MELAMPAUI KERIUHAN KATA-KATA

“Ini adalah untuk yang masih memerlukan kata-kata. Bagi orang yang mampu memahami tanpa kata-kata,” kata Rumi dalam ‘Fihi Ma Fihi’, “apa guna lagi kata-kata untuknya? Langit dan bumi adalah kata-kata bagi yang memahami.”

Masih dalam Fihi Ma Fihi, Rumi melanjutkan “Begitu pula orang yang mampu mendengar dengan suara lirih; apa guna kegaduhan dan teriakan untuknya?”

Indah sekali kata-kata Rumi menggambarkan tingkatan kepahaman dan level-level manusia.

Ada orang-orang, yang masih membutuhkan sebab-sebab. Tanpa "sebab-sebab", orang itu akan “kesulitan” mengakrabi Tuhan. Karena mereka ada pada level : butuh “kata-kata” agar “makna” bisa dimengerti oleh mereka. Itulah mengapa Tuhan ciptakan sebab-sebab untuk mereka.

Dulu saya pikir saya sendiri yang mengalami kesulitan ini. Ternyata rekan-rekan saya pun banyak yang mengalami. Sekali waktu merasa begitu terguncang karena kesadaran kedekatan pada Tuhan, tapi di kali lain kok seperti kesadaran itu hilang. Rupanya kita-kita adalah orang yang masih hidup dalam keriuhan kata-kata, perlu sebab, tetapi lupa menempatkan diri.

Seharusnya, kita merenungi penciptaan langit dan bumi. Memikirkan tanda-tanda pada segenap ufuk bahkan pada diri kita sendiri. Menyesapi rasa kebersyukuran atas anugerah kehidupan, semisal merasakan anugerah makanan, minuman, rumah. Berlindung kepada Allah atas segala ketakutan, dan meminta pertolongan kepada Allah atas segala keperluan dan hajat, semuanya adalah perumpamaan memahami “kata-kata”.

Lewat kata-kata itu, “makna” akan sampai, rasa kedekatan, kebersyukuran, rasa “fakir” akan sampai lewat riuhnya kata-kata dalam hidup.

Ada orang-orang, yang tanpa perlu sebab-sebab dan “kata-kata” dia langsung paham.

Segolongan orang dianugerahi kemuliaan untuk langsung “merasakan” trenyuh dan hidup dalam pengaturan Tuhan, tanpa perlu mengkaji bukti.

Merekalah orang-orang yang menurut Rumi, kata-kata tak penting bagi mereka. Dalam bahasanya Buya Hamka mengikut Dzun Nun Al Mishri, inilah orang-orang muqarrabin. Didekatkan, tanpa perlu sebab. Ujug-ujug, langsung merasakan kedekatan pada Tuhan.

Akan tetapi mayoritas manusia adalah golongan awam dan paling banter golongan hukama, yaitu orang-orang yang merenungi dan mengakrabi Tuhan lewat gejolak hidup atau “kata-kata” dalam hidup mereka.

Itulah mengapa do’a menjadi salah satu jalan yang sangat praktis untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Karena, dengan do’a berarti kita menyeru Tuhan dalam suatu konteks. Entah memuji, meminta tolong, bersyukur, mohon ampun, semua kan dalam konteks? Darimana kita dapat konteks? Dari hidup kita sendiri. Itulah “kata-kata”. Itulah “keriuhan”.

Meskipun, dengan berdo'a itu masih ada "diri" kita. kita berdo'a dalam konteks orang yang butuh rizki. maka Tuhan tertampil dalam citra Sang Maha Kaya; pada kesadaran kita. ini tak terelakkan. Tetapi ini pun baik dan tercontohkan. Lumrah pada maqomnya.

Jika kita adalah orang yang dimaksud Rumi, yaitu orang “yang paham tanpa kata-kata”, orang yang bisa “mendengarkan suara yang lirih,” maka kita tak akan mencari-cari sebab. Buat apa mencari sebab, sedangkan “rasa” kedekatan itu sudah nemplok selalu. Dekat kepada Tuhan tanpa konteks sebab-sebab.

Tetapi jika kita bukan golongan itu, maka dunia yang riuh, atau kumpulan kata-kata dalam hidup kita adalah hadiah “pintu masuk” bagi golongan ini. Seorang arif mengatakan, kesulitan hidup sejatinya anugerah.

Dalam kelapangan; bersyukur. Dalam kesempitan; meminta tolong. Dalam kesalahan; bertaubat.

Memang riuh. Tapi lewat dunia yang riuh itu makna kita dapat.

PAGI YANG ADIL

Agak mengagetkan saya sebenarnya mengenai "Rumi". Tadinya saya tak seberapa banyak mengikuti tentang Rumi. Saya pikir "ini opo toh kok nari muter-muter".

Sampai saat saya membaca buku yang tergeletak masih dibungkus plastik, hasil dari berburu di islamic book fair berapa waktu silam, maka pandangan saya tentang Rumi berubah.

Dikatakan dalam pengantar salah satu buku Rumi, yaitu "Fihi Ma Fihi", ternyata rumi menari-nari itu hanyalah ada pada fase penghujung perjalanannya.

Rumi adalah ahli fikih, ulama dari Mazhab Hanafi. Hal ini mengingatkan saya bahwa Ibnu Athaillah pun adalah punggawa Mazhab Maliki, yang dikemudian hari menjadi seorang arif. Bedanya, kalau Ibnu Athaillah tak memiliki galur tasawuf di keturunan beliau kalau saya tak salah, tetapi Rumi dari garis ayahnya memang seorang "salik".

Pada pertengahan jelang akhir hidupnya, Rumi sudah menekuni kehidupan zuhud. Kemudian disanalah dia bertemu dengan seorang arif lainnya bernama syams Tabriz.

Tadinya Tabriz hendak berguru pada Rumi, tetapi pada akhirnya Rumi menyadari bahwa dialah yang lebih banyak berguru pada Tabriz.

Lepas mendapatkan enlightenment alias pencerahan dari diskusi-diskusinya dengan Tabriz itulah, maka Rumi begitu gembira dan kerjanya menari-nari di pasar sambil bernyanyi. Hehehehe.

Melihat Rumi lewat tulisannya, dan Ibnu Athaillah lewat tulisannya, begitu menyenangkan mendapati fakta bahwa ilmu rasa akan menjadi begitu apiknya dijelaskan oleh ahli ilmu lahir pula. Keseimbangan dua keilmuan itu akan menjadi indah. Seperti Imam Ghazali sang Hujjatul Islam.

Kedua, mencermati fakta Rumi, Ibnu Athaillah, dan kisah Ibnu Arabi, saya melihat bagaimana humble dan bersahaja mereka-mereka yang namanya besar di panggung sejarah itu. Mereka berguru pada banyak orang. Dan saling mengisi satu sama lain. Bercerita satu sama lain. Meski satu dan lainnya berbeda approach dalam bagaimana menjalankan sikap zuhud versi mereka.

Ketiga, seringkali apa yang mereka sampaikan, karena halusnya istilah bahasa, disalah mengerti oleh orang-orang setelah mereka. Yang paling pelik adalah istilah wahdatul wujud. Polemik yang begitu panjang. Ada yang ekstrim mengaku menjadi Tuhan, pada sesiapa yang memang berlebihan dengan mengatakan makhluk adalah sama dengan Tuhan, tentu harus kita tinggalkan jauh jauh.

Tetapi para arif besar itu tidak mengatakan seperti apa yang dituduhkan pada mereka. Kesalahpahaman semata karena orang tak mengerti apa yang mereka ceritakan.

Maka itu….. Keempat, belajar dari Buya Hamka, menjadi adil dalam menilai. Orang sekapasitas Buya Hamka pun di penghujung hidup beliau menulis pula sebuah buku yang menjembatani antara ahli ilmu dan ahli rasa. Dan Buya begitu fair menilai yang keliru ya keliru. Yang benar ya benar.

Pada akhirnya, semua cuma cerita.

Seperti kata Rumi, yang maknanya kurang lebih: orang arif akan Tahu bahwa kijang dan harimau hanya gambaran yang dimunculkan. Tak punya wujud sejati.

Secara apik mengenai ini baru saya paham setelah mengikuti kajian yang disusunkan oleh Ust. Hussien. Semua yang bersifat ini adalah mumkinul wujud, yang dimunculkan dari sesuatu yang wajibul wujud, wajib adanya, yaitu dzat-Nya. Keseluruhan alam ini dijadikan satu tetap tak bisa dibandingkan dengan DIA.

Wallahu'alam

-debuterbang-


Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

SPIRITUALITAS BUBUR SUM-SUM

Masjid HidayatullahJajanan favorit di sekolah masa-masa SMA dulu, dengan tak sengaja saya temukan di jalan raya depan Masjid Hidayatullah di Karet Semanggi.

Duduklah saya di penjual makanan kaki lima seberang masjid, usai shalat Jum’at. Menikmati lalu lalang pejalan kaki dan orang-orang yang baru bubaran sholat Jum’at, sambil menikmati semangkuk Bubur sum-sum, sungguh suatu “jeda” yang menyenangkan dari rutinitas yang klise.

Sebenarnya tempatnya tak seberapa nyaman, namanya juga di jalan raya. Tetapi menikmati suasana “jeda” itu, membuat saya berlama-lama dan menunda sejenak agar tak buru-buru menyambangi gedung menjulang di seberangnya, tempat salah satu client kantor kami berada.

Sembari asyik menyeruput Bubur, saya amati para pedagang kaki lima di pinggiran jalanan itu. Sadarlah saya bahwa mereka adalah orang-orang –yang tanpa mereka sadari- menjadi terlatih memaknai bahwa rezeki itu memang dalam genggaman aturan Tuhan. Mereka tiap hari “merasai” bahwa para pembeli jajanan mereka; secara random datang dan pergi dari kerumunan orang-orang. Apa itu namanya kalau bukan “diantar”?

Mereka, para pedagang itu hanya duduk manis saja di pinggir jalan. Setiap ada pembeli yang “mendatangi” terasalah seolah rezeki itu dihantar ke mereka.

Saya teringat pernah disampaikan dalam sebuah ceramah, satu kebiasaan baik pedagang di pasar Jogja –saya lupa pasar yang mana- adalah bersedekah. Mereka bersedekah sebelum berjualan sebagai “pemancing” rezeki. Lalu “bersedekah” pula jika jualannya laku, sebagai bentuk rasa syukur. Karena memahami bahwa ini bukan soal dagang, melainkan soal “menyaksikan pengaturan Tuhan”.

Kadang-kadang, karena terlalu tenggelam dalam kesibukan, kita menjadi lupa bahwa rezeki –termasuk sepaketan di dalamnya, yaitu karir, kantornya dimana, jobnya apa, dll– adalah semua sudah fix dalam kekuasaanNya.

Kalau dalam bahasanya Ust. Hussien, dikatakan bahwa karena natijah atau impact, dari suatu kejadian terasa sangat nyata / jelas, maka sering kita lupa kalau kejadian apapun adalah af’al-Nya. Padahal, masih menurut beliau, menyadari af’al-Nya adalah asas dari ilmu keridhoan. Tanpa kesadaran bahwa kita sedang didalam af’al-Nya, sulit kita untuk ridho.

Ya umpamanya saja saya pribadi. Karena pekerjaan kantor yang begitu bertubi-tubi, dan setiap pekerjaan kadang-kadang memberi sensasi panik yang tersendiri, deadline-lah, tuntutan client-lah, bos-lah, maka kepanikan atau rasa bingung atau rasa capek dan kesal dari pekerjaan itu mencerabuti keilmuan yang kita sudah paham. Lupalah kita bahwa pekerjaan apapun yang sedang kita hadapi; pun adalah af’al-Nya.

Tetapi saya tetap merasa beruntung, untuk telah dipertemukan dalam jeda-jeda kecil di sela-sela pekerjaan yang beruntun itu. Jeda-jeda semacam itulah, yang kadang sepele, hanya makan bubur di pinggir jalan, tapi memberikan kesempatan menengok ulang makna hidup.

Ada segolongan arif, yang makna hidup telah mereka dapati, dan tlah tertanam begitu kuat di hati. Sehingga, cerita apapun saja dalam drama hidup mereka; tak akan menggoyahkan makna yang sudah menancap itu; bahwa semua ini af’al-Nya.

Namun, ada yang seperti saya, kadang-kadang ingat, lebih seringnya lupa. Nah untuk orang-orang yang sering lupa seperti saya ini, maqomnya adalah menikmati cerita hidup sebagai media penghantar makna kembali masuk ke hati.

Kelapangan yang menghantarkan syukur. Atau kesulitan yang menghantarkan rasa “fakir” dan butuh pertolongan Tuhan. Dua-duanya baik, karena yang penting dua-duanya menjadi jalan “pulang”.

Dikatakan oleh seorang guru, yang kurang lebih maknanya adalah : cobalah nikmati rezeki yang didapati sekarang. Misalnya makanan. ingat Allah, dan rasakan benar-benar bahwa  makanan itu adalah pemberian. Sehingga muncul kesadaran dan kita menjadi tune-in lewat rasa syukur. Rasa bahagia.

Adapun maqom di atasnya lagi, adalah para arif yang sudah “sampai”. Bagi yang sudah sampai, kelapangan maupun kesempitan menjadi “tawar”, kalah oleh makna yang memenuhi hati mereka.

Tapi membedakannya sederhana saja, orang yang sudah “sampai” mestilah tidak sibuk mikirin Bubur Sum-sum, seperti saya, hehehehe. Level saya adalah tune-in lewat kebersyukuran atas momen “jeda” dan makan Bubur. Momen dimana hikmah dihantar.


*) Gambar ilustrasi, diambil dari google street

MEMPERBAIKI MAKNA

Ternyata pertambangan di desa itu sudah “mati”. Kami mengira area pertambangan Cikotok pastilah desanya begitu hidup. Itu sebab kami berharap menumpang menginap pada kepala desa disana. Tiba disana ternyata desanya begitu sepi.

Sudah jauh saya dan seorang rekan berjalan kaki dalam rangka tugas pemetaan lapangan geologi, di area Banten, zaman kuliah dulu. Menumpang menginap dari satu rumah ke rumah lainnya. Dan pemberhentian di Cikotok kami hanya bertemu penduduk desa yang menjadi gurandil -Penambang emas tradisional- beberapa orang saja. Desanya sendiri sudah sangat sepi. Tidak semegah dulu, saat pertambangan masih berjaya.

Ketua RT disana memberikan kami tumpangan. Beliau bukan gurandil, tetapi seorang polisi hutan.

Dan cerita bahwa beliau seorang polisi hutan itu, sangat berkesan bagi saya.

“Anda, dek,” katanya memulai pembicaraan pada suatu malam, “Kalau ditempatkan pada posisi saya, pasti menangis.” ujarnya.

Dari beliau saya mendengar cerita bahwa seorang polisi hutan harus menjaga hutan lindung sekian puluh kali sekian puluh kilometer. Seorang diri. Berbekal peralatan seadanya, dan adu nyali dengan pembalak hutan lindung. Membawa keluarga dan anaknya ditempatkan di pedalaman.

Mengapa cerita ini sangat emosional buat saya? Karena dulu ceritanya sewaktu saya SMP, orang tua begitu berkeinginan menempatkan saya masuk sekolah kehutanan. SMA kehutanan, dengan alasan sederhana bahwa lepas SMA saya bisa langsung bekerja. Salah satunya menjadi polisi hutan.

Selepas prasyarat administratif, selepas kami mengirimkan segala dokumen, nyatanya saya tak lulus.

Saya waktu itu begitu bersedih.

Kesedihan itu membawa kami memaknai dengan macam-macam. Barangkali doa kurang sungguh-sungguh. Atau Tuhan menguji. Atau kurang banyak tahajud. Dan macam-macam.

Hikmahnya baru terbuka setelah saya kuliah. Dan dibawa sendiri melihat langsung kehidupan polisi penjaga hutan. Sebuah pekerjaan mulia, tetapi saya mesti dengan jujur mengakui bahwa saya tidak sekukuh itu, untuk menikmati hidup terpencil dalam sebuah hutan lindung, dan bersengketa dengan pembalak hutan.

Kalau saya melihat ulang ke belakang, terlihatlah bagaimana manusia menyifati Tuhan. Memaknai af’al Tuhan.

Sebuah kejadian sederhana bahwa saya tak lulus seleksi sekolah kedinasan, saya maknai dengan macam-macam: Tuhan tak mengabulkan. Saya kurang giat sholat. Tuhan tak suka dengan saya. Tuhan tak memberi jika kita tak meminta dengan terus menerus. Macem-macem.

Sebenarnya, saya sendirilah yang mencitrakan Tuhan seperti itu. Bagaimana kita memaknai hidup, pada gilirannya begitulah citra Tuhan terasakan oleh kita.

Itulah sebabnya, para arif mengatakan, jika kita hendak memandang atau memaknai af’al Tuhan, maka maknailah dengan sifat-sifat yang layak bagiNya.

Anda boleh, melihat Tuhan sebagai yang menyempitkan, tetapi jangan lupa bahwa DIA yang juga melapangkan. Sehingga kesempitan-kesempitan hidup hanya jadi konteks untuk mengakrabi-Nya saja. Bukan membuat hidup berwajah suram.

Sebagaimana anda boleh memberitakan ancaman Tuhan dengan neraka-Nya, tetapi jangan lupa bahwa rahmatNya mendahului murka-Nya. Sehingga segala citra af’al cuma jadi pengingat-ingat untuk kembali.

Tanpa pemaknaan “pintu depan” yang benar, nanti jadi keliru adab dan menyifati yang tidak-tidak kepada Tuhan.

Itu kalau ingin memaknai af’al-af’al yang beragam.

Tetapi di atas itu, ada lagi cara lain. Yaitu menyadari bahwa semua pemaknaan kita atas af’al itu sejatinya hanya persepsi manusiawi yang terbatas. Yang sebenarnya tahu sedetail-detailnya tentang alasan dibalik sesuatu terjadi. Ya DIA sendiri.

Kalau kita begini misalnya….. ada ujian kita sedih, lalu merasa diuji, ada yang frustasi, ada yang memandang keluasan rahmat Tuhan lalu mendatangi Tuhan dalam konteks meminta tolong karena jika DIA menyempitkan, maka sejatinya DIA juga bisa melapangkan.

Tetapi adalagi, orang arif yang kemudian “membiarkan” saja segalanya bergulir atas kehendakNya. Memandang dari belakang.

Bagi mereka, sempit dan lapang itu ndak ada. Hanya persepsi. Persepsi yang dipandang dari kacamata manusiawi yang terbatas.

Semuanya pasti ada hikmah. Biarlah DIA bersendagurau menceritakan diriNya sendiri. Makna dari perbuatan-perbuatan itu, hanya DIA sendiri yang benar-benar mengetahuinya.

Lewat arah mana saja anda memandang, tak apa. Jika af’al-Nya masih begitu membekas di hati, maka pahami bahwa adab “pintu depan” adalah menyifatiNya dengan sifat yang baik bagiNya.

Jika tak lagi membekas sempit dan lapangnya hidup bagi anda,  adabnya adalah tak lagi menyibukkan diri dengan makna-makna. Karena makna-makna itu adalah pandangan dari depan semata


*) gambar ilustrasi saya pinjam dari zedge wallpaper app

DIANUGERAHI KEBETULAN-KEBETULAN


Tugas kantor baru selesai malam ini, sebelum menutup laptop tiba-tiba saya teringat dengan seorang rekan yang atas sarannya lah saya berpindah dari kerja sebagai engineer di lapangan migas, menjadi koordinator di kantor.

Perpindahan kerja dari lapangan menuju kantor kala itu memang penuh pertimbangan. Lebih-lebih bagi orang yang kebanyakan mikir seperti saya. Maka saran dari seorang rekan yang objektif bagi saya sangat membantu dalam menentukan langkah.

Sebenarnya saya tak kenal dekat dengan dia. Hanya kala itu menjadi rekan satu tim dalam sebuah tugas pengeboran di lapangan migas lepas pantai. Dia orang Amrik. Seorang family-man yang membuat saya kagum karena jiwa sosialnya yang tinggi.

“Take it man…. i know you will be suit for that job” katanya mendorong saya mengambil tawaran untuk menjadi koordinator di kantor. Saya yang sudah terbiasa dengan kehidupan ala engineer lapangan akhirnya memberanikan diri mengambil langkah yang besar, setidaknya besar untuk ukuran saya yang suka dengan kemapanan.

Maka kalau direnung-renung kembali, betapa unik. Orang yang entah berantah dari negri mana, bertemu dengan saya di anjungan migas, kemudian memberi dorongan untuk saya melangkah, yang kemudian keputusan saya untuk melangkah itu merubah begitu banyak cerita dalam hidup saya.

Bekerja di kantor. Berjibaku dalam macet jakarta. Belajar bersosialisasi dengan orang-orang. Belajar akrab pada dunia meeting. Dan melihat dunia dari sisi yang sama sekali lain dari yang dulu saya tengok dalam pandangan solilokuy seorang engineer yang akrab pada desing suara pengeboran, aroma laut lepas, kibas-kibas baling-baling helikopter, dan temaram rembulan yang memantul pada ombak laut malam hari.

Adakah itu kebetulan?

Atau dalam pertanyaan yang lebih besar lagi, apakah ada yang tidak “diatur” dalam hidup ini?

Lewat kepahaman akan “diatur”nya hidup inilah, para arif menyesapi kedekatan dengan Tuhan. 

Jika para arif sudah tune-in dan haqqul yaqin dengan keteraturan. Maka orang awam macam saya, harus bolak-balik menikmati memori kebetulan-kebetulan itu, untuk menyusunkan syukur bahwa benarlah hidup ini penuh dengan keteraturan.

Seorang bule yang dipertemukan sesaat dan andil besar dalam mendorong saya untuk mengambil langkah berani.

Atau pertemuan sepintas saya dan seorang aktivis di Pogung Kidul, tempat saya menumpang menginap sewaktu lepas SMA saya hendak mengikuti ujian SPMB penerimaan mahasiswa baru dulu, dari bertemu selintas dengan dialah saya kemudian memutuskan mengambil kuliah geologi.

Kenapa kamu mau kuliah geologi?? karena mas yang tempat numpang ngontrak dulu orangnya baeek, jadi saya mau kuliah di tempat orang baek. sungguh alasan yang tidak teknikal.

Atau pertemuan selintas saya dengan seorang direktur BUMN migas besar, di kampus kami, yang ndilalah memberikan izin saya untuk numpang mengerjakan skripsi di perusahaan dimana dia bekerja.

Juga segala lika-liku hidup. kebingungan-kebingungan menapaki roller coaster kehidupan, yang memaksa saya setiap hari mencoba mengunyah renyahnya kajian Hikam dari Drs. Imron Djamil, kiai tambak beras jombang. ratusan ceramah saya dengarkan dengan khusyuk setiap hari satu demi satu, dalam bahasa jawa yang tak begitu saya mengerti.

Pelan-pelan merubah saya dari yang dulunya begitu fikih minded dan kaku, menjadi melunak pada kajian spiritual.

Dulu segala wacana spiritualitas islam serasa begitu abstrak.

sempat saya mengecewai diri sendiri, kenapa kok saya tak mengerti-mengerti?

Tak lama kemudian gelombang hidup mengantarkan pengertian itu satu demi satu. Yang dulunya abstrak, tetiba terasa begitu terang benderang.

Dari satu guru, ke guru yang lain. yang mayoritas tak pernah benar-benar bertatap muka.

Sempat saya “mencemburui” para sahabat yang berkesempatan ndeprok dan belajar tekun pada siapapun orang-orang arif, sumur hikmah. Sedangkan saya tak berkesempatan begitu.

Tetapi ternyata ilmu mendatangi tak hanya lewat pintu kajian. Dia juga datang lewat kehidupan yang penuh pernak-pernik. Bersyukurlah pula saya bahwa dalam keterbatasan, ternyata tak seberapa tertinggal dengan rekan-rekan yang begitu getol mencari. Biar di belakang, asal tetap berjalan.

Dan begitulah pula pesanan seorang arif, agar tetap beramal, sembari ridho pada maqom yang dianugerahkan pada kita saat ini. H. Hussien Abd Latiff mengutip Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan “berpuas dirilah atas apa yang ada padamu, hingga Allah sendiri meninggikan taraf kamu”

Sebelum tidur ini malam, ingin rasanya saya menuliskan kebetulan-kebetulan itu.

MEMELUK SUKA DAN DUKA

Saya baru tahu bahwa istilah “Suka” dan “Duka” itu ternyata sangat dekat dengan istilah Buddhism, yaitu “Sukkha” dan “Dukkha”.

Saya dengar ini dari acara The Deen Show, wawancara dengan Syaikh Hussain Ye seorang Cina Muslim yang tadinya mantan penganut Buddha.

-Menurut beliau-, besar kemungkinan Buddha adalah seorang Nabi yang mengajarkan tauhid monotheistic.

-aslinya-Buddhisme kononnya begitu dekat dengan islam. Wallahu’alam.

Yang menarik adalah mengenai Sukkha dan Dukkha ini ternyata dekat dengan istilah Basyiran wa Nadzhiran. Kabar gembira dan peringatan.

Para Nabi dan Rasul diutus untuk memberi kabar gembira (Basyiran) dan peringatan (Nadzhiran).

::

Pagi ini saya berdo’a kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menyelesaikan sebuah tugas kantor.

Saya teringat bahwa sangat sering saya mentok dalam melaksanakan sebuah tugas, tetapi setelah berdo’a maka kemudahan itu acapkali datang lewat arah yang tak ditebak.

Kalau dulu saya memaknai pengabulan do’a sebagai jawaban / pemberian Tuhan atas permintaan saya. Kini setelah mempelajari spiritualitas islam saya menjadi paham bahwa karena Tuhan ingin memberi maka digerakkan hambaNya untuk berdo’a.

Do’a adalah pemberian yang didahulukan.

Jika pemberian sudah mendahului permintaan, maka kita paham bahwa permintaan yang tercetus di mulut kita sejatinya hanya ekspresi saja. Ekspresi pengagungan atau persandaran padaNya.

Kalau do’a di mulut sejatinya hanya ekspresi saja dari apa yang ada (diletakkan) di dalam batin, maka secara jujur kita tak bisa untuk tak berdo’a.

Mulut bisa saja diam. Tetapi hati selalu jujur. Kalau dicekam takut maka hati berharap pada Tuhan. Kalau diguyur gembira maka hati bersyukur pada Tuhan. Di dalam hati ada bentuk-bentuk pengagungan pada Tuhan semacam itu. Meski mulut diam. Itupun do’a juga namanya.

Tetapi bentukan rasa di hati. Ini bisa mendewasa seiring perjalanan hidup. Dari yang tadinya melihat suka duka hidup. Bergerak menuju janji kegembiraan (basyiran) dan menjauh dari ancaman (nadzhiran). Menjadi memahami bahwa basyiran nadzhiran semata cerita dari pemiliknya.

Orang-orang yang mengalami realita kedekatan pada pemilikNya, dia menjadi sibuk dengan kedekatan itu, melampaui rasa takutnya terhadap ancaman dan melampaui kegembiraan atas berita yang baik. Sampai tahapan ini dia nrimo. Ga peduli.

Tetapi tak pedulinya mereka itu bukan karena sombong. Melainkan karena saking dekatnya dengan Pemilik dunia, maka cerita dalam dunia menjadi tawar bagi mereka.

Kalau kita masih meniti penghambaan dengan dipagari basyiran wa nadzhiran. Mereka menghamba ya karena memang cinta pada Tuhan.

Tetapi kadangkala kelirunya sebagian kalangan adalah mereka mengabaikan berita ancaman dan janji kegembiraan ini bukan karena sangat dekat pada Sang Pemilik. Melainkan karena sombong.

Dalam satu riwayat kalau tak salah ingat, orang yang enggan berdoa disebut orang sombong.

Karena melawan kata hati. Hatinya berharap pertolongan Tuhan, tetapi lisannya sombong dalam menzahirkan kata hati itu menjadi permohonan.

Anda boleh tak berdo’a, hanya jika di dalam hati dipenuhi keridhoan dan pengertian akan kesempurnaan takdir Tuhan. Jika rasa tentram itu yang memenuhi hati, maka sikap secara fisik tentu bukan mendayu-dayu minta tolong. Melainkan penerimaan yang lapang. “Rodhitu Billahi Rabba”.

Jadi, orang arif itu adalah mereka yang MENINGGALKAN. Bukan DITINGGALKAN.

Seumpama orang zuhud bukanlah yang tak punya dunia (ditinggal dunia) melainkan mereka yang memiliki harta tetapi melepasnya (meninggalkan).

Sama juga dengan pluralitas. Bukan orang-orang yang sombong dan menafikan tata aturan agama lalu menjadi pluralis karena analisa logika.

Melainkan yang memandang keragaman sebagai sama-sama makhluk Tuhan yaitu yang arif dan sepenuh-penuh menghamba pada Tuhan sehingga penuh dengan welas asih.

Dan begitu juga dengan yang lepas dari dualitas. Bukanlah yang mengejek dan mengabaikan janji dan ancaman Tuhan. Melainkan yang menghayati janji dan ancaman. Hingga kedekatan mereka pada Sang Pemilik lebih menyibukkan diri mereka melampaui janji dan ancaman itu.

©debuterbang

……

Ilustration image is taken from this source

TANGGA BIASA, HUKAMA, DAN MUQARRABIN

stairsOrang mukmin biasa, kata Buya Hamka, mengenal Allah karena memang begitulah ajaran yang diterima mereka. Jadi kebanyakan orang mengenal Allah; karena memang begitulah ilmu yang mereka dapati mengenai Allah, sejak dari mereka lahir.

Di atas itu, ada hukama atau ahli hikmah. Yaitu sederhananya adalah orang-orang yang selalu mentafakuri kehidupan, dan mengenal Allah lewat analisa akal dan manthiq atau logika.

Diatasnya lagi, adalah golongan muqarrabin. Yang sampai pada tahap “merasakan” kedekatan dengan Allah.

Golongan muqarrabin inilah orang-orang dengan derajat pengenalan yang paling tinggi.[1]

Di dalam Al-Qur’an ada banyak sekali ayat dengan perintah untuk berfikir atau merenung. Orang-orang yang berfikir tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian pada ujung renungannya mereka mensucikan Tuhan.

Orang-orang yang merenungi tentang kehidupan ini, inilah ahli hikmah. Dengan renungan dan analisa logika mereka mendapatkan bukti kekuasaan Tuhan.[2] ini adalah sebuah kebaikan.

Akan tetapi, setelah bertemu dengan seorang arif[3], barulah membuat saya paham bahwa di atas “tahu” ada kenikmatan “merasakan”. Hal ini adalah gambaran tangga-tangga pengenalan.

Di atas para ahli hikmah yang piawai mengumpulkan bukti tentang kekuasaan Tuhan, adalagi orang-orang muqarrabin yang merasakan lezatnya kedekatan. Begitu bahasanya Buya Hamka meniru Zun Nun Al Mishri.

Kalau para hukama, mengumpulkan bukti tentang Tuhan lewat analisa manthiq. Maka orang-orang muqarrabin sibuk “merasakan” kehadiran Tuhan, kedekatan pada Tuhan.

Jadi bukan saja setakat mengumpulkan bukti tentang-Nya, tetapi melangkah lebih jauh dengan selalu menyadari / merasakan bahwa semua kejadian adalah af’al-Nya yang begitu dekat dengan kita. Lebih-lebih tak semata af’al-Nya yang dekat dengan kita, melainkan pula dzat-Nya.

Orang mukmin biasa mengenali Allah karena lingkungan membuat mereka begitu. Naik sedikit ke tangga atas, para hukama mengenali Allah karena mentafakuri bukti tentang-Nya. Naik lagi ke atas orang-orang muqarrabin sudah tak lagi membahas bukti, melainkan merasakan “kehadiran-Nya” dalam keseharian.

©debuterbang


[1] Prof. DR. Hamka. 1952. Perkembangan & pemurnian Tasawuf: Dari Masa nabi Muhammad Saw. Hingga Sufi-sufi besar.

[2] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

[3] Ust H. Hussien Abd Latiff

*) Ilustration image, taken from this link