<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>corat-coret dunia</title>
	<atom:link href="http://debuterbang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://debuterbang.wordpress.com</link>
	<description>&#34;Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis&#34;</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 11:28:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='debuterbang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>corat-coret dunia</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://debuterbang.wordpress.com/osd.xml" title="corat-coret dunia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://debuterbang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>JEBAKAN-JEBAKAN KERUGIAN</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2012/01/22/jebakan-jebakan-kerugian/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2012/01/22/jebakan-jebakan-kerugian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 01:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah; merasa begitu dekat dengan kematian. Waktu itu sekitar tahun 2000 atau 2001. Malam menjelang dini hari terjadi gempa. Gempa yang besar dan kuat. Saya sudah pernah merasakan gempa sebelumnya, tapi tidak sebesar itu. Yang saya ingat waktu itu kami seperti dihentak-hentak dan dilempar ke udara, lalu suara gemuruh yang asing. Entah resonansi atap-atap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=692&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2012/01/buku.jpg"><img title="buku" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2012/01/buku.jpg?w=300&#038;h=223" alt="" width="300" height="223" /></a></p>
<p>Saya pernah; merasa begitu dekat dengan kematian. Waktu itu sekitar tahun 2000 atau 2001. Malam menjelang dini hari terjadi gempa. Gempa yang besar dan kuat.</p>
<p>Saya sudah pernah merasakan gempa sebelumnya, tapi tidak sebesar itu. Yang saya ingat waktu itu kami seperti dihentak-hentak dan dilempar ke udara, lalu suara gemuruh yang asing. Entah resonansi atap-atap rumah, dinding yang bergetar, bata-bata yang ambruk, atau kerikil-kerakal dan pasir yang ikut terhempas-hempas, yang jelas itu mengerikan.</p>
<p>Kami sekeluarga panik dan berhamburan keluar rumah. Dua kali getaran gempa yang sangat kuat. Gelombang pertama tak berikan kami kesempatan membuka pintu. Saya yang memegang kunci pintu kalau tidak salah ingat. Lubang kunci pada gagang pintu tak kutemukan, getaran gempa menggeser-geser posisi lubang kunci, dan mendistorsi kesadaran kami tentang keseimbangan, walhasil kami terkunci di rumah.</p>
<p>Barulah, setelah gelombang pertama gempa usai, pintu kami buka dan kami menangis berlarian ke lapangan depan rumah. Saat itulah gempa gelombang kedua datang, dan dengan kesadaran penuh kami merasakan kembali ketakutan itu.</p>
<p>Gempa susulan berhenti. Tapi tangis kami masih.</p>
<p>Kami sesenggukan, semua orang mengucap takbir, tasbih, atau merapal doa apapun saja yang mereka bisa. Lalu kami menanti di luar. Tetap di luar rumah sampai matahari pelan-pelan tiba seperti hari-hari yang biasa.</p>
<p>Dalam penantian akan matahari pagi itu, saya ingat, saya duduk pada sebuah puing dinding pagar beton tetangga depan rumah, dan memandang ke arah timur sambil was-was. Kiamatkah ini? Fikir saya waktu itu. Lalu saya baru berhenti ketakutan setelah ternyata pagi itu matahari masih terbit dari timur.</p>
<p>Nah…. Dunia belum kiamat, saya lega.</p>
<p>***</p>
<p>Belakangan ini, saya banyak merenung tentang ilmu. Mulanya adalah istri saya yang protes. Tumpukan buku di dalam rumah sudah semakin mengganggu pemandangan, sedangkan rumah kami kecil dan tak tahu dimana harus diletakkan lagi rak-rak buku.</p>
<p>Saya tersenyum waktu itu, tapi entah kenapa saya tiba-tiba terfikirkan bahwa apakah gunanya tumpukan kata-kata pada buku itu untuk saya?  Memang dari membaca kita menjadi tahu sesuatu, tapi tidak selalu sebanding dengan arti bahwa hal itu &#8220;bermanfaat&#8221; untuk kita. Sekiranya itu ilmu, bermanfaatkah ilmu itu? Tapi sebenarnya pertanyaan yang lebih tepat lagi ialah sudahkah saya jadikan ilmu itu bermanfaat?</p>
<p>Mungkin ilustrasi ini bisa menjelaskan. Berapa tahun lalu setelah kejadian gempa itu,  ketika saya dan seorang teman kuliah melakukan penelitian di pedalaman Banten, disana terjadi gempa. Maka getaran sedikit saja sudah menyalakan alarm di kesadaran saya; ini gempa, dan membuat saya lebih dulu berlari keluar rumah mencari tanah lapang. Kawan saya ini tadi masih bertanya, apa gerangan yang terjadi barusan?</p>
<p>Kesadaran tentang gempa, telah membuat saya memiliki respon yang lebih cepat dibanding kawan saya itu. Saya menyadarinya lebih dulu berkat “ilmu” dari sesuatu yang dulu pernah saya &#8220;baca&#8221;.</p>
<p>Mungkin saja, selepas kejadian hari itu, kawan saya itu pula memiliki ‘pengetahuan’ tentang sensasi gempa, dan di kemudian hari itu akan membuatnya lebih awas.</p>
<p>“ilmu” membuat kita menjadi lebih sadar akan sesuatu.</p>
<p>Semestinyalah ilmu berperan begitu; mencahayai kesadaran di dalam diri kita yang tadinya mungkin masih remang-remang. Ilmu itu, semestinyalah bermanfaat!</p>
<p>Tapi, setelah saya fikir-fikir, rupanya ada yang terlepas dari pemahaman yang saya ambil lewat bencana gempa berapa tahun lalu. Yaitu ilmu tentang kematian. Kesadaran akan dekatnya kematian.</p>
<p>Padahal ilmu itu sudah datang, tapi sayalah yang tak bisa menuai manfaatnya.</p>
<p>Saya menjadi begitu awas dengan kegempaan, tapi tidak lagi awas dengan sensasi ketakutan akan kematian.</p>
<p>Padahal saya ingat sekali waktu dulu itu, bagaimana kami semua bertakbir dan lalu menyebut-nyebut Tuhan pada setiap harinya. Sampai kira-kira seminggu lebih usai gempa itu. Rumah-rumah rubuh <em>–alhamdulillah rumah saya tidak begitu parah-.</em> Pada sebagian daerah; jalanan terbelah oleh patahan-patahan yang menganga dan bisa dilihat dalamnya. Rumah sakit penuh. Dan setiap berita simpang siur akan gempa susulan seakan mengingatkan kami lagi akan kepastian kematian.</p>
<p>Herannya sekarang begitu mudah terlupa? Bahkan seingatku bertahun-tahun setelah itu keseharianku seperti menyentuh titik nadir kealpaan pada Tuhan. Kenapa “ilmu” setelah datang menjadi tak bermanfaat? atau ilmu setelah datang gagal saya tuai manfaatnya?</p>
<p>Cerita seorang teman ini, menarik untuk disimak. Perhatikan bagaimana saya melakukan kesalahan dalam “menterjemahkan” makna cerita ini.</p>
<p><em>Dua buah desa dibelah oleh sebuah sungai nan lebar lagi deras. Satu-satunya penghubung dua desa itu ialah jembatan kayu. Suatu malam; hujan deras menyapu jembatan itu dengan banjir. Paginya orang-orang berkumpul di tepi sungai, tak dapat menyeberang</em>.</p>
<p><em>Seorang ahli Geology lalu mengkritik pembangun jembatan yang begitu bodoh menempatkan pondasi pada batuan yang rapuh. Ada pula ahli konstruksi yang mengkritik struktur bangunan yang tak kokoh. Seorang politikus lalu ikut bicara dengan memaki petinggi desa yang diduga korup dan menyelewengkan dana pembangunan jembatan yang mestinya bisa jadi lebih kuat. Semua lalu berceloteh dan memaki.</em><em> </em></p>
<p><em>Di belakang kerumunan ada seorang tukang kayu, tak paham dia akan apa yang orang-orang ributkan. Lalu dia mengambil kampak dari ranselnya, dan menebang sebuah kayu besar di pinggir sungai. Tanpa banyak bicara dia melintangkannya sebagai jembatan darurat. Lalu semua orang bisa menyeberang.</em></p>
<p>Cerita yang indah. Bertahun-tahun saya menikmati cerita ini sebagai pengajar budi pekerti bahwa tak usahlah banyak celoteh, bekerja saja! Tapi baru pagi ini tiba-tiba saya terhenyak.</p>
<p>Tidak…ternyata cerita ini tak semata itu. Cerita ini mengajarkan kita akan perlambang ilmu-ilmu yang ada pada kepala-kepala manusia, tapi ilmu itu tak berguna. Atau mereka gagal menjadikannya berguna! Lihatlah…lihat!!</p>
<p>Bertahun-tahun saya menggeluti Geology pada perkuliahan, dan paham benar akan tumbukan dua lempeng di pesisir barat sumatera yang rawan memicu gempa-gempa tektonik….tapi tak memicu ketundukan saya pada Tuhan?</p>
<p>Macam-macam artikel pengeboran saya baca dan menjadi tahu tentang dunia perminyakan, tapi lalu tak diterapkan, tak diajarkan?</p>
<p>Bertumpuk buku-buku agama dan fikih kita baca lalu kita tumbuh dan berkembang alih-alih toleran tapi menjadi orang yang merasa tahu segalanya?</p>
<p>Ada yang salah pada diri saya. Ilmu-ilmu yang tak bermanfaat, adalah semisal kata-kata yang memenuhi kepala saja. Lalu hilang bersama dengan hilangnya usia kita.</p>
<p>Sudahlah kita belajar segala hal yang tidak aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, lalu tidak pula kita ajarkan kepada orang lain. Semisal hardisk, otak kita full. Dan di penghujung hari tidak bernilai. Bangkrut sekali.</p>
<p>Saya lihat lagi buku-buku di rak itu. Jebakan-jebakan kerugian ada di sana. Pada tumpukan kata-kata yang tak bermanfaat. Atau pada kata-kata yang kita sudah “baca” lalu tak kita sebarkan sebagai manfaat.</p>
<p>Saya gelisah pagi ini, karna tiba-tiba sadar bahwa membaca yang tak bermanfaat, atau gagal menuai manfaat, sama-sama celakanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<address><em>*) gambar saya pinjam dari <a href="http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://ferizalramli.files.wordpress.com/2011/12/buku.jpg&amp;imgrefurl=http://ferizalramli.wordpress.com/&amp;usg=__eDmJqpBRwXY7ooUlegGdazj13nE=&amp;h=322&amp;w=432&amp;sz=49&amp;hl=id&amp;start=11&amp;zoom=1&amp;tbnid=rZs8E9A6G1tb6M:&amp;tbnh=94&amp;tbnw=126&amp;ei=Q2MbT7XuBtDrrQeNs9jMDQ&amp;prev=/search%3Fq%3Dbuku%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN%26rlz%3D1C1RNNN_enID346US374%26biw%3D1280%26bih%3D711%26tbm%3Disch&amp;um=1&amp;itbs=1">sini</a></em></address>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=692&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2012/01/22/jebakan-jebakan-kerugian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2012/01/buku.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">buku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Berisi Pasti Merunduk</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2012/01/20/yang-berisi-pasti-merunduk/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2012/01/20/yang-berisi-pasti-merunduk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 01:47:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah suatu hari dalam majelis ilmu, ibnu sina melontar pertanyaan pada gurunya. Pertanyaan itu sangatlah tinggi, memang beliau dikenal cerdas dan luas wawasannya. Tapi rupanya pertanyaan itu mengandung arogansi. Seorang murid senior dalam majelis itu lalu berkata pada ibnu sina, “diamlah kau wahai putra Sina, perbaiki dulu adabmu! Nanti aku yang akan menjawab pertanyaanmu, tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=687&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2012/01/padi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-688" title="padi" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2012/01/padi.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Alkisah suatu hari dalam majelis ilmu, ibnu sina melontar pertanyaan pada gurunya. Pertanyaan itu sangatlah tinggi, memang beliau dikenal cerdas dan luas wawasannya. Tapi rupanya pertanyaan itu mengandung arogansi.</p>
<p>Seorang murid senior dalam majelis itu lalu berkata pada ibnu sina, “diamlah kau wahai putra Sina, perbaiki dulu adabmu! Nanti aku yang akan menjawab pertanyaanmu, tidak perlu guru.”</p>
<p>Jawaban murid senior tadi menohok kesadaran ibnu sina. Adalah adab, yang harus dibawa serta menyertai pengembaraan kitaakan ilmu-ilmu. Adab sebelum ilmu. Adab sebelum ilmu. Mungkin adablah pula, yang membuat padi merunduk setelah dia memiliki isi.</p>
<p>Kejadian ini, pernah juga saya dengar berulang pada masa kini. Di sebuah pelataran masjid dibandung, rerumputan hijau dinaungi besar dan rindang pohon beringin, sekelompok orang sedang mengkaji ilmu beladiri. Kungfu muslim thifan po khan.</p>
<p>Seorang murid nan terkenal karna ketekunannya berlatih; datang dari jauh tempat lalu menantang sang guru yang mengajar di pelataran masjid.</p>
<p>Dengan sopan sang guru menampik tantangan itu. Tapi murid nan pongah itu tak puas, tetap dia memaksa sampai guru tersebut melayaninya dalam sebuah sparing yang ringan. Berapa menit saja sparing itu berlangsung, lalu sang guru menghentikan karna dirasa cukup.</p>
<p>Tampaknya murid tadi belum merasa puas sampai tersebut gelar; menang-kalah. Maka dia menantang perkelahian serius.</p>
<p>Dengan sopan sang guru mengatakan tak usahlah bertanding, sang murid tak mungkin menang. Lalu murid tadi terbakar emosinya, dan perkelahian tak terelakkan.</p>
<p>Hasil akhirnya persis seperti hikayat dalam cerita-cerita jaman dulu. Murid itu kalah dengan kepongahannya sendiri, dan berakhir dalam berapa detik saja tergeletak di tanah dengan kesadaran yang hilang akibat sebuah hantaman nan secepat kilat bersarang di pelipis matanya. Hari itu sang guru menyadarkan kitasemua tentang adab.</p>
<p>Murid itu “merunduk”, tapi tak ibarat padi yang penuh isi, dia kosong dengan tangkai yang patah.</p>
<p>Adab sebelum ilmu. Adab sebelum ilmu.</p>
<p>Saya pula, pernah mengalami masa-masa itu. Di SMA dulu, pernah suatu ketika saya panjang kata berdebat menentang Bapak. Di rumah menjadi arena pertarungan kata-kata. Sepotong ilmu yang saya dapat membuat saya merasa superior dibanding wawasan orang tua yang saya rasa tertinggal.</p>
<p>Di sekolah juga begitu, berbekal satu buah buku harun yahya tentang keruntuhan teori evolusi,  kami mendebat panjang guru biologi nan lemah lembut. Sampai guru itu mengajarkan sebuah pemahaman yang saya ingat persis. “Jika kalian tak setuju sebuah pendapat, jangan bersikeras tak mempelajarinya. Pelajarilah sebagai sebuah wacana, yang memperluas wawasan kita, meski kitaberseberangan dengannya”.</p>
