Tulisan tulisan yang dikaitkan (tagged) religi
Tuma’ninah

Duhai Yang Membangkitkan Gelora, izinkan kami untuk tertambat kuat pada rahmatMu yang tidak pernah putus.
Kami tumbuh dan besar satu ritme dengan bumi yang berputar cepat, dengan matahari yang timbul tenggelam, dengan malam siang yang pergi lalu datang, dengan panas yang digeser gerimis yang mensalju di berapa pojok-pojok, dengan belukar yang menjulang tinggi kekar lalu merangas rapuh diganti tunas yang bersemi hijau muda.
Tapi hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.
Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang mengisi bilik-bilik kami dengan jelaga, yang menanam dosa yang merumpun bambu, lalu tumbuh selayak gulma yang menjalar bersulur-sulur.
Sekali waktu pernah juga kami bersujud, dalam tunduk yang sama sekali tidak tuma’ninah, lalu beringsut buru-buru tak karuan seperti syurga sudah kami kavling seperempatnya.
Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang bertingkah bijak selayak nabi, lalu menari-nari belingsatan atas sejumput puja-puji yang tidak sekuku hitam layak kami terima.
Tingkah kami selalu saja seperti sudah paripurna menamatkan madrasah ilmuMu, kami nasehati orang lain dengan suara halus yang mencela sampai ke ubun-ubun.
Padahal hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.
Lalu pada suatu malam yang berhujan rintik, pada waktu dimana kami kadang-kadang sadar. Kami sempatkan sejenak untuk merangkai doa. Yang jujur, yang seadanya, bahwa kami tidak akan pernah bisa lepas dari semuanya tanpa Engkau melonggarkan ikatannya.
(picture taken from here)
4 comments Mei 7, 2009
labirin

Pagi selalu saja dingin dan menusuk, memberikan aura perenungan yang dalam dan tak terganggu, hening yang terlampau, lalu seperti nyata kita mendengar bunyi denging yang mendengung di telinga, lalu masuk ke hati dan fikiran, sampai-sampai tak sanggup kita menahan Tanya yang berputar-putar tentang makna hidup, arah jalan, dan kemana-mana kaki sudah kita langkahkan kemarin-kemarin itu?
Setiap subuh, kupintakan dengan sangat, untuk dapat dianugerahkan mata yang bening dan teduh, yang bisa melihat sampai ke balik-balik makna, tentang mana yang baik di akhirnya mana yang buruk di akhirnya.
Kupintakan juga jiwa yang lapang sesamudera, untuk menampung segala keluh kesah apa-apa, segala letih penat kita, segala banyak coba dunia yang merantai menyeret-nyeret, maka biarlah semua tenggelam dalam genang yang tiada bertepi.
“mohon cukupkan hari kami ini untuk selalu merasa diliputi berjuta nikmat yang menggelontori, yang mengalir sejuk melewati jengkal demi jengkal tubuh, meresap pelan lewat pori, mensenyumkan bibir, mata dan hati kami ini dengan bahagia yang tak alang kepalang.
Sekian banyak hari sudah kami lalu ya Rabb, jangan biarkan nafsu bodoh kami ini menjadikan kami berputar-putar dalam labirin yang kami buat sendiri, sementara jalan indah menuju bahagia itu selalu lurus menujuMu, kami ini tak kepalang senang nian menikung.
Bagaimana kami harus melolong? selagi terlalu senang kami untuk terpukau tertipu, tidak mungkin kami menjerit saat kami kira kami suka ria. Inilah kami duhai yang maha membimbing, wahai yang menunjukkan pilihan disetiap tikungan-tikungan, wahai yang memberi tanda di setiap persimpangan, kami begitu bodoh dan tersesat sekusut masai yang tak lagi bisa kami urai.
Tuhan…………………………………………
kemarin dulu-dulu itu, kami terlupa setelah tafakur pagi, maka izinkan kami tetap tunduk dan terjaga ini hari, hingga siang nanti tiba, sampai senja menyorong gulita, sampai nanti tiba masanya.
5 comments Maret 31, 2009
ujung doa negri tanpa nama

Duhai Yang Maha Berkuasa
pagi ini kami jalin doa dari ujung negri-negri yang jauh. Ajarkan kami memintalnya menjadi gulungan salam yang seindah-indah kesturi.
Rendah sekali suara kami, meminta dalam doa tanpa aksara tanpa suara tanpa nada.
Semangatkan setiap jiwa yang luluh lantak nyalanya, dengan cecahaya kecil dari ujung-ujung jemari kami-kami ini.
Bangkitkan setiap cita rebah dari saudara-saudara kami di setiap negri. Muliakan mereka dari setiap kilas pandang orang-orang.
Dari setiap kesulitan mereka yang mengacak-acak ketegaran sekeras-keras karang itu, selipkan satu, dua, sepuluh, seberapa saja kemudahan di utara selatan barat timur mereka.
Doa pelan dari desir hati kami ini adalah cinta dalam diam, untuk mereka, teman dari negri tanpa nama.
2 comments Maret 24, 2009
Dari jalan yang naik dan yang turun

Tuhan hadirkan banyak hikmah dalam setiap hari yang kita lewati.
Pertemuan yang menyenangkan dengan banyak teman, orang-orang baik yang membangkitkan semangat, yang banyak sekali hal bisa kita tiru dari mereka-mereka. Atau kejadian kejadian yang menghibur dan mewarna halaman-halaman sejarah kita. Atau penghargaan yang membubungkan kita ke angkasa yang bertingkat-tingkat itu.
Menarik benar, menyadari betapa Tuhan dengan sangat bijaksananya mempergulirkan malam setelah siang benderang kita, mempersempit ruang setelah lapang kita, menelusupkan lelah setelah kuat menggelegarnya kita, mensenyapkan sunyi setelah hiruk pikuk kita.
Hari-hari selalu dibimbingnya dengan maha indah untuk mengajarkan kita arti tunduk dalam, arti syukur yang lapang, yang ikhlas, yang menerima benar atas segala naik turunnya cerita-cerita kita.
Kita ini sudah terlampau sering menangis dan ciut, bersembunyi dibalik rerimbun belukar, kita kutuk-kutuk gelap hari padahal Tuhan bimbing kita untuk jelma kesatria.
Banyak nian kita meratap-ratap nasib, kita iba-iba diri yang terseok-seok, padahal Tuhan tempa kita untuk sekeras karang sekeras baja.
Kita tanam susah duka dalam-dalam, padahal Tuhan bimbing kita untuk syukur.
Kemana lagi kita lari bersembunyi jika malam itu niscaya jika pagi itu niscaya?
Tuhan….
Syukurkan hati kami untuk setiap yang benderang.
Kuatkan hati kami untuk setiap yang gulita.
Ajarkan kami untuk percaya benar bahwa Engkau memandang kami dengan senyum, bangkitkan Jiwa kami yang ciut merangkak-rangkak ini.
Keluarkan kami dari sembunyi panjang ini.
Yakinkan kami akan setiap janji pagi yang mengintai dibalik pekat malam.
Cukupkan kami untuk memohon-mohon padaMu, ajarkan kami untuk berdiri tegak disetiap terjang topan badai.
Lalu lembutkan hati kami untuk selalu sujud menapak tanah serendah-rendah.
Telusupkan ketenangan ke dalam-dalam sumsum belulang kami ini, untuk berdiri dan mengamini doa kami tadi.
3 comments Desember 18, 2008
