PAKEM DUNIA FISIKAL

Jikalau kita zoom-in, yang manakah yang dikatakan manusia? Kita terdiri dari kumpulan sel….. Organ…..dari sisi biologi. 

Secara fisika, kita kumpulan atom yang kalau dibelah terus menjadi sesuatu yang tak lagi diketahui manusia.
Secara mikro, super mikro, maha mikro, manusia satu dan lainnya tak ada bedanya dengan gunung dan tetumbuhan. Sama-sama hologram yang tersusun dari gejala-gejala fisika yang sama.

Dalam hakikatnya, tak ada beda.

Akan tetapi, setelah menjelma ke dalam bentuk fisik, kesadaran filosofis bahwa manusia dan semua makhluk tak ada beda ini; harus tunduk pada tatanan alam fisikal. Anak-anak bayi makannya nasi tim, ga bisa makan steak barbeque. Seorang laki-laki kalau kebelet pipis harus masuk toilet umum laki-laki, ga bisa masuk toilet umum perempuan. Semuanya tunduk pada norma dunia fisikal. Begitu di alam fisikal, semua memainkan coraknya masing-masing.

Sespiritual apapun seseorang, setinggi apapun kepahamannya akan spiritualitas, dalam dia bergerak di dunia fisikal ini dia akan mengikuti pakem syariat.

Ibnu qayyim al jauziyah mengatakan dalam salah satu tulisan beliau tentang takdir, yang kurang lebih maknanya adalah “Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum”.

Sespiritual apapun pada dalamannya, saat didunia fisikal dia akan tetap menyebut baik pada kebaikan dan menyebut buruk pada keburukan……sesuai dengan kepahaman dan maqomnya masing-masing. 

Walhasil…..memiliki corak, atau memiliki sikap di dalam dunia fisikal adalah fithrah. Karena mau tak mau seseorang akan bergerak sesuai dengan syariat peran yang dia lakoni. 

Saya keliru, untuk dahulunya telah mengira bahwa kepahaman spiritualitas yang dalam akan mengakibatkan seseorang menjadi super toleran dan pembiaran…..ternyata setelah direnungi, Rasulullah SAW tetap mengajarkan kebaikan dan memberitahu mana yang buruk. Sebagai syariat untuk bergerak di dunia fisikal. Tetapi dalam bergerak, kita memahami bahwa sejatinya sama saja kita dan mereka, tetapi game plannya begini…..maka kita harus ikut peranan masing-masing. Dan berbuat kebaikan sebanyak-banyak yang “ditakdirkan” bagi kita.

Wallahualam

AMPUNAN YANG MENDAHULUI TAUBAT

Seorang pendosa bertanya pada Rabi’ah, “seandainya saya bertaubat, apakah Allah akan mengampuni saya?”.

Rabi’ah menjawab, “seandainya Allah mengampuni engkau, pastilah engkau bertaubat”.

Sudah lama saya mendengar kisah itu, dari seorang ustadz. Saya lupa tercantum dalam kitab apa dialog itu, tetapi maknanya valid. Yaitu cara arifin memaknai kaitan antara usaha dan hasil. Jika jamaknya orang memahami bahwa jika kita bertaubat maka Allah mengampuni, maka para arif memaknai bahwa ampunan itu mendahului taubat. Artinya, jika Allah mengampuni seorang hamba, maka hamba itu pastilah tertakdir bertaubat.

Ud’uni astajib lakum[1]. Berdoalah maka Aku akan mengijabah… oleh para arifin dimaknai sebagai “jika Allah ingin memberi, maka akan diturunkannya ilham sehingga sang hamba tergerak meminta”.

Keseluruhan kejadian hidup, oleh para arif, dimaknai sebagai cara Allah SWT menceritakan diri-Nya sendiri. Tidak ada konteks lain dalam hidup.

Allah mentakdirkan segalanya ini berlaku, dalam sebuah game-plan besar yaitu mengenalkan tentang diriNya. Maka pada sisi manusiawi, segala takdir yang SEDANG berlaku mestilah disikapi dengan sikap batin yang “mengandalkan” Allah untuk kembali kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu mentakdirkan orang itu beramal. (intinya adalah kita berupaya mengenal Dia lewat kejadian apapun).

Cara menyikapi dosa ternyata juga seperti itu. Dalam dunia ini, dualitas tergelar. Baik dan buruk. Dalam konteks mengenalkan tentang Tuhan, maka keburukan pun juga mengenalkan tentang Tuhan.

Masyhur kalimat “Laa Hawla Wa Laa Quwwata illa billah”.[2] Sebagian ulama menafsirkan sebagai tiada daya (berkebaikan), tiada upaya (menghindari kemaksiatan) selain dengan pertolongan Allah. Namun ada pula yang menafsirkan Hawla = daya di dalam batin, lalu Quwwata = daya secara fisikal. Yang manapun pengertian yang ditarik, jika dipandang dalam konteks DIA menceritakan DIRINYA sendiri, akan jelas bisa kita mengerti bahwa gerak-gerik batin kita, sampai aktivitas fisikal kita, semua dalam genggaman Allah SWT.

Satu syarahan seorang guru tentang DOSA. Yang beliau sampaikan itu baru sekarang saya mengerti bahwa sangat senada dengan maksudnya Ibnu Qayyim.

kata beliau kurang lebih: saat kita SEDANG berada pada kondisi berdosa, kita harus ingat bahwa hanya Allah semata yang bisa selamatkan kita. Karena dorongan hendak melakukan dosa itu pun sejatinya telah masuk dalam Qada dan Qadar-Nya. Maka menyikapinya adalah, kita “kembali” pada Allah, “mengingatNya” dan minta tolong Allah agar selamatkan kita dari dorongan berbuat dosa. Bukan mengandalkan kemampuan diri beramal semata-mata tetapi lupa menyandarkan amal pada pertolongan Allah.

Maka barulah dengan cara pandang seperti itu kita akan mengerti dialektika berikut ini, ada ayat yang mengatakan ini “Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. ” (Al-Takwir 28)…. tapi di sisi lain Allah mengatakan begini “Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali jika dikehendaki Allah. ” (Al-Insan 30)

Kita disuruh menempuh jalan lurus, lalu kita diberitahu bahwa tak akan mampu kalau tak Allah tolong.


[1] Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu ( QS Al mukmin 60)

[2] “Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga” (HR. Bukhari no. 7386)

BAJU BESI DAN JALAN NAIK TURUN

Dalam Al Munqidz Min Adh Dhalal, Imam Ghazali menceritakan bagaimana beliau berusaha mencari sebuah keyakinan yang kokoh, yang tidak akan ada lagi gundah sesudah itu. Keyakinan itu, adalah sebuah fase yang jamak kita kenal sebagai “Haqqul Yaqin”.
Dalam literatur spiritualitas islam, para arif membagi dua macam urutan perjalanan. Yang pertama adalah jalan mendaki. Dari bawah ke atas.

Yang kedua adalah jalan menurun, dari atas ke bawah.

Kalau kita tarik korelasinya dengan fase perjalanan yang lumrah, yaitu Ilmul Yaqin, lalu Ainul Yaqin, lalu Haqqul Yaqin….maka tahulah kita bahwa fase perjalanan keyakinan yang kita sering dengar itu adalah fase perjalanan pertama. Yaitu dari bawah ke atas. Dari yang pertamanya keyakinan karena seperangkat ilmu yang dipelajari / diketahui, lalu meningkat menjadi lebih yakin karena melihat sendiri / observasi (ainul yaqin), lalu sangat yakin karena mengalami sendiri realita itu (haqqul yaqin).

Semisal seseorang yakin ada kutub utara karena membaca, dilanjut dengan yakin karena dia melihat rekaman video atau mungkin dia naik pesawat di atas kutub utara, lalu dilanjut dengan super yakin karena dia pernah berkemah di kutub utara dan mencecap rasa dingin saljunya. Dari bawah, ke atas. Skema perjalanan dari dasar, merangkak naik pelan-pelan sampai mencapai derajat haqqul yaqin inilah yang oleh para arif disebut dengan salik. “pejalan ruhani”.

Namun…. Ada skema perjalanan terbalik. Yaitu orang-orang yang karena anugerah Allah, langsung mengalami sendiri derajat haqqul yaqin. Orang begini, istilahnya dia ditarik masuk ke dalam penyaksian. Sering diistilahkan sebagai “madjzub”. Kalau pakai analogi kutub utara, ibaratnya ada orang yang tinggal di sebuah desa yang tertinggal dari pengetahuan dunia luar, lalu tiba-tiba entah bagaimana ada satu orang yang terlempar ke kutub utara. Lalu dengan suatu cara tiba-tiba orang itu kembali lagi ke desanya. Orang itu, terhadap kutub utara, sudah mencapai derajat haqqul yaqin. Super yakin.

Tapi ada satu masalah, masalahnya adalah bagaimana orang ini menceritakan yang dia alami kepada khalayak di desanya yang sama sekali tak pernah tahu kutub utara? Orang ini, akan disalah pahami, jika kemudian dia tidak pandai menerjemahkan atau membahasakan apa yang dia alami ke dalam bahasanya “para pejalan”. Misalnya, dimulai dari dia harus mencari literatur dulu, barangkali peta-peta yang ada membahas kutub utaranya. Lalu, kemudian kalau bisa dia menemukan video mungkin. Dan seterusnya dan seterusnya, sehingga meskipun dia sendiri haqqul yaqin, tetapi dia bisa menyampaikan kepahamannya kepada orang lain lewat jalan ilmul yaqin. Lewat keilmuan yang valid.

Dalam spiritualitas islam, para salik meniti jalan yang lumrah lewat belajar, dan rajin beribadah sampai kemudian keyakinan meningkat. Sedangkan yang madjzub, karena anugerah Tuhan, mereka berada pada keyakinan yang begitu kukuh, tetapi untuk menyampaikan keyakinan itu kepada khalayak mestilah tidak bisa tidak mereka harus menguasai aspek keilmuan pada tangga yang dibawahnya.

Teringat kisah Ali Bin Abi Thalib r.a, yang baju besinya diambil oleh seorang yahudi. Dan Ali kemudian melaporkan ke hakim. Tetapi, Ali r.a. kalah dalam persidangan, karena beliau tidak mampu menghadirkan bukti otentik, baik itu dari sisi keilmuan wacana ilmul yaqin, atau dari segi bukti ainul yaqin, bahwa baju besi itu milik dia. Maka, Ali bin Abi thalib kalah dalam persidangan.

Begitulah fithrah dunia. Dunia, menghukumi berdasarkan bukti yang tampak mata. Dalam kata lain, dunia mengikuti pola perjalanan salik, dari bawah ke atas. Kerangka keyakinan disusun berdasarkan bukti wacana, lalu bukti yang tampak mata, dan dipuncaki dengan keyakinan yang super teguh hasil mengalami sendiri realita.

Apa implikasinya?

Dari sudut pejalan. Bagi para pejalan ruhani, satu-satunya cara mereka untuk menerima kebenaran adalah dengan cara ilmul yaqin. Rasulullah SAW bersabda, telah ditinggalkan untuk kita dua perkara, Al Qur’an dan Sunnah sebagai uji validitas wacana. Karena kita adalah seorang pejalan, maka cara keyakinan bersemayam adalah dari bawah ke atas. Cari wacana ilmu sebanyak-banyaknya, dan uji validitas. Ilmul Yaqin, sampai kemudian Allah sendiri yang akan menghantarkan kita pada derajat berikutnya.

Dari sudut orang yang madjzub. Satu-satunya syarat bahwa mereka boleh menyampaikan apa yang mereka alami kepada khalayak, menyampaikan ilmu dan keyakinan mereka pada khalayak, adalah dengan pola menurun. Mereka mengetahui sesuatu berdasarkan burhan, intuisi, petunjuk, kasyaf, dst….tetapi dalam menyampaikan kepada khalayak mestilah yang bersesuaian dengan ilmul yaqin. Wacana ilmu yang valid. Tanpa itu, maka penyaksian pada derajat haqqul yaqin tak bisa dibawa kepada khalayak, karena tak ada pendukung bukti otentik.

Sebagaimana kisah Ali tadi.

Harmoni akan terjadi, jika seorang salik, menjadi bestari dengan menyadari bahwa sangat banyak disekitar mereka orang-orang yang secara ruhani telah tinggi dan Allah pahamkan akan sesuatu, tetapi mereka tak punya kemampuan menyampaikannya dengan bahasa yang dimengerti awam. Maka tugas pejalan adalah belajar dari sekian banyak orang, dan menyaring dari siapapun saja, dengan wacana ilmu yang valid yang mereka pelajari.

Harmoni akan terjadi, jika seorang madjzub, menyampaikan apa yang dia alami, dengan bahasa wacana ilmu yang jamak dipahami orang-orang. Maka mengetahui banyak wacana, adalah sangat penting bagi seorang madjzub dalam polanya yang terbalik. Dari atas ke bawah.

Menjadi pahamlah kita, kenapa tak semua orang madjzub boleh menyampaikan. Karena, tak semua yang madjzub diberikan anugerah pula selain dari anugerah haqqul yaqin, tetapi juga anugerah untuk dipertemukan dengan dalil keilmuan yang menjelaskan mengenai apa yang dia alami.

Dalam Al Munqidz Min Ad Dhalal, Imam Ghazali berkata, salah satu anugerah itu adalah jika Allah SWT menuntunkan bertemu dengan golongan yang benar, dan dituntunkan pula bertemu dengan dalil yang benar.

Indah sekali cara Allah mengajar.

