MEMERAS HIKMAH DARI HIDUP YANG BIASA

memeras-hikmahSaya trenyuh, ketika saya mendapati cerita bahwa seorang arif yang darinya saya banyak belajar spiritualitas islam, ternyata mengalami masalah yang sungguh manusiawi dan biasa.

Kesulitan keuangan. Masalah pekerjaan. Juga perkara rumah tangga yang jamaknya kita semua juga mengalaminya.

Hal ini membuktikan bahwa seorang arif, orang-orang shalih, adalah juga manusia biasa yang mengalami kehidupan yang biasa. Justru kalau kehidupan mereka terlalu ideal dan tak ada masalah, kita akan sulit menjadikan mereka sebagai panutan. Karena kisah hidup yang melangit.

Ternyata yang berbeda bukan kisah hidupnya. Yang berbeda adalah cara pandang mereka terhadap hidup. Yang lewat cara pandang itulah mereka dianugerahi hikmah. Dan kebijaksanaan yang banyak.

Teringat dalam kisah sahabat, Sayidina Umar Bin Khattab Khalifah kala itu pun di rumah diam saja saat istrinya ngedumel. Itu level Umar Bin Khattab. Yang imperium islam menaklukkan banyak sekali kekuasaan-kekuasaan lawannya, di masa beliau.

Rasulullah SAW, saat Sayidatinah Aisyah r.a. Diisukan berbuat tak pantas, beliau diam saja. Karena memang Rasulullah SAW tak mengetahui yang ghaib. Dan beliau hanya menunggu wahyu yang turun. Yang wahyu itu kemudian membersihkan Aisyah dari segala tuduhan.

Jadi justru dari kehidupan yang sangat biasa itulah kita memetik pelajaran.

Bedanya, mereka-mereka adalah orang-orang yang dalam ke”biasa”an hidup, dalam natural-nya hidup; bisa mendulang hikmah yang luar biasa…..sedang kita-kita ini hidupnya biasa, lalu hikmah pun biasa juga.

Ternyata, cara pandang sangat penting. seorang arif mengatakan, makrifatullah adalah fundamen, asas, bukan puncak pencapaian.

“Mengenal Allah” sebagai pondasi keberagamaan, lalu kemudian memahami kehidupan sebagai cara DIA bercerita tentang diriNya sendiri. Lalu beribadah sesuai syariah. Itulah cara pandang yang akan membuat kehidupan kita menjadi berhikmah, dalam segala lika liku dan naik turunnya.

Dari wejangan seorang arif, saya memetik pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita menjalani hidup dan mengatasi masalah hidup.

Setelah mengetahui bahwa makrifat ialah fundamen, dan hidup ialah ceritra-Nya tentang DIA juga, maka kita harus selalu belajar agar ingatan kita secara default, selalu mengingat-Nya.

Dengan ingatan yang selalu bertumpu padaNya, kita menjalani hidup dengan otomatis…..Kita lapar; makan. Haus; minum. Bekerja. Bermain. Dll dalam ingatan yang bertumpu padaNya.

Itu sebab, kita tak perlu “meminta” secara khusus untuk hal-hal yang sepele. Misalnya…..sebelum makan, kita tentu berdo’a. Tetapi tak pernah kita berdo’a pada Tuhan agar diberikan petunjuk apakah baiknya makan bakso atau makan pecel lele?

Kita berdoa sebelum berangkat ke kantor, tapi tak pernah kita meminta secara khusus petunjuk apakah belok kiri atau belok kanan pada setiap persimpangan, bukan?

Karena, hal-hal tersebut kita lakoni secara otomatis. Ibarat kata, ingatlah Allah selalu, dan jangan bawa masuk hal sepele ke dalam hatimu.

Kecuali, untuk hal-hal yang berat bagi kita. Maka kita meminta petunjuk. Misalnya sholat istikarah. Do’a. Dan sebagainya. Sebagai cara kita untuk mengembalikan masalah kepada Tuhan. Sebagai cara pasrah.

Dan selepas itu, kembalilah hidup seperti biasa.

Jangan bawa hal-hal sepele ke dalam hati. Biasakan mengingatiNya. Dan jika ada hal besar yang mengganggu kita, maka berdoa dan meminta petunjuklah sebagai upaya kita memasrahkan segala kepadaNya.

Selepas berdoa, hiduplah seperti biasa. Jangan dipikir-pikir lagi. Cukup just do it. Sambil mengingatiNya. Akan ada tiga kemungkinan, kata beliau….

Pertama, petunjuk atau insight akan turun sebagai jawaban bagaimana menyelesaikan perkara.

Kedua, insight tak turun, tetapi masalah terurai dengan sendirinya sebagai jawaban atas doa.

Ketiga, jika jawaban tak turun juga, yakinlah bahwa segala yang berlaku mengandung hikmah.

Dan hikmah inilah yang hanya bisa ditangkap, atau hanya akan terbuka bagi orang-orang yang memiliki cara pandang seperti di atas. Meyakini hidup sebagai cara DIA bercerita tentang diriNya sendiri, dan bahwa yang terjadi pastilah yang terbaik.

Ternyata begitu cara mereka memaknai hidup.


Gambar ilustrasi saya ambil dari link ini

APAKAH ITU KEBAIKAN?

Apakah itu kebaikan?

Saat ini saya sedang terjebak hujan, jadi berteduh di pinggiran jalan.

Bagi seorang penjual cendol, hujan ini adalah “keburukan”, bagi seorang ojek payung, hujan ini adalah “kebaikan”. Berbilah dua.

Dari sudut ilham atau insight pun sama…..

Umpamanya pagi ini saya mendapatkan insight untuk memotong rumput di halaman belakang. Bagi saya, insight itu “kebaikan”. Tetapi bagi binatang-binatang yang berselindung di balik semak-semak, itu adalah “keburukan”.

Pada akhirnya, manusia memang tak mengerti tentang baik dan buruk. Itulah sebabnya kemudian Allah menurunkan syariat yang diusung para Nabi.

Setelah ada syariat, maka “kebaikan” dan atau “keburukan” ditimbang berdasarkan norma yang sudah diatur itu.

“Bekerja”, tentu hal yang netral saja. Tetapi di zaman Nabi Musa as. Ada tata aturan yang membuat “bekerja di hari sabtu” sebagai hal yang terlarang. Maka sesiapa bekerja, di hari sabtu, dia akan terhitung melakukan “kekejian”.

Timbangannya bukan pada perbuatan itu sendiri. Tetapi kesesuaian perbuatan dengan norma yang disuruh untuk ditaati. Dan juga niat di belakangnya. Itulah penentu baik buruk dalam pandangan manusia.

Sedangkan sejatinya dalam pandangan Allah SWT, baik dan buruk tak pernah ada.

Membunuh, pada norma binatang adalah hal biasa. Singa mencabik-cabik rusa. Hal yang biasa.

Tetapi pada norma manusia, membunuh tanpa juntrungan yang jelas adalah keliru. Karena ada norma yang mengatur mana boleh mana tak boleh.

Jadi bukan pada “membunuh”nya, tetapi pada kesesuaian norma dengan perbuatan. Lewat norma itulah manusia disuruh memandang.

Sedang pada sisiNya, DIA bisa berbuat sekehendakNya.

Itulah sebabnya ternyata, bahwa DIA bisa memasukkan malam ke dalam siang, memasukkan siang ke dalam malam. Memunculkan kebaikan dari sesuatu yang “nampaknya” buruk. Dan memunculkan “keburukan” dari sesuatu yang “nampaknya” baik.

Semua menceritakan DIA.

BELAJAR GA BANYAK MIKIR

Silakan dicoba, lima menit jangan fikirkan apa-apa. Harus kosong sama sekali tanpa ada lintasan fikiran. Bisakah?

Saat kita mencoba, semakin ingin tidak berfikir, maka semakin lintasan fikiran itu datang sendiri, tanpa kita buat. Ingatan tentang makanan, tentang mobil, tentang tugas kantor, semuanya seliweran datang sendiri tanpa diundang.

Sebenarnya, fakta bahwa semua lintasan itu datang sendiri ke dalam benak kita, susul-menyusul, adalah sesuatu yang sangat spiritual. Yaitu fakta bahwa akal / benak manusia itu terpisah dengan “fikiran”.

Dalam spiritualitas islam, akal atau consciusness manusia itulah “hati”. Tempat menampung ilmu. Sedangkan fikiran yang hilir mudik datang ke dalam akal manusia itulah ilham.

Ilham ini, terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah ilham-ilham “kebaikan”. Yang kedua adalah ilham-ilham “keburukan”.

Salah satu praktik dalam khasanah spiritual islam adalah praktik mengenali lintasan-lintasan fikiran itu. Setelah tahu bahwa fikiran-fikiran itu sebenarnya “datang sendiri”, maka belajarlah untuk tidak banyak mikir!

Mulanya saya juga bingung ini, bagaimana mungkin kita bisa tidak berfikir?

Baru saya paham, setelah sang guru menjelaskan yang kurang lebih maknanya adalah “secara default, akal manusia itu/ atau hatinya/ atau lathifah ruhiyah kata Imam Ghazali; harus digunakan untuk secara konstan mengingati Allah”

Saat mengingati Allah, yang diingat adalah DIA. Bukan namanya. Bukan sifat-sifat. Bukan ciptaan.

Tersebab kita tahu bahwa Allah itu tiada umpama, maka saat mengingatiNya, pandangan hati kita akan bersih dari segala keruwetan masalah. Karena yang kita ingat itu kita tahu tidak akan tergapai oleh persepsi.

Setelah terbiasa membersihkan hati dari keruwetan fikiran. Dan konstan mengingati-Nya. Maka barulah apa-apa yang “turun” ke dalam fikiran adalah apa-apa yang baik.

Dulu, saya mengira ilham itu adalah sesuatu yang rumit. Seperti wangsit. Saya kira dia berupa suara-suara ghaib.

Ternyata barulah saya paham, bahwa yang disebut ilham itu ialah hal yang sederhana saja sebenarnya. Dan kita sering mendapatkannya.

Saya teringat dulu setiap kali saya ada tugas sekolah. Jaman SMP. Dan saya bingung apa jawabannya. Saya selalu pergi ke belakang rumah. Disana ada kolam besar. Dan dari sana terdengar sayup-sayup ceramah KH. Zainudin MZ dari menara masjid di seberang.

Setiap kali orang tua bertanya, “mau kemana kamu?”

Saya jawab, “mau cari Ilham….” Tanpa saya paham definisi yang rumit-rumit tentang ilham itu sendiri.

Dan memang biasanya saat kondisi relax dan tenang, maka insight itu muncul. “cling”. Tahu-tahu paham.

Seperti Newton-lah. Saat melihat apel jatuh, langsung paham bahwa ada gaya tarik gravitasi. Kepahaman seperti itulah ilham. Jadi bukan berupa suara ghaib, “wahai newtoooon ketahuilah bahwa ada gaya yang menarik apel itu….” Justru kalau ada suara-suara mesti hati-hati. Hampir pasti itu syetan, hehehehe.

Kembali ke bahasan ilham, sebagai sebuah insight yang turun sendiri ke dalam hati kita. Cara agar kita tidak bingung mana yang insight mana yang fikiran mumet kita sendiri; ternyata adalah dengan jangan banyak mikir!

Maksudnya, penuhi hati kita dengan ingatan pada Allah. Lalu sibukkan diri dengan amal / kerja nyata. Karena, tanpa mumet-mumet mikir pun, fikiran-fikiran akan turun sendiri. Fithrahnya fikiran-fikiran itu memang mendatang sendiri.

Tinggal, bagaimana caranya agar fikiran-fikiran yang turun itu adalah ilham kebaikan?

Ternyata caranya sederhana. Sibuk-sibuklah mengingati-Nya, maka nanti yang turun adalah ilham-ilham yang baik. Jika kita sibuk mengingati-Nya, maka kita tidak mencurigai apa yang “turun”.

MENYERAP ENERGI

Ada satu kebiasaan yang sering saya lakukan saat saya jenuh, yaitu bertandang ke rumah teman. Tanpa mereka sadari saya “menyerap energi”.

Menyerap energi, ini metafora saja. Maksudnya adalah saya senang sekali menikmati suasana di tempat-tempat teman saya. Atmosfer di rumah orang-orang yang barokah, kadang-kadang membuat kita ikutan semangat. Keluarga yang happy membuat kita ikutan happy. Cara pandang yang gembira membuat kita tertular gembira.

Jadi jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa semangat itu menular, saya rasa tak salah-salah amat. Dalam banyak konteks memang semangat itu menular kok ya.

Dibesarkan dalam keluarga yang marjinal, membuat saya punya bakat bawaan yaitu memandang hidup dalam kacamata yang murung dan melankoli. Ini bisa bagus pada momen-momen tertentu, tetapi banyak tak eloknya pada kesempatan-kesempatan yang lain.

Terlebih setelah mengkaji bahasan tasawuf, saya jadi sadar bahwa memandang hidup dalam kacamata yang terlalu murung adalah keliru. Salah-salah, nanti malah menjadi tidak optimis terhadap rahmat Tuhan.

Kalau dari bahasan yang “tinggi”-nya, bahwa DIA sebagaimana sangkaan hamba kepada-Nya. Semakin tersingkap pengenalan kita kepada-Nya, maka semakin baiklah “sangka” kita kepada-Nya. Pengertian-pengertian tentang Dzat dan sifat-sifat saya rasakan luar biasa membantu dalam memperbaiki “sangka” ini.

Kalau dari bahasan yang “bawah” sedikit, itulah yang saya senangi dari berteman dengan orang-orang yang “gembira” by nature. Orang-orang yang punya bawaan alami sebagai orang-orang yang memandang lewat kacamata “Jamal-Nya”. Agar saya tertular gembira.

Pernah suatu ketika, sewaktu di Kalimantan, saya berkata kepada kantor, kirim saja si A sebagai juniornya ke lokasi kerja.

Ditanyakan oleh kantor, kenapa memangnya si A? apakah performanya bagus?

Saya jawab, bukan…. Performa biasa saja, tetapi dia orang yang lucu dan gembira. Hehehehe.

Lalu rekan saya yang di kantor misuh-misuh, hahahaha.

Mengenai “menyerap rasa gembira ini” mengingatkan saya akan satu hal yang baru saya sadari setelah banyak “tafakur” setelah mengkaji spiritualitas islam.

Bukan hanya menyadari bahwa benarlah kata Imam Ghazali bahwa “hati” manusia itu ibarat raja di dalam kerajaan diri (jagad kecil) manusia itu sendiri. Tetapi saya menyadari sebuah fakta bahwa terlalu tekun pada spiritualitas, akan secara keliru membuat “gejolak hidup” itu “mati”.

Ini betulan….. Saat memandang hidup menjadi begitu tawar dan tidak tertarik untuk ngapa-ngapain. Merasa bosan pada dunia.

Kondisi ini menimbulkan situasi yang tenang dan nyaman. Tetapi saya merasakan ada yang seperti keliru…. Bukan keliru jalan. Tapi keliru waktu.

Karena saya menyadari sebagai anak muda, hidup dalam usia produktif, anak saya masih kecil, dan juga masih berada dalam situasi kompleks permasalahan ini itu yang masih harus dihadapi. Terkadang membutuhkan “gejolak”. Semacam pendorong.

Baru saya paham, bahwa energi, daya hidup, anasir-anasir yang ada dalam tubuh manusia ini jangan “dibunuh” atau dimatikan. Karena mereka semua itu adalah perangkat, tools, yang diperlukan untuk mengelola hidup.

Amarah misalnya. seseorang tak bisa berperang tanpa amarah.

Perang…bisa lahir dari niatan yang suci. Tetapi saat eksekusinya, memerlukan daya kemarahan. Marah yang dirahmati. Jangankan perang….. latihan beladiri saja saat sudah hadap-hadapan dan sparring membutuhkan gejolak itu. Adrenalin terpompa. Tetapi sepenuh-penuhnya terkendali. Gejolak yang dibingkai dalam rahmat.

Ternyata, spiritualitas adalah bukan lari dari kehidupan. Melainkan mengembalikan posisi “hati” manusia sebagai raja dalam kerajaan kecilnya sendiri.

Kata Imam Ghazali dalam Ihya’, terkadang, hati manusia yang sebagai raja itu, sering “dirampok” oleh anasir dalam tubuhnya sendiri. Misalnya amarah, amarah selalu ingin mengambil alih kuasa. Seharusnya, amarah tunduk pada “hati”. Dan amarah, jangan dibunuh, karena ia -sebagaimana elemen lainnya- adalah bagian integral dari diri kita sendiri.

Sebagaimana arti zuhud bukanlah tak memiliki dunia. Melainkan tidak dimiliki dunia. Orang yang Zuhud adalah memperbudak dunia untuk kepentingan yang lebih bernilai. Mendaya gunakan harta untuk sesuatu yang berkah. Maka menjadi spiritual berarti juga menjadi cakap mengendalikan dunia.

Termasuk dalam pengertian seperti itu, maka men-spiritual bukanlah mematikan marah, melainkan menyadari bahwa amarah, sedih, hasrat, kegembiraan, dan semua bentuk gejolak lainnya itu sepenuh-penuhnya ada dalam kendali sang tuan. Dan digerakkan untuk kebermanfaatan.


*) Image Sources

MEWADAHI PEMBERIAN

Suatu kali, saya “terjebak” pada undangan makan malam perpisahan seorang rekan kantor, bertempat di bilangan Kemang Jakarta Selatan. Datang paling awal di saat rekan-rekan lain belum datang, dan tak lama orang kedua yang datang adalah bos saya sendiri. Klop sudah. Saya paling malas basa-basi, dan sekarang terpaksa basa-basi sembari menunggu acara.

Tetapi tanpa saya sangka-sangka, perbincangan yang terpaksa itu malah membuahkan pelajaran yang penting untuk saya catat.

Teringat saya bagaimana beliau bercerita bahwa dulunya dia adalah orang yang tak pandai mendelegasikan tugas. Tetapi mahir mengerjakan segala tugas sendirian.

Akan tetapi, pimpinannya malah tidak memberikan nilai yang luar biasa, penilaian yang biasa saja yang diberikan untuknya. Meskipun kenyataannya project yang dia pegang bisa berjalan dengan sukses.

Tahun berikutnya, dia tidak lagi terlihat bekerja sekeras tahun belakangan. Tetapi anehnya malah di tahun kedua itu dia diberikan penilaian performa yang luar biasa oleh bos-nya.

Tak tahan untuk tak bertanya, maka dia datangi pimpinannya. Bagaimana bisa tahun pertama dinilai biasa saja, padahal dia bekerja banting tulang sampai malam? Sedangkan tahun kedua yang lebih santai malah diberikan nilai dengan performa luar biasa.

Jawaban bos-nya sederhana saja, karena tahun pertama dijalani olehnya sebagai “do-er”, sebagai pekerja yang soliter. Itu menjawab fakta kenapa dia bekerja banting tulang begitu keras. Tahun kedua, dia sudah mulai mengerti bagaimana memberdayakan team, sehingga dia sudah menjadi “manager” bukan hanya do-er. Itu menjawab mengapa dia bekerja seolah lebih santai. Tetapi dinilai bisa menjalankan tugas seorang manajer.

Dari sana saya mendapatkan pelajran mengenai kerja keras dan kerja cerdas. Serta belajar mengoptimalkan suatu perangkat, yaitu perangkat struktural. Sesuatu yang begitu gagap saya gunakan. Perbincangan itu, mewarnai cara pandang saya.

Saya teringat, banyak sekali orang-orang yang mewarnai cara pandang saya. Ada kakek saya, yang secara tak langsung mewarnai pandangan saya lewat warisan buku-buku fiqih-nya.

Ada juga senior-senior saya di SMA dulu, yang lewat pandangan harokah keislaman mereka mewarnai cara pandang saya juga.

Tetapi ada juga yang setelah berbilang tahun, saya baru menyadari bahwa perkataan mereka itu yang dulu saya “tolak” sekarang malah menjadi warna pemikiran saya.

Dulu sewaktu SMA saya bergerak dalam bidang kerohanian islam. Dan begitu getol dengan pandangan keislaman ala “haroqah”.

Akan tetapi, pembina Rohis sekolah, secara formal adalah seorang guru agama yang notabene bukan orang harokah.

Beberapa kali saya menolak saran beliau karena berseberangan dengan apa yang saya yakini. Semisal, beliau pernah menawarkan mengantarkan guru ngaji untuk pembinaan tahsin. Tetapi saya tolak. Apa pasal? Pasalnya karena guru ngaji itu mengajarkan cara mengaji model tilawatil Qur’an yang mendayu-dayu, sedangkan menurut saya yang benar itu ya seperti model tahsin yang datar-datar saja itu. Ga perlu nada-nada berlebihan.

Dan beberapa momen lainnya yang saya tak ingat detailnya satu-satu.

Tetapi setelah mendewasa, baru saya menyadari bahwa banyak benarnya juga apa yang beliau katakan dulu itu.

Mengenai tawaran guru mengaji itu, ternyata memang kebodohan saya sendiri yang tak tahu bahwa model qiraat yang populer saja ada tujuh macam.

Dan model penafsiran keislaman ternyata begitu luas tak semata ala haroqi. Ada yang kultural. Ada yang lebih spiritual tasawuf. Ada yang literal sekali. Macem-macem.

Satu pesan beliau dulu yang baru sekarang saya mengerti sisi spiritualnya. Yaitu saat beliau menjelaskan di kelas mengenai takdir. Bahwa segala sesuatu telah dalam takdir Tuhan. Disitu beliau memberikan perumpamaan seseorang membeli lotere.

Kalau kita beli lotere, pilihan menjadi dua, bisa menang, bisa tidak. Tetapi, kalau tidak membeli lotere, mana mungkin bisa menang? Beliau jelaskan waktu lalu. Jadi kalau kita sekarang membeli lotere, itu ada kemungkinan Tuhan sudah menetapkan takdir menang.

Dulu saya sedikit mencibir, ini penjelasan model apa ini? Tapi dalam hati saja.

Baru setelah saya dewasa dan mengaji tasawuf, terhenyaklah saya setelah tahu pandangan sufistik bahwa jika Allah ingin “memberi” kepada seseorang, maka Allah berikan wadahnya terlebih dahulu.

Maka do’a, dalam pandangan sufistik tidaklah menyetir pemberian Tuhan. Melainkan isyarat bahwa Tuhan ingin memberi, sehingga hamba akan tergerak berdo’a.

Maka pemberian dari Allah SWT kepada seseorang, acapkali sudah terlihat dari kepemilikan orang tersebut akan wadah itu.

Orang yang diberi rizki berlimpah, biasanya diberi wadah ketekunan dan keuletan.

Orang yang diberi kawan banyak, biasanya diberi wadah keramahan dan kesupelan.

Dan sebagaimana masyhur para alim katakan, jika Allah ingin memberikan kebaikan yang banyak, maka orang itu –diberikan wadah- kepahaman dalam hal agama.

Dari situlah, saya baru mengerti bahwa hidup kita adalah atas jasa-jasa orang yang langsung atau tak langsung memberi warna kepada kita. Maka benarlah bahwa seseorang baru dikatakan bersyukur kepada Tuhan, saat seseorang itu bersyukur atau terimakasih juga kepada jalan ilmu sampai padanya.

Jalan ilmu itu adalah “wadah”, bagaimana mungkin menerima ilmu sambil disaat yang sama mencaci wadahnya.

Mensyukuri wadah, adalah ternyata bentuk adab kepada Tuhan.

Maka lewat tulisan ini, saya berterimakasih kepada segenap orang-orang yang menjadi warna dalam hidup saya. Mereka sadari, atau tidak mereka sadari. Dan meminta maaf atas jenak kebodohan yang pernah saya lakukan.


*) Image Sources

DI DALAM KAFILAH KANJENG NABI

Kisruh politik akhir-akhir ini memunculkan insight yang menggelitik nurani saya. Bolehkah berpihak?

Sedikit-sedikit belajar dimensi esoteris agama, saya seringkali menemukan ajaran-ajaran batin kok sering mirip-mirip ya? Dari kemiripan inilah saya sering berfikir bahwa betullah bahwa sumbernya ajaran-ajaran ini pasti satu. Tetapi dibahasakan dengan bahasa yang berbeda-beda. Hanya saja, seiring zaman seringkali ada yang terkorupsi dan tercampur-campur.

Menyadari bahwa dimensi esoteris agama, spiritualitas seringkali mengajarkan agar kita keluar dari gagasan yang sempit, dan mencintai keragaman, saya sempat berfikir bahwa memiliki “corak” itu keliru. Melintasi corak itu yang tepat.

Tetapi barulah belakangan saya kemudian menyadari bahwa “naif”-lah jika saya beranggapan bahwa seseorang bisa sama sekali bebas “corak”.

Umpamanya ada seseorang yang tercerahkan. Lalu betul-betul dia menyadari bahwa lelaki atau perempuan itu sama saja. Bukan penentu kemuliaan…. Tetapi tak urung kalau kebelet dan mau ke toilet dia harus masuk ke toilet kanan kalau dia laki-laki, atau ke kiri kalau dia perempuan. Norma dunia fisikal-lah yang memaksa dia menari sesuai corak.

Seseorang yang keluar dari gagasan yang sempit, dan menjadi tercerahkan, akan tetap harus bergerak dalam “corak” jika dia melakukan sesuatu di dunia zahir ini, di dunia fisikal ini.

Dulu, saya mengira bahwa Tuhan hanya mencipta kebaikan.

Belakangan baru saya mengerti, bahwa baik sesuatu yang kita nilai sebagai “kebaikan”, atau sesuatu yang kita nilai sebagai “keburukan” dua-duanya dicipta oleh-Nya.

Akan tetapi, memahami bahwa “rentak” DIA itu sesungguhnya adalah dua warna itu, hitam dan putih, justru membuat kita sadar bahwa saat kita bergerak dalam “corak” peranan kita, maka itulah berarti kita menjalankan tugas kita di dunia. Menzahirkan rentak-Nya.

Maka yang lelaki tetap-lah menjadi lelaki. Yang perempuan tetaplah perempuan. Yang jawa, sumatera, kalimantan tetaplah begitu. Yang Islam, Kristen, Budha, Hindu, tetaplah dalam coraknya sendiri.

Menjadi spiritualis, dalam makna yang saya pahami, adalah belajar mencintai keragaman, karena keragaman sejatinya cerita tentang Sang Pemilik keragaman, yang Tunggal.

Tetapi mencintai keragaman, tidaklah membuat kita menjadi hilang corak. Menjadi tidak berani berada di salah satu sisi. Melainkan, dengan berada di salah satu sisi itulah, kita menyadari cerita-Nya.

Saya baru paham, bahwa Rasulullah SAW yang lemah lembut, akan berjibaku di medan laga dalam perang, membunuh atau terbunuh. Betapapun kepahaman beliau tentang keragaman, tentang cinta, tentang penerimaan, tentang “satu”, melampaui orang-orang terbaik di seantero jagad.

Karena memang Allah akan menghentikan kekejian sebagian kalangan dengan mendatangkan sebagian lainnya sebagai counter.[1]

Tetapi, hanya orang-orang yang cerah pandangannya-lah yang mengerti bahwa pada momen berhadap-hadapannya “corak” itu, sebenarnya itu cuma cerita.

Seperti Ali r.a, yang menyarungkan pedangnya saat di medan tempur sudah hendak membabat musuh, tetapi sang musuh malah meludahinya. Ali yang tadinya hendak memenggal musuhnya itu, malah urung dan menyarungkan pedang. Karena dia tak mau, peperangan yang tadinya penuh kesadaran cinta dan menyadari peranan dalam cerita itu; menjadi peperangan karena nafsu dan angkara.

Baru saya paham. Bahwa menjadi spiritualis, tidak membuat kita hilang “corak”. Sebagaimana ungkapan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, musyahadah tidak menjadikan seseorang tidak bercorak, lantas tidak menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan….“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”[2]

Bahwa meskipun ajaran esoteris agama-agama kerap bersinggungan, tetapi jelas kita sebagai muslim berada dalam “corak” kafilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kelak di alam sana, orang-orang semua mencari kafilahnya masing-masing.

Menjadi tercerahkan itu satu hal. Tetapi hal lainnya adalah kejelasan pada corak mana anda berada. Pada kafilah siapa kita berada.[3]


[1] “Demikianlah, andai Allah menghendaki, niscaya Allah akan mengalahkan/membinasakan mereka, akan tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad 4)

[2] Ibnu Qayyim. Qadha dan Qadar; Ulasan Tuntas Masalah Takdir. (Jakarta: Pustaka Azzam), 31

[3] Kami berpagi hari di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di atas millah bapak kami Ibrahim yang hanif, dan sekali-kali ia tidak termasuk orang-orang yang berbuat syirik. (HR. Imam Ahmad)

TENTANG NYAMUK DAN DUA JALAN DERAJAT KETINGGIAN

Sambil menunggu sholat Dzuhur, saya bersandar pada pilar masjid dan secara refleks menepuk seekor nyamuk yang hinggap dan menggigit tangan. Setelah melihat nyamuk yang mati itu, saya teringat bahwa seorang guru bahkan tak tega membunuh seekor nyamuk, karena mengerti bahwa dari-Nya-lah semua yang ada ini.

Dipikir-pikir, jauh sekali kualitas saya dan orang-orang yang sampai pada kesadaran seperti itu.

Tetapi melihat nyamuk yang kecil itu, saya jadi tersadar, bahwa seekor nyamuk tidak pernah bertumbuh kesadarannya. Meski nyamuk ini tentu punya akal.

Benarlah saat seorang guru mengatakan bahwa segala yang hidup, sejatinya memiliki akal.

Akal ini, ya sesungguhnya kesadaran atau consciusness itu sendiri.

Akal, kata Imam Ghazali, adalah fakultas ilmu. Penampung ilmu. Karena ada akal, maka ada yang dipelajari. Untuk seekor nyamuk, yang dia pelajari barangkali tak banyak. Sedangkan manusia, akalnya bisa menampung ilmu luar biasa banyaknya.

Ilmu-lah yang membedakan manusia dan ciptaan yang lain. Dengan ilmu itu pula, manusia bisa bertumbuh kembang kesadarannya.

Saya tak pernah melihat seekor harimau atau sapi atau kambing yang lebih bijak ketimbang jenisnya yang lain. Lebih tangkas barangkali ada, lebih lincah ada, tetapi itu instingtif.

Sedangkan manusia, jelas sekali kita melihat strata itu. Sebagian orang lebih pandai dari sebagian lainnya, sebagian lainnya lebih bijak dari sebagian lainnya lagi. Tergantung apa yang manusia itu cerap.

Dan secara umum, memang Allah meninggikan manusia di atas ciptaan lainnya. Contoh yang paling masyhur adalah Adam a.s. yang memang secara gamblang oleh Allah SWT diajarkan asma-asma, sehingga Adam mengungguli malaikat. Bukan karena malaikat tak berakal, tetapi kepada siapa hikmah itu diturunkan, maka tinggilah derajat siapapun yang dianugerahi hikmah itu. Dalam hal ini Adam a.s lah yang diajarkan asma-asma.

Saya mengamati dua tipe dalam spiritualitas. Yang pertama adalah tipe orang-orang yang mengamati dan tadabur dari alam semesta,lalu tadabur-nya terhadap alam semesta itu menyampaikan-Nya pada kesimpulan dan kemengertian tentang penciptanya.[1]

Orang ini, “mendaki” lewat tangga ilmu.

Ada yang diatasnya lagi, yaitu orang-orang yang selalu mengingati-Nya, bahkan kepada alam tak hirau lagi.[2] Tipe ini, SUDAH DI ATAS karena anugerah iman.

Tipe pertama adalah mendekati Tuhan lewat observasinya di alam semesta. Sedang tipe kedua adalah orang-orang yang atas anugerah-Nya sudah selalu terpatri mengingati-Nya, sehingga orang-orang tipe ini tidak perlu observasi. DIA tenggelam dalam ingatan kepada-Nya.

Satu yang mengagetkan saya adalah baru saya mengerti kaitan antara dua tipe itu, dengan fakta bahwa memang Allah meninggikan derajat manusia dengan dua jalan, yaitu ilmu dan iman.

Dari QS Al Mujaadalah:11, “……niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”[3]

Jadi memang derajat meningkat karena dua anugerah. Yaitu iman, dan ilmu. Dua-duanya sebagai jalan kepada-Nya.

Jika anda, rekan-rekan sekalian. Sibuk mengingati-Nya hingga tak hirau kepada nyamuk misalnya, bersyukurlah karena Allah menganugerahkan derajat yang tinggi itu. Derajat yang Allah berikan kepada orang-orang yang sibuk mengingati-Nya sampai lupa meminta. Orang yang ada di puncak karena anugerah iman ini, maka dia akan menjadi berilmu dengan sendirinya tanpa perlu observasi.

Seperti suatu ketika Ibnu Rusyd bertemu dengan Ibnu Arabi. Dan Ibnu Rusyd mengatakan betapa bersyukur dia kepada Allah SWT, karena dipertemukan dengan orang yang mendapatkan “ilmu” tanpa proses belajar atau diskursus, atau observasi. Sebuah perkara yang dia yakini, tetapi belum sekalipun dia bertemu dengan orang yang betul-betul menguasainya.[4]

Tetapi jika anda masih hirau kepada nyamuk, ya bersyukurlah juga. Maka observasilah. Dan dekatilah Allah lewat kesukuran atas tangga ilmu dan kepahaman. Karena berarti jalur anda adalah pendakian. Ilmu anda dapatkan di depan, lalu dengan tangga ilmu anda mencecap Iman.

Melihat alam semesta, lalu mengatakan Rabbana Ma Khalaqta hadza bathila… Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.


[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

[2] Artinya : Barangsiapa yang sibuk berdzikir kepadaKu sehingga lupa berdoa, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang yang berdoa” [Hadits Dhaif, didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Fathul Bari 11/138]

Artinya : Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

[3] Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujaadalah : 11)

[4] Al-Hakim, Su’ad. Mendaki Tangga Langit. (Yogyakarta: Indes Publishing), 10.