Tulisan tulisan yang dikaitkan (tagged) kontemplasi
sinusoidal
Dari tadi sebenarnya sudah waktunya tidur. Biasanya aku melakukan ritual tidur seperti gerak refleks. Waktu yang sama, dengan urut-urutan yang sama berulang-ulang. Sama seperti kau naik motor, kan? Kita lupa kapan kita mencolok kunci ke lobangnya, kapan menjegal standarnya, lalu starter kita pencet dengan jempol kanan, lalu gigi satu masuk, kita jalan dengan lepas stang satu tangan, tangan kanan memutar gas lalu tangan kiri meraba saku celana jeans sebelah kiri jangan-jangan handphone tinggal di laci meja.
Tapi tidak malam ini. Biasanya urutannya sesimpel merebahkan kepala di bantal lalu bangun pagi. Urutan pertama merebahkan kepala di bantal itu pun aku tebak sekenanya saja, saking refleksnya aku tidak hapal juntrungannya bagaimana-bagaimana tapi tiba-tiba sudah pagi, dan aku sudah selesai tidurnya.
Lha bagaimana bisa tidur? kipas angin itu dari tadi berputar-putar dengan suara yang konstan, seperti penggeret yang berbunyi berat tapi sopan, agak-agak mistis. Kacau balau semua jadinya. Ini sudah duabelas malam, waktu yang ampun-ampunan larutnya kalau buatku, sedang kipas itu masih berputar kiri berputar kanan. Aku seperti terhipnotis. Lalu tiba-tiba teringat gerak ritmis kiri kanan kiri kanan itu seperti halnya ritmis naik turun naik turun grafik sinus.
Cuma itulah yang membekas sedikit bergengsi dari pelajaran matematika SMA dulu. Bahwa sinusoidal itu grafik mirip dengan jalan bergelombang.
Sebentar aku bangun dari tidur, dan menuliskan ini di selembar kertas.
Naik:
Aku lulus kuliah cepat, tes kerja di gedung itb, menyisihkan sekitar berapa ratus orang, lalu masuk kerja di tempat yang padahal aku tidak bisa tapi disana dituntut bisa ngomong bisa nulis inggris.
turun:
Rutinitas mulai menampakkan wajah aslinya, seperti dementor di film harry potter yang aku tonton di vcd bajakan. Menyedot kebahagiaan sampai akar-akarnya, dan menyediakan sebentuk pemikiran pesimis yang tolol bahwa kita ini ditimpakan hidup yang jemu, kabur, hitam-putih bagai filem tua.
Naik:
aku bertemu dengan rekan-rekan baru yang luar biasa hebat. Manusia pilih tanding yang menggentarkan sekalian orang dengan tatapan matanya dengan retorikanya. Kredibel. Memesona. Aku terpukau
Turun:
Aku sadar bahwa butuh waktu untuk mengkonversi teman jadi sahabat. Lalu sobat lama yang sekian jumlahnya itu rupanya kini sudah pergi ke tempat-tempat yang jauh. Yang berbeda garis bujur sekian derajat. Susah menggapainya. Sms tak tahu harus bercerita apa, kirim email terlampau banyak yang mau dikata. Jadi sudahlah, biarlah nama tinggal nama.
Naik:
Waktu dulu sebelum SPMB yang lembar jawabannya bulat-bulat dihitamkan pakai pensil itu, ke masjid rajin nian aku. Bersimpuh dengan duduk yang paling sopan, meminta dengan tutur kata yang paling memohon. Sujud dengan nikmat sampai lupa waktu, dan menangisi banyak hal dengan sesenggukan.
Aku menangisi pagi-pagi dingin yang berembun basah di jendela kamar. Menangisi siang sejuk yang anginnya semilir sepoi menggoyang goyang daun pisang seperti gelambir sapi. Menangisi suasana sore yang dibalik gubuk tua diatas sawah hijau sana itu ada matahari bulat berwarna orange kemerahan agak tua. Lalu menagisi pula burung yang Cuma titik-titik hitam saja di awan-awan jauh. Lalu menangisi pula malam hening yang kadang-kadang ada gerimis sedikit, ada jangkrik berderik sedikit. Dunia terlalu indah, dan indah membuat haru.
turun:
Setelah kuliah aku terjun bebas. Melakoni setiap rutinitas transendental sebagai mirip senam kesegaran jasmani saja. Kepalaku penuh dengan kumpulan kata-kata. Agama jadi mirip logika premis-premis saja. Senang rasanya bermain debat, mengaji memenuhi kepala, tapi hatiku tak!
Tapi kadang-kadang pas ditengah-tengah aku sering bingung juga. Ini pertengahan setelah turun atau setelah naik? Karna aku kadang-kadang Cuma siap menikmati sensasi melambung. Turun agak mengerikan buatku
Padahal, naik turun itu berulang saja begitu terus.
Sekarang ini, aku sudah merebahkan lagi kepalaku di bantal. Sambil menimang-nimang, bagaimana biar hidup itu tidak membuat kita stagnan di level yang sama. Harus ada semacam lompatan yang melenting jauh, biar semisal jatuhnya kita tidak segaris yang sama dengan hari-hari kemaren, lebih tinggi sedikit saja tak apa, biar kata naik turun tapi trendnya menanjak.
Alaaaaaaaaaaah…. Ini kata-kata semakin tidak efisien saja. Jangan-jangan memang harus dipaksakan untuk melawan fikiran kita sendiri, malas kita sendiri, takut kita sendiri. Atau sepertinya aku sudah harus tidur sekarang.
Selamat malam, slamat tidur…………………….
…………………………………….
…………………………………….
…………………………………….
Wahai Yang mengheningkan malam ini, kami ini benar-benar memohon padaMu, untuk tolong selamatkan kami Tuhan, dari setiap jenak kehidupan yang menanjak terlampau ramai, jangan sampai kami mabuk dengan gegap gempitanya. Ingatkan kami untuk tidak meratapi nasib di setiap episode menurun yang sunyi mencekam.
Ingatkan kami untuk makan seperlunya saja di setiap waktu menanjak yang berlimpah ruah, lalu sambutlah tangan kami yang sempoyongan seperti pesakitan di setiap turunan yang paceklik.
Kami ingin benar, dengan hati yang naik turun ini, Engkau bermurah untuk mengguyuri kami dengan rasa puas atas segala yang tertulis di hari-hari kami.
Pegang tangan kami Tuhan…di setiap tanjakan ………di setiap turunan ………di setiap yang ramai………di setiap sepi-sepi menusuk ………di setiap cinta bersemi berbunga………di setiap benci menyelubung………di pagi……di siang……di sore……di larut malam hari hidup kami, sampai kami mati nanti.
Add comment Desember 15, 2009
membaca bintang

Sekitar satu jam perjalanan dari jakarta. Pesawat memang terbang dengan kecepatan mengagumkan. Sebentar saja aku sudah tiba di bandara sultan mahmud badaruddin dua. Bandara palembang. Dari sini nanti delapan jam lagi perjalanan harus dinikmati. Mengikuti kelok-kelok jalanan yang sudah seperti meander saja. Terguncang-guncang di kerikil berdebu. Berhenti sebentar di pinggir jalan tempat banyak pedagang duren yang murah2, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelah perut kekenyangan.
Aku hampir muntah setelah sampai batasnya. Tubuhku ternyata kuat menahan guncangan sekitar tujuh jam saja. Setelah tujuh jam yang mendebarkan maka sedikit saja tremor akan memicu isi perutku melonjak keluar.
Sudah dua tahun lebih berapa bulan aku bekerja disini. Dunia pemboran minyak. Pekerjaan dengan pola yang tidak umum, mengingat kita harus -tanpa banyak tawar- meloncat-loncat mengikuti sebaran hidrokarbon. Yang namanya minyak bumi itu semau-maunya dia saja. Hampir tidak pernah ada pemboran di tengah kota atau dekat mall, selalu saja di tengah gurun, di tengah laut, atau di belantara lebat terasing. Dan aku sekarang menuju kesana…..perjalanan masih panjang, dan aku terduduk mengenaskan di bangku belakang.
Meskipun kepala terasa benar2 berdenyut, dan mata sudah kunang2 gelap kalau dipaksakan melihat, tapi aku tetap menyempatkan diri untuk menulis sebaris cerita buatmu. Itulah sahabat sejati, ya begini ini. Kalau bukan kubagikan kepada kalian, kan kepada siapa lagi? Jadi aku sambil berbaring-baring saja tak apalah, ya? Yang penting pelan2 tetap aku ceritakan.
***
Mulanya memang pada saat awal2 kuliah dulu itu. Kita semua hidup dengan tujuan2, kan? Entah itu panjang kedepan, atau berapa depa saja, tapi tetap ada kita punya tujuan. Sebelum lulus kuliah itu, tujuanku cuma dua. Yang pertama adalah lulus segera, yang kedua adalah kerja segera.
Aku sekarang sudah lulus kuliah, rupanya. Seperti sebuah mu’jizat. Bagiku banyak hal dlm hidup ini, hal2 yang berhasil aku lalui itu, sebenarnya kemurahan Tuhan saja. Seperti bisa-bisanya aku masuk universitas negri wakstu SPMB dulu, atau semisal bisa juga ternyata aku lulus cepat dgn penelitian yang porak poranda dan pembimbing yang brutal?? Sudah pasti bukan kepandaianku memang, tapi itulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan, yang jelas singkat kata aku lulus.
Setelah lulus, ini seperti mu’jizat lagi. aku langsung diterima bekerja. Nantilah dulu kita debatkan mengenai apakah sebaiknya membangun usaha sendiri ataukah kerja dan menjadi anak buah orang lain? Yang jelas aku berhasil mencapai tujuanku tadi. Yang aku ceritakan ke kalian2 di atas tadi. Benarlah sudah: aku lulus, aku bekerja.
Sampai disini aku mengalami semacam perasaan gembira yang akut, muncul tiba2 dan dengan dosis yg tak bisa ditoleransi. Aku mengalami semacam euphoria, rekan-rekan yang budiman.
Dari situlah aku mulai hidup dalam ritme pekerjaan yang tidak umum ini. Pekerjaan terjadwal empat belas hari kerja dan empat belas hari libur. Pergi ke banyak tempat. Terapung di tengah laut, di pinggir delta, di tengah hutan dan menyeberang benua.
Tapi seperti kebanyakan manusia yang gamang, aku menjadi hilang arah. Entah apa tujuanku waktu itu. Rutinitas yang aku tidak tahu gerbang destinasinya dimana.
Bagiku waktu itu, kerja adalah semacam barter, menukar sekitar seliter dua liter keringat kita dengan sejumlah uang yang nanti tertulis di saldo tabungan mandiri. Sudah, sebatas itu saja, tidak ada itu semisal makna luhur dibalik banting tulangnya aku itu.
Kerja gajian kerja gajian kerja gajian. Sudah. Hidupku terlalu pragmatis. Perputaran logikanya sebatas perut saja.
Aku muak. Suntuk aku dengan rutinitas yang terlalu klise. Samaaaaaa persis setiap harinya, minggunya, bulannya. Lalu kuputuskan aku harus pulang. Pulang dulu ke kampung halaman barang satu dua minggu untuk mereset lagi otak dan batin, bahwa selain kerja dan menghitung hari, masih banyak lagi hal-hal lain yang bernilai dalam hidup ini.
Dan di suatu malam hening yang biasa. Aku, bapakku, dan ibuku duduk di teras luar rumah. Hari hujan setengah2. Lalu ada bunyi entah jangkrik entah kodok. Aku rindu suasana seperti begitu, waktu2 dimana kita merasakan begitu banyak karunia tumpah ruah. Ada teh hangat di meja kecil samping bangku tempatku duduk. Ada laron terbang memutar pelan di atas pelapon yang ada lampu neon sebelas watt-nya itu. Ada jaket yang kutarik ujung2nya karna resluitingnya sudah tidak lagi fungsi. Semua tiba2 menjadi indah, dan sebentar kemudian Bapak memecah keheningan dengan melontar “kamu kapan mau menikah, mas??”
Blaaaaarrr……. Kilat menyambar di kejauhan, lalu sekitar berapa detik kemudian baru bunyinya sampai. Begitulah juga aku. Sibuk berkelana kemana-mana fikiranku, lalu bibir bapak terlihat seperti gerak lambat. “ngomong apa ya bapak tadi?” fikirku…….dan masih juga semua terputar lambat sampai jeda berapa detik hingga otak sederhanaku ini akhirnya bisa memprosesnya.
Luar biasa. Begitulah orangtua. Bisa menilai tanpa perlu banyak kata. Mungkin seperti yang orang bijak fatwakan “wahai para orang tua, jika anak kalian jatuh cinta, maka nikahkanlah!! Atau mereka akan jadi penyair”. Dan bapakku mungkin saja menangkap gelagat itu. Waktu2 semua obrolanku jadi terasa lebih filosofis, atau setiap patah kata yang jumpalitan dari mulutku tiba2 terasa seperti syair pujangga melayu. Ini alamat yang sudah terlalu nyata.
Ini, coba kalian lihat jari tanganku, kuku jariku ini, sepuluh-sepuluhnya masih berwarna orange aneh. Inai…pacar…kalian tahu kan itu? Begitulah pengantin baru di sumatra sana diperlakukan, dibubuhi tanda di kuku jarinya, mungkin biar setiap kali kau mengetik di laptopmu maka inspirasi yang akan muncul adalah seputar dirimu dan pernikahanmu karna warna orange menari-nari terus diatas tuts keyboard.
Aaah…..itulah ya, ternyata baru sadar bahwa aku sudah berusia, tubuh kita menua dengan cepat, tapi kedewasaanku seperti tumbuh dengan lamban. Setelah sempat seperti kapal yang berlayar tanpa panduan arah, sekarang mungkin sudah saatnya aku membaca lagi bintang2.
Aku jadi ingin tergelak sendiri, padahal dulu semenjak baru saja aku tamat SMA dan memutuskan untuk bimbel di jogja, akulah yang paling getol dengan visi menikah. Kuambil sebuah kotak kardus kecil, dan kuberi label “sumbangan amal untuk pernikahan” kubolongi bagian atasnya dan komplitlah sudah kotak itu menjadi semacam tabungan. Rekan satu kontrakan semua tergelak berguling-guling.
Masa2 yg luar biasa. Setiap hari aku dan rekan2 menyusuri selokan mataram yang membelah jogja. Duduk2 di pematang sawah yang hijaunya masih hijau muda. Lebih memilih berjalan dibawah terik sengat mentari jogja siang2 ketimbang naik bus, demi menghemat receh dan mencemplungkannya kedalam kotak yang tadi kubuat. Setiap hari belajar sampai larut malam nian.
Letih….tapi tak pernah rasanya aku seriang itu. Rencana2 memacu hidupku berderap cepat dan energik. Lulus SPMB, dan menikah sambil kuliah, itulah target yang kutulis besar2 di buku agenda.
Meskipun pada akhirnya gagal aku masuk universitas tertua di indonesia itu, kampus terbesar di jogja itu, tapi Tuhan kirimkan aku belajar di tempat yang lain lagi. Cerita yang lain lagi. Dan tentu saja tidak mungkin aku menikah sambil kuliah, karna satu dan lain hal, maka takdir sekali lagi berjalan dengan seni yang paling rapih. Tak bisa ditiru dalam rencana-rencana kita ini.
***
Kita harus punya tujuan kan, kawan? Entah itu untuk berapa masa kedepan sana, atau tujuan yang dekat2 saja. Tapi aku sempatlah juga berasa seperti orang yang telat kuliah, aku termasuk yang gelagapan lalu kasak-kusuk tanya bangku kiri kanan.
Masih banyak yang harus aku pelajari dan catat. Entah bagian yang mana baiknya aku potong2 dan ceritakan ke kalian. Tapi sebentar lagi aku sepertinya sampai di lokasi pemboran. Warna hijau pohon2 akasia dari tadi sudah seperti receptionist hotel. Berbaris rapi dan tersenyum sangat formil. Pasti sudah sampai, firasatku mengatakan begitu.
Mobil ranger memutar di jalan berdebu yang barusaja digiling-giling buldozer. Aku turun sempoyongan memanggul tas ransel besar. Biasanya yang akan aku lakukan adalah langsung menuju kamar dan membulati kalender. Ini hari pertama, masih berapa hari lagi aku disini. Tapi bagiku sekarang ini seperti mu’jizat. Kerja bagiku kini agak lebih dari sekedar barter keringat. Aku senang dengan sensasi waktu merasa begitu banyak karunia jatuh berkeping-keping dari langit. Lalu aku tertawa pelan karna sukses juga aku menahan muntah dari tadi. Lalu kutarik nafas menikmati hawa segar udara hutan dan asap mesin diesel yang bercampur. Lalu melihat orang mengangkat pipa2 besi, melihat mesin2 besar bergemuruh dan jalan berguncang-guncang, menara pemboran tinggi menjulang menutupi bulan sabit yang redup dibalik awan yang diseret-seret angin. Aku tersenyum dengan lengkungan paling simetris, karna aku tahu sekarang sudah ada yang menungguku dirumah kontrakan kecil jakarta timur sana. Bekerja sekarang sudah sedikit punya arti.
Begitulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan.
Sudah dulu ya, kupanggul dulu tas besar ini ke kamar. Kepalaku masih sedikit pusing, maka tolong maafkan ceritaku yang berputar-putar.
Add comment November 13, 2009
lima puluh ribu rupiah

Mengunyah dengan perlahan di bangku paling pojok warung tegal pinggir jalan, di siang hari yang melelehkan keringat. Aku halangi piring nasi itu dengan sesisir pisang ambon yang sudah hilang beberapa biji. Sambil berharap-harap bahwa tidak satu teman jua yang bakal mencuri-curi lihat, apa gerangan yang kupilih sebagai lauk menemani nasi putih, makanan pokok kita dari kecil itu.
Dari sudut bangku warung tegal itulah aku mulai lagi sebuah cerita flash back, bahwa kehidupan itu terkadang naik terkadang turun itu benarlah ternyata, beginilah awal mulanya, kawan.
*********
Seperti yang rata-rata orang sudah mafhum benar, bahwa menyesuaikan diri untuk bisa akur dengan suasana dan lingkungan baru kita adalah sangat sulit. Lama prosesnya.
Waktu itu aku baru saja menyelesaikan studiku. Empat tahun lebih satu semester. Masa kuliah yang tertatih-tatih sudah aku tempuh, dan segera setelah selesai wisuda itu aku mendapatkan pekerjaan.
Inilah tantangan bagi umumnya sarjana di tempat kita. Bahwa rentet gelar belakang nama tidaklah selalu sama dan sebangun dengan peluang kerja yang kita terima. Tapi syukurlah ternyata nasib sedang dalam kurva yang menanjak, aku lulus dan sesegera itu pula aku dapat tempat kerja.
Aku harus sesegera mungkin pindah ke jakarta. Dari Bandung –tempat aku menghabiskan empat tahun satu semester bergelut dengan banyak mata kuliah- aku kemasi barang-barangku dengan perasaan yang kurang nyaman. Kenyataan bahwa aku gembira karna akan memulai fase hidup yang baru, dan kenyataan bahwa aku termasuk cepat mendapatkan pekerjaan, tentu saja sangatlah membuatku bergairah. Tapi masa-masa adaptasi selalu menyiksa buatku. Selalu menghantui fikiranku akan ketakutan-ketakutan tidak beralasan. Jakarta………. Nama itu entah bagaimana terasa agak kurang nyaman.
Waktu itu aku ingat nian, uang di tangan tinggal kurang lebih seratus ribu. Was-was benar aku berfikir, bagaimana aku bertahan hidup di jakarta dengan uang sejumlah ini? Ongkos, makan, biaya kosan? Tapi bukankah tidak ada yang lebih berkuasa menuntaskan segala-galanya ketimbang Dia yang seperti angin melambaikan daun-daun, dan menerbangkan takdir kita ke tempat-tempat yang kita –demi apapun- tidak pernah bisa duga.
Kupasrahkan jua nasibku pada yang Maha Menentu. Maka dengan tekad yang sudah bulat, pada suatu siang yang panas membara, pergi juga aku ke jakarta. Kubawa serta satu koper barang yang kupaksa-paksa jejalkan semua bawaanku kedalamnya.
Singkat kisah tibalah aku di jakarta pada akhirnya. Inilah flashback kebingungan pertama. Mana ada lagi di area jakarta kosan dengan harga kurang dari seratus ribu sebulannya? Kosan termurah sekitar area kantorku waktu itu adalah seharga 350 ribu sebulan.
Kiriman orang tua belumlah lagi sampai, meminta uang lagi rasanya sudah malu benar. Sedang titelku sekarang adalah pegawai baru, yang merasakan bagaimana itu rupanya terima gaji saja belum pernah. Hari pertama ke kantor pun belum jua aku cicipi.
Darimana uang untuk bayar kosan?
Tidak habis akal, aku. Benarlah kata para ahli psikologi bahwa dalam skala tertentu, stress itu bisa memacu kreatiivitas. Dengan sopan aku jalankan sebuah lobi tingkat tinggi kepada empunya kosan. Kukatakan bahwa aku adalah seorang pegawai baru yang sebentar lagi akan memasuki masa training. Aku tidak tahu kapan training akan dimulai, tapi dalam prediksiku pastilah tidak sampai seminggu lagi. Kuserahkan uang 50 ribu ke tangan sang ibu, dan aku berkata anggaplah uang itu sebagai balas jasa untuk aku menumpang nginap berapa malam. Andaikan nantinya aku terpaksa menginap lebih dari satu minggu, aku akan menggenapkan sisanya untuk biaya kosan satu bulan.
Ibu kosan baik itu mengangguk. Dan jadilah aku simpan koper penuh barang itu di sebuah kosan sempit dan panas pengap.
Masalah penginapan teratasi. Tinggal sekarang adalah bagaimana aku bisa bertahan di sini? Dengan uang yang tinggal berapa puluh ribu. Dan waktu gajian sudah kuhitung berkali kali ternyata memang masihlah sangat lama.
Hari-hari kerja dimulai. Setiap pagi aku nikmati perjalanan ke kantor. Tak percaya rasanya bahwa aku sekarang adalah seorang pekerja kantoran. Dengan dandanan sedikit beda dari anak kuliahan. Mengenakan kemeja lengan panjang dengan sedikit lintingan di lengannya, sepatu rapih dan celana bergaris bekas setrikaan. Lalu di leherku menggantung kalung badge id card yang multifungsi. Penanda status dan sekaligus kartu ajaib pembuka pintu gerbang tebal kantor luarbiasa itu. Euforia kantor baru sudah cukup jadi penghibur bagiku untuk melupakan sedikit kesusahan. Sejak pagi hari aku akan mulai melupakan kenyataan bahwa aku sekarang sedang kesusahan keuangan, begitu terus beberapa jam sampai waktunya makan siang.
Setiap hari juga aku dan rekan-rekan sepenanggungan yang baru diterima bekerja pergi ke warung tegal pinggir jalan. Dan setiap hari pula aku nikmati menu yang sama, ikan teri dan sayur. Itu saja tidak lebih.
Tiap hari lagi-lagi aku ambil bangku deretan paling pojok, kuhalangi piring makan siangku dengan gelas besar, tempat tissue, atau sesisir pisang ambon yang di hidang di meja warung. Bukan rendah diri rekan-rekan, hanya saja agak tak enak hati rasanya, saat semua makan dengan menu yang empat sehat lima sempurna sedang aku hanya makan dengan lauk seadanya. Aku tak ingin rekan-rekan yang lain merasa iba.
Begitulah hari-hari berhasil kulalui dengan penghematan luar biasa. Tapi sehebat-hebatnya aku menghemat, tidaklah mungkin lagi uang recehan yang tersisa itu bisa aku gunakan untuk bertahan hingga akhir bulan.
Dengan berat hati, aku malu-malu meminjam uang kepada seorang kawan yang baik. Dipinjamkannya aku limapuluh ribu. Itulah penyambung nyawaku.
Tiap pagi aku jalani rutinitas dengan baju kemeja rapih dan masuk ke kantor mewah. Bertemu dengan orang-orang pintar dan penuh percaya diri. Menghadiri meeting dengan bahasa para bule bermata biru. Untuk kemudian istirahat siangnya nanti aku menyudut di pojok warung penuh sesak dan makan siang dengan menu tidak sehat tidak sempurna.
Tapi entah kenapa aku merasa bahagia. Bukan karna aku sekarang bekerja dan gaji akan segera turun beberapa hari lagi, tapi karna menyadari bahwa ditengah coba dunia yang menusuk-nusuk itu aku masih berdiri tegak. Masih tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa sungguh tak ada arti kesusahan ini dibanding banyak kawan yang cobaan hidupnya tak terperi. Yang lebih merantai melilit. Yang lebih menyayat-nyayat. Yang macam-macam
**********
Setiap hari, adalah masa-masa menegangkan.
Dengan kawan baik yang meminjamkan aku uang tadi, tiap hari kami hitung dan tandai kalender tergantung di dinding kamar yang sama sekali tidak rapih. Sudah sekian hari lagi berlalu berarti sekian hari lagi gajian akan tiba.
Hingga suatu ketika di akhir bulan waktu dua tahun yang lalu. Sore hari menjelang maghrib saat matahari masih bersinar setengah dan hampir padam setengah, aku meloncat-loncat di ATM sebelah kantor demi melihat nominal saldo di rekening bank-ku melejit berapa digit.
Malam itu aku makan empat sehat lima sempurna, kawan.
***********
dan di siang hari yang sejuk waktu itu, aku kembalikanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepada teman yang menyelamatkan sisa hariku dulu.
Tiba-tiba dengan pelan dia bercerita. Beberapa minggu yang lalu, katanya pelan, saat aku meminjam uang padanya sebenarnya dia hanya punya beberapa puluh ribu saja. Tapi karna menduga bahwa aku pastilah lebih membutuhkannya, maka dengan ikhlas dipindah-tangankanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepadaku.
Aku tertegun dan menggelengkan kepala. kepadanya aku kirimkan salam. Salut yang teramat untuk kebaikan yang sangat.
Karna ternyata rekan-rekan, ada seorang lagi yang menunya tidak empat sehat lima sempurna di sudut warung waktu dulu itu.
5 comments Juni 1, 2009
Tuma’ninah

Duhai Yang Membangkitkan Gelora, izinkan kami untuk tertambat kuat pada rahmatMu yang tidak pernah putus.
Kami tumbuh dan besar satu ritme dengan bumi yang berputar cepat, dengan matahari yang timbul tenggelam, dengan malam siang yang pergi lalu datang, dengan panas yang digeser gerimis yang mensalju di berapa pojok-pojok, dengan belukar yang menjulang tinggi kekar lalu merangas rapuh diganti tunas yang bersemi hijau muda.
Tapi hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.
Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang mengisi bilik-bilik kami dengan jelaga, yang menanam dosa yang merumpun bambu, lalu tumbuh selayak gulma yang menjalar bersulur-sulur.
Sekali waktu pernah juga kami bersujud, dalam tunduk yang sama sekali tidak tuma’ninah, lalu beringsut buru-buru tak karuan seperti syurga sudah kami kavling seperempatnya.
Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang bertingkah bijak selayak nabi, lalu menari-nari belingsatan atas sejumput puja-puji yang tidak sekuku hitam layak kami terima.
Tingkah kami selalu saja seperti sudah paripurna menamatkan madrasah ilmuMu, kami nasehati orang lain dengan suara halus yang mencela sampai ke ubun-ubun.
Padahal hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.
Lalu pada suatu malam yang berhujan rintik, pada waktu dimana kami kadang-kadang sadar. Kami sempatkan sejenak untuk merangkai doa. Yang jujur, yang seadanya, bahwa kami tidak akan pernah bisa lepas dari semuanya tanpa Engkau melonggarkan ikatannya.
(picture taken from here)
4 comments Mei 7, 2009
orasi sandal


Postulat dunia pengeboran, kawan-kawan yang saya hormati, adalah “all day is just a day”. Tidak pernah ada hal spesial yang membuat suatu hari kita maknai lebih dari hari yang lain. Tidak ada bedanya hari minggu dan senin, sebegitu juga berlaku untuk selasa dan sabtu misalnya. Tentu saja kadang-kadang ada waktu-waktunya dimana hari terasa agak semarak, semisal hari raya atau tujuhbelasan, tapi tetap, pengeboran terus dilakukan, tak ada berhenti, tak ada tapi.
Dalam dunia yang ricuh semacam ini -sebenarnya juga dalam dunia kerja pada umumnya- kita menjadi manusia yang bingung. Karna perlahan betul, pekerjaan yang kita lakoni itu dengan tak terasa membelenggu kita. Tiap hari kita bergelut dengan waktu dan segala macam kesibukan sampai kita tidak lagi tahu kemana kita berlari, kenapa tiba-tiba ritme kita begitu cepat? Kenapa kita lantas belingsatan tak karuan mengerja begitu banyak hal, terpusingkan dengan segala macam, dan menjelma kurcaci kerdil bermental temperamen.
Untunglah, di tempat ini, di anjungan pengeboran tepi laut yang menghabiskan waktu 2 setengah jam speedboat menyusur tepian delta untuk mencapainya, masih ada ruang sempit satu kali satu meter. Ruang yang kami beri nama Musholla.
Kami sudah terbiasa, berjejal didalamnya. Disinilah kami menenangkan diri sejenak, dan merasa seperti ter-teleport bermil-mil jauhnya, ke sebuah negri damai pada kala senja, sambil menggenapkan sujud dengan tuma’ninah dan menikmati kesadaran bahwa hidup kami ternyata tidaklah terputar-putar memuakkan sekeliling dunia saja.
Aku ingat betul, setiap kali aku dihadang masalah kompleks yang pelik, setiap kali kebuntuan menyumbat ide-ide, atau setiap kali resah hinggap dengan tiba-tiba, aku selalu masuk kedalamnya. Berdoa dengan rendah suara, meminta dengan menghamba, biar Yang Maha Perkasa diatas sana mengeluarkan aku dari lumpur yang menyedot kita kedalam pusarannya yang abstrak itu.
Setiap kali aku sholat di dalam musholla kecil itu, aku tinggalkan sandalku diluar. Begitu juga yang berlaku untuk sesiapa saja.
Lama-lama, aku mulai bisa mengetahui siapa yang sedang bersujud didalam ruang sempit itu, siapa yang sedang mengadu di kotak satu kali satu itu, siapa yang lagi berkeluh di surau seadanya itu, hanya dengan melihat sandalnya.
Lama-lama sandal menjadi semacam saksi bisu. Sandal telah dengan sangat pandainya menjadi pemain penting dalam drama pencarian panjang makna hidup.
Hari itu aku mengantri di depan musholla. Menunggu kawan yang bermunajat cukup lama di dalamnya. Tak enak hati rasanya aku mengganggu orang yang sedang berbincang dengan Tuhannya, lalu untuk menghabiskan waktu aku mengamati saja sandalnya.
Alangkah beruntung sandal itu? Dimiliki oleh seorang yang menyingsingkan lengan bajunya untuk berwudhu. Lalu melepaskan diri dari segala sibuk dunia yang melekat seperti minyak mentah, hitam dan lengket.
Sandal itu telah dibawa takdir untuk menopang kaki –mungkin bapak dari anak-anak yang beruntung, suami dari istri yang terpercik rezeki ketenangan hati, anak dari orang tua yang terkirim doa-.
Kupikir nanti di syurga sana, mungkin sandal itu akan menjadi seperti pembicara ulung, berorasi dengan retorika mengalahkan hittler dan soekarno, bercerita bahwa betapa empunya dulu meninggalkan sejenak pipa-pipa yang berputar cepat menembus lubang ribuan meter seharga triliunan rupiah.
Nantinya mungkin sandal-sandal lain di syurga akan iri, ini luar biasa pikir mereka, betapa nantinya sandal itu ditempatkan mungkin setara dengan sepatu lars para syuhada, yang dulu hancur dihantam mortir atau diberondong desing peluru tajam yang berputar dan menikam dengan beringas.
Tapi itu nanti. Sekarang sandal itu masih disitu. Tersusun rapih di depan pintu, ada air di sela-selanya. Dari sepanjang tangga aku baca jejak langkahnya mengular panjang belum hilang.
Tiba-tiba sepasang kaki perkasa menyorongnya. Bapak tua itu tersenyum ramah dan membukakan setengah pintu untukku. Lalu seketika aku ingin meninggalkan sandalku di depan sini tengah malam nanti.
4 comments Mei 5, 2009
labirin

Pagi selalu saja dingin dan menusuk, memberikan aura perenungan yang dalam dan tak terganggu, hening yang terlampau, lalu seperti nyata kita mendengar bunyi denging yang mendengung di telinga, lalu masuk ke hati dan fikiran, sampai-sampai tak sanggup kita menahan Tanya yang berputar-putar tentang makna hidup, arah jalan, dan kemana-mana kaki sudah kita langkahkan kemarin-kemarin itu?
Setiap subuh, kupintakan dengan sangat, untuk dapat dianugerahkan mata yang bening dan teduh, yang bisa melihat sampai ke balik-balik makna, tentang mana yang baik di akhirnya mana yang buruk di akhirnya.
Kupintakan juga jiwa yang lapang sesamudera, untuk menampung segala keluh kesah apa-apa, segala letih penat kita, segala banyak coba dunia yang merantai menyeret-nyeret, maka biarlah semua tenggelam dalam genang yang tiada bertepi.
“mohon cukupkan hari kami ini untuk selalu merasa diliputi berjuta nikmat yang menggelontori, yang mengalir sejuk melewati jengkal demi jengkal tubuh, meresap pelan lewat pori, mensenyumkan bibir, mata dan hati kami ini dengan bahagia yang tak alang kepalang.
Sekian banyak hari sudah kami lalu ya Rabb, jangan biarkan nafsu bodoh kami ini menjadikan kami berputar-putar dalam labirin yang kami buat sendiri, sementara jalan indah menuju bahagia itu selalu lurus menujuMu, kami ini tak kepalang senang nian menikung.
Bagaimana kami harus melolong? selagi terlalu senang kami untuk terpukau tertipu, tidak mungkin kami menjerit saat kami kira kami suka ria. Inilah kami duhai yang maha membimbing, wahai yang menunjukkan pilihan disetiap tikungan-tikungan, wahai yang memberi tanda di setiap persimpangan, kami begitu bodoh dan tersesat sekusut masai yang tak lagi bisa kami urai.
Tuhan…………………………………………
kemarin dulu-dulu itu, kami terlupa setelah tafakur pagi, maka izinkan kami tetap tunduk dan terjaga ini hari, hingga siang nanti tiba, sampai senja menyorong gulita, sampai nanti tiba masanya.
5 comments Maret 31, 2009
terlambat bahagia

Tadi sore, aku mengingat-ingat, kira-kira ada berapa kali dalam hidup ini – hingga sekian puluh tahun usia berbilang ini- aku mengalami hari-hari yang penat dan menggrogoti semangat yang harusnya kokoh menjulang.
Rupanya, kawan, hampir dalam setiap perguliran malam menelan siang dan berulang lagi siang muncul menggeser gulita, aku mengalami ribu-ribu macam masalah.
Ternyata, baru sore tadi juga aku sadar dan berhasil memetakan sebuah ihwal maha penting dalam perjalanan hidupku, bahwa masalah terbesar kita hingga hari ini sepertinya adalah kita terlambat bahagia.
Harta kita tak semelimpah mereka, maka kita tidak bahagia.Dulu pas kecil tidak juara, kita tidak juga bahagia. Kurang kawan, kita tidak bahagia. Banyak kawan banyak konflik, tak kunjung juga kita bahagia. Waktu kuliah hampir-hampir mati kita putus asa mengerja setiap kewajiban yang merantai melilit-lilit, selesai kuliah hampir mati lagi kita dibuat kerja yang rutin berulang ulang ulang ulang, ini dejavu… kata kita.
Rupanya, kawan, itulah masalah kita, ketololan kita yang berkarat-karat itu menutupi hati kita sampai-sampai tidak lagi percaya janji pagi yang pasti datang setelah pekat malam. Sampai lupa kita, pontang-pantingnya Bapak Ibu kita membesarkan kita sampai sebegininya, itu bukti lebih dari nyata bahwa mereka bisa menghadapi aral macam apa juga, maka kita haruslah juga bisa. Sampai lupa kita bahwa besok, lusa, besoknya lagi dan tahun-tahun di depan kita itu, pasti ada saja masa-masa mengiris, yang sunyi hening menohok, menggrogoti semangat kita yang nyata-nyata sudah renta sebelum masanya.
Jadi ingat kata orang-orang tua dulu, bahwa siapa saja yang mencoba mencari kebahagiaan dari luar dirinya, akan selalu mendapati kebahagiaan itu milik orang lain.
Kalau sekarang, esok, lusa dan berapapun dasawarsa didepan sana masalah akan masih juga ada, jadi kapan kita bahagia??
Janganlah kita terlambat lebih lama kawan!!!
Setelah tersadar tadi sore, maka aku beristighfar dalam, dan memulai bahagia.
5 comments Februari 12, 2009
mimpi

sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna. Jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.
Itulah masalahnya, selama ini hidupku mengalir sebagaimana alir sungai, aku mengikuti saja alurnya, kulakukan apa-apa saja seperti yang kebanyakan orang lakukan saat mereka menginjak fase yang sama denganku. Orang kuliah, ya aku kuliah, orang lulus ya aku lulus, orang kerja ya aku kerja….. jujur, sumpah mati begitu. Terlihat sangat tidak membara dan kurang greget, tapi ya bagaimana lagi, begitulah adanya.
Sampai suatu ketika, dalam suatu hari, dalam perjalanan panjang hidupku yang mengalir sampai sekarang itu, aku tiba-tiba tersentak oleh sebuah kesadaran yang menyeruak tiba-tiba, tanpa katalis macam apa, tanpa alasan apa-apa, aku sadar, bahwa sebuah cinta maha indah telah menuntunku dengan sangat rapih, untuk mengalir pelan dan sampai ke muara.
Segala bentuk syukur bentuk puji kuucap sayup dan lantang, untuk “keajaiban” yang mempertemukan aku dengan kawan-kawan yang membagikan semangat dan mimpinya, hingga jadilah aku, sampai saat ini adalah orang yang hidup dan tumbuh besar atas cipratan mimpi-mimpi mereka.
Sewaktu SMA, alhamdulillah, Tuhan izinkan untuk aku belajar diantara teman-teman yang aku tahu betul kapasitas intelektual mereka itu mencuat-cuat tak dapat dibendung, jadilah aku ikut-ikut juga belajar sampai terengah-engah untuk sedikit saja berupaya mengikuti ritme orkestra mereka yang luar biasa cepat itu. Mereka lulus, aku lulus, mereka kuliah aku kuliah.
Waktu kuliahpun begitu, silih berganti Tuhan pertemukan aku dengan semua orang yang berapi-api semangatnya, yang tak kurang-kurang perjuangannya, yang mimpi-mimpinya itu mereka gantung di langit yang paling ujung, menggantungnya saja sudah membuktikan mereka layak mencapainya.
Selalu begitu, mereka bermimpi, lalu berjuang sampai putih tulang mereka itu terlihat, lalu berjalan terus sampai keringatnya itu bersimbah tak karu-karuan, kukejar mereka sekencang-kencangnya, mereka lulus aku lulus, mereka bekerja aku bekerja.
Sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna, jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.
Maka itu, hari ini aku sudah memutuskan untuk berani bermimpi, anggaplah ini sebagai sujud syukur yang khidmat, atas segala karunia yang berhamburan menghujaniku dari puluhan tahun lalu, atas segala cerita kehidupan yang tersulut dan membara berkobar-kobar oleh nyala mimpi semua orang luar biasa itu.
Akan kubangun sebuah rumah mungil, dipuncak bukit menghadap lembah yang kabutnya melayang-layang tipis itu, lalu meskipun sedikit telat nantinya akan kuucapkan juga sebuah janji dengan kata yang paling sungguh, kan kupesankan anak cucu kita nanti untuk menjelma pribadi yang punya mimpi, yang baik, yang mulia.
Mereka bermimpi………
Kita bermimpi……….
*) images taken from google
7 comments Januari 13, 2009
masih saja…

Sampai saat ini, dua kali aku melihat ibu menangis.
Pertama adalah waktu Bapak dipindah tugaskan ke Bengkulu, sebelumnya kami tinggal di sebuah tempat terpencil di pelosok, kabupaten di pinggiran bengkulu. Sebenarnya pindah ke kota semestinya jadi sebuah berita gembira, tapi tidak untuk pasangan baru yang sedang menanti hasil panen palawija yang ditanam dengan perjuangan setengah mati, setiap hari membersihkan padang rumput ilalang yang menutupi hektar tanah hutan rimba, membabat pohon2 tinggi besar, menanam, menyiram, dan segala sesuatunya sendiri, hingga tiba waktunya menunggu panen kami sekeluarga dipindahkan. Harus!!! tak ada ulur-uluran waktu.
Singkat kata kami berkemas, waktu itu ibu belum menangis. Seingatku Bapak dan Ibu itu sangatlah kekurangan dalam banyak hal, uang ditangan sudah habis untuk modal berkebun, panen masih menunggu minggu sedang perintah pindah sudah di depan mata, lantas apa modal untuk pindah?
Dengan luar biasa berat, mas kawin Ibu -tanda cinta mereka berdua itu- dijual, disitulah aku pertama kali melihat ibu menangis.
Kali kedua aku melihat ibu menangis adalah setiba kami di bengkulu.
Kami mengontrak sebuah rumah kecil, sebegitu kecilnya hingga pintu depan dan pintu belakang rumah hanya dipisahkan berapa langkah kaki saja. Tapi hidup harus terus berjalan. Perlahan kami merasa betah, tahun bergulir dan berganti cerita, rumah kontrakan ternyata dijual oleh empunya tanpa pemberitahuan. Sang pemilik baru, berniat membangun kembali rumah yang sedang kami kontrak, tanpa banyak basa-basi segala material bahan bangunan ditumpuk di depan rumah, pagar2 dicabut, apa yang bisa dibongkar dibongkar, sungguh tak sopan, padahal sungguh kami masih ada disana dan masih berhak disana, kami merasa diusir dan dilecehkan. Dan itulah kali kedua aku melihat ibu menangis.
Kami pindah lagi untuk kedua kalinya, kalau kepindahan pertama adalah kepedihan karna harus meninggalkan semua usaha yang telah berbulan-bulan dikerjakan, maka kepindahan kali ini adalah kepedihan karna merasa jadi orang terpinggirkan, nilai sebagai manusia sudah terhempas sampai titik yang serendah-rendahnya, Bapak marah luar biasa, tapi tak ada yang bisa dilakukan, kemarahan dan kesedihan yang mengendap itulah yang memacu Bapak untuk segera mendirikan rumah, rumah kami sendiri.
Tapi apa yang bisa dijadikan modal untuk membangun rumah? Kami keluarga yang sedang-sedang saja, dalam bulan-bulan tertentu kami bisa kekurangan, hampir tidak pernah lebih. Dengan modal nekat bapak membangun rumah, membangun fondasi sendiri, mengangkat batu2 kali sendiri, menegakkan tiap butir bata sendiri, merangkai tiap besi sendiri, merakit jendela dan pintu sendiri, menggali sumur sendiri.
Setiap bulan Bapak dan Ibu menghemat uang untuk membeli semen dan pasir barang satu sak barang setengah gerobak, lalu menempelkannya di sudut rumah, dipinggir pintu, dimana-mana saja yang dapat ditempel.
Itulah rumah kami, kebanggaan bahwa kami sekarang sudah berdiri diatas kaki kami sendiri benar-benar menyulut, maka kami begitu riang ketika tinggal di rumah yang berlantai tanah, berlampu teplok, jendela dari kayu yang dipaku-paku tak karuan, dinding bata merah, dan atap yang tak berpelapon. Setiap hari kami berkumpul di ruang tengah, bercerita banyak hal, kami kerubungi lampu teplok kecil itu seperti anak ayam yang mengerubungi induknya. Tapi ingat teman, kami bahagia.
Perlahan kehidupan seperti roda pedati yang berputar, fase susah payah itu nyata-nyata dengan susah payah kami bisa tempuh, ekonomi membaik, rumah semakin layak huni, lampu teplok kami berganti neon yang menyala terang, lalu kami berkumpul di teras rumah, mendengarkan cerita Bapak yang mendongeng seperti dalang.
“itulah nak, Bapak ceritakan ini semua bukan untuk kita larut dalam romantisme duka, tapi semata buat kita berkaca, bila suatu ketika nanti kita jaya, ingatlah setiap jenak duka cita yang dulu pernah kita lewati sama-sama. maka bersyukurlah!!”
********
Tiba-tiba aku merasa benar2 kecil dan congkak, sedemikian banyak nikmat yang menghujani kita bersambung sambung sedang kita masih saja susah bersyukur, masih saja………….
9 comments November 12, 2008
delapan belas tahun

Delapan belas tahun, sejak Bapak memutuskan untuk membangun rumah sendiri, dengan tangan sendiri, keringat sendiri, menegakkan bata demi bata, mengangkat berkarung karung semen, merangkai kayu mengayu, dan mengatapi jengkal demi jengkal pucuk rumah.
Delapan belas tahun itu juga kami tempati rumah sederhana itu dengan segala suka segala dukanya, rumah itu sudah cukup setia menemani aku tumbuh besar dan berkembang dewasa untuk berani bercita-cita sejauh-jauh mata bisa menerawang.
Hanya satu kekurangannya, rumah itu, bagian depannya tidak memiliki teras.
Pembangunan rumah terpaksa dibekukan, hibernasi yang panjang, aliran rezeki berpindah alur dari rumah menuju kampus di pinggir jalan lintas bandung sumedang, kampus tempat aku belajar banyak hal, tempat dimana Bapak dan Ibu mengajarkan padaku bahwa orangtua adalah penjaga tangguh luar biasa, yang tidak sekalipun membiarkan mimpi2 kita itu untuk runtuh atau doyong, seberapapun harga yang harus ditebusnya.
Setelah delapan belas tahun yang panjang, barulah aku memiliki kemampuan untuk meneruskan kerja berat Bapak dan ibu dulu, membangunkan rumah kecil itu dari tidur panjangnya, dan menambahkan sebuah teras mungil menghadap ke barat, menghadiahkan mereka waktu-waktu berharga untuk berselonjor menikmati semburat ufuk merah tembaga.
********
Suatu malam yang tenang, Bapak, ibu dan adik2ku berkumpul di teras mungil depan rumah lalu saling bercerita banyak hal.
Terlambat……
baru malam itu saja aku benar-benar sadar, bahwa hidup yang kita lakoni jungkir balik di dunia yang berputar cepat ini akan tidak berarti sebelum kita memberi arti. Bahwa harga kita sebagai manusia sama sekali tidak diukur dengan jumlah toga, rentet gelar dibelakang nama, saldo deposito kita, atau karya-karya besar mendunia.
Kita ini seperti terlampau cepat berlari, setengah mati kita pacu langkah tanpa tahu kemana kita menuju. Kita pergi bermil-mil jauhnya, kita sebrangi banyak selat banyak samudera, setengah mati kita mendaki setiap yang terjal lalu menuruni setiap yang melereng, kita mau kemana????
Payah kita membolak balik lembar buku-buku tebal, sekian guru tempat kita bertanya, sekian teman tempat kita berkeluh, masih juga kita tak terang kemana kita semestinya.
Delapan belas tahun baru bisa pelan-pelan aku mengeja, bahwa semakin banyak kebahagiaan bisa kita derma, maka semakin bahagia pula kita.
Lalu juga, pada suatu malam yang berhujan rintik, kutuliskan cerita ini dari pinggir rumah tua, untuk semua saudara yang mencari arti mencari bahagia, tolonglah…… jangan habiskan delapan belas tahun dengan sia-sia.
Padahal kebahagiaan kita itu semestinya terserak-serak di pinggir-pinggir rumah kita, bertumpuk-tumpuk sudah tak kita sentuh dari dulu-dulu sekali.
3 comments November 12, 2008
arti

Suatu hari aku membeli sebuah buku lama, kumpulan tulisan soekarno. Buku itu sudah dekil sekali, kertasnya menguning dimakan hari-hari, jilidannya sudah terlepas-lepas, tenaganya cuma cukup menghimpun lembar kertas-kertas tua itu beberapa puluh tahun saja.
Hampir mustahil, menemukan buku itu di toko buku manapun di pulau jawa ini, memang itu buku langka.
Sebenarnya aku sama sekali bukan penggemar pak karno, tapi buku-buku tua selalu menarik minatku, apalagi buku itu ditulis dengan bahasa sastra lama yang indah dan konteks sejarah yang zaman perjuangan itu seperti membakar, setiap kali aku membaca, aku merasa lebih muda lima tahun.
Dari dulu, aku selalu berusaha mencari-cari mutiara kebaikan yang bisa kita ambil dari sesiapa saja. Buku tua itu, dalam salah satu halamannya, memuat surat-surat pak karno kepada para sahabatnya. Apa yang menarik dari sebuah surat? yang membuat surat itu menjadi begitu bernyawa adalah karna surat itu ditulis oleh beliau dalam masa tahanan, dari balik jeruji besi, dari balik tembok yang hampir satu meter tebalnya, penjara yang memasung seerat-eratnya kebebasan fisik siapa saja yang dipendam didalamnya.
dari kesendirian yang pahit, dibalik terpa siksa yang memalu dan mencincang itu, orang-orang besar tidak pernah terpasung pemikirannya. Soekarno, Hamka, Bukhari, dan banyak lagi orang-orang besar itu membuat kita malu dan mengutuk-ngutuk kelemahan jiwa kita sendiri. Mereka, sekali-kali tidak pernah berhenti memberi arti!!
Aku menunduk dan setengah mati beristighfar. Bukankah hal terhebat yang sampai saat ini kita lakukan adalah menjadi orang biasa saja???
Lama aku menerawang, itulah mengapa buku-buku tua memberi sentakan yang berbeda, seperti menembus dimensi ruang dimensi waktu, lalu kita bertemu dengan para bijak para cendikia, lalu mengangkat muka dan kepala saja malu tak alang kepalang rasanya.
Rasa malu dan terbakar hebat seperti inilah yang membuat aku bertekad, dalam kesendirian macam apapun juga, dalam belenggu setebal sekeras apa juga, aku akan tetap “menulis” dan menyampaikan sesuatu.
Itulah penyulut banyak sekali email yang kukirimkan pada teman-teman disaat-saat senggang, sekedar berbagi cerita dan kebijakan, yang dengan tulus aku tak hiraukan pesan itu mereka baca atau simpan.
Itulah penyulut puluhan sms yang begitu seringnya kukirimkan untuk kawan-kawan di sebrang.
Itulah penyulut artikel-artikel kecil tentang banyak kebijaksanaan yang kupulung dari orang-orang.
Itulah penyulut perbincangan senja hari di tepian pantai, menasehati dengan pelan kepada saudara-saudara kecilku, menyemangati dan menyadarkan mereka bahwa sekali saja kita berhenti memberi arti maka kita sama saja mati.
Jikalah kapasitas orang macam kita ini tidak bisa se-menyengat surya untuk mengobarkan gelora banyak jiwa, maka cukuplah kita jadi perantara, mengajak teman dan saudara untuk sama-sama memulung kebijakan dari banyak manusia.
Sebelum waktunya kita nanti pergi, setidaknya biar berarti walau cuma sekali.
2 comments November 5, 2008

