INTERNALISASI SOAP OPERA

Pernah suatu kali saya merasa kesal karena seseorang dari lain divisi tiba-tiba muncul di sebuah lokasi kantor saya yang hendak diaudit. Kesalnya saya, adalah karena merasa ada “tokoh” yang lain di sana. Harusnya yang menghadapi audit itu adalah saya, kok ada orang lain yang ikut ikutan menjadi tokoh.
Malamnya saya bermimpi. Dalam mimpi itu saya dimarahi seseorang karena sikap sombong di dalam hati saya itu.

Keesokan harinya, betapa saya melihat orang yang saya keseli kemarin ternyata sedemikian banyaknya kontribusi dan meringankan beban saya.

Itulah kebodohan saya waktu itu, karena mengira semua beban harus dipikuli sendiri.

Sebenarnya bukan tentang saya, tapi kebetulan saja saya masuk dalam plot cerita.

Dan ini terjadi berulang kali. Dalam frame sudut pandang yang berbeda.

Misalnya sewaktu asisten rumah tangga kami pamit mudik dan tak kembali lagi. Waktu itu bingung juga. Karena dia sudah dekat sekali dengan anak saya. Nanti bagaimana kalau dia pergi, siapa yang jaga anak waktu kami kerja?

Lantas tak lama datang silih berganti orang lain yang bekerja di rumah, sampai kemudian di rumah menemukan ritmenya lagi.

Setiap zaman, melahirkan pahlawannya sendiri. Begitu kata pepatah. Dipikir-pikir benar juga. 

Kalau dalam skala yang lebih besar dan penting, misalnya di Indonesia ada banyak nama-nama tokoh, pahlawan, ulama, pemimpin besar yang semuanya silih berganti.

Umpamanya Soekarno, lahir di zaman jelang kemerdekaan. Arsip-arsip tulisan dan orasi beliau yang menyejarah, rasanya sampai sekarang belum ada yang bisa sepiawai beliau dalam mengguncang massa. Tetapi toh tanpa beliau zaman tetap berjalan sampai sekarang.

Ada R.A. Kartini, ada Diponegoro, ada Hamka, ada Hatta…. Orang-orang besar yang punya kontribusi dalam Indonesia. Yang rasa-rasanya akan seperti apa Indonesia ini tanpa mereka?

Tapi ternyata, zaman tetap berjalan. 

Sepenting apapun kontribusi seseorang, sedahsyat apapun perannya pada kehidupan di eranya, dia tetap akan lumat dimakan sejarah. 

Bahkan kehidupan tetap berjalan, tanpa mereka. Jadi sejarah itu bukan tentang mereka. Mestilah tentang sesuatu yang lebih besar, yang memunculkan berbilang cerita.

Inilah yang sering menjadi “pintu” masuk bagi saya, untuk “internalisasi” wejangan para Arif yang mengatakan bahwa sebenarnya hidup itu tak tergantung andil kita. Kita tak andil pun, akan dimunculkan jalan agar apa yang mestinya terzahir; untuk terzahir.

Tentu kita memahami, bahwa perdebatan klasik apakah manusia perlu usaha atau tidak perlu usaha, sudah tidak relevan lagi. Sudah diperdebatkan berbilang zaman.

Lakukan saja porsi kita.

Tapi ya seperti ilustrasi di atas, perhatikan dalam kehidupan kita masing-masing, akan sangat jelas bahwa kehidupan tetap bergulir karena ada Sang Penggeraknya.

Yang biasanya menutupi kita dari melihat kepada gerak takdir, diantaranya karena merasa sangat punya peranan besar. Misalnya, orangtua terhadap anaknya. Seorang kakak terhadap adiknya. Guru terhadap muridnya. Bos terhadap bawahan.

Tanggung jawab besar, memunculkan asumsi bahwa kitalah yang paling berperan.

Perasaan bahwa kita merasa sangat berperan ini, kadangkala menutup mata kita dari melihat sesungguhnya bukan kita yang berperan, melainkan kita kebetulan ikut dalam plot cerita.

Maka saat mengalami sendiri dimana segala prasarana dan kemampuan untuk menjalankan peranan, seperti tersumbat, Mestinya malah bisa pula dipahami sebagai pintu masuk untuk “internalisasi” wejangan para Arif bahwa La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah.

Padahal dari segi ilmu sudah nyata sekali. Kalau gerak mikro saja tidak pernah kita kontrol (gerak elektron memutari inti atom, hilang timbulnya elektron ke dalam “kosong” seperti kajian fisika kuantum, dan interaksi antar atom); maka bukankah ilusi besar kalau kita merasa punya kemampuan menggerakkan dalam skala yang tampak mata?

Mengetik ini saja, sebenarnya adalah gerak triliunan atom, yang adalah juga gerak elektron untuk hilang timbul secara ritmis pada tempatnya sendiri. Kitakah yang mengaturnya?

Benarlah kata Stephen Hawkings. Kita ada di dalam “soap opera”.

Kalau bahasa para Arif, bahwa kita ini tak wujud. “non existence”. Mumkinul wujud. Realitas fisikal yang dimunculkan dari realitas lain yang tak ada perumpamaan-Nya. Wajibul wujud.

Demi (Dzat) yang jiwaku berada di dalam genggamannya.

Begitu dari segi ilmu.

Tetapi, sudah cerita-Nya pula bahwa ilmu tak juga bisa nyantol utuh dan ajeg tanpa “internalisasi”.

Internalisasi ilmu menjadi hikmah atau wisdom itu lewat kejadian dalam hidup kita masing-masing itu. Lewat tribulasi.

Maka dua hal yang penting. Pertama terus-menerus Iqra Bismirabbika. “baca” hidup sebagai konteks DIA bercerita tentang DIA juga.

Kedua, menyabari jika kita tergelitik membagi atau sharing akan apa yang kita paham pada orang lain. Karena, sejatinya yang memahamkan orang tersebut juga bukan kita. Melainkan lewat tribulasi dan gonjang-ganjing hidup orang itu sendiri.

Kita, kebetulan hanya membahasakan dengan lebih runut, akan apa-apa yang sebenarnya sudah orang-orang temukan dalam diri mereka sendiri.

LAMPU SOROT DAN KERJA DALAM DIAM

Tidak perlu waktu lama bagi orang-orang yang lalu lalang di stasiun SPBU tempat saya mampir sarapan pagi ini, untuk mengetahui bahwa di sana ada artis.

Pagi ini saya mampir di SPBU. Sarapan di kantinnya. Sambil mengamati ada kru salah satu stasiun TV sedang mempersiapkan peralatan untuk syuting. Mungkin syuting sinetron. Dan memang tidak perlu waktu lama buat orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, untuk segera mengetahui siapakah yang artis di sana?

Seseorang yang dikerumuni, dengan gesture yang kuat, dan dilayani. Dialah pusat pesona di kerumunan itu. Berarti dialah artisnya. Tentu saja itu kalau dia artis baru, kalau artis tenar sih sekali lihat langsung kenal, hehehe.

Yang menarik bagi saya adalah, bahwa banyak sekali pihak terlibat dalam kerumunan itu. Dan masing-masingnya memerankan perannya sendiri. Ada yang tukang radio. Ada yang menyiapkan tenda. Bagian bawa-bawa video recorder dan lampu-lampu. Bagian logistik dan makanan. Semua bekerja dalam porsinya sendiri-sendiri. Dalam “ridho” meskipun kerumunan itu kita tahu akan menjadi jalan agar sang artis berkibar dalam lampu spot light. Menjadi pesona disana.

Hal ini menarik. Karena, sering kita memahami secara keliru bahwa untuk menjadi “berarti” adalah juga untuk menjadi pesona di dalam kerumunan, padahal secara spiritualitas sering saya temukan wejangan para arif adalah kebalikannya, yaitu “bekerjalah dalam diam”.

Kebanyakan orang, termasuk saya dahulu, mengira bahwa menjadi berarti adalah dengan semakin menjadi pusat kerumunan, ternyata tidak mesti begitu.

Inilah dulu yang saya keliru pahami. Dulunya, saya mengira untuk menjadi berarti adalah saya harus berhenti dari pekerjaan yang sekarang. Lalu menuntut ilmu agama. Lalu totalitas meninggalkan sesuatu yang berbau duniawi. Itulah saya kira definisi berarti, yaitu menempatkan diri saya dibawah “spot-light”, lampu sorot, menjadi pesona kerumunan. Bedanya, kerumunan yang saya mau adalah kerumunan yang agamis. Tetapi benang merahnya sama, yaitu ingin berada di bawah lampu sorot, pusat kerumunan.

Sebuah cerita dimana seorang ulama besar, yaitu Ibnu Athaillah As Sakandari pun mengira harus meninggalkan profesinya, dan sepenuh hati berkhidmat pada gurunya lalu menempuh jalan zuhud. Tetapi kemudian ditegur, bahwa bukan begitu cara mendekat pada Tuhan. caranya adalah, tetap jalankan apa yang dianugerahkan Allah saat ini, nanti bagian dari gurunya untuk sang murid akan tetap sampai.

Syaikh Abdul Qadir jailani pun mengatakan, berpuas hatilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Seorang arif lainnya memberitahu agar, tidak kalangkabut, nanti akan disusunkan jalannya oleh Allah.

Artinya, setiap orang sudah memiliki peran dalam kehidupan. Dan menjadi berarti adalah “perjalanan ke dalam diri” dan menemukan makna lewat peranan yang dilakoni itu.

Seringkali, peranan dalam hidup ini sebenarnya bisa kita “baca”, dengan melihat bagaimana Allah menyusunkan kehidupan kita, background keluarga kita, kecenderungan, ilmu yang diturunkan untuk kita dan seterusnya.

Menjadi berarti, tidaklah dengan merombak total peranan kita masing-masing di dunia fisikal, melainkan dengan kembali membenahi ke dalam hati sendiri. Terus menerus belajar mengingati Allah, dan belajar menyadari bahwa setiap fenomena kehidupan adalah cara Allah menceritakan diri-Nya sendiri.

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata: Berlaku wara’ adalah kerja satu jam, bersederhana dalam segala hal adalah kerja dua jam; tetapi makrifat Allah ialah kerja senantiasa.

Kerja senantiasa. Kerja di dalam diam. Meskipun tidak menjadi pusat kerumunan. Karena intinya, menjadi lebih baik itu sebenarnya adalah kualitas “di dalam” yang mau tak mau akan tercermin pada gerak luar.

Seumpama telaga yang penuh air, akan meluber sebagai imbas dari penuhnya air yang tak tertampung lagi.

Yang terus menerus memperbaiki diri dari dalam ini, dan belajar mendulang hikmah ini, inilah yang dimaksud kerja senantiasa. Membaca hidup terus-menerus dalam konteks pengajaran dari Tuhannya.[1]

Dan yang menariknya adalah, dalam cara pandang seperti ini, kita akan mendapati bahwa kehidupan kita diguyuri begitu banyak pelajaran. Buku tak cukup untuk menyalin kepahaman yang turun.

References

[1] “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

​MEMAKAI BAJU KHALIFAH 

“Jangan mengasihani diri sendiri”. Itu salah satu prinsip dari seorang senior sewaktu saya bekerja di anjungan pengeboran darat di Kalimantan Tengah berapa tahun yang lalu.
Pasalnya adalah waktu itu kami bekerja pada satu proyek pengeboran yang baru dirintis, orang-orang yang baru, dimana pekerjanya sebagian menggunakan penduduk lokal. Walhasil antara satu dan lainnya tidak terlalu paham job-desc masing-masing. Sehingga banyak hal-hal yang mestinya secara teknis dikerjakan penduduk lokal, kami harus turun tangan sendiri. Fisik letih karena bekerja keras, dan otak pun letih.

Belum lagi hal-hal non teknis yang membuat tak nyaman, seperti akses yang begitu jauh kesana. Kami harus naik pesawat capung ke Bandara kecil di kalimantan tengah, disambung naik perahu klotok menyusuri Sungai Barito, lalu dilanjut naik mobil ranger ke atas perbukitan. Sempat berapa kali pesawat capung kecil itu gagal mendarat, atau gagal terbang karena kabut. Dan mobil ranger gagal turun ke bawah, atau gagal naik ke atas karena jalanan yang tandas oleh hujan.

Waktu itu, prinsip dari sang senior itu begitu mantap dirasakan. Cara kami menikmati hari adalah dengan menggumamkan sholawat. Jadi waktu itu sedang gandrung-gandrungnya bersholawat. Saya teringat sewaktu jadwal pulang, pergantian kru. Malamnya hari hujan deras. Dan saya bekerja di bawah hujan, segala doa saya rapalkan agar hujan berhenti, tetapi hujan tak kunjung berhenti. Saya masuk ke lab, dan menunggu pagi dengan membersihkan peralatan lab. Satu peralatan saya bersihkan, satu sholawat saya baca. Sampai semua peralatan bersih, hujan tak reda-reda… akhirnya saya ulang lagi dua kali. Tetap belum reda juga.

Tetapi pagi sekira jam 8, hari terang. Jalanan sudah babak belur, tanah liat menjadi bubur coklat oleh hujan. Saya pulang setelah sekian minggu terasing di sana. Dan mobil ranger yang menuruni bukit itu ada barangkali tiga kali atau empat kali menabrak sisi tebing sewaktu memaksakan diri melewati jalanan yang licin dan amblas.

Pelajaran yang saya petik waktu itu adalah tentang pasrah, dan tentang cara memandang hidup. Prinsip dari senior saya itu, untuk “tidak mengasihani diri sendiri”, ternyata saya temukan semakna dengan nasihat seorang ustadz yang saya pernah sambangi dulu. Dimana beliau mengatakan bahwa menjadi hamba Allah itu yang “sregep”, yang kuat.

Ternyata baru saya paham, bahwa menjadi kuat, sebagaimana hadits nabi bahwa Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah[1] bisa pula dimaknai sebagai kuat secara mentalitas. Tak mesti jago tinju.

Maksudnya adalah mukmin yang mentalitasnya kuat dalam hubungan sesama makluq.

Kelirunya saya dahulu, adalah rasa butuh kepada Allah SWT, atau rasa rendah diri kepada Allah SWT itu malah saya manifestasikan dalam hubungan bermuamalah, atau hubungan sesama makhluq.

Maksudnya begini, karena sering berdo’a kepada Allah SWT, lalu merasakan diri ini tidak punya apa-apa, ga punya daya, lalu sikap tak punya daya upaya itu malah terbawa-bawa dalam sikap saat interaksi kepada makhluq. Mengasihani diri dan bersikap rendah di hadapan makhluq. Ini salah lho.

Misalnya, ketemu orang yang kuat secara kuasa, saya merunduk. Ah….saya bukan siapa-siapa. Ketemu yang pintar, saya merunduk. Ketemu permasalahan hidup-pun saya merunduk. Tanpa disadari, hal ini membuat arah “merunduk”nya kita menjadi keliru.

Sikap merunduk ini, kalau boleh saya menarik kesimpulan, adalah sikap yang hanya boleh “dipakai” dalam interaksi kepada Tuhan. Merunduk, merasa tak mampu, tak punya daya, bahasa islamnya adalah sikap “ubudiyah”. Sikap penghambaan.

Di dalam batin, sikap merendah, menghamba itu dinamakan “ubudiyah”. Kalau menjelma menjadi gerak fisikal, maka penghambaan yang menjelma menjadi gerak fisik itu disebut “ibadah”.

Jadi misalnya sholat, sholat itu ibadah sebagai gerak fisikal. Tetapi fisikal saja tak cukup, dalemannya adalah ubudiyah, yaitu sikap merendah, takluk dan tak berdaya, menjadi hamba.

Satu-satunya yang boleh menghambakan kita, adalah Tuhan sendiri. Kepada Tuhan, maka kita di dalam batin memakai sikap “ubudiyah”. Rendah, fakir, takluk, tak berdaya, minta tolong, dan semacam itu.

Orang yang memakai sikap “ubudiyah” disebut “abdu” alias hamba. Maka yang merendah, akan menemukan ketinggian Tuhan. sebagaimana ungkapan Ali r.a yang menemukan dirinya sebagai yang lemah dan fakir, maka lewat kesadaran dirinya lemah dan fakir itulah dia menemukan  Tuhan yang Maha Berkuasa[2]

Tetapi pakailah sikap fakir itu, semata-mata kepada Tuhan. Kepada selain Tuhan, kepada makhluk, tidak boleh sama sekali ada sikap Ubudiyah di dalam batin.

Sikap merendah tidak boleh ada. Merasa rendah, hina, dan butuh kepada makhluk tidak boleh ada. Karena sikap ubudiyah, adalah baju dalaman dari sikap luar yang dinamakan ibadah. Hati-hati kepada siapa kita beribadah, adalah berarti juga kepada siapa kita menghambakan diri, merendahkan diri.

Maka baru masuk akal sekarang, ungkapan bijak semisal “jadilah berharga dihadapan para ahli dunia, dengan menunjukkan bahwa kita tak berhajat kepada apa yang mereka kejar”. Ini sikap yang “kuat”. Tidak menunjukkan rasa minder dan butuh. Karena rasa minder dan butuh adalah dalemannya ibadah.

Saat kita minder dan merasa rendah di hadapan makhluk, maka saat itulah kita memakai baju “ubudiyah”, bahayanya disana.

Sopan boleh, karena sopan itu tata krama normatif. gerak fisik. Tetapi di dalam batin tak boleh ada penghambaan dan rasa rendah.

Seorang arif, mensintesakan dengan sangat indah tentang seperti apa sikap kita seharusnya dalam interaksi kepada sesama makhluk ini. Kalau interaksi kepada Allah, kita “memakai baju hamba”.

Maka interaksi kepada makhluq adalah kita “memakai baju khalifah”.

Kata beliau, setiap hari. Ingatkan pada dirimu, bahwa kamu adalah khalifah. Kamu adalah khalifah. Setiap manusia itu khalifah.

Sejatinya manusia adalah khalifah-Nya, yang bahkan lebih mulia dari segala makhluq lainnya.

Itulah baju mukmin yang kuat, yang lebih dicintai ketimbang mukmin yang lemah. Dalam interaksi kepada sesama makhluq, dan dalam menghadapi kehidupan, jangan sampai keliru memakai “baju”.

Penghambaan, minder, merendah dan merasa butuh, tidak layak dipakai dalam interaksi sesama makhluk.

jadi merendahlah saat beribadah, merasa fakirlah dan butuh kepada pertolongan Tuhan. lalu selepas itu saat bergerak di dunia fisikal, kepada sesama makhluq, gantilah dengan baju kekhalifahan itu. Agar tak keliru kepada siapa kita bersandar.

References
[1] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. H.R Muslim (no. 2664); Ahmad (II/366, 370); Ibnu Mâjah (no. 79, 4168)
[2] Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]”  Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010

PERLOMBAAN KATAK DAN DIMENSI RASA

Saya ingin bercerita sebuah kisah yang klasik sekali. Tentang seekor katak yang mengikuti perlombaan. Tersebutlah seekor katak mengikuti perlombaan lari dan panjat menara. Beratus-ratus katak mengikuti lomba lari dan panjat menara itu. Banyak katak yang tergelincir di jalan sepanjang track lomba lari. Sebagiannya masuk nyemplung ke selokan. Sebagian kelelahan dan dehidrasi. Walhasil hanya tinggal sepuluh katak sampai di ujung jalan dan mulai menaiki menara.
Saat katak tersebut menaiki menara, para katak penonton berteriak, “Wah…menaranya terlalu tinggi!!”, sebagian yang lain berteriak, “ga mungkin, ga mungkin bisa.”

Satu dua katak lainnya terjatuh berdebam dari menara tinggi.

Sisa beberapa ekor katak yang kemudian juga terjatuh saat diteriaki penonton bahwa menara tinggi itu sangat bahaya.

Singkat cerita, tinggal satu ekor katak saja yang sampai pada puncak menara. Dan katak-katak penonton histeris menyaksikan kemenangan epik sang katak itu.

Tentunya, semua penonton bertanya, apa gerangan yang menjadi kunci kesuksesan katak ini? Ternyata, setelah diwawancara barulah ketahuan bahwa katak pemenang ini, TULI.

Moral dari cerita ini cukup jelas, yaitu jangan pedulikan teriakan orang-orang yang bisa melemahkan semangatmu. Karena banyak orang yang hanya teriak saja.

Tetapi, bukan moral cerita ini yang saya hendak bahas. Yang saya hendak bahas adalah pertanyaan berikut ini, “adakah sumber valid cerita di atas ini?”.

Tentu tak ada.

Cerita itu hanya DONGENG rekaan semata. Bukan kejadian nyata, sehingga sama sekali tidak valid sebagai sumber hukum.

Tetapi, bolehkah cerita ini menjadi penyemangat? Atau begini, bisakah cerita ini menjadi ibrah atau pelajaran?

Jawabnya, tentu bisa. Pelajaran bisa datang darimanapun saja, bahkan dari sebuah dongeng. Sang pembelajarlah yang mestinya menjadi orang-orang yang bijak-bestari, sehingga bisa menangkup pelajaran bahkan dari hal-hal yang artifisial.

Hal ini, hampir semakna dengan ungkapan para ahli bahwa hadits dhaif, itu boleh digunakan dalam “fadhail amal” nyemangat-nyemangati tentang keutamaan amal. Bukan tentang sumber hukum sebuah amal lho ya. hukumnya mesti ditarik dari premis-premis yang disusun oleh dalil yang valid. Tetapi sebagai ibrah, penyemangat, boleh….apalagi jika ada dalil valid yang semakna dengan itu.

Tentang sholat hajat misalnya, dalilnya ada dan jelas sebagai sumber hukum, cara sholatnya begini begitu, rakaatnya begini, dst. Tidak boleh berdasarkan dalil yang validitasnya diragukan. Akan tetapi, sebagai penyemangat, kita boleh menjadi terpacu oleh sebuah cerita misalnya ada orang yang selamat dari kanker ganas karena dia sholat. Ini namanya mendulang hikmah. Kalau dalil tegas bahwa sholat menyembuhkan kanker akan sulit ditemukan tekstualnya.

Saya jadi tertarik menulis ini, menyambung obrolan mengenai dua sisi keping keberagamaan, yaitu syariat luar dan sisi batinnya.

Syariat luar, itu sudah ada pakemnya sendiri. Sholat subuh dua rakaat, caranya menurut imam mazhab begini-begini rukunnya. Kalau zuhur empat rakaat, dan seterusnya. Yang mana syariat itu sudah FIX dan tak bisa diganggu gugat.

Akan tetapi, untuk dimensi batinnya ini, seringkali hanya bisa dijelaskan lewat bahasa “rasa” para arif. Pas dia berbicara dimensi batinnya, sadarilah bahwa dimensi batin ini lebih banyak transfer “rasa”, atau wisdom, tinimbang transfer dalil luaran.

Misalnya, sholat….. sholat sudah “selesai” dalilnya. Sudah jelas ga pake ribet. Tetapi pas masuk ke makna batinnya, ini sudah mulai masuk ranah rasa.

Sebagai pembelajar, menjadi bestari-lah dengan pandai-pandai memetik pelajaran, bukan dengan mengatakan bahwa yang dibagikan oleh para arif itu tak ada dalilnya. Karena mereka membahasakan rasa.

Misalnya, satu aspek dari arti “khusyu” yaitu tunduk…. Seperti apa tunduk itu? Tunduk adalah sikap batin.

Nanti akan ada approach… oh, kamu bayangkan kekuasaan Allah, bayangkan betapa DIA berkuasa terhadap hidup matimu, dst sampai feel ketundukan itu dapat, misalnya. nah itukan sudah mulai rasa toh?

Secara syariat, tak ada yang beda dengan sholatnya secara lahiriah, tetapi secara batin dia mulai mencoba menemukan definisi tunduk itu. Agar keping keberagamaannya menjadi utuh. Syariat lahir, dan spiritualitas batinnya sekaligus.

Atau, ada juga yang menggunakan approach asma dan sifat, seperti Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Memahami bahwa seluruh alam ini hanya kenyataan dari sifat-sifat fi’liyahnya Tuhan. Sehingga feel dari tunduk itu dapat.[1]

Karena saat sudah mulai membahas “tunduk”, “khusyu’” berarti sudah mulai masuk dimensi batin yang tak terlihat. Yang terlihat adalah dimensi luarnya saja[2]

Nanti ada lagi approach lainnya, yang sudah tidak lagi melihat pada sifat-sifat. Karena sifat-sifat, itu hanyalah penjelasan af’al alias perbuatan Sang Empunya sifat. Arah peribadatan adalah tunduk pada Sang Empunya sifat. Maka sifat-sifat hanya menjadi pintu saja, untuk masuk pada mengingati Sang Empunya. Yaitu yang Laisa Kamislihi Syaiun. Tak ada umpama.

Approach yang manapun saja, adalah upaya untuk menggenapi kepingan sisi esoterisnya ibadah. Dianya, seringkali tidak tertulis secara zahir dalam tekstual. Karena dalil tekstual adalah menjelaskan aspek luarnya ibadah. Sedangkan dimensi batinnya seringkali hanya bisa dijelaskan oleh para arif yang mengalaminya sendiri.

Dari sisi pembelajar. Ikutilah hal-hal yang sudah tertulis jelas dalilnya sebagai sumber hukum peribadatan. Tetapi, lengkapi juga sisi itu dengan kepingan satunya lagi, yaitu belajar makna-makna batinnya, yang dijelaskan oleh orang-orang arif yang mengerti dimensi rasa itu.

Kelak, menemukan makna-makna itulah yang menyebabkan antara dua orang beribadah dengan sama persis, tetapi bernilai sama sekali berbeda. Syariatnya sama, tetapi penemuan makna di dalam batinnya beda.

Dalam bahasa islam disebut Ihsan.

References

[1] Ucapannya yang semakna dengan itu, misalnya, imam Ibnu Rajab menjelaskan keterikatan antara ilmu yang bermanfaat dan sifat khusyu’ dalam ucapan beliau: “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang merasuk dan menyentuh hati manusia, kemudian menumbuhkan dalam hati ma’rifatullah (mengenal Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna) dan meyakini kemahabesaran-Nya, (demikian pula) rasa takut, pengagungan, pemuliaan dan cinta (kepada-Nya). Tatkala sifat-sifat ini telah menetap dalam hati (seorang hamba), maka hatinya akan khusyu’ lalu semua anggota badannyapun akan khusyu’ mengikuti kekhsyu’an hatinya”

[2] Imam Ibnul Qayyim berkata: “Para ulama sepakat (mengatakan) bahwa khusyu’ tempatnya dalam hati dan buahnya (tandanya terlihat) pada anggota badan” “Mada-rijus saalikiin” (1/521).

MENGGENAPI KEPINGAN RASA KITA SENDIRI (2)

Dulunya, sikap keberagamaan saya sama sekali tak memerhatikan dimensi esoterisnya. Dimensi batin dalam beragama tak saya mengerti, karena beragama dengan mindset yang terlalu ritual. Lalu mulai mengenal dimensi batin dalam beragama, semenjak dihantam badai hidup.
 
JEDERRR…mulai bertanya. Kenapa kok ritual –semata- belum menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup saya? Kenapa kok ada gelisah? Kenapa kok cemas? Kenapa kok tidak terima? Kenapa sedih? Hal-hal mendasar yang tidak terjawab dengan –semata- mempelajari premis-premis fikih.
 
Disitulah kemudian baru saya mengerti, bahwa beragama mesti lengkap dengan dua keping sisinya, dimensi fisikalnya yaitu aspek syariat dan legal formalnya, lalu dimensi batinnya, pemaknaannya, esoterisnya, dimensi rasa, spiritual[1]. Bila hanya satu saja, mesti timpang.
 
Dari sana saya baru mengerti bahwa indah sekali perjalanan hidup ini sebenarnya. Semua grasa-grusu, lintang-pukang, jatuh-bangun kita di dalam hidup (dunia fisikal), sebenarnya pada gilirannya menghantar kita untuk menemukan makna di dunia rasa itu lho. Dimensi batinnya.
 
Kalau gonjang-ganjing hidupmu, asalkan benar-benar mau belajar, coba tengok di dimensi rasa, mesti membludak-bludak pelajaran.
 
Semua mesti sepasang-sepasang. Para nabi itu, dunia fisikalnya ga karu-karuan ujiannya, tetapi dimensi batinnya juga begitu kaya menjerat hikmah dan wisdom.
 
Dulu, sempat saya waktu lagi gandrung belajar beladiri. Belajarlah saya dengan seorang guru yang saya respek sekali dengan beliau. Seorang anak dari kalangan berada. Lulusan ITB. Pinter dan kaya. Tetapi malah menghabiskan masa tuanya dengan membangun sebuah rumah di pegunungan pinggiran jalan lintas Bandung-Sumedang. Disana dia membangun pesantren.
 
Dulu, waktu saya masih kuliah, pesantren itu masih cita-cita saja dari beliau, tetapi sekarang terakhir saya dengar kabar sudah berdiri.
 
Luar biasa. Barulah saya paham, seperti guru itu, dan seperti jamaknya cerita berhikmah lainnya, segala gerak di dunia fisikal, gerak luaran yang mereka lakukan itu sebenarnya hanya mencari kepingan hikmah atau merumuskan definisi yang sebenarnya sudah ada dalam rasa mereka sendiri.
 
Barangkali, disanalah kelirunya sementara orang, yang tidak mendapat wisdom atau hikmah, karena mereka hidup dalam dunia yang semata fisikal. Dikiranya dunia fisikal itulah kuncinya. Padahal, pengalaman dunia fisikal hanya menghantarmu menemukan kepingan rasa dan makna dalam dirimu sendiri.
 
Itulah sebab, dua keping itu mesti ada. Beragama dengan syariat legal formalnya, dan juga menekuni dimensi batinnya itu. Karena toh segenap hidup kita hanya cerminan dari usaha menemukan makna di dalam hati itu.
 
Mungkin orang-orang bilang, mencari jati diri.
 
Kalau makna-makna itu ketemu. Semakin dalam. Berujung pada pengertian bahwa semua hal dalam hidup ini menceritakan tentang Tuhan itu sendiri, maka masuk di akal kita, kenapa Abu Bakar r.a. dikatakan mengungguli sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam lainnya, bukan karena aspek fisikal amalnya, tetapi karena dimensi batinnya.[2]
 
Kadang-kadang, makna yang kita temukan itu sudah sering diucapkan, diajarkan para arif. Tetapi, internalisasinya baru kita dapatkan pas kita bergerak di dunia fisikal.
 
Itulah mengapa, kita harus juga “nrimo” pada level spiritualitas kita sekarang. Karena, jika setiap kepingan makna atau rasa itu baru akan makjleb alias mengalami internalisasi setelah kita menjalani dunia fisikal-nya; maka tidak sabar dengan spiritualitas kita saat ini sama saja dengan mengundang seluruh kejadian hidup untuk menyambangi kita dalam satu waktu. Bisa hancur kita.
 
Tapi satu hal ini yang paling penting, selepas kita mengetahui bahwa dimensi syariat saja tidak cukup, harus dilengkapi dengan dimensi batin, belajar makna dan rasa….. patut kita tahu bahwa dimensi batin ini personal sekali.
 
Kita tidak bisa, untuk menilai seseorang, “wah….kurang dalem ni orang ini”. Karena kita tidak bisa menilai spiritualitas seseorang.
 
Hukumnya dunia fisikal, adalah seseorang terhukumi atau ternilai sesuai dengan apa yang nampak secara fisik. Jika ada orang beramal secara fisikal, berarti baguslah orang itu dalam pandangan syariat. Dan itu SAH lho, secara hukum dunia fisikal.
 
Tetapi dalam pandangan Tuhan, bisa jadi berbeda sekali antara timur dan barat, antara yang hanya syariat fisikal, dan yang sudah ketemu “klik” dengan makna-makna batinnya itu. Seperti Abu Bakar r.a.
 
Maka itu, dari kesimpulan sederhana saya, sejauh yang saya amati. Begitu banyak pertanyaan dalam hidup menjadi terbantu terjawab jika mempelajari dimensi batinnya agama. Lahir dan batinnya, fisikal dan rasanya, seperti sekeping uang logam dengan dua sisi yang saling melengkapi.”

References

[1] Dalam tulisan ini, makna “Spiritualitas” yang dimaksudkan adalah dimensi batin (esoteric) atau jiwa agama dalam kehidupan manusia modern. (mengutip dari Tafsir Al-Qur’an tematik, Spiritualitas Dan Akhlaq, Kementrian Agama RI.

[2] “Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya salat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya.” (HR at-Tirmidzi)

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyaasy berkata: “Tidaklah Abu Bakar ash-Shiddiq  mendahului/mengungguli kalian (dalam kebaikan) dengan (hanya semata-mata karena) banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi karena sesuatu (kesempurnaan iman dan takwa) yang ada di dalam hati beliau” Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/82).

MENGGENAPI KEPINGAN RASA KITA SENDIRI 

Anak saya kemarin sore hampir menangis di Musholla. Pasalnya sederhana, dia tak hendak sholat di sebelah temannya yang biasa ajak dia ngobrol waktu sholat maghrib. Sedangkan, temannya ini ngambek karena anak saya tak menimpali waktu diajak ngobrol pas sholat, pulang sholat ditinggal, ga mau temenan. Jadi anak saya merasa sedih karena temannya ngambek dan memaksa saya untuk mendamaikan dia dan temannya. Khas anak-anak sekali

Antara lucu dan trenyuh saya waktu itu. Lucu karena lihat anak kecil ngambek-ngambekan. Tapi trenyuhnya karena melihat ada emosi ketakutan pada anak saya itu. Dia takut temannya marah.

Kenapa kamu takut? Tanya saya….. dijawablah panjang lebar oleh anak saya, yang kalau saya simpulkan sebenarnya anak saya takut pada dirinya sendiri. Takut dia tidak bisa beradaptasi pada lingkungan kalau tak ada temannya yang biasanya akrab padanya itu. Jadi bukan timbul dari rasa iba pada temannya, tetapi sebenarnya karena ketakutannya sendiri bahwa dirinya tidak bisa adaptif tanpa temannya tadi.

Saya, dan barangkali juga rekan-rekan yang membaca ini, sebenarnya kita tak beda dengan anak-anak. Dan saya rasa semua manusia juga sama. Seluruh gerak yang kita lakukan, sebenarnya adalah upaya menggenapi “rasa” kita sendiri.

Kita bergerak mencari makan (gerak luar), sebenarnya adalah upaya menggenapi rasa kita sendiri (yaitu lapar).

Ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal, tetapi saya lupa siapa yang mengatakan hal ini, “Manusia berjalan jauh, pergi ketempat-tempat yang belum pernah dikunjungi, untuk kemudian menemukan apa yang mereka cari ada di “rumah”.

Kalau secara lebih spiritual, semua gerak kita di dunia fisikal, sebenarnya kalau diteliti mestilah sebuah upaya kita untuk menggenapi kepingan “rasa” di dalam diri kita sendiri.

Orang liburan, misalnya. Pergi ke tempat-tempat yang indah. Sebenarnya yang dia cari bukan liburnya, tetapi menggenapi kepingan rasa di dalam hatinya sendiri, yaitu keinginan menemukan situasi damai yang “relaxing”. Rasa damai dan bahagia itu, ada di dalam. Tetapi orang-orang bergerak ke luar untuk menemukan definisi bahagia yang di dalam itu.

Itulah perjalanan hidup. Orang bergerak kesana kemari, mencari kesana kemari. Semuanya sebenarnya dalam rangka memahami, menggenapi ruang dirinya sendiri. Sampai menemukan dirinya secara utuh.

Hanya saja, dalam kaitannya bergerak di dunia fisikal ini, tidak semua orang berkesempatan untuk benar-benar jujur dan berani menilai dirinya sendiri, apa sebenarnya kepingan rasa yang hilang di dalam dirinya itu?

Maka ada orang yang hobinya kerja…kerja…. Terus bekerja jumpalitan tanpa pernah tahu bahwa sebenarnya kenapa dia bekerja seperti tak kenal lelah itu? Padahal, boleh jadi ada kepingan rasa ingin dihargai, jadi dia berupaya menggenapi rasa ingin itu dengan menemukan puzzlenya di dunia fisikal.

Seandainya jujur menelisik diri. Dan berani mengakui ke dalam diri bahwa ada kepingan puzzle yang belum utuh dalam diri kita sendiri, maka semakin jujur kita akan semakin tahu kepingan rasa apa yang hilang dari diri kita. Maka akan semakin gampang kita menemukan puzzlenya di dunia fisikal.

Ada suatu contoh dari seorang guru yang Arif, mengenai kepingan rasa “takut”. Kata beliau, rasa “takut” itu hanyalah alarm, bahwa ada informasi mengenai suatu hal yang kita belum mengerti. Maka jangan takut kepada rasa takut, tetapi sadarilah bahwa rasa takut hanya mekanisme diri kita mengabari bahwa ada info yang belum utuh yang kita tak tahu.

Misalnya, jaman dulu orang takut pada gorilla. Rasa takut membuat orang menghantu-seramkan gorilla. Tetapi zaman sekarang, anak-anak bisa menonton gorilla di kebun binatang, dengan tertawa-tiwi. Karena info mengenai gorilla sudah kita dapatkan secara utuh.

Awalannya adalah penerimaan diri. Menerima, dalam artian segenap kepingan rasa yang muncul kita terima sebagai takdirnya diri kita saat ini. Kecewa, marah, gelisah, sedih, takut…. Kita terima sebagai bagian dari jagad kecil diri kita sendiri.

Dulu, kalau menyadari emosi atau kepingan rasa yang negatif di dalam diri, saya sering tidak menerima. Tanpa menyadari bahwa “denial” atau tidak terima pada kepingan rasa sendiri itu menyebabkan saya gagal mencari tahu apa masalahnya, dan apa tindak lanjutnya yang harus saya lakukan di dunia fisikal.

Penting sekali, kejujuran menilai apa sebenarnya yang paling dalam dari kepingan kepingan itu? Maka setelah tahu barulah kita bergerak mencari penggenapnya di dunia fisikal. Jika kita takut akan sesuatu, maka cari info lebih banyak tentang sesuatu itu, alih-alih berlari.

Jika kita sedih akan sesuatu, alih-alih membenci, kita pahami lagi kenapa kita bisa sedih? Apakah benar seseorang itu membuat kita sedih, atau karena cara pandang kita sendiri yang membuat sedih? Kita pahami ini sebelum kita bergerak di dunia fisikal. Karena keliru mengenali kepingan rasa diri sendiri, membuat kita gebyah uyah di dunia fisikal. Ini sering sekali terjadi, utamanya pada diri saya sendiri.

Dan ini bagian rahasianya. Perbedaan antara kita dan para Arif, adalah mereka sudah sampai pada level dimana mereka menyadari betul bahwa semua kepingan rasa dan kepingan pemahaman yang kita miliki, itu bukan kita yang buat. Semuanya “diturunkan”, given, alias kita manusia hanya menjadi “receiver”.

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. QS﴾ Asy Syams:8 ﴿

Sebelum bergerak kalang kabut di dunia fisikal, sangat menarik untuk mengamati dengan jujur rasa dan pemahaman yang turun silih berganti. Dan betapa bahwa semua itu memang benar-benar diturunkan. Insight.

Dan kejujuran mengamati kepingan rasa dan insight yang turun itu, akan membenarkan bahwa kepingan rasa terdalam manusia adalah fithrah ingin mengenali Tuhannya. Manusia akan mencari jawaban, kenapa saya sedih, kenapa saya pengen bahagia, kenapa saya takut, apa ini semua? terus masuk dalaaaam lagi. Ini semua kok silih berganti datang. Kok datang ya? Ini bukan saya cipta, siapa penggerak ini semua? Bagaimana mekanismenya? Dan macam-macam.

Sumber terdalamnya adalah keinginan mengenali Tuhan. Sang pencipta segala fenomena itu.

Maka semakin dalam kepingan rasa yang disadari, maka semakin gerak di dunia fisikal akan memiliki bobot. Istilah islam menyebutnya ikhlas.

Karena semakin dalam, akan semakin menyadari bahwa semua gerak fisikal mestilah dalam satu tema tunggal, yaitu “mengenali Tuhan”. Seperti kata Ibnu Abbas bahwa maksud “beribadah” dalam “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)….adalah untuk mengenali-Nya.

Saat kita menyadari bahwa keseluruhan gerak apapun saja yang terjadi pada dunia fisik ini, sebenarnya adalah menggenapi kepingan rasa batin kita sendiri, dan kepingan rasa terdalam adalah keinginan mengenali Tuhan, maka serta merta kita melihat bahwa keseluruhan hidup ini benar-benar seperti kata para arif, yaitu cara DIA bercerita.

DIA menceritakan diriNya sendiri.

Diciptakan makhluq, lalu diilhamkan berbagai-bagai, karena diriNya sendiri ingin dikenali.

ENAM DIRHAM DAN HARMONI LUAR DALAM

 

Dalam suatu kisah, yang saya sempat dengar dari radio aswaja, tersebutlah Imam Ali r.a menyedekahkan uang 6 dirham yang merupakan harta satu-satunya yang saat itu dipunyai. Padahal di rumahnya sedang kesulitan juga. Lalu, kata beliau kurang lebih begini, seseorang tidak mencapai derajat keimanan yang sempurna sebelum dia lebih bersandar pada apa yang “ada di tangan Allah” ketimbang apa yang berada di tangannya sendiri.

Saya belum menemukan literatur dimana kisah itu dikutip, karena saya tak sempat mencatatnya sewaktu saya mendengar cerita itu sembari menyetir mobil. Tetapi, kisah semakna yang menggambarkan tentang amalan luar biasa dari para sahabat, dan tentunya dari Rasulullah SAW sendiri; sangatlah banyak.

Yang terfikirkan oleh saya waktu itu adalah, apa yang mendorong para sahabat dan orang-orang shalih untuk bisa berbuat seluar biasa itu?

Setidaknya ada dua approach atau dua pendekatan yang saya amati, dalam khasanah spiritual islam, mengenai bagaimana memperbaiki sisi spiritual seseorang.

Pendekatan pertama adalah menggenjot peribadatan atau amaliyah sebanyak-banyaknya. Dalam pendekatan seperti ini, yang ditekankan adalah bagaimana kita bisa meniru sebanyak-banyaknya amaliyah yang dilakukan orang-orang shalih. Diperbanyak ibadahnya, sholatnya, dzikirnya, baca qurannya, sedekahnya, dan lain-lain….. dengan harapan bahwa nantinya amal ibadah itu akan menjadi semacam solar atau bensin yang menggerakkan genset. Begitu genset menyala, nanti peribadatan akan menjadi gampang, bisa karena biasa, lancar kaji karena diulang.

Pendekatan kedua, adalah dengan menyadari bahwa amal ibadah manusia, adalah aspek fisikal. Aspek fisikal adalah sesuatu yang timbul karena gerak batin. Umpamanya menangis, maka aktivitas menangis hanyalah imbas dari sedihnya hati. Sedih hati, tersebab memikirkan sesuatu. Maka dalam runutan yang logis semacam itu, adalah penting untuk membenarkan aspek batiniahnya dulu, jika aspek batiniah benar, maka amal akan mewujud sebagai konsekuensi logis. Sederhananya, bagaimana cara menangis? Bukan pikirkan aspek fisikalnya dengan ngucek-ngucek mata sampai perih, tetapi mulai dari gerak batin memikirkan hal yang sedih maka air mata sebagai implikasi logis akan keluar.

Tentunya, dua-duanya tidak bisa dipisahkan. Gerak dalam dan luar sama-sama penting. Untuk anak-anak, yang paling logis barangkali adalah pembiasaan dulu. Karena pemaknaan yang lebih filosofis, esoteris akan sulit bagi anak-anak.

Tetapi seiring mendewasanya kita, saya rasa tidak bisa tidak kita harus masuk ke dalam pemaknaan esoteris itu, agar ibadah tak hanya menjadi gerak fisikal semata.

Maka bagi rekan-rekan yang –hanya-mempelajari aspek fisikal islam, seperti ritual sholat bagaimana caranya, jumlah sedekah berapa persen, dst…. Itu sudah mantap, tetapi akan agak timpang tanpa mengenal dimensi batinnya.

Saya perhatikan, ada beberapa penjelasan dimensi batin yang masuk akal untuk menggerakkan orang beramal, contohnya misalnya sedekah itu tadi. Yang pertama barangkali dimensi batin yang dipakai adalah sisi kemanusiaan, sisi emosional.

Ngelihat orang miskin, kok sedih, haru…. Lalu dipikirkan bagaimana ya kalau misalnya saya yang mengalami, wah…. Makin nelongso…. Saking nelongsonya jadi tergerak membantu, ayo kita bantu, maka berduyunlah orang membantu karena didorong oleh dimensi batin berupa sisi emosional kemanusiaan kita. Ini bagus.

Ada juga contoh dimensi batin juga, yaitu orang bergerak karena terdorong oleh kenikmatan yang lebih langgeng. Dan balasan dari Allah SWT[1] ini juga dimensi batin. Jadi karena tergerak akan balasan kebaikan yang dijanjikan Allah SWT, maka amaliah akan mewujud. Ini luar biasa.

Tapi ada pemaknaan batin yang kita jarang pakai, yaitu utamanya diri saya pribadi. Bahwa dalam beribadah dan gerak kita di dunia ini, semuanya dalam makna tunggal yaitu Allah menceritakan diriNya sendiri. Jadi makhluq diadakan untuk mengenali Sang Penciptanya. Maka segala gerak kebaikan adalah untuk menjawab tugas utama itu.

Katakanlah pertamanya kita didorong oleh sisi kemanusiaan, karena sedih melihat orang susah, maka kita bantu. Lama-lama kita bantu orang, meskipun tak selalunya sisi emosional kita tersentuh, lha wong kita yakin bahwa setiap kebaikan akan diganjar Tuhan kok, maka kita berbuat baik.

Lama-lama, puncak dari segala pertanyaan dan alasan-alasan itu adalah Tuhan itu sendiri. Kok bisa ya, saya ada rasa sedih melihat orang lain susah? Kenapa ya saya bisa tertarik dengan keindahan syurga? Maka ujung dari pertanyaan itu adalah bahwa rasa sedih kita itu dalam rangka DIA ingin makhluq-Nya melihat diriNya sebagai yang Maha Kasih, maka ada orang yang dibuat sedih dan tergerak membantu. Sedangkan syurga adalah juga representasi sifat Jamaliyah / keindahanNya.

Ujung-ujungnya, tidak ada satupun analisa dan pertanyaan yang tidak berawal dan tidak dipuncaki oleh Tuhan itu sendiri. Karena kita diciptakan memang untuk mengenaliNya.

Itulah sisi pemaknaan yang masih jarang saya pakai, yaitu peribadatan atau gerak fisikal kita harusnya timbul dari kesadaran batin bahwa kita ingin menemui-Nya. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, lakukan amal shalih.[2]

Di atasnya lagi, para guru yang arif mengatakan bahwa Dia menceritakan diri-Nya sendiri, lewat pagelaran yang berbagai-bagai. Maka dalam bergerak menujuNya-pun yang semestinya terlihat oleh pandangan hati kita adalah gerak takdir-Nya di Lauh Mahfudz. Dalam tema besar DIA ingin dikenali.

Sangat penting kita mengetahui pola ini. Agar menjadi arif. Ada golongan yang mendekati Tuhan lewat approach pertama. Ada yang lewat approach kedua. Kombinasi keduanya sudah barang tentu paling bagus. Tetapi yang paling pokok adalah dengan usia yang sudah sebegini, akan sangat ketinggalan jika kita tidak menengok dimensi esoterisnya islam. Dan mengabaikan dimensi batin dengan khasanah yang sangat luas ini.

References

[1] “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”.

[2] Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa“. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“. [QS. AL KAHF 18:110]