itu kawan, mendehem seperti motor gede. Ngeri sekali.</p>
<p>Aku antara senang hati, antara mengelus dada. Ini ujian kesufian tingkat tinggi, dalam bahasan spirituil bernama syukur nikmat. Mengingat-ingat setiap ingin bepergian sekarang jadi lebih mudah, tak perlu menunggu angkutan kota, tinggal engkol pedalnya, dengarkan deheman berat dari knalpot motor tua, lalu kabur.</p>
<p>Tapi mengingat-ingat setiap kali aku meminta uang pada ibu untuk kegiatan ini itu, maka ibu akan dengan cekatan menolak, aku jadi ngedumel-ngedumel juga. Salah satu fungsi dengan hadirnya motor adalah mengatur keuangan, yang artinya adalah meningkatkan taraf hidup, yang berarti juga adalah dalam rangka niatan mulia meningkatkan taraf hidup maka semua elemen keluarga harus berperan! dan aku sebagai anak tertua memainkan peranan penting itu dengan merelakan diri untuk menggunakan motor bandel bukan main itu untuk pergi ke sekolah setiap kali aku ada kegiatan ini kegiatan itu.</p>
<p>Bahasan nomor dua dari ujian kesufian dimulai. Tema spirituil kali ini adalah tidak rendah diri. BREEEEMMMMMM. Membaca bismillah beberapa kali. Lalu di suatu sore yang anginnya semilir-semilir aku memutar gas dengan pelan. Motor tua maju menyentak-nyentak. Aku pasang tampang siaga. “jangan lupa kasih oli campur” bapak teriak dari dalam rumah.</p>
<p>Alamak…….. berat hati rasanya menggelindingkan roda motor tua ini ke sekolah. Manalah pula nanti harus kulewati deretan orang yang kongkow-kongkow di lapangan. Dengan motor canggih berkilau-kilau, dandanan necis tak usah disangsikan lagi, lalu psikologisku memacu detak jantung jadi jedat-jedut, “psikosomatis” kata para pakar psikologis, maka aku tiba-tiba serasa meriang dan sendi-sendi mau lepas dari tempatnya.</p>
<p>Di perjalanan aku berfikir dan menarik nafas dalam. Lalu meyakinkan diri sendiri bahwa keberanian untuk tampil apa adanya adalah suatu bentuk kebesaran jiwa. Sebentuk kematangan mental. Dimana dalam situasi yang serba mengandalkan penampilan luar dan topeng topeng seperti jaman sekarang ini, aku bisa tampil dengan tidak terikat dengan penilaian orang akan status. Wah…………. Tiba-tiba hatiku meloncat-loncat, dalam hati aku mengira-ngira bahwa aku ini luar biasa sekali rupanya. Lalu aku mengalami semacam sensasi merasa keren sendiri. Maka gas motor kupacu lagi sambil bersiul-siul, mungkin salah satu ciri orang yang berjiwa besar adalah menghadapi tantangan hidup dengan bersiul-siul, rasa-rasanya aku siap menghadapi teror mental macam apa juga. Knalpot tua berdehem dehem, motor melaju kencang.</p>
<p>Sampai di gerbang sekolah tiba-tiba aku gemetaran lagi. Persis orang mau lomba pidato. Rasanya demam panggung. Kupelankan gas motor itu waktu melewati lapangan basket riuh rendah. Tapi memang motor tua dimana-mana sama, kalau bukan empunya yang menanganinya pasti ada-ada saja masalahnya, dan sialnya dalam hal ini empunya bukan aku, tapi bapakku. Gas boleh kecil sodara-sodara, tapi suara tetap besar. Alhasil aku gagal total menyamarkan kedatanganku seperti ninja, kawan-kawan melirik dan aku salah tingkah….. sedikit…… oke-oke, agak banyak sedikit.</p>
<p>Motor berhenti, aku panas dingin berkeringat. Sebagai satu-satunya yang tunggangannya seusia dua windu dulu kala, maka aku berjalan cepat menuju ruang kelas. Sambil membatin aku membesarkan hati. Bahwa orang-orang yang petantang-petenteng dengan motor bagus itu adalah orang yang menipu dirinya sendiri. Orang yang berlindung dibalik topeng, bagaimana image bisa dibangun dengan harta? Aku mengangguk-angguk seperti yang sudah matang dalam kepribadian.</p>
<p>Para pakar qalbu –akhir-akhir ini baru aku sadar- mengatakan bahwa kelakuanku dulu itu adalah sebentuk penyakit, bangga diri alias ujub. Lebih terselubung dari berkarya karna pamrih-pamrih, lebih berbahaya dibanding petantang-petenteng pede dengan motor bagus-bagus, misalnya. Maka dalam ujian motortua aku mengira sukses menyilang pilihan ganda soal-soal anti minder tapi rupa-rupanya terjebaklah aku dalam jebakan yang lain. Motor ini rupanya lebih rumit dari yang kubayangkan.</p>
<p>Acara selesai, aku bergegas pulang, hari sudah malam dan aku bisa sedikit santai. Model penyamaran bisa kita terapkan pada situasi kurang cahaya. Pertama, detail reyot-reyot motor ini niscaya agak susah diindera waktu malam gelap gulita. Kedua, orang juga susah mengetahui bahwa aku pengendaranya dibalik stang honda tua itu. Rupanya penyakit minder masih ada juga sisa-sisanya. Aku meluncur pulang, sekalian bertandang kerumah seorang teman untuk ngobrol sana-sini.</p>
<p>Malam bergulir. Dari rumah teman aku hendak pulang ke-rumah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sepenuh hati kukerahkan semua tenaga ke kakiku mengengkol pedal motor itu tapi tak hidup-hidup. BREEEEMMM.. gagal. BREEEEEEEM….. gagal. Aku putus asa, setengah hilang harapan aku minta tolong pada temanku tadi untuk mengeluarkan tali tambang dan menarik itu motor menempuh belasan kilometer jarak menuju rumahku, dimalam dingin sesudah isya, waktu penerangan Cuma dari lampu jalan redup-redup. Sepanjang jalan aku mengomel. Menyiksa diri dengan berangan-angan coba kalau begini coba kalau begitu.</p>
<p>sesampai di rumah aku diam cemberut. Sungguh lucu. Persepsiku tentang kematangan jiwa tadi ternyata ambruk berantakan. Lalu aku protes kepada Bapak tentang kondisi motor yang penuh problema itu. Aku kritik semua-muanya, ya stangnya, ya lampunya, ya knalpotnya ya pedalnya, ya ga bisa hidupnya.</p>
<p>Terus Bapak jongkok kebawah mesin, ngutak-atik busi kurang dari dua menit terus mengengkol pelan BREEEEMMMMM….. dan motor menyala. Aku bengong. Lalu bapak beretorika lagi.</p>
<p>Aaarrrggggghhhhhh…….. rasanya untuk ujian spiritual yang caturwulan ini aku HER saja</p>
<p><em>(images minjem dari google)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=230&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/07/14/dua-windu-dulu-kala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/07/motor3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">motor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada yang menyublim</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/07/12/ada-yang-menyublim/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/07/12/ada-yang-menyublim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 16:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[
Ingin menceritakannya saja aku sudah bingung. Dari mana memulainya supaya alur ceritanya runut dan tidak membingungkan kalian-kalian. Ini aku benar-benar terus terang, bahwa sebenarnya aku sering lupa, mana-mana hal yang aku sudah ceritakan padamu, mana-mana yang belum. Tapi rasa-rasanya belumlah pernah aku mendongengkan pada kalian-kalian mengenai suara cericit. Baiklah……… akan aku mulai pelan-pelan saja.
***
Dimana sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=222&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-223" title="old_memories" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/07/old_memories.jpg?w=455&#038;h=317" alt="old_memories" width="455" height="317" /></p>
<p>Ingin menceritakannya saja aku sudah bingung. Dari mana memulainya supaya alur ceritanya runut dan tidak membingungkan kalian-kalian. Ini aku benar-benar terus terang, bahwa sebenarnya aku sering lupa, mana-mana hal yang aku sudah ceritakan padamu, mana-mana yang belum. Tapi rasa-rasanya belumlah pernah aku mendongengkan pada kalian-kalian mengenai suara cericit. Baiklah……… akan aku mulai pelan-pelan saja.</p>
<p>***</p>
<p>Dimana sekarang kita berada? Terlempar ribuan mil dari keluarga yang mengayomi kita, yang semisal Bapak mencereweti kita tentang disiplin atau tentang semangat juang. Yang tiap hari berdebat mengencang urat leher, tapi di tiap-tiap peluh keringatnya yang menetesi punggung baju hansip pns atau baju korpri pas upacara tujuhbelasan itu ada cinta yang menyublim, indah, polos dan menggetarkan.</p>
<p>Dimana kita sekarang tersudut? Menghela nafas di juta-juta kilo jarak dari ibu yang cerewet mengomeli macam-macam saja tingkah kita. Yang memusingkan kepala kita dengan petuah berulang-ulang macam dejavu, tapi di sudut kamar waktu paruh malam yang dingin dan dikerubungi nyamuk, beliau itulah yang menyalakan racun melingkar lingkar dan menyimpannya di pojok kamar, lalu menarik selimut bolong-bolong dan menutupi setengah badan kita yang rapuh dengan perhatian yang bening, yang tulus dan tak terganti.</p>
<p>Dari sinilah, mungkin bisa kita mulai, cerita-cerita pendek saja. Tentang kenangan yang memainkan peranannya seperti keniscayaan sejarah. Kau tahulah, begitulah sejarah memperlakukan kejadian-kejadian, berlalu begitu saja waktu masa terjadinya, lalu barulah kita berikan makna-makna setelah dia lewat berapa kala. Kenangan indah orang bilang. Memori tak terulang orang bilang. Dan kita selalu seperti pelajar yang telat menangkap materi, lalu sama-sama kita tepuk jidat dengan sebelah tangan sambil merutuki ketololan kita sendiri.</p>
<p>Mungkin itu ya, kawan-kawan. Alasannya kenapa kita pergi mengitari separuh dunia, ketempat-tempat hiruk pikuk, kepelosok-pelosok senyap, kegunung-gunung, kelaut, kedesa-kekota, supaya kita bisa merasakan bahwa tempat kita memulai perjalanan dulu itu adalah tempat berharga dan penuh kenangan. Tidak bisa kita percayai itu sebelum kita terasing dan menggelusur di pojokan ratusan hasta dari rumah kita.</p>
<p>Malam ini. Cericit itu muncul lagi. Bunyi gesekan rem karet sepeda dengan pelg ban. Sebagai saksi tuna wicara. Lakon berulang-ulang. Bapak pulang dari kantor pada waktu siang menjelang sore. Sambil mengayuh sepeda tua yang kadang-kadang aku pinjam mengitari komplek sampai rawa-rawa ujung sana sekali itu.</p>
<p>Aku sudah sangat peka sekali, dengan derit suara rem sepeda bapak. Dari jarak sekitar duapuluh meter sudah bisa kuindera dengan sangat baik sekali. Bapak sudah pulang. Rem sepeda sudah menderit. Waktunya aku memainkan sebuah sandiwara apik tak kepalang tanggung: pura-pura memegang gagang sapu, atau langsung mencuci setumpuk baju yang aku rendam dari tadi pagi tapi tak juga disentuh-sentuh, atau muslihat pura-pura membaca buku pelajaran.</p>
<p>Ah…….. masa SD yang tak terulangkan. Begitulah, Bapak menjadi lakon pembicara tunggal, dalam setiap seminar sehari. Diulang-ulangkannya materi yang sama dengan minggu lalu. Dengan minggu sebelumnya lagi. Tentang “kemandirian”, tentang “ketahan bantingan-an”, tentang “kesabaran”, tentang “keuletan”, tentang “pengorbanan”, tentang “ke-nrimo-an”, tentang segala-gala.</p>
<p>Aku mengangguk-angguk takzim, sebagian setuju sebagian tidak, lalu sebagian aku ingat-ingat, banyak bagian aku lupa-lupa. Tak apalah, biasanya Bapak bakal mengulangnya lagi mungkin besok mungkin lusa. Yang jelas tiap pagi pasti disorongnya itu sepeda tua dari sampiran samping rumah yang dindingnya belum diplester itu. Lalu sekira duapuluh kayuhan dari pinggir rumah aku langsung lari gedubrak-gedubruk ke depan tv, nonton pelem atau nggelasar-nggelusur sana sini. Nanti sajalah cuci baju atau belajarnya itu, waktu rem sepeda sudah mencicit dan bapak sudah hampir duapuluh meter dari rumah, siang hampir sore nanti.</p>
<p>***</p>
<p>Begitulah aku memulai perenungan tentang makna hidup dengan mengangkat sebuntelan besar barang-barang dari rumah kecilku di pojok komplek, pergi menyeberang selat, lalu berkelana kesana kemari, untuk lalu malam-malam waktu lagi sendiri nantinya aku menepuk jidat dengan sebelah tangan. Astaga………………</p>
<p>Dimana kita? Ribuan mil jaraknya dari orang tua yang mengajarkan kita kata-kata. Lalu baru sekarang-sekarang kita bisa agak-agak sadar. Dan merindu suara derit rem sepeda Bapak, dan petuah-petuah berulang-ulang dulu itu, dan merindu tangan ibu yang membenarkan selimut bolong-bolong. Karna mungkin ini malam kita kedinginan, mungkin kita dikerubung nyamuk.</p>
<p>Lalu pelan-pelan ada yang menyublim.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=222&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/07/12/ada-yang-menyublim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/07/old_memories.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">old_memories</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>es potong dilematis</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/28/es-potong-dilematis/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/28/es-potong-dilematis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 06:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/28/es-potong-dilematis/</guid>
		<description><![CDATA[
Disela-sela penat kerja seperti akhir-akhir ini, aku senang membayangkan masa-masa SD dulu. Waktu dimana kebahagiaan itu rasanya kok gampang sekali diperoleh. Hal-hal yang membuat kita bahagia waktu itu adalah hal-hal sederhana.
Dulu itu, jarak antara sekolahku dan rumah kecil tempatku tinggal kalau tidak salah adalah sekitar 15 km. biasanya aku naik angkutan kota, jalan dulu sekitar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=221&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/06/espotong.jpg?w=171&#038;h=104" alt="espotong" title="espotong" width="171" height="104" class="alignnone size-full wp-image-220" /><br />
Disela-sela penat kerja seperti akhir-akhir ini, aku senang membayangkan masa-masa SD dulu. Waktu dimana kebahagiaan itu rasanya kok gampang sekali diperoleh. Hal-hal yang membuat kita bahagia waktu itu adalah hal-hal sederhana.</p>
<p>Dulu itu, jarak antara sekolahku dan rumah kecil tempatku tinggal kalau tidak salah adalah sekitar 15 km. biasanya aku naik angkutan kota, jalan dulu sekitar sepuluh menit kurang, dari rumah menuju gang depan pinggir jalan raya. Baru dari sana menunggu angkutan kota yang kebetulan disupiri oleh bapak-bapak baik hati.</p>
<p>Rekan-rekan sekalian, dulu itu tarif angkutan kota untuk anak-anak sekolahan adalah seratus rupiah, sedangkan untuk umum seratus lima puluh rupiah. Para supir angkot yang tega nian itu biasanya pasang tampang cuek. Aku sudah menunggu dengan muka memelas di depan gang pinggir jalan raya itu, tapi masih juga mereka tidak berhenti. Ya logis juga sih kalau dipikir, kalau saja bangku yang dipenuhi oleh badan kecilku ini diganti dengan yang tidak pake seragam kan sudah untung limapuluh rupiah.</p>
<p>Setiap hari haruslah aku berangkat lebih pagi. Konsekuensi pulang juga sama, jadi lebih siang. Untunglah, karna banyak pertimbangan, suatu ketika jadwal sekolah di SD kami waktu itu dirubah. Anak kelas tiga masuk siang. Anak kelas tiga jadi pulang sore.</p>
<p>Aku sedikit tertolong. Jadi aku tidak usah pergi terlalu pagi lagi, bisa santai-santai sedikit. Menjelang siang barulah aku jalan kaki sekitar kurang dari sepuluh menit menuju pinggir jalan raya. Di saku sudah ada uang receh duaratus rupiah.</p>
<p>Nah….. mengenai duaratus rupiah inilah aku akan berkisah pada kalian-kalian. Jadi ceritanya begini. Ibuku, dari dulu sekali waktu aku SD, sudah menerapkan sebuah metoda pendidikan anak ala baru. Metoda pendidikan berhemat. Urusan macam begini ibu sudah lebih ahli, dia tahu persis ongkos berangkat seratus rupiah, ongkos pulang seratus rupiah.</p>
<p>Diberikanlah kepadaku duaratus rupiah receh setelah salaman pagi-pagi. Aku tunggu sebentar sambil muka memelas, ibu tidak bergeming. Tunggu lagi sebentar, tetap tidak bergeming. Astaga……… aku menyerah, urusan begini seperti tawar menawar beli barang. Kan kurang lebih begitu kawan? Kita minta sekian, penjual mau sekian, otot-ototan sebentar lalu pasang aksi pura-pura mau kabur, akhirnya harga diberikan setengahnya. Ahai…… aku tahu sedikitlah masalah ini, karna sering mengintip bapak kalau membelikan aku sepatu, bukan main bapak itu ngotot kalau menawar barang, sampai pucat pasi itu penjual sepatu dan menyerah tanpa syarat. Tapi……. Kalau dengan ibu, akal bulus begitu tidak bisa diterapkan. Jadi aku pergi saja langsung ke sekolah sambil jalan setengah diseret.</p>
<p>Perjalanan menuju sekolah sekitar sejam kurang sedikit. Sampai di gerbang depan sekolah itulah aku tersadarkan lagi akan sebuah visi besar dalam hidupku. Mimpi-mimpi yang selama ini menghantui aku waktu tidur dan terjaga. Yang mengobarkan semangatku untuk berfikir keras bagaimana caranya menggapai cita-cita luhur mulia itu. Yaitu cita-cita untuk membeli es potong.</p>
<p>Jangan dulu kau tergelak dengan itu. Es potong itu, rekan-rekan yang saya hormati, adalah semacam karya adiluhung. Mirip es bon-bon, hanya saja lebih manis dan kaya susu. Apalagi setelah dipotong kurang lebih sepanjang lima jari anak kelas tiga SD, dan ditusuk dengan elegan pakai lidi yang diserut dari bambu. Astaga………..</p>
<p>Tapi bagaimana mungkin bisa membeli es potong? Sedangkan uang hanya cukup untuk diberikan kepada supir berbudi luhur yang mau mengangkut anak sekolah serupaku ini? Jadi pelajaran pertama yang kudapat dari mimpi es potong dan didikan ala militer dari Ibu itu ada benarnya juga, yaitu menahan keinginan. Kan katanya keinginan kita itu lebih sering tidak tercapainya daripada terwujudnya, aku tahu benar tentang hal itu.</p>
<p>Biarlah es potong cuma aku lihat dari jauh saja, kunikmati suara kliningan tukang-nya saja. Dari jauh aku tetap bermimpi, suatu nanti pasti akan kubeli.</p>
<p>Hari berlalu seperti angin semilir. Anak tiga SD kan tidak pernah berfikir abstrak. Pokoknya ya ceria saja. Dimarahi orang tua ya sedih sebentar lalu tertawa lagi. Tidak dapat es potong ya kepengen sebentar terus biasa lagi.</p>
<p>Sampai suatu hari. Setelah masa-masa belajar yang melelahkan karna mulai sekolah dari waktu siang hari yang menyeruput keringat, sore-sorenya aku menunggu dengan khidmat dan serius di sebuah persimpangan sekitar lima puluh meter dari lampu merah yang kalau sudah sore warnanya yang menyala hanya kuning saja. Kelap-kelip-kelap-kelip.</p>
<p>Tiba-tiba seorang kawan lewat dan menunggu di depanku. Kami ngobrol juntrungannya kesitu kemari. Lalu muncullah sebuah ide pandai tak karuan dariku. “aha……. Bagaimana kalau kita berjalan saja? Sambil menunggu angkot” seruku dengan pede. Seperti yang analisanya sudah paripurna.</p>
<p>Kawanku ini tadi dengan tololnya mengikuti saranku. Dan jadilah kami dua orang anak kelas tiga SD yang brilian berjalan kaki berkilo meter demi sebuah ide pandai dariku “sambil menunggu angkot”</p>
<p>Tanpa bermaksud menyinggung, aku jadi sedikit tahu kenikmatan bergosip ria. Buktinya waktu seperti tidak terasa, sudah setengah jam kami berjalan dan hari semakin sore. Aku senang bukan main, karna semakin jauh perjalanan, semakin mantaplah tekad kami untuk berjalan saja sampai rumah.</p>
<p>“Ini kan petualangan?” Aku menambahi dengan lebih bodoh lagi. Karna tiba-tiba di otakku berputar-putar bayangan es potong. Begini logikanya, berjalan dengan teman samadengan waktu tak terasa, waktu tak terasa samadengan tiba-tiba sudah sampai rumah, tiba-tiba sudah dirumah kan samadengan ongkos tidak terpakai, ongkos tidak terpakai kan bisa menjelma es potong? Astaga……… benar-benar aku tidak mengerti cara kerja otak. Tanpa kita pikirkan, tanpa kita paksa bekerja, tiba-tiba otak menyodorkan sebuah solusi, cerdas.</p>
<p>Aku sudah mulai akan mengagumi kehebatan logikaku, sampai saat dimana temanku membuyarkan lamunanku dengan berkata “aku duluan ya, sudah sampai”</p>
<p>Apa??????????????<br />
Bodohnya aku. Kenapa tidak dari tadi aku tanyakan dulu rumah laki-laki kecil di sampingku ini. Perjalanan baru setengahnya dan aku sekarang terjebak dalam sebuah dilema.Teman perjalanan sudah sampai tujuan. Tak ada yang lebih menyakitkan selain kawan seperjalanan meninggalkan kita duluan, meski kita tahu takdir sudah berkata begitu. Aku mengiyakan, sambil merutuk sedikit. Kalau saja tahu dia rumahnya dekat dari sekolah kan aku tidak mungkin berjalan kaki.</p>
<p>Rutukan itu sebentar saja rupanya. Tiba-tiba aku melihat di sebrang jalan sana ada seorang penjual es potong. Wah………… es potong yang legendaris itu. Sekarang aku dalam pilihan yang sulit rekan-rekan.</p>
<p>Mari kita urai matematikanya. Diketahui harga es potong adalah duapuluh lima rupiah. Sedangkan tarif angkot seratus rupiah. jika tarif angkot untuk jarak dekat dan jarak jauh selalu sama, dan uang yang kau miliki tinggal seratus-seratusnya itu, bagaimana solusinya?</p>
<p>Soal cerita adalah momok buatku waktu SD dulu, yah wajar saja, bisa dimaklumi jika anak kelas tiga agak tidak terlalu pintar menjawab matematika rumit, maka logikaku ini mungkin agak-agak bisa dibenarkan juga. Jika aku beli satubuah es potong, maka uang ditangan tinggal tujuh puluh lima rupiah. tak bisa naik angkot. Pilih naik angkot berarti mimpi es potong musnah.</p>
<p>Badanku serasa dehidrasi. Ah….. menyelamatkan kesehatan tubuh, itulah yang terpikir olehku sekarang, dan seribu satu alasan pintar demi mendukung es potong. Bukankah mencegah tubuh dari dehidrasi adalah tindakan pintar nan mulia? maka itu aku belanjakanlah sisa uang untuk ongkos tadi dengan es potong. Bukan satu. Tapi kubeli empat. Karna cobalah kau bayangkan rekan-rekan, meskipun kubelikan satu saja es potong, sisa uang tetaplah akan tidak bisa digunakan naik angkot. Daripada mubazir, maka sisa uang kubelikan semuanya.</p>
<p>Itulah pelajaran keduaku, pelajaran untuk memilih diantara hal-hal yang sulit. Membedakan mana kebutuhan dan mana nafsu. Maka ketololanku waktu itu telah dengan sangat pintar menipu diriku. Aku berjalan-jalan dengan senang, rasa hati sudah mendapatkan pencapaian luar biasa. Hari semakin sore, semburat senja memerah di ufuk jauh. Aku berjalan santai dengan melompat-lompat. Makan es potong empat ternyata susah juga.</p>
<p>Kau tahu kepuasan marginal? Teori ekonomi yang diajarkan guru SMP kalau tidak salah. Pertama kali makan es potong rasanya seperti di syurga. Kali kedua kau makan es potong rasanya masih seperti syurga juga tapi agak-agak turun grade, kali ketiga dan keempat lidahmu mulai kebas dan kau nanti akan mulai menyumpah-nyumpah kebodohanmu untuk membeli es sekaligus empat. Mencair menetes tak karuan.</p>
<p>Matahari seperti mau main petak umpet. Dari jauh sayup sayup ceramah zainudin M. Z bergema. Burung-burung terbang seperti gerak lambat. Kadang-kadang mobil seliweran di pinggir jalan raya. Azan maghrib hampir berkumandang, dan aku lari-lari setengah menangis, kaki pegal tak alang kepalang, sedang jarak ke rumah masih seperempatnya. Sumpah mati tak kan pernah kugadai ongkos dengan apapun lagi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=221&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/28/es-potong-dilematis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/06/espotong.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">espotong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ayam&#8230;&#8230;.</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/25/ayam/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/25/ayam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 13:05:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/25/ayam/</guid>
		<description><![CDATA[
Sebenarnya aku ini bukan penyayang binatang, tapi jika sudah sekira satu tahun lebih peliharaan kita itu kita rawat dan kasih makan, kalau jagung kita genggam ditangan dan sodorkan padanya lalu dia datang dan makan dari tangan kita, maka rasanya sangat wajar jika ikatan batin itu muncul. Begitulah aku dengan ayam jantan milikku.
Jadi sebenarnya begini ceritanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=215&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-218" title="ayam" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/06/ayam2.jpg?w=432&#038;h=443" alt="ayam" width="432" height="443" /></p>
<p>Sebenarnya aku ini bukan penyayang binatang, tapi jika sudah sekira satu tahun lebih peliharaan kita itu kita rawat dan kasih makan, kalau jagung kita genggam ditangan dan sodorkan padanya lalu dia datang dan makan dari tangan kita, maka rasanya sangat wajar jika ikatan batin itu muncul. Begitulah aku dengan ayam jantan milikku.</p>
<p>Jadi sebenarnya begini ceritanya. Dahulu sekali, waktu aku masih belum sekolah, kami tinggal di pinggir jalan lintas sumatra, tepi hutan belantara yang tidak ada penghuni kecuali aku yang anak seorang penyuluh pertanian ini dan tetanggaku yang ketiban sial untuk juga ditempatkan disana. Disanalah pertama kali garis singgung antara aku dan ayam jantan itu dimulai.</p>
<p>Entah bagaimana awal mulanya kehadiran ayam jantan itu dikeluarga kami, aku lupa-lupa ingat. Ada beberapa versi –tentu saja versi ini dari memoriku sendiri, kau tahulah rekan-rekan bahwa kadang-kadang ingatan kita dimasa kecil itu susah kita bedakan mana imajinasi dan mana kenyataan-.</p>
<p>Versi pertama. Pada versi pertama ini, berdasarkan ingatanku, bahwa ayam ini adalah pemberian salah seorang teman bapak.<br />
Karna ayam ini adalah ayam jantan nan elok menawan. Dengan bulu yang lebat dan mengilap, taji yang panjang dan tajam, gagah betul, ayam ini dengan cepat menjadi primadona di keluarga kami. Aku yang waktu itu adalah anak satu-satunya menjadi sahabat dekat ayam ini. Hampir semua perikehidupan ayam itu aku tahu, jadwal makannya, teman-teman dekatnya, pacarnya, segala macamlah.</p>
<p>Versi kedua. Dalam versi kedua, ingatanku juga memberikan lintasan bahwa ayam ini adalah ayam hutan. Ayam hutan yang waktu itu seingatku adalah seekor ayam yang bernasib naas karna melintas didepan aku dan bapakku yang sedang mandi. Dahulu itu rekan-rekan, janganlah kalian membayangkan mandi itu adalah sebuah ritual sakral yang dilakukan di sebuah wc bermarmer putih dan bak satu kali satu kali satu meter. Mandi itu adalah bagi kami sebuah fase mendekatkan diri kepada alam, bagaimana tidak, satu-satunya akses air adalah melewati turunan yang terjal seperti jurang, kelok sana kelok sini, pokoknya jauhlah. Untunglah sudah dibuat semacam tangga-tangga, tanah licin itu dibentuk cekungan cekungan macam tangga, dan diujung sekali dari turunan curam itu adalah mata air yang bening, yang dipinggir-pinggirnya tumbuh tanam-tanaman paku, kau pasti ingat tanaman paku, kita pelajari itu dimasa-masa biologi smp dulu.</p>
<p>Nah……. Disitulah, dipinggir tanaman paku itu, disamping mata air bening itu, entah bagaimana hipotesa yang tepat, tapi tiba-tiba saja muncullah seekor ayam, ayam elok nian yang berbulu tebal dan bertaji tajam seperti yang sudah kusebutkan barusan. Dan disitulah nasib naas ayam itu dimulai. Salah dia juga, kenapa memilih melewati tempat dimana disana bapak-bapak gesit seperti bapakku sedang mandi? Jadilah dengan segera sebuah ember besar warna biru –aku ingat betul bagian ini- digunakan bapak jadi semacam perangkap ayam, yang dengan sangat cekatan dilemparkan, PRAAAK, ayam elok nian tadi terperangkap, dan itulah versi nomor dua.</p>
<p>Jangan salahkan aku, sudah kubilang aku bukan seorang penyayang binatang, tapi dimana-mana memang cerita yang lebih indah dan dramatis lebih disukai, maka itu sampai sekarang juga aku merasa bahwa ingatanku yang nomor dua adalah awal yang tepat, begitulah bagaimana awal mulanya ayam itu muncul. Sedang ingatanku nomor satu aku percaya hanyalah sebagai sebuah bentuk simplifikasi, sebagian otakku yang berfikir terlalu sederhana dan sama sekali tidak melankolis, tidak dramatis, apalagi romantis telah dengan sangat brilian mengacaukan sejarah. Maklumlah, waktu itu aku masih kanak-kanak.</p>
<p>Nah……. Hari berganti rekan-rekan. Waktu berlalu juga rekan-rekan. Ayam tadi dan aku memiliki semacam ikatan batin. Aku keluar rumah, dia langsung menghampiri. Aku ke dapur dia ikut ke dapur, dimana ada aku disitu ada ayam.<br />
Pada mulanya tidak ada masalah. Hingga suatu ketika……..</p>
<p>Sebuah keputusan super mendadak dari kantor pusat bapakku menyatakan bahwa bapak harus pindah, pindah ke kota bengkulu, kota besar tentu saja jika dibandingkan kehidupan pinggir jalan tengah hutan. Aku berjingkrak-jingkrak tak karuan, seperti setan saja. Sebentar-sebentar aku bertanya “pak..pak…… bengkulu itu seperti apa?” kuulang-ulang dengan tanpa belas kasihan pada bapak pada ibu “bu..bu……disana rame ya?”. Begitulah……… sampai suatu ketika jawaban bapak sangat mengguncang diriku, kata bapak “disana itu ga ada yang pelihara ayam nak”.</p>
<p>Aku bingung. Bagaimana mungkin? Sebuah kota besar tanpa ayam di dalamnya? Ini sungguh ironi? Berhari-hari aku merenung. Malang nian nasib ayam itu, pikirku. Sebenarnya logika bahwa di Bengkulu tidak ada ayam sangatlah menggangguku, tapi daya analisa anak usia TK masihlah pendek rekan-rekan, maka aku hanya terdiam lemas sambil bertanya, “jadi mau diapain ayam itu pak?”</p>
<p>Bapakku menjawab singkat, “dipotong”.</p>
<p>Cerita versi kedua ayam itu tadi, ternyata harus diakhiri dengan tragis. Ayam elok pun dipotong. Sebenarnya kesalahan pertama bapak adalah terlalu tergesa-gesa menjawab bahwa ayam itu akan dipotong. Modus operandinya tertebak sudah. Aku sedikit tahu juga, perjalanan ke bengkulu itu jauh tak karu-karuan. Aku ingat betul waktu itu kami muat semua barang-barang kedalam truk besar. Aku tidur di bak truk yang sempit dan penuh barang-barang tadi, sambil berlindung dari sengat matahari dengan terpal yang menutup kepala kami, dengan sedih kuingat-ingat ayam yang punya hubungan erat denganku tadi, mataku berlinang air mata, tapi mulutku sibuk mengunyah ayam goreng.</p>
<p>Bagaimana lagi, perjalanan jauh, tak ada uang untuk membeli makanan macam-macam di jalan. Sungguh aku sedih, tapi ayam goreng juga menggoda. Maafkan aku ayam.</p>
<p>Singkat kata tibalah truk besar berisi aku bapakku dan ibuku dan barang-barang kami tadi, di bengkulu. Tak lupa juga kuberitahu bahwa disana masih ada juga ayam goreng sepotong. Kusisakan buat nanti kalau aku lapar.</p>
<p>Pindahan selesai. Aku mulai berkeliling komplek. Berinteraksi dengan banyak rumah, banyak hal yang baru. Dan suatu sore aku sadar bahwa disana banyak sekali ayam. Ayam merah. Ayam putih. Ayam abu-abu, semua berkeliaran dan mengais-ngais di jalan. Aku bersungut-sungut, ini tidak bisa dibiarkan, bergegas aku berbalik dan mengambil seribu langkah berlari kembali kerumah. Aku harus protes pada bapak.</p>
<p>*********<br />
Waktu berlalu lagi, hari berganti lagi. Aku sudah mulai bisa melupakan ayam yang dulu itu. Kenyataan waktu itu bahwa keluarga sedang sulit ekonominya mulai pelan-pelan bisa aku pahami. Aku sudah masuk SD waktu itu kalau tidak salah. Aku menjadi sedikit bijak. Disamping ibu punya semacam senjata pamungkas, setiap kali aku terkenang-kenang akan ayam elok nian, maka ibu akan segera berkata “loh…. Ayamnya kan yang makan siapa?”</p>
<p>Aku diam dan tidak lagi pernah mengutik-utik kenangan ayam. Disamping waktu itu aku sudah punya ayam yang baru lagi. Sebuah ayam jantan berwarna merah. Memang sih tidak seelok ayam elok nian yang kudapat dari kisah versi kedua tadi kawan, tapi lumayanlah mengobati dahagaku untuk beternak ayam, bukan beternak, tepatnya memelihara ayam. Satu ayam. Hanya seekor yang jantan itu saja.</p>
<p>Mula-mulanya tidak ada masalah. Sampai suatu ketika. Aku masuk SMP. Seragam harus diganti, sepatu harus diganti. Sementara ekonomi masih betah berputar-putar dilevel itu saja. Ini alamat buruk. Aku sudah berfirasat bahwa akan ada yang terjadi.</p>
<p>Benar saja, bapak memutuskan untuk membawa ayam satu-satunya milikku tadi ke pasar pagi di terminal. Dengan mata yang tidak bisa dipastikan seperti apa ekspressinya, bapak perggi membawa ayam jantan warna merah ke pasar pagi di terminal.</p>
<p>Aku kasihan pada bapak. Kenapa sesulit itu untuk sekedar membelikan ku sepotong celana biru? Tapi itulah, emosi kadang-kadang mengacaukan fikiran jernih kita tentang realita-realita. Aku tidak lagi membayang bapak yang pagi-pagi kepayahan menangkap ayam dan mengikatnya dengan tali karet dari ban dalam yang dipotong, tidak juga aku bayangkan lagi bapak yang membawa motor tua dengan diganduli ayam yang berkeok-keok di belakangnya, tidak juga kubayang lagi bapak yang berbecek-becek di pasar terminal pagi-pagi, menawarkan ayamnya pada orang yang lewat acuh tak acuh tak ada yang peduli.</p>
<p>Yang kutahu waktu itu hanya satu. Aku tidak rela ayam itu dijual. Sepanjang sekolah dari pagi sampai siang aku merutuk-rutuk, hatiku gundah gulana tak bisa dipuisikan, ayam itu tidak boleh hilang doaku.</p>
<p>Sepulang sekolah, dengan langkah gontai aku masuk ke halaman, lalu terkaget-kaget aku tiba-tiba melihat seekor ayam jantan merah, ayam yang tidak terlalu elok tadi, ayam punyaku itu mematuk matuk di halaman. Ia tidak jadi dijual. Bapak bawa pulang kembali ayam itu, karna tidak seorangpun juga mau membelinya. Entah terlampau tua. Entah kurus merana, aku tidak tahu apa masalahnya.</p>
<p>Tiba-tiba aku merasa kasihan pada bapak. Dia sudah berpayah-payah membawa ayam jantan merah ke terminal pagi-pagi, lalu dengan muka suntuk dibawanya lagi pulang ke rumah siang-siang. Capek, berkeringat, dan mungkin juga kebingungan. Sedang aku tak rela ayam itu dijual, tapi masih mengidam celana biru pendek baru.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=215&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/25/ayam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/06/ayam2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ayam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesawat Terbang dan Guci Empat Tahun Enam Bulan</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/11/pesawat-terbang-dan-guci-empat-tahun-enam-bulan/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/11/pesawat-terbang-dan-guci-empat-tahun-enam-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 13:26:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[
Berapa persen penduduk indonesia yang pernah naik pesawat terbang? Persentase yang belum pernah naik pesawat kuduga pastilah sangat besar. Yang pasti adalah ibu termasuk dalam golongan orang yang masih menganggap besi raksasa yang menembus awan-awan itu sebagai jalur transportasi eksekutif. Di awang-awang.
Jauh-jauh hari, sebelum aku menyelesaikan studiku di masa kuliah, ibu sudah menabung. Ibu adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=206&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-205" title="pesawat" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/06/pesawat.jpg?w=455&#038;h=329" alt="pesawat" width="455" height="329" /></p>
<p>Berapa persen penduduk indonesia yang pernah naik pesawat terbang? Persentase yang belum pernah naik pesawat kuduga pastilah sangat besar. Yang pasti adalah ibu termasuk dalam golongan orang yang masih menganggap besi raksasa yang menembus awan-awan itu sebagai jalur transportasi eksekutif. Di awang-awang.</p>
<p>Jauh-jauh hari, sebelum aku menyelesaikan studiku di masa kuliah, ibu sudah menabung. Ibu adalah seorang pedagang kue di sebuah pasar dadakan dekat komplek rumahku. Di pinggir jalan komplek itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu besar, di bawah batang nangka yang tidak pernah berbuah, disitulah ibu membuat sebuah tenda kecil dari kayu-kayu seadanya. Di lapangan itulah ibu dan kawan-kawannya sesama pedagang menjajakan kue-kue, sayuran, atau apa saja hasil kerja keras mereka.</p>
<p>Sebenarnya dulu ibu tidak bekerja. Menjadi ibu rumah tangga yang menyiapkan masakan kesukaan buatku dan bapak adalah titel yang dengan bangga ibu kenakan. Aku ingat benar bahwa goreng tempe sambal buatan ibu adalah lauk sederhana yang membuat persepsiku tentang makan tiga kali sehari jadi berantakan. Aku makan kapanpun aku ingat, pagi, menjelang siang, sore hari dan malam. Benarlah kata orang bahwa rasa tak bisa berbohong.</p>
<p>Akhir-akhir masa SMA adalah waktu yang menjadi titik balik dalam hidupku, dan juga dalam hidup ibu. Keinginan kuliah yang begitu besar, telah menjadi lintasan mimpi-mimpi dalam setiap waktu-waktu aku tidur dan terjaga. Keinginan menenteng buku-buku tebal. Juga mengenakan jubah seperti penyihir dan toga itu selalu membuatku gelisah dan murung.</p>
<p>Ibulah orang yang dengan yakin mendukungku. Waktu itu aku ingat sekali, gaji Bapak dengan hitungan persamaan bagaimanapun juga pastilah tidak bisa membiayai aku kuliah di universitas manapun seantero indonesia ini. Tapi ibu meyakinkan aku bahwa  rezeki itu sudah diatur, sudah tertulis dalam lembar buku besar di atas sana, dan doa adalah petarung tangguh yang mampu bergulat dengan takdir kejam seperti apapun juga. Berdoalah, maka Tuhan akan mengabulkannya.</p>
<p>Sejak itulah ibu mulai berjualan. Ibu yang pemalu itu, yang waktu mudanya bergelimang harta itu, yang menjadi kebanggaan saudara-saudaranya itu, merelakan egonya untuk bangun malam-malam dan menghalau kantuk. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sedang ibu sudah mulai mengeluarkan perkakas masak dari lemari, lalu membolak-balik buku catatan tata boga semasa dia SMEA dulu, lalu menyalakan kompor minyak tanah dan mengaduk adonan. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sejak itu ibu mulai berjualan. Sejak itu ibu mulai menabung.</p>
<p>Aku bahkan tidak bisa menuliskan waktu-waktu dimana aku meninggalkan rumah. Aku pamit pada ibu yang tidak bisa berkata-kata banyak. Tidak bisa berpesan-pesan banyak. Cuma tersenyum dan berkata bahwa ibu pastilah akan selalu berdoa untuk kemudahan cita-cita semua anaknya. Aku pergi melangkah kaki. Seperti percaya seperti tidak, bahwa setiap satu langkah aku tapakkan setiap itu pula aku semakin jauh dari ibu dan semenjak itu pula takdir hidup baru digulirkan. Tak sanggup aku menoleh kebelakang. Mataku berkaca-kaca, ibu berkaca-kaca.</p>
<p>Waktu-waktu berlari dengan tempo yang berubah-ubah. Seperti ritme lagu yang membingungkan, kadang terasa cepat, kadang terasa lambat. Tapi mimpi yang berkelebat diotakku selalu saja sama. Aku ingin secepatnya diwisuda. Sejak saat pertama kuliah aku sudah belingsatan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa selekas mungkin mengenakan toga dan meringankan beban luar biasa di pundak ibu bapak yang semakin ringkih itu?</p>
<p>Dan dibawah pohon nangka yang tidak berbuah itu, disitulah ibu mengumpulkan seratus rupiah receh, uang seribu yang kumal, atau berapapun yang dia dapat. Dimasukkannya kedalam tas pinggang yang resletingnya sudah macet itu, lalu dia bawa pulang kerumah yang sederhana di pojok komplek. Disimpannya uang tadi dalam guci kecil di atas lemari kayu hitam. Setiap bulan diguncang-guncangnya guci itu, mengira-ngira dengan seksama. Dengan berat yang sudah sebegini, sanggupkah dia membeli tiket pesawat untuk sekeluarga menghadiri wisuda anak tertuanya?</p>
<p>Begitulah. Waktu berlalu. Hari pergi dan datang. Sudah sampai juga masa-masa terakhir kuliah. Tuhan sempatkan untuk aku menyelesaikan studi. Dengan terengah-engah. Dengan nafas yang sepotong-sepotong. Dengan semangat yang berkobar-kobar lagi setiap mengingat siluet ibu yang menggigil di bawah hujan, berkeringat terpanggang panas, waktu sehat, saat sakit meriang, seumpama masih bisa berjalan masih juga ibu langkahkan kaki kelapangan itu, lalu menggelar kue-kue, lalu mengumpulkan receh ke tas pinggangnya.</p>
<p>Ajaib………..</p>
<p>Guci di atas meja hitam itu penuh. Dihitunglah dengan riang oleh Ibu, oleh Bapak, oleh adik. Empat tahun enam bulan menabung ternyata bisa memenuhkan guci. Berdoalah, maka Tuhan akan menjawab doamu, mungkin begitu.</p>
<p>Tak terperi,  senang bukan main, aku melompat-lompat tak karuan. Sudah kubayangkan mata bulat adik-adikku yang akan terpukau-pukau waktu kutunjukkan kampus tempatku belajar. Waktu nantinya mungkin akan kuajak berputar-putar kota. Waktu nantinya mungkin mereka bercerita dengan meledak-ledak tentang pesawat terbang yang tinggal landas yang mendarat.</p>
<p>Sampai suatu sore…….</p>
<p>Berita dari jauh sana  tiba-tiba menghentikan mimpi-mimpi kita. Embah meninggal. Bapak harus pulang ke jawa segera. Dipecahkanlah guci empat tahun enam bulan itu, malam-malam. Bapak pulang ke jawa. Recehan-recehan  disumbangkan untuk pemakaman mbah.</p>
<p>Ibu ikhlas. Bapak ikhlas. Adik-adik ikhlas dan bermata bulat murung. Aku ikhlas dan memandang langit warna tembaga, ada yang menggenang di pelupuk mata tapi pasti bukan tangis duka lara, biasanya kesedihan masih bisa kuseka tapi ini mengalir begitu saja, menetes lewat pipi terus turun ke dagu dan jatuh pelan-pelan seperti bola kecil yang bersinar-sinar ditembus cahaya sisa matahari lewat celah jendela kamar kosan tua.</p>
<p>Tiga hari menjelang wisuda, Ibu dan Bapak menaiki bus lintas sumatra. Menghabiskan sehari semalam lebih perjalanan menuju gedung penobatan para sarjana. adik-adik menunggu di rumah dengan khidmat dan diam.</p>
<p>Selalu begitu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Bapak ibu kita adalah manusia tangguh luar biasa. mereka lebih siap menghadapi banyak kenyataan hidup. Baiknya. Buruknya. Kadang malah yang tak siap itu kita.</p>
<p>Lalu aku berdoa, dalam sebuah sujud setelah empat rakaat yang lama. Bahwa semoga yang maha mentipkan rizki dan menitipkan cinta menjelmakan keringat dan bulir airmata mereka menjadi istana kecil nan indah di syurga sana.</p>
<p>Lalu aku terbayang pohon nangka tak berbuah. Lalu terbayang lapangan becek selepas hujan semalaman. Lalu terbayang ibu sedang menggigil meriang. Lalu terbayang guci empat tahun enam bulan. Lalu mata bulat adik-adik. Lalu pesawat terbang.</p>
<p>Berdoalah, Tuhan akan mengabulkan!! Kata ibu.</p>
<div><span style="font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:small;"><span style="line-height:normal;white-space:pre-wrap;"><br />
</span></span></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/206/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=206&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/11/pesawat-terbang-dan-guci-empat-tahun-enam-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/06/pesawat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pesawat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>lima puluh ribu rupiah</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/01/lima-puluh-ribu-rupiah/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/01/lima-puluh-ribu-rupiah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 04:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[
Mengunyah dengan perlahan di bangku paling pojok warung tegal pinggir jalan, di siang hari yang melelehkan keringat. Aku halangi piring nasi itu dengan sesisir pisang ambon yang sudah hilang beberapa biji. Sambil berharap-harap bahwa tidak satu teman jua yang bakal mencuri-curi lihat, apa gerangan yang kupilih sebagai lauk menemani nasi putih, makanan pokok kita dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=201&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img title="lima puluh ribu rupiah" src="../files/2009/06/lima-puluh-ribu-rupiah.jpg" alt="lima puluh ribu rupiah" width="408" height="176" /></p>
<p>Mengunyah dengan perlahan di bangku paling pojok warung tegal pinggir jalan, di siang hari yang melelehkan keringat. Aku halangi piring nasi itu dengan sesisir pisang ambon yang sudah hilang beberapa biji. Sambil berharap-harap bahwa tidak satu teman jua yang bakal mencuri-curi lihat, apa gerangan yang kupilih sebagai lauk menemani nasi putih, makanan pokok kita dari kecil itu.</p>
<p>Dari sudut bangku warung tegal itulah aku mulai lagi sebuah cerita flash back, bahwa kehidupan itu terkadang naik terkadang turun itu benarlah ternyata, beginilah awal mulanya, kawan.</p>
<p>*********<br />
Seperti yang rata-rata orang sudah mafhum benar, bahwa menyesuaikan diri untuk bisa akur dengan suasana dan lingkungan baru kita adalah sangat sulit. Lama prosesnya.</p>
<p>Waktu itu aku baru saja menyelesaikan studiku. Empat tahun lebih satu semester. Masa kuliah yang tertatih-tatih sudah aku tempuh, dan segera setelah selesai wisuda itu aku mendapatkan pekerjaan.</p>
<p>Inilah tantangan bagi umumnya sarjana di tempat kita. Bahwa rentet gelar belakang nama tidaklah selalu sama dan sebangun dengan peluang kerja yang kita terima. Tapi syukurlah ternyata nasib sedang dalam kurva yang menanjak, aku lulus dan sesegera itu pula aku dapat tempat kerja.</p>
<p>Aku harus sesegera mungkin pindah ke jakarta. Dari Bandung <em>–tempat aku menghabiskan empat tahun satu semester bergelut dengan banyak mata kuliah- </em>aku kemasi barang-barangku dengan perasaan yang kurang nyaman. Kenyataan bahwa aku gembira karna akan memulai fase hidup yang baru, dan kenyataan bahwa aku termasuk cepat mendapatkan pekerjaan, tentu saja sangatlah membuatku bergairah. Tapi masa-masa adaptasi selalu menyiksa buatku. Selalu menghantui fikiranku akan ketakutan-ketakutan tidak beralasan. Jakarta………. Nama itu entah bagaimana terasa agak kurang nyaman.</p>
<p>Waktu itu aku ingat nian, uang di tangan tinggal kurang lebih seratus ribu. Was-was benar aku berfikir, bagaimana aku bertahan hidup di jakarta dengan uang sejumlah ini? Ongkos, makan, biaya kosan? Tapi bukankah tidak ada yang lebih berkuasa menuntaskan segala-galanya ketimbang Dia yang seperti angin melambaikan daun-daun, dan menerbangkan takdir kita ke tempat-tempat yang kita<em> –demi apapun- </em>tidak pernah bisa duga.</p>
<p>Kupasrahkan jua nasibku pada yang Maha Menentu. Maka dengan tekad yang sudah bulat, pada suatu siang yang panas membara, pergi juga aku ke jakarta. Kubawa serta satu koper barang yang kupaksa-paksa jejalkan semua bawaanku kedalamnya.</p>
<p>Singkat kisah tibalah aku di jakarta pada akhirnya. Inilah flashback kebingungan pertama. Mana ada lagi di area jakarta kosan dengan harga kurang dari seratus ribu sebulannya? Kosan termurah sekitar area kantorku waktu itu adalah seharga 350 ribu sebulan.</p>
<p>Kiriman orang tua belumlah lagi sampai, meminta uang lagi rasanya sudah malu benar. Sedang titelku sekarang adalah pegawai baru, yang merasakan bagaimana itu rupanya terima gaji saja belum pernah. Hari pertama ke kantor pun belum jua aku cicipi.</p>
<p>Darimana uang untuk bayar kosan?</p>
<p>Tidak habis akal, aku. Benarlah kata para ahli psikologi bahwa dalam skala tertentu, stress itu bisa memacu kreatiivitas. Dengan sopan aku jalankan sebuah lobi tingkat tinggi kepada empunya kosan. Kukatakan bahwa aku adalah seorang pegawai baru yang sebentar lagi akan memasuki masa training. Aku tidak tahu kapan training akan dimulai, tapi dalam prediksiku pastilah tidak sampai seminggu lagi. Kuserahkan uang 50 ribu ke tangan sang ibu, dan aku berkata anggaplah uang itu sebagai balas jasa untuk aku menumpang nginap berapa malam. Andaikan nantinya aku terpaksa menginap lebih dari satu minggu, aku akan menggenapkan sisanya untuk biaya kosan satu bulan.</p>
<p>Ibu kosan baik itu mengangguk. Dan jadilah aku simpan koper penuh barang itu di sebuah kosan sempit dan panas pengap.</p>
<p>Masalah penginapan teratasi. Tinggal sekarang adalah bagaimana aku bisa bertahan di sini? Dengan uang yang tinggal berapa puluh ribu. Dan waktu gajian sudah kuhitung berkali kali ternyata memang masihlah sangat lama.</p>
<p>Hari-hari kerja dimulai. Setiap pagi aku nikmati perjalanan ke kantor. Tak percaya rasanya bahwa aku sekarang adalah seorang pekerja kantoran. Dengan dandanan sedikit beda dari anak kuliahan. Mengenakan kemeja lengan panjang dengan sedikit lintingan di lengannya, sepatu rapih dan celana bergaris bekas setrikaan. Lalu di leherku menggantung kalung badge id card yang multifungsi. Penanda status dan sekaligus kartu ajaib pembuka pintu gerbang tebal kantor luarbiasa itu. Euforia kantor baru sudah cukup jadi penghibur bagiku untuk melupakan sedikit kesusahan. Sejak pagi hari aku akan mulai melupakan kenyataan bahwa aku sekarang sedang kesusahan keuangan, begitu terus beberapa jam sampai waktunya makan siang.</p>
<p>Setiap hari juga aku dan rekan-rekan sepenanggungan yang baru diterima bekerja pergi ke warung tegal pinggir jalan. Dan setiap hari pula aku nikmati menu yang sama, ikan teri dan sayur. Itu saja tidak lebih.</p>
<p>Tiap hari lagi-lagi aku ambil bangku deretan paling pojok, kuhalangi piring makan siangku dengan gelas besar, tempat tissue, atau sesisir pisang ambon yang di hidang di meja warung. Bukan rendah diri rekan-rekan, hanya saja agak tak enak hati rasanya, saat semua makan dengan menu yang empat sehat lima sempurna sedang aku hanya makan dengan lauk seadanya. Aku tak ingin rekan-rekan yang lain merasa iba.</p>
<p>Begitulah hari-hari berhasil kulalui dengan penghematan luar biasa. Tapi sehebat-hebatnya aku menghemat, tidaklah mungkin lagi uang recehan yang tersisa itu bisa aku gunakan untuk bertahan hingga akhir bulan.</p>
<p>Dengan berat hati, aku malu-malu meminjam uang kepada seorang kawan yang baik. Dipinjamkannya aku limapuluh ribu. Itulah penyambung nyawaku.</p>
<p>Tiap pagi aku jalani rutinitas dengan baju kemeja rapih dan masuk ke kantor mewah. Bertemu dengan orang-orang pintar dan penuh percaya diri. Menghadiri meeting dengan bahasa para bule bermata biru. Untuk kemudian istirahat siangnya nanti aku menyudut di pojok warung penuh sesak dan makan siang dengan menu tidak sehat tidak sempurna.</p>
<p>Tapi entah kenapa aku merasa bahagia. Bukan karna aku sekarang bekerja dan gaji akan segera turun beberapa hari lagi, tapi karna menyadari bahwa ditengah coba dunia yang menusuk-nusuk itu aku masih berdiri tegak. Masih tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa sungguh tak ada arti kesusahan ini dibanding banyak kawan yang cobaan hidupnya tak terperi. Yang lebih merantai melilit. Yang lebih menyayat-nyayat. Yang macam-macam</p>
<p>**********</p>
<p>Setiap hari, adalah masa-masa menegangkan.</p>
<p>Dengan kawan baik yang meminjamkan aku uang tadi, tiap hari kami hitung dan tandai kalender tergantung di dinding kamar yang sama sekali tidak rapih. Sudah sekian hari lagi berlalu berarti sekian hari lagi gajian akan tiba.</p>
<p>Hingga suatu ketika di akhir bulan waktu dua tahun yang lalu. Sore hari menjelang maghrib saat matahari masih bersinar setengah dan hampir padam setengah, aku meloncat-loncat di ATM sebelah kantor demi melihat nominal saldo di rekening bank-ku melejit berapa digit.<br />
Malam itu aku makan empat sehat lima sempurna, kawan.</p>
<p>***********<br />
dan di siang hari yang sejuk waktu itu, aku kembalikanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepada teman yang menyelamatkan sisa hariku dulu.</p>
<p>Tiba-tiba dengan pelan dia bercerita. Beberapa minggu yang lalu, katanya pelan, saat aku meminjam uang padanya sebenarnya dia hanya punya beberapa puluh ribu saja. Tapi karna menduga bahwa aku pastilah lebih membutuhkannya, maka dengan ikhlas dipindah-tangankanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepadaku.</p>
<p>Aku tertegun dan menggelengkan kepala. kepadanya aku kirimkan salam. Salut yang teramat untuk kebaikan yang sangat.</p>
<p>Karna ternyata rekan-rekan, ada seorang lagi yang menunya tidak empat sehat lima sempurna di sudut warung waktu dulu itu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=201&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/06/01/lima-puluh-ribu-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2009/06/lima-puluh-ribu-rupiah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lima puluh ribu rupiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikhlas Delapan Gelas</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/29/ikhlas-delapan-gelas/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/29/ikhlas-delapan-gelas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 19:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[puzzle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[
Aku sebenarnyalah hanya menuruti kata-kata para ahli saja, kawan. Mereka mengatakan bahwa minimal kita haruslah meminum delapan gelas air dalam sehari, demi kesehatan tubuh kita. Maka dengan manut-manut aku lakukan juga pesan itu, cobalah kawan-kawan sekalian pikirkan, siapa yang lebih tahu tentang bagaimana menjaga tubuh selain dari pakar-pakar kesehatan itu?
Begitulah awalnya rekan-rekan, sampai di suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=198&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><img class="size-full wp-image-197 alignleft" title="Glass of water" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/05/glass-of-water.jpg?w=226&#038;h=302" alt="Glass of water" width="226" height="302" /></p>
<p style="text-align:left;">Aku sebenarnyalah hanya menuruti kata-kata para ahli saja, kawan. Mereka mengatakan bahwa minimal kita haruslah meminum delapan gelas air dalam sehari, demi kesehatan tubuh kita. Maka dengan manut-manut aku lakukan juga pesan itu, cobalah kawan-kawan sekalian pikirkan, siapa yang lebih tahu tentang bagaimana menjaga tubuh selain dari pakar-pakar kesehatan itu?</p>
<p>Begitulah awalnya rekan-rekan, sampai di suatu siang yang panas waktu itu aku duduk di sebuah bangku bagian paling belakang bus jurusan Bandung-Jakarta. Dengan gagah kugenggam di tangan kananku sebotol aqua enam ratus mililiter sekira mungkin dua gelas air putih, demi kesehatan kawan!</p>
<p>Waktu baru saja kuminum setengah botol, tiba-tiba aku terhenti. Tepat didepanku ada seorang nenek-nenek yang berdiri kepayahan. Inilah yang menjadi dilema besar bus kota pada umumnya kawan. Para sopir dan keneknya itu, biasanya dengan sangat lihainya merayu calon penumpang. Aku lama-lama mengira mereka menggunakan semacam hipnotis yang membuat penumpang lugu di pinggir trotoar itu mau untuk masuk dan berjejal ke dalam bus yang jelas-jelas tidak lagi ada bangku yang belum dikuasai penumpang.</p>
<p>Seperti nenek malang itu. Dan disinilah moral kita diuji. Aku kasihan dengan nenek itu. Tapi anehnya yang terpikirkan bagiku adalah sebuah pertanyaan maha krusial “apakah nenek malang yang sedang berdiri kepayahan itu sudah meminum hampir delapan gelas hari ini?”. Inilah salah satu bentuk kebodohan ilmiah rekan-rekan. Dihadapkan pada kenyataan bahwa bangku sudah penuh dan ada seorang renta berdiri kepayahan termegap-megap, maka pertanyaan dan pembahasan mengenai jumlah minimal air yang harus diminum adalah pertanyaan tolol yang jatuh pada konteks amat sangat tidak tepat, tak karu-karuan bodohnya.</p>
<p>Sebenarnya begini, kawan. Aku ini, sudah pula tergerak untuk membantu, untuk dengan serta merta berdiri dan menawarkan bangku tempat dudukku kepada sang nenek. Tapi apalah daya, kakiku terasa lemas nian. Badan mendadak seperti meriang. Apakah ini akibat dehidrasi? Pikirku? Ah…. Wajar saja….. pastilah ini karna air yang kuminum baru setengah botol… cobalah kawan-kawan bayangkan. Setengah botol aqua enam ratus mililiter pada sebuah siang yang panasnya beringas seperti setan, manalah cukup untuk jadi asupan energi? Itulah retorika pembenaran paling hebat sepanjang sejarah hidupku. Ini yang disebut argumen ilmiah untuk membelit-belit keadaan.</p>
<p>Seperti lomba cepat tepat babak rebutan. Sebenarnyalah aku sudah kalah beberapa detik. Tiba-tiba seorang bapak yang tadinya duduk disampingku langsung berdiri dan dengan elegan menawarkan bangku tempat duduknya kepada <em>Nenek kasihan</em> itu.</p>
<p>Aah……. Baru saja aku ingin berdiri teman, sungguh….. baru saja.</p>
<p>Tapi syukurlah, setidaknya secara moril, aku sudah tidak begitu terbebani, bahwa kenyataan dihadapanku sekarang berganti menjadi seorang bapak-bapak muda berdiri tegap menggantikan sang nenek yang menghela nafas lega di sampingku, tidaklah terlalu mengganggu pikiran. Pak….. kita sama-sama laki-laki tangguh dan perkasa, kataku dalam batin.</p>
<p>Dan bus melaju sekira delapan puluh lima kilometer perjam. Seseorang turun di tepi jalan. Dan bapak baik hati telah mendapatkan lagi tempat duduk. Sang <em>nenek kasihan</em> tadi tak henti-henti memuji kebaikan bapak-bapak tegap, dan nenek kasihan itu merapal banyak nian doa untuk sang bapak.</p>
<p>Dalam hati aku berfikir. Ah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; andai saja aku yang menolong <em>nenek kasihan</em> itu tadi?</p>
<p>Sekarang sudah tepat satu botol aku habiskan. Lalu mataku menelusur ke depan dan mencari apa kiranya ada orang berdiri kepayahan yang akan aku tolong dengan dramatis. “mbak-mbak……. Silakan duduk di bangku saya” sudah kusiapkan kata-kata indah hasil pertapaan dan minum air kesehatan tadi.</p>
<p>Sekali lagi babak cepat tepat dibuka. Dan itu dia, sepuluh langkah di depanku seorang mbak-mbak setengah baya, agak kesusahan dengan level yang sekira setengah <em>nenek kasihan</em> tadi. Dan bel sudahlah pula kutekan dengan seksama TEEEEET……. “mbak, duduk aja di bangku saya” ujarku dengan sopan dan penuh tatakrama.<br />
“ga usah dek di simpang depan saya turun kok” katanya……</p>
<p>Lalu aku dengan muka malu-malu kembali duduk di bangkuku. Tidak apa-apa, dibabak ini pilihan salah tidaklah mengurangi nilai.</p>
<p>Sang mbak setengah baya turun, penumpang baru naiklah sudah dan aku menangkap soal berikutnya. Pertanyaan kedua, babak rebutan: <em>“apakah yang harus dilakukan saat ada seorang ibu baru naik bus dan tidak mendapatkan tempat duduk, sedangkan anda sedang duduk dengan berleha-leha dan baru saja minum hampir delapan gelas air sehari? “</em></p>
<p>Astaga…… pertanyaan PMP jaman kita sekolah dulu rekan-rekan. Anak-anak TK juga tahu jawabannya, maka aku ulangi lagi kata-kata barusan “bu… duduk aja di bangku saya”.</p>
<p>Inilah aku pikir tindakan paling heroik yang pernah aku lakukan selama seminggu ini. Dan dengan harap-harap cemas aku menantikan babak dimana ibu yang baru naik tadi nantinya akan memuji-mujiku terus dan merapal doa kebaikan bagiku seperti laku sang nenek tadi untuk bapak-bapak tegap itu.</p>
<p>Bus sekarang di level sembilan puluh kilometer perjam. Dan waktu telahlah bergeser tigapuluh lima menit. sang ibu-ibu diam seribu basa. sedang tak ada tanda-tanda penumpang akan turun satupun. Jalan tol yang biasanya ditempuh sekarang sedang ditutup karna satu dan lain hal. Jalan alternatif adalah memutar lewat pinggiran puncak dengan lama perjalanan dikali dua ditambah faktor tak tentu kurang lebih satu jam.</p>
<p>Kakiku mulai gemetar. Mata berkunang-kunang. inilah akibatnya jika berbuat kebaikan dengan tekad yang tidak bulat.</p>
<p>Babak  terakhir. Pertanyaan agama: <em>“hal apakah yang bisa menghanguskan amal seperti api yang memakan kayu bakar?”</em></p>
<p>Pastilah itu jawabannya………. Pasti………………….</p>
<p><em>*lalu aku melongok kepada nenek-nenek yang tertidur pulas, lalu bapak-bapak tegap yang terpejam pejam, lalu ibu-ibu yang menerawang kosong ke hijau teh di kebun pinggir bukit-bukit sebelah kiri jalan ini*</em></p>
<p>Sementara bus merayap mungkin enampuluh kilometer perjam, dan aku sedang belajar ikhlas sembari berharap jeda air dua gelas lagi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=198&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/29/ikhlas-delapan-gelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/05/glass-of-water.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Glass of water</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KIBAR!!!</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/22/kibar/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/22/kibar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 11:21:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[biar bara menyala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[
Kawan. Dalam dunia pengeboran minyak, salah satu hal yang menjadi tantangan besar kita adalah kenyataan bahwa kita seringkali diharuskan berpindah-pindah tempat kerja.
Dengan jadwal kerja yang diluar orang normal kebanyakan, dan dengan tempat kerja yang juga diluar orang normal kebanyakan, para pemburu minyak bisa tidak bisa  mestilah menjadi pandai dan terampil menyeting suasana hatinya.
Sebentar kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=194&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><img class="alignnone size-full wp-image-195" title="035" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/05/035.jpg?w=380&#038;h=285" alt="035" width="380" height="285" /></strong></p>
<p>Kawan. Dalam dunia pengeboran minyak, salah satu hal yang menjadi tantangan besar kita adalah kenyataan bahwa kita seringkali diharuskan berpindah-pindah tempat kerja.</p>
<p>Dengan jadwal kerja yang diluar orang normal kebanyakan, dan dengan tempat kerja yang juga diluar orang normal kebanyakan, para pemburu minyak <em>bisa tidak bisa </em> mestilah me<strong></strong>njadi pandai dan terampil menyeting suasana hatinya.</p>
<p>Sebentar kita bekerja di anjungan pengeboran tengah laut, sebentar kemudian kita terasing di seberang negri antah berantah, di tengah belantara, di pusaran gurun, di pinggir rawa dan delta. Bertemu orang-orang yang baru. Yang berlainan budaya. Yang kepalanya sebatu karang.</p>
<p>Seperti di siang hari yang menyengat membakar ini, waktu baju jadi lengket dengan keringat dan badan gerah bukan main. Emosi bisa berlari seperti deret eksponensial, meloncat-loncat tak karuan beberapa digit.<br />
<strong></strong><br />
Aku kesal bukan main. Memang suasana kerja yang panas dan segala letih penat yang mencakar-cakar itu kadang-kadang membuat orang jadi temperamen. Hal ini gampang sekali kau ukur kawanku, bisa diindra secara visual, kasat mata kawan!</p>
<p>Dan diwaktu-waktu seperti inilah aku belajar mengendali suasana hati. Rupanya hati kita itu banyak panel kontrolnya. Tidak bisa disetir dengan satu tombol. Susah sungguh mengaturnya.</p>
<p>Kupikir kawan, pastilah semua orang pernah mengalami kebosanan, muak, penat yang mengger<strong></strong>us pondasi tempat kita berdiri, lalu kita limbung dan baru sadar bahwa mungkin ini bukan tempat kita.</p>
<p>Dan dimasa-masa sendiri, dirundung masalah yang brutal mendobrak pertahanan kita, kadang-kadang aku berharap menjelma semut, menjelma tanah kering, air, atau bunga rumput yang digendong angin pelan-pelan sampai ke negri jauh dimana ilalang tidur-tiduran dengan rapih seperti permadani.<br />
<strong></strong><br />
Tapi aku sadar, bahwa hidup kita dan hidup siapapun saja adalah seperti perjalanan panjang mendaki terjal tebing. Batu-batu runtuh dan menggelinding siap menghantam kita kapan saja, dengan pola jatuh yang tidak bisa kita bikin permodelan dan cari kemungkinannya.<br />
Lantas apa karna itu kita ingin dikenang sebagai pendaki menyedihkan? yang menangis menggeletek melihat sedemikian tinggi dakian sudah kita capai lalu lutut kita gemetar memandang jauh kebawah. Sungai dalam. Batu cadas!</p>
<p>Atau mungkin hidup kita adalah seperti berjalan di Sahara, menuju jauh pandang yang terlihat macam titik saja. Lantas apa kita ingin dikenang sebagai musafir memalukan? <strong></strong>yang menciut dan menangis menggelusur tanah, mengerang-ngerang selayak bayi?</p>
<p><em>Kita gemetar memang! kita berpeluh memang!</em></p>
<p>Tapi kebanggaan kita adalah untuk mengenang diri sendiri bahwa di-liput terpa topan badai itu kita tetap menantang tegak, bukan ciut meringkuk!</p>
<p>Sampai nanti kita kibar bendera di puncak sana! Atau di ujung jauh sana!<br />
Atau mati terhantam cadas atau t<strong></strong>erhempas terbanting badai pasir.<br />
<strong>LAWAN!!!</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=194&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/22/kibar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2009/05/035.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">035</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuma&#8217;ninah</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/07/tumaninah/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/07/tumaninah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 14:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[
Duhai Yang Membangkitkan Gelora, izinkan kami untuk tertambat kuat pada rahmatMu yang tidak pernah putus.
Kami tumbuh dan besar satu ritme dengan bumi yang berputar cepat, dengan matahari yang timbul tenggelam, dengan malam siang yang pergi lalu datang, dengan panas yang digeser gerimis yang mensalju di berapa pojok-pojok, dengan belukar yang menjulang tinggi kekar lalu merangas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=187&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone" title="shalat" src="http://shodiqielhafily.files.wordpress.com/2008/09/shalat-malam.jpg?w=388&#038;h=230" alt="" width="388" height="230" /></p>
<p>Duhai Yang Membangkitkan Gelora, izinkan kami untuk tertambat kuat pada rahmatMu yang tidak pernah putus.</p>
<p>Kami tumbuh dan besar satu ritme dengan bumi yang berputar cepat, dengan matahari yang timbul tenggelam, dengan malam siang yang pergi lalu datang, dengan panas yang digeser gerimis yang mensalju di berapa pojok-pojok, dengan belukar yang menjulang tinggi kekar lalu merangas rapuh diganti tunas yang bersemi hijau muda.</p>
<p><em>Tapi hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi. </em></p>
<p>Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?<br />
Yang mengisi bilik-bilik kami dengan jelaga, yang menanam dosa yang merumpun bambu, lalu tumbuh selayak gulma yang menjalar bersulur-sulur.</p>
<p>Sekali waktu pernah juga kami bersujud, dalam tunduk yang sama sekali tidak tuma’ninah, lalu beringsut buru-buru tak karuan seperti syurga sudah kami kavling seperempatnya.</p>
<p>Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?<br />
Yang bertingkah bijak selayak nabi, lalu menari-nari belingsatan atas sejumput puja-puji yang tidak sekuku hitam layak kami terima.</p>
<p>Tingkah kami selalu saja seperti sudah paripurna menamatkan madrasah ilmuMu, kami nasehati orang lain dengan suara halus yang mencela sampai ke ubun-ubun.</p>
<p><em>Padahal hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.</em></p>
<p>Lalu pada suatu malam yang berhujan rintik, pada waktu dimana kami kadang-kadang sadar. Kami sempatkan sejenak untuk merangkai doa. Yang jujur, yang seadanya, bahwa kami tidak akan pernah bisa lepas dari semuanya tanpa Engkau melonggarkan ikatannya.</p>
<p> </p>
<p>(picture taken from <a href="http://shodiqielhafily.files.wordpress.com/2008/09/shalat-malam.jpg">here</a>)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=187&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/07/tumaninah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shodiqielhafily.files.wordpress.com/2008/09/shalat-malam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">shalat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mozart guru cinta</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/07/mozart-guru-cinta/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/07/mozart-guru-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 17:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[
Mataku sudah mulai remang-remang. Memang kehidupan di rig pengeboran kadang-kadang mengacaukan logika kita tentang waktu-waktu, kawan.
Kita bisa saja bekerja pada larut malam hari, terus siang-siang tidur sepanjang matahari menggelayut di biru langit. Bisa juga kita berkeringat berpeluh di terik siang untuk nantinya waktu tidur menjadi maju berapa dentang jam. Sesudah isya bisa langsung pulas.
Tapi kadang-kadang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=184&subd=debuterbang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone" title="chord" src="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/5942224/2/istockphoto_5942224-musical-abstraction.jpg" alt="" width="380" height="374" /></p>
<p>Mataku sudah mulai remang-remang. Memang kehidupan di rig pengeboran kadang-kadang mengacaukan logika kita tentang waktu-waktu, kawan.</p>
<p>Kita bisa saja bekerja pada larut malam hari, terus siang-siang tidur sepanjang matahari menggelayut di biru langit. Bisa juga kita berkeringat berpeluh di terik siang untuk nantinya waktu tidur menjadi maju berapa dentang jam. Sesudah isya bisa langsung pulas.</p>
<p>Tapi kadang-kadang ada hal yang mengacau.seperti malam ini.</p>
<p>Tok..tok&#8230;tok&#8230;..  &#8220;mas-mas&#8230;. Bisa minta tolong bentar?&#8221; seorang teman, tiba-tiba mengetuk kamarku dengan muka serius.</p>
<p>&#8220;kenapa Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;ini mas, aku ga bisa ngopi lagu ke mp3 playerku, ndak mau diputar dia&#8221;</p>
<p>Dengan mata yang sudah mulai remang-remang, rasanya malas nian beranjak untuk sekedar mengopi lagu dari cd ke player mp3. Kenapa tidak besok saja??</p>
<p>Tapi dengan payah aku berhasil menarik badanku untuk sedikit menggeliat. Aku sedikit heran memang, apa yang susah dari mengopi lagu? Kopi, paste, selesai.</p>
<p>Tapi baiklah&#8230;.mengingat beliau ini adalah kru catering di rig, dan aku menimbang bahwa beliau ini sudah berjasa memberikan kami-kami ini makanan yang enak-enak di kantin, maka aku akan membantu, anggaplah ini sebagai balas jasa, air susu dibalas air susu. Begitu mungkin peribahasanya.</p>
<p>&#8220;kenapa&#8230;kenapa mas mp3 playernya?&#8221;</p>
<p>&#8220;ini, kemaren kan aku sudah beli kaset CD, aku mau kopikan ke mp3 player ini tapi ndak mau jalan dia&#8221;</p>
<p>&#8220;oh&#8230;..mungkin karna formatnya windows media audio, kita harus convert dulu ke mp3.  Kaset apa memangnya mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;MOZART&#8221;</p>
<p>&#8220;WHAT???&#8221;</p>
<p>Aku keceplosan. Kawan-kawan bisa bayangkan, MOZART!!! Mozart yang aneh itu, yang setengah mati aku coba dengarkan berulang kali biar tertarik tapi tetap gagal membuat kupingku mau menelannya. Mungkin karna terlampau high class.</p>
<p>Aku ingin tersenyum tapi kutahan sebisaku. Karna tiba-tiba aku teringat kata baginda nabi, kalau kita mendengarkan orang bicara, maka ekspresi kita haruslah serius dan memerhatikan. Bila perlu menangis waktu dia menangis. Tertawa waktu dia tertawa. Begitu ajarannya.</p>
<p>Lalu langsung aku mengoreksi diriku sendiri, cobalah kita pikir kawan-kawan sekalian. Apa yang salah dengan bapak ini menyukai mozart? Bahkan kalau dia cinta mati kepada lagu klasik elegan mozart itu juga tetap tak ada yang salah sama sekali. Tak ada!!</p>
<p>Aku lalu mengajaknya naik ke lantai atas, ke ruangan kantor, kunyalakan laptop hitam itu sambil mengerjapkan mata sebentar. Untuk sebuah niat baik, kita harus total. Jangan sampai aku menolong beliau  ini sambil kesal menahan kantuk, maka aku pelototkan mataku lebar-lebar.</p>
<p>&#8220;ok Pak&#8230;. Mana kasetnya, sini aku coba pindahin ke mp3 player&#8221;</p>
<p>Dan disitulah aku baru tertegun. Cover kaset mozart elegan itu bergambar seorang ibu hamil, dan ada anak perempuan lucu disampingnya.</p>
<p>Bapak-bapak itu, kawanku tadi, ternyata membeli mozart untuk konsumsi anaknya yang belum lahir. Seorang bapak membeli mp3 player baru dan sekeping cd mozart versi asli, lalu dibawanya melintas pinggiran delta mahakam sampai ke anjungan ini. Astaga&#8230;&#8230;&#8230; Inikah cinta?</p>
<p>Seorang kru catering malu-malu mengetuk pintu kamarku malam-malam, meminta tolong untuk memindahkan lagu asing itu ke player mp3nya, sebagai perangsang otak untuk diperdengarkan kepada calon bayi yang masih di rahim, di alam lain sana.</p>
<p>Aku jadi malu sendiri  lalu mulai merutuk diri, sebegitu sulitkah mengconvert format lagu itu lalu kopi paste, sampai aku bergerak lamban macam siput. Jangan-jangan aku sudah mulai kehilangan cinta?</p>
<p>Baiklah pak. Sebagai rasa terimakasih atas pelajaran berharga malam ini, dan tebusan rasa bersalah untuk senyum simpul yang kukulum berapa menit lalu, akan aku berikan kau kursus singkat saat ini, sampai berapa jam pun engkau mau.</p>
<p>&#8220;satu lagi mas&#8230; Bisa tolong sekalian pindahin ayat alquran ke player ini ga? Jadi aku kepikirannya nanti pas disetel itu ayat-ayat  pendek alquran dulu, baru mozart&#8221;</p>
<p>Aaahhhh&#8230;&#8230;. Lagi-lagi aku malu.</p>
<p>Kepada orang yang kusenyumi dengan simpul yang paling tersembunyi ini, aku malah belajar banyak tentang cinta yang menyeruak tak tertutupi.</p>
<p>Jadi tolong kawan-kawan, sampaikan pada istri Bapak ini, bahwa suaminya seorang maha guru cinta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&blog=1536072&post=184&subd=debuterbang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2009/05/07/mozart-guru-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/5942224/2/istockphoto_5942224-musical-abstraction.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chord</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>