TASAWUF GO-JEK

gojekHari ini naik Go-Jek ada pengalaman unik. Pagi-pagi menunggu Go-jek di depan rumah, selang berapa menit eh yang nongol ibu-ibu bawa motor, sama sekali tak disangka. Waddduuuuhhhh.

Saya rasa-rasa ndak enak toh ya? Mau dicancel, rasa tak enak hati. Akhirnya ya sudah saya naik saja.

Ibu-ibu ini sedikit gemuk, tetapi diluar perkiraan saya dia sigap dan tangkas. Kalau lampu sein ke kanan, dia belok ke kanan, kalau ke kiri dia ke kiri. Tidak seperti umumnya yang dituduhkan meme-meme humor di medsos, katanya kalau ibu-ibu naik motor, sein ke kanan beloknya kiri, hehehe.

Dari Rumah ke kampung rambutan ditempuh singkat saja, dan hapal jalan-jalan pintas. Wah… mantap juga ternyata. Begitu sampai tujuan, saya beri nilai penuh, dan saya beri tips lewat aplikasi Go-Pay. Pasalnya…… “saya kasihan”, ibu-ibu terpaksa ngojek.

Lalu sorenya, kembali lagi pengalaman yang unik. Di sebrang kampung rambutan saya duduk ganteng menanti abang Go-Jek. Tak lama kemudian yang nongol bapak-bapak sepuh. Waddduuuuh….  Rasa tak enak hati. Lagi pula, bapak-bapak ini tidak memakai seragam Go-Jek, “maaf mas, jaketnya belum jadi.” Ujarnya.

“aman aja pak….” Kata saya.

“Tapi satu lagi Mas, ini motor saya kalau naik tanjakan agak ndut-ndutan, maklumlah motor tua.”

“Ooooh gapapa Pak, sante aja.” Saya jawab begitu.

Eh ternyata benar, motornya lamaaaa dan ndut-ndutan, hehehe.

Tapi setelah sampai rumah, akhirnya saya berikan nilai bintang lima di aplikasi Go-Pay, dan saya berikan tips. Alasannya sama, “saya kasihan” bapak-bapak sudah tua malah ngojek.

Dipikir-pikir, saya renungkan, eh….ternyata begitu polanya. Seringkali saya tergerak berbuat amal sosial di-drive oleh rasa kasihan. Sisi emosional saya yang tersentuh, menjadi pemantik untuk berbuat kebaikan.

Hal ini, dalam tangga-tangga kebaikan, saya pikir berada dalam level kebaikan yang saya  sangat bawah sekali.

Saya teringat dengan wejangan seorang guru, bahwa perumpamaan seseorang yang melakukan kebaikan karena Allah itu adalah seperti lilin. “Membakar diri sendiri”.

Seperti keluarga Rasulullah SAW yang memberikan makanan yang tersisa kepada fakir miskin meskipun mereka sendiri kelaparan dan tak ada makanan untuk berbuka.

Mereka berbuat baik kepada siapapun saja, melintasi kebaikan yang disetir oleh emosi. Tak perduli apakah sasaran kebaikan itu menyentuh sisi emosi dan berhak dinelongsoi apa tidak.

Waduh… saya jauh sekali dari tingkat seperti itu.

Umpamanya saja memberi sedekah, atau memberikan sebagian rizki untuk yang memerlukan, siapapun saja. Ada semacam gejolak tarik menarik di diri saya. Beri…engga….beri…engga’, sampai kemudian saya secara prinsip menyadari bahwa kebaikan ada pada “memberi”, tetapi untuk memenangkan “memberi” itu; saya harus menyelami sisi empati saya sendiri. Ketika saya membayangkan bahwa yang akan diberi ini sangat butuh, dan nelongso, maka empati saya terbit dan saya memberi.

Sehingga, pemberian saya belum melampaui batasan itu. Pemberian yang terbit karena sisi empati dan emosional saya yang tergugah. kalau ga tergugah, atau orangnya songong, ya sulit saya memberi.

Kalau para arifin, mereka-mereka memberi karena paham siapa sebenarnya “yang memberi” dan siapa sebenarnya “yang diberi”. Bahasa njlimetnya adalah “sejatinya yang memberi dan yang diberi tak pernah ada, non existence, yang ada hanyalah dzat-Nya, karena makhluk sejatinya non existence, alias tak punya wujud sejati. Bahasanya Buya Hamka, kajian mengenai yang ada ini disebut “ontologi” tapi kalau bahasan tasawuf membahas ini dalam ranah wajibul wujud dan mumkinul wujud. Wis tapi bukan ranah saya membahas detailnya. hehe.

Contohnya, seperti sebuah hadits, dimana dikatakan di akhirat kelak Allah SWT bertanya bahwa DIA sakit, tetapi tidak dijenguk. Lalu hamba kebingungan, bagaimana mungkin Tuhan semesta alam sakit? Lalu dijawab bahwa si Fulan sakit, kenapa tidak dijenguk? Si fulan lapar kenapa tidak diberi makan? seandainya diberi makan atau dijenguk, akan kita dapati orang-orang yang butuh itu ada disisiNya.  [1]

Kepahaman seperti itulah yang berada di tangga lebih atas lagi. Melampaui kebaikan-kebaikan yang disetir oleh rasa kasihan dan empati atas nelongsonya orang lain.

Tapi ya kebaikan seperti itu ga bisa dikarang-karang. Kalau belum nyampe ya belum nyampe, hehe.

Secara jujur saya mengaku kepada seorang guru yang arif, bahwa saya masih sangat jauh dari capaian sebegitu. Tetapi beliau katakan, bahwa setiap buah akan ada masa ranumnya. Jadi yo wis….. nikmati sajalah…segini yo rapopo. hehe.

Saya jadi teringat kisah Abu Bakar Ash Shiddiq yang menafkahkan seluruh hartanya. Dan itu “boleh” untuk beliau. Kasus yang khusus.

Sahabat lainnya, menafkahkan lebih dari sepertiga harta, tak boleh, dikatakan bahwa sepertiga itupun sudah banyak.

Kembali lagi. Artinya bukanlah tidak boleh beramal. Ada hal-hal yang wajib dan sudah diset menjadi standar setiap orang harus melakukan. Misalnya ya sholat lima waktu.

Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, saya baru pahami maksudnya para arif yang mengatakan bahwa amaliyah itu terzahir dari ahwal-ahwal (situasi ruhani). Berbeda ahwalnya, maka akan berbeda pula amaliyah yang zahir pada orang tersebut.

Yang perlu pokok dipahami adalah betapa pentingnya “pemahaman”. Pemahaman yang benar akan pada gilirannya menghantarkan pada terbitnya amaliyah yang lebih tajam.

Teringat saya sebuah perumpamaan dari sang arif tersebut, bahwa jika belum ada “impact” bagi kita –utamanya saya-, belum ada bekas yang nampak pada kehidupan pribadi kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah kembali mengaji lagi ilmunya. Sampai kepahamannya benar dan tajam. Nanti, pada masanya kepahaman yang benar itu akan berbuah manis.

Mintalah padaNya kepahaman, karena kepahaman itulah yang akan menerbitkan perbuatan.

Begitu…. Laporan dari naik gojek hari ini. Demikian.


Ref:

[1] “Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?” “Hai, anak Adam! Aku minta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, Bagaimana mungkin aku memberi engkau makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu seandainya kamu memberinya makan niscaya engkau mendapatkannya di sisi-Ku?” “Hai, anak Adam! Aku minta minum kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?” Jawab anak Adam; “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala menjawab: “Hamba-Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku.” (HR. Muslim: 4661) – http://hadits.in/muslim/4661

* ) Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

 

MENGEJAR MUADZIN MUSHOLLA 

Betapapun saya ingin menyalip, atau paling tidak menyamai Mas Isdat, muadzin musholla komplek, saya selalu kalah.
Dia yang paling dahulu ada di Musholla komplek, sedang saya jarang-jarang. Dia hadir disana dan menjadi muadzin langganan, dia orang paling bersahaja, tak banyak bicara tapi selalu hadir dan berkontribusi dalam acara, menyumbang hal-hal yang remeh temeh sampai meminjamkan peralatan rumah untuk keperluan acara-acara sosial.

Jadi, saya selalu kalah dalam capaian-capaian kebaikan itu.

Yang menarik dari menyadari kekalahan kebaikan itu adalah saya menjadi lebih memahami wejangan guru, bahwa “jika ditakdirkan beramal, maka beramallah seseorang itu.”

Karena direnung-renung bahwa hal-hal yang mendukung terzahirnya sebuah amal itu banyak. 

Umpamanya saya melihat mas Isdat, maka paling tidak saya bisa membuat list hal-hal yang mendukung, antara lain kondisi pekerjaan, kultur, sifat bawaan, keluarga, dan hal-hal yang lebih abstrak semisal ilham kebaikan, semuanya harus “berkonspirasi” sehingga amal kebaikan mewujud dari Mas Isdat pada waktunya yang telah ditentukan.

Ibnu Athaillah mengatakan, jika ingin melihat kedudukanmu disisi Allah, lihatlah dimana DIA menempatkanmu sekarang.

Dalam suatu Hadits dikatakan, jika Allah inginkan kebaikan pada seseorang, maka orang itu difakihkan dalam agama.

Artinya, kebaikan yang muncul dari seseorang, bukanlah “sebab”, melainkan akibat dari didudukkannya orang tersebut pada posisi yang Allah kehendaki.

Hal ini senada dengan wejangan para arif, bukan amalmu yang menyampaikan kepada DIA, melainkan DIA yang menyampaikanmu padaNya.

Akan tetapi, menyadari segala hal tersebut tidak lantas membuat kita menyepelekan amal.

Sebagaimana hadits Rasulullah tentang takdir, jangan berpasrah -meski sudah tahu bahwa segalanya tertulis-, melainkan tetaplah beramal, karena seseorang akan dimudahkan atas apa yang telah tertulis baginya.

Mentalitas kita dalam beramal menjadi berbeda. Kita melihat amal sebagai sebuah anugerah. 

Sering kita dengar bahwa nikmat terbesar adalah “islam”, kalimat itu barulah saya temukan sisi spiritualnya lewat tasawuf, bahwa segala hal yang menjadikan kita bisa menyesapi kehidupan sebagai “dalam genggaman” DIA ; itulah anugerah itu.

Dan kadangkali, cara DIA menghantarkan kita pada kesimpulan itu adalah lewat onak duri.

Seringnya sih, sebelum melewati onak duri ujian kita agak-agak “ga percaya bahwa bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya”. Seperti kita berkuasa atas amaliyah kita. Sepertinya amal kita yang menyampaikan kita padaNya.

Tetapi setelah dibanting-banting hidup biasanya mulai berubah cara pandang. Dan menyadari bahwa tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

Dan saya perhatikan, sesiapa yang pelan-pelan memahami mengenai ini, tidak lantas menjadi abai akan amalnya, melainkan dalam amalnya dia bersyukur, dalam kendurnya dia menjadi semakin memohon dimudahkan beramal.

Seperti sebuah doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Allahumma ainni ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah, ajarkan aku berdzikir padaMu, bersyukur padaMu, dan memperbaiki ibadahku.

Jadi kalau dianugerahi, maka terzahirlah amal-amal itu pada kita.

KENYANG SEHARI, LAPAR SEHARI

eatHidup bertaburkan kemewahan, tetapi dekat dengan Tuhan. Saya sih mau hidup begitu, hehehe…. Enaknya. Tetapi yang mendapatkan peran bertabur kemewahan dan gelimang harta yang berkah dan jadi jalan kesyukuran, sudah ada Nabi Sulaiman a.s.

Masing-masing kita mengikuti laju kereta takdir kita masing-masing. Kita menjadi penumpang di dalam perjalanan takdir. Yang kebanyakan tema-nya adalah kadan enak, dan seringnya tak enak.

Rasulullah SAW dalam kebersahajaan beliau,tatkala padang pasir hendak dijadikan emas untuk beliau, maka beliau katakan beliau hanya ingin hidup sehari kenyang- sehari lapar.

Saat kenyang memujiNya, saat lapar merendah padaNya.[1]

Dalam menyikapi lapar ini, saya sering mengelirukan antara sabar dan ridho.

Saya mengira, bahwa kesabaran adalah ketiadaan emosi duka-lara saat ditimpa ujian. Maka saya sering kesal sendiri pada diri saya, saat ada ujian kok masih ada sedih dan duka lara? Kok bukannya santai kaya di pantai??

Padahal,  kondisi dimana saat ada ujian malah santai kaya di pantai, alias ridho, atau seratus persen lapang dan bebasnya hati dari rasa sedih dan duka, adalah level yang lebih tinggi dari sabar, ridho itu diatas sabar.

Umpamanya, saat seseorang tidak makan, maka impuls listrik dari lambung mengirim sinyal ke dalam otak yang diterjemahkan sebagai “rasa lapar”.

“Rasa lapar” ini tidak mengenal kasta spiritual. Orang arif dan rampok, sama-sama mengenali “rasa lapar” apabila lambungnya lama tak terisi.

Akan tetapi, “rasa lapar” menghantarkan pada suasana merendah dan butuh pada pertolongan Tuhan dalam usahanya, lewat kacamata orang arif. Itu sabar.

Sebaliknya, “rasa lapar” menyebabkan misuh-misuh, dan lalu menghantarkan pada hasrat merampas milik orang lain dalam kacamata seorang rampok. Itu tak sabar.

Sebagaimana rasa lapar akan terbit secara natural. Begitupun rasa sedih, dan rasa takut. Sedih dan takut, adalah alarm psikologis. Takut, adalah alarm bahwa ada sesuatu yang tak kita mengerti, sebagaimana lapar adalah alarm bahwa lambung belum terisi.

Di dalam kesulitan, rasa sedih dan takut, muncul secara natural sebagai alarm bagi psikologis kita. Tetapi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sedih dan takut adalah umpama “lapar sehari” yang menghantarkan kita merendah kepadaNya.

Kesabaran kita, tidak menjadi cacat dengan hadirnya rasa sedih dan takut dalam jiwa kita, selama sedih dan takut itu menghantar kita padaNya. Karena, manusia umumnya yang awam, membutuhkan konteks untuk mengakrabiNya. Sebagaimana Ali r.a katakan, karena mendapati dirinya sebagai yang fakir, maka dikenalilah Tuhan sebagai Yang Maha Kaya.

Seorang arif mengajarkan, bahwa dengan mentalitas yang tepat, kita bisa “meletakkan” rasa sedih dan takut, – juga rasa yang lain- di luar jiwa kita. Kedudukan kita terhadap rasa-rasa yang seliweran datang dan pergi itu umpama dokter dan pasien.

Kita –yang sadar dan mengamati- itu adalah dokternya, dan pasiennya adalah rasa-rasa yang seliweran itu. Kenapa mereka datang? Apa yang keliru? Karena setiap perasaan yang datang, bukan datang begitu saja, tetapi menunaikan fungsi mereka masing-masing sebagai alarm bagi jiwa.

Kedudukan spiritual dii atasnya lagi, dari maqom mensabari rasa-rasa yang seliweran itu, adalah “terlepas”nya kita dari rasa-rasa itu sama sekali. Itu ridho.

Kondisi plong karena lewat macam-macam rasa itu, selalu kita kembali pada Tuhan. maka seperti ada jarak mental antara kita dan rasa. Benar-benar rasa hanya dimaknai sebagai alarm saja bagi jiwa.

Ternyata flow-nya begitu. Tetapi kita, utamanya saya, rasanya begitu jauh dari capaian itu. Seringnya sih rasa itu nempel di hati kaya perangko, hahaha.

Tetapi langkah awalnya sederhana ternyata, jika kenyang kita memujiNya, jika lapar kita merendah padaNya. Orang tak bisa mencapai “ridho” tanpa melewati gelombang rasa sabar dan syukur itu.


[1] H.R. Ahmad 21166

*) image sources

ORANG BESAR DI SEKITAR ANDA

Saya iseng mencari data mengenai Bill Gates dan Mark Zuckerberg, terkait dengan “amal” yang mereka sumbangkan bagi kemanusiaan. Kononnya, entah valid entah tidak, Mark zuckerberg mendermakan 99% saham Facebook untuk amal.

Entah bagaimana skema pembagiannya saya ga mudeng, tapi yang jelas memang sering sekali dia tercatat sebagai salah seorang penderma bagi yayasan amal.

Begitu pula Bill Gates. Tercatat saya baca di wikipedia, dia menyumbang setara 44.3 billiun us Dollar. Per 2014 lalu.

Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan banyak lagi contoh pebisnis ternama, adalah orang-orang yang menemukan sisi spiritualitas kehidupan pada puncak keduniawian mereka.

Entah sudah berapa kali, saya sering juga menemukan cerminan pola itu dalam kehidupan kerja saya pribadi. Saya banyak bertemu dengan orang-orang besar dalam dunia bisnis migas, yang menjadi spiritualis pada puncak prestasi mereka.

Seperti kemarin, saat saya berkesempatan menjaga stand kantor di perhelatan IPA CONVENTION ke-41 di Jakarta Convention Center, seorang lelaki berusia sekira 50 tahunan datang dengan santai ke pojokan stand kami dan melihat sebuah layar TV yang sedang memutar video sebuah teknologi dalan industri pengeboran migas.

Karena rekan-rekan yang lain sedang sibuk menghampiri pengunjung lainnya, maka saya hampirilah beliau dan berbincang santai.

Sederhana orangnya, dalam balutan pakaian batik yang juga sederhana, tak nampak mewah, memegang secangkir kopi dari booth yang banyak terhampar di seputaran Hall JCC.

Saya ajak ngobrol dengan bersahaja, si Bapak selalu mengarahkan pada obrolan bisnis makro. Saya tarik lagi ngobrol teknologi, kembali dia ngobrol bisnis dari skala global sambil santai. Eh…..sopo Bapak Iki? Saya mulai curiga.

Saya lirik name tag-nya dan saya lupa-lupa ingat, kayanya saya kenal orang ini. Pernah dengar namanya entah dimana.

Tapi obrolan berlanjut, dan dia bersedia mendengarkan paparan, sembari menjelaskan pandangan beliau tentang skema gross split eksplorasi migas.

Selepas obrolan singkat itu, beliau pamit dan melanjutkan melihat-lihat.

Saya yang penasaran langsung membuka mbah google di handphone, dan tentu saja, olalaaaa…..ternyata beliau adalah salah satu dewan direksi BUMN Migas ternama di Indonesia.

Padahal, biasanya untuk pengunjung “level-level tertentu” akan ada tim khusus yang menyapa dan tentntunya dengan bingkisan pula. Hehehehe. Tetapi ini beliau seorang dewan direksi, “tak terdeteksi” karena style yang sangat biasa.

Saya jadi teringat dulu zaman Mahasiswa, saya sempat mengerjakan skripsi di perusahaan Migas BUMN Indonesia, dan selalunya yang begitu humble, sopan, akomodatif, santai adalah orang-orang yang ada pada puncak piramida. Yang baru-baru ngebos biasanya rada gegayaan dikit, hehehe.

Pelajarannya setidaknya yang bisa saya rangkum adalah:

– respect everyone. Tak hanya orang-orang yang nampak biasa itu kadangkali orang “penting” di dunia lahiriah, tetapi lebih sering juga orang-orang yang nampak biasa adalah orang-orang yang secara spiritual adalah begitu mumpuni dan dekat dengan Tuhan. Umpamanya Uwais Al Qarni yang gembel tapi mulia. Atau umpamanya juga Umar Bin Khattab, khalifah dimasa penaklukan-penaklukan, tetapi juga seorang spiritualis sejati.

– kedua, adalah bahwa di puncak perjalanan hidup, orang sering bertemu kenyataan bahwa bukan hidup ini yang mereka cari. Maka para pucuk pimpinan -tentu tak selalu- malah menjadi biasa dan banyak derma. Misalnya steve jobs, bill gates, Mark zuckerberg selalu bajunya itu-itu aja dan stylenya santai…. Banyak sedekah…. Asyik kan? Hehe.

– ketiga, kadangkali kehidupan yang dimasa sekarang, menjadi jalan kebaikan di masa depan. Saya pernah bertemu seseorang yang dulu saat beliau masih muda begitu sombongnya dan saya pernah begitu sakit hati dibuatnya sewaktu mereka menjadi client kami. Tetapi sekarang lebih santai, calm, dan humble. Jadi ya cerita masa lalu dan kesombongan silam itu hanya jadi jalan bagia dia menemukan kedewasaan lewat kereta karirnya.

– keempat, melihat semua fakta itu. Pahamlah kita, pendidikan “ruhani” adalah sesuatu yang sangat luas, dan berkait dengan semua orang. Kadangkala, kebijakan hidup tidak selalunya didapatkan orang lewat bangku pesantren. Ini lho, universitas kehidupan ini lho, lewat bentuknya yang beragam, mengajarkan kita dengan caranya sendiri.

Dan sebagai pamungkasnya, tak perlu kita sampai pada puncak karir dulu baru jadi spiritualis, yang penting kita paham skema, bahwa dunia adalah jalannya, menspiritualis adalah cara kita Iqro’ membaca pelajaran-Nya.

MAKAN DIM-SUM DAN MENCARI EMOSI

Ini cerita agak norak sedikit, jadi ceritanya saya baru mengenal makanan yang namanya Dim-Sum itu selepas kuliah, sewaktu saya baru masuk kerja dan mendapatkan training di Balikpapan.

Saat training, dua bulan penuh tinggal di hotel, dan tiap pagi sarapan di restaurant hotel dimana ada salah satu menu Dim-Sum disana. Wah….ini siomay model baru nih, pikir saya waktu itu, benar-benar norak, hehehehe.

Saat dicoba, oh my God….memang enak sekali. Terlebih Dim-Sum yang isinya jamur sama potongan daging, dan yang ceker ayam, waduuuh memang luar biasa. Jadi setiap pagi saya langsung ambil Dim-Sum, sebelum mengambil menu yang lain-lain. Dim-Sum sudah menjadi menu favorit kedua saya, setelah Mie Ayam, hahahaha.

Nah….sewaktu menikmati Dim-Sum, dan sewaktu menyesapi kesempatan tinggal di hotel, dan transisi dari anak kuliahan yang nge-kos dan serba sulit, lalu ujug-ujug dapat uang sendiri dan hidup lumayan nyaman, ini memberikan sensasi kebahagiaan. Hepi hepi begitu.

Alhamdulillah, saya bersyukur bahwa Allah mentakdirkan saya bekerja, dan mendapatkan kesempatan menikmati momen-momen happy yang sederhana itu.

Nah….”rasa bahagia”, yang kemudian menghantarkan pada kebersyukuran, tentulah bagus. Sebagaimana “rasa sedih” yang menghantarkan pada sikap fakir dan butuh pada pertolongan Tuhan, itupun bagus.

Tetapi, ada satu hal yang kembali mengingatkan saya akan perbedaan yang tipis itu, bahwa tentram dan bahagia itu berbeda. Adakah rasa tentram dalam mengingati Allah itu sama dengan emosi bahagia saat makan Dim-Sum?

Seorang Arif, kembali mengingatkan saya bahwa rasa tentram saat mengingati Allah, adalah berbeda dengan apa yang selama ini kita kenal dengan “emosi bahagia”. Dengan “emosi bahagia” saja beda, apalagi dengan “emosi sedih”.

Tetapi, kelirunya kita, dan utamanya kelirunya saya sendiri, adalah kita mencari “emosi” itu disaat kita mengingati Allah.

Seringkali, ada yang bertanya, bagaimana rasanya mengingati Allah? Persis seperti yang saya dulu sering tanyakan juga pada orang-orang, apa rasanya?

“Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”. 

Kita mengelirukan rasa tenang itu dengan emosi bahagia. Maka saat berdoa, berdzikir, mengingati Allah kita mencari bentuk emosi……kok saya tidak merasa bahagia ya?

Atau kebalikannya kok kita tidak merasa syahdu dan haru biru ya? Kok saya tidak menangis?

Padahal “state” default keadaan mengingati Allah itu adalah menghasilkan efek “tenang” atau tentram ini yang paling sering. Bukan bahagia emosional yang buncah, bukan sedih yang menyayat hati.

Tentram, ini umpamanya danau yang tenang. Yang kalau dilempari batu, maka batu itu masuk ke dalam. Tidak menimbulkan bekas di permukaan danau. Permukaannya hanya beriak sedikit tetapi riaknya tidak masuk ke dalam, lalu sebentar kemudian mereda.

Itulah tentram. Rasa tenang, yang bukan emosi bahagia berlebih, dan bukan rasa haru berlebih.

Tapi saya sih seringnya ombak yang membadai, bukan danau yang tentram. Hahahahaha.

Tentu bisa saja, sesorang mengingati Allah kemudian menimbulkan rasa guncang. Karena sesorang terbayang kekuasaan Allah. Menangis haru. Sangat bisa. Apakah dia merasakan JAMAL-Nya, atau JALAL-Nya.

Akan tetapi, barulah saya paham, setelah guru menjelaskan bahwa impact dari ingat Allah yang “sebegitunya” itu tidak akan terus menerus. Tidak yang dikit-dikit nangis haru, teruuuuus seumur hidup.

Seperti saat kali pertama rasulullah menerima wahyu, badannya bergetar, guncang, takut dan sampai mau meloncat dari gua hira. Tetapi hal itu tidak setiap hari. 

Dijelaskan oleh beliau yang Arif, bahwa jika setiap saat seseorang mendapatkan situasi ruhani seperti itu, maka manusia akan mati karena tak kuat menanggungnya.

Jadi wis, ga usah nyari-nyari emosi. Karena state paling sering didapati itu adalah “tentram” karena mengingati Allah. Yang tiada umpama. Seperti berjarak dengan emosi yang membuncah dan bergolak. Yang di dalam itu, selalu tenang. Dan terasa bahwa emosi itu adalah anasir di luar diri kita.

Seseorang bisa saja, menemukan emosi bahagia dengan membayangkan kejadian atau membayangkan suasana yang dia senangi, emosi bahagianya terbit, tapi itu bukan mengingat Allah.

Sebagaimana seseorang bisa saja menjadi haru biru menangis syahdu dengan mengingat-ingat masalahnya selalu, tetapi itu adalah emosi haru, bukan mengingati Allah.

Saat mengingati Allah, dan lepas dari ingatan pada benda-benda, rupa, warna, kejadian-kejadian, maka hati akan tentram. Sudah begitu saja.

Tinggal nanti apakah akan diperjalankan merasakan JAMAL-Nya atau JALAL-Nya. Tetapi tetap bukan emosi-emosi itu tujuannya.

Tetapi sebaliknya, jika cerita hidup menghantarkan macam-macam emosi itu pada kita, ya jadikan pintu saja untuk berdoa. 

Nah….begitulah ceritanya. Saya ketik sembari makan mie goreng, tak ada Dim-Sum di sini sekarang. Hehehe.

PERANG FACEBOOK DAN MEMAKNAI DOSA

Facebook sudah menjadi kancah perang sekarang ini. Setiap kali membuka facebook, setiap itu pula seperti melihat medan debat raksasa, dua kubu yang itu-itu juga, pemilihan kepala daerah di ibukota. Yang menimbulkan friksi dimana-mana.

Saya menjadi silent reader dalam perdebatan mereka, sambil kadang senyum kadang kaget dengan cara pandang sebagian kalangan. Tapi ya kemudian anggap angin lalu saja. 

Tetapi, yang mengusik pikiran sejak kemarin adalah perdebatan antar teman SMA yang sampai mengungkit ranah masa lalu. Salah satu kubu, menghardik kubu lainnya dengan mengatakan jangan sok suci dan jangan urusi kesalihan orang lain. Bukankah kamu dulu waktu sekolah SMA orangnya begini begitu, luar biasa sekarang kok kamu jadi seperti yang paling salih…… dan seterusnya dan seterusnya.

Saya tertegun membaca pertengkaran mereka. Bukan dari segi politiknya, tetapi secara “spiritual” saya menjadi bertanya-tanya apakah seseorang itu harus selalu dikaitkan dengan masa lalunya? Bagaimana para arif memaknai dosa, dalam sudut pandang tasawuf islam?

Nabiyullah Adam, a.s memulai ceritra manusia di bumi diawali dengan “dosa” memakan buah khuldi. Dan dalam satu hadits, dikatakan bahwa di syurga kelak, Adam, a.s. didebat oleh Musa, a.s. Musa katakan, karena dosa Adam, a.s. lah anak keturunan manusia terpaksa hidup di bumi. 

Tetapi dikatakan dalam hadits tersebut, Adam a.s. menjawab kepada Musa, apakah Musa hendak menyalahkan Adam, mengenai sesuatu yang telah dituliskan untuk Adam –yaitu takdir dosanya- jauh-jauh hari sebelum Adam diciptakan? Lalu Adam mengalahkan Musa dalam hujjahnya.

Menarik, melihat bahwa “dosa” Adam diungkit kembali oleh Musa, tetapi kemudian Adam berhujjah, berdebat dengan Musa dengan mengatakan bahwa dosa itu sudah tertakdir untuknya, bagaimana bisa dia disalahkan?

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya tentang takdir, sempat saya baca juga menjelaskan mengenai ini. Menurut Ibnu Qayyim, dosa seseorang, yang sudah menjadi jalan taubatnya, yang dengan dosa itu malah orang tersebut menjadi semakin mengenal Tuhan, dan menjadi semakin mengenal sifat Keampunan Tuhan, dan lain-lain…..tidak boleh diungkit –ungkit. Seperti yang terjadi pada Adam, a.s. dengan dosa itulah Adam, a.s. menjadi mengenali Tuhan pada sisi pengampunanNya. 

Orang yang sudah bertaubat, dan lewat jalan pertaubatan itu menjadi semakin mengenali Tuhan, maka dipertanyakan masa lalunya; maka orang ini “boleh” mendebat atas nama takdir. Begitu kurang lebih yang saya tangkap dari tulisan Ibnu Qayyim.

Akan tetapi kedudukan berhujjah atas nama takdir, ini akan menjadi berbeda, dengan orang-orang yang “sedang” melakukan dosa, kemudian untuk menjustifikasi dosanya itu, dia menyalahkan takdir. Ini keliru. 

Kenapa keliru?

Jawaban tentang hal itu, sebuah harmoni yang apik, saya temukan lewat kajian para arif dalam tasawuf islam. Harmoni itu adalah bahwa seseorang jangan berbohong atas kondisi spiritualnya sendiri.

Orang yang benar-benar merasakan bahwa Allah adalah penggenggam takdir, penentu baik-buruk kehidupan, maka orang ini akan mengenali sifat-sifat Jalal Tuhan lewat kepahamannya itu. Ya umpamanya saja Nabi Yunus, lewat “dosa”nya dia sampai pada takdir ditelan ikan Nun. Maka saat itu dia akan terpandang atau “rasa” kekuasaan Allah, perasaan bersalah yang menyampaikan pada “rasa” kemahabesaran dan pertolongan Tuhan. 

Maka di dalam perut ikan Nun itu, Yunus menemukan realita keberserahan dan harap akan keampunan Tuhan. Lalu diujungnya, Nabi Yunus dibebaskan dari perut ikan itu.

Yunus tidak sibuk membela diri dengan mengatakan “loh… kan dosa saya sudah tertakdir”, karena Yunus a.s. paham sekali bahwa dengan kereta takdir, Tuhan bisa membawanya kemana saja. Sebab itu, atas keterpandangannya akan kesempurnaan takdir itulah justru dia berdoa dan berharap pertolongan Tuhan.

