RASA GELISAH ITU TIDAK TERCELA

Sampai jam 11 malam rekan saya masih bekerja mempersiapkan dokumen untuk menghadapi audit esok harinya. Saya pun membantu juga, jadi sambil ngantuk-ngantuk malam itu kami masih sibuk utak-atik dokumen di kantor. Tetapi dalam kesibukan dan letih itu saya mendapatkan sebuah hikmah.

Hikmah itu adalah rasa syukur. Syukur dalam keletihan.

Sebelum ini, saya bekerja di lapangan pengeboran migas dalam jadwal yang ketat. Menghabiskan hari dengan terasing di tengah hutan atau di tengah laut. Bagi sebagian orang, hal itu memang petualangan yang seru, begitupun bagi saya awalnya. Tapi lama kelamaan saya letih, dan merasa tak nyaman. Lalu alhamdulillah dalam keletihan itu Allah SWT menempatkan saya untuk bekerja di kantor, tidak lagi di lapangan.

Walhasil, sekarang saya lebih banyak berkutat dengan presentasi dan laporan. Ada keletihan yang baru lagi, tetapi saya menyukai pekerjaan ini. Maka dalam letih pun, pelan-pelan tumbuh rasa syukur. Saya mengerjakan pekerjaan dengan makna syukur itu.

Disini kemudian saya baru menyadari bahwa kadang-kadang kita memaknai perasaan itu sering terbolak-balik. Sering keliru.

Umpamanya begini. Di saat saya menjalani pekerjaan lapangan dulu, saya merasa letih dan ingin berpindah. Ada sebuah rasa letih dan penat menyambangi saya. Akan tetapi karena cara saya memaknainya kurang pas, ada konflik batin di diri saya. Konflik itu adalah, karena saya mengira bahwa keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih baik itu menciderai rasa syukur. Padahal itu keliru.

Yah…maklumlah. Dulu saya belum begitu paham, bahwa lewat kacamata “rasa” yang mampir pada diri kita itulah ubudiyah ditegakkan.

Sekarang-sekarang saya baru mengerti. Jika rasa letih menyambangi kita, rasa ingin mendapatkan pertolongan menyambangi kita, maka itulah “kacamata” yang dikirim pada kita untuk memandang kehidupan dan kaitannya dengan Tuhan; saat ini.

Maka menjadi fakirlah! Menjadi butuhlah akan Tuhan. Berdo’alah maka Tuhan akan mengabulkannya.[1]

Jangan terbalik-balik. Sedang dihampiri rasa butuh akan pertolongan, eh malah disangkal dan memikirkan “kok saya tidak disambangi rasa kebersyukuran ya?”

Beda konteksnya.

Kita ingat Nabi Musa a.s. melantunkan doa yang begitu masyhur, untuk agar dilapangkan dadanya, dilancarkan bicaranya, diberikan teman, kala beliau diperintah menghadapi Fir’aun.

Artinya, secara manusiawi Musa a.s pun gelisah, sehingga meminta dilapangkan dada.

Dan…. Ini yang penting….rasa gelisah itu tidak tercela lho, selama rasa gelisah itu dijadikan tunggangan menuju Tuhan. Dijadikan “kacamata” memandang Tuhan. itu malah penanda bahwa Tuhan sedang mengajarkan asma-asmaNya kepada kita lho.

Kalau gelisah menyambangi kita, maka tunggangilah kegelisahan itu agar jadi kendaraan menuju Tuhan.

Tetapi, bukankah yang paling baik adalah bersyukur atas setiap kejadian?

Ya…benar….akan tetapi, sikap itu juga disetir oleh “rasa” yang turun kepada kita.

Jika kita terbiasa menjadikan setiap rasa yang silih berganti datang sebagai kacamata memandang Tuhan, maka pada gilirannya sendiri “rasa” yang turun akan berbeda bentuk. Mendewasa. Karena DIA mengajari asma-Nya yang lainnya lagi.

Dalam kesulitan, dimana biasanya datang gelisah, eh…malah datang bahagia. Dalam kesempitan malah datang syukur. Ya tak apa….. kita tunggangi lagi rasa itu menuju Tuhan.

Ada segolongan orang yang mendapatkan anugerah untuk langsung berada pada tahapan “rasa” yang tinggi. Ada masalah, “rasa” yang turun malah happy, anteng, seperti ga ada apa-apa. itu adalah tipe yang tidak umum. Alias “Tanazul“. Ujug-ujug di atas. Malah mereka harus menjalani kehidupan dengan menterjemahkan “rasa” yang mereka dapat pada orang-orang dengan tangga spiritualitas dibawah mereka. Dari atas ke bawah.

Akan tetapi, perjalanan kita, atau setidaknya saya sendiri, adalah melalui step-step tahapan yang normal, mendaki, dari bawah ke atas, atau yang dalam literatur para arifin disebut “Taraqqi“.

Pada pokoknya, bukan “rasa”nya itu. Akan tetapi kejujuran menilai maqom diri. Juga sikap untuk tidak mengabaikan rasa yang turun; alih-alih menjadikan setiap gejolak rasa sebagai tunggangan menuju Tuhan.

Dan dalam setiap rasa apapun yang datang itu, jika kita jadikan kacamata dalam memandang-Nya maka itulah yang dimaksud dengan menyeruNya, lewat nama-Nya.[2]

memandangnya lewat ketersingkapan kita masing-masing.

[1] Ulama arifin memaknai hal ini dengan lebih dalam. Jika keinginan datang, hal ini penanda Allah ingin memberi.

[2] Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS Al Isra : 110)

MUSA DAN SULAIMAN BERBEDA “RASA” 

Dalam konteksnya sebagai penggerak amaliyah manusia, “rasa” yang ada pada kita berperan sebagai “kacamata”. Lewat kacamata “rasa” yang mampir pada kitalah; Allah SWT bercerita.
Yang namanya kacamata, tentu bukan menjadi objek pandangan, akan tetapi kacamata hanyalah semacam tabir yang membantu kita memandang.

“Rasa” yang ada pada Musa a.s. Adalah suasana batin yang penuh takut dan harap. Dikejar Fir’aun. Jadi pelarian. Kesendirian. Memimpin kelompok yang ngeyelan. Menyeberang lautan. Dan segala macam “rasa” yang menyodorkan Musa konteks memandang Tuhan dalam suasana penuh harapan.

Lain lagi dengan “rasa” yang melingkupi Sulaiman a.s. Rasa yang penuh kebersyukuran. Kerajaan yang luas. Kekuasaan yang belum pernah ada yang dianugerahi sesuatu semacam itu sebelum beliau, dan tak akan ada lagi yang dianugerahi yang semacam itu sesudah beliau nanti. “Rasa” kebersyukuran itulah yang menjadi konteks Sulaiman a.s. Dalam memandang ceritra dari Tuhan.

Setiap orang, tidak akan mampu memandang atau melihat di luar konteks “rasa” itu, maksudnya Musa tak akan melihat dunia dari kacamata Sulaiman, sebagaimana Sulaiman tak akan melihat dunia dari kacamata seorang Musa. “Rasa” yang dititipkan pada tiap-tiap orang berbeda.

Bagaimana kaitan “rasa” atau dalam tanda kutip “kacamata” spiritualitas setiap orang ini dengan amal?

Saya mencermati kajian para alim : Untuk urusan syariat yang wajib, rumusnya adalah “berbuat sesuai tuntunan, mana yang boleh mana yang tak boleh; tidak boleh menghiraukan passion atau rasa atau hasrat”.

Sebaliknya, dilengkapi oleh para arifin. Untuk urusan yang bukan ibadah fardhu, urusan sikap batin dan amal yang lebih, dalam keseharian. Sesuaikan dengan maqom, level spiritualitas, keterpandangan, alias “Rasa” yang dianugerahkan pada kita sebagai kacamata memaknai ceritra Tuhan.

Untuk urusan Sholat misalnya. Wajib kita melakukan sholat, walaupun kita sedang malas.

Akan tetapi, ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan sesuai dengan “rasa” yang mampir pada kita. 

Misalnya Abu Bakar a.s. Menafkahkan semua hartanya tanpa ada sisa. Ini adalah sebuah amalan yang tidak aplicable, tidak praktikal untuk orang awam. Orang awam, tuntunan standarnya misalnya zakat 2.5%, orang awam tidak bisa gebyah uyah melakukan amalan Abu Bakar, karena itu bukan tuntunan standar. “Rasa” yang mampir beda.

Jangan mengabaikan “rasa”. Orang yang hatinya masih disambangi gelisah, seharusnya bukan mengutuk diri karena belum mencapai maqom pasrah tingkat tinggi. Melainkan, setiap yang disambangi gelisah, berarti harus memandang Tuhan dengan kacamata rasa harap akan pertolongan.

Karena itu kacamata yang diberikan.

Seperti apa “rasa” yang mampir, lewat itulah sikap ubudiyah dibangun. Karena setiap hari kita diberikan rasa yang bergilir-gilir sebagai bahan untuk “ngawulo”. Menghamba.

Setiap “rasa” yang mampir pada kita dan menjadi kacamata kita dalam memandang hidup, adalah menjelaskan mengenai Asmaul Husna.

Asmaul Husna adalah citra sifat-sifat. Lakuan-Nya. Af’al. Kacamata dalam memandang.

Sedangkan DIA sebagai Yang Dipandang, tidak ada perumpamaannya. Laisa kamislihi syaiun.

Saya rasa perbedaan mendasar antara islam dan approach spiritualitas di luar islam adalah bahwa islam mengajarkan bahwa citra sifat-sifat atau af’al-Nya dalam Asmaul Husna itu, hanya kacamata kita dalam memandang DIA. Bukan Tuhan itu sendiri. 

Tuhan, diriNya, tak bisa manusia persepsikan seperti apapun. Tapi perbuatan-Nya, ciptaanNya bercerita lewat alam ini.

Lewat kacamata inilah manusia berakrab-akrab padaNya. 

DALAM DUNIA YANG WAJAR DAN BIASA TETAP ADA DIA

Pagi ini saya tiba-tiba teringat sebuah tulisan dari Mas Prie GS, Budayawan terkenal itu. Dimana seusai dia mengisi sebuah acara seminar, dan berbicara dalam level yang tinggi, istrinya nelpon, “Pak’e, jangan lupa nanti pas pulang beli beras”.

Seketika itu juga tatanan teori yang tadinya sudah kadung tinggi, dan pergolakan intelektual yang mengaduk-aduk emosi itu seperti ditarik balik untuk mendarat di bumi. BUUUMM… Pak’e jangan lupa beli beras. Hahahaha.

Secara spiritualitas, sering juga saya cermati hal seperti ini terjadi. Dimana, dalam kajian filosofis yang berat-berat, sering kita merasakan bahwa hal-hal sederhana dalam kehidupan kita menjadi kurang berbobot. Bekerja menjadi malas. Dunia seperti tak ada harganya lagi.

Seperti tadi pagi, sembari menunggu jadwal meeting pagi di kantor client, saya kembali merenungi perbedaan antara konteks kata RABB dan ILLAH. Apakah Rabb dan Illah bisa secara sederhana dimaknai sebagai Tuhan saja, atau ada konteks yang lebih pas untuk peruntukannya sendiri? Mengapa kata Rabb digunakan dalam konteks membaca dunia ciptaan? Iqro bismirabbika…..sedangkan kata Illah digunakan dalam konteks yang lain, semisal dalam ungkapan Ilahi Anta maqsudi…. Dst. Lalu terbayang pula jangan-jangan Rabb dan Illah ini juga dua kata yang bermuara pada Dualitas sifat fi’liyah-Nya, JALAL dan JAMAL-Nya. Dualitas yang akan selalu ada dalam kancah dunia sifat-sifat, untuk menceritakan sang Empunya, yang Tunggal.

Berfikir dan merenungi hal yang begitu, lalu membandingkannya dengan kajian para arifin tentang hubungan manusia, alam dan Tuhan, membuat dunia pekerjaan menjadi seperti kurang meaningfull. Kurang berarti. Menjadi malas.

Dan lalu, secara drastis saya mengalami kejadian seperti yang diceritakan Mas Prie G.S. itu, kejadian hidup yang membawa kita kembali ke alam kenyataan. Usai meeting dimarahi client dan diminta untuk segera memberikan salah satu report untuk menjelaskan kenapa eksekusi lapangan berbeda dengan planning.

Lalu sepulang dari meeting langsung kebut berjibaku kembali dengan tugas-tugas yang setumpuk. Dan melupakan segala kajian filosofi yang pelik itu. Kita diajak kembali hidup dalam kenyataan.

Tetapi, satu hikmah yang saya renungi, bahwa betapapun duniawinya kenyataan hidup yang kita jalani sekarang, dalam pemaknaan yang tepat maka sebenarnya kita sedang meniti akhirat lewat sesuatu yang nampak duniawi itu.

Jika kita memandang, bahwa akhirat dan spiritualitas semata berbaju istilah-istilah agama, dan ritus-ritus peribadatan, kan akhirnya kita kembali menjadi seseorang dengan cara pandang yang begitu sempit. Dikira bahwa spiritualiltas tidak mampu menembusi sekat-sekat aktivitas selain yang ritus keagamaan.

Dulu, waktu awal-awal senang menekuni spiritualitas islam, saya begitu senang sholat Dhuha sampai lama. Sampai akhirnya saya tersadar, bahwa menjalankan tugