Tulisan tulisan yang dikaitkan (tagged) tulisan ringan

jam jam JAAAAM

jamJam tanganku merknya abal-abal. Kalau tidak salah sudah kupakai sekitar 1 tahun. Sekarang sudah kotor tak karuan, talinya hampir putus tapi masih nyantol sedikit. Prinsipku adalah, semakin lama suatu barang dipakai, semakin enak dibadan.

Ini, jam tangan ini, rasanya sudah seperti ada ikatan batinnya denganku, jadi meskipun jam ini sekarang kalau aku pencet tombol lampunya nanti jam ini tiba2 error dan reset waktunya jadi 00:00, aku tetap setia dengan jam ini. Sudah enak di tangan.

Harga jam ini? Pasti kalian bertanya begitu. Kurang dari seratus ribu rupiah sahaja. Murah meriah. Padahal bagi sekalian orang2, mungkin jam segitu harganya terlampau murah untuk sebuah jam yang dipakai gaya2-an.

Duluuuu sekali, waktu aku sedang asyik2-nya bekerja di rig pemboran di laut sana, waktu di galley(kantin)-nya, kami tiba2 ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana menyinggung-nyinggung jam.

Jam itu, kata temanku, yang pantas dipakai mejeng adalah paling tidak yang harganya limaratus ribu, dengan merk semisal G-SHOCK yang aseli. Lalu mereka mengadakan semacam uji komparasi antar jam. Jam seharga limaratusan ribu itu, menurut teori rekan2 adalah jam yg apabila anda celupkan kedalam air, atau semisal terkena hujan, atau semisal lagi terkena ac ruangan, tidak akan muncul embun di bagian kacanya. Tentulah rekan2 yg familiar dgn jam akan tahu, bahwa meskipun jam itu dikata orang “water proof” tapi tetap saja kadang2 kalau kena hujan kaca dalamnya berembun. Itu keunggulan pertama dari jam limaratus ribuan. Keunggulan kedua adalah jam limaratus ribuan memiliki banyak fitur: fitur stopwatch, fitur alarm anti alien, fitur penghitung kalori yang terbakar kalau kita jogging, fitur gps, fitur anti maling dan macam2 lagi.

Aku terbengong pucat. Lalu pelan2 menarik tangan kiriku dari piring makan dan kusembunyikan dibawah meja, lalu aku makan saja dengan sendok tanpa garpu. Lalu lagi ada yg bertanya “jam berapa ya, sekarang?” aku diam. Pssssttt……tak usah bilang2 kalau aku punya jam tangan!

Sekarang ini, kawan2 yg baik, yg sedang aku lakukan adalah memlototi jam tanganku yg tua ini, dan mengira2, tahu tidak ya orang2 bahwa jam tangan ini adalah jam emperan? Kasihan benar jam ini, aku jadi iba. Waktu aku beli, jam ini dulu tidak ada kotaknya. Beli, langsung pakai. Amat praktis dan efisien sekali. Sudah pula aku ikut mengurangi limbah plastik dengan membeli jam tanpa kotak, superrrr sekali.

Kembali ke masalah jam tadi, aku pikir tidak ada yang salah dengan kinerja jam kurang dari sratus ribu, bahkan jam puluhan ribu. Karna dr segi fungsi, yg aku butuhkan cuma penunjuk waktu sekarang jam berapa, dan skali2 stopwatch. Kalau alarm aku pikir tidak perlu lah ya, aku agak susah bangun dgn alarm kecil dari jam tangan.

Berfungsi baik2 saja, tidak banyak menuntut dan enak dipakai, itulah jam abal2 punyaku. Tentu saja jika kalian beli di emperan tidak dapat kotaknya.

Begitulah semua dulu berjalan teramat bersahaja sampai pada waktu hampir setiap kali makan di galley rekan2 satu pekerjaanku selalu sibuk membincangkan jam jam jam JAAAAAAAM.

Maka aku mulai terdistorsi. Kegunaan jam sebagai penunjuk waktu sudah agak bias di benakku. Kadang2 aku menyembunyikan jam tangan setiapkali makan di kantin, khawatir ketahuan kalau diperhatikan rekan2. Astagaaaaa, bukan jam G-SHOCK (di benakku tentu saja).

Dan itulah bodohnya aku, padahal peduli apa mereka dengan jam kita??

Tapi itu masih mendingan. Kalau diingat dulu waktu kecil, aku setengah mati mengidamkan jam tangan digital, dan ibuku membelikan sebuah jam tangan digital yang sangat bagus. Ada lampunya, penunjuk waktu (pastinya), ada stopwatch, alarm, kalender, pilihan bunyi alarm-nya ada 4 tipe, bukan main…….. Tapi setiba di sekolah aku harus menahan malu dan menyembunyikan jam di saku celana, pasalnya setiap bertemu orang mereka dengan kurang ajar berkata “wah….hadiah beli klise film ya rio?”.

Ibuku tidak peka merk, dan jam tanganku pas sd dulu merknya “fujifilm” kata ibu itu merk terkenal. Alamaaaaak.

Ah……….
Sampai sekarang aku tidak pernah punya jam tangan mahal. Dan sampai sekarang baru aku sadar, tololnya aku ini, padahal kan setiap kali orang tanya aku bisa jawab sekarang jam berapa, setiap lari pas olahraga di sekolah aku bisa pakai stopwatch, semua sudah terpenuhi. Dan jam itu sudah berjasa ratusan kali, ribuan mungkin. Ndak terhitung brapa kali kulirik-lirik jam itu, sampai jam itu putus talinya, sampai batrenya soak. Tapi toh aku tidak juga bahagia.

Mungkin, nanti aku akan bahagia kalau sudah punya jam tangan empatpuluh juta rupiah dibayar tunai. Jam tangan itu nanti haruslah pula penuh dgn fitur yg tak bisa aku rinci satu2 disini. Dan haruslah nanti kalau kupakai -dgn suatu cara entah bagaimana- merknya slalu kelihatan. Taruhlah G-SHOCK LIMITED EDITION. Lalu nanti haruslah pula orang2 yg melihatnya itu punya sedikit pengetahuan mengenai dunia perjaman, hingga paham mereka itu bahwa tanganku sekarang sedang dalam kondisi paling fit karna dibalut “yang dipertuan agung JAM”. Akan lebih bagus lagi bila setiap kupakai itu jam aku bertemu dengan penggila jam swiss, nanti mereka geleng2 kepala.

Tapi sekarang cukuplah dulu jam tangan biasa ini, mumpung batrenya masih nyala, talinya masih kuat juga.

Eh…ngomong2 jam brapa sekarang?

1 comment November 14, 2009

dua windu dulu kala

motor

sangat perkasa…………. ceritanya motor tua itu dalam dua windu usianya sampai masa SMA-ku dulu, belum pernah turun mesin.

itu memang sebuah teknik berkilah turun temurun. Tidak begitu jelas siapa yang memulai model pengalihan seperti itu. Misalnya ada handphone sudah renta sekali, pasti dibilang “ini handphone begini-begini tahan banting, jatuh berapa kali ga apa-apa, ga kaya handphone jaman sekarang”. Misalnya lagi ada motor tua pasti dielu-elukan “ini tua-tua bandel, ga pernah bongkar mesin sampai sekarang, suaranya aja masih halus”. Dan begitulah awalnya Bapak memuji-muji motor tua dirumah itu.

Aku sedikit kesal juga, buatku ya kalau barang sudah tua ya tua saja, tak usahlah dikasih embel-embel, tak usah banyak katabelece.

***
Rasa-rasanya itu merupakan sebuah ujian, persis ulangan umum setelah aku menamatkan dua caturwulan belajar matapelajaran percaya diri.

Pertama kalinya begini. Jaman dulu itu, ditengah ekonomi yang morat-marit, memiliki kendaraan pribadi adalah semacam ide besar. Semacam cita-cita luhur yang belum kesampaian. Kalau tidak salah kan dulu sekali baginda nabi pernah sekali berpesan kepada kita: bahwa beberapa hal yang merupakan sumber kebahagiaan dunia itu adalah istri yang sholehah, rumah yang lapang, dan kendaraan yang baik yang bisa mengantarkan kita kemana kita hendak bepergian.

Tentu saja sub-bab istri yang sholehah itu urusan Bapakku, manalah mungkin aku ikut-ikutan membahas tema itu sedang aku masih SMA kelas dua baru mau naik kelas tiga. Aku percaya sekali ibuku adalah tipe wanita penyabar yang masih bisa bertahan dan berjuang dengan segala keminusan dalam hitung-hitungan aljabar ekonomi rumahku, dan aku percaya itu salah satu bentuk ke-sholehah-an juga, rekan-rekan. Jadi sekarang tinggal rumah yang lapang, dan kendaraan yang baik.

Rumah yang lapang adalah lebih rumit lagi pengejawantahannya. Maka atas analisa taktis dan mempertimbangkan latar belakang macam-macam maka diputuskan dengan seksama bahwa memiliki kendaraan adalah berada dalam quadrant sangat penting sangat mendesak. Jadi harus sesegera mungkin diwujudkan.

Itulah awal mula petaka, ujian berat dalam kehidupan pemuda tanggung seusiaku.

Waktu pulang sekolah di suatu sore yang masih sedikit menyala panasnya, sambil jalan terburu-buru dipacu lambung yang mengkerut dan beresonansi apik dengan udara, aku berjalan setengah berlari dari gang depan sampai ke ujung komplek. Lalu berhenti tertahan di depan pintu rumah waktu tertumbuk mataku melihat Bapak me-ngegas motor tua.

“Ini motor dua tak dengan oli samping” dimulailah retorika Bapak. Geli aku melihat motor itu. Ini adalah semacam reaksi natural saja dariku, tertawa setengah tertahan. Plat motor itu warnanya merah, bekas motor dinas yang sudah dilelang dan sekarang jadi milik pribadi tapi belum diganti platnya. Joknya sudah bergoyang goyang dinamis. Lampunya bersahaja, dengan kabel yang mencuat kemana-mana, tak ada itu saklar lampu jarak jauh jarak dekat. Pokoknya memprihatinkan. Satu-satunya yang “sangar”dari motor tua itu adalah suaranya. Knalpot motor memang boleh reteng dimana-mana, tapi suaranya itu kawan, mendehem seperti motor gede. Ngeri sekali.

Aku antara senang hati, antara mengelus dada. Ini ujian kesufian tingkat tinggi, dalam bahasan spirituil bernama syukur nikmat. Mengingat-ingat setiap ingin bepergian sekarang jadi lebih mudah, tak perlu menunggu angkutan kota, tinggal engkol pedalnya, dengarkan deheman berat dari knalpot motor tua, lalu kabur.

Tapi mengingat-ingat setiap kali aku meminta uang pada ibu untuk kegiatan ini itu, maka ibu akan dengan cekatan menolak, aku jadi ngedumel-ngedumel juga. Salah satu fungsi dengan hadirnya motor adalah mengatur keuangan, yang artinya adalah meningkatkan taraf hidup, yang berarti juga adalah dalam rangka niatan mulia meningkatkan taraf hidup maka semua elemen keluarga harus berperan! dan aku sebagai anak tertua memainkan peranan penting itu dengan merelakan diri untuk menggunakan motor bandel bukan main itu untuk pergi ke sekolah setiap kali aku ada kegiatan ini kegiatan itu.

Bahasan nomor dua dari ujian kesufian dimulai. Tema spirituil kali ini adalah tidak rendah diri. BREEEEMMMMMM. Membaca bismillah beberapa kali. Lalu di suatu sore yang anginnya semilir-semilir aku memutar gas dengan pelan. Motor tua maju menyentak-nyentak. Aku pasang tampang siaga. “jangan lupa kasih oli campur” bapak teriak dari dalam rumah.

Alamak…….. berat hati rasanya menggelindingkan roda motor tua ini ke sekolah. Manalah pula nanti harus kulewati deretan orang yang kongkow-kongkow di lapangan. Dengan motor canggih berkilau-kilau, dandanan necis tak usah disangsikan lagi, lalu psikologisku memacu detak jantung jadi jedat-jedut, “psikosomatis” kata para pakar psikologis, maka aku tiba-tiba serasa meriang dan sendi-sendi mau lepas dari tempatnya.

Di perjalanan aku berfikir dan menarik nafas dalam. Lalu meyakinkan diri sendiri bahwa keberanian untuk tampil apa adanya adalah suatu bentuk kebesaran jiwa. Sebentuk kematangan mental. Dimana dalam situasi yang serba mengandalkan penampilan luar dan topeng topeng seperti jaman sekarang ini, aku bisa tampil dengan tidak terikat dengan penilaian orang akan status. Wah…………. Tiba-tiba hatiku meloncat-loncat, dalam hati aku mengira-ngira bahwa aku ini luar biasa sekali rupanya. Lalu aku mengalami semacam sensasi merasa keren sendiri. Maka gas motor kupacu lagi sambil bersiul-siul, mungkin salah satu ciri orang yang berjiwa besar adalah menghadapi tantangan hidup dengan bersiul-siul, rasa-rasanya aku siap menghadapi teror mental macam apa juga. Knalpot tua berdehem dehem, motor melaju kencang.

Sampai di gerbang sekolah tiba-tiba aku gemetaran lagi. Persis orang mau lomba pidato. Rasanya demam panggung. Kupelankan gas motor itu waktu melewati lapangan basket riuh rendah. Tapi memang motor tua dimana-mana sama, kalau bukan empunya yang menanganinya pasti ada-ada saja masalahnya, dan sialnya dalam hal ini empunya bukan aku, tapi bapakku. Gas boleh kecil sodara-sodara, tapi suara tetap besar. Alhasil aku gagal total menyamarkan kedatanganku seperti ninja, kawan-kawan melirik dan aku salah tingkah….. sedikit…… oke-oke, agak banyak sedikit.

Motor berhenti, aku panas dingin berkeringat. Sebagai satu-satunya yang tunggangannya seusia dua windu dulu kala, maka aku berjalan cepat menuju ruang kelas. Sambil membatin aku membesarkan hati. Bahwa orang-orang yang petantang-petenteng dengan motor bagus itu adalah orang yang menipu dirinya sendiri. Orang yang berlindung dibalik topeng, bagaimana image bisa dibangun dengan harta? Aku mengangguk-angguk seperti yang sudah matang dalam kepribadian.

Para pakar qalbu –akhir-akhir ini baru aku sadar- mengatakan bahwa kelakuanku dulu itu adalah sebentuk penyakit, bangga diri alias ujub. Lebih terselubung dari berkarya karna pamrih-pamrih, lebih berbahaya dibanding petantang-petenteng pede dengan motor bagus-bagus, misalnya. Maka dalam ujian motortua aku mengira sukses menyilang pilihan ganda soal-soal anti minder tapi rupa-rupanya terjebaklah aku dalam jebakan yang lain. Motor ini rupanya lebih rumit dari yang kubayangkan.

Acara selesai, aku bergegas pulang, hari sudah malam dan aku bisa sedikit santai. Model penyamaran bisa kita terapkan pada situasi kurang cahaya. Pertama, detail reyot-reyot motor ini niscaya agak susah diindera waktu malam gelap gulita. Kedua, orang juga susah mengetahui bahwa aku pengendaranya dibalik stang honda tua itu. Rupanya penyakit minder masih ada juga sisa-sisanya. Aku meluncur pulang, sekalian bertandang kerumah seorang teman untuk ngobrol sana-sini.

Malam bergulir. Dari rumah teman aku hendak pulang ke-rumah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sepenuh hati kukerahkan semua tenaga ke kakiku mengengkol pedal motor itu tapi tak hidup-hidup. BREEEEMMM.. gagal. BREEEEEEEM….. gagal. Aku putus asa, setengah hilang harapan aku minta tolong pada temanku tadi untuk mengeluarkan tali tambang dan menarik itu motor menempuh belasan kilometer jarak menuju rumahku, dimalam dingin sesudah isya, waktu penerangan Cuma dari lampu jalan redup-redup. Sepanjang jalan aku mengomel. Menyiksa diri dengan berangan-angan coba kalau begini coba kalau begitu.

sesampai di rumah aku diam cemberut. Sungguh lucu. Persepsiku tentang kematangan jiwa tadi ternyata ambruk berantakan. Lalu aku protes kepada Bapak tentang kondisi motor yang penuh problema itu. Aku kritik semua-muanya, ya stangnya, ya lampunya, ya knalpotnya ya pedalnya, ya ga bisa hidupnya.

Terus Bapak jongkok kebawah mesin, ngutak-atik busi kurang dari dua menit terus mengengkol pelan BREEEEMMMMM….. dan motor menyala. Aku bengong. Lalu bapak beretorika lagi.

Aaarrrggggghhhhhh…….. rasanya untuk ujian spiritual yang caturwulan ini aku HER saja

(images minjem dari google)

4 comments Juli 14, 2009

es potong dilematis

espotong
Disela-sela penat kerja seperti akhir-akhir ini, aku senang membayangkan masa-masa SD dulu. Waktu dimana kebahagiaan itu rasanya kok gampang sekali diperoleh. Hal-hal yang membuat kita bahagia waktu itu adalah hal-hal sederhana.

Dulu itu, jarak antara sekolahku dan rumah kecil tempatku tinggal kalau tidak salah adalah sekitar 15 km. biasanya aku naik angkutan kota, jalan dulu sekitar sepuluh menit kurang, dari rumah menuju gang depan pinggir jalan raya. Baru dari sana menunggu angkutan kota yang kebetulan disupiri oleh bapak-bapak baik hati.

Rekan-rekan sekalian, dulu itu tarif angkutan kota untuk anak-anak sekolahan adalah seratus rupiah, sedangkan untuk umum seratus lima puluh rupiah. Para supir angkot yang tega nian itu biasanya pasang tampang cuek. Aku sudah menunggu dengan muka memelas di depan gang pinggir jalan raya itu, tapi masih juga mereka tidak berhenti. Ya logis juga sih kalau dipikir, kalau saja bangku yang dipenuhi oleh badan kecilku ini diganti dengan yang tidak pake seragam kan sudah untung limapuluh rupiah.

Setiap hari haruslah aku berangkat lebih pagi. Konsekuensi pulang juga sama, jadi lebih siang. Untunglah, karna banyak pertimbangan, suatu ketika jadwal sekolah di SD kami waktu itu dirubah. Anak kelas tiga masuk siang. Anak kelas tiga jadi pulang sore.

Aku sedikit tertolong. Jadi aku tidak usah pergi terlalu pagi lagi, bisa santai-santai sedikit. Menjelang siang barulah aku jalan kaki sekitar kurang dari sepuluh menit menuju pinggir jalan raya. Di saku sudah ada uang receh duaratus rupiah.

Nah….. mengenai duaratus rupiah inilah aku akan berkisah pada kalian-kalian. Jadi ceritanya begini. Ibuku, dari dulu sekali waktu aku SD, sudah menerapkan sebuah metoda pendidikan anak ala baru. Metoda pendidikan berhemat. Urusan macam begini ibu sudah lebih ahli, dia tahu persis ongkos berangkat seratus rupiah, ongkos pulang seratus rupiah.

Diberikanlah kepadaku duaratus rupiah receh setelah salaman pagi-pagi. Aku tunggu sebentar sambil muka memelas, ibu tidak bergeming. Tunggu lagi sebentar, tetap tidak bergeming. Astaga……… aku menyerah, urusan begini seperti tawar menawar beli barang. Kan kurang lebih begitu kawan? Kita minta sekian, penjual mau sekian, otot-ototan sebentar lalu pasang aksi pura-pura mau kabur, akhirnya harga diberikan setengahnya. Ahai…… aku tahu sedikitlah masalah ini, karna sering mengintip bapak kalau membelikan aku sepatu, bukan main bapak itu ngotot kalau menawar barang, sampai pucat pasi itu penjual sepatu dan menyerah tanpa syarat. Tapi……. Kalau dengan ibu, akal bulus begitu tidak bisa diterapkan. Jadi aku pergi saja langsung ke sekolah sambil jalan setengah diseret.

Perjalanan menuju sekolah sekitar sejam kurang sedikit. Sampai di gerbang depan sekolah itulah aku tersadarkan lagi akan sebuah visi besar dalam hidupku. Mimpi-mimpi yang selama ini menghantui aku waktu tidur dan terjaga. Yang mengobarkan semangatku untuk berfikir keras bagaimana caranya menggapai cita-cita luhur mulia itu. Yaitu cita-cita untuk membeli es potong.

Jangan dulu kau tergelak dengan itu. Es potong itu, rekan-rekan yang saya hormati, adalah semacam karya adiluhung. Mirip es bon-bon, hanya saja lebih manis dan kaya susu. Apalagi setelah dipotong kurang lebih sepanjang lima jari anak kelas tiga SD, dan ditusuk dengan elegan pakai lidi yang diserut dari bambu. Astaga………..

Tapi bagaimana mungkin bisa membeli es potong? Sedangkan uang hanya cukup untuk diberikan kepada supir berbudi luhur yang mau mengangkut anak sekolah serupaku ini? Jadi pelajaran pertama yang kudapat dari mimpi es potong dan didikan ala militer dari Ibu itu ada benarnya juga, yaitu menahan keinginan. Kan katanya keinginan kita itu lebih sering tidak tercapainya daripada terwujudnya, aku tahu benar tentang hal itu.

Biarlah es potong cuma aku lihat dari jauh saja, kunikmati suara kliningan tukang-nya saja. Dari jauh aku tetap bermimpi, suatu nanti pasti akan kubeli.

Hari berlalu seperti angin semilir. Anak tiga SD kan tidak pernah berfikir abstrak. Pokoknya ya ceria saja. Dimarahi orang tua ya sedih sebentar lalu tertawa lagi. Tidak dapat es potong ya kepengen sebentar terus biasa lagi.

Sampai suatu hari. Setelah masa-masa belajar yang melelahkan karna mulai sekolah dari waktu siang hari yang menyeruput keringat, sore-sorenya aku menunggu dengan khidmat dan serius di sebuah persimpangan sekitar lima puluh meter dari lampu merah yang kalau sudah sore warnanya yang menyala hanya kuning saja. Kelap-kelip-kelap-kelip.

Tiba-tiba seorang kawan lewat dan menunggu di depanku. Kami ngobrol juntrungannya kesitu kemari. Lalu muncullah sebuah ide pandai tak karuan dariku. “aha……. Bagaimana kalau kita berjalan saja? Sambil menunggu angkot” seruku dengan pede. Seperti yang analisanya sudah paripurna.

Kawanku ini tadi dengan tololnya mengikuti saranku. Dan jadilah kami dua orang anak kelas tiga SD yang brilian berjalan kaki berkilo meter demi sebuah ide pandai dariku “sambil menunggu angkot”

Tanpa bermaksud menyinggung, aku jadi sedikit tahu kenikmatan bergosip ria. Buktinya waktu seperti tidak terasa, sudah setengah jam kami berjalan dan hari semakin sore. Aku senang bukan main, karna semakin jauh perjalanan, semakin mantaplah tekad kami untuk berjalan saja sampai rumah.

“Ini kan petualangan?” Aku menambahi dengan lebih bodoh lagi. Karna tiba-tiba di otakku berputar-putar bayangan es potong. Begini logikanya, berjalan dengan teman samadengan waktu tak terasa, waktu tak terasa samadengan tiba-tiba sudah sampai rumah, tiba-tiba sudah dirumah kan samadengan ongkos tidak terpakai, ongkos tidak terpakai kan bisa menjelma es potong? Astaga……… benar-benar aku tidak mengerti cara kerja otak. Tanpa kita pikirkan, tanpa kita paksa bekerja, tiba-tiba otak menyodorkan sebuah solusi, cerdas.

Aku sudah mulai akan mengagumi kehebatan logikaku, sampai saat dimana temanku membuyarkan lamunanku dengan berkata “aku duluan ya, sudah sampai”

Apa??????????????
Bodohnya aku. Kenapa tidak dari tadi aku tanyakan dulu rumah laki-laki kecil di sampingku ini. Perjalanan baru setengahnya dan aku sekarang terjebak dalam sebuah dilema.Teman perjalanan sudah sampai tujuan. Tak ada yang lebih menyakitkan selain kawan seperjalanan meninggalkan kita duluan, meski kita tahu takdir sudah berkata begitu. Aku mengiyakan, sambil merutuk sedikit. Kalau saja tahu dia rumahnya dekat dari sekolah kan aku tidak mungkin berjalan kaki.

Rutukan itu sebentar saja rupanya. Tiba-tiba aku melihat di sebrang jalan sana ada seorang penjual es potong. Wah………… es potong yang legendaris itu. Sekarang aku dalam pilihan yang sulit rekan-rekan.

Mari kita urai matematikanya. Diketahui harga es potong adalah duapuluh lima rupiah. Sedangkan tarif angkot seratus rupiah. jika tarif angkot untuk jarak dekat dan jarak jauh selalu sama, dan uang yang kau miliki tinggal seratus-seratusnya itu, bagaimana solusinya?

Soal cerita adalah momok buatku waktu SD dulu, yah wajar saja, bisa dimaklumi jika anak kelas tiga agak tidak terlalu pintar menjawab matematika rumit, maka logikaku ini mungkin agak-agak bisa dibenarkan juga. Jika aku beli satubuah es potong, maka uang ditangan tinggal tujuh puluh lima rupiah. tak bisa naik angkot. Pilih naik angkot berarti mimpi es potong musnah.

Badanku serasa dehidrasi. Ah….. menyelamatkan kesehatan tubuh, itulah yang terpikir olehku sekarang, dan seribu satu alasan pintar demi mendukung es potong. Bukankah mencegah tubuh dari dehidrasi adalah tindakan pintar nan mulia? maka itu aku belanjakanlah sisa uang untuk ongkos tadi dengan es potong. Bukan satu. Tapi kubeli empat. Karna cobalah kau bayangkan rekan-rekan, meskipun kubelikan satu saja es potong, sisa uang tetaplah akan tidak bisa digunakan naik angkot. Daripada mubazir, maka sisa uang kubelikan semuanya.

Itulah pelajaran keduaku, pelajaran untuk memilih diantara hal-hal yang sulit. Membedakan mana kebutuhan dan mana nafsu. Maka ketololanku waktu itu telah dengan sangat pintar menipu diriku. Aku berjalan-jalan dengan senang, rasa hati sudah mendapatkan pencapaian luar biasa. Hari semakin sore, semburat senja memerah di ufuk jauh. Aku berjalan santai dengan melompat-lompat. Makan es potong empat ternyata susah juga.

Kau tahu kepuasan marginal? Teori ekonomi yang diajarkan guru SMP kalau tidak salah. Pertama kali makan es potong rasanya seperti di syurga. Kali kedua kau makan es potong rasanya masih seperti syurga juga tapi agak-agak turun grade, kali ketiga dan keempat lidahmu mulai kebas dan kau nanti akan mulai menyumpah-nyumpah kebodohanmu untuk membeli es sekaligus empat. Mencair menetes tak karuan.

Matahari seperti mau main petak umpet. Dari jauh sayup sayup ceramah zainudin M. Z bergema. Burung-burung terbang seperti gerak lambat. Kadang-kadang mobil seliweran di pinggir jalan raya. Azan maghrib hampir berkumandang, dan aku lari-lari setengah menangis, kaki pegal tak alang kepalang, sedang jarak ke rumah masih seperempatnya. Sumpah mati tak kan pernah kugadai ongkos dengan apapun lagi

2 comments Juni 28, 2009

ayam…….

ayam

Sebenarnya aku ini bukan penyayang binatang, tapi jika sudah sekira satu tahun lebih peliharaan kita itu kita rawat dan kasih makan, kalau jagung kita genggam ditangan dan sodorkan padanya lalu dia datang dan makan dari tangan kita, maka rasanya sangat wajar jika ikatan batin itu muncul. Begitulah aku dengan ayam jantan milikku.

Jadi sebenarnya begini ceritanya. Dahulu sekali, waktu aku masih belum sekolah, kami tinggal di pinggir jalan lintas sumatra, tepi hutan belantara yang tidak ada penghuni kecuali aku yang anak seorang penyuluh pertanian ini dan tetanggaku yang ketiban sial untuk juga ditempatkan disana. Disanalah pertama kali garis singgung antara aku dan ayam jantan itu dimulai.

Entah bagaimana awal mulanya kehadiran ayam jantan itu dikeluarga kami, aku lupa-lupa ingat. Ada beberapa versi –tentu saja versi ini dari memoriku sendiri, kau tahulah rekan-rekan bahwa kadang-kadang ingatan kita dimasa kecil itu susah kita bedakan mana imajinasi dan mana kenyataan-.

Versi pertama. Pada versi pertama ini, berdasarkan ingatanku, bahwa ayam ini adalah pemberian salah seorang teman bapak.
Karna ayam ini adalah ayam jantan nan elok menawan. Dengan bulu yang lebat dan mengilap, taji yang panjang dan tajam, gagah betul, ayam ini dengan cepat menjadi primadona di keluarga kami. Aku yang waktu itu adalah anak satu-satunya menjadi sahabat dekat ayam ini. Hampir semua perikehidupan ayam itu aku tahu, jadwal makannya, teman-teman dekatnya, pacarnya, segala macamlah.

Versi kedua. Dalam versi kedua, ingatanku juga memberikan lintasan bahwa ayam ini adalah ayam hutan. Ayam hutan yang waktu itu seingatku adalah seekor ayam yang bernasib naas karna melintas didepan aku dan bapakku yang sedang mandi. Dahulu itu rekan-rekan, janganlah kalian membayangkan mandi itu adalah sebuah ritual sakral yang dilakukan di sebuah wc bermarmer putih dan bak satu kali satu kali satu meter. Mandi itu adalah bagi kami sebuah fase mendekatkan diri kepada alam, bagaimana tidak, satu-satunya akses air adalah melewati turunan yang terjal seperti jurang, kelok sana kelok sini, pokoknya jauhlah. Untunglah sudah dibuat semacam tangga-tangga, tanah licin itu dibentuk cekungan cekungan macam tangga, dan diujung sekali dari turunan curam itu adalah mata air yang bening, yang dipinggir-pinggirnya tumbuh tanam-tanaman paku, kau pasti ingat tanaman paku, kita pelajari itu dimasa-masa biologi smp dulu.

Nah……. Disitulah, dipinggir tanaman paku itu, disamping mata air bening itu, entah bagaimana hipotesa yang tepat, tapi tiba-tiba saja muncullah seekor ayam, ayam elok nian yang berbulu tebal dan bertaji tajam seperti yang sudah kusebutkan barusan. Dan disitulah nasib naas ayam itu dimulai. Salah dia juga, kenapa memilih melewati tempat dimana disana bapak-bapak gesit seperti bapakku sedang mandi? Jadilah dengan segera sebuah ember besar warna biru –aku ingat betul bagian ini- digunakan bapak jadi semacam perangkap ayam, yang dengan sangat cekatan dilemparkan, PRAAAK, ayam elok nian tadi terperangkap, dan itulah versi nomor dua.

Jangan salahkan aku, sudah kubilang aku bukan seorang penyayang binatang, tapi dimana-mana memang cerita yang lebih indah dan dramatis lebih disukai, maka itu sampai sekarang juga aku merasa bahwa ingatanku yang nomor dua adalah awal yang tepat, begitulah bagaimana awal mulanya ayam itu muncul. Sedang ingatanku nomor satu aku percaya hanyalah sebagai sebuah bentuk simplifikasi, sebagian otakku yang berfikir terlalu sederhana dan sama sekali tidak melankolis, tidak dramatis, apalagi romantis telah dengan sangat brilian mengacaukan sejarah. Maklumlah, waktu itu aku masih kanak-kanak.

Nah……. Hari berganti rekan-rekan. Waktu berlalu juga rekan-rekan. Ayam tadi dan aku memiliki semacam ikatan batin. Aku keluar rumah, dia langsung menghampiri. Aku ke dapur dia ikut ke dapur, dimana ada aku disitu ada ayam.
Pada mulanya tidak ada masalah. Hingga suatu ketika……..

Sebuah keputusan super mendadak dari kantor pusat bapakku menyatakan bahwa bapak harus pindah, pindah ke kota bengkulu, kota besar tentu saja jika dibandingkan kehidupan pinggir jalan tengah hutan. Aku berjingkrak-jingkrak tak karuan, seperti setan saja. Sebentar-sebentar aku bertanya “pak..pak…… bengkulu itu seperti apa?” kuulang-ulang dengan tanpa belas kasihan pada bapak pada ibu “bu..bu……disana rame ya?”. Begitulah……… sampai suatu ketika jawaban bapak sangat mengguncang diriku, kata bapak “disana itu ga ada yang pelihara ayam nak”.

Aku bingung. Bagaimana mungkin? Sebuah kota besar tanpa ayam di dalamnya? Ini sungguh ironi? Berhari-hari aku merenung. Malang nian nasib ayam itu, pikirku. Sebenarnya logika bahwa di Bengkulu tidak ada ayam sangatlah menggangguku, tapi daya analisa anak usia TK masihlah pendek rekan-rekan, maka aku hanya terdiam lemas sambil bertanya, “jadi mau diapain ayam itu pak?”

Bapakku menjawab singkat, “dipotong”.

Cerita versi kedua ayam itu tadi, ternyata harus diakhiri dengan tragis. Ayam elok pun dipotong. Sebenarnya kesalahan pertama bapak adalah terlalu tergesa-gesa menjawab bahwa ayam itu akan dipotong. Modus operandinya tertebak sudah. Aku sedikit tahu juga, perjalanan ke bengkulu itu jauh tak karu-karuan. Aku ingat betul waktu itu kami muat semua barang-barang kedalam truk besar. Aku tidur di bak truk yang sempit dan penuh barang-barang tadi, sambil berlindung dari sengat matahari dengan terpal yang menutup kepala kami, dengan sedih kuingat-ingat ayam yang punya hubungan erat denganku tadi, mataku berlinang air mata, tapi mulutku sibuk mengunyah ayam goreng.

Bagaimana lagi, perjalanan jauh, tak ada uang untuk membeli makanan macam-macam di jalan. Sungguh aku sedih, tapi ayam goreng juga menggoda. Maafkan aku ayam.

Singkat kata tibalah truk besar berisi aku bapakku dan ibuku dan barang-barang kami tadi, di bengkulu. Tak lupa juga kuberitahu bahwa disana masih ada juga ayam goreng sepotong. Kusisakan buat nanti kalau aku lapar.

Pindahan selesai. Aku mulai berkeliling komplek. Berinteraksi dengan banyak rumah, banyak hal yang baru. Dan suatu sore aku sadar bahwa disana banyak sekali ayam. Ayam merah. Ayam putih. Ayam abu-abu, semua berkeliaran dan mengais-ngais di jalan. Aku bersungut-sungut, ini tidak bisa dibiarkan, bergegas aku berbalik dan mengambil seribu langkah berlari kembali kerumah. Aku harus protes pada bapak.

*********
Waktu berlalu lagi, hari berganti lagi. Aku sudah mulai bisa melupakan ayam yang dulu itu. Kenyataan waktu itu bahwa keluarga sedang sulit ekonominya mulai pelan-pelan bisa aku pahami. Aku sudah masuk SD waktu itu kalau tidak salah. Aku menjadi sedikit bijak. Disamping ibu punya semacam senjata pamungkas, setiap kali aku terkenang-kenang akan ayam elok nian, maka ibu akan segera berkata “loh…. Ayamnya kan yang makan siapa?”

Aku diam dan tidak lagi pernah mengutik-utik kenangan ayam. Disamping waktu itu aku sudah punya ayam yang baru lagi. Sebuah ayam jantan berwarna merah. Memang sih tidak seelok ayam elok nian yang kudapat dari kisah versi kedua tadi kawan, tapi lumayanlah mengobati dahagaku untuk beternak ayam, bukan beternak, tepatnya memelihara ayam. Satu ayam. Hanya seekor yang jantan itu saja.

Mula-mulanya tidak ada masalah. Sampai suatu ketika. Aku masuk SMP. Seragam harus diganti, sepatu harus diganti. Sementara ekonomi masih betah berputar-putar dilevel itu saja. Ini alamat buruk. Aku sudah berfirasat bahwa akan ada yang terjadi.

Benar saja, bapak memutuskan untuk membawa ayam satu-satunya milikku tadi ke pasar pagi di terminal. Dengan mata yang tidak bisa dipastikan seperti apa ekspressinya, bapak perggi membawa ayam jantan warna merah ke pasar pagi di terminal.

Aku kasihan pada bapak. Kenapa sesulit itu untuk sekedar membelikan ku sepotong celana biru? Tapi itulah, emosi kadang-kadang mengacaukan fikiran jernih kita tentang realita-realita. Aku tidak lagi membayang bapak yang pagi-pagi kepayahan menangkap ayam dan mengikatnya dengan tali karet dari ban dalam yang dipotong, tidak juga aku bayangkan lagi bapak yang membawa motor tua dengan diganduli ayam yang berkeok-keok di belakangnya, tidak juga kubayang lagi bapak yang berbecek-becek di pasar terminal pagi-pagi, menawarkan ayamnya pada orang yang lewat acuh tak acuh tak ada yang peduli.

Yang kutahu waktu itu hanya satu. Aku tidak rela ayam itu dijual. Sepanjang sekolah dari pagi sampai siang aku merutuk-rutuk, hatiku gundah gulana tak bisa dipuisikan, ayam itu tidak boleh hilang doaku.

Sepulang sekolah, dengan langkah gontai aku masuk ke halaman, lalu terkaget-kaget aku tiba-tiba melihat seekor ayam jantan merah, ayam yang tidak terlalu elok tadi, ayam punyaku itu mematuk matuk di halaman. Ia tidak jadi dijual. Bapak bawa pulang kembali ayam itu, karna tidak seorangpun juga mau membelinya. Entah terlampau tua. Entah kurus merana, aku tidak tahu apa masalahnya.

Tiba-tiba aku merasa kasihan pada bapak. Dia sudah berpayah-payah membawa ayam jantan merah ke terminal pagi-pagi, lalu dengan muka suntuk dibawanya lagi pulang ke rumah siang-siang. Capek, berkeringat, dan mungkin juga kebingungan. Sedang aku tak rela ayam itu dijual, tapi masih mengidam celana biru pendek baru.

3 comments Juni 25, 2009

Ikhlas Delapan Gelas

Glass of water

Aku sebenarnyalah hanya menuruti kata-kata para ahli saja, kawan. Mereka mengatakan bahwa minimal kita haruslah meminum delapan gelas air dalam sehari, demi kesehatan tubuh kita. Maka dengan manut-manut aku lakukan juga pesan itu, cobalah kawan-kawan sekalian pikirkan, siapa yang lebih tahu tentang bagaimana menjaga tubuh selain dari pakar-pakar kesehatan itu?

Begitulah awalnya rekan-rekan, sampai di suatu siang yang panas waktu itu aku duduk di sebuah bangku bagian paling belakang bus jurusan Bandung-Jakarta. Dengan gagah kugenggam di tangan kananku sebotol aqua enam ratus mililiter sekira mungkin dua gelas air putih, demi kesehatan kawan!

Waktu baru saja kuminum setengah botol, tiba-tiba aku terhenti. Tepat didepanku ada seorang nenek-nenek yang berdiri kepayahan. Inilah yang menjadi dilema besar bus kota pada umumnya kawan. Para sopir dan keneknya itu, biasanya dengan sangat lihainya merayu calon penumpang. Aku lama-lama mengira mereka menggunakan semacam hipnotis yang membuat penumpang lugu di pinggir trotoar itu mau untuk masuk dan berjejal ke dalam bus yang jelas-jelas tidak lagi ada bangku yang belum dikuasai penumpang.

Seperti nenek malang itu. Dan disinilah moral kita diuji. Aku kasihan dengan nenek itu. Tapi anehnya yang terpikirkan bagiku adalah sebuah pertanyaan maha krusial “apakah nenek malang yang sedang berdiri kepayahan itu sudah meminum hampir delapan gelas hari ini?”. Inilah salah satu bentuk kebodohan ilmiah rekan-rekan. Dihadapkan pada kenyataan bahwa bangku sudah penuh dan ada seorang renta berdiri kepayahan termegap-megap, maka pertanyaan dan pembahasan mengenai jumlah minimal air yang harus diminum adalah pertanyaan tolol yang jatuh pada konteks amat sangat tidak tepat, tak karu-karuan bodohnya.

Sebenarnya begini, kawan. Aku ini, sudah pula tergerak untuk membantu, untuk dengan serta merta berdiri dan menawarkan bangku tempat dudukku kepada sang nenek. Tapi apalah daya, kakiku terasa lemas nian. Badan mendadak seperti meriang. Apakah ini akibat dehidrasi? Pikirku? Ah…. Wajar saja….. pastilah ini karna air yang kuminum baru setengah botol… cobalah kawan-kawan bayangkan. Setengah botol aqua enam ratus mililiter pada sebuah siang yang panasnya beringas seperti setan, manalah cukup untuk jadi asupan energi? Itulah retorika pembenaran paling hebat sepanjang sejarah hidupku. Ini yang disebut argumen ilmiah untuk membelit-belit keadaan.

Seperti lomba cepat tepat babak rebutan. Sebenarnyalah aku sudah kalah beberapa detik. Tiba-tiba seorang bapak yang tadinya duduk disampingku langsung berdiri dan dengan elegan menawarkan bangku tempat duduknya kepada Nenek kasihan itu.

Aah……. Baru saja aku ingin berdiri teman, sungguh….. baru saja.

Tapi syukurlah, setidaknya secara moril, aku sudah tidak begitu terbebani, bahwa kenyataan dihadapanku sekarang berganti menjadi seorang bapak-bapak muda berdiri tegap menggantikan sang nenek yang menghela nafas lega di sampingku, tidaklah terlalu mengganggu pikiran. Pak….. kita sama-sama laki-laki tangguh dan perkasa, kataku dalam batin.

Dan bus melaju sekira delapan puluh lima kilometer perjam. Seseorang turun di tepi jalan. Dan bapak baik hati telah mendapatkan lagi tempat duduk. Sang nenek kasihan tadi tak henti-henti memuji kebaikan bapak-bapak tegap, dan nenek kasihan itu merapal banyak nian doa untuk sang bapak.

Dalam hati aku berfikir. Ah………… andai saja aku yang menolong nenek kasihan itu tadi?

Sekarang sudah tepat satu botol aku habiskan. Lalu mataku menelusur ke depan dan mencari apa kiranya ada orang berdiri kepayahan yang akan aku tolong dengan dramatis. “mbak-mbak……. Silakan duduk di bangku saya” sudah kusiapkan kata-kata indah hasil pertapaan dan minum air kesehatan tadi.

Sekali lagi babak cepat tepat dibuka. Dan itu dia, sepuluh langkah di depanku seorang mbak-mbak setengah baya, agak kesusahan dengan level yang sekira setengah nenek kasihan tadi. Dan bel sudahlah pula kutekan dengan seksama TEEEEET……. “mbak, duduk aja di bangku saya” ujarku dengan sopan dan penuh tatakrama.
“ga usah dek di simpang depan saya turun kok” katanya……

Lalu aku dengan muka malu-malu kembali duduk di bangkuku. Tidak apa-apa, dibabak ini pilihan salah tidaklah mengurangi nilai.

Sang mbak setengah baya turun, penumpang baru naiklah sudah dan aku menangkap soal berikutnya. Pertanyaan kedua, babak rebutan: “apakah yang harus dilakukan saat ada seorang ibu baru naik bus dan tidak mendapatkan tempat duduk, sedangkan anda sedang duduk dengan berleha-leha dan baru saja minum hampir delapan gelas air sehari? “

Astaga…… pertanyaan PMP jaman kita sekolah dulu rekan-rekan. Anak-anak TK juga tahu jawabannya, maka aku ulangi lagi kata-kata barusan “bu… duduk aja di bangku saya”.

Inilah aku pikir tindakan paling heroik yang pernah aku lakukan selama seminggu ini. Dan dengan harap-harap cemas aku menantikan babak dimana ibu yang baru naik tadi nantinya akan memuji-mujiku terus dan merapal doa kebaikan bagiku seperti laku sang nenek tadi untuk bapak-bapak tegap itu.

Bus sekarang di level sembilan puluh kilometer perjam. Dan waktu telahlah bergeser tigapuluh lima menit. sang ibu-ibu diam seribu basa. sedang tak ada tanda-tanda penumpang akan turun satupun. Jalan tol yang biasanya ditempuh sekarang sedang ditutup karna satu dan lain hal. Jalan alternatif adalah memutar lewat pinggiran puncak dengan lama perjalanan dikali dua ditambah faktor tak tentu kurang lebih satu jam.

Kakiku mulai gemetar. Mata berkunang-kunang. inilah akibatnya jika berbuat kebaikan dengan tekad yang tidak bulat.

Babak terakhir. Pertanyaan agama: “hal apakah yang bisa menghanguskan amal seperti api yang memakan kayu bakar?”

Pastilah itu jawabannya………. Pasti………………….

*lalu aku melongok kepada nenek-nenek yang tertidur pulas, lalu bapak-bapak tegap yang terpejam pejam, lalu ibu-ibu yang menerawang kosong ke hijau teh di kebun pinggir bukit-bukit sebelah kiri jalan ini*

Sementara bus merayap mungkin enampuluh kilometer perjam, dan aku sedang belajar ikhlas sembari berharap jeda air dua gelas lagi.

1 comment Mei 29, 2009


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

kontes blog pertamina

menghitung hari

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga Kerja Keras Adalah Energi Kita kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Fajar Ramadhitya P di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
Ary di Kerja Keras Adalah Energi Kita…
lia di IBLIS TENGU
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…
nerisu di Dini hari tepat di jam ti…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi