BERKAHNYA ORANG YANG HIDUP HEPI (2)

Ada nuansa menggerutu, dalam cerita Mbak asisten rumah tangga pada kami. Beliau kerja bolak-balik ke rumah saya, dan satu sore bercerita pada saya dan istri tentang ekonomi keluarganya.

Yang menarik perhatian saya adalah dalam ceritanya itu nuansa yang saya “tangkep” adalah nuansa menggerutu akan hidupnya dan lalu menyalahkan banyak hal, utamanya suaminya.

Saya menunggu-nunggu apakah akan ada semacam nuansa “merayu” Tuhan, dalam ceritanya itu. Sayangnya belum ada.

Lalu saya tergelitik dan mengatakan pada beliau, “mau ga saya kasih tips Mbak?”

Beliau menjawab, “mau Pak”.

Lalu saya bilang pada beliau, “nanti mbak,” kami memanggilnya Mbak meski usia beliau jauh lebih tua. “pas sudah sampai di rumah, duduk santai di teras, nge-teh, nikmati sambil istirahat, dan pas hati sudah hepi baru mbak berdoa! Doa apa saja asalkan hatinya hepi!”

“Oh gitu ya pak?” jawab beliau

“Iya Mbak. Harus hepi.” saya jawab begitu.

“Ooooh gitu….” kata beliau.

Sebenarnya itu tips spontan saja dari saya. Karena saya teringat tips dari Bapak-bapak yang saya temui berapa tahun lalu di sekolah anak saya. Yang mana beliau mengajarkan untuk hidup dalam rasa syukur.

Sebenarnya, setiap orang mengakrabi Tuhan dengan cerita yang beda-beda. Misalnya kesulitan hidup dimaknai sebagai ujian, dan dijadikan bahan “obrolan” buat merayu Tuhan lewat doa. Maka dengan kesulitan jadi dekat pada Tuhan.

Tetapi belakangan saya lebih menyukai pintu kesyukuran. Yaitu menikmati anugerah Tuhan, dan dalam kesyukuran itu saya berdoa dan berterimakasih. Kehidupan jadi berwarna lebih cerah.

Makanya saya bilang pada Mbak asisten di rumah, cari saja jenak yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan rasa syukur, nikmati kebahagiaan itu, lalu pakai suasana bahagia dan syukur itu untuk berdoa pada Allah SWT. Agar Rahmaan dan Rahiim-Nya terasa.

Bisa saja, jenak kesyukuran itu didapat dari ngeteh sore-sore di teras. Atau mungkin bisa hal sesederhana nyanyi-nyanyi malem-malem sambil melepas penat. Yang jelas jenak yang menerbitkan kesyukuran. Karena semakin syukur, semakin lapang.

Pada pokoknya bisa melewati jalan kesyukuran, bisa melewati jalankesabaran nuansa merasa kerdil dan harap akan pertolongan. Bisa pilih antara dua itu.

Tetapi saya melihat beliau, dan bercermin dengan saya dahulu, mungkin juga masih banyak teman-teman yang punya jalan pandang serupa sekarang, kalau menggunakan jalan kesabaran, harus hati-hati agar hidup tidak terpandang selalu dalam nuansa yang buram. Dan kadang-kadang malah salah setting, larinya ke nggerundel dan komplen.

Maka itu saya ngajak beliau untuk nyari-nyari jenak yang memancing nuansa gembira dan syukur.

Karena selama ini saya kok ya merasa sudah keseringan memandang hidup dengan kacamata yang haru, lalu tiba-tiba tersadar nanti jangan jangan seolah Tuhan tidak tercitrakan welas asih. Jadi saya sekarang senang mencari-cari rasa syukur itu. Nah tema itu tiba tiba keceplos sama beliau.

Karena harta itu harus dinikmati dan dijadikan kendaraan syukur. Allah itu baik.

Seperti dulu waktu awal-awal kerja, saya memakai uang agak eman-eman. Bukannya hemat sih, hemat iya tapi ada semacam rasa memusuhi terhadap harta. Seolah-olah kalau memiliki harta itu adalah suatu kesalahan.

Padahal harta itu memang untuk melayani kebutuhan manusia. Jadi ya pakai saja selama itu berdaya guna dan manfaat. Yang lebih penting adalah saat memakai atau memanfaatkan harta kita “menangkap” rasa syukurnya itu. Dan dalam kesyukuran yang hepi itu, kita berdoa.

-debuterbang-

EMPATI YANG BERBAHAYA DAN PENANGANAN SUFISTIKNYA (2)

MEMBANGUN KEMBALI BATAS-BATAS PERSONAL ALA PSIKOLOGI BARAT

Mengetahui fakta ini, bahwa batas personal  (personal boundaries) itu penting agar kita tidak menyerap emosi-emosi random dari orang-orang, saya mencari tahu bagaimana caranya agar batas personal atau pertahanan mental itu kembali dibangun?

Kalau caranya orang barat dengan trik psikologi mereka, adalah pertama dengan keilmuan. Yaitu dengan menyadari bahwa setiap orang bertanggung jawab atas emosi mereka masing-masing. Jadi mau tak mau belajar untuk “tegaan”. Dan kita harus menyadari bahwa kita tidak bertanggung jawab untuk emosi orang lain.

Contohnya, misalnya ada teman kita punya masalah di kantor kok ya ga fokus gitu. Kita melihat masalah sebenarnya ternyata teman kita itu suka begadang akhirnya ke kantor sering telat dan di kantor ngantuk.

Nah….. kalau tadinya kita bersikap welas asih dengan orang tersebut, kita kok kasihan melihat dia dimarahin bos terus, kok ya ga tega ngeliat dia dipermalukan dengan diterakin bos di hadapan orang banyak, kita jadi sedih mendalam dan merasakan kesedihan orang itu, itu adalah welas asih, tetapi kita tidak membuat batas-batas personal.

Sebaliknya, menurut Mark Manson cara menolong orang itu dengan tetap membangun batas-batas personal yang tegas adalah dengan memberi tahu dia, “Eh, ini salahmu sendiri lho, begadang terus tiap malam. Kalau mau brenti dimarahin bos ya kamu jangan begadang. Masuk yang rajin jadi kalau pas kerja itu ga ngantuk.” Jadi kita membantu, tetapi dengan “agak tega”. Karena kesedihan orang itu ya tanggung jawab dia sendiri

MENGATASI EMPATI AGAR TIDAK KEBABLASAN, DENGAN CARA SUFISTIK

Nah, karena kebetulan saya sukanya kajian sufistik, kalau menerapkan ala-ala barat tadi rasanya kok kurang gimanaa gitu. Alhamdulillah tak lama akhirnya menemukan jawabannya.

Yang pertama, memperbaiki dulu tentang paradigma kita terhadap “masalah”. Bahwa “masalah”, atau apapun saja di dalam hidup ini sebenarnya adalah pengaturanNya, menceritakan diriNya. Jadi tidak ada masalah yang random, karena sesungguhnya yang terjadi adalah takdir yang sedang bergulir. Dan takdir itu ada urut-urutannya, meskipun hikmah tidak kelihatan sekarang, boleh jadi dia akan terlihat nanti setelah tahunan berlalu.

Dan ini kuncinya, setiap orang sudah memiliki takdirnya masing-masing. Jadi dengan terus menerus mengingatkan diri kita sendiri akan fakta ini, membantu membangun kembali batas-batas personal yang sudah lebur karena sikap welas asih yang agak keliru tadi.

Dengan memahami fakta ini, kita akan menjadi sadar bahwa tidak boleh “terlalu banyak ikut campur” dalam kehidupan orang lain. Kita membantu sebisa kita, tetapi yang sebenarnya sedang terjadi adalah takdir Allah sedang berlangsung buat orang itu, dan juga buat kita sendiri. Kita bisa menolong karena takdir, masalah selesai karena takdir, atau kita hanya bisa berbuat sebegini saja itupun takdir juga. Dengan memahami ini, membebaskan kita rasa andil yang tidak perlu dan dari rasa bersalah yang tidak perlu.

Melihat orang lain, akhirnya kita mengerti mengenai takdir yang berjalan. Dan kita menyadari bahwa kita bergerak mengikut rentak takdir. Kita tetap menolong, tetapi kita paham apalah daya upaya manusia ini sedangkan takdir sudah tersusun demikian rapih.

Cara kedua, adalah dengan praktik yang lebih spiritual. Yaitu kita “masuk ke dalam”. Ingat Allah. Dan kita pandang kehidupan “di luar” diri kita sebagai drama yang sedang berjalan. Dengan ini kita “detached”, melepaskan keterikatan yang tak perlu dengan dunia “di luar”.

Kisah yang menarik dan sudah pernah saya tulis sebelumnya adalah kisah Arjuna dalam perang BarataYudha, dimana arjuna yang welas asih kemudian gemetar dan berasa ingin lari dari medan perang karena merasa tidak tegaan dan tidak ada gunanya berperang menumpahkan darah sesama saudara.

Dalam kegamangan itu, Arjuna dinasehati oleh Khrisna mengenai kehidupan. Dan Arjuna akhirnya menjadi paham bahwa dirinya hanyalah “pemain” dalam drama hidup ini, dimana dia berlakon mengikut kisah dalam takdir kehidupan. Jadi Arjuna mengambil tindakan, tetapi secara spiritual memahami bahwa dia harus melepaskan dirinya dari keterikatan dengan tindakan itu.

Orang-orang yang memahami ini barulah bisa mengemban amanah-amanah yang besar. Dia membangun batas-batas personnal-nya dengan kepahaman tentang takdir, dia membantu orang lain dengan berlepas diri dari keakuan yang tidak perlu.

Tentu banyak lagi teknik-teknik lainnya, tetapi dua teknik ini yang secara sufistik saya pahami dan terasa berguna.

Dengan itu, kepekaan seorang empath bisa lebih terarah.


note:

sumber gambar

EMPATI YANG BERBAHAYA DAN PENANGANAN SUFISTIKNYA (1)

Seorang direktur, dihadapkan pada keputusan yang sulit yaitu harus mem-phk sebagian karyawan. Perusahaan terancam bangkrut dan keputusan yang pahit –tetapi perlu- itu harus diambil, untuk menghindari kerugian yang lebih banyak dan berimbas lebih masif. Kalau sebagian tidak di PHK nanti perusahaan beneran bangkrut dan gulung tikar mempengaruhi seluruh karyawan.

Singkat cerita hari yang ditentukan tiba dan putusan phk yang berat itu “diketuk palu” direktur tersebutlah yang harus mengumumkannya. Seorang direktur yang berhati lembut akan mengalami “guncangan”, karena tidak tega hati. Rasa sedih, rasa kecewa, dan kemarahan karyawan dirasakan juga oleh sang direktur. Akan tetapi, kok ada yang aneh…. yang dirasakan direktur itu melebihi sekedar rasa simpati, atau ikutan bersedih, alih-alih direktur itu merasakan emosi yang kuat itu BENAR-BENAR ada di dalam dirinya.

Seperti dia sendiri yang mengalami kesedihan itu. Dadanya terasa seperti ada sesuatu yang menggumpal, menempel, sedih yang dalam sampai terasa ke fisik.

Orang semacam itu (seseorang yang mengalami “persis” gejolak emosi orang-orang lain yang terkait dengan dirinya) disebut seorang “empath”. (dari kata empathy atau empati).

Orang-orang yang masuk kategori sebagai seorang “Empath” ini berbeda dengan sekedar orang-orang yang punya empati (empathy) biasa.

Bedanya adalah kalau empati biasa, itu orang bisa ikut sedih atau ikut bahagia melihat kesedihan atau kebahagiaan orang lain. Tetapi yang sebatas itu aja, seperti biasa saja, sedih ya sedih, tapi setelah itu ya sudah.

Tetapi seorang yang masuk dalam kategori “empath” dia akan merasakan jauuuuuuh lebih dalam. Sehingga seolah-olah dirinya sendirilah yang sedih. Benar-benar sedih itu masuk dalam dirinya, sehingga dia kadang-kadang kesulitan membedakan apakah kesedihan ini kesedihan dirinya atau kesedihan orang lain? Dia ibarat spons (spons cuci piring itu lho). Dia menyerap emosi-emosi orang lain kedalam dirinya, tanpa filter yang kebanyakan dimiliki oleh orang-orang umum[1].

Seseorang yang masuk dalam kategori “empath” ini, bisa merasakan detail emosi orang lain meskipun berada pada jarak yang jauh. Atau boleh jadi berada dalam jarak yang dekat, meskipun orang lain itu tidak berkata-kata atau tidak menampakkan raut muka yang sedih, tetapi emosi kesedihannya bisa terasakan oleh seorang “empath”.

Jadi misalnya tadinya mood-nya si empath ini biasa-biasa saja, tapi saat dia masuk dalam satu ruangan, dia tiba-tiba merasakan kesedihan mendalam, pasalnya ada di ruangan itu orang yang sedang sedih yang sangat dalam. Kesedihan orang itu terserap pada dirinya. Meskipun orang itu tidak berkata-kata atau menutupi raut kesedihan itu, tetapi “terbaca”.

Hal ini seperti pedang bermata dua, dalam satu sisi boleh jadi hal itu dipandang sebagai “anugerah”, karena dengan kepekaan atau sensitivitas semacam itu maka seorang empath akan mengetahui emosi sebenarnya dari orang-orang yang didekatnya, tetapi di sisi lain kepekaan seperti itu akan menyulitkan dirinya sendiri. Karena dia akan sulit menjalani hidup seperti biasa saat negativitas emosi orang lain terus menerus menempel menyambangi dirinya.

Bayangkan saja, saat akan rapat, harus meeting, ujug-ujug ada emosi kesedihan dan kebingungan yang tiba-tiba datang dan menempel. Bisa saja itu emosi orang dekatnya yang berada pada jarak yang jauh bahkan lintas pulau. Atau boleh jadi itu emosi yang random dari orang-orang disekitarnya, mungkin orang-orang satu kantornya.

Tanpa pengetahuan dan ketrampilan memisahkan emosi dirinya dan emosi orang lain, seorang “empath” akan mengalami kebingungan karena seolah-olah dirinya sendiri yang sedih dan takut. Hal seperti ini bisa mengganggu.

MENGAPA SESEORANG BISA MENJADI “EMPATH”?

Saya sadur dari bukunya Judith Orloff, The Empath’s Survival Guide, Life Strategies for Sensitive People, dan beberapa dari pengamatan personal saya sendiri, banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang menjadi “empath”.

Ada orang-orang yang secara natural terlahir sebagai seseorang yang lebih peka dengan emosi-emosi, karena keturunan. Atau boleh jadi pola pengasuhan sejak kecil. Atau mungkin bisa jadi ini hasil dari “latihan”, ada orang-orang yang menyegaja untuk peka merasakan emosi-emosi dan mereka berlatih untuk itu. Banyak hal…. tetapi saya tertarik membahasnya dari sisi poor personal boundaries, atau lemahnya pertahanan atau batas-batas personal orang tersebut.

Seperti apa itu?

Secara umum, kebanyakan orang akan memiliki batas-batas yang tegas (boundaries) sebagai pertahanan mentalnya.

Tapi ada sebagian orang lain yang punya tabiat welas asih, penyayang, ga tegaan, dia tanpa sadar terus menerus membuka pertahanan dirinya, sehingga batas-batas personnal itu tidak tegas lagi.

Misalnya, ada keluarganya yang sedang dalam kesulitan, ini orang karena memang tabiatnya welas asih, dia memikirkan masalah orang tersebut, dan dia merasa sedih, seolah-olah dirinya sendirilah yang gagal membantu. Bagi dirinya, dia harus jadi problem solver, harus menjadi pemecah masalah orang lain, harus menjadi yang membantu orang lain sebisa mungkin. Karena rasa welas asih dalam dirinya sudah tumbuh dan berkembang.

Tabiat seperti ini bagus, jika menjadi penggerak untuk berbuat. Tetapi menjadi bumerang saat rasa welas asih itu membuat personal boundaries menjadi hilang. Batas-batas personal menjadi hilang. Sehingga bukan saja ikut bersedih karena orang lain sedih, tetapi secara REAL merasakan setiap jengkal emosi kesedihan orang lain. Karena bagaimanapun itu setiap orang sebenarnya bertanggung jawab atas emosi mereka masing-masing.

Contohnya mungkin begini. Ada seorang yang suka membaca, lalu suatu hari ada bazar buku. Dia ingin pergi membeli buku, tetapi dia urungkan niat membeli buku itu karena ada temannya yang sedang tidak mau jalan, dan mau santai saja di rumah. Nah…. Seseorang yang welas asih ini tadi membatalkan niatnya beli buku, karena merasa tidak enak, dalam persepsi dia kalau dia berangkat kan kasihan temannya ini tadi ada yang nemenin, nanti kesepian.

Padahal, boleh jadi temennya juga santai-santai aja di rumah ga kemana-mana, tetapi seseorang yang punya welas asih tinggi ini tadi kadang-kadang melampaui batas dan – dalam istilah psikologi yang saya kutip dari bukunya Mark Manson[2] orang ini membuang batas-batas personalnya, dan mengira bahwa dirinya bertanggung jawab atas emosi orang lain.

Ini rasa empati yang kebablasan. Dia selalu memikirkan orang lain, tetapi rasa welas asih itu tidak –semata- berubah menjadi tindakan menolong, alih-alih dia merasakan kalau orang lain susah itu salahnya dia karena gagal menolong.

Terus menerus berada dalam sikap seperti ini, kemudian pada gilirannya mengaburkan batas-batas personal orang tersebut. Sehingga dia menjadi seperti spons yang menyerap emosi-emosi orang disekitar, karena orang-orang itu berada dalam kondisi “butuh pertolongan”, dan bertemu dengan dia yang batas personnalnya sudah dia buka dengan sikap welas asihnya itu.


[1] The Empath’s Survival Guide, Life Strategies for Sensitive People – Judith Orloff

[2] The Subtle Art of Not Giving a F*, -Mark Manson

sumber gambar

MENGEJAR MUADZIN MUSHOLLA (2)

Ruangan gelap lantai bawah yang saya amati tiba-tiba menjadi sedikit berpendar setelah cahaya dari lantai atas berhamburan jatuh. Saya melihat siluet berkelebat dari celah kisi-kisi jendela lantai atas, ada yang menyalakan lampu. Hari sudah malam dan tak lama berselang terdengar lamat-lamat azan keluar dari corong toa, dan merambati setiap celah udara di waktu isya kala itu.

Saat itu saya tiba di depan musholla komplek yang usai dipugar menjadi dua lantai. Pemugaran sudah selesai lama, tetapi musholla baru bisa mulai dipakai setelah baru-baru ini ada edaran MUI yang membolehkan sholat jamaah dengan mematuhi protokol kesehatan. Karena pandemi corona membuat orang khawatir berkumpul.

Saya tatapi setiap lekuk desain musholla itu, apik dan nyaman. Dari keremangan cahaya musholla yang temaram itulah saya melihat lagi-lagi siluet mas Isdat. Orang pertama yang datang ke Musholla, dan menyalakan toa, lalu mensyahdui malam dengan suara azannya. Seperti biasanya. Dan selalunya begitu.

Betapa orang-orang yang sederhana dan biasa, tetapi selalu hadir dalam setiap momen kebaikan-kebaikan kecil yang indah seperti ini, membuat saya terharu. Kesederhanaan dan amal-amal indah yang tidak bisa saya susuli.

***

Siang hari sebelumnya, saya sudah mulai kembali menunaikan jumatan. Berkelebatlah di fikiran saya tentang hal yang belakangan mengerumuni perenungan saya, yaitu tentang perhubungan dengan sesama manusia, hablumminannas.

Bertepatan pula khotib jum’at mengutip surat An Nashr. Rasulullah SAW menerima Wahyu surat An Nashr[1] saat menaklukkan Makkah. Dari ayat izaja a nashrullah…. Dst lalu sampai pada perintah untuk bertasbih dan beristighfar.

Teringat saya dengan salah satu tafsir yang saya pernah baca, mengapa pada momen kemenangan malah disuruh istighfar? Ternyata salah satu analisanya adalah karena sangat mungkin dalam momen kemenangan kita itu, ada orang-orang yang merasa terzalimi, meskipun kita tidak meniatinya begitu.

Maka kemudian di dalam sejarah dikatakan Rasulullah SAW memasuki Makkah yang sudah umat muslim taklukkan, dengan kepala tertunduk di atas tunggangan beliau. Padahal kalau dalam istilah sekarang, Makkah kala itu sudah dalam fase “menyerah tanpa syarat”. Tetapi seorang Panglima masuk dengan kerendahan hati dan menundukkan kepala bertasbih dan beristighfar.

Itu Rasulullah SAW. Opo meneh level kroco model saya ini. Hehehe… karena potensi untuk membuat orang lain tersakiti, minimal orang lain mempersepsikan kita secara keliru, itu tetap ada. Boleh jadi karena kealpaan kita sendiri, atau boleh jadi juga karena beda cara pandang, penafsiran berbeda-beda.

Jadi sebab itulah, jika dalam berbuat kebaikan, jika kita menyandarkan kebaikan itu pada atribut-atribut diri kita, maka kebaikan itu akan urung muncul. Karena, diri kita tidak pernah sempurna, selalu ada potensi untuk disalahpahami, dan diri kita memanglah bukan merupakan representasi kebaikan sepenuhnya.

Seperti sebuah kata mutiara sufistik dalam Al Hikam, ”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Dan orang-orang seperti mas Isdat, Muadzin Musholla komplek saya itulah yang kembali mengingatkan saya tentang berkebaikan. Lakukan saja kebaikan-kebaikan, meskipun kecil, meskipun dirimu sendiri bukanlah representasi seutuhnya dari norma-norma kebaikan tetap lakukan kebaikan itu. Meskipun, tidak diketahui.

Karena salah satu cara mengharap perjumpaan pada Tuhan, adalah dengan mendedikasikan amal baik sebagai cara menemuiNya, “………Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh….. (Terjemah QS Al Kahfi: 110)”.

Menurut seorang guru, mendedikasikan kebaikan, adalah salah satu cara untuk mendekati Tuhan, mendekati Tuhan melalui amal saleh. Pada orang-orang seperti mas Isdat, saya belajar tentang hal ini.

Di atas tingkatan seperti ini, masih kata guru tersebut, adalah tingkatan orang-orang yang hati mereka tentram dan sudah termasuk dalam golongan orang-orang yang “didekatkan”. Seperti dalam ayat hai jiwa yang tenang, [2] masuklah kedalam jamaahNya.

Orang pertama adalah yang merayuNya dengan amal-amal kebaikan. Orang kedua adalah yang sudah “tenggelam” dalam mengingatiNya.

Tapi level kedua itu adalah level yang tinggi. Kita tapaki satu-satu tangga-tangga itu dengan Kebaikan-kebaikan yang sederhana. kita mengejar orang-orang yang tersembunyi, seperti muadzin Musholla Komplek tadi.


[1] Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat. [an-Nasr/110 : 1-3]

[2] Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

BERKAHNYA ORANG YANG HIDUP HEPI

Saya ada seorang teman, yang kerjaannya selalu saja posting lucu-lucuan di facebook. Kadangkali, yang dia tulis itu hiperbola, agak-agak meninggi sedikit, lalu guyon. Kadang juga ndak penting-penting amat yang ditulis, tetapi memancing keriuhan aja. Keriuhan yang lucu dan dikomen pula sama teman-teman yang sudah sama-sama maklum bahwa rekan saya itu ya becandaan aja hobinya.

Kadangkali, ya namanya manusia, muncul juga di hati saya kepikiran “wah….ini orang caper melulu kerjaannya.” Hehehehe…. Sampai tiba-tiba saya tersadar. Eh….jangan-jangan, ini rekan saya yang lucu-lucuan ini, dia malah “diberkahi” karena hidup dengan gembira. Bisa jadi lho, karena gembira terus berkah.

Kenapa? Karena saya akhirnya menyadari bahwa tanpa ada orang seperti dia, kok kayanya ada yang kurang.

Begini contoh lainnya. Jadi saya ada kenalan yang dulunya manager saya, tapi sekarang sudah pensiun. Orangnya, tipikalnya ya hampir mirip dengan teman yang pertama saya ceritakan tadi. Periang, lucu dalam artian easy going dan selalu membawa ceria. Hobi cerita. Kalau ketemu ya asyik-asyik, nyanyi. Jalan-jalan sana sini, agak-agak pamer tapi ya pamernya lucu dan bikin geli. Pokoknya orang-orang tahu kalau beliau itu agak nyeleneh, tapi ga ada beliau ya ga rame. Dan pas beliau pensiun dari kantor, satu kantor diliburkan beberapa jam demi acara makan-makan yang khusus diadakan pimpinan kantor untuk beliau. Satu kantor lho, bukan Cuma satu divisi. Dan orang yang merasa kehilangan karena beliau pensiun, itu buanyaaaaknya ga karuan.

Saya tertegun waktu itu, eh…. Ini orang “biasa”, yang ndak spiritual-spiritual amat, tetapi meninggalkan kenangan yang baik di hati banyak orang, dan kalau tidak ada dia khalayak ramai merasa kehilangan. Bukankah itu sesuatu yang baik? Bukankah meninggalkan kenangan yang baik dan gembira itu berkah juga?

Jangan-jangan, orang model beliau ini, dan model rekan saya tadi. Yang simpel, hidup ceria, bodo-bodoan tapi happy, meski ndak filosofis-filosofi amat hehehe…. memberi kenangan pada orang-orang, itu malah lebih “berkah” ketimbang yang sibuk spiritual tetapi memandang hidup dalam kacamata yang murung terus. Nah…..

Sampai suatu hari, saya tertumbuk dengan ceramah Gus Baha di beranda facebook saya, yang ceramah beliau tiba-tiba membuat saya jadi paham apa maksud petuah lainnya dari Ust. Hussien Al Arif yang sudah disampaikan jauh-jauh hari dulu, tapi sayanya yang belum nangkep. Hehehe.

Dalam ceramah itu, Gus Baha memberikan perumpamaan shohibul bait, tuan rumah, yang mengundang tetamu untuk makan di rumahnya. Kira-kira, yang mana yang tuan rumah lebih senangi? Orang-orang yang kaku dan takut-takut kalau makan, diem di pojokan, makan dikit dan ndak habis. Atau….. orang-orang yang hepi, yang makan dengan lahap, yang keliatan betul kalau mereka senang dijamu, yang gembira. Tentu tuan rumah senang dengan orang yang gembira.

Begitulah perumpamaan yang menjelaskan Qur’an Surat Yunus: 58.[1] Dan beberapa ayat semakna, yang intinya adalah Allah suka dengan hamba yang hepi. Menikmati pagelaran hidup dan rejeki.

Al Arif Ust. Hussien, menjelaskan dari sisi sufistik, orang-orang seperti ini diistilahkan orang yang “simpleton”. Dalam satu penjelasan beliau, dikatakan bahwa hidup berlandaskan syariah, “simpleton” atau bodo-bodoan, hepi, itu sudah cukup –meski tidak masuk lebih dalam ke dunia spiritual-, karena syurga itu malah banyak isinya orang-orang yang simpleton seperti ini.

Saya baru paham sekarang lho. Bahwa hidup dengan simple, bahagia, lucu-lucuan, tidak melanggar syariat, itu malah lebih dekat kepada rahmat ketimbang orang yang hidup serius dan melulu memandang dunia dalam kacamata yang murung.

Kenapa? Karena, melulu memandang kehidupan dalam kacamata yang murung, ujung-ujungnya adalah putus asa dengan rahmat Tuhan, dan keliru menyifati Tuhan. Seolah-olah Allah SWT tidak memiliki sifat Rahman Rahiim.

Hidup bahagia dengan keadaannya, jalankan syariat, ini sudah cukup. Ini adalah keadaan yang “luhur” kata beliau.

Akan tetapi….ada kalanya seseorang terkeluar dari keadaan yang luhur, yang simpleton seperti ini. Yaitu saat seseorang merasa sesuatu kekurangan dalam hidupnya berkaitan dengan makna hidup atau arti hidup. Perasaan yang hampa itu, biasanya menarik seseorang untuk keluar dari keadaannya, mencari lebih dalam, dan meninggalkan “keluhuran” kehidupannya yang simple dan hepi tadi.

Atau…. Jika seseorang itu dihantam badai ujian. Biasanya juga mereka akan terkeluar dari keadaannya yang semula.

Tetapi yang indah adalah, jika seseorang dihantam badai ujian, atau merasakan sesuatu yang hampa dan memaksa mereka meninggalkan kondisi awalnya yang biasa, santai, hepi, lucu-lucuan….maka gonjang-ganjing ujian itu tidak akan lama. Karena tujuannya bukan buat menyiksa, melainkan merubah paradigma orang tersebut untuk naik lebih tinggi.

Kalau versi hidup simple-nya orang di peringkat pertama adalah hidup biasa, syariat ya ok dijalankan, hepi hepi gembira, lucu-lucuan, senang dengan keadaan dirinya.

Maka versi hidup simple-nya orang di peringkat kedua –setelah orang tersebut ditarik lewat tribulasi, ujian hidup yang membanting- adalah peringkatnya orang yang “simple” yang senang “duduk di pintu belakang” alias relax one corner. Santai di pojokan dan hepi-hepi melihat hidup ini sebagai drama. Sudah lebih spiritual.

Jadi dimanapun kita berada, pada posisi manapun kita. Perlu untuk simpel dan hepi, baik karena menikmati keadaan, ataupun karena sudah “melihat drama” dalam hidup.


[1] “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Terjemah QS Yunus: 58)

URIP IKU URUP – HIDUP YANG MENCAHAYAI

It's Lightbulb Liberation Day – AIER

Sepuluh tahun yang lalu. Pertama kali saya mengamati beliau masuk ruangan, saya meragukannya. Siapa orang ini, pikir saya. Usianya barangkali hanya terpaut satu tahun lebih tua dari saya, tetapi sudah dipercaya oleh kantor untuk mengisi pelatihan bagi beberapa karyawan kantor yang ditugaskan untuk mengorganisir divisi masing-masing menghadapi sertifikasi manajemen mutu dari American Petroleum Institute. Sebenarnya saya setengah hati mengikuti kelas itu.

Di dalam kelas itu ada orang indonesia, dan beberapa orang kebangsaan luar. Bagaimana anak muda ini bisa mendapatkan perhatian dari orang yang berbagai-bagai di kelas ini? Fikir saya.

Tapi begitu beliau berbicara. Boooooom. Saya terhenyak.

English yang begitu fasih dengan dialek yang elegan. Gesture yang berwibawa dengan tidak dibuat-buat. Persentasi yang padat dan tidak bertele-tele. Percaya diri yang solid tapi sekaligus membuat orang tidak bisa untuk mengartikan kepercayaan diri itu sebagai kesombongan, yang tertampil adalah citra low profile, rendah hati semata-mata. Saya terdiam. Sampai selesai kelas pun saya terdiam. Orang ini luar biasa.

Selepas hari itu, saya mengamati beliau itu dengan diam-diam, karena sudah merasa malu atas sikap penyangsian saya berapa tempo lalu. Sewaktu jumatan, saya liat dia duduk di pojokan, membawa mushaf dan mengaji. Lho…ini jarang. Menemukan orang dengan posisi seperti beliau pada perusahaan yang didominasi manajemen bule, tetapi tetap hidup dengan kultur yang agamis, itu luar biasa. Mulai hari itu, saya menjadikan beliau role model. Anak muda, yang tampil dan berkontribusi dalam kehidupan, tetapi tetap “spiritualis”.

Saya sih tetap begini-begini aja dari dulu, hehehe… tetapi beliau meroket menjadi area manager. Dan tetap dalam low profilenya. Kebersahajaannya. Ke kantor “Cuma” pakai mobil toyota seri apa itu saya lupa, yang hanya muat empat orang. Yang versi murah. Seorang area manager lho.

Sampai suatu ketika ada kabar mengejutkan bahwa beliau resigned. Mengundurkan diri dari jabatannya yang prestisius. Saya dengar kabar beliau melanjutkan studinya. Sebuah keputusan yang agak aneh sih menurut saya dengan pencapaian karirnya.

Saya tiba-tiba teringat dengan beliau ini karena setelah berapa lama, di lebaran kemarin ndilalah beliau mengirimkan ucapan maaf lahir batin. Lho… beliau masih ingat saya yang remah-remah roti semata ini, hahaha…. Luar biasa.

saya melihat track record beliau di Linkedin, lalu saya menyadari keputusan beliau mungkin tepat. Karena beliau bisa menghabiskan lebih banyak waktu diundang ke seminar-seminar. Mengisi panel dengan orang-orang besar di dunia migas dan energi. Terkadang dengan menteri. Saya melihat seorang “spiritualis” yang hidup dan berkontribusi bagi kehidupan. Semakin berkontribusi.

Seperti pepatah jawa, Urip iku Urup, hidup itu nyala (mencahayai). Konon ini adalah pepatah dari Sunan Kalijaga. Senada dengan sebuah hadits bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. [1]

Saya teringat sebuah ungkapan, kalau ingin melihat spiritualis, tidak usah cari di gua-gua. Tetapi carilah di puncak-puncak gedung dunia korporasi. Kalian akan temukan bahwa orang-orang yang menghabiskan hidupnya dengan pekerjaan dan berjibaku dalam kontribusi kehidupan, banyak yang menjadi spiritualis. Dan itu saya rasakan betul setelah tidak sekali dua saya bertemu orang-orang model begini.

Kontribusi aktif dalam masyarakat, inilah filosofi sedekah. Setiap sendi manusia ada diwajibkan sedekahnya, kata Rasulullah SAW. Yang maknanya kurang lebih saya pahami bahwa setiap kemampuan yang diberikan kepada kita, tak lain tak bukan harus menjelma kebaikan yang mencahayai orang lain. [2]

Inilah yang seringkali luput dipahami. Bahwa spiritualis dianggap orang yang menyepi di gua-gua. Atau yang melaburkan diri dalam semata bahasan-bahasan teologis.

Bahasan-bahasan teologis itu penting, sebagai landasan kepahaman. Pengenalan kepada Tuhan, dan pemaknaan hidup sebagai senda gurauNya, pengenalan akan DIA. Tetapi setelah landasan itu (syahadat) ada ibadah personal seperti sholat dan puasa yang memurnikan, lalu dilanjut dengan kontribusi sosial seperti sedekah.

Secara fikihnya semisal zakat fithrah di bulan ramadhan. Tetapi secara maknawi, sedekah adalah juga berarti apapun kebisaan kita, kita haturkan untuk kontribusi bagi kemanusiaan.

Saya mengutip kembali tulisan dari seorang sufi besar yaitu Syaikh Ahmad Sirhindi dalam kumpulan tulisan beliau yang dijuduli “Sharia and Sufism”. Kurang lebih, secara ringkasnya jalan spiritualitas itu ada dua. Yang pertama adalah spiritualitas para wali, atau “saintly way”. Jalan para saint. Ciri perjalanan spiritualitas model seperti ini adalah menghabiskan hari-hari dengan ibadah dan tirakat yang berat seperti pertapa atau rahib-rahib, dengan tujuan untuk mendapatkan insight ketuhanan di ujung perjalanan. Teman-teman kalau menyukai spiritualitas, akan melihat bahwa bahasan mengenai Tuhan Yang Maha Esa, itu ada dalam banyak literatur lintas agama dan budaya. Karena para “saint” itu banyak.

Jalan ini bisa ditempuh, tetapi rawan. Banyak yang gagal di tengah jalan. Kehidupan dengan peribadatan yang super ketat seperti pertapa dan rahib-rahib dengan harapan mendapatkan insight ketuhanan di ujung jalan, malah membuat orang gugur sebelum sampai.

Tetapi ada Jalan kedua, yaitu jalan yang diajarkan para Nabi, atau “Prophetic Way”. Alih-alih menempatkan pengetahuan ketuhanan di ujung perjalanan sebagai hasil dari insight, jalan ini memulai perjalanan dengan makrfifatullah lewat keilmuan. Kajian keilmuan yang mengenalkan manusia kepada yang jamak disebut Tuhan Yang Maha Esa, islam menyebutnya Allah SWT.

Lalu setelah kenal karena ilmu, yang tinggal adalah ibadah, selepas ibadah personal, dilanjut dengan kontribusi sosial.

Penghambaan bukan lagi dimaknai sebagai –semata– sholat lima waktu, misalnya. Atau tadarus Qur’an semata. Tetapi keseluruhan hidup kita inilah penghambaan.

Dalam pemaknaan yang seperti ini, saya melihat banyak orang-orang di sekitar kita yang sebenarnya seorang spiritualis tanpa mereka sadari, karena mereka menghabiskan waktu untuk kontribusi bagi kehidupan.

Tetapi yang lebih penting, hal ini adalah sebuah pengingat juga bagi sesiapa yang menyukai kajian spiritual, agar tidak terlelap dalam semata-mata bahasan teologis, tetapi lupa bahwa ujung-ujungnya adalah berbuat untuk sesama.


[1]  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni

[2] “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Image Sources

JEBAKAN-JEBAKAN DALAM INFERIORITY COMPLEX

Seorang pemuda jatuh ke dalam jurang saat berjalan melewati hutan. Beruntungnya ada seorang tua yang sedang melintas, lantas menolong pemuda yang terjerembab di jurang itu.

Dibawalah sang pemuda itu ke rumahnya. Rupanya orang tua tersebut adalah saudagar kaya. Pemuda yang luka itu dijamu dengan jamuan yang lezat. Dihidangkan makanan dan minuman terbaik. Serta diberikan tempat menginap yang nyaman dan pengobatan yang mutakhir sampai kesehatannya pulih.

Sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Pemuda yang luka itu, setelah kesembuhannya, alih-alih berterimakasih pada sang saudagar atas segala keramah tamahan dan pertolongannya, malah sibuk sentiasa mengingat tragedi jatuhnya dia di jurang. “aku jatuh ke jurang….” ujarnya.

Sekali dua, masih bisa dimengerti. Tetapi setelah sembuh, membaik, dan dijamu dengan aneka keramahan, tak tercetus rasa terimakasih dan riang dari raut wajahnya. Melainkan melulu mengeluh “Aku jatuh….aku adalah orang yang jatuh”.

Di dalam hati, sang saudagar kesal sekali. Dia membatin, memang kamu jatuh, tapi ini kan sudah saya selamatkan dan sekarang sudah sehat sekali. Kenapa menggerutu terus tentang kejatuhannya, sampai mengabaikan orang yang sudah menolongnya. Seolah olah sang saudagar itu tidak pernah menyelamatkan sang pemuda.

Analogi ini saya ceritakan ulang dari ceramahnya Gus Baha, yang tiba-tiba melintas di beranda YouTube saya. Tepat pada momen dimana saya sedang bingung menganalisa inferiority complex saya sendiri.

Cerita awalnya begini. Berasal dari keluarga yang kurang secara ekonomi, membuat saya sedikit mengalami inferiority complex. Saya selalu merasa bahwa saya “bukanlah apa-apa”. Siapalah saya, kurang lebih begitu.

Sekali dua, perasaan seperti itu barangkali adalah bentuk low profile dan sikap tidak tinggi hati. Sampai secara jujur saya harus mengakui dalam banyak kesempatan, di kantor, di pergaulan sosial, bayangan bahwa “saya bukanlah apa-apa, siapalah saya”, itu selalu menghantui dan membuat saya kesulitan menunaikan fungsi peranan dalam hidup saya. Saya tertakdir menjadi pimpinan pada salah satu fungsi perusahaan tempat saya bekerja, akan tetapi perasaan tidak layak ini selalu membuat kita setengah-setengah berjalan, dan merasa rendah.

Ini bukan sikap zuhud, melainkan bentuk “pengabaian” atas anugerah Tuhan. ini ada yang salah ini, fikir saya.

lewat analogi cerita di atas, kembalilah saya tersadar. Bahwa Allah telah menempatkan kita pada tempat yang baik, tetapi sikap rendah diri membuat kita gagal melihat anugerah Tuhan. Harusnya kita memujiNya atas pertolongan-pertolongan, malah kita selalu melihat pada kekurangan masa lalu, seolah-olah Tuhan tidak pernah menolong kita.

Cara pandang seperti inilah yang diajarkan orang-orang arif, dan kita kadang-kadang luput memahaminya.

Rasa was-was yang disusupkan syaitan ke hati manusia, adalah jebakan.

Ianya bisa berupa jebakan untuk sentiasa merasa “buruk” karena dosa-dosa, padahal Allah sudah menyelamatkan mereka, dan membuat mereka bertaubat lalu menempatkan mereka pada tempat yang lebih baik. Tetapi mereka selalu merasa “tidak pantas”, rasa “tak pantas” yang alih-alih membuat mereka menuju Tuhan, tetapi malah menghadirkan sikap putus asa. Mereka bukan berterimakasih atas anugerah pertaubatan, dan ampunan, melainkan menyesali dirinya sendiri yang gagal menjadi sempurna. ini jebakan.

Ianya bisa berupa jebakan untuk sentiasa merasa “rendah diri” dan bukan siapa-siapa, padahal Allah sudah menganugerahinya kecakapan dan kedudukan untuk menunaikan fungsi-fungsi dalam hidupnya. Bukannya berterimakasih atas anugerah kecakapan, alih-alih dia selalu menyesali kekurangan, seolah-olah Tuhan tidak pernah mengangkatnya dan memberikan anugerah.

Ustadz Hussien Abd Latiff pernah mengatakan, yang kurang lebih maknanya adalah, jika kita melihat dari “pintu depan”, kita harus menyifatiNya dengan sifat yang layak bagiNya. Kita memaknai kehidupan ini, dengan pemaknaan dimana rahmatNya melebihi kemurkaanNya.

Dan ceritra-ceritra semacam di atas tadi, adalah seni untuk mengingatkan kita agar melihat pada sisi anugerah, dan menyifatiNya dengan sifat-sifat yang layak bagiNya.

——-
note: ini tulisan cakap pintu depan

*) An inferiority complex consists of feelings of not measuring up to standards, a doubt and uncertainty about oneself, and a lack of self-esteem. It is often subconscious and is thought to drive afflicted individuals to overcompensate, resulting either in spectacular achievement or extremely asocial behavior. In modern literature, the preferred terminology is “lack of covert self-esteem”. ( Moritz, Steffen; Werner, Ronny; Collani, Gernot von (2006). “The inferiority complex in paranoia readdressed: A study with the Implicit Association Test” (PDF). Cognitive Neuropsychiatry. 11 (4): 402–15. doi:10.1080/13546800444000263. hdl:20.500.11780/3607. PMID 17354078. – wikipedia)

SEDEKAH SENDI, INSIGHT DI TENGAH PANDEMI

Shaff harus direnggangkan. Masker harus dipakai. Tidak ada bersalaman. Dan jumlah jamaah dibatasi sejumlah tetangga dekat saja, agar mengisi jalan pendek dalam komplek perumahan kami. Idul Fitri kali ini memang meninggalkan cecap rasa yang berbeda. Pandemi Corona belum usai, tapi Ramadhan sudah sampai ujung. Dan tiba-tiba saja sudah masuk Syawal. “Waktu” memang masih tetap dalam tabiatnya yang biasa, terbang dengan cepat. Seperti pepatah mengatakan “time flies”.

Sebenarnya beruntung juga ada inisiatif beberapa warga di komplek saya untuk mengadakan Sholat Ied dengan tetap menjaga protocol menghadapi pandemi Corona. Walhasil sholat Ied dengan jamaah mini seputaran tetangga dekat pagi ini, menjadi selebrasi yang membuat lebaran ini tetap ada rasa kultural-nya. Alhamdulillah.

“Abu bakar…..” kata khotib sholat ied mini tadi, “menyedekahkan keseluruhan harta yang dia punya”. Beliau mengutip sebuah cerita klasik yang pas dengan momen sekarang. Lanjut beliau lagi, Abu Bakar selalu mengalahkan para sahabat lainnya dalam “saling berlomba berbuat kebaikan”.

Saat sahabat sekelas Umar Bin Khatab ingin menyaingi pencapaian Abu Bakar dalam berbuat baik, Umar sedekahkan setengah hartanya. Akan tetapi, saat mendapati Abu Bakar menyedekahkan seluruh hartanya, maka tahulah Umar bahwa Abu Bakar tidak akan pernah terkejar.

Kita memang tidak level mengejar Sayidina Umar dan Abu Bakar, dan lagi memang “tidak disyariatkan” bagi khalayak umum untuk meniru perbuatan Umar yang menyedekahkan setengah hartanya, apatah lagi meniru Abu Bakar yang tidak meninggalkan apapun bagi keluarganya karena hartanya disedekahkan semua-muanya. Hati kita belum “sampai” ke titik itu.

Semasa mendengarkan kisah klasik yang dikutip sang khatib, tiba-tiba saya tersadar. Oooh…. Ini dia. Ini dia Intinya dari sedekah –atau pelajaran zakat fithrah- semasa ramadhan ini. ini adalah bicara “kontribusi sosial”.

Pada akhirnya, kita dituntut untuk “sedekah”, kontribusi, memberikan sesuatu yang kita punya, apa saja itu, bagi khalayak. Seperti sabda Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan bagi orang lain.[1]

Tiba-tiba menjadi jelaslah urutan rukun islam dan maksudnya.

Dimulai dengan syahadat. Syahadat adalah fondasi keberagamaan. Makrifatullah, pengenalan kepada Allah sebagai Yang Menzahirkan alam ini, dan Yang Mengatur alam ini. DariNya kita berasal, kepadaNya kita kembali. Dan keseluruhan lini hidup adalah ceritaNya. Lalu menapaki jalan spiritualitas Rasulullah SAW. Jalan spiritualitas itu banyak, tetapi yang kita anut adalah yang “tetap berkecimpung dalam kehidupan” spiritualitas Rasulullah SAW.

Lalu Sholat. Menyampaikan ekspresi kekaguman, ketundukan, kebutuhan akan pertolongan, dst…. Kepada Tuhan yang sudah kita kenal. Karena keseluruhan isi hidup kita adalah ceritaNya, maka kepadaNya juga kita kembalikan haru biru kehidupan itu.

Lalu Puasa. Puasa sebagai purifikasi. Pemurnian. Membersihkan fisik dari segi biologis. Membersihkan kejiwaan dari sisi spiritualnya.

Lalu Zakat. Secara zahirnya adalah mengeluarkan sebagian harta yang kita punya untuk yang membutuhkan. Tetapi bisa pula kita maknai bahwa setelah mengenal Tuhan, mengetahui kehidupan adalah ceritaNya, setelah sholat sebagai salah satu bentuk “mengingatNya”, setelah memurnikan jiwa dengan puasa, maka kita harus “turun gunung”. Berkecimpung dalam kehidupan sosial. Bersedekah. Dengan harta, dengan fikiran, dengan tulisan, dengan apapun peranan yang kita miliki, tetapi kita maknai bahwa yang kita lakukan adalah kita ikut serta dalam pagelaran hidup ini, yang menceritakan DIA sendiri.

Barulah saya menyadari maksud hadits bahwa setiap sendi[2] manusia diwajibkan untuk bersedekah. Memanfaatkan seluruh perangkat yang diberikan Tuhan kepada kita, yaitu diri kita dan kemampuan kita, untuk kontribusi aktif dalam pagelaran kehidupan ini. Kontribusi itulah sedekah pada setiap sendi dalam hidup kita.

Lalu Haji. Haji adalah tahapan terakhir dalam tangga spiritualitas. Haji adalah meninggalkan kehidupan ini. Pakaian Ihram ala pertapa. Menghabiskan hidup hanya untuk dimensi spiritual semata-mata. Meninggalkan dunia. Itulah haji. Akan tetapi, kita tidak bisa “haji”, meninggalkan kehidupan, hidup seperti pertapa dan rahib, tanpa lebih dulu kita berkecimpung di dalam hidup. Berlakon sebaik-baik yang kita bisa dalam pagelaran ceritaNya. Berkontribusi aktif dalam kehidupan.

Kalau kita tarik mundur. Kontribusi aktif dalam kehidupan sebagai sedekah kita, harus pula didasari ketulusan hati yang lahir dari puasa. Tetapi puasa tidak bisa mencapai ketulusan hati tanpa lebih dulu syahadat (mengenal Allah SWT dan Rosulullah SAW) dan mengingatiNya dalam ibadah yang fardhu seperti sholat.

Semuanya tiba-tiba begitu apik terpapar. Tangga-tangga spiritualitas. Dan sadarlah saya bahwa saya belum banyak “sedekah”. Kontribusi aktif dalam hidup. Kontribusi dalam masyarakat ini adalah tahapan yang memanggil-manggil, menggedor-gedor kesadaran kita yang secara keliru menempatkan kehidupan seperti pertapa dan rahib sebagai puncak capaian. Padahal sebelum itu kita harus bersedekah kepada kehidupan ini.

Teringat saya tetangga yang memasang garis pembatas shaff di jalanan malam-malam. Atau bapak-bapak tukan bebersih yang menyapu jalanan komplek sebelum sholat ied. Atau yang memasang toa. Atau Ibu-ibu yang menyisihkan sebagian rejekinya untuk buka puasa satpam komplek. Atau pelbagai-bagai bentuk kontribusi lainnya dari masyarakat dan orang-orang sekitar.

Setiap orang berkontribusi dalam perannya sendiri-sendiri, dan saya merasa tiba-tiba harus saya tuliskan tentang hal ini. Betapapun jauh dari layak, tetapi inilah kewajiban bagi setiap persendian, semoga dihitung sebagai yang Rasulullah katakan setiap sendi diwajibkan bersedekah sejak mentari terbit. Berkata baik adalah sedekah, menyingkirkan rintangan di jalan adalah sedekah, menolong orang mengangkat barang-barang adalah sedekah.


[1]Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni

[2]Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. [HR. Bukhari dan Muslim]

MENJENGUK TUHAN (2)

black and white connected hands love
Photo by Pixabay on Pexels.com

Tiga tahun lalu, di komplek perumahan saya yang lama, saya pernah dijutekin oleh pak RW yang ketus. Hehehe. Tak mengerti juga apa pasalnya, sewaktu itu hanya meminta surat pengantar saja, tetapi sepertinya buat beliau itu hari yang berat, sehingga dalam ingatan saya waktu itu segala sambut tutur kata beliau seperti jutek sangat.

Anehnya, kok ya waktu itu Alhamdulillah rasa kesal saya tidak lama. Karena ndilalah saya tersadarkan saat di perjalanan pulang bahwa “pribadi” yang sedang kesal di dalam diri pak RW itu, sebenarnya juga mirip dengan “pribadi” yang ada di dalam diri saya sendiri.

Di dalam setiap diri manusia ada jiwa (maksudnya, hati), atau dalam bahasanya Imam Ghozali ‘hati yang halus’ bukan hati fisik, orang barat mengenalnya sebagai consciusness, kesadaran manusia yang menjadi lokus untuk merekam segala pengertian dalam kehidupan ini. Hati yang terdalam itu, yang sadar itu, sama saja antara saya, anda dan mereka. Kita sama-sama makhluk Tuhan yang sedang mengembara di alam dunia ini.

Menyadari fakta itu, kesal saya menjadi hilang dan malah menjadi “iba”. Apa gerangan pengalaman hidup yang sedang dikembarai sang jiwa yang sedang memakai topeng pak RW itu? Pak RW-nya boleh jadi sedang kesal, tetapi di dalam diri pak RW itu ada jiwa yang mungkin tidak menyadari dirinya itu bukan topeng pak RW itu.

Tetapi untuk tidak terlalu filosofis, kesadaran bahwa kita ini ada di dalam topeng-topeng peranan, kembali mengingatkan saya akan sebuah bahasan tentang “menjenguk Tuhan”, saya beri tanda kutip.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Allah SWT bertanya di di hari kiamat, mengapa kita tidak menjengukNya?[1]

Tentu manusiapun bingung, bagaimana kita menjengukNya sedang DIA adalah Tuhan semesta alam?

Ternyata, saat si fulan sakit, atau si fulan meminta makan, kalau kita membantu, maka akan kita dapati DIA di sisi orang-orang yang butuh itu.

Kita mengakrabi topeng-topeng, tetapi lupa bahwa di dalam orang-orang yang butuh sebenarnya ada sebuah jiwa yang sejatinya adalah makhlukNya sama seperti kita. Mengembara di dunia ini, mencari arti. Kalau kita menyadari itu, maka menolong akan lebih punya arti, karena tersadar bahwa yang kita bantu bukanlah topeng-topeng itu. Sejatinya yang kita bantu adalah yang “didalam topeng-topeng” itu. milikNya. makhlukNya. Seperti kita juga.

Akan tetapi, lebih seringnya kita ini lupa. Utamanya saya sendiri. Jangankan menyadari bahwa ada DIA di dekat orang-orang yang butuh. Menyadari bahwa saya sendiri sebenarnya bukan topeng ini, itupun kadang-kadang lupa. Bukan kadang-kadang, malah sering-sering lupa.

Akibatnya, dalam kealpaan itu, membantu menjadi aktivitas yang acapkali menyulitkan diri sendiri. Karena ada rasa sedih. Ada rasa luka. Ada rasa tidak berbalas. Ada rasa tidak mampu. Dan macam-macam lagi. Yang semuanya bermuara dari ketidak sadaran bahwa yang membantu sebenarnya bukan topeng ini. Tetapi yang “di dalam”. Topeng ini bisa luka dan perih, tetapi yang di dalam itu tidak bisa dilukai. Posisi itu yang seringkali luput.

Seorang guru pernah mengatakan, untuk mengobati, maka dokternya sendiri tidak boleh jadi si pesakit. Maka untuk “membantu” dengan tuntas, baru saya mengerti bahwa: saya sendiri harus sudah selesai. Selesai dengan diri sendiri, bahwa bukan sang topeng yang membantu. Melainkan “yang didalam” yang bergerak mengikuti rentak peranan takdir.

Dan yang kita bantu, pun bukan topeng-topeng yang terindera itu. Melainkan “yang di dalam” mereka.

Untuk mencapai keadaan ini, ada dua syarat. Yang pertama kesadaran lewat “ilmu”, asupan pengetahuan. Yang kedua adalah “keadaan” atau “kondisi” spiritual.

Yang ilmu itu, bisa dipelajari (dan tentu DIA yang memahamkan). Yang “kondisi spiritual” itu, anugerah DIA semata-mata. Bisa dikejar sedikit lewat tirakat, peribadatan, tetapi pada akhirnya anugerah-lah yang menyampaikan.

Maka di Ramadhan ini, saya memohon pengampunan kepada Tuhan. Untuk telah banyak sekali luput memahami bahwa “untuk menjenguk DIA” sebenarnya momennya melimpah-limpah dalam kehidupan saya pribadi. Dalam orang-orang terdekat saya sendiri. Tetapi sering luput karena kurangnya kepahaman saya sendiri.

Dan saya memohon pengampunan kepada Tuhan, karena bagaimanamungkin saya menjengukNYA, jika saya sendiri belum selesai dengan diri ini. Ibarat orang yang sakit, tidak akan bisa mengobati orang yang juga sakit. Dan untuk itu saya memohon anugerah kepada Allah.


[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar – benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku” (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)

BELAJAR KEPADA YANG MAHA HIDUP

*Antara tahu dan bijaksana*

Jika kita diberikan sebuah lem kertas bening, lalu diberikan spidol warna dan diberikan obat tetes mata. Apa yang kita bisa lakukan?

Hampir lebih dari 50% orang dewasa saya rasa tidak mengetahui hubung kait antara benda-benda itu, tapi anehnya anak saya dan yang seusia dia, tahu. Benda-benda itu kalau digabungkan bisa menjadi mainan anak-anak yang lagi hits, yaitu slime. Sejenis dodol warna warni bisa dipencet-pencet, hehehe… (yang ga tahu slime, silakan googling)

Kita tahu bahwa benda ini namanya ini, benda ini namanya ini, benda itu namanya itu gunanya itu. Tetapi kita tidak bisa melihat hubung kait kesimpulan dari benda-benda itu. Kita bisa banyak “tahu”, tapi belum tentu seseorang diberikan hikmah untuk melihat keterkaitan antar peristiwa.

Itulah bedanya antara “tahu” dan “bijaksana”.

Perbedaan antara knowledge dan wisdom.

Allah SWT disifati tidak hanya sebagai Maha Tahu (‘alim), tetapi juga Maha Bijaksana (hakim). Knowledgeable dan wise.

*Sejatinya Yang Mengajari adalah Yang Maha Hidup*

Saya teringat kembali dengan bahasan ini, setelah berapa waktu lalu saya menanyakan kebingungan saya pribadi pada seorang guru, mengenai bahasan sufistik yaitu “memetik ilmu dari Yang Maha Hidup”. Mendapatkan insight-insight ilahiah.

Saya sering merasa kok ya sekarang-sekarang ini hampir tidak pernah mendapatkan insight lagi? Menulis juga jarang (karena saya biasanya menggunakan tulisan sebagai media menangkap insight). Kenapa kok sekarang jarang? Apa yang salah?

Saya berfikir, jangan-jangan saya sekarang kebanyakan membaca teks. Sehingga insight itu jarang saya dapatkan? Ini mesti saya kebanyakan nonton syarahan ini, hahaha.

Tapi kemudian saya baru tersadar setelah dijelaskan bahwa saat kita membaca teks-pun, kepahaman itu pun juga tetap dari Allah SWT. Bukan dari sang penyampai teks. Karena banyak juga yang membaca teks yang sama, kajian yang sama, tetapi tidak dianugerahi kepahaman.

Saya teringatkan kembali, bahwa yang terjadi bukanlah insight-nya tidak datang, insight berupa kepahaman itu tetap datang, akan tetapi saya telah lupa menempatkan sikap bahwa meskipun saya membaca teks (dari kajian atau syarahan) tetap sikap batin kita harusnya adalah meminta ilmu kepada Yang Maha Hidup.

Karena membaca teks semata-mata (tanpa ada semacam sikap bahwa kita ini minta diberikan kepahaman pada Allah), hanya menyebabkan kita “tahu” tetapi gagal “paham”, karena untuk melihat hubung kait antar pengetahuan itu, membutuhkan anugerah “kepahaman”.

“kepahaman”, berdiri terpisah dengan teks-nya itu. Boleh jadi “kepahaman” datang beriring dengan teks. Kadangkali kepahaman datang mendahului teks-nya. Kadangkali kepahaman mendahulu teks, lalu tak lama Allah pertemukan pula dengan teks-nya.

Tanpa anugerah “kepahaman”, kita hanya memenuhi memori ingatan kita dengan semakin banyak pengetahuan-pengetahuan teks tanpa melihat hubung kait dan kesimpulannya.

Saya teringat dahulu kala, awal-awal belajar pendekatan sufistik, saya begitu ngotot dan ingin meninggalkan semua. Dalam persepsi saya waktu itu, pekerjaan adalah penghalang, keluarga adalah penghalang. yang penting adalah kajian. Karena saya melulu mengejar kajian. (tanpa menyadari bahwa kepahaman itu Allah yang beri, bukan teks yang memberi, bukan kajian yang memberi).

Sampai ndilalah berkali-kali tidak berkesempatan menghadiri kajian sufistik. Sempat kesal. Lalu setelah lama kesalnya reda berganti dengan pasrah, yo wis lah.

Anehnya saat “yo wis lah” sudah terjadi, malah kepahaman datang.

Membaca teks atau buku-buku menjadi paham, mendengarkan kajian menjadi paham. Dan yang lebih penting juga, selain dari kepahaman adalah kita dipertemukan dengan teks yang mendukung atau memperjelas kepahaman itu.

Singkat cerita, ini tips yang barangkali bisa dicoba. Saat mengalami kebingungan, bisa kita berdoa kepada Allah lalu meminta dipahamkan akan sesuatu.

Setelah itu, barulah kita mengembara mencari teks-nya. Teksnya itu bisa berupa kajian dalam syarahan. Bisa video. Bisa kehidupan kita sehari-hari.

Saat kita sudah menyadari bahwa kepahaman itu anugerah tersendiri dari Yang Maha Hidup, maka membaca teks ataupun membaca kehidupan menjadi mengasyikkan. Karena mendapatkan “kepahaman” menyertai “pengetahuan”.

 

 

NASRUDIN KEHILANGAN KUNCINYA

Image result for key

Suatu hari Nasrudin kehilangan kunci miliknya. Kunci tersebut dia rasa terjatuh di dalam rumahnya sendiri, tetapi karena kondisi malam hari gelap dan tak cukup penerangan maka Nasrudin melakukan hal yang tak masuk akal yaitu mencari kuncinya di jalanan depan rumahnya.

Tak lama, seseorang lewat dan bertanya pada Nasrudin, sedang apa gerangan?

Nasrudin lalu menjawab bahwa ia sedang mencari kuncinya yang hilang, yang dia rasa mungkin jatuh di dalam rumah.

Tentu saja sang penanya pun bingung, mengapa mencari kunci di jalan raya luar rumah, sedangkan kuncinya jatuh di dalam rumah?

Nasrudin berkelit, “kan di rumah saya gelap, mendingan saya cari di luar rumah, kan terang ada lampu jalan”.

Kita sering berkelit seperti Nasrudin. Padahal kita tahu bahwa kebahagiaan, hakikat hidup, sesuatu yang sering kita cari-cari itu ada di “dalam diri” kita sendiri, tetapi alih-alih malah kita mencarinya di luar diri.

Karena kita tidak pandai, atau tidak tahu caranya, atau “takut” untuk mencari jawaban ke dalam diri sendiri, maka kita berkelit dengan menyalahkan orang lain, bahwa merekalah yang salah karena tidak bisa melihat realita bahwa di luar kan terang. Mendingan nyari di luar daripada nyari di dalam rumah.

Cerita Nasrudin yang sungguh simbolik ini, mewakili kebanyakan kita. Tipe orang pada umumnya yang masih menyandarkan kebahagiaan, atau pencarian hakikat kehidupan, ke “luar dirinya”.

Misalnya seseorang yang masih menganggap benda-benda, atau posisi, jabatan, adalah penentu kebahagiaan. Maka dia mati-matian mengejar benda atau jabatan itu. Padahal, setelah benda-benda atau jabatan dia dapatkan, kebahagiaan masih tetap akan datang dan pergi. Bahagia sebentar, lalu sedih lagi karena urusan lain.

Di atas orang-orang tipe seperti ini, adalah orang-orang yang mulai mencari jawaban ke dalam dirinya sendiri. Mereka mengamati “tabiat” keinginan yang hilang timbul. keinginan tidak pernah bisa mati selalu datang dan pergi. Kebahagiaan, karena berkaitan dengan keinginan-keinginan, akan selalu timbul dan tenggelam. fithrahnya seperti itu, siapapun orangnya.

Maka itu, kita sering melihat kajian-kajian filosofi, yang nyerempet-nyerempet bahasan psikologi manusia, seringkali mirip-mirip. Meskipun yang satu mengkajinya dari pendekatan ala barat, misalnya seperti kajian Abraham Maslow, atau kajian-kajian dari dunia timur, misalnya kajian psikologi dari tokoh di pulau Jawa semisal Ki Ageng Suryomentaram. Atau kajian psikologi dari filsafat Budhisme.

Kajian-kajian ini sangat menarik, karena mengajarkan kita untuk mengerti piranti-piranti dalam diri kita sendiri. Semisal tabiat keinginan, keinginan manusia itu selalu memanjang dan memendek, tidak bisa hilang sama sekali. selalu ada.

Kebahagiaan suka dan duka itu selalu silih berganti, karena dia lekat dengan keinginan-keinginan manusia yang juga timbul dan tenggelam. Dengan mengetahui kenyataan ini, maka kita tidak terlalu ngoyo mengejar sesuatu, karena kita menjadi paham bahwa sesuatu yang kita kejar, tidak akan memberikan kebahagiaan yang permanen, karena suatu saat keinginan itu akan hilang, dan timbul keinginan yang baru lagi, tidak ada sesuatu yang menjamin kebahagiaan yang abadi.

Karena saking mawasnya terhadap diri sendiri, orang-orang yang tekun “masuk ke dalam” ini akan sampai pada kondisi dimana mereka menyadari keterpisahan mental antara dirinya yang sejati, sang pengamat, atau “hati” dengan segala lintasan fikiran dan keinginan-keinginan, dan rasa sedih dan bahagianya. Akibatnya mereka akan lebih stabil menjalani kehidupan.

Tipe kedua ini, sungguh menarik hati, hanya saja saya barulah memahami bahwa pendekatan sufistik islami tidaklah menyandarkan “perjalanan” dalam spiritualitasnya dengan metoda seperti ini.

Para arif, lebih mengajarkan manusia untuk mengenali Tuhan, mengenali Allah SWT sebagai Pencipta alam semesta ini, lalu keseluruhan kehidupan ini adalah cara DIA menceritakan diri-Nya. Termasuk kejadian-kejadian apapun dalam kehidupan kita.

oleh karena itu, baik suka maupun duka, adalah jalan mengantarkan kita pada pengenalan akan diriNya. Semisal seseorang yang mengalami kesulitan keuangan, ada tiga jalan seseorang menghadapi hal ini.

Jalan pertama, orang ini semata-mata menganggap solusi dari masalahnya adalah dengan mencari kerja, mencari pinjaman, dst…. maka orang ini akhirnya menganggap penyelesaian masalah -dan pada akhirnya pencarian hakikat hidup- semata-mata bersandar pada hal-hal di luar dirinya.

Jalan kedua, yaitu orang-orang yang berusaha untuk masuk ke dalam dirinya sendiri, menyadari tabiat-tabiat keinginan dan emosi dalam dirinya, lalu dia tidak diombang ambing oleh rasa, dia menjadi “tawar”, dan santai meskipun dirinya dibelit kesulitan ekonomi.

Jalan ketiga, yaitu pendekatan sufistik. kehidupan dimaknai sebagai ceritanya Tuhan, Allah mengenalkan diri lewat kejadian-kejadian dalam kehidupan, dan kita mengenali-Nya lewat kesulitan dan kemudahan hidup kita sendiri. Seorang miskin akan mengenali Tuhan sebagai yang Maha Kaya, orang yang sempit hidupnya akan mengenali Tuhan sebagai Yang Maha Melapangkan, karena selalu bersandar kepada Tuhan.

Kajian-kajian filsafat psikologi adalah bagus untuk memahamkan kita mengenai mekanisme kerja tubuh / diri kita sendiri. Tetapi semata kajian filsafat adalah kurang lengkap, karena ibarat peta, semata peta saja tidak cukup, kita harus berjalan menyusuri terjal dan mulusnya jalanan menuju tujuan. Kalau filsafat atau kajian mengenali diri itu biasanya mengajarkan kita bukti-bukti tentang Tuhan, kalau kajian sufistik tasawuf itu mengajarkan kita “merasakan” kedekatan pada Tuhan.

Dua-duanya penting dan menarik untuk dipelajari.


*) Saya tulis ulang, dari rekaman podcast saya di spotify https://open.spotify.com/episode/6IFbRoEkgkAlHCLosNYDy2?si=OHGldkIET3OF3lDmYEBr9Q

anchor https://anchor.fm/debuterbang/episodes/17-NASRUDIN-HOJA-KEHILANGAN-KUNCI-e4ic8v

gambar ilustrasi dipinjam dari link berikut ini