Tulisan tulisan yang dikaitkan (tagged) seputar kerjaan

IBLIS TENGU

sesosok iblis bernama tengu muncul dalam mitologi jepang. Bermata merah menakutkan, rambut keemasan, badan tegap tinggi besar dan berhidung panjang.

Ingatan tentang tengu muncul tiba2 siang tadi. Setelah makan kusempatkan membuka email dan membaca surat dari kawan2. Seorang teman menyinggungnya dan jariku jadi gatal untuk menuliskannya kembali.

Meski baru seumuran jagung usia kerjaku di dunia oilfield, bisalah sedikit aku membuat kesimpulan, bahwa rata2 orang indonesia ini terlalu menganggap bule itu manusia superior. Superhuman yg dalam banyak aspek pastilah lebih unggul dibanding kita.

Aku termasuk yang berfikiran sedikit primitif begitu. Jadi jangan dulu berburuk sangka bahwa aku ini menceritakan jelek2nya orang lain, tidak, ini ceritaku sendiri.

Awalnya dari waktu wawancara kerja dulu. Aku diinterview oleh seorang bule dan seorang lagi pribumi asli. Entah kenapa, rasanya jantung ini sedikit berdegup lebih parah saat si bule melontar pertanyaan. Betapapun pewawancara yang pribumi itu lebih menusuk pertanyaannya.

Tentu saja keterbatasan bahasa jadi soal. Bahsa inggrisku masuk dalam kategori dibawah garis kemiskinan, itu memang salah satu faktor, tapi rasa2nya ada yang lebih dari sekedar itu.

Buktinya adalah, secara pelan2, penghalang besar berupa bahasa itu bisa aku atasi. Benarlah kata orang tua2 dulu kalau lancar kaji karna diulang. Sedikit2 aku bisa bercakap lancar dengan mereka, tapi dalam mindsetku susah sekali dihilangkan anggapan bahwa bule itu pastilah lebih pintar dan lebih segala-gala.

Padahal, dalam teori psikologi, bagaimana otak kita berfikir akan mempengaruhi bagaimana kita bersikap.

Setiap berbicara dengan bule maka tidak berani beradu pandang dalam2. Takut2 menjawab, mana tahu sang bule lebih paham. Setiap ada bule maka berlagak konsentrasi dan kerja keras. Dan setambun perilaku tolol lainnya.

Lha…..iblis tengu dimananya?

Setelah diteliti. Dalam mitologi jepang tadi, iblis tengu merupakan penggambaran ketakutan orang2 jepang akan orang2 eropa yang terdampar di perairan mereka waktu dulu.

Bahkan jepang, rekan2. Bangsa yg secara kasar saja kita pukul rata memiliki etos kerja yang jauh diatas kita, kebudayaan yang jauh lebih maju, dan rasanya berlipat-lipat lebih pintar masih juga susah menghilangkan paradigma itu. Bule sama dengan tengu. Iblis besar bermata merah atau biru, hidung panjang menyeramkan. Ketakutan dan inferioritas mereka menjelma mitos.

Itu jepang, apalagi kita. Mungkin ini penyakit bangsa asia yang mewabah. Dan dalam keseharian kita, banyak hal yang tidak perlu kita takuti tapi kita hantu seramkan sendiri dia dalam benak kita.

Paragrafku sebelumnya yang memukul rata bahwa jepang mungkin jauh lebih pintar dibanding kita, juga satu bentuk men-tengu-kan mereka. Jadi mungkin dalam hidup ini kita banyak memunculkan iblis tengu kita sendiri.

Seperti di suatu siang yg panas. Aku sedang duduk di kelas bisnis maskapai penerbangan paling yahud di negri ini. Pulang kerja dari pulau minyak kalimantan, menuju jakarta. Duduk di sampingku seorang bule darah inggris kalau tidak salah. Kami berbincang banyak. Syukurlah, dengan perjuangan mati2an aku bisa sedikit memapas kekerdilan jiwaku dulu, dan dengan lebih ringan sekarang bisa menganggap setiap yang kujumpai itu sama. Menilai mereka semanusianya manusia. Persetan warna kulit atau pupil mata.

Lama kami ngobrol ngalor ngidul. Dia orang yang baik. Friendly. Banyak bercerita. Sampai tiba saatnya makan siang sang pramugari menawarkan dua pilihan menu. Nasi dan daging ayam lalu kentang dan sapi.

Dari depan semua ditawarkan untuk memilih. Ada yg memilih nasi dan ayam, ada yang kentang dan sapi. Terserah.

Sampai di bangku terakhir, tempat kami berdua itu, malangnya hanya tinggal dua porsi menu makan siang. Siapapun yang memilih, maka yang kemudian tidak akan lagi punya pilihan.

Dengan ramah pramugrari tersenyum kepada bule tadi dan dengan baik menawarkan “which one do u prefer sir? Beef or chicken?”

Sang bule menjawab “beef”.
Maka diletakkanlah nampan beef di meja bule tadi.

Lalu dengan agak kurang beretika menurutku, sambil lalu sang pramugari mengatakan kepadaku “bapak yang ini aja ya” sambil meletakkan plate nasi ayam di mejaku.

Bule tadi tahu ada yg salah, dia merasa tak enak hati. Dengan rendah hati dia menawarkan padaku “if u want beef, it’s ok rio, u can take mine”.

Aku menggeleng, “no thanks” kujawab. Sebenarnya aku omnivora. Cobalah cek di buku biologi, manusia itu omnivora, aku tidak pula terlalu soal lauk ayam atau sapi. Tapi berasa ada yg menggelitik batinku.

Mungkin……bagi pramugari maskapai penerbangan terbesar di negri ini tadi, bule ini adalah sesosok tengu, manusia superior yang pastilah dalam segala-gala lebih daripada kita.
Entah kenapa aku tiba2 kasihan padanya.

Lalu aku meneruskan makan saja. Sambil dalam hati berjanji. Suatu nanti kutulis ini. Sambil mengajak siapa saja untuk menganggap manusia sebagai manusia. Untuk berdoa dan berlindung dari jiwa kerdil kita sendiri. Mana tahu dalam hidup ini banyak hal yang biasa, tapi kita hantuseramkan sendiri.

Ada iblis tengu-kah di sekitarmu? Ah…..itu khayalanmu saja.

4 comments November 14, 2009

membaca bintang

rig
Sekitar satu jam perjalanan dari jakarta. Pesawat memang terbang dengan kecepatan mengagumkan. Sebentar saja aku sudah tiba di bandara sultan mahmud badaruddin dua. Bandara palembang. Dari sini nanti delapan jam lagi perjalanan harus dinikmati. Mengikuti kelok-kelok jalanan yang sudah seperti meander saja. Terguncang-guncang di kerikil berdebu. Berhenti sebentar di pinggir jalan tempat banyak pedagang duren yang murah2, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelah perut kekenyangan.

Aku hampir muntah setelah sampai batasnya. Tubuhku ternyata kuat menahan guncangan sekitar tujuh jam saja. Setelah tujuh jam yang mendebarkan maka sedikit saja tremor akan memicu isi perutku melonjak keluar.

Sudah dua tahun lebih berapa bulan aku bekerja disini. Dunia pemboran minyak. Pekerjaan dengan pola yang tidak umum, mengingat kita harus -tanpa banyak tawar- meloncat-loncat mengikuti sebaran hidrokarbon. Yang namanya minyak bumi itu semau-maunya dia saja. Hampir tidak pernah ada pemboran di tengah kota atau dekat mall, selalu saja di tengah gurun, di tengah laut, atau di belantara lebat terasing. Dan aku sekarang menuju kesana…..perjalanan masih panjang, dan aku terduduk mengenaskan di bangku belakang.

Meskipun kepala terasa benar2 berdenyut, dan mata sudah kunang2 gelap kalau dipaksakan melihat, tapi aku tetap menyempatkan diri untuk menulis sebaris cerita buatmu. Itulah sahabat sejati, ya begini ini. Kalau bukan kubagikan kepada kalian, kan kepada siapa lagi? Jadi aku sambil berbaring-baring saja tak apalah, ya? Yang penting pelan2 tetap aku ceritakan.

***

Mulanya memang pada saat awal2 kuliah dulu itu. Kita semua hidup dengan tujuan2, kan? Entah itu panjang kedepan, atau berapa depa saja, tapi tetap ada kita punya tujuan. Sebelum lulus kuliah itu, tujuanku cuma dua. Yang pertama adalah lulus segera, yang kedua adalah kerja segera.

Aku sekarang sudah lulus kuliah, rupanya. Seperti sebuah mu’jizat. Bagiku banyak hal dlm hidup ini, hal2 yang berhasil aku lalui itu, sebenarnya kemurahan Tuhan saja. Seperti bisa-bisanya aku masuk universitas negri wakstu SPMB dulu, atau semisal bisa juga ternyata aku lulus cepat dgn penelitian yang porak poranda dan pembimbing yang brutal?? Sudah pasti bukan kepandaianku memang, tapi itulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan, yang jelas singkat kata aku lulus.

Setelah lulus, ini seperti mu’jizat lagi. aku langsung diterima bekerja. Nantilah dulu kita debatkan mengenai apakah sebaiknya membangun usaha sendiri ataukah kerja dan menjadi anak buah orang lain? Yang jelas aku berhasil mencapai tujuanku tadi. Yang aku ceritakan ke kalian2 di atas tadi. Benarlah sudah: aku lulus, aku bekerja.

Sampai disini aku mengalami semacam perasaan gembira yang akut, muncul tiba2 dan dengan dosis yg tak bisa ditoleransi. Aku mengalami semacam euphoria, rekan-rekan yang budiman.

Dari situlah aku mulai hidup dalam ritme pekerjaan yang tidak umum ini. Pekerjaan terjadwal empat belas hari kerja dan empat belas hari libur. Pergi ke banyak tempat. Terapung di tengah laut, di pinggir delta, di tengah hutan dan menyeberang benua.

Tapi seperti kebanyakan manusia yang gamang, aku menjadi hilang arah. Entah apa tujuanku waktu itu. Rutinitas yang aku tidak tahu gerbang destinasinya dimana.

Bagiku waktu itu, kerja adalah semacam barter, menukar sekitar seliter dua liter keringat kita dengan sejumlah uang yang nanti tertulis di saldo tabungan mandiri. Sudah, sebatas itu saja, tidak ada itu semisal makna luhur dibalik banting tulangnya aku itu.

Kerja gajian kerja gajian kerja gajian. Sudah. Hidupku terlalu pragmatis. Perputaran logikanya sebatas perut saja.

Aku muak. Suntuk aku dengan rutinitas yang terlalu klise. Samaaaaaa persis setiap harinya, minggunya, bulannya. Lalu kuputuskan aku harus pulang. Pulang dulu ke kampung halaman barang satu dua minggu untuk mereset lagi otak dan batin, bahwa selain kerja dan menghitung hari, masih banyak lagi hal-hal lain yang bernilai dalam hidup ini.

Dan di suatu malam hening yang biasa. Aku, bapakku, dan ibuku duduk di teras luar rumah. Hari hujan setengah2. Lalu ada bunyi entah jangkrik entah kodok. Aku rindu suasana seperti begitu, waktu2 dimana kita merasakan begitu banyak karunia tumpah ruah. Ada teh hangat di meja kecil samping bangku tempatku duduk. Ada laron terbang memutar pelan di atas pelapon yang ada lampu neon sebelas watt-nya itu. Ada jaket yang kutarik ujung2nya karna resluitingnya sudah tidak lagi fungsi. Semua tiba2 menjadi indah, dan sebentar kemudian Bapak memecah keheningan dengan melontar “kamu kapan mau menikah, mas??”

Blaaaaarrr……. Kilat menyambar di kejauhan, lalu sekitar berapa detik kemudian baru bunyinya sampai. Begitulah juga aku. Sibuk berkelana kemana-mana fikiranku, lalu bibir bapak terlihat seperti gerak lambat. “ngomong apa ya bapak tadi?” fikirku…….dan masih juga semua terputar lambat sampai jeda berapa detik hingga otak sederhanaku ini akhirnya bisa memprosesnya.

Luar biasa. Begitulah orangtua. Bisa menilai tanpa perlu banyak kata. Mungkin seperti yang orang bijak fatwakan “wahai para orang tua, jika anak kalian jatuh cinta, maka nikahkanlah!! Atau mereka akan jadi penyair”. Dan bapakku mungkin saja menangkap gelagat itu. Waktu2 semua obrolanku jadi terasa lebih filosofis, atau setiap patah kata yang jumpalitan dari mulutku tiba2 terasa seperti syair pujangga melayu. Ini alamat yang sudah terlalu nyata.

Ini, coba kalian lihat jari tanganku, kuku jariku ini, sepuluh-sepuluhnya masih berwarna orange aneh. Inai…pacar…kalian tahu kan itu? Begitulah pengantin baru di sumatra sana diperlakukan, dibubuhi tanda di kuku jarinya, mungkin biar setiap kali kau mengetik di laptopmu maka inspirasi yang akan muncul adalah seputar dirimu dan pernikahanmu karna warna orange menari-nari terus diatas tuts keyboard.

Aaah…..itulah ya, ternyata baru sadar bahwa aku sudah berusia, tubuh kita menua dengan cepat, tapi kedewasaanku seperti tumbuh dengan lamban. Setelah sempat seperti kapal yang berlayar tanpa panduan arah, sekarang mungkin sudah saatnya aku membaca lagi bintang2.

Aku jadi ingin tergelak sendiri, padahal dulu semenjak baru saja aku tamat SMA dan memutuskan untuk bimbel di jogja, akulah yang paling getol dengan visi menikah. Kuambil sebuah kotak kardus kecil, dan kuberi label “sumbangan amal untuk pernikahan” kubolongi bagian atasnya dan komplitlah sudah kotak itu menjadi semacam tabungan. Rekan satu kontrakan semua tergelak berguling-guling.

Masa2 yg luar biasa. Setiap hari aku dan rekan2 menyusuri selokan mataram yang membelah jogja. Duduk2 di pematang sawah yang hijaunya masih hijau muda. Lebih memilih berjalan dibawah terik sengat mentari jogja siang2 ketimbang naik bus, demi menghemat receh dan mencemplungkannya kedalam kotak yang tadi kubuat. Setiap hari belajar sampai larut malam nian.

Letih….tapi tak pernah rasanya aku seriang itu. Rencana2 memacu hidupku berderap cepat dan energik. Lulus SPMB, dan menikah sambil kuliah, itulah target yang kutulis besar2 di buku agenda.

Meskipun pada akhirnya gagal aku masuk universitas tertua di indonesia itu, kampus terbesar di jogja itu, tapi Tuhan kirimkan aku belajar di tempat yang lain lagi. Cerita yang lain lagi. Dan tentu saja tidak mungkin aku menikah sambil kuliah, karna satu dan lain hal, maka takdir sekali lagi berjalan dengan seni yang paling rapih. Tak bisa ditiru dalam rencana-rencana kita ini.

***

Kita harus punya tujuan kan, kawan? Entah itu untuk berapa masa kedepan sana, atau tujuan yang dekat2 saja. Tapi aku sempatlah juga berasa seperti orang yang telat kuliah, aku termasuk yang gelagapan lalu kasak-kusuk tanya bangku kiri kanan.

Masih banyak yang harus aku pelajari dan catat. Entah bagian yang mana baiknya aku potong2 dan ceritakan ke kalian. Tapi sebentar lagi aku sepertinya sampai di lokasi pemboran. Warna hijau pohon2 akasia dari tadi sudah seperti receptionist hotel. Berbaris rapi dan tersenyum sangat formil. Pasti sudah sampai, firasatku mengatakan begitu.

Mobil ranger memutar di jalan berdebu yang barusaja digiling-giling buldozer. Aku turun sempoyongan memanggul tas ransel besar. Biasanya yang akan aku lakukan adalah langsung menuju kamar dan membulati kalender. Ini hari pertama, masih berapa hari lagi aku disini. Tapi bagiku sekarang ini seperti mu’jizat. Kerja bagiku kini agak lebih dari sekedar barter keringat. Aku senang dengan sensasi waktu merasa begitu banyak karunia jatuh berkeping-keping dari langit. Lalu aku tertawa pelan karna sukses juga aku menahan muntah dari tadi. Lalu kutarik nafas menikmati hawa segar udara hutan dan asap mesin diesel yang bercampur. Lalu melihat orang mengangkat pipa2 besi, melihat mesin2 besar bergemuruh dan jalan berguncang-guncang, menara pemboran tinggi menjulang menutupi bulan sabit yang redup dibalik awan yang diseret-seret angin. Aku tersenyum dengan lengkungan paling simetris, karna aku tahu sekarang sudah ada yang menungguku dirumah kontrakan kecil jakarta timur sana. Bekerja sekarang sudah sedikit punya arti.

Begitulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan.

Sudah dulu ya, kupanggul dulu tas besar ini ke kamar. Kepalaku masih sedikit pusing, maka tolong maafkan ceritaku yang berputar-putar.

Add comment November 13, 2009

KIBAR!!!

035

Kawan. Dalam dunia pengeboran minyak, salah satu hal yang menjadi tantangan besar kita adalah kenyataan bahwa kita seringkali diharuskan berpindah-pindah tempat kerja.

Dengan jadwal kerja yang diluar orang normal kebanyakan, dan dengan tempat kerja yang juga diluar orang normal kebanyakan, para pemburu minyak bisa tidak bisa mestilah menjadi pandai dan terampil menyeting suasana hatinya.

Sebentar kita bekerja di anjungan pengeboran tengah laut, sebentar kemudian kita terasing di seberang negri antah berantah, di tengah belantara, di pusaran gurun, di pinggir rawa dan delta. Bertemu orang-orang yang baru. Yang berlainan budaya. Yang kepalanya sebatu karang.

Seperti di siang hari yang menyengat membakar ini, waktu baju jadi lengket dengan keringat dan badan gerah bukan main. Emosi bisa berlari seperti deret eksponensial, meloncat-loncat tak karuan beberapa digit.

Aku kesal bukan main. Memang suasana kerja yang panas dan segala letih penat yang mencakar-cakar itu kadang-kadang membuat orang jadi temperamen. Hal ini gampang sekali kau ukur kawanku, bisa diindra secara visual, kasat mata kawan!

Dan diwaktu-waktu seperti inilah aku belajar mengendali suasana hati. Rupanya hati kita itu banyak panel kontrolnya. Tidak bisa disetir dengan satu tombol. Susah sungguh mengaturnya.

Kupikir kawan, pastilah semua orang pernah mengalami kebosanan, muak, penat yang menggerus pondasi tempat kita berdiri, lalu kita limbung dan baru sadar bahwa mungkin ini bukan tempat kita.

Dan dimasa-masa sendiri, dirundung masalah yang brutal mendobrak pertahanan kita, kadang-kadang aku berharap menjelma semut, menjelma tanah kering, air, atau bunga rumput yang digendong angin pelan-pelan sampai ke negri jauh dimana ilalang tidur-tiduran dengan rapih seperti permadani.

Tapi aku sadar, bahwa hidup kita dan hidup siapapun saja adalah seperti perjalanan panjang mendaki terjal tebing. Batu-batu runtuh dan menggelinding siap menghantam kita kapan saja, dengan pola jatuh yang tidak bisa kita bikin permodelan dan cari kemungkinannya.
Lantas apa karna itu kita ingin dikenang sebagai pendaki menyedihkan? yang menangis menggeletek melihat sedemikian tinggi dakian sudah kita capai lalu lutut kita gemetar memandang jauh kebawah. Sungai dalam. Batu cadas!

Atau mungkin hidup kita adalah seperti berjalan di Sahara, menuju jauh pandang yang terlihat macam titik saja. Lantas apa kita ingin dikenang sebagai musafir memalukan? yang menciut dan menangis menggelusur tanah, mengerang-ngerang selayak bayi?

Kita gemetar memang! kita berpeluh memang!

Tapi kebanggaan kita adalah untuk mengenang diri sendiri bahwa di-liput terpa topan badai itu kita tetap menantang tegak, bukan ciut meringkuk!

Sampai nanti kita kibar bendera di puncak sana! Atau di ujung jauh sana!
Atau mati terhantam cadas atau terhempas terbanting badai pasir.
LAWAN!!!

1 comment Mei 22, 2009

Mozart guru cinta

Mataku sudah mulai remang-remang. Memang kehidupan di rig pengeboran kadang-kadang mengacaukan logika kita tentang waktu-waktu, kawan.

Kita bisa saja bekerja pada larut malam hari, terus siang-siang tidur sepanjang matahari menggelayut di biru langit. Bisa juga kita berkeringat berpeluh di terik siang untuk nantinya waktu tidur menjadi maju berapa dentang jam. Sesudah isya bisa langsung pulas.

Tapi kadang-kadang ada hal yang mengacau.seperti malam ini.

Tok..tok…tok…..  “mas-mas…. Bisa minta tolong bentar?” seorang teman, tiba-tiba mengetuk kamarku dengan muka serius.

“kenapa Pak?”

“ini mas, aku ga bisa ngopi lagu ke mp3 playerku, ndak mau diputar dia”

Dengan mata yang sudah mulai remang-remang, rasanya malas nian beranjak untuk sekedar mengopi lagu dari cd ke player mp3. Kenapa tidak besok saja??

Tapi dengan payah aku berhasil menarik badanku untuk sedikit menggeliat. Aku sedikit heran memang, apa yang susah dari mengopi lagu? Kopi, paste, selesai.

Tapi baiklah….mengingat beliau ini adalah kru catering di rig, dan aku menimbang bahwa beliau ini sudah berjasa memberikan kami-kami ini makanan yang enak-enak di kantin, maka aku akan membantu, anggaplah ini sebagai balas jasa, air susu dibalas air susu. Begitu mungkin peribahasanya.

“kenapa…kenapa mas mp3 playernya?”

“ini, kemaren kan aku sudah beli kaset CD, aku mau kopikan ke mp3 player ini tapi ndak mau jalan dia”

“oh…..mungkin karna formatnya windows media audio, kita harus convert dulu ke mp3.  Kaset apa memangnya mas?”

“MOZART”

“WHAT???”

Aku keceplosan. Kawan-kawan bisa bayangkan, MOZART!!! Mozart yang aneh itu, yang setengah mati aku coba dengarkan berulang kali biar tertarik tapi tetap gagal membuat kupingku mau menelannya. Mungkin karna terlampau high class.

Aku ingin tersenyum tapi kutahan sebisaku. Karna tiba-tiba aku teringat kata baginda nabi, kalau kita mendengarkan orang bicara, maka ekspresi kita haruslah serius dan memerhatikan. Bila perlu menangis waktu dia menangis. Tertawa waktu dia tertawa. Begitu ajarannya.

Lalu langsung aku mengoreksi diriku sendiri, cobalah kita pikir kawan-kawan sekalian. Apa yang salah dengan bapak ini menyukai mozart? Bahkan kalau dia cinta mati kepada lagu klasik elegan mozart itu juga tetap tak ada yang salah sama sekali. Tak ada!!

Aku lalu mengajaknya naik ke lantai atas, ke ruangan kantor, kunyalakan laptop hitam itu sambil mengerjapkan mata sebentar. Untuk sebuah niat baik, kita harus total. Jangan sampai aku menolong beliau  ini sambil kesal menahan kantuk, maka aku pelototkan mataku lebar-lebar.

“ok Pak…. Mana kasetnya, sini aku coba pindahin ke mp3 player”

Dan disitulah aku baru tertegun. Cover kaset mozart elegan itu bergambar seorang ibu hamil, dan ada anak perempuan lucu disampingnya.

Bapak-bapak itu, kawanku tadi, ternyata membeli mozart untuk konsumsi anaknya yang belum lahir. Seorang bapak membeli mp3 player baru dan sekeping cd mozart versi asli, lalu dibawanya melintas pinggiran delta mahakam sampai ke anjungan ini. Astaga……… Inikah cinta?

Seorang kru catering malu-malu mengetuk pintu kamarku malam-malam, meminta tolong untuk memindahkan lagu asing itu ke player mp3nya, sebagai perangsang otak untuk diperdengarkan kepada calon bayi yang masih di rahim, di alam lain sana.

Aku jadi malu sendiri  lalu mulai merutuk diri, sebegitu sulitkah mengconvert format lagu itu lalu kopi paste, sampai aku bergerak lamban macam siput. Jangan-jangan aku sudah mulai kehilangan cinta?

Baiklah pak. Sebagai rasa terimakasih atas pelajaran berharga malam ini, dan tebusan rasa bersalah untuk senyum simpul yang kukulum berapa menit lalu, akan aku berikan kau kursus singkat saat ini, sampai berapa jam pun engkau mau.

“satu lagi mas… Bisa tolong sekalian pindahin ayat alquran ke player ini ga? Jadi aku kepikirannya nanti pas disetel itu ayat-ayat  pendek alquran dulu, baru mozart”

Aaahhhh……. Lagi-lagi aku malu.

Kepada orang yang kusenyumi dengan simpul yang paling tersembunyi ini, aku malah belajar banyak tentang cinta yang menyeruak tak tertutupi.

Jadi tolong kawan-kawan, sampaikan pada istri Bapak ini, bahwa suaminya seorang maha guru cinta.

12 comments Mei 7, 2009

orasi sandal

sandal

Postulat dunia pengeboran, kawan-kawan yang saya hormati, adalah “all day is just a day”. Tidak pernah ada hal spesial yang membuat suatu hari kita maknai lebih dari hari yang lain. Tidak ada bedanya hari minggu dan senin, sebegitu juga berlaku untuk selasa dan sabtu misalnya. Tentu saja kadang-kadang ada waktu-waktunya dimana hari terasa agak semarak, semisal hari raya atau tujuhbelasan, tapi tetap, pengeboran terus dilakukan, tak ada berhenti, tak ada tapi.

Dalam dunia yang ricuh semacam ini -sebenarnya juga dalam dunia kerja pada umumnya- kita menjadi manusia yang bingung. Karna perlahan betul, pekerjaan yang kita lakoni itu dengan tak terasa membelenggu kita. Tiap hari kita bergelut dengan waktu dan segala macam kesibukan sampai kita tidak lagi tahu kemana kita berlari, kenapa tiba-tiba ritme kita begitu cepat? Kenapa kita lantas belingsatan tak karuan mengerja begitu banyak hal, terpusingkan dengan segala macam, dan menjelma kurcaci kerdil bermental temperamen.

Untunglah, di tempat ini, di anjungan pengeboran tepi laut yang menghabiskan waktu 2 setengah jam speedboat menyusur tepian delta untuk mencapainya, masih ada ruang sempit satu kali satu meter. Ruang yang kami beri nama Musholla.

Kami sudah terbiasa, berjejal didalamnya. Disinilah kami menenangkan diri sejenak, dan merasa seperti ter-teleport bermil-mil jauhnya, ke sebuah negri damai pada kala senja, sambil menggenapkan sujud dengan tuma’ninah dan menikmati kesadaran bahwa hidup kami ternyata tidaklah terputar-putar memuakkan sekeliling dunia saja.

Aku ingat betul, setiap kali aku dihadang masalah kompleks yang pelik, setiap kali kebuntuan menyumbat ide-ide, atau setiap kali resah hinggap dengan tiba-tiba, aku selalu masuk kedalamnya. Berdoa dengan rendah suara, meminta dengan menghamba, biar Yang Maha Perkasa diatas sana mengeluarkan aku dari lumpur yang menyedot kita kedalam pusarannya yang abstrak itu.

Setiap kali aku sholat di dalam musholla kecil itu, aku tinggalkan sandalku diluar. Begitu juga yang berlaku untuk sesiapa saja.

Lama-lama, aku mulai bisa mengetahui siapa yang sedang bersujud didalam ruang sempit itu, siapa yang sedang mengadu di kotak satu kali satu itu, siapa yang lagi berkeluh di surau seadanya itu, hanya dengan melihat sandalnya.

Lama-lama sandal menjadi semacam saksi bisu. Sandal telah dengan sangat pandainya menjadi pemain penting dalam drama pencarian panjang makna hidup.

Hari itu aku mengantri di depan musholla. Menunggu kawan yang bermunajat cukup lama di dalamnya. Tak enak hati rasanya aku mengganggu orang yang sedang berbincang dengan Tuhannya, lalu untuk menghabiskan waktu aku mengamati saja sandalnya.

Alangkah beruntung sandal itu? Dimiliki oleh seorang yang menyingsingkan lengan bajunya untuk berwudhu. Lalu melepaskan diri dari segala sibuk dunia yang melekat seperti minyak mentah, hitam dan lengket.

Sandal itu telah dibawa takdir untuk menopang kaki –mungkin bapak dari anak-anak yang beruntung, suami dari istri yang terpercik rezeki ketenangan hati, anak dari orang tua yang terkirim doa-.
Kupikir nanti di syurga sana, mungkin sandal itu akan menjadi seperti pembicara ulung, berorasi dengan retorika mengalahkan hittler dan soekarno, bercerita bahwa betapa empunya dulu meninggalkan sejenak pipa-pipa yang berputar cepat menembus lubang ribuan meter seharga triliunan rupiah.

Nantinya mungkin sandal-sandal lain di syurga akan iri, ini luar biasa pikir mereka, betapa nantinya sandal itu ditempatkan mungkin setara dengan sepatu lars para syuhada, yang dulu hancur dihantam mortir atau diberondong desing peluru tajam yang berputar dan menikam dengan beringas.

Tapi itu nanti. Sekarang sandal itu masih disitu. Tersusun rapih di depan pintu, ada air di sela-selanya. Dari sepanjang tangga aku baca jejak langkahnya mengular panjang belum hilang.

Tiba-tiba sepasang kaki perkasa menyorongnya. Bapak tua itu tersenyum ramah dan membukakan setengah pintu untukku. Lalu seketika aku ingin meninggalkan sandalku di depan sini tengah malam nanti.

4 comments Mei 5, 2009


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi renungan kehidupan rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

Desember 2009
M S S R K J S
« Nov    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

debuterbang di dari tetes tinta satu dua…
debuterbang di IBLIS TENGU
wee di dari tetes tinta satu dua…
wee di IBLIS TENGU
aveliasnyah di Surat
a little dreamer di mimpi
Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
37degree di Sampai Nanti, Sampai Mati…
37degree di jam jam JAAAAM
Hilma di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi