BELAJAR MEMBACA YANG DI LUAR DIRI

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Seorang karyawan mendatangi ruangan atasannya dengan niat hendak meminta kenaikan gaji. Padahal, beberapa menit sebelumnya, seorang karyawan lainnya baru saja keluar dari ruangan atasan tersebut dengan muka pucat dan dari ruangan sang atasan terdengar omelan keras mengenai target penjualan yang belum kunjung tercapai.

Dengan logika common sense, kita tahu bahwa hari itu bukan hari yang tepat untuk nego minta kenaikan gaji bukan? Akan tetapi bagi orang yang tidak peka, mereka tidak bisa membaca situasi dan tetap masuk ke ruangan meminta kenaikan gaji. Sudah bisa kita tebak apa yang terjadi kemudian.

Orang-orang yang tidak peka itu, dalam sebuah buku yang ditulis oleh Eony Hunn, (seorang berkebangsaan Amerika tetapi besar dalam budaya korea) disebut orang-orang dengan “NUNCHI” yang buruk.

“KEPEKAAN” DALAM TRADISI BANGSA KOREA

Nunchi, adalah istilah dalam bahasa korea yang secara bahasa artinya adalah “tilikan mata”, atau secara bebas diartikan sebagai kemampuan untuk membaca situasi. (The ability to sense the atmosphere).

Menarik membaca buku mengenai Nunchi ini, terutama karena “kepekaan” membaca situasi ini sebenarnya sering kita temukan diajarkan dalam berbagai tradisi, utamanya bangsa asia. Hanya saja, dalam buku Nunchi tersebut kita melihat bahwa ilmu kepekaan membaca situasi diajarkan secara lebih terstruktur di Korea.

Misalnya, dari sejak di sekolah, mereka sudah dituntut peka membaca situasi. Seorang guru tinggal mengatakan minggu depan kita akan membuat prakarya lampu gantung misalnya, maka tanpa perlu disuruh, murid-murid sudah akan siap sendiri membawa gunting yang sesuai, alat-alat dan bahan yang diperlukan, tanpa instruksi. Anehnya semura orang membawa alat yang tepat, gunting tipe yang tepat, dst…. Karena kepekaan membaca situasi sudah seperti menjadi bagian dari kehidupan budaya disana, justru seseorang yang tidak membawa perlengkapan karena “tidak dibertahu gurunya”, malah akan disalahkan dan dianggap tidak peka, alias punya NUNCHI yang lamban.

Wallahu’alam bagaimana sebenarnya aplikasinya secara real di sana, tetapi dalam buku Nunchi, itulah kesan yang kita dapatkan.

KEPEKAAN DI LINGKUNGAN KITA

Di dalam tradisi bangsa kita, ketrampilan seperti nunchi ini juga sering kita lihat. Misalnya dalam tradisi Jawa yang sering berbicara dengan bahasa perlambang, dan isyarat, seseorang dituntut untuk bisa menafsirkan makna yang tersirat. Misalnya, saat kita berjalan di jalan komplek, lalu seorang tetangga yang sedang sibuk memangkas rumput depan rumahnya menyapa kita dengan bahasa “Hei pa kabar Mas, ayo mampir dulu”, tentu kita paham bahwa sang tetangga bukan beneran ingin ajak kita mampir, melainkan sebentuk basa-basi keakraban. Kalau kita beneran mampir malah nanti kita yang merepotkan beliau.

Ada juga seperti ini, misalnya seorang teman sedang bertamu ke rumah kita, maka sang tuan rumah akan mengajak tamunya makan atau minum. Sang tamu akan menolak secara halus. Tetapi, dengan kepekaan membaca situasi, maka kita tahu sang tamu memang harus setengah dipaksa untuk makan, karena bentuk unggah-ungguhnya begitu. Maka kita akan memaksa sang tamu makan, sebagai bentuk keramahan kita. Akan repot jadinya kalau kita menawarkan makanan, lalu sikap sang tamu yang menolak secara halus (baru sekali menolak), kita artikan sebagai “yo wis kalau ga mau ya udah”. Kita yang dituntut untuk peka.

Ketrampilan untuk membaca apa yang tersirat, makna sebenarnya disebalik kata-kata ini, dalam perkembangannya mungkin merambah pada hal yang lebih luas dari sekadar hubungan antar manusia. Misalnya, seorang nelayan yang peka, dia akan mengerti apakah sebentar lagi hari hujan atau tidak? Karena melihat burung-burung terbang rendah, yang merupakan isyarat akan terjadinya hujan.

Dalam tsunami besar aceh berapa tahun lalu, dalam sebuah tulisan di media (saya lupa link-nya) disebutkan ada salah satu daerah di aceh dimana penduduknya rata-rata selamat dari tsunami karena bentuk kearifan lokal, yaitu apabila terjadi gempa dan air surut, maka naiklah ke gunung-gunung. Secara ilmu geologi hal itu benar, karena saat tsunami biasanya air surut dulu baru kemudian gelombang balik akan menyapu daratan. Ini adalah sebentuk kepekaan membaca situasi yang dikembangkan secara turun temurun.

Ada ketrampilan kepekaan yang baik, ada yang memang perlu dikaji lebih lanjut apakah benar seperti itu atau tidak?

Hanya saja, kepekaan ini kadangkali diterima mentah-mentah tanpa kita sendiri mengembangkan kemampuan membaca situasi. Atau malah kepekaan ini disalahpahami secara keseluruhan sehingga antipati berlebihan terhadap kemampuan pengamatan atau firasat.

MELATIH KEPEKAAN DENGAN MENGGESER FOKUS KE LUAR DIRI

Suatu hari, anak saya perempuan yang usia TK jalan mondar-mandir di depan saya. Saya waktu itu ga ngeh sama sekali kenapa ni anak mondar-mandir dari tadi. Lalu anak saya melengos dengan kesal. Saya ceritakan ke istri saya, lalu istri saya komentar “Ya ampun paaa…. Itu lho bando-nya baru”.

Ya ampuuun. Anak saya ternyata pengen pamer ke saya kalau dia punya bando baru. Dan saya ga ngeh sama sekali.

Kejadian seperti ini seringkali terjadi. Misalnya saya sedang nyetir mobil melewati sebuah area, saya seringkali tidak aware kalau disana itu misalnya ada pohon apa, ada kafe yang baru buka, atau ada motor yang terbalik di sebelah saya. Kadang saya geli sendiri kalau istri saya suka aneh kenapa saya kok hal-hal semacam itu luput dari perhatian saya?

Selama ini saya tidak terlalu peduli juga dengan kenyataan seperti itu (bahwa seringkali hal-hal kecil itu luput dari perhatian saya), sampai saya membaca buku Nunchi itu dan tiba-tiba tersadar bahwa saya tidak aware dengan hal-hal di luar diri saya (seperti tidak peka bahwa anak saya mondar-mandir pakai bando baru, tidak melihat sama sekali  bahwa ada motor kecelakaan di samping mobil saya, atau ada kafe baru buka di dekat perempatan) adalah karena saya terlalu terbiasa dengan fokus ke dalam diri.

Orang-orang dengan kecenderungan fokus ke dalam diri, seringkali merasa terpisah dengan dunia di luar dirinya, karena saat beraktivitas pun sebenarnya mereka “masuk ke dalam” dan fokus di dalam dirinya sendiri. Mereka menjadi peka dengan kondisi dirinya, seperti memahami kapan dirinya bad mood, apa yang sedang melintas di fikirannya, memahami bahwa dirinya pribadi berkecenderungan karakter begini dan begitu, tetapi seringkali agak kurang pandai memposisikan dirinya dalam pergaulan sosial. Karena dia “tidak hadir” dalam pergaulan sosial itu. Dirinya bisa jadi ada disana, tetapi fokusnya tidak. Dia ada dalam dirinya sendiri.

Saya menjadi menyadari, bahwa setelah memahami diri sendiri (self discovery) tahap lanjutannya memang adalah menggeser fokus yang tadinya berpusat pada diri sendiri, menjadi lebih berpusat ke “orang lain” dan kontribusi sosial.

Itu sebabnya kita lihat orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, mereka sibuk menebar karya dan memberi sumbangsih bagi orang lain, karena fokusnya sudah bukan lagi diri sendiri, melainkan fokus pada lingkungan, membaca dan bertindak.

Dan pola semacam ini (saat sudah selesai dengan diri sendiri, maka sibuk berkontribusi sosial) kita temukan dalam berbagai literatur, dari literatur agama sampai bukti-bukti praktis dalam kehidupan orang-orang modern. Dalam satu hadits dikatakan bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling banyak menebar manfaat bagi manusia lainnya.

Inilah yang saya sadari merupakan kelemahan saya. Yaitu latihan kontribusi sosial. Dan latihan kontribusi sosial, harus dimulai dengan belajar menggeser fokus “ke luar diri”. Melihat kenyataan dalam kehidupan, belajar peka dengan apa yang terjadi, dan memahami apa yang bisa kita sumbangsihkan dalam hidup.

Hal ini berlaku sebaliknya, bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan “pengamatan di luar diri”, pintar membaca situasi (misalnya sifat natural alami ini ada pada pebisnis handal yang pandai bergaul dan bisa membaca momen dalam bisinis) adalah penting untuk menggenapi kepingannya dengan bergeser mempelajari pengamatan ke dalam diri.

Karena kontribusi aktif dalam kehidupan, tanpa ketrampilan memahami diri sendiri, juga kurang pas, karena rawan dengan benturan-benturan yang terjadi sebab kita tidak paham dengan mekanisme diri kita sendiri bekerja. Kapan kita emosi, seperti apa karakter kita, apa yang mendorong kita melakukan sesuatu dll.

Dua-duanya penting. Berjalan ke dalam dan ke luar. sehingga dengan berjalan ke dalam kita menemukan diri (self discovery), dengan berjalan ke luar kita belajar berkontribusi.

Seperti para sahabat di zaman dahulu, malam hari mereka rahib-rahib pertapa, dan siang hari mereka singa gurun yang lapar dan aktif bergerak.

MENEMUKAN DIRI DAN MENEMUKAN TUHAN LEWAT JALAN BEKERJA

Pertama kali saya kerja di kantor -dari sebelumnya pekerja lapangan-, cara sorting angka di kolom Excel pun saya tak paham. Sekedar mengurutkan angka dari yang terendah sampai yang tertinggi saya tak tahu caranya. Karena memang tak familiar. Tetapi setelah beberapa bulan di kantor, jadi tahu caranya. Dan sedikit-sedikit belajar formulasi yang lebih rumit.

Tidak hanya itu, dulu pertama kali di kantor, cara mengorganisasikan waktu dengan lebih baik. Tekhnis membalas email dengan singkat padat. Metoda mind-mapping untuk memetakan ide-ide, semua saya tak paham. Alhamdulillah seiring waktu berjalan, jadi paham.

Dengan bekerja, menjadi belajar hal-hal yang baru.

Tidak hanya hal-hal yang semacam itu, hal-hal yang lebih sedikit “dalem” dan spiritual pun dulunya tak paham. Alhamdulillah lewat sarana “bekerja” menjadi paham.

Karena kesibukan kantor yang membebat-lah, akhirnya menjadi merenung, apa sih yang dicari orang-orang kantoran Jakarta ini?

Lewat merenung jadi mengerti mengenai piramida kebutuhan manusia ala Maslow, karena aplikasinya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari.

Lama-lama merenung lagi, kok ya sepertinya ada yang lebih mendasar tetapi belum terjawab lewat kajian-kajian psikologi barat? Bertemulah dengan tasawuf, spiritualitas islam yang menjawab pertanyaan mendasar itu, kembali ke basic, pengenalan terhadap Tuhan, kehidupan adalah ceritaNya.

JANGAN TINGGALKAN PEKERJAANMU

Dahulu, karena merasa beban pekerjaan begitu hectic, capek, melelahkan, dan ketepatan bertemu dengan kajian tasawuf, saya berfikir “kok kayanya lebih enak kalau saya berhenti aja kerja, lalu tinggal di desa, di pantai, merenungi hakikat hidup di gunung-gunung”.

Untungnya saya tidak berhenti bekerja, hahaha…. tetapi ndilalah menjadi paham bahwa justru dengan bekerjalah, hakikat kehidupan, segala teori tinggi dalam kajian spiritualitas itu, menemukan tempatnya untuk “membumi”.

Dan yang mengalami kebingungan seperti yang saya alami dulu, ternyata banyak. Saya melihat banyak pekerja kantoran di Jakarta -dan kota kota lainnya tentu- karena gerah dengan kehidupan kota yang padat dan letih, mereka ingin banting setir menjadi pertapa saja. Tinggalkan hidup.

Padahal, dengan kehidupan dan pekerjaanmu sekaranglah kebijakan-kebijakan itu menemukan wadahnya. Kalau tidak ada wadahnya -berupa kontribusimu dalam kehidupan- maka segala kebijakan itu hanya akan menjadi teori-teori tinggi di buku-buku.

Ibnu Athoillah As Sakandari yang terkenal dengan Al Hikam-nya pun dulu pernah ingin berhenti saja dari kehidupan beliau sebagai pengajar fikih, lalu ingin hidup men-spiritual, lalu dicegah oleh guru beliau, dan diberitahu bahwa tetaplah dengan pekerjaanmu.

KETAHUI PERANAN KITA DALAM KEHIDUPAN, DAN BEKERJALAH

Para peneliti barat, bertanya-tanya mengapa orang-orang di Okinawa Jepang punya umur panjang-panjang. Teliti punya teliti, ternyata salah satu alasannya adalah orang-orang di Okinawa itu punya konsep hidup dimana mereka tidak mengenal istilah “pensiun”. Bahkan kata “pensiun” atau “retirement” itu tidak ada padanan katanya dalam bahasa mereka.

Kenapa bisa begitu? Karena bagi mereka, sangat penting untuk tahu tujuan dalam hidup. Bagi mereka, setiap orang itu punya peranan dalam hidup, dan hal yang membahagiakan adalah jika kita tahu apa peran kita, lalu setiap hari kita jalani kehidupan yang punya arti, karena kita menjalankan peranan.

Jadi bagi mereka, konsepnya adalah bukan menabung banyak-banyak untuk kemudian berhenti atau resign. Tetapi konsepnya adalah ketahui apa peranan kita dalam hidup, lalu jalani kehidupan secara bahagia karena selaras dengan peran kita dalam kehidupan. Hidup menjadi punya arti.

JADIKAN BEKERJA SEBAGAI JALAN MENEMUKAN DIRI DAN IBADAH

Untuk para pekerja kantoran (atau pekerja di mana saja, sawah, ladang, bisnis rumahan, dst). Kita amati kehidupan kita berputar cepat dan hampir-hampir tidak ada waktu. Kapan lagi waktu kita untuk hidup asketis? Misalnya waktu untuk tafakur seperti para abid? Seperti pertapa? Ndak ada waktu karena kita sibuk dalam kehidupan.

Tetapi…… setelah kita sadari bahwa dengan bekerjalah kita menjadi menemukan tantangan-tantangan, menjadi bertanya-tanya, menjadi mendapat ilmu baru, menjadi mengerti bahwa pandangan kita dulu itu kurang tepat lalu kemudian kita menjadi lebih spiritual dan filosofis sedikit karena kita “dipaksa” untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita akan makna hidup; maka menjadi tahulah kita, bahwa selama ini kita berada dalam MADRASAH-NYA. Pelatihan-NYA, yaitu kehidupan kita masing-masing inilah.

Kita cuplik kisah dalam perang baratayudha, saat dimana Arjuna merasa gamang tidak mau berperang, dan ingin meninggalkan medan kurusetra karena merasa lebih baik dia hidup damai dan lari dari tugas. Di waktu itu, sang penasihat yaitu krishna memberitahu Arjuna, bukan begitu caranya. Melainkan, jalani peranmu dan pahami bahwa dengan menjalani peran itulah engkau memaknai hidup sebagai persembahan.

Istilah dalam islam adalah Lillahi ta’ala. Melakukan seganya untuk Tuhan. Kita menyadari bahwa setiap kita menunaikan peranan, dalam drama kolosal kehidupan ini. Maka jalani peranmu.

SEKEDAR P3K VS PERTOLONGAN SEBENARNYA (BAGI PEMAHAMAN SPIRITUAL)

ALA BARAT

Jika rekan-rekan pernah menonton Film Harry Potter, tentu akrab dengan istilah pembagian kelas seperti Griffindor, Slytherin, dst…. pembagian kategorisasi kelas-kelas dalam film fiksi itu sebenarnya mengutip dari pembagian kepribadian manusia, sebuah bahasan klasik sekali, yaitu Koleris, Sanguinis, Melankolis, dan Phlegmatis.

Pengklasifikasian kepribadian manusia dalam empat tipe itu, kita jumpai bermacam-macam variasinya, tetapi intinya kurang lebih samalah. Kepribadian manusia itu ada yang tipenya dominan-suka memerintah, Easy going-ceria-gampang gaul, Analis yang teliti, dan terakhir orang dengan tipe santai kaya di pantai.

Pembagian ini, adalah khas cara penelitian para ahli barat umumnya. Mereka meneliti apa yang tampak. Gejala-gejala permukaan.

ALA SPIRITUALITAS TIMUR

Agak berbeda, denga cara timur yang masuk lebih dalam pada bahasan “Jiwa”. Karena dalam literatur barat tidak ada pembahasan mengenai “true self”. Mesti pembahasan mengenai true self, diri sejati, itu ada pada pembahasan spiritualitas agama-agama atau juga misalnya spiritualitas timur.

Maka kalau kita lihat, dalam bahasan spiritualitas timur sering kita dengar kajian mengenai “melampaui ego”. Self-less. Karena dalam bahasan spiritualitas timur, sesuatu yang kita kenal sebagai topeng-topeng kepribadian itu, masih belum diri kita yang sebenarnya. Diri kita yang sebenarnya itu adalah sang pengamat yang memahami topeng-topeng karakter itu, sang perekam kejadian yang menjadikan pengalaman hidupnya sebagai topeng-topeng karakter.

Menarik sekali, mengamati bahwa dalam banyak tradisi bahasan-bahasan tentang jiwa ini mirip-mirip.

SUFISTIK

Hanya saja, ternyata ada perbedaan yang lebih mendasar lagi, saat mencoba melihat kajian ini dari sudut pandang sufistik. Dalam kajian sufistik, ternyata tidak hanya kita ketahui bahwa topeng-topeng karakter itu bukan sejatinya manusia, bahkan sesuatu yang dibahas dalam spiritualitas yang jamak beredar di masyarakat (observer, sang pengamat, diri sejati, dsb…) itu pun dianggap bukan sesuatu yang “wujud”. Bukan sesuatu yang “ada”.

Karena, sejatinya yang ada adalah dzat (ciptaan)-Nya. Apapun bahasa sains menyebutnya. Karena dunia fisikal ini, segala yang bisa diindera, dibayangkan, dikaji, kalau dibelah teruuuuuuuus sampai ke dalam, jatuh-jatuhnya sampai pada yang dalam kajian sufistik disebut dzat (ciptaan)-Nya. Bahan dasar segala yang ada, dariNYA berasal.

Segala ciptaan tidak memiliki wujud sejati, seperti dalam sebuah hadits Rasulullah mengatakan demi yang diriku di dalam genggaman-Nya.

Itu sebab, dalam kajian sufistik, tidak ada penyebab sejati melainkan DIA. Tidak hukum-hukum fisika, tidak vibrasi, tidak getaran, tidak intensi atau niat dan macam-macam, melainkan DIA bercerita tentang diriNya sendiri lewat pagelaran alam semesta ini.

P3K (PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN -PEMAHAMAN)

Tapi memang, cara pandang seperti para sufi ini pelik. Dan seringkali tidak mudah menerapkannya.

Maka itu kadang-kadang diperlukan juga tindakan-tindakan yang berdasarkan pada kajian-kajian (yang anggaplah lebih sederhana) semisal kajian psikologi praktis barat, atau kajian self ala timur, sekadar untuk P3K. Semacam pertolongan pertama. Karena setelah masuk pada pertolongan pertama itu, harus dilanjut dengan tindakan medis yang mana tindakan medis itu anggaplah kajian sufistik yang berat-berat itu.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW ada berkata, kalau kamu marah, ganti posisi dari berdiri jadi duduk, kalau masih marah, ganti posisi jadi berbaring. Tindakan itu (dari berdiri, jadi duduk, jadi berbaring) adalah tindakan praktis saja untuk mengatasi emosi yang sesaat. Rasulullah SAW lebih paham daripada kita bahwa yang lebih mendasar untuk mengatasi emosi adalah pengenalan mendalam mengenai diri, dan mengenai takdir, tetapi dengan kearifan beliau, disinggung-singgung juga sedikit mengenai metoda-metoda yang praktis sederhana untuk orang-orang awam.

Karena memang sulit untuk sampai pada cara pandang yang tinggi tadi. Sulit tetapi penting sekali.

Seorang pekerja misalnya, dia begitu kesal karena analisa data yang dia sudah lakukan dengan cermat teliti kok ndilalah tidak dihargai oleh bos-nya. Presentasinya kok ternyata tidak diaanggap??

Secara praktis, kita bisa katakan pada pekerja itu. Bos mu itu, tipenya orang Choleris, dominan, yang bukan terlalu analis. Bagimu, analisa angka-angka dan grafik-grafik itu penting karena kamu orang tipe melankolis yang detail, tetapi bagi bosmu yang penting actionnya, bukan analisa-analisa.

Dengan pendekatan praktis barat itu, si pekerja akan nyadar, oh…. iya ya… ternyata beda karakter saya sama bos.

Bisa juga, masuk pada kajian yang agak lebih budaya timur. Yang tersinggung itu, bukan dirimu lho, yang tersinggung itu sebenarnya adalah topeng kepribadianmu. Dirimu yang sejati, tidak bisa tersinggung, karena dia hanya pengamat saja. Nah ini sudah mulai ribet sedikit, tetapi kalau seseorang sudah masuk disini, maka dia lebih sulit untuk tersinggung (teorinya begitu), karena dia sudah self-less.

Akan tetapi, baru mulai masuk ranah religi sufistik, saat seseorang sudah melihat bahwa bos-nya itu begitu karena “takdir”, yang mana takdir itu sudah ditulis, pasti berhikmah, dan intinya adalah DIA menceritakan tentang diriNYA sendiri. Karena segala yang wujud, tidak punya wujud sejati.

Cara pandang yang terakhir itu, adalah yang paling sulit dipakai. Tetapi kita secara jujur menyadari bahwa cara pandang itulah yang paling mendasar. Karena itulah dikatakan awal dari kehidupan beragama adalah mengenali Allah. Tuhan semesta alam.

MENEMUKAN PERANAN HIDUP DENGAN CARA ALA JEPANG

Kita semua sudah tahu memang, bahwa hidup adalah untuk “ibadah” kepada Tuhan, kata para alim dan para arif. Akan tetapi, yang sering kita kesulitan dalam mensintesakannya adalah bagaimana wujud praktisnya dalam kehidupan? Cocoknya kita ini sebagai apa sih?

Mudah-mudahan video di bawah ini bisa membantu. saya summary-kan dari sebuah metoda yang terkenal, yaitu IKIGAI-nya Jepang.

CHANNEL YOUTUBE

Assalamualaikum rekan-rekan. Berhubung kondisi covid-19. Dan di rumah terus ternyata membuat kita jadi boring juga ya. Maka saya memutuskan untuk belajar media baru sebagai wahana sharing. Menggunakan YouTube.

Isinya tidak terlalu sufistik tentunya. Maunya yang ringan-ringan saja. Sekedar buat seru-seruan.

Monggo mampir disini

BERKAHNYA ORANG YANG HIDUP HEPI (2)

Ada nuansa menggerutu, dalam cerita Mbak asisten rumah tangga pada kami. Beliau kerja bolak-balik ke rumah saya, dan satu sore bercerita pada saya dan istri tentang ekonomi keluarganya.

Yang menarik perhatian saya adalah dalam ceritanya itu nuansa yang saya “tangkep” adalah nuansa menggerutu akan hidupnya dan lalu menyalahkan banyak hal, utamanya suaminya.

Saya menunggu-nunggu apakah akan ada semacam nuansa “merayu” Tuhan, dalam ceritanya itu. Sayangnya belum ada.

Lalu saya tergelitik dan mengatakan pada beliau, “mau ga saya kasih tips Mbak?”

Beliau menjawab, “mau Pak”.

Lalu saya bilang pada beliau, “nanti mbak,” kami memanggilnya Mbak meski usia beliau jauh lebih tua. “pas sudah sampai di rumah, duduk santai di teras, nge-teh, nikmati sambil istirahat, dan pas hati sudah hepi baru mbak berdoa! Doa apa saja asalkan hatinya hepi!”

“Oh gitu ya pak?” jawab beliau

“Iya Mbak. Harus hepi.” saya jawab begitu.

“Ooooh gitu….” kata beliau.

Sebenarnya itu tips spontan saja dari saya. Karena saya teringat tips dari Bapak-bapak yang saya temui berapa tahun lalu di sekolah anak saya. Yang mana beliau mengajarkan untuk hidup dalam rasa syukur.

Sebenarnya, setiap orang mengakrabi Tuhan dengan cerita yang beda-beda. Misalnya kesulitan hidup dimaknai sebagai ujian, dan dijadikan bahan “obrolan” buat merayu Tuhan lewat doa. Maka dengan kesulitan jadi dekat pada Tuhan.

Tetapi belakangan saya lebih menyukai pintu kesyukuran. Yaitu menikmati anugerah Tuhan, dan dalam kesyukuran itu saya berdoa dan berterimakasih. Kehidupan jadi berwarna lebih cerah.

Makanya saya bilang pada Mbak asisten di rumah, cari saja jenak yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan rasa syukur, nikmati kebahagiaan itu, lalu pakai suasana bahagia dan syukur itu untuk berdoa pada Allah SWT. Agar Rahmaan dan Rahiim-Nya terasa.

Bisa saja, jenak kesyukuran itu didapat dari ngeteh sore-sore di teras. Atau mungkin bisa hal sesederhana nyanyi-nyanyi malem-malem sambil melepas penat. Yang jelas jenak yang menerbitkan kesyukuran. Karena semakin syukur, semakin lapang.

Pada pokoknya bisa melewati jalan kesyukuran, bisa melewati jalankesabaran nuansa merasa kerdil dan harap akan pertolongan. Bisa pilih antara dua itu.

Tetapi saya melihat beliau, dan bercermin dengan saya dahulu, mungkin juga masih banyak teman-teman yang punya jalan pandang serupa sekarang, kalau menggunakan jalan kesabaran, harus hati-hati agar hidup tidak terpandang selalu dalam nuansa yang buram. Dan kadang-kadang malah salah setting, larinya ke nggerundel dan komplen.

Maka itu saya ngajak beliau untuk nyari-nyari jenak yang memancing nuansa gembira dan syukur.

Karena selama ini saya kok ya merasa sudah keseringan memandang hidup dengan kacamata yang haru, lalu tiba-tiba tersadar nanti jangan jangan seolah Tuhan tidak tercitrakan welas asih. Jadi saya sekarang senang mencari-cari rasa syukur itu. Nah tema itu tiba tiba keceplos sama beliau.

Karena harta itu harus dinikmati dan dijadikan kendaraan syukur. Allah itu baik.

Seperti dulu waktu awal-awal kerja, saya memakai uang agak eman-eman. Bukannya hemat sih, hemat iya tapi ada semacam rasa memusuhi terhadap harta. Seolah-olah kalau memiliki harta itu adalah suatu kesalahan.

Padahal harta itu memang untuk melayani kebutuhan manusia. Jadi ya pakai saja selama itu berdaya guna dan manfaat. Yang lebih penting adalah saat memakai atau memanfaatkan harta kita “menangkap” rasa syukurnya itu. Dan dalam kesyukuran yang hepi itu, kita berdoa.

-debuterbang-

EMPATI YANG BERBAHAYA DAN PENANGANAN SUFISTIKNYA (2)

MEMBANGUN KEMBALI BATAS-BATAS PERSONAL ALA PSIKOLOGI BARAT

Mengetahui fakta ini, bahwa batas personal  (personal boundaries) itu penting agar kita tidak menyerap emosi-emosi random dari orang-orang, saya mencari tahu bagaimana caranya agar batas personal atau pertahanan mental itu kembali dibangun?

Kalau caranya orang barat dengan trik psikologi mereka, adalah pertama dengan keilmuan. Yaitu dengan menyadari bahwa setiap orang bertanggung jawab atas emosi mereka masing-masing. Jadi mau tak mau belajar untuk “tegaan”. Dan kita harus menyadari bahwa kita tidak bertanggung jawab untuk emosi orang lain.

Contohnya, misalnya ada teman kita punya masalah di kantor kok ya ga fokus gitu. Kita melihat masalah sebenarnya ternyata teman kita itu suka begadang akhirnya ke kantor sering telat dan di kantor ngantuk.

Nah….. kalau tadinya kita bersikap welas asih dengan orang tersebut, kita kok kasihan melihat dia dimarahin bos terus, kok ya ga tega ngeliat dia dipermalukan dengan diterakin bos di hadapan orang banyak, kita jadi sedih mendalam dan merasakan kesedihan orang itu, itu adalah welas asih, tetapi kita tidak membuat batas-batas personal.

Sebaliknya, menurut Mark Manson cara menolong orang itu dengan tetap membangun batas-batas personal yang tegas adalah dengan memberi tahu dia, “Eh, ini salahmu sendiri lho, begadang terus tiap malam. Kalau mau brenti dimarahin bos ya kamu jangan begadang. Masuk yang rajin jadi kalau pas kerja itu ga ngantuk.” Jadi kita membantu, tetapi dengan “agak tega”. Karena kesedihan orang itu ya tanggung jawab dia sendiri

MENGATASI EMPATI AGAR TIDAK KEBABLASAN, DENGAN CARA SUFISTIK

Nah, karena kebetulan saya sukanya kajian sufistik, kalau menerapkan ala-ala barat tadi rasanya kok kurang gimanaa gitu. Alhamdulillah tak lama akhirnya menemukan jawabannya.

Yang pertama, memperbaiki dulu tentang paradigma kita terhadap “masalah”. Bahwa “masalah”, atau apapun saja di dalam hidup ini sebenarnya adalah pengaturanNya, menceritakan diriNya. Jadi tidak ada masalah yang random, karena sesungguhnya yang terjadi adalah takdir yang sedang bergulir. Dan takdir itu ada urut-urutannya, meskipun hikmah tidak kelihatan sekarang, boleh jadi dia akan terlihat nanti setelah tahunan berlalu.

Dan ini kuncinya, setiap orang sudah memiliki takdirnya masing-masing. Jadi dengan terus menerus mengingatkan diri kita sendiri akan fakta ini, membantu membangun kembali batas-batas personal yang sudah lebur karena sikap welas asih yang agak keliru tadi.

Dengan memahami fakta ini, kita akan menjadi sadar bahwa tidak boleh “terlalu banyak ikut campur” dalam kehidupan orang lain. Kita membantu sebisa kita, tetapi yang sebenarnya sedang terjadi adalah takdir Allah sedang berlangsung buat orang itu, dan juga buat kita sendiri. Kita bisa menolong karena takdir, masalah selesai karena takdir, atau kita hanya bisa berbuat sebegini saja itupun takdir juga. Dengan memahami ini, membebaskan kita rasa andil yang tidak perlu dan dari rasa bersalah yang tidak perlu.

Melihat orang lain, akhirnya kita mengerti mengenai takdir yang berjalan. Dan kita menyadari bahwa kita bergerak mengikut rentak takdir. Kita tetap menolong, tetapi kita paham apalah daya upaya manusia ini sedangkan takdir sudah tersusun demikian rapih.

Cara kedua, adalah dengan praktik yang lebih spiritual. Yaitu kita “masuk ke dalam”. Ingat Allah. Dan kita pandang kehidupan “di luar” diri kita sebagai drama yang sedang berjalan. Dengan ini kita “detached”, melepaskan keterikatan yang tak perlu dengan dunia “di luar”.

Kisah yang menarik dan sudah pernah saya tulis sebelumnya adalah kisah Arjuna dalam perang BarataYudha, dimana arjuna yang welas asih kemudian gemetar dan berasa ingin lari dari medan perang karena merasa tidak tegaan dan tidak ada gunanya berperang menumpahkan darah sesama saudara.

Dalam kegamangan itu, Arjuna dinasehati oleh Khrisna mengenai kehidupan. Dan Arjuna akhirnya menjadi paham bahwa dirinya hanyalah “pemain” dalam drama hidup ini, dimana dia berlakon mengikut kisah dalam takdir kehidupan. Jadi Arjuna mengambil tindakan, tetapi secara spiritual memahami bahwa dia harus melepaskan dirinya dari keterikatan dengan tindakan itu.

Orang-orang yang memahami ini barulah bisa mengemban amanah-amanah yang besar. Dia membangun batas-batas personnal-nya dengan kepahaman tentang takdir, dia membantu orang lain dengan berlepas diri dari keakuan yang tidak perlu.

Tentu banyak lagi teknik-teknik lainnya, tetapi dua teknik ini yang secara sufistik saya pahami dan terasa berguna.

Dengan itu, kepekaan seorang empath bisa lebih terarah.


note:

sumber gambar