DAYA HIDUP DAN FILEM INDIA

nil-battey-sannata-collection

Seorang anak wanita usia SMA, terlahir dari keluarga yang marjinal. Ibunya seorang asisten rumah tangga. Anak itu tak punya semangat hidup. Tak punya cita-cita sama sekali. Karena baginya kehidupan hanyalah sebatas meneruskan jejak ibunya saja. Anak asisten rumah tangga tak perlu belajar karena nanti toh akan meneruskan jejak ibunya hanya jadi asisten rumah tangga. Begitu pemikiran anak itu.

Sang Ibu, begitu kecewa karena anaknya tak punya semangat juang, padahal Ibu itu banting tulang ingin membiayai anaknya.

Singkat cerita…namanya juga filem, saking inginnya Ibu itu mengajari anaknya supaya lulus sekolah dan bisa melanjutkan dengan beasiswa, Ibu itu kembali bersekolah juga. Lalu konflikpun dimulai. Sang anak kesal karena ibunya satu kelas dengan dia, keributan demi keributan di rumah terjadi, dan mereka bertaruh jika sang Ibu kalah, maka Ibunya harus keluar dan berhenti melakukan hal gila yaitu sekolah lagi itu. Dan sang Ibu mengatakan dia akan berhenti sekolah hanya jika sang anak mengalahkan nilainya dalam matematika.

Entah kapan terakhir saya nonton filem India. Barangkali waktu masih tenar-tenarnya film 3 Idiots. Sebelum itu, mungkin terakhir saya menonton pas saya SMA dulu. Saya bukan penikmat filem, tapi beberapa filem memang berkesan. Mayoritas yang berkesan buat saya adalah filem action semisal The Raid, Merantau-nya Iko Uwais, atau Ip-Man-nya Donnie Yen. Dan selain genre itu, ada beberapa filem yang berkesan dengan drama-nya yang mengharu biru, seperti Pursuit Of Happiness, dan baru saja kemarin saya menonton Filem India itu yang judulnya saya tak ingat Apa[1].

Saya tergerak menuliskan ini, bukan pengen buat resensi, melainkan karena tercenung dengan sebuah hikmah tentang “daya hidup”. Ambillah misalnya sebagai contoh cerita laskar pelangi, atau negeri lima menara yang menceritakan tentang perjuangan anak-anak yang marjinal untuk meraih penghidupan yang lebih baik. Semua mengisahkan tentang orang-orang yang punya “daya hidup”. Semangat mengalahkan keadaan. Tetapi, filem India yang saya sebut diatas tadi menyoroti tentang orang yang tak punya “daya hidup”.

Coba renungkan ini ya, jika orang tua sudah bersusah payah banting tulang membiayai anaknya, maka bagaimanakah bentuk penghargaan anak kepada orang tua? Salah satunya adalah dengan tidak mematikan “daya hidup” itu.

Kehilangan semangat dan nyala untuk belajar dan bertumbuh, bukan lagi sekedar urusan pribadi, tetapi dia menjadi sebuah sikap abai terhadap pengorbanan orang tua.

Menarik sekali, bahwa dalam sebuah hadits ada disebutkan tidak akan berterimakasih kepada Tuhan, jika seseorang itu tidak berterima kasih kepada manusia, alias yang menjadi jalan rizki mengalir padanya.[2]

Baru saya melihat koneksi itu, antara keberanian bercita-cita dengan koneksinya sebagai bentuk terimakasih kepada orang-orang yang mensupport kita, dan dalam kaitannya yang lebih spiritual lagi keberanian bercita-cita sebagai bentuk kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Kaya.

Urusan hasil itu belakangan, boleh jadi dapat boleh jadi tidak. Tetapi “daya hidup” itu tak boleh mati. Matinya kepercayaan dan daya hidup itu, itulah pengkhianatan kepada rasa terimakasih, pada manusia dan pada Tuhan.

Mengenai cita-cita, mengenai keinginan ini, setidaknya saya klasifikasikan menjadi beberapa tipe orang dalam menyikapinya.

Yang pertama, adalah tipe kebanyakan orang, yang ingin menggapai cita-cita maka mereka bekerja keras. Ini adalah tipe standar. Kerja keras mereka adalah ejawantah puzzle untuk menutupi kepingan yang kosong, yaitu keinginan. Keinginan dimaknai hanya sekedar sebagai penggerak aktivitas. Meskipun standar, ternyata tipe ini masih lebih baik daripada orang yang malas sama sekali.

Yang kedua, adalah tipe yang lebih dalam sedikit. Tipe ini, adalah orang yang mulai mengerti bahwa keinginan itu adalah sumber penderitaan. Seperti lagunya Bang Iwan Fals. Duka, itu adalah salah satu sisi yang pasti berkaitan dengan keinginan. Itu sebab, bagaimana cara mengurangi duka? Yaitu dengan mengurangi keinginan. Yah… logis juga sih, sedikit keinginan, sedikit pula duka. Untuk mencapai tipe kedua ini, seseorang harus membongkar paradigmanya yang pertama yang terlalu materialis, menjadi paradigma yang sedikit lebih spiritual. Tetapi berhenti disini belum selesai.

Yang ketiga, tipe ini melintasi golongan pertama dan kedua. Mereka tidak melihat bahwa kerja keraslah yang menghantarkan kepada pencapaian cita-cita. Mereka tidak pula melihat bahwa keinginan adalah wajah lain dari duka nestapa. Tetapi mereka melihat keinginan sebagai jendela rasa syukur. Mereka memaknai keinginan sebagai isyarat pemberian. Sebagaimana Umar Bin Khattab berkata, aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a maka aku tahu pengabulan bersamanya.

Keinginan yang murni, itu adalah sesuatu yang “diilhamkan” pada manusia karena DIA ingin dunia ini bergerak.

Analogi sederhana untuk memahami cara pandang golongan ini adalah analogi filem itu tadi. Jika orangtuamu bersusah payah membiayai sekolahmu, maka ketakutan untuk berharap dan hilangnya semangat atau “daya hidup” adalah pelecehan terhadap kerja keras orang tuamu. Maka semangat tidak boleh mati.

Dalam garis singgungnya yang lebih spiritual, ketakutan untuk berharap, adalah karena ketidak mengertian akan Kekayaan Tuhan. Ini perkara “daya hidup”-nya ya, kalau masalah harapan itu terjadi atau tidak itu lain soal. Tetapi “daya hidup” itu. Semangat itu, dia jangan mati. Karena yang melihat kepada Al-Ghaniy, Sang Maha Kaya, dia tak akan kehilangan harapan.

Seseorang makan, dan minum, karena sebuah dorongan “lapar”. Begitupun seseorang bekerja, karena dorongan “kebutuhan”. Dan seseorang bergerak bertumbuh, karena dorongan “cita-cita”. Baik lapar, kebutuhan lainnya, ataupun cita-cita, semua hanyalah bentukan lain dari “daya hidup”. Daya yang diadakan oleh Tuhan agar kehidupan mengalir dalam gerak.

Boleh jadi, keinginan seseorang tidak melulu berkaitan dengan harta ya. Boleh jadi pusaran keinginan hidup orang itu adalah ilmu. Bisa…. Orang itu bisa bertumbuh menjadi orang yang berkontribusi terhadap hidup lewat ilmunya. Sebutlah sekian deret ulama dan orang-orang Shalih, Ibnu Khaldun, Ibnu Qayyim, Bukhari. Siapapun…. Sebutlah misalnya para ilmuwan, Newton, Archimedes, Galileo, Al Khawarizmi.

Semuanya menjadi bertumbuh karena keinginan. Tetapi keinginan, oleh para arifin dimaknai secara spiritual sebagai “ilham” yang diturunkan karena DIA ingin dunia ini bergerak menceritakan diriNYA.

Pencapaian para para arif sepanjang sejarah. Rumi misalnya, Imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ibnu Athaillah….mereka tidak bisa hanya hadir lalu hilang? Mereka akan “dipaksa” oleh kekuatan itu untuk bertumbuh dan meninggalkan jejak. Daya hidup yang membuat seseorang menjadi produktif. Yang menghantarkan seseorang memainkan porsinya di dalam kehidupan ini. Seperti arloji, setiap orang memainkan tariannya sendiri, ada peran, ada porsi.

Tetapi daya hidup tak boleh mati. Spiritualitas yang mematikan daya hidup itulah yang hemat saya dilarang oleh Rasulullah SAW. Saat seorang sahabat dilaporkan hidup dalam sikap kerahiban yang melulu ibadah sampai melupakan segala sesuatu. Tetapi kemudian ditegur. Jangan begitu, islam tak memperbolehkan hidup dalam kerahiban.

Siklusnya menarik sekali. Dari yang pertama produktif tetapi materialis, lalu menjadi abai terhadap hidup karena spiritualis tapi belum selesai, lalu kembali menjadi produktif karena dialiri ilham-ilham kebaikan. Spiritual yang selesai. Kalau betul seseorang itu spiritualis, saya rasa pasti melimpah ruah daya hidup padanya. Dihujani ilham-ilham kebaikan.


[1] Belakangan saya search ulang di mbah google dan menemukan kembali ternyata judul filem ini adalah Nil Battey Sannata

[2] “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)

Image sources

MENSYUKURI PENGALAMAN HIDUP 

Pagi ini, dorongan di hati begitu kuat untuk menuliskan tentang rasa syukur. Kapan terakhir kali kita benar-benar menyampaikan syukur pada Tuhan? Dalam setiap sholat kita mengucapkan hamdalah, tetapi hamdalah yang terlalu seremonial dan jarang dijiwai itu berhenti sebatas formalitas. Kapan terakhir kali saya benar-benar mengucapkan syukur pada Tuhan?
Yang membedakan, antara ibadah formal seperti sholat dengan hal-hal selain ibadah, ternyata adalah “komunikasi” kepada Tuhan. Setiap komunikasi mestilah ada konteks, ada tema-nya. Salah satu tema komunikasi pada Tuhan adalah ekspresi syukur itu.

Alhamdulillah… saya bersyukur pada Allah untuk setiap jenak inspirasi. Bagi saya pribadi, menulis adalah moment yang sangat menyenangkan. Karena menulis berarti menangkap inspirasi yang turun.

Setiap inspirasi atau gagasan yang datang, bagi saya pribadi adalah hadiah dari Tuhan. Jika kita bandingkan diri kita yang sekarang, dan diri kita waktu SD atau TK dulu; tentu berbeda. Selain dari perbedaan fisik, yang berbeda adalah cara kita memandang hidup.

Karena diri kita yang sekarang, memandang hidup dalam kedewasaan yang lebih daripada kita yang kanak-kanak dulu. Sedangkan kalau kita pikir-pikir apatah itu kedewasaan? Kalau bukan kumpulan-kumpulan gagasan dan inspirasi sepanjang hidup kita? Jadi betapa saya bersyukur untuk setiap jenak inspirasi yang datang. Dengan inspirasi, ilmu dan kebijakan itulah kita tumbuh menjadi pribadi baru.

Saya bersyukur pada Allah, Alhamdulillah, untuk telah diberikan kesempatan belajar. SD hingga kuliah. Terimakasih untuk telah diberikan kemampuan berbahasa inggris meski pas-pasan. Dengan terbukanya satu gerbang bahasa, terbuka bula sedemikian banyak pintu-pintu ilmu.

Dari segenap ilmu yang kita pelajari itu, pada gilirannya menambah wawasan dan mempengaruhi cara kita memandang hidup. Karena gerbang ilmu yang terbuka untuk dipelajari menjadi lebih luas.

Satu keinginan saya sekarang adalah belajar bahasa arab. Sempat mempelajari ilmu sharaf bahasa arab, tetapi terpotong oleh kesibukan yang sangat padat membuat proses belajar masih belum optimal. Semoga lain waktu bisa mengulang kembali.

Betapa saya bersyukur pada Allah untuk setiap detail-detail kecil yang terlewat. Untuk handphone Android misalnya. Dulu sewaktu saya kecil, saya nonton filem kura-kura ninja, dan saya menghayalkan bahwa suatu saat kelak akan ada telepon genggam seperti milik kura-kura ninja itu. Dimana orang yang menelepon dan ditelepon bisa saling melihat video. Dan sekarang, setelah saya dewasa, saya hidup pada era dimana video call seperti diobral lewat segala lini chatt app. Hidup memang terkadang lucu. Seringkali, gumaman masa kecil menjadi kenyataan saat dewasa.

Saya mensyukuri pula kesempatan untuk telah bekerja pada tempat saya bekerja sekarang. Saya teringat bahwa saya sejak kecil hidup pada lingkungan yang begitu marjinal secara ekonomi. Atas rahmat Allah sematalah saya bisa menyelesaikan kuliah dan masuk pada sebuah perusahaan yang memberikan saya kesempatan terpapar pada berbagai-bagai pengalaman pekerjaan. Di anjungan pengeboran darat, pada tengah hutan, pada pinggir jalanan lintas di dekat penduduk desa, pada anjungan lepas pantai yang dimana-mana memandang hanya biru laut yang pekat. Alhamdulillah….

Seumur hidup, saya menjalani kehidupan dengan cara pandang seorang yang begitu nyaman dengan present moment. Saya tak menyukai petualangan…. Maksudnya, saya tak menyukai terlalu banyak bepergian. Tanpa saya “dicemplungkan” ke tempat saya bekerja sekarang, saya tak mungkin sengaja menyempatkan diri pergi ke semua tempat-tempat itu. Alhamdulillah…. Pernah tertakdir berkunjung ke Malaysia, Thailand, Singapura meski hanya lewat, Juga Rusia dan Dubai meski hanya transit. Ke Houston dan San Antonio US. Pernah sampai ke Cairo. Alhamdulillah….Alhamdulillah…….rasanya tanpa “paksaan” tak akan saya menyempatkan diri menyegaja menjelajahi tempat-tempat itu.

Dalam perjalanan-perjalanan itulah semakin menyadari kita ini kerdil….sangaaaat kecil.

Saya mensyukuri jenak dimana setiap saya pulang kantor, meskipun saya tiba di rumah seringkali lepas maghrib, saya masih bisa bersantai-santai dan ngaso. Meskipun masih harus membuka laptop dan mengerjakan tugas kantor yang menanti antri untuk dibereskan. Teringat betapa dulu saya harus menghabiskan hari-hari bekerja di lapangan, dan dalam pada itu saya selalu memimpikan untuk bisa bekerja kantoran. Dan sekarang saya bekerja kantoran, dalam setiap penat dan letih itu saya mengingat bahwa kerja sekarang, adalah lebih nyaman bagi saya ketimbang kerja dahulu. Maka saya bersyukur….

Saya bersyukur pada Tuhan, Alhamdulillah….untuk setiap jenak minum kopi, atau jenak minum teh di pagi hari. Untuk setiap jenak personal membaca buku. Untuk telah dirubahnya cara pandang saya 180 derajat. Dulu saya memandang hidup begitu kaku. Keberagamaan-pun hanya urusan Syariat formal semata. Tetapi seiring perjalanan, dengan gonjang-ganjing ujian hidup, saya baru memahami bahwa segala riuh rendah hidup ini adalah cara Tuhan mengajari kita. Lepas dari obligasi ibadah formal, hidup ini ternyata sangat spiritual.

Saya bersyukur atas nikmat keluarga. Yang juga berarti kesempatan memandang hidup dengan gagasan dan kacamata yang berbeda pula.

Ternyata ada DIA yang ingin dikenali. Dalam konteks mengenali-Nya itulah, kita semua diperjalankan dalam hidup kita masing-masing. Lewat suka-duka, lapang-sempit, kita mengeksplorasi hidup. Itu sebab banyak sekali dalam ayat suci kita temukan perintah, “BERTEBARANLAH DI MUKA BUMI”, ulama-ulama banyak menyuruh kita, “MERANTAULAH”, banyak sekali kebijakan agar banyak bepergian, melihat, mentafsir. Karena hidup ternyata memang jalan-jalan kok.

Ada yang memang menyukai perjalanan fisikal, pergi ke banyak tempat, melihat macam-macam. Ada orang yang sibuk berjalan-jalan ke dalam dirinya sendiri. Hidup sebagai orang yang begitu kontemplatif, karena dalam diri manusia sendiripun banyak aspek yang bisa “dilihat” dan dipelajari. Tetapi, semua bentuk perjalanan itu, perjalanan usia, perjalanan dalam artinya yang harfiah dan arti yang majazinya, semuanya karena kita sedang dalam konteks menyaksikan DIA dalam hidup kita. Perjalanan yang berbagai-bagai, dalam konteks-Nya yang tunggal.

Dalam konteks menyaksikan DIA itulah, kita melaksanakan peribadatan yang “komunikatif”. Ada bentuk-bentuk permintaan tolong. Karena dalam perjalanan kita menempuh kesulitan. Ada bentuk-bentuk pujian, ada bentuk syukur…. Semuanya karena kita menemukan itu. Karena kita sudah mengerti konteks.

Hidup, dalam kemengertian akan konteks, menjadi sangat menyenangkan.

Alhamdulillah… segala puji bagi Allah, atas nikmat hidup. Atas nikmat diperjalankan dan melihat beragam-ragam penzahiran. Atas nikmat Iman Islam. Atas nikmat pengertian-pengertian. Atas nikmat pengenalan.
— 

KEMENANGAN YANG KECELE

winner

“MENAAANGG”, teriak anak saya waktu saya pulang kantor. Saya memang menanti juga kabar itu, hari itu anak saya terpilih sebagai salah satu dari sekian orang perwakilan TK-nya untuk ikut lomba mewarnai. Wah….ternyata anak saya menang.

Saya pun mengapresiasi kemenangan anak saya. Lalu setelah itu mulailah sesi wawancara singkat, saya dan istri menanyakan detail flashback mengenai kejadian hari itu, tentang perlombaan dan tentang apa hadiah kemenangan-nya?

Rupanya kami kecele….karena ternyata setelah diusut dengan detail berdasarkan cerita lebih lanjut dari anak saya, krayon pewarna yang dia dapatkan itu diberikan karena anak saya sendiri lupa membawa pewarna saat lomba, dan mengenai kemenangan itu ternyata yang menang bukan dia, melainkan teman sekelasnya. Kami tertawa geli mendengar itu.

Jadi teriakan “MENANG” yang histeris itu adalah selebrasi atas kemenangan rekannya, bukan dirinya.

Tapi saya jadi berfikir, mengapa anak saya mengasosiasikan kemenangan temannya dengan kegembiraan yang riuh sampai kami mengira dia sendiri yang menang?

Ternyata saya baru paham bahwa konsep individualis belum benar-benar terbentuk pada anak-anak seusia dia. Baginya, tak ada beda, mau dia yang menang atau teman sekelasnya yang menang, semuanya adalah kemenangan bersama, dan kegembiraan yang sama pula yang dia dapatkan.

Untunglah, saya tidak mendoktrin anak saya dengan semangat kompetisi yang berlebihan. Semangat kompetisi yang berlebihan pada gilirannya barangkali membuat kita merasa seperti menara gading.

Rupanya, yang lebih penting adalah semangat kontribusi, ketimbang semangat kompetisi.

Seruan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, barulah saya mengerti dengan lebih “mature” sebagai sikap untuk berlomba-lomba kontribusi dan turut andil dalam bermanfaat kepada khalayak. Bukan perkara kemenangan individu.

Bagi orang dewasa, konsep fokus individu ini sedemikian lama sudah berakar dan barangkali susah sekali dihapuskan. Piramida maslow malah mengatakan bahwa puncak kebutuhan manusia adalah aktualisasi diri yang tentu secara subjektif saya rasa itu adalah individualis. Mencari Pengakuan.

Teori ini pemaknaannya adalah “kontribusi aktif sebagai ejawantah diri kita ingin diakui”. Sedangkan para arifin mengajarkan “kontribusi aktif” sebagai ejawantah “rahmatan lil alamin”. Serupa tapi tak sama.

Perasaan ingin diakui ini, semangat untuk “meng-ada” ini, sebagaimana sudah banyak dikatakan para arif, adalah pedang bermata dua. Dia bisa menimbulkan rasa bahagia, bisa menimbulkan duka lara. Sehingga, kalau kita tengok, banyak sekali approach spiritual dunia timur mengajarkan untuk “menghilangkan diri”.

Tentu kita paham, bahwa menghilangkan diri adalah majazi, yang maksudnya adalah berusaha mengikis ego sebisa-bisa mungkin sehingga kita hidup seperti anak-anak, seperti fithrah balita, yang” aku”-nya belum begitu kuat. Hidup dalam kelapangan jiwa.

Para spiritualis mengatakan hal ini dengan istilah “detachment”, tidak melekat kepada sesuatu.

Misalnya, zuhud. zuhud itu bukan tak punya dunia, tetapi ianya “detached” terhadap dunia.

Dunia, dan dirinya adalah dua hal yang terpisah. Sehingga ada apa-apa dengan hartanya, dirinya tak kena imbas duka, karena “tidak melekat”.

Yang menjadi perenungan saya belakangan adalah, sampai sejauh apa sih seseorang bisa tak terikat? Tiada kemelekatan? Detachment? Apakah kemelekatan adalah mutlak salah?

Saya renungi….. eh, ternyata ada hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa Muslim satu dan lainnya itu ibarat satu tubuh, yang satu sakit yang lain ikut merasakan sakit.

Artinya apa? Dalam porsinya sendiri, hal itu adalah kemelekatan, bukan? Kemelekatan identitas, sama-sama muslim. Dan pada gilirannya, kemelekatan identitas menimbulkan lara juga. Yang satu sakit, yang lain ikutan sakit. Ikut merasakan duka. Duka yang menimbulkan semacam, “apa yang bisa saya lakukan? Kontribusi apa yang bisa saya berikan?”.

Barulah saya mengerti, bahwa dalam islam, yang diajarkan adalah bukan “menghilang” dalam makna abai terhadap hidup, melainkan menggeser fokus, dari melulu individu, pribadi, menuju fokus yang lebih luas yaitu kemaslahatan orang banyak.

Fungsi sosial. Rahmatan lil alamin. Berkontribusi, karena menunaikan fungsi rahmatan lil alamin. Tergerak berkontribusi, karena meluaskan perhatian dari yang sebelumnya melulu individu menjadi rahmat bagi sekeliling.

Manusia bisa, melakukan berbagai cara untuk memangkas ke-akuan sampai tipis, tetapi tanpa pagar fungsi rahmatan lil alamin itu, memangkas ke-akuan hanya akan berujung pada sikap abai terhadap sekeliling, karena larut dalam ekstase spiritualnya sendiri.

Barangkali, salah satu cara sederhana memangkas keakuan adalah dengan menunaikan fungsi rahmatan lil alamin itu.

Tanpa itu kemenangan akan kecele. Baik menang secara spiritual, tetapi menjadi abai pada sekeliling. Atau sebaliknya, aktif pada sekeliling tapi fokusnya adalah diri sendiri melulu.


*) Image sources