<p>Tak ada yang memenangkan pertarungan-pertarungan semacam itu, tapi ada yang terluka. Adab di diri saya. Dan baru sekarang-sekarang ini saya menyadari betapa pentingnya adab.</p>
<p>Dalam dunia pengeboran minyak, dunia yang saya geluti sekarang pun kejadian seperti ini lumrah.</p>
<p>Suatu kali, seorang junior juara kelas pada masa pelatihan diberangkatkan pada sebuah anjungan pengeboran. Disana dia menimba ilmu dari seorang senior yang memang bukan juara kelas setingkat dia.</p>
<p>Seperti tabiat orang-orang cerdas pada umumnya, dia skeptis. Dia mempertanyakan segala sesuatunya, membantah segala sesuatunya. Seperti sebuah thesis ilmiah, kebanyakan dimulakan dengan hipotesa yang skeptis. Begitu selalu.</p>
<p>Sang senior rupanya tak lama kemudian memahami arogansi juniornya. Lalu dia berkata, sebuah perkataan yang saya ingat juga sampai sekarang.</p>
<p>“Saya,” katanya “boleh jadi kalah pintar dibanding kamu, tapi saya lebih bisa bekerja daripada kamu.”</p>
<p>Singkat dan menohok.  Lagi-lagi adab. Padahal dalam dunia ini segalanya tak lepas dari adab.</p>
<p>Interaksi kita pada orang tua sebenarnyalah perkara adab-adab. Interaksi kita dengan istri atau suami kita adalah adab-adab. Interaksi pada sesama, jua perkara adab. Interaksi kita dengan guru, pun perkara adab.</p>
<p>Ilmu yang banyak yang tidak membuat kita runduk tapi semakin dongak, ialah kecelakaan yang pada gilirannya nanti akan memaksa kitarunduk juga. Kerundukan yang bukan disebabkan kebernasan isi, tapi kerundukan paksa yang disebabkan patahnya tangkai-tangkai adab kita. Dan percayalah itu menyakitkan.</p>
<p>Berapa orang guru kita anggap tersesat jalannya karna berseberangan dengan pemikiran kita yang baru membaca satu dua buku? Berapa kali kita mendebat guru kita yang menurut kita tidak efektif caranya, tidak efisien pengajarannya?</p>
<p>Dan saya termasuk orang yang telat menyadari, bahwa keberkahan suatu ilmu bukan semata perkara kita semakin mengerti saja. Ilmu adalah air yang mengisi ceruk-ceruk di kepala kita. Sedangkan adab adalah air yang mengisi ceruk batin kita. Ilmu tanpa adab akan membuat kita arogan. Kita timpang.</p>
<p>Lihatlah orang tua kita. Kita yang seringkali mendebat dia, seringkali pula lalu harus terdiam. Karna betapapun benar argumen kita, “semesta” lebih berpihak pada mereka. Atas keutamaan mereka sebagai orang tua, dan atas kesembronoan kita melupakan adab.</p>
<p>Maka apa yang mereka wanti-wanti sering menjelma kenyataan. Apa yang mereka khawatirkan sering menjelma kejadian. Betapapun tidak argumentatifnya pendapat mereka. Itulah yang saya sekarang sadari harus benar-benar hati-hati. Adab. Adab.</p>
<p>Orang tua kita. Guru kita. Berada pada posisi yang lebih makbul doanya daripada kita. Luka hati mereka mungkin menghilangkan berkah dari hidup kita. Saat menulis tulisan ini, saya mendoakan mereka dan meminta maaf atas setiap kata-kata yang tajam dan menorehkan luka.</p>
<p>Pula untuk istri saya, untuk sahabat-sahabat saya, untuk para guru saya, dan untuk orang tua saya. Maafkan.</p>
<p>Dan sekali lagi saya ingin mengetuk pintu ilmu dengan ketukan adab yang santun. Sebagai murid semestinyalah kita berkhidmat dengan sebaik-baik penghormatan. Dan bila suatu kali nanti kita menjadi “guru”, maka kitapula harus berkhidmat, agar dalam setiap kata yang terlontar dari ridho atau tidak ridhonya kita; ialah kebaikan saja.</p>
<p>Kata orang-orang dulu, jika padi itu berisi; dia pasti merunduk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<address><em>*) cerita ibnu sina saya dapat dari ceramah Salim A Fillah</em></address>
<address><em>*) kisah lainnya saya dengar dari kawan sesama engineer</em></address>
<address><em>*) gambar dipinjam dari <a href="http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://2.bp.blogspot.com/-lEm-hmfaWFQ/To10Hi3oA8I/AAAAAAAAAGs/vlbaWuSTi-E/s1600/padi%252BIR66.jpg&amp;imgrefurl=http://dianpurwadi.blogspot.com/2011/10/secara-umum-budidaya-padi-varietas-ir.html&amp;usg=__hcFm7f3z5hb1OcAf4HAb15GmKpc=&amp;h=375&amp;w=500&amp;sz=93&amp;hl=id&amp;start=2&amp;zoom=1&amp;tbnid=PyM-ddO7bei-BM:&amp;tbnh=98&amp;tbnw=130&amp;ei=a8YYT-mBBMLtrAefv5WUDQ&amp;prev=/search%3Fq%3Dpadi%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN%26rlz%3D1C1RNNN_enID346US374%26biw%3D1280%26bih%3D711%26tbm%3Disch&amp;um=1&amp;itbs=1">sini</a></em></address>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/687/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=687&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2012/01/20/yang-berisi-pasti-merunduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2012/01/padi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">padi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata Memandang, Pundak Memikul</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/12/17/678/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/12/17/678/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 00:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[“Seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.”  Kekata itu, terekam dalam ingatanku, kukuh, dalam, dan mewarnai persepsiku tentang macam-macam masalah. Bertahun-tahun. Ibulah, yang pertamakali mengenalkanku dengan peribahasa itu. Kata ibu “Berapapun beratnya masalah orang lain dimata kita, satu-satunya yang benar-benar tahu takaran beratnya, rasanya, menusuk tidaknya, atau malah suka bahagianya, adalah orang yang mengalami. Jadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=678&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/12/5561194977_5eb4eea3d6.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-679" title="5561194977_5eb4eea3d6" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/12/5561194977_5eb4eea3d6.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p><em>“Seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.” </em></p>
<p>Kekata itu, terekam dalam ingatanku, kukuh, dalam, dan mewarnai persepsiku tentang macam-macam masalah. Bertahun-tahun.</p>
<p>Ibulah, yang pertamakali mengenalkanku dengan peribahasa itu. Kata ibu “Berapapun beratnya masalah orang lain dimata kita, satu-satunya yang benar-benar tahu takaran beratnya, rasanya, menusuk tidaknya, atau malah suka bahagianya, adalah orang yang mengalami. Jadi jangan pernah paksakan keinginanmu pada orang lain, berapapun kamu yakin bahwa pilihanmu itu akan membuatnya bahagia”</p>
<p>Dan pandangan itu, dalam keseluruhan tindak laku Ibu dan Bapak dirumah, mereka terapkan betul-betul.</p>
<p>Diberinyalah kita-kita nasihat begini dan begitu, lalu penghujung ceramah panjang wanti-wanti mereka itu pastilah peribahasa tadi, <em> seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.</em><em> </em></p>
<p>Kami-kami ini, anaknya, yang akan menanggung di pundak kami, segala beban dan berat resiko dari keputusan apapun yang kami pilih. Mereka berdua, Bapak dan Ibu, sepenuhnyalah hanya memberikan rambu-rambu, petunjuk-petunjuk, kilas balik dari pengalaman kejadian mereka, dari berhasil dan gagalnya mereka, dari jatuh terjerembab dan bangunnya mereka, untuk kami ambil pelajaran. Tapi tak sekalipun kami dipaksa untuk mengikuti atau hidup dalam versi kebahagiaan yang mereka tetapkan. Mereka sadar kebahagiaan itu personal, dan sekarang aku baru memahaminya.</p>
<p>Terlalu sering, rasanya aku memandang sebuah masalah atau kehidupan seseorang dari kacamataku sendiri. Setelah larut dalam persepsiku tentang orang itu, aku baru sadar bahwa dulu sudah pernah diwanti-wanti tentang hal ini.</p>
<p>Sebuah cerita apik sekali menggambarkan itu. Tersebutlah dua orang bertetangga, berdampingan rumah. Dari balik kaca rumah mereka sepasang suami istri dapat mengamati jemuran di rumah sebelah. Berbulan-bulan mereka selalu berkomentar betapa cucian tetangga mereka itu tidak pernah bersih, selalu kotor.  Sampai suatu ketika sang istri kaget, dari balik kaca dia lihat tetangganya menyampirkan jemuran nan berkilau. “Tumben pak, cucian tetangga sebelah bersih” kata sang istri. Suaminya lalu dengan pelan menyahut, bahwa baru saja tadi pagi, dia membersihkan kaca rumah. Ternyata berbulan-bulan mereka memandang jemuran tetangga lewat kaca yang buram.</p>
<p>Dan persis seperti itu ceritaku. Seorang teman karib kami SMA dulu, adalah seorang yang dalam keseluruhan lakon hidupnya aku cemburui. Brilian, supel, religius, tutur katanya santun dan memukau. Diantara kami dia itu permata.</p>
<p>Tapi tak cuma di film saja kejadian seperti ini ternyata. Karibku itu dengan ekonomi keluarganya yang ringkih tak dapat melanjutkan kuliah. Aku dan rekan-rekan yang lain sempat putus komunikasi, kami-kami sibuk dalam gegap gempita urusan kami masing-masing, sampai kemudian terhenyak karna teringat, dimana permata berkilau itu? Sobat kami itu?</p>
<p>Sebuah momen yang tepat, lalu mempertemukan kami dengannya. Dia kerja pada sebuah pabrik, menjadi karyawan yang pergi pagi, lalu pulang jelang malam hari. Ketika malam telah larut dia baru terpejam setelah letih mengurus ini-itu pada usaha kecilnya. Lalu esok harinya dia terbangun lagi waktu uap pagi baru mulai mengembun dan ayam saja baru mulai menggeliat hendak bangun.</p>
<p>Sedih hati ini rasanya. Kawanku itu tetap memikat kami dengan segala pesonanya. Membayangkan dia payah diri payah hati, tiap hari menghadapi rutinitas dan segala keletihan itu, kami sedih. Ingin rasanya kami membuat dia lebih bahagia.</p>
<p>Tetapi aku salah. Kehidupannya dimataku boleh jadi nelongso. Tapi kehidupannya di matanya sendiri adalah pahatan-pahatan heroisme. Ukiran-ukiran kehormatan lelaki. Adalah cerita epik yang dilakoninya dengan semangat berkobar-kobar, menyala-nyala, terang dan tetap terang sebagaimana dia dulu.</p>
<p>Dia bertahan di keras kota jakarta tanpa perlu menyusahkan orang lain. Mendapat pekerjaan yang meski letih tapi memberikan dia rizki untuk bertahan dan menabung demi sebuah mimpi raksasa yaitu meng-umrohkan ibunya. Dan lain-lain judul cerita yang kesemuanya tak sekali-kali bernada memelas, tembang sedih, drama meraung-raung atau kenestapaan lainnya.</p>
<p>Lalu aku seperti ditinju oleh memori jaman dulu. “<em>seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul</em>.”</p>
<p>Kita yang melihat, selalu saja menilai dari kacamata kita. Padahal, kehidupan seseorang itu sangat personal. Dan kebahagiaan itu luarbiasanya hanya bisa muncul dari dalam diri sendiri, bukan dari luar diri. Tidak bahagia dalam pandangan kita, boleh jadi heroik dan suka cita dalam bingkai kacamata orang lain.</p>
<p>Dan untuk sekali lagi, Bapak dan Ibuku benar. Tentu saja, meski kebahagiaan itu personal, tak berarti kita tak bisa memberikan bantuan kepada orang lain, sama sekali bukan. Tapi sebentuk pemahaman harus ada dalam uluran tangan kita. Bahwa kita memberikan bantuan justru semata-mata sebagai sumbangsih nurani yang pada akhirnya akan membahagiakan diri kita sendiri. Bahwa kita sama sekali tidak boleh memvonis kehidupan orang lain tidak bahagia, betapapun dimata kita terlihat nestapa. Bahwa kita haruslah mengerti benar bahwa kebahagiaan itu tumbuh dan lalu menyebar dari dalam jiwa kita sendiri, dari dalam jiwa orang itu sendiri, dan uluran tangan kita apapun bentuknya sama sekali tidak mempengaruhi. Bahwa kita sama sekali tidak boleh memaksa.</p>
<p>Maka benarlah juga orang-orang bijak berkata, setiap orang yang mencoba menemukan kebahagiaan dari luar dirinya, akan selalu mendapati bahwa kebahagiaan itu milik orang lain. Kebahagiaan itu dari dalam diri, bukan dari luar diri, bukan dari uluran tangan, bukan pula dipaksakan.</p>
<h6><em>gambar diambil dari <a href="http://images.google.com/imgres?imgurl=http://farm6.static.flickr.com/5096/5561194977_5eb4eea3d6.jpg&amp;imgrefurl=http://www.kaskus.us/showthread.php%3Fp%3D549582096&amp;usg=__vIutMmS55opAxbTDx4NYqOdxjsc=&amp;h=500&amp;w=332&amp;sz=97&amp;hl=en&amp;start=1&amp;zoom=1&amp;tbnid=6NY_7JcOesI79M:&amp;tbnh=130&amp;tbnw=86&amp;ei=V-TrTo2hFoXkrAfDqa2ICQ&amp;prev=/search%3Fq%3Dmemanggul%26hl%3Den%26sa%3DN%26biw%3D1280%26bih%3D711%26gbv%3D2%26tbm%3Disch&amp;itbs=1">sini</a></em></h6>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/678/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/678/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/678/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=678&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/12/17/678/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/12/5561194977_5eb4eea3d6.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">5561194977_5eb4eea3d6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MELUKIS WARNA</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/28/melukis-warna/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/28/melukis-warna/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 00:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada cerita yang lebih saya ingat, dibanding cerita klasik ini. Sebuah gelas, yang setengahnya terisi air, dan setengahnya lagi dibiarkan kosong, dihadapkan pada dua orang. Orang pertama mengatakan dengan pesimis bahwa gelas itu setengahnya kosong, orang kedua memandang positif dengan mengatakan sudah setengah gelas terisi. Cerita klasik, faktanya sama, hasilnya berbeda. Tergantung kita memandangnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=672&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/painting-colorcans.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-673" title="Painting-colorcans" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/painting-colorcans.jpg?w=300&#038;h=211" alt="" width="300" height="211" /></a></p>
<p>Tak ada cerita yang lebih saya ingat, dibanding cerita klasik ini. Sebuah gelas, yang setengahnya terisi air, dan setengahnya lagi dibiarkan kosong, dihadapkan pada dua orang. Orang pertama mengatakan dengan pesimis bahwa gelas itu setengahnya kosong, orang kedua memandang positif dengan mengatakan sudah setengah gelas terisi. Cerita klasik, faktanya sama, hasilnya berbeda. Tergantung kita memandangnya.</p>
<p>Pada setiap episode hidup, apa saja, saya yakin selalu ada pembelajaran. Ini selalu saya tekankan pada diri sendiri. Pandanglah dengan positif! Seperti belakangan ini, saya selalu kesusahan untuk bercerita dan berbagi dengan istri saya. Apa pasal? Karena mungkin pertama saya bekerja pada sebuah dunia yang sama sekali berbeda dengan dia. Saya engineer di sebuah perusahaan service migas, istri saya seorang PNS. Dunia kami berbeda.</p>
<p>Saya tiap hari bergelut dengan minyak, dunia lapangan yang keras dan tidak umum. Istri saya bergaul dengan birokrasi, arsip-arsip dan tumpukan kata-kata. Bagaimanapun saya ingin mencoba menjelaskan dunia saya kepada istri saya, saya menemukan kesulitan.</p>
<p>Terlebih lagi, istri saya suatu kali pernah mengatakan bahwa saya seorang yang lebih ekspresif dalam tulisan dibanding lisan. Saya tertawa, mungkin saja istri saya benar. Dan tampaknya pula, istri mengalami kesulitan untuk bercerita, tentang dunia yang digelutinya. Mungkin karna pertama saya tak banyak tahu tentang segala tetek-bengek birokrasi, kedua mungkin istri saya bukan pencerita yang ulung.</p>
<p>Sering saya berfikir. Bagaimana menemukan titik tengahnya? Ini bukan perkara saya ingin tahu urusan kantor istri saya, atau dia harus tahu urusan pengeboran minyak, bukan. Tapi bagaimana dengan sarana apapun itu kami bisa menemukan jalan untuk berbagi dan lebih meletup-letup di dalam sharing, chating, obrolan di rumah, telepon, atau apapun kita menyebutnya.</p>
<p>Sampai berapa waktu lalu, saya melihat <em>passion </em>terpendam yang ada pada istri saya, marketing.  Ini bukan perdagangan bombastis dengan omset ratusan juta tentu, tapi hanya kegiatan pengisi waktu luang yang ia posting lewat jejaring facebook. Mungkin disitu saya bisa ikut bergabung.</p>
<p>Lalu di akhir minggu, saya habiskan waktu dengan mengutak-atik sebuah program <em>content management system</em> untuk pemula yang tak pernah belajar bahasa pemrograman. Saya buat sebuah situs sederhana, dengan domain sendiri, untuk mengakomodir passionnya, istri saya.</p>
<p>Dan ternyata obrolan menjadi menarik. Pada chat dan telepon, kami berbincang tentang suatu yang kami sama-sama tahu dan sama-sama minat. Ada passion disana, sesuatu yang menjadikan warna-warna lebih cerah.</p>
<p>Teringat saya, pada sebuah tulisan yang mengatakan bahwa kecocokan itu bisa banyak versinya. Anda dan pasangan anda memiliki kesamaan yang luar biasa, semisal dua anak sungai yang lalu bertemu di muara, anda bisa cocok. Permisalan berikutnya adalah anda dan pasangan anda berbeda luar biasa, seperti panas dan dingin, tapi kalau disatukan bisa harmoni dan menimbulkan hangat-hangat kuku yang pas, anda cocok. Yang terakhir adalah anda semisal hujan deras bertemu tanah subur yang lalu menumbuhkan macam-macam tetanaman, anda cocok juga, paling baik bahkan.</p>
<p>Yang baru saya pahami akhir-akhir ini adalah kenyataan bahwa kecocokan itu sebenarnya bisa banyak jalannya. Dan kalau kita tidak temukan di satu bentuk, bisa kita cari bentuk kecocokan lainnya.</p>
<p>Berulang kali saya tuliskan untuk diri saya sendiri, pada kertas dan benak saya.  Menerima pasangan kita apa adanya, sungguh hanya merupakan tangga pertama. Tidak pernah, menerima pasangan apa adanya itu, menjadi semacam gembok yang lalu mengunci kita untuk tidak mengoreksi dan memperbaiki apa-apa yang salah pada diri pasangan kita.</p>
<p>Menerima apa adanya adalah prasyarat, kemudian perjuangan panjang di depan sana bernama sama-sama belajar jadi lebih baik.</p>
<p>Belajar untuk membentuk kecocokan itu! Belajar untuk menemukan kecocokan itu! Kecocokan antara kita dan pasangan kita, terlebih lagi kecocokan kita pada diri sendiri, menemukan diri sendiri.</p>
<p>Mengenai hal ini, sudah tak karu-karuan banyaknya tulisan dan buku yang menceritakan. Taruhlah bill gates, atau steve jobs, atau mark zuckerberg, atau pengusaha muda indonesiaseperti kang rendy, ceritanya klasik sekali.</p>
<p>Mereka kuliah, lalu tak menemukan kecocokan disana, tak menemukan passion disana, lalu mereka drop out, susah payah membangun bisnis mereka sendiri, lalu sukses besar di bidang yang baru dan sesuai passion mereka.</p>
<p>Itu cerita yang jamak kita dengar. Tapi apa menemukan kecocokan itu, menemukan passion itu, harus dengan alur cerita yang seperti itu? Banting setir dari tempat kita sekarang, menemukan tempat yang baru, lalu sukses besar dan dikenang, dikutip-kutip namanya dalam banyak pelatihan-pelatihan motivasi dan buku chicken soup for the soul?</p>
<p>Saya rasa tidak. Menemukan kecocokan, bagi saya adalah perkara jujur pada diri sendiri. urusan apakah setelah tindakan yang kita ambil untuk jujur pada diri sendiri itu menghasilkan harta yang berlimpah, atau tidak, tak jadi soal utama. Yang soal utama adalah kejujuran untuk mengoptimalkan apa yang kita punya, lalu jujur untuk tiap hari bersyukur dengan pilihan yang kita ambil, karna kita enjoy. Tak harus selalu sama kisah penemuan jati diri kita dengan orang-orang dalam buku.</p>
<p>Dan mengenai penemuan kecocokan inilah saya belajar terseok-seok. Adalah istri saya, yang dengan jujur menilai dan menyampaikan kepada saya apa adanya saya. Saat orang lain mungkin mengapresiasi saya dengan mengatakan tulisanmu bagus, cobalah kamu tulis lalu kirim ke penerbit! Istri saya mengatakan dengan jujur bahwa tulisan saya masih berkutat seputar apa yang saya pernah alami saja, bukan sesuatu tentang imaji-imaji. Saya terbakar, dan lalu saya menulis cerpen. Enam, atau tujuh, atau sepuluh saya lupa. Sporadis, dan semua-muanya saya kirimkan ke penerbit. Tak satupun yang diterima, haha.</p>
<p>Tapi saya bersemangat, saya menemukan pelajaran. bahwa dengan mimpi-mimpi dan imaji-imaji, gelora kitabisa lebih nyala! istri saya memancing saya untuk menemukan diri saya. Saya dan dia, lalu bersama-sama berusaha menemukan harmoni yang membuat kami lebih bisa menemukan diri kami.</p>
<p>Dan PR besar untuk saya sekarang ini adalah, mengajarkan makna-makna kehidupan ini kepada anak saya, anak kami. Pencarian diri, penemuan akan kecocokan diri dengan hidup, dengan pasangan, atau dengan apa saja adalah perkara belajar. Demi Tuhan itu perkara belajar.</p>
<p>Dan pada pembelajaran yang baik, harus ada pula porsi mengajar. Saya percaya itu. Dalam sekian ratus buku dan pelajaran yang kita baca, saya percaya harus ada yang kita tuliskan. Sebagai bentuk syukur atas pemahaman. Sebagai sumbangsih kita untuk orang lain. Apatah lagi kepada anak, itu adalah kewajiban.</p>
<p>Maka itu saya sekarang sedang keras-kerasnya pula berfikir, bagaimana cara mengajarkan kepada anak saya, ilmu-ilmu yang tak hanya memenuhi rongga fikirnya, tapi pula menumbuhkan jiwanya. Menguatkan pribadinya. Sebuah ilmu yang tak hanya mengajarkannya bagaimana-bagaimananya, tapi juga memahamkan dia akan mengapa-mengapanya. Agar dia solid dan kokoh menghadapi hidup ini. Mengetahui hakikat-hakikat dibalik sesuatunya.</p>
<p>Teringat saya, akan pertanyaan saya sejak SMA dulu. Apa gunanya belajar differensial integral di matematika? Apa pula itu limit mendekati nol? Lintang pukang saya cari jawabnya. Tak satupun <em>-bahkan kawan-kawan yang pandai berhitung-</em>,  mampu menjelaskan.</p>
<p>Syukur saya, pada masa kerja ini, saya bertemu dengan seorang rekan yang begitu fasih menjelaskan guna hitungan-hitungan abstrak itu dalam kehidupan. Integral itu adalah sebuah teknik brilian menghitung luasan benda dengan bentuk tak beraturan, sedang limit mendekati nol dapat diaplikasikan untuk menghitung penurunan speed pesawat pada saat landing. Koreksi saya kalau saya salah.</p>
<p>Luar biasa, saya ingin menjadi pembelajar seperti dia, sekaligus pengajar sederhana saja tapi yang bisa memahamkan.</p>
<p>Akan tetapi… yang paling saya ingat sampai sekarang, bukanlah seorang kawan yang menjelaskan dengan lancar dua perhitungan abstrak itu tadi, melainkan guyonan teman masa SMA dulu.</p>
<p>“Kau tahu, apa gunanya kita belajar differensial integral?” katanya dengan lantang.</p>
<p>“Apa?” saya menyahut penasaran sungguh.</p>
<p>“Gunanya adalah….agar suatu ketika kalau kau menjadi guru matematika, kau bisa ajarkan anak muridmu bagaimana menghitung diferensial integral”. Dan setelah itu ingatan saya adalah saya tertawa sambil memegang-megang perut.</p>
<p>Semoga…dalam hidup ini saya bisa membuat dan menemukan harmoni yang apik.  Antara saya dan pekerjaan saya. Saya dan keluarga. Saya dan diri saya sendiri. Semoga pula terhindar dari mengetahui banyak ilmu-ilmu yang tidak saya paham gunanya, tak bisa pula mengajarkannya. Semoga nantinya semua pembelajaran itu bisa dengan baik saya ajarkan kepada anak saya, sampai mereka paham-sepaham-pahamnya.</p>
<p>Lalu sebagai kepala keluarga, rasanya masih relevan untuk mengutip pribahasa jawa tentang para pemimpin. Bahwa pemimpin itu jika didepan mereka menjadi teladan, jika ditengah mereka menyemangati, jika dibelakang mereka mendorong ke arah kemajuan. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani</p>
<p>Belajar dan mengajar itu sudah kepastian dalam hidup, tinggal bagaimana kita menemukan passion yang pas agar warna-warna tulisan yang kita buat bisa lebih cerah, lebih cerah.</p>
<p><em>image taken from <a href="http://images.google.com/imgres?q=painting&amp;hl=en&amp;sa=G&amp;gbv=2&amp;biw=1280&amp;bih=711&amp;tbm=isch&amp;tbnid=1c6ma2xHZSV7xM:&amp;imgrefurl=http://www.kandmtapingandpainting.com/&amp;docid=6y157KKE2lbrEM&amp;imgurl=http://www.kandmtapingandpainting.com/sites/4862/Painting-colorcans.jpg&amp;w=412&amp;h=291&amp;ei=79jSTszwCtDQrQe7wdDaDA&amp;zoom=1&amp;iact=hc&amp;vpx=783&amp;vpy=248&amp;dur=846&amp;hovh=189&amp;hovw=267&amp;tx=152&amp;ty=89&amp;sig=101103090134810990101&amp;page=1&amp;tbnh=154&amp;tbnw=205&amp;start=0&amp;ndsp=17&amp;ved=1t:429,r:9,s:0">here</a></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/672/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=672&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/28/melukis-warna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/painting-colorcans.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Painting-colorcans</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EKSODUS</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/22/eksodus/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/22/eksodus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 02:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Ditinggalkan, apalagi oleh teman seperjalanan, tak pernah menyenangkan. Aku pernah, mengalami fase itu, ketika SMA dan Kuliah dulu. Sewaktu satu persatu rekan &#8220;pergi&#8221;, menyelesaikan lebih dulu tanggung jawab mereka dan beralih ke dunia baru. Lulus lebih dulu, bekerja lebih dulu. Perasaan tak menyenangkan itu, setelah aku timbang dan lihat-lihat betul-betul, rasanya bukan karna sebersit rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=656&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/bird-migration.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-657" title="bird-migration" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/bird-migration.jpg?w=300&#038;h=165" alt="" width="300" height="165" /></a></p>
<p>Ditinggalkan, apalagi oleh teman seperjalanan, tak pernah menyenangkan.</p>
<p>Aku pernah, mengalami fase itu, ketika SMA dan Kuliah dulu. Sewaktu satu persatu rekan &#8220;pergi&#8221;, menyelesaikan lebih dulu tanggung jawab mereka dan beralih ke dunia baru. Lulus lebih dulu, bekerja lebih dulu.</p>
<p>Perasaan tak menyenangkan itu, setelah aku timbang dan lihat-lihat betul-betul, rasanya bukan karna sebersit rasa iri, bukan pula perasaan tak enak hati jika rekan mendapatkan tempat yang baik, jika rekan tiba lebih dulu pada stasiun di depan. Bukan.</p>
<p>Perasaan tak menyenangkan itu, adalah warna yang natural saja, dari suasana yang terlampau kontras, antara riuh yang ramai dikelilingi teman-teman, dengan sepi yang hening berkawan sendiri. Dan perubahan yang kontras itu tak pernah menyenangkan, aku rasa pada cara pandang seperti ini kau pun setuju.</p>
<p>Tak dinyana. Sekarang, setelah aku bekerja, rupanya fase dimana rekan-rekan satu persatu pergi itu, muncul kembali. Dan sejarah berulang.</p>
<p>Tapi bukankah memang begitu? sejarah selalu berulang, ide cerita yang sama, hanya tempat, waktu dan orang yang berbeda. Tapi kebodohan kita selalu sama, tak pernah belajar.</p>
<p>Awalnya, satu dua orang kawan, yang merasa tidak puas dengan kebijakan kantor, lalu mundur teratur, menghaturkan selembar kertas pengunduran diri di meja pimpinan.</p>
<p>Kami agak acuh, pada mulanya. Sampai tahun berjalan, hari berganti, lalu gelombang kepergian kawan-kawan itu seperti eksodus burung-burung pada musim dingin. Berkelompok, ke lain benua, dengan suara riuh-rendah dan memikat di langit-langit.</p>
<p>Dan aku masih pada sebuah sudut yang sama, melihat mereka dan menimbang-nimbang. Apakah harus mengambil keputusan serupa, lalu terbang pula ke lain benua dalam euforia migrasi besar-besaran, atau bertahan pada tempatku sekarang dan menyaman-nyamankan diri bahwa fase ramai dan sepi sebenarnya bergilir-gilir saja dalam kehidupan manusia.</p>
<p>***</p>
<p>Adalah keluarga,  yang menjadi pertimbangan terbesar. Beberapa orang kawan mengirimkan link-link pada email. Kerja di lain benua, petualangan yang baru, bayaran yang fantastis, adalah sesuatu yang sangat menjanjikan pada tawaran pekerjaan itu.</p>
<p>Tapi masa kerja yang mengharuskan berpuluh hari tinggalkan keluarga untuk terasing di desing bingar pengeboran minyak, selalu menjadi sesuatu yang menyurutkan langkahku. Bagaimana dengan anak istri yang dibiarkan menghadapi hari-hari, sendiri saja tanpa figur ayah dan suami?</p>
<p>Ada, kali yang lain, aku bertanya sendiri pada diriku. Apakah ini memang karena keluarga, atau sebentuk kepengecutan diri yang ditutup-tutupi? Terulang dibenakku, ucapan seorang teman. &#8220;Kau bisa bayarkan supir, kau bisa bayarkan pembantu dan baby sitter, kau belikan rumah terbaik, buat mereka nyaman saat kau harus tinggalkan!&#8221;.  Aku merenung.</p>
<p>Kurasa dia benar pada sebagiannya, tapi salah besar pada sebagian yang lain. Bisakah kebersamaan dengan keluarga digantikan dengan setumpuk pekerja yang kita bayar-bayar keringatnya? Bisakah, sebagai misal, moment dimana anak menangis malam hari, dan istri dalam kantuk yang berat menggantung, panik dan sendiri tak ada tempat berbagi, kita tebus dukanya? bisakah?</p>
<p>Memang, tidak setiap keluarga dapat kita pandang dengan kacamata diri kita sendiri. Setiap keluarga memiliki harmoninya sendiri. Dan harmoni itu memang hanya akan terjawab setelah pergulatan batin yang lama dan sepi, tapi riuh dan gempita di dalam diri kita sendiri, dalam diri kita sendiri.</p>
<p>Perkara menjemput rizki, memang tak pernah simpel. Dia berkelindan dengan harga diri seorang laki-laki, dengan hasrat-hasrat petualangan, dengan mimpi-mimpi akan kedigdayaan strata, dengan gerbong panjang keluarga. Dan dengan sebegitu banyaknya variabel ini, bisakah kita nilai orang dari kacamata kita sendiri? bisakah?</p>
<p>Dan kurasa, setelah tadi pagi, aku menemukan sejumput artikel yang menjawab semua tanya, kuputuskan aku akan menempuh jalan yang lain.</p>
<p>Harta bukan segala-gala, ianya adalah pengakuan atas nama kita saja. Belum pula pasti kita nikmati. Suatu kali Baginda Nabi berkata, rizki itu ada tiga, yang kita makan sampai kenyang, yang kita pakai sampai usang, dan yang kita sedekahkan.   Maka bertumpuk harta yang tak termakan, belum tentu rizki kita. Bertumpuk harta yang tak terpakai usang, belum tentu rizki kita. Bertumpuk harta yang tak terdistribusi pada yang berhak, bukan pula rizki kita.</p>
<p>Maka aku juga akan migrasi, eksodus ke tempat yang lebih baik, tapi juga memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyertai keluarga dalam perjalanan panjang menjadi pribadi yang lebih baik.</p>
<p>Dan harta? ah&#8230;&#8230; rasanya bukan harta yang kita kejar, kan? tapi rizki&#8230;dan rizki itu sesuatu yang benar-benar kita nikmati, dan nikmat itu ada di dalam diri. Di dalam sini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/656/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=656&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/22/eksodus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/bird-migration.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bird-migration</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JEDA</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/21/jeda/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/21/jeda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 07:25:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>
		<category><![CDATA[hiatus]]></category>
		<category><![CDATA[istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[jeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan terakhir, sebelum tulisan ini,  tercatat diposting pada 20 agustus lalu.  Hampir tiga bulan sudah, hiatus kepenulisan membuat blog yang memang sudah minim isi ini, menjadi seperti mati suri. Seperti Koma. Andai saja, dengan perumpamaan yang memaksa, blog ini kita kategorikan sebagai orkestra, maka sekali-kali hiatus, hening, diam sejenak itu perlu. Tengoklah orkestra, setelah musik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=652&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/hiatus2copy.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-653" title="hiatus2copy" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/hiatus2copy.jpg?w=300&#038;h=297" alt="" width="300" height="297" /></a></p>
<p>Tulisan terakhir, sebelum tulisan ini,  tercatat diposting pada 20 agustus lalu.  Hampir tiga bulan sudah, hiatus kepenulisan membuat blog yang memang sudah minim isi ini, menjadi seperti mati suri. Seperti Koma.</p>
<p>Andai saja, dengan perumpamaan yang memaksa, blog ini kita kategorikan sebagai orkestra, maka sekali-kali hiatus, hening, diam sejenak itu perlu. Tengoklah orkestra, setelah musik yang cepat dan bingar, ada diam sejenak, hening yang memancing orang tuk menarik nafas dan siap pada denting pertama bunyi-bunyi apa saja yang kan muncul. Jika benar dan tepat timingnya, maka tepuk tangan akan riuh dan menggema.</p>
<p>Tapi jeda kepenulisan yang panjang, rasanya bukan lagi proporsional. Dalam sebuah rentetan pembelajaran, tiap anak tangga hari-hari haruslah diisi dengan membaca dan belajar tentang sesuatu, lalu menulis tentang sesuatu. Agaknya&#8230;tiga bulan yang sepi ini telah terlewat dengan tidak menulis sesuatu, pun tidak belajar banyak tentang sesuatu. Ini menyedihkan.</p>
<p>Mungkin, kejadian tepat pada tanggal 31 agustus lalu, seperti momen perubahan. titik balik yang menandai fase baru hidup sudah dimulai. Akan dibawa kemana hari-hari kedepan? Akan dibawa kemana gerbong keluarga ini? Akan dibawa kemana juga cerita-cerita di tulisan ini?</p>
<p>Dan dalam tempo tiga bulan saja, anakku sudah membesar dengan begitu cepat. Matanya yang seingatku dulu sayu dan tak pernah fokus, kini tiap kali kita bergerak maka ia sudah menatap awas dan mengikuti. Berat badannya cepat bertambah. Dan lisannya sudah mulai mengeluarkan suara-suara yang entah apa artinya. Sungguh lucu.</p>
<p>Padahal, baru sekitar tiga bulan lalu. Akhir agustus itu, dia lahir. Dengan berat yang sedikit dibawah rata-rata. Pada sebuah kesempatan yang luar biasa meleset dari perkiraan. Pada kekhawatiran yang gemerisik mengganggu fikiran berhari-hari berminggu-minggu. Lalu idul Fitri yang berkah itu dia datang.</p>
<p>Aku terharu. Babak baru pembelajaran sudah dimulai. Dan seperti petarung di ring yang merasa belum terlalu usai menikmati kursi istirahat, dentang bel sudah berbunyi. Ronde baru dimulai. Dan tantangan baru terhampar di depan.</p>
<p>Begini rasanya menjadi Bapak. Ruang hati yang ada ini lalu disusupi cinta yang perlahan-lahan semakin mekar dan bertunas-tunas banyak. Tapi pundak juga lalu digelayuti beban dan tanggungg jawab yang meringkihkan dan tak ringan.</p>
<p>Dan lalu pada setiap jeda yang sebentar atau lama, semoga saja ada pelajaran baru yang terpetik, bara baru yang menyala-nyala, nafas baru yang terhirup, dan kekuatan baru yang menegakkan badan dan menjejakkan kaki. Tuk pribadi, dan keluarga ini.</p>
<p>Nak&#8230;dengarkan bapak bercerita.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/652/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=652&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/11/21/jeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/11/hiatus2copy.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hiatus2copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENYULAM HARMONI</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/20/menyulam-harmoni/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/20/menyulam-harmoni/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 04:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>
		<category><![CDATA[harmoni]]></category>
		<category><![CDATA[jati diri]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa malam lalu. Aku terlibat dengan perbincangan seru. Seorang tetangga  -yang ternyata juga seorang pekerja lapangan minyak sepertiku-, menceritakan tawaran kerja yang dia terima. Bayaran luar biasa tinggi, tetapi jadwal kerja yang luar biasa ngeri. Enam atau delapan bulan bekerja tanpa pulang ke rumah. Ini Gila. Tapi tetanggaku itu bersemangat sekali menceritakan tawaran pekerjaan itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=642&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/answer.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-643" title="answer" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/answer.jpg?w=300&#038;h=245" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p>Beberapa malam lalu. Aku terlibat dengan perbincangan seru. Seorang tetangga  <em> -yang ternyata juga seorang pekerja lapangan minyak sepertiku-, </em>menceritakan tawaran kerja yang dia terima. Bayaran luar biasa tinggi, tetapi jadwal kerja yang luar biasa ngeri. Enam atau delapan bulan bekerja tanpa pulang ke rumah. Ini Gila.</p>
<p>Tapi tetanggaku itu bersemangat sekali menceritakan tawaran pekerjaan itu. Dan dia haqul yakin akan dia ambil pekerjaan itu, meski pada akhirnya takdir berkata lain dan dia urung bekerja di sana.</p>
<p>Aku bertanya-tanya, apa makna keluarga bagi orang ini? Bagi tetanggaku itu. Bukankah keluarga adalah tujuan dari segala kerja kita? Bukankah membahagiakan keluarga adalah muara akhir dari babak belur peras keringat kita? Bukankah rumah adalah surga? Kenapa orang ini tidak sama sekali merasa berat? Malam itu aku simpulkan, ada yang salah dengan pola pikir orang itu.</p>
<p>Sampai sekarang aku sangat yakin bahwa rumah adalah surga, yang seharunya membuat kita merasa nyaman dan betah di dalamnya. Tapi sepertinya kok masih ada yang mengganjal. Aku bertanya-tanya.</p>
<p>Tiba-tiba aku teringat seorang kawan yang selalu bertanya-tanya. Tak kurang dari tujuh tahun yang lalu dia bertanya, “apakah wajar, dalam usia kita yang sebegini kita masih mencari-cari jati diri?” tanyanya padaku.</p>
<p>Aku tidak langsung jawab saat itu. Karena aku sebenarnya, banyak bercermin dengan kawanku satu itu. Dia pandai sekali bertutur kata, dia memikirkan banyak hal diluar kebiasaan, dan dia merenung-merenung yang mungkin jarang orang lain mau bersusah-susah memikirkannya. Dia bertanya dan dia menemukan jawaban-jawaban. Dari benaknya sendiri atau dari kebetulan-kebetulan yang aku yakin sebenarnya bukan kebetulan.</p>
<p>Aku percaya, maksud kawanku tadi sebenarnya bukanlah mencari jati diri, <em>-karna aku sama sekali tidak merasa dia sebagai seseorang yang labil dan belum selesai dengan dirinya sendiri-</em>, tapi aku sangat yakin dia rupanya sedang berfikir dan bergejolak untuk menemukan keseimbangan. Menemukan harmoni dalam dirinya. Itulah kenapa dia bertanya.</p>
<p>“Selamat”…aku katakan pada dia.</p>
<p>Cobalah, darimana asalnya jawaban-jawaban jika tidak dipantik oleh pertanyaan-pertanyaan? Dan untuk orang yang bertanya sefilosofis itu, maka tidak lain tidak bukan aku harus ucapkan selamat. Pertanyaan yang bagus, memancing keluarnya jawaban yang bagus, mudah-mudahan. Entah dari diri kita sendiri, atau alam dengan caranya sendiri akan memberikan jawaban.</p>
<p>Selama berapa tahun, setelah pertanyaan kawan sekolahku dulu itu. Aku menemukan dalam setiap fase perjalanan hidup, aku menjadi seperti dia, bertanya-tanya terus. Tentang banyak hal. Dan seringkali, pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menggiring pada sebuah pemaknaan yang lebih baru.</p>
<p>Pertanyaan tentang batas-batas keseimbangan. Mencari Harmoni tentang banyak hal. Mana sabar mana pasrah, mana syukur mana enggan berjuang, mana marah mana tegas, mana pemaaf mana pengecut, mana irit mana bakhil, mana dermawan mana tak punya perhitungan.</p>
<p>Banyak macam-macamnya lagi. Dan setiap adegan-adegan dalam hidup pastilah harus menimbulkan pertanyaan, dan pertanyaan itu mestinya menggiring pada kerja keras jiwa untuk menemukan harmoninya sendiri.</p>
<p>Sampai berapa hari lalu. Tiket penerbangan ke luar kota sudah di tangan. Sudah jadwalnya aku <em>–sebagai pekerja lapangan-</em> harus bekerja dan meninggalkan keluarga untuk beberapa minggu.</p>
<p>Perkaranya akan gampang, seandainya hal itu terjadi pada moment yang biasa, dan keluarga <em>–dalam hal ini istriku-</em> dalam kondisi yang prima juga. Tapi ini bulan puasa, sebentar lagi lebaran, dan istriku hamil. Lengkap. Aku merasa kepergian kerja belum pernah seberat ini. Mungkin begitu, ya. Aku sedang berupaya menemukan harmoni. Sebuah tao antara pekerjaan dan keluarga.</p>
<p>Tiba-tiba saja aku teringat cerita tentang <em>Asaduddin Syirkuh</em>. Seorang pemuda pembenci perang. Hidup dalam gelimang istana, dan kenyamanan taman-taman kerajaan. Sampai suatu ketika pamannya memaksa dia untuk ikut ke medan tempur. Mulanya dia bergidik ngeri dan ketakutan, darah muncrat dimana-mana, tragedi, kematian, tapi juga ironi besar bahwa kedurjanaan yang kuat harus dihancurkan dengan kekuatan juga.</p>
<p>Lambat laun hal itu memantik nyala pada jiwa ksatrianya. Dia menemukan harmoni. Dia tumbuh dan besar menjadi orang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Kelak sejarah lebih mengenal dia sebagai Salahuddin Al Ayubi. Jendral besar yang menyejarah.</p>
<p>Akhirnya dia bisa menguatkan jiwanya dan menyadari bahwa berada di dalam istana yang nyaman itu penting sebagai rehat dan mengumpulkan semangat, tapi berlaga di medan juga penting.</p>
<p>Antara kedamaian rumah yang menjelma syurga, tetapi juga tidak mengkerdilkan jiwa. Rumah yang mengistirahatkan tapi juga membangunkan.</p>
<p>Harmoni antara berdiam diri di rumah, membagi ceria dengan keluarga, menyusun visi dan rencana masa depan, bertukar cerita, berteduh dari panas dunia yang terik; tapi juga mengumpulkan amunisi untuk pada akhirnya suatu ketika keluar dan berjuang dalam kapasitas kita masing-masing. Pekerja minyak, guru, dosen, dokter, mahasiswa,  apapun.</p>
<p>Tentu pilihan selalu ada. Memulai kehidupan yang baru yang memberikan lebih banyak waktu untuk keluarga, adalah ideal. Tapi itu adalah perkara harmoni yang lain lagi. Yang jawabannya harus dimunculkan dari rangkaian set-set pertanyaan yang lain pula.</p>
<p>Kalau tidak karna pertanyaan temanku tujuh tahun silam. Mungkin aku sekarang akan berada di salah satu dari dua extrim. Mungkin pada kutub yang mendewakan pekerjaan dan uang tanpa memedulikan keluarga. Atau mungkin pada yang bersembunyi di sebalik kehangatan dan teduh rumah yang disebut-sebut surga.</p>
<p>Padahal pada segalanya harus ada harmoni. Dan harmoni adalah jawaban yang tak akan tumbuh begitu saja jika kita tidak bertanya-tanya.</p>
<p><a href="http://srinath-varadarajan.blogspot.com/2011/07/whom-shall-thy-answer-to.html"><em>first image taken from here</em></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=642&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/20/menyulam-harmoni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/answer.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">answer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>YANG TERPANCANG DAN YANG KOKOH</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/16/yang-terpancang-dan-yang-kokoh/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/16/yang-terpancang-dan-yang-kokoh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 15:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[yakin kepada Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=636</guid>
		<description><![CDATA[Jangan-jangan aku telah munafiq? Tiba-tiba tadi sore aku jadi berfikir apa iya jangan-jangan aku sudah munafiq? Aku ingat, dalam cerita sejarah yang masyhur, kita kenal hanzhalah. Hidup sejaman dengan sang nabi, disebut-sebut dalam ceritra keteladanan. Namun suatu kali pernah kita dengar cerita bahwa sahabat yang mulia itu berkata dia telah munafiq, katanya pada abu bakar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=636&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/old-tree_2a.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-637" title="old-tree_2a" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/old-tree_2a.jpg?w=209&#038;h=300" alt="" width="209" height="300" /></a></p>
<p>Jangan-jangan aku telah munafiq? Tiba-tiba tadi sore aku jadi berfikir apa iya jangan-jangan aku sudah munafiq?</p>
<p>Aku ingat, dalam cerita sejarah yang masyhur, kita kenal hanzhalah. Hidup sejaman dengan sang nabi, disebut-sebut dalam ceritra keteladanan. Namun suatu kali pernah kita dengar cerita bahwa sahabat yang mulia itu berkata dia telah munafiq, katanya pada abu bakar.</p>
<p>Cerita berikutnya kita sudah sama-sama hapal. Abu bakar kaget, lalu menanyakan apa maksud Hanzhalah mengatakan dia munafiq?  Lalu dua-dua sahabat nabi itu menangis sesenggukan setelah hanzhalah menuturkan kegelisahannya. Katanya saat di dekat nabi, ia merasa luar biasa teguh dan ingat akan akhirat, tapi setelah di rumah dan bertemu keluarga lalu tersibukkanlah dia dan menurun kekhusyukannya.</p>
<p>Dua-dua sahabat itu lalu ditenangkan oleh nabi dengan penjelasan bahwa hal itu bawaan manusia <em>by nature</em>. Sesaat-sesaat dan memang tantangannya adalah harus selalu diperbarui, keyakinan itu.</p>
<p>Hanzhalah dan Abu bakar; nyata-nyata cerita keluarbiasaan mereka sudah tertulis dalam buku-buku. Dalam ceritra-ceritra. Nah kalau aku, kalau kita, jangan-jangan benar-benar bermasalah, bukan kontemplasi?</p>
<p>Pasalnya begini, akhir-akhir ini hati ini seperti sesak oleh ketakutan-ketakutan. oleh praduga-praduga. Tentang rizki, tentang keluarga, tentang pekerjaan, tentang banyak hal. Padahal secara keilmuan harusnya sudah mengerti, bahwa Tuhan semesta alam ini sudah menjamin segala-segala. Tempat bergantung tentang segala. Tapi kok rasanya belum plong, belum pasrah. Khawatir terus.</p>
<p>Sampai aku ingat lagi, dulu sekali, seorang guru pernah mengatakan begini. Keyakinan kita, jika belum sampai pada tataran mentalitas, maka dia belum teruji.</p>
<p>Katakanlah aku sendiri sebagai tersangkanya. Secara konsep sudah paham bahwa yang menjamin rizki itu Tuhan yang maha kaya, yang meski satu dunia ini kita ambil-ambil serakus-rakusnya maka kekayaannya tidak akan kurang setetes jua. Konsepnya sudah tahu begitu. Tapi secara mentalitas, keyakinan itu belum berurat akar, belum menghunjam-hunjam, cengkeramannya belum kokoh. Maka aku khawatir terus tentang rizki. Cemas, takut. Macam-macamlah.</p>
<p>Apa pasal? Mentalitas! ilmu yang aku tahu itu mungkin memenuhi logika otak saja, tidak mengisi ruang kosong di hati. Benar sekali guru itu.</p>
<p>Padahal ya, kalau diingat-ingat. Semenjak sebegitu banyak masalah –atau baiknya tidak kita katakan sebagai masalah-. Semenjak fase hidup berubah, aku menyadari satu keharusan yang pokok, yaitu keilmuan semestinyalah bertambah juga.</p>
<p>Okelah. Macam-macam buku aku baca, macam-macam petuah aku catat. Macam-macam. tapi rasanya semakin banyak konsep, makin tahu tentang bagaimana-bagaimananya tidak selalu lurus perbandingannya dengan makin yakin dan makin tenang.</p>
<p>Apa ini?? Lha jangan-jangan aku sudah munafiq? Lain di kepala lain di hati. Sampai ada  yang tiba-tiba berdentang lagi di telinga. Sebuah doa yang diajarkan dari dulu sekali waktu kita masih kecil. Doa sebelum belajar. Doa itu adalah meminta dengan sangat, agar  Tuhan anugerahkan pada kita ilmu yang bermanfaat, dan menambahkan kepada kita kepahaman.</p>
<p>Ilmu, kalau tidak bermanfaat, kata orang bijak, rasanya memenuhi kapasitas otak kita saja. Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai segalanya, yang ilmunya jika ditulis dengan tinta sebanyak lautan di dunia, dan dengan pena semelimpah seluruh pepohonan, tidak juga akan usai. Semoga terhindar kita dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat.</p>
<p>Tapi kata  para guru kita lagi, ilmu bermanfaat saja tak cukup, jika tidak menambah kefahaman. Mungkin kepahaman inilah mentalitas itu. Sesuatu yang dicerna otak kita, lalu dengan berkah dari langit dia akan diizinkan mengalir sejuk lewat pembuluh-pembuluh. Lalu berkelindan di saraf-saraf hati kita. Lalu masuk kedalam jiwa dan memberi tenang. Memberi yakin. Memberi kokoh. Memberi kepasrahan. Bahwa tidak mungkin Tuhan itu abai. Tidak mungkin Tuhan itu tidak urus. Tidak mungkin Tuhan itu tidak tahu. Lalu kita dianugerahi tenang. Tenang yang betulan. Yang bukan tipu. Yang genap. Yang pancarannya betul-betul dari dalam. Tenang…tenang. Yang mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan tempat kita bergantung itu lebih luar biasa dari segala-gala.</p>
<p>Amin…amin….semoga Hanzhalah dianugerahi pahala. Sejarahnya yang mempertanyakan diri sendiri, jadi pelajaran buat kita. Bahwa ‘yakin’ kita pun seperti ombak yang turun naik. Sesaat-sesaat.</p>
<p>Tapi Hanzhalah beruntung, menemukan sang nabi sebagai tempat menimba ilmu dan memperteguh jiwanya.</p>
<p>Tapi kita juga beruntung, diajarkan doa yang mensejukkan jiwa. Tuhan, anugerahkan kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkan pada kami kepahaman.</p>
<p>Aku percaya, bahwa Tuhan tidak tidur, kalau Hanzhalah dan Abu bakar berguru pada nabi, maka nanti akan dipertemukanNya kita, pada ilmu-ilmu yang bertebaran: di buku-buku, di potongan-potongan sajak, di petuah-petuah orang-orang bijak dulu, di mutiara laku kawan-kawan kita, atau kesadaran yang tiba-tiba tumbuh tak terasa dari perenungan-perenungan yang jujur. Dan Dia juga yang nanti menyimpulkannya pada hati kita. Pada kepahaman yang terpancang, dalam, kokoh, tidak goyah.</p>
<p>Lalu kata peribahasa cina dulu, barang siapa yang sungguh-sungguh merasa membutuhkan bimbingan, maka saat itu ia akan bertemu “guru”.</p>
<p>Ah…Tuhan. Anugerahkan pada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkan kepada kami kepahaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><a href="http://www.wired.com/wiredscience/2010/03/old-tree-gallery/all/1" target="_blank">(image taken from here)</a></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/636/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=636&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/16/yang-terpancang-dan-yang-kokoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/old-tree_2a.jpg?w=209" medium="image">
			<media:title type="html">old-tree_2a</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AGAR MEREKA TAHU SEPERTI APA KITA</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/14/agar-mereka-tahu-seperti-apa-kita/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/14/agar-mereka-tahu-seperti-apa-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 15:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi. keluarga. sekufu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Aku menyadari, bahwa akhir-akhir ini aku mengalami stagnasi yang serius. Saat kehidupan berputar dengan frame gambar-gambar keseharian yang sama hari ke harinya, dengan babak-babak yang berulang dan tanpa sebuah letupan-letupan semangat, aku sadar ada yang harus ditafakuri sejenak. Rasanya ini stagnasi. Saat sebuah puncak jalanan menanjak sudah kita jejakkan kaki, lalu biasanya setelah itu hamparan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=633&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/working-together.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-634" title="Working-together" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/working-together.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<p>Aku menyadari, bahwa akhir-akhir ini aku mengalami stagnasi yang serius. Saat kehidupan berputar dengan frame gambar-gambar keseharian yang sama hari ke harinya, dengan babak-babak yang berulang dan tanpa sebuah letupan-letupan semangat, aku sadar ada yang harus ditafakuri sejenak. Rasanya ini stagnasi.</p>
<p>Saat sebuah puncak jalanan menanjak sudah kita jejakkan kaki, lalu biasanya setelah itu hamparan jalan adalah menurun, atau katakanlah paling tidak dia akan datar-datar saja.</p>
<p>Sewaktu sekolah, mimpiku adalah merantau dan kuliah, saat kuliah mimpiku adalah bekerja dan berkeluarga. Sekarang sampailah sudah pada fase bekerja dan berkeluarga, maka aku tiba-tiba menjalani rutinitas dengan otomatis. Setiap hari selalu sama, tertebak dan begitu-begitu lagi.</p>
<p>Apa yang salah?</p>
<p>Lama-lama aku sadar ini perkara mimpi. Ada tujuan yang membuat kita bergelora dan meletup-letup. Saat ada sesuatu yang ingin kita capai, kita akan berlari dengan lebih kencang, arahnyapun kita sudah terka kemana, katakanlah suatu kali kita melenceng, tapi akan gampang kita kembali ke tujuan. Katakanlah suatu kali kita jatuh terjerembab, kita akan gampang bangun lagi, meski sakit kita tetap berlari. Karna ada sesuatu itu yang akan kita raih. Ada mimpi.</p>
<p>Kalau begitu kenapa tidak bermimpi lagi saja?</p>
<p>Perkaranya tidak segampang itu, ternyata.  Setelah kurenungkan sejenak, begini mungkin halnya. Saat kita masih sendiri, gampang sekali untuk menentukan target,  berjuang dan berjibaku dengan cita-cita kita sendiri, tapi setelah kita menjadi bagian dari sebuah keluarga, kita tahu ada seseorang yang mau tidak mau akan terlibat dengan segala keputusan yang kita ambil, dengan  segala cita-cita dan mimpi-mimpi. Mereka juga akan terkena resiko dari segala pilihan dan langkah-langkah kita. Kebijakan dan ketajaman insting kita harus meloncat pada level yang lebih tinggi lagi. Dan inilah seninya.</p>
<p>Rasanya, dalam segala tatarannya, mimpi-mimpi kita itu akan berkembang lebih berisi dan penuh tantangan, seiring juga dengan fase kehidupan kita.</p>
<p>Saat kita masih kecil, mimpi kita mungkin sebatas hal-hal remeh. Saat kita sudah beranjak besar, mungkin benturan mimpi kita adalah bagaimana mensinkronkan visi pribadi dengan realita lingkungan yang sering tidak sejalan. Makin besar lagi kita, makin besar pula masalahnya. Tantangannya mungkin tidak semata membuat pribadi kita  layak untuk mimpi itu, tapi juga bagaimana mengikut sertakan gerbong besar keluarga dalam mimpi yang kita bangun.</p>
<p>Dulu mungkin mimpi kita adalah terbang ke langit dan memetik bintang, maka setelah berkeluarga aku jadi sadar bahwa mimpi kita haruslah juga terbang ke langit dan memetik bintang, tapi dengan membawa sederet gerbong keluarga ini untuk sama-sama melihat bintang yang itu, langit yang itu, terbang ke arah situ, dan itu seninya.</p>
<p>Dulu, aku pernah dikecam keras oleh salah seorang guru pembimbing skripsiku. Ceritanya waktu itu, agar sedikit mempermudah jalannya skripsi, aku menceritakan juga latar keluarga dan ekonomi, serta harapan besar orang tua agar aku menyelesaikan studiku dengan cepat. Fikiranku waktu itu simpel saja, bahwa dengan menceritakan sedikit sisi emosional, mudah-mudahan bisa menyentuh kemanusiaan beliau yang waktu itu beliau terkenal dosen paling galak seantero kampus.</p>
<p>Boro-boro tersentuh, waktu itulah aku dikecam. “orang tua itu, lebih banyak pengalaman hidupnya daripada kamu, mereka lebih siap menghadapi banyak cobaan hidup, mau takdir baik, mau takdir buruk. Yang tidak siap itu kamu!”</p>
<p>Pedas…tak ada ampun. Tapi aku bersyukur sekali. Sampai sekarang kalimat itu aku ingat persis detil-detilnya, seperti baru kemarin ditumpahkan ke telingaku. Cobalah tengok orang tua kita! Mereka itu prototype pemimpi sejati, tak usah jauh-jauh. Geletar mimpi mereka itu masih mengaliri denyut-denyut kehidupan kita.</p>
<p>Kalau mimpi kita waktu kecil adalah hidup layak dan berpendidikan layak, maka mimpi mereka adalah bagaimana membawa sekian orang dalam gerbong itu menjadi lebih baik, sama sekali bukan gelora-gelora pribadi semacam kita dulu.</p>
<p>Itu yang aku baru sadar sekarang. Bahwa mimpi memang harus diperbarui tiap fase hidup kita, tapi merekonstruksi pemahaman kita tentang mimpi adalah juga penting. Bahwa kalau dulu kita terbang ke langit sendirian, sekarang haruslah terbang bersama-sama. Dan ada kalanya memang bercermin pada orang tua kita merupakan contoh terbaik. Bagaimana menjadi orang yang digelayuti beban. Bagaimana menjadi orang yang me-nameng-I, yang harus kokoh sekaligus meniup-niup semangat orang satu gerbong, ayooo bangun. Jalan kita masih panjang.</p>
<p>Tidak punya mimpi mungkin membuat hidup menjadi stagnan, lesu dan mati. Tapi salah membuat mimpi, seringkali juga membuat kita semakin jauh dengan keluarga.</p>
<p>Rasanya, tidak perlu dicontohkan. Betapa banyak misalnya kepala keluarga yang melesat ke awan-awan ilmu, yang berjibaku dalam lompatan-lompatan karir yang makin prestisius, tapi meninggalkan istri dan keluarganya dalam level pemikiran yang itu-itu saja. Dia terbang tinggi ke langit, tapi keluarganya tertinggal. Lama-lama mereka makin tidak nyambung. Ini petaka rasanya.</p>
<p>Baru-baru ini, aku temukan dalam sebuah tulisan, penjelasan tentang hakikat kecocokan. Ambil contoh, kecocokan versi pertama adalah kesamaan. Dua orang memiliki hobi yang sama, misalnya. Bisa menjadi cocok tersebab obrolan mereka nyambung. Ini kecocokan karna kesamaan. Contoh berikutnya adalah dua orang yang sama sekali berbeda, tapi saling melengkapi, bisa cocok juga. Contoh terakhir adalah dua orang dengan dua kehidupan yang bisa saling menumbuhkan, ini kecocokan yang paling baik.</p>
<p>Tapi semua versi kecocokan itu akan menjadi benar reaksinya hanya jika ada kesamaan visi, kesamaan cara pandang. Dan cara pandang ini panjang panjang panjang panjang sangat perjalanannya.</p>
<p>Aku ingat sekali lagi sebuah fragmen, dimana aku menyelesaikan studi untuk skripsi, pada sebuah area pemboran minyak. Disitu aku bertemu dengan seorang tua yang bijak, suka berbagi ilmu, dan kemana-mana selalu saja membawa buku. Begitu banyak koleksi bukunya.</p>
<p>Sekali waktu, bapak itu kemudian kutanya. Kenapa gerangan beliau suka sekali membaca dan mengoleksi buku. Jawabnya simpel saja “agar anak saya tahu seperti apa bapaknya.”</p>
<p>Waktu itu aku merasa aneh dengan jawaban itu. Seperti einstein, yang pemikirannya telat dipahami orang-orang hingga butuh seratus tahun sesudahnya, seperti itulah bapak itu telat dipahami olehku. Untunglah aku tidak selama itu memahami maksud bapak baik tadi.</p>
<p>Bapak tadi mengajarkan aku, kita semua, untuk membuat mimpi yang bisa kita jelaskan kepada keluarga kita. Untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama. Untuk terbang kelangit dan memetik bintang, tapi tangan-tangan kita tergenggam dan sayap kita mengepak bersama-sama. Untuk tidak menjadi celaka karna berilmu tapi tak menebarkannya pada keluarga kita. Untuk tidak menjadi saling tak nyambung karna kita melesat semakin pintar tapi tak memintarkan keluarga kita. Untuk menjadi sukses bersama. Agar anak, istri, keluarga, tahu seperti apa kita.</p>
<p>Karna kecocokan itu mungkin tumbuh dari kesamaan pemahaman dan pandangan-pandangan. Dan dalam naik turun kelak-kelok hidup yang panjang, menjaganya adalah sebuah seni. Kalau tidak maka stagnasi. Ah…</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/633/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=633&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/08/14/agar-mereka-tahu-seperti-apa-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/08/working-together.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Working-together</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TULISAN-TULISAN HATI</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/30/tulisan-tulisan-hati/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/30/tulisan-tulisan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 08:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[kilas]]></category>
		<category><![CDATA[alasan menulis]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa menulis]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[membagi ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=629</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang pelan-pelan lindap di dada saya. Sebuah keharuan saat merenungkan sudah berapa lama blog ini terbentang di dunia maya. Sudah berapa orang yang meskipun tak banyak, ikut membaca dan memberikan sepatah-dua kata-kata dalam kolom komentar. Sebagian lainnya meninggalkan statistik yang terbaca pada grafik pengunjung. Kenapa saya menulis? Suatu hari saya bertanya pada diri saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=629&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/tulisan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-630" title="tulisan" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/tulisan.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<p>Ada yang pelan-pelan lindap di dada saya. Sebuah keharuan saat merenungkan sudah berapa lama blog ini terbentang di dunia maya. Sudah berapa orang yang meskipun tak banyak, ikut membaca dan memberikan sepatah-dua kata-kata dalam kolom komentar. Sebagian lainnya meninggalkan statistik yang terbaca pada grafik pengunjung.</p>
<p>Kenapa saya menulis? Suatu hari saya bertanya pada diri saya sendiri. Pertanyaan ini sering saya tanyakan, kadang dia muncul dalam semburat-semburat yang redup, tapi saya tahu ada sesuatu itu yang selalu muncul dan tenggelam. Pertanyaan.</p>
<p>Dulu, saya menulis karna saya ingin bercerita. Mungkin hasrat terbesar dalam hidup saya adalah bercerita. Bagi saya, membagikan apa yang saya tahu kepada orang lain, itu menyenangkan. Meskipun aneh, keluarga mengenal saya sebagai seorang yang pendiam, pun berapa orang kawan menilai saya sebagai orang yang irit bicara. Tapi beberapa kawan yang cukup sering bersinggungan dengan saya tahu bahwa saya suka mengganggu mereka dengan kata-kata.</p>
<p>Belakangan saya mengerti, tidak setiap orang bisa berada dalam kondisi yang prima lahir batin untuk mendengarkan ocehan kita. Maka kemudian saya temukan bahwa menulis punya keasyikannya sendiri. Kita bisa menuliskan apa yang kita fikirkan, orang boleh memutuskan untuk kemudian mendengar atau meninggalkan. Sederhana sekali.</p>
<p>Tapi&#8230;semakin hari berjalan, saya menyadari satu hal. Ada yang muncul kembali, seperti sebuah jawaban yang belum usai, tak lama lalu ada yang pelan-pelan lagi mengetuk pintu hati saya. kadang ketukannya terdengar cukup nyaring, kadang bias dan tak terdengar. Sampai kala saya menulis ini, saya akhirnya sadar, sebelum saya menemukan jawaban itu maka hati saya akan selamanya resah. Saya cobakan jujur sejujurnya pada diri, bahwa lebih dari sekedar berbagi cerita, saya ingin menjadi orang yang biar sedikit ada manfaatnya.</p>
<p>Pernah sekali waktu, saya bertanya kepada teman. Retorik sekali pertanyaan saya waktu itu. &#8220;Apa yang lebih menyedihkan, dibanding &#8216;ada atau tiadanya kita tak berarti apa-apa&#8217;?&#8221;.</p>
<p>Teman saya kala itu tidak menjawab. Dia diam saja. Memang sayapun tak menghajatkan jawaban darinya, atau mungkin dia juga sudah tahu bahwa pertanyaan saya itu retorik belaka. Entah.</p>
<p>Tapi itulah. Ada keinginan dalam hati, agar setidaknya dalam rentang duapuluh tujuh tahun hidup saya di dunia ini, ada sedikit manfaat yang bisa saya torehkan. Ada sedikit guna yang saya bisa bagikan.</p>
<p>Apalagi kalau ingat-ingat perjalanan hidup ke belakang. Rasanya tak kurang-kurang kebodohan, atau kata para ulama &#8216;kezaliman pada diri sendiri&#8217; yang saya lakukan. Sedih. Ingin berbuat sesuatu yang luar biasa untuk menebusnya, tapi apa daya kemampuan diri ini tak memadai.</p>
<p>Lalu tiap kali bertemu dengan orang-orang baik, dengan orang-orang pintar, ada iri yang terbit dalam hati. Ada cemburu yang menyala-nyala. Betapa luas manfaat yang terhampar dari keilmuan dan kebijakan orang- orang itu? Sedang saya, semisal ombak yang membentur-bentur karang. Bergolak, tak stabil, pecah, membuih.</p>
<p>Saya lalu sering, membaca ulang tulisan-tulisan sendiri. Ada kalanya juga saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan itu. Bukan, sama sekali bukan karna haru pada apiknya kata-kata, saya rasa berantakan dan banyak yang harus dibenahi. Cuma saya seringkali haru bahwa dalam perjalanan hidup saya ke belakang, ternyata ada juga jenak-jenak dimana saya begitu kontemplatif, begitu haru memaknai hidup, atau begitu dekat dan syahdu dalam meminta pada Tuhan. Tulisan ini telah menjadi semacam recorder, yang mengoreksi sendiri pemikiran saya yang lugu pada masa lalu, dan atau mengingatkan diri sendiri bahwa suatu kala saya pernah berada pada titik yang tak serendah sekarang.</p>
<p>Saya haru, terlebih untuk jujur, bahwa setiap kali membaca, saya jadi malu karna seringkali tulisan itu muncul dari desakan-desakan yang besar dalam fikiran dan memaksa tangan untuk cepat menuliskannya pada tuts keyboard. Lalu setelah dituliskan dan jeda berapa saat, saya rasa saya tak seperti yang saya tuliskan. Atau mungkin tangan ini sudah menjadi semacam corong, untuk meneruskan kata-kata nurani, yang direkam oleh huruf-huruf, mungkin mengingatkan saya sendiri.</p>
<p>Betapa hati sering terbolak-balik. Mungkin seketika saya menemukan jawabannya kali ini maka harus pula saya tuliskan. Dan inilah harapan penuh saya, agar tulisan-tulisan ini menjadi semacam doa, yang dikala saya khilaf di masa depan nanti, dia akan meluruskannya.</p>
<p>Saya sadar, sebegitu banyaknya orang-orang pandai dan berilmu di belantara maya ini, maka orang-orang yang sudah bersedia menyempatkan waktunya membaca tulisan inilah yang sesungguhnya harus diucapkan terimakasih. Saya berharap, seandainya nanti ada yang terilhami, dan merasakan manfaat dari kumpulan kata-kata ini, semoga dia tahu bahwa cerita-cerita ini berangkat dari niat berbagi, agar saya bertambah ilmu, agar ada yang mengoreksi, agar orang-orang yang terilhami menjadi catatan pahala untuk menebus dosa-dosa yang sudah berkarat-karat, agar dengan tiap kali menulis saya diberikan hati yang lebih padu pada kebaikan, dan diselamatkan dari hingar bingar dunia yang menaik-turunkan hati kita dari kekhusyukan.</p>
<p>Ah&#8230;.Tuhan, aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak khusyuk dan doa yang tak didengar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/629/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=629&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/30/tulisan-tulisan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/tulisan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tulisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TEBUSAN MASA LALU</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/21/tebusan-masa-lalu/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/21/tebusan-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 04:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[acak]]></category>
		<category><![CDATA[kilas]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[memutar waktu]]></category>
		<category><![CDATA[menanti kelahiran bayi]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran dari masa lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Seandainya masa lalu bisa diputar ulang. Seandainya kita bisa kembali ke masa lalu. Begitu kata orang-orang. Pengandaian serupa itu, dulu, waktu aku masih kecil sempat begitu mengemuka dan memenuhi imaji hari-hariku. Bisakah kita kembali ke masa lalu? Tanpa sengaja aku menemukan dan membaca banyak tulisan yang sebagian besarnya aku tidak paham. Dengan bahasa ilmiah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=625&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/turnback-time.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-627" title="turnback time" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/turnback-time.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<p>Seandainya masa lalu bisa diputar ulang. Seandainya kita bisa kembali ke masa lalu. Begitu kata orang-orang.</p>
<p>Pengandaian serupa itu, dulu, waktu aku masih kecil sempat begitu mengemuka dan memenuhi imaji hari-hariku. Bisakah kita kembali ke masa lalu?</p>
<p>Tanpa sengaja aku menemukan dan membaca banyak tulisan yang sebagian besarnya aku tidak paham. Dengan bahasa ilmiah yang luar biasa tidak aku mengerti, dan segala teorema einstein yang katanya-katanya itu, orang pandai mengatakan bahwa dalam ruang teori, kembali ke masa lalu itu mungkin. Mungkin saja.</p>
<p>Sayang, waktu itu aku masih kecil, aku tidak dalam kapasitas bisa menjelaskan ulang kenapa itu mungkin.</p>
<p>Kemudian lagi, orang-orang pandai yang lain lalu membantah, dengan sekelumit teorema yang sama aku tidak mengertinya, mengatakan kembali ke masa lalu itu tidak mungkin.</p>
<p>Banyak bahasa ilmiah mereka aku tidak paham, tapi ada sebuah permisalan lucu yang sampai sekarang aku ingat-ingat betul, tentang kenapa kita tidak mungkin kembali ke masa lalu. Baiklah aku ceritakan sedikit.</p>
<p>Taruhlah, dalam suatu masa manusia sudah bisa menciptakan mesin waktu, kata artikel yang aku baca berpuluh tahun lalu, lalu dengan sebuah mekanisme yang kita tidak paham, maka manusia dilontarkan ke masa lalu.</p>
<p>Sampailah seseorang yang jadi bahan percobaan itu di masa lalu. Di masa lalu itu, ia lalu mencari sang penemu mesin waktu, lalu dengan tiba-tiba dibunuhnyalah penemu mesin waktu itu. Penemu mesin waktu itu mati! Karna penemu mesin waktu itu mati, artinya, mesin waktu itu tak pernah diciptakan! Lebih jauh lagi, karna mesin waktu tak pernah diciptakan, berarti sang pembunuh dari masa depan itu tak pernah terbang ke masa lalu, kan? Lebih jauh lagi, karna dia tak pernah pergi ke masa lalu, berarti dia tak pernah membunuh penemu mesin waktu? Karna penemu mesin waktu tak dibunuh, berarti mesin waktu berhasil diciptakan? Lalu artinya…..?</p>
<p>***</p>
<p>Kita sudahi saja logika yang berputar-putar tentang mesin waktu. Itu Cuma impian bodoh seorang anak kecil. Tapi kalau mau jujur, meski sudah dewasa, kadang-kadang pertanyaan itu muncul kembali.</p>
<p>Kalau dulu semasa aku kecil, yang aku pertanyakan adalah ruang kemungkinan, bisakah orang kembali ke masa lalu? Maka setelah dewasa semua itu hanyalah pengandaian-pengandaian. Pengandaian untuk merubah kesalahan atau tindakan yang kurang tepat di masa lalu. Ah…. Seandainya saja waktu bisa diputar ulang, seandainya saja.</p>
<p>Banyak, fragmen-fragmen masa lalu, yang rasa-rasanya kalau diberikan kesempatan ingin sekali aku ulang menjadi lebih baik. Sepotong adegan sewaktu aku menghilangkan uang sekolah, kelas lima SD dulu kalau tak salah. Atau adegan waktu aku dimarahi habis-habisan oleh Bapak karena  tak bisa mengerjakan PR sepotong soal essay matematika, waktu malam mati lampu, entah kelas berapa.</p>
<p>Atau fragmen-fragmen dimana bercak-bercak kotor dosa yang rasanya malu kalau aku tulis-tulis disini. Atau kesempatan-kesempatan berbuat kebaikan yang terlepas. Banyak sekali, banyak.</p>
<p>“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya istriku. Dia sering memergoki aku tersenyum dan seperti membayangkan sesuatu.</p>
<p>“ah… tidak apa-apa” jawabku. Padahal aku sedang membayangkan seandainya waktu bisa diputar ulang, dan aku diberikan kesempatan untuk menebus lalu menjadi pribadi yang saat ini harusnya lebih baik. Lebih berwawasan, lebih dalam. Aku mengalihkan pandangan pada perut istriku yang membesar.</p>
<p>Ada calon kehidupan baru disana, di dalam perut istriku. Lemah, mungil, dan tak terlihat jelas. Siluetnya cuma sekali-kali bisa aku lihat dari pindaian USG tiap kali aku menemani istriku kontrol di RS pinggir jalan raya bogor itu.</p>
<p>Mungkin, calon bayi kami itu menjadi alasan, yang kembali menguatkan keinginanku menebus masa lalu.</p>
<p>Aku ingin, menjadi seorang pribadi yang nantinya bisa menjadi sahabat, ayah, sekaligus idola bagi anak kami.</p>
<p>Membayangkan sebentar lagi menjadi seorang ayah, melahirkan sensasi yang luar biasa tak bisa diceritakan. Seperti menanti sesuatu yang baru. Sesuatu yang boleh jadi menjadi titik balik kehidupan. Kita semua punya titik balik, bukan?</p>
<p>Mungkin titik balik pertama dalam kehidupanku adalah saat aku memutuskan kuliah di Jawa dan berpisah dari orang tua. Pilihan itu mengantarkan aku menuju sebuah kehidupan dengan lingkaran sosial budaya yang sama sekali berbeda. Aku menjadi orang baru.</p>
<p>Titik balik kedua mungkin sewaktu aku menikah. Perubahan status dari seorang anak, menjadi seorang kepala keluarga, yang berkuasa penuh membawa gerbong rumah tangga, dan menjadi sebuah entitas baru dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Namaku ditulis pada undangan rapat RT, pada sertifikat rumah, pada kartu listrik, pada tagihan kredit kendaraan, rasanya luar biasa.</p>
<p>Dalam semua titik balik kehidupan itu, aku rasa-rasanya sudah berusaha untuk memulai lembar baru yang lebih putih. Dengan tulisan yang lebih rapih. Dengan deretan makna-makna yang lebih bernas. Meski setelah direnungi, kadang-kadang kalau mau jujur kok ya lebih banyak kotornya. Lebih banyak semrawutnya. Makna pun sekenanya.</p>
<p>Ah….. kita selalu ditinggal oleh waktu, ya Nak? Engkau belum lahir, tapi Ayah katakan satu hal padamu bahwa sungguh waktu itu tak bisa diputar ulang. Tak bisa kita kembali dan merubah yang telah terpahat.</p>
<p>Tapi kesempatan menebus itu masih ada. Dengan sebenar-benarnya menjalani masa kini. Dengan mengambil pelajaran masa lalu, dengan menyusun rencana-rencana baru masa depan. Dengan mempersiapkan kelahiranmu sebaik-baiknya. Menitipkanmu sebuah nama yang do’a. Lalu menceritakan segala hal yang pernah menjatuh-jerembabkan orangtuamu ini, dan mengajari engkau mana-mana jalan benar yang mengantarkan kau jadi lebih baik.</p>
<p>Semoga nanti kita bisa berkah, ya Nak. Kehidupan terbaik seperti kata orang-orang bijak itu. Bertambahnya kebaikan dalam setiap apa saja fragmen kehidupan yang kita jalani. Kemelimpahan yang membuat syukur, kesempitan yang mengantar sabar. Dan pelajaran yang mendewasakan.</p>
<p>Kapan engkau lahir, nak? Kita akan bercerita banyak hal. Denganmu, aku tebus masa lalu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/625/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=625&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/21/tebusan-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/turnback-time.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">turnback time</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANDARAN</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/20/sandaran/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/20/sandaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 05:32:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[kilas]]></category>
		<category><![CDATA[kepasrahan]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[rizki]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[sandaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[&#160; “Bersama kesulitan ada kemudahan” kataku suatu kali pada seorang teman. Dia memprotes, atau katakan saja dia menanyakan apa maksudnya bersama kesulitan ada kemudahan? Kata kawan tadi, bukankah selama ini yang kita faham adalah “habis gelap terbitlah terang?” Yang artinya adalah terang datang setelah gelap. Maka kesimpulan logis yang bisa kita ambil adalah Kemudahan pastilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=619&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/tebing.jpg?w=410&#038;h=307" alt="" width="410" height="307" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Bersama kesulitan ada kemudahan” kataku suatu kali pada seorang teman. Dia memprotes, atau katakan saja dia menanyakan apa maksudnya bersama kesulitan ada kemudahan?</em></p>
<p><em>Kata kawan tadi, bukankah selama ini yang kita faham adalah “habis gelap terbitlah terang?” Yang artinya adalah terang datang setelah gelap. Maka kesimpulan logis yang bisa kita ambil adalah Kemudahan pastilah sebuah hadiah setelah berpayah-payah menempuh kesulitan, yang artinya juga kemudahan datangnya SETELAH kesulitan, bukan BERSAMA kesulitan.</em></p>
<p><em>Sebelum aku bercerita tentang percakapan kami lebih lanjut, aku ingin membagi rasa bahwa sekarang ini aku sedang dilanda kesulitan, katakanlah begitu.</em></p>
<p>***</p>
<p>Akhir-akhir ini, hati sedang gelisah. Satu persatu kawan-kawan yang bekerja pada perusahaan tempatku mengumpulkan remah-remah rezeki sekarang ini, mulai bepergian. Sebagian mendapatkan tawaran untuk bekerja pada perusahaan lain yang menjanjikan bayaran lebih tinggi. Sebagian pindah dan bekerja pada perusahaan yang meski bayaran kurang lebih sama, tetapi menawarkan kemungkinan percepatan karir yang lebih baik dan jabatan yang lebih prestisius.</p>
<p>Sebenarnya tidak ada yang terlalu mengancam. Pekerjaanku masih tetap, gaji setiap bulan diterima dengan baik, Alhamdulillah mencukupi, dan masih juga menyisakan sedikit uang untuk ditabung dan disisihkan sebagai hak orangtua dan saudara yang butuh.</p>
<p>Tetapi semakin hari sensasi yang dirasakan akibat kepergian kawan-kawan menuju perusahaan lain adalah semacam sensasi ketertinggalan. Dan tak ada yang lebih buruk dibandingkan kawan seperjalanan meninggalkan kita lebih dulu. Seperti perasaan sewaktu kawan-kawan sudah diwisuda masa kuliah dulu, dan aku masih berkutat menghadapi setumpuk skripsi. Susah, berbelit, tak ada kawan tempat berbagi, cemas, dan segala rasa yang membebat membuat ketakutan itu bertambah, sekalipun kalau dipikir secara logis, tak ada yang benar-benar menyusahkanku saat ini. Ketakutan itu ada dalam fikiran dan kekhawatiranku akan masa depan.</p>
<p>Lalu tak lama datanglah lagi kabar yang lebih menghantu seram. Kebijakan kantor semakin ketat, segala posisi dirombak, termasuk  posisi yang aku tempati sekarang akan dengan segera digantikan oleh seorang yang lebih senior dalam masa bakti kerja, dan tentu lebih senior dalam pengalaman dan ilmu. Aku tersingkir dalam ketidak jelasan.</p>
<p>Aku menghela nafas, menghembuskan nafas yang mungkin pekat. Di sebelahku istriku tertidur dengan tenang. Seharian dia sudah menghabiskan sedikit tenaganya untuk menjaga tubuhnya berjalan seimbang, dengan membawa berat badan yang bertambah pada perutnya.</p>
<p>Aku merasa lucu dan haru, melihat perkembangan istriku, dia bertambah tembem pada pipinya, dan perutnya membesar, ada yang setiap sore dan malam hari bergerak pelan dan menendang-nendang pada rahimnya. Ada bayi kami. Ada yang sebentar lagi keluar dan dengan segala kerapuhannya mengharapkan perlindungan kami sebagai orang tuanya. Astaga… sebentar lagi aku menjadi ayah.</p>
<p>Ternyata itu pangkal segala kekwatiranku. Ketakutan akan beban yang kutanggung sekarang, seorang istri, dan anak yang sebentar lagi akan hadir. Bisakah aku menjadi tempat mereka bersandar?</p>
<p>Paham…aku sekarang sangat paham segala beban dan kesusahan yang diusung orangtuaku pada pundaknya. Pada keras dan tegasnya. Aku juga menjadi paham kerut muka bapak yang kadang-kadang diam dan menghabiskan separuh malamnya merenung sendiri di teras depan rumah, tanpa bicara, hanya ditemani secangkir kopi dan gurat-gurat cahaya bulan pada ubin. Dia sedang merenung, sedang berfikir, sedang menguatkan diri, dan sedang menjadi tonggak tempat bersandarnya kami.</p>
<p>Saat-saat seperti inilah maka aku merindukan kehadiran Bapak. Kehadiran seorang dengan karakter luar biasa keras, akan tetapi selalu siap menjadi tempat kami menyandarkan diri dan berlindung pada setiap bahaya yang mengancam. Orang yang benar-benar mewakili segala sisi ketegasan dan kejantanan pemimpin rumah tangga.</p>
<p>Sekarang aku memainkan peranan itu. Cuma mungkin bedanya aku belum cukup ilmu. Kalau setiap kali Bapak merenung malam hari tanpa terganggu, dan bangkit lagi keesokan harinya dengan semangat yang lebih, dengan keceriaan yang baru, dengan ketegasan yang tak tergoyahkan, dan lalu menenangkan kami bahwa tenang saja, situasi tak seburuk yang kita kira. Aku juga merenung, tapi bangun keesokan harinya dengan ketakutan dan kecemasan yang sama. Aku belum sampai pada kebijaksanaan semodel itu.</p>
<p>Sampai aku teringat lagi perkataan seorang bijak, bahwa fase dalam hidup kita ini berputar cepat, berganti-ganti dari waktu ke waktu. Belum cukup rasanya aku menuntaskan laku sebagai kakak, menunai bakti sebagai anak, tiba-tiba aku sudah menjadi suami. Belum cukup pandai memahami perbedaan karakteristik komunikasi antar laki dan wanita, belum lagi pandai membaca isyarat-isyarat bahasa yang tersirat dari tutur kata istri, aku sudah menjadi seorang calon ayah. Dan dalam waktu yang berputar cepat itu, jika tidak diimbangi dengan percepatan ilmu, maka kita akan selalulah menjadi orang yang kalah. Orang yang mensikapi fase baru kemodernan masalah kehidupan dengan sikap yang purba dan tertinggal. Itulah pokok kecemasan.</p>
<p>Maka terburu-buru aku berlari ke toko buku, membeli segala buku tentang parenting, tentang anak, tentang jalan menuju Tuhan, tentang rizki, tentang macam-macam. Mendownload segala ceramah dan motivasi tentang berbagai-bagai hal.</p>
<p>Dalam hati aku berdoa, Tuhan semoga aku belum terlambat, dan meyakinkan diri bahwa tidak…aku tidak terlambat.</p>
<p>Dan dalam buku itulah aku temukan pesan yang menusuk, sangat dalam, dari seorang ulama yang mengatakan jangan pernah takut untuk tidak kebagian rizki, tapi takutlah akan kehilangan kepercayaan kepada Allah yang Maha Membagikan rizki.</p>
<p>Jangan pernah bersandar pada manusia, bersandarlah selalu kepada Tuhan. Betapapun, menjadi seorang anak membuat rapuh dan lemahnya kita membuat kita selalu berlindung dibalik keperkasaan orang tua, tapi hati janganlah lupa bahwa hakikatnya kita berlindung pada keMaha perkasaan Tuhan. Dan aku harus mengerahkan segenap psikologis gerbong rumah tanggaku ini pada kepasrahan bahwa tugas kita hanyalah meng-HADAP-I masalah, biarkan Tuhan yang meng-ATAS-I masalah.</p>
<p>Itulah yang aku masuk-masukkan dalam kepala. Sewaktu menulis ini, aku mencoba mereka-reka ulang segala kejadian yang telah mengantarkan aku sampai pada takdir kehidupan yang sekarang. Usia SMA, lalu awal kuliah, akhir-akhir kuliah ,awal dunia kerja, dan awal pernikahan adalah serangkaian kejadian yang membuatku tersentak pagi ini. Semua fase itu aku lewati dengan keberuntungan-keberuntungan. Dengan segala kemudahan yang tidak habis dituliskan dalam sepuluh lembar halaman sekalipun. Tak sedikitpun dari segala fase kehidupan masa laluku yang terjadi tanpa keajaiban pertolongan Tuhan. Dalam hal yang paling musykil sekalipun. Jadi kenapa sekarang aku harus cemas?</p>
<p>Ah…. Tuhan, seperti kata para ulama, aku datang pagi ini dengan mengetuk pintu rahmatmu saja. Bahwa hanya Engkau tempat bersandar, hanya Engkau tempat meminta. Engkau penjamin rizki. Engkau maha segala.</p>
<p>***</p>
<p><em>Jadi, rekan-rekan yang baik hati. Percakapanku kala itu dengan seorang teman, nyatanya lebih tepat untuk direkam dan dituliskan lagi sebagai bahan perenunganku. Sepertinya aku menjelma kembali ke masa lalu dan menemukan diriku sedang berbicara dengan diriku yang lain.</em></p>
<p><em>“bukankah habis gelap terbitlah terang?” Tanya diriku yang kebingungan.</em></p>
<p><em>“ya.. benar”</em></p>
<p><em>“jadi kemudahan datang SETELAH kesulitan?”</em></p>
<p><em>“itu hanya jika kau menganggap ‘pagi’ sebagai satu-satunya bentuk kemudahan. Sedang kau sering lupa bersama malam ada bebintang, bersama malam ada rembulan. Bersama hujan ada dingin sejuk dan bau harum rerumputan. Satu kesulitan diapit dua kemudahan.”</em></p>
<p><em>“Seperti kesusahan skripsi membuat kita jauh lebih dekat kepada orang tua karna selalu meminta doa dan petuahnya?”</em></p>
<p><em>“ya”</em></p>
<p><em>“seperti reshuffle posisi pekerjaan ternyata malah membuat kita memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dan siaga menanti kelahiran bayi tanpa terganggu hingar bingar tugas?”</em></p>
<p><em>“ya”</em></p>
<p><em>“dan seperti kesulitan dan kecemasan membuat doa-doa menjadi lebih khusyuk? Dan merasa lebih dekat dengan Tuhan?”</em></p>
<p><em>“ya, dan itulah rahmat yang paling indah.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/619/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=619&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/20/sandaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/tebing.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SELAMAT JALAN PAK GURU</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/05/selamat-jalan-pak-guru/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/05/selamat-jalan-pak-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 06:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[memoar]]></category>
		<category><![CDATA[kh zainudin mz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=613</guid>
		<description><![CDATA[Manusia lebih peka terhadap nada, tinimbang kata. Kita sering lupa pada lirik lagu, tapi jarang melupakan nadanya. Kita sering sekali bernyanyi na..na..na….. lupa liriknya, tapi tidak nadanya. Begitulah, nada selalu mencecap dalam di benak kita, dan memang beliau punya nada yang khas, cara bicara yang unik. Aku sering, dulu sepulang sekolah waktu hari sudah lepas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=613&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/masjid.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-614" title="Masjid" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/masjid.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<p>Manusia lebih peka terhadap nada, tinimbang kata. Kita sering lupa pada lirik lagu, tapi jarang melupakan nadanya. Kita sering sekali bernyanyi na..na..na….. lupa liriknya, tapi tidak nadanya.</p>
<p>Begitulah, nada selalu mencecap dalam di benak kita, dan memang beliau punya nada yang khas, cara bicara yang unik.</p>
<p>Aku sering, dulu sepulang sekolah waktu hari sudah lepas ashar, duduk ditepian sebuah kolam belakang rumah, membuat PR, membaca atau menulis serampangan pada sebuah kertas. Itu sekedar pembuka, karena acara inti pada tiap-tiap sore di masa lalu itu adalah mendengarkan ceramah. Ceramah luar biasa dari beliau. Suaranya akan melecat dari toa masjid ujung rawa-rawa sana, lalu juga meliuk-liuk dari surau di sebalik pelepah-pelepah pisang. Menjadi gema-gema yang indah, eksotis, khas menjelang maghrib. Ah… betapa aku mengagumi beliau.</p>
<p>Begitulah setiap sore. Nada-nada suaranya menjadi akrab di telinga. Sebagian isi ceramahnya melekat dalam kepala, sebagian lagi karna fitrah manusia lalu terlupa. Tapi karena itu juga, aku menjadi tiada bosan. Meskipun aku tahu betul bahwa ceramah itu telah diputar ulang oleh radio, dipancarkan serentak lewat toa dua kadang tiga masjid dan surau bersamaan, lalu melesat-lesat dan berkelahi di udara menjadi gema-gema yang sahut menyahut, tapi tiada pernah aku bosan.</p>
<p>Sore selalu menjadi indah. Ada suara yang khas pada seraput jingga merah menjelang maghrib, pada angin yang berhenti bertiup dan beralih arah ke lautan, pada setiap denting-denting masa lalu yang kukenang, ada suara itu, suara itu. Beliau.</p>
<p>Memang, kadang-kadang tidak menunggu maghrib juga, sekali dua aku temukan rekaman ceramahnya diputar. Pada sebuah angkot di perjalanan pulang sekolah, atau pada warung-warung pinggir jalan. Isinya mungkin sama, aku seringkali lupa, tapi biarlah aku tak pernah bosan, ada yang indah pada nada-nadanya, dan manusia lebih peka pada nada tinimbang kata.</p>
<p>Kapan terakhir kali aku mendengar suaramu ya, Pak Ustadz? Tiba-tiba aku sudah besar, dan seperti kebanyakan orang dewasa yang kehilangan momen ceria kanak-kanak, tiba-tiba aku kehilangan juga pada ceramahmu.</p>
<p>Suatu kali, waktu aku pulang kampung, kubayarkan zakat fitrah sepuluh canting beras pada masjid besar di rumahku, masjid yang biasa memutar ceramahmu. Aku dengarkan selintas orang-orang berkata “lihatlah, ustad itu, semenjak dia terjun ke politik jatuh wibawa dia, tak lagi orang mau dengar”.</p>
<p>Butuh lama aku waktu, sampai bisa kucerna bahwa mereka membicarakan engkau. Ingin kubantah bapak-bapak itu, tapi bagaimana bisa pak ustadz? Aku masih anak bau kencur kala itu, sedang mereka-mereka sudah sepuh, mereka juga yang dulu-dulu sekali memutar-mutar ulang rekaman ceramahmu pada masjid dan surau-surau, jadi secara tidak langsung aku berhutang budi pula pada mereka. Jadi, sebetapapun aku ingin membelamu aku tidak bisa. Ingin kukatakan bahwa menampil diri agar terberdayakan potensi kebaikan kita pada jalan kebaikan adalah bukan sombong, tapi aku tak bisa. Maaf guru.</p>
<p>Tapi rasanya pernah sekali waktu aku terbawa suasana. Di masa kuliah, setelah kutinggalkan kampung halamanku, dan maghrib-maghrib agak sepi tanpa semburat suaramu, aku didaulat kawan-kawan untuk menjadi juri pada sebuah lomba Pidato.</p>
<p>Betapa pandai seorang peserta itu, dia membawakan sebuah tata logika yang bagus, isi yang menawan, penyampaian yang runut dan canda yang menggelorakan. Hampir didaulat dia menjadi juara satu, tapi kemudian aku mendebat seorang juri lainnya.</p>
<p>Tidak bisa….tidak bisa…kataku. Bagaimana mungkin anak itu aku menangkan menjadi juara, jika sepanjang ceramahnya dia hanya mengkopi nada-nada suaramu? Isi bisa berbeda, bahkan dia bisa membuat isi yang serupa? Tapi nadamu sudah terlampau khas, tak bisa mereka mengkopinya tanpa didaulat sebagai peniru.</p>
<p>Tapi mereka tak jua paham bahwa manusia sangat peka dengan nada. Lebih daripada manusia awas terhadap kata. Maka dengan susah payah akhirnya kami daulat anak itu menjadi juara dua. Semata karena pertimbangan cinta kami, padanya dan padamu.</p>
<p>Lalu kurasa itulah persentuhan aku yang terakhir, secara emosional, dengan segala sesuatu tentangmu. Sampai pagi ini aku dengar berita, engkau telah berpulang ke sisiNya.</p>
<p>Aku sedih, tapi tidak bisa menangis. Mungkin kalau orang bisa menyampaikan berita itu dengan intonasi penuh haru, aku pasti menangis. Jangankan aku, semua akan menangis. Aku tahu ada sesuatu yang hilang pada dunia ini, sebagaimana setiap orang berilmu itu pergi, maka bersamanya pergi pula kearifan, kebijakan, mutiara-mutiara hidup yang mungkin kami belum pernah serap, mungkin kami belum pernah cecap.</p>
<p>Karna memanglah kami terlalu lemah, oleh kecenderungan kami sendiri. senang pada yang mendenting bagus ditelinga, lupa pada makna bagus yang tepatri pada kata.</p>
<p>Lalu kami teriak-teriak dengan nada yang keras dan tak menyenangkan. Ustadz tak boleh berpolitik!! Ustadz tak boleh tampil!! Ustadz hanya menyanyi, lalu kami meniru nada-nada.</p>
<p>Lupa kami pada ceritamu bahwa Nabi Yusuf pun menawarkan dirinya menjadi bendahara kerajaan. Bahwa semisal negri ini tak dikelola oleh orang-orang baik maka akan jadi apa?</p>
<p>Tapi sudahlah, engkau juga sudah pergi, Tuhan sudah siapkan tempat di dekatnya, yang jauh dari hingar bingar kami. Inilah kami yang belum sempat berterimakasih, belum sempat pula membela. Belum pula menyampaikan yang berbeda.</p>
<p>Tapi kami belajar satu hal, dari surau-surau yang menggemakan ceramahmu pada setiap maghrib-maghrib yang memerah itu, pak, bahwa semuanya mestilah disampaikan dengan ‘nada-nada’ yang indah. Jika nada telah indah, orang akan mencerap isinya dengan suka rela. Sebagaimana akal takluk oleh kekata, maka hati takluk dengan “nada”.</p>
<p>Selamat jalan, guru. Kami dari sini berdoa, dengan doa sendu yang indah. Mengantarmu pulang.</p>
<p>Pada rembulan selalulah ada sisi gelap, tapi kami berpuas hati memandang pada terangnya saja.</p>
<p>Aku rasa, maghrib-maghrib sore nanti, kami pasti rindu.</p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">Selamat jalan KH ZAINUDDIN MZ</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/613/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/613/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/613/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=613&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/07/05/selamat-jalan-pak-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/07/masjid.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BIJAKSANA, SEDERHANA</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/05/28/bijaksana-sederhana/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/05/28/bijaksana-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 23:32:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[Yang kucinta dari pagi, ialah kesederhanaannya. Mengantarkan siang untuk meraja, menyabarkan malam agar turun tahta. Lalu ia meniada. Yang kukagum pada senja, ialah kebijakannya. Menyabarkan siang bahwa ia tak selamanya, mewanti malam bahwa pekat tak segalanya. Lalu ia meniada. Yang kupelajari dari dunia ialah keadilannya. Melamakan jatah untuk surya membahana, mengulurkan waktu untuk gelap menggulita. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=603&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/05/sunset.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-604" title="sunset" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/05/sunset.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<p>Yang kucinta dari pagi, ialah kesederhanaannya. Mengantarkan siang untuk meraja, menyabarkan malam agar turun tahta. Lalu ia meniada.</p>
<p>Yang kukagum pada senja, ialah kebijakannya. Menyabarkan siang bahwa ia tak selamanya, mewanti malam bahwa pekat tak segalanya. Lalu ia meniada.</p>
<p>Yang kupelajari dari dunia ialah keadilannya. Melamakan jatah untuk surya membahana, mengulurkan waktu untuk gelap menggulita. Tapi kenangan selalu jatuh pada senja, pada pagi waktu hari masih muda. Mereka bijaksana, mereka sederhana. Meski muncul sebentar lalu dia sirna.</p>
<p style="text-align:right;"><em>tanjungbatu 28 mei 2011</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/603/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/603/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/603/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=603&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/05/28/bijaksana-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/05/sunset.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sunset</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DO&#8217;A SEPOTONG PETANG</title>
		<link>http://debuterbang.wordpress.com/2011/05/26/doa-sepotong-petang/</link>
		<comments>http://debuterbang.wordpress.com/2011/05/26/doa-sepotong-petang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 23:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>debuterbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://debuterbang.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[Kami pulang pada sepotong petang, Melepas bayang lewat rentang hati lapang, sgala gulita biarlah terbang, Kau Maha Benderang. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Kepada malam: Kami rindu pada suatu kala yang hening dan tenang, waktu do&#8217;a memintal-mintal resah yang kalut dan masai, lalu mengantarnya ke langit, biar diurai Tuhan. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Kami rindu pada sebuah jenak yang  jujur dan lugas, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=590&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/05/duaa.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-591" title="duaa" src="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/05/duaa.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<div id=":10y">
<div id=":10x">
<p><em>Kami pulang pada sepotong petang,</em></p>
<p><em>Melepas bayang lewat rentang hati lapang,</em></p>
<p><em>sgala gulita biarlah terbang,</em></p>
<p><em>Kau Maha Benderang.</em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Kepada malam:</p>
<p>Kami rindu pada suatu kala yang hening dan tenang,</p>
<p>waktu do&#8217;a memintal-mintal resah yang kalut dan masai,</p>
<p>lalu mengantarnya ke langit, biar diurai Tuhan.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Kami rindu pada sebuah jenak yang  jujur dan lugas,</p>
<p>waktu temaram bulan kami syukur-syukuri,</p>
<p>&#8220;duh Gusti, pada gulita juga masih Kau titip cahaya&#8221;.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Kami rindu pada seketip rizki yang resik dan baik.</p>
<p>Memuja kurnia; kami gosok kemilau pada jiwa, bukan pada harta.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Hilangkan sejenak suara-suara,</p>
<p>biar khidmat kami berdoa,</p>
<p><em>&#8220;Gusti&#8230;Tidur kami; lena.</em></p>
<p><em>Terjaga kami; alpa.</em></p>
<p><em>Ampun kami Tuhan, Kau Maha Segala&#8221;.</em></p>
<div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">tanjung <em>batu 26 mei 2011<br />
</em></p>
</div>
</div>
</div>
<h6 style="text-align:right;">gambar ilustrasi dipinjam dari &#8211;&gt; <a href="http://aslamattusi.files.wordpress.com/2010/05/duaa.jpg">here</a></h6>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/debuterbang.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/debuterbang.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/debuterbang.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/debuterbang.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/debuterbang.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/debuterbang.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/debuterbang.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/debuterbang.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/debuterbang.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/debuterbang.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/debuterbang.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/debuterbang.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/debuterbang.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/debuterbang.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=debuterbang.wordpress.com&amp;blog=1536072&amp;post=590&amp;subd=debuterbang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://debuterbang.wordpress.com/2011/05/26/doa-sepotong-petang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/641cd9400f7a79ee2d350e31c125741c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">debuterbang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://debuterbang.files.wordpress.com/2011/05/duaa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">duaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