Dalam bahasa Ali r.a, karena menemukan diri sebagai yang fakir dan kerdil, maka dikenalilah Tuhan sebagai yang Maha Besar. Yang mengenali atau mendapati dirinya kerdil, pasti menyatakan kebesaran Tuhan. Dalam bahasa seorang guru yang arif, “jangan berlagak wujud dihadapan yang Maha Wujud”. Itulah pesan bagi orang yang berhujjah atas takdir untuk menjustifikasi kesalahannya, alih-alih mendapati diri sebagai yang kerdil lalu menemukan Kebesaran Tuhan.

Jadi dalam pandangan tasawuf, “dosa” itu juga dalam genggaman Tuhan. itu sebab, cara pandang para arif agak berbeda dengan kebanyakan orang. Saya perhatikan, kalau kebanyakan orang saat berdosa merasa frustasi dan kemudian memperbanyak amalan supaya dosa-nya bisa ditutupi dengan pahala, jadi neraca kebaikan lebih berat. Tetapi para arif tidak begitu.

Saat tertakdir berdosa, maka mereka melihat bahwa benarlah tak ada daya dan upaya selain dari pertolongan Tuhan. Maka mereka meminta pertolongan Tuhan agar diselamatkan dari takdir berbuat sesuatu yang buruk. Peribadatan yang mereka lakukan, mentalitasnya berbeda.

Seperti seseorang yang benar-benar meminta tolong karena dia tidak bisa melakukan suatu kebaikan, atau menghindari keburukan kecuali karena Allah mentakdirkan mereka begitu.

Saya, tadinya hendak bertanya pada seorang guru yang arif, bagaimana caranya agar saya bisa banyak beribadah dan kuat bangun malam seperti yang beliau lakukan. Tetapi saya urung bertanya, karena saya teringat jawab beliau pada seseorang yang bertanya pertanyaan serupa. “Kalau Allah takdirkan kamu beramal, maka akan beramallah kamu. Harus sabar…..”

Dalam pandangan biasa, ini akan keliru dipahami, “mosok…. Ga ada usaha?”

Padahal, maksud beliau adalah membenarkan mentalitas, dari segi “rasa” di batin. Bahwa saat tak banyak ibadah yang kita lakukan, sadarilah bahwa ibadah itu karunia, maka memintalah kepada Allah –memintanya ya namanya ibadah juga toh?- dengan menyadari bahwa jika DIA mudahkan kita beribadah; maka akan mudahlah kita beribadah.

Barangkali, inilah maksudnya dengan menuju DIA dengan mengandalkan DIA juga.

Begitu juga dalam dosa, yang bisa melepaskan diri dari dosa ya DIA juga. Maka memintalah dan lakukanlah upaya menjauhi dosa, dalam mentalitas meminta tolong padaNya yang menguasai takdir hidup kita.

Pada akhirnya, dalam kacamata yang diajarkan para ariflah, saya memaknai dosa sebagai jalan pulang. Siapakah yang tak pernah berdosa kecuali yang maksum. Adam, a.s berdosa, Musa berdosa, Yunus berdosa, tetapi adakah karunia yang lebih baik selain dari sesuatu yang kita anggap buruk (tertakdir berdosa) malah menjadi jalan menemukan DIA?

Itulah barangkali maksudnya, bahwa DIA bisa memasukkan siang kedalam malam, memasukkan malam ke dalam siang, mengeluarkan yang baik dari sesuatu yang nampaknya buruk, dan atau mengeluarkan keburukan dari sesuatu yang nampaknya baik. Pada ujungnya, baik dan buruk itu hanya cerita, tetapi ujungnya adalah mengenalkan DIA.

MENGEMBALIKAN SINGGASANA RAJA 

Dalam hubungan sosial kemasyarakatan, saya rasakan secara subjektif bahwa saya adalah seorang pembelajar yang lambat.
Saya memiliki satu orang sobat karib, masa SMA dulu, yang merupakan magnet pesona dalam hubungan sosial. Dalam kata lain, dia orang yang supel dan luar biasa pandai bergaul.

Dahulu, saya cukup mengeluhi kekurangan saya ini. Saya pengennya seperti temen saya itu. Tetapi, bagaimanapun saya ingin menjadi seorang yang supel, saya selalu gagal untuk hidup dalam keramaian khalayak.

Saya bisa berbicara dengan fasih di depan orang-orang, tetapi itu bukan supel, karena dalam hubungan pertemanan yang ramah tamah saya tak bisa. Berbasa-basi hampir selalu saya rasakan sebagai kekurangan terbesar saya. Itu kelemahan sekaligus kekuatan saya.

Beruntungnya saya, dari yang mulanya bekerja di laut lepas, pada pengeboran minyak yang semakin-makin melarutkan diri saya dalam solilokuy dan renungan yang soliter, saya sekarang bekerja di kantor. Tempat kerja yang menuntut saya untuk masuk dalam teamwork dan menyesuaikan ritme dengan orang lain.

Dan disinilah saya belajar. Belajar mengenali diri saya sendiri.

Hidup di dalam iklim kantoran swasta, adalah hidup yang dinamis dan harus siap dengan kritik. Mata orang lain, seringkali sangat tajam dan bisa memberitahu kita tentang kelemahan kita pribadi. Kamu itu kurang ini, kamu itu biasanya kalau mengatasi masalah begini kamunya begitu.

Dulu saya masih menganggap kritik sebagai sesuatu yang tabu, tetapi seiring dengan terbiasanya saya dalam iklim kritik yang positif dan membangun, saya menganggap kritikan sebagai sebuah budi baik teman-teman yang menunjukkan “gap” saya apa, dan mengatasinya bagaimana.

Mereka menganggap kritikan dan masukan positif itu berkait dengan kerja dan dunia karir, tetapi yang tak mereka tahu bahwa saya menikmati kritik itu sebagai sesuatu yang spiritual dan mengajarkan saya menyelami diri saya sendiri lebih dalam. Ooooh… jadi ternyata selama ini saya ini begini toh

Memang sangat betul, bahwa perjalanan mengenali diri sendiri ini panjang sekali. Dan orang-orang mengenali diri mereka masing-masing pada kedalaman yang berbeda-beda.

Ada yang materialis, dan mengenali diri sebatas tampilan citra fisik yang harus selalu dipermak. itu sudah oke, tapi kurang dalam.

Ada yang lebih dalam sedikit, mengenali diri pada citra psikologis dan emosionalnya sendiri. Pada tataran mengenali diri dalam citra psikologi dan emosi tertentu ini; saya merasa banyak terbantu dengan jabatan saya sekarang. Secara jujur saya melihat bahwa saya lemah di dalam membangun jaringan dan pergaulan sosial, tetapi lama-lama saya paham bahwa saya secara natural kuat di dalam “journey inward”, menyelami ruang batin dan menyajikan sesuatu secara terstruktur dan mudah dicerna. Dulu saya tak paham, sekarang baru paham.

Dengan mengenali diri saya pada kedalaman “segitu”, maka saya menjadi berdamai dengan diri saya sendiri. Jadi seolah-olah mengetahui mekanisme kerja diri saya sendiri.

Semisal seseorang yang mengetahui bahwa fisiknya memiliki kaki yang kuat, maka dia bisa optimalkan dengan jadi pelari cepat. Dan sebaliknya kalau mengetahui kelemahan fisik, maka dia akan adjust dan sesuaikan fungsi fisiknya, karena pengenalannya yang utuh. Misalnya helio gracie yang bertubuh ramping dan kecil bisa menyesuaikan beladiri jepang menjadi brazilian jujitsu yang fenomenal karena pengenalannya yang paripurna pada mekanisme dirinya sendiri.

Begitulah, semakin direnung, semakin dalam. Mekanisme kerja fisik kita sendiri. Mekanisme psikologi kita sendiri dan emosi kita sendiri.

Kalau lebih dalam lagi, maka lebih berkait-kait dengan spiritualitas. Kesadaran yang paling dalam, itulah yang dalam istilah islam disebut dengan “hati”. Yaitu sebuah kesadaran yang memahami melihat dan mendengar. Naquib Al Attas, umpamanya, dalam Prolegomena of The Metaphysics of Islam, mengutip imam Ghazali dengan mengatakan bahwa “hati” yang di dalam itulah yang sebenarnya manusia sebut dengan “aku”.

Bahasanya Imam Ghazali, yang “raja” itu adalah yang di dalam sana. Dia, secara default diberikan perangkat untuk menunaikan tugasnya dimuka bumi ini. Perangkat terluarnya, dinamakan jasadnya.

Masuk sedikit kedalam, ada anasir-anasir halus, yaitu fikiran-fikirannya (yg diturunkan padanya), lalu ada emosi-emosi jiwanya.

Dan sebagaimana perangkat, tentu setiap perangkat punya keterbatasan dan kelebihan masing-masing.

Tetapi sang raja yang bijak, adalah dia sudah tuntas mengenali dirinya. Dirinya adalah sang raja itu, dan selain itu hanyalah perangkatnya untuk bertugas di dunia.

Memahami ini, buat saya sangat membantu. Kalau dulu saya sering mengeluhi emosi dan psikologi saya sendiri, sekarang saya menjadi mengerti bahwa “oooh… ternyata begini caranya alat emosi dan psikologi saya bekerja”. Selangkah lebih dekat, kepada apa yang Imam Ghazali katakan dengan “menjadi raja dalam kerajaan diri sendiri”. Meskipun seringkali juga saya masih ngedumel sendiri, namanya manusia, hehehe….

Jiwa di dalam diri kita itu, diberikan perangkat yang berbeda-beda, sesuai tugasannya masing-masing.

Dan alhamdulillah, memahami ini membuat saya bisa berdamai bahwa dunia ini diciptakan dengan harmoni, dan setiap orang punya peranan yang sudah diset oleh Sang Empunya drama. Kita memang berbeda-beda,tetapi pengenalan utuh terhadap perbedaan itu membantu untuk melangkah dalam penerimaan. Sebagai suplemen terhadap pemahaman tentang takdir. (Seorang Arif mewejang begitu apik tentang takdir ini, tapi saya kesulitan menerjemahkannya dalam bahasa yang simpel, hehe.)

Seperti sebuah ayat dalam Al Qur’an, bahwa tanda-tandaNya ada disegenap ufuk, bahkan dalam diri kita sendiri. 

Coba deh, direnungi ke dalam dan semakin ke dalam. Asyik juga lho. Kita kembalikan sang raja, pada singgasananya. demikian.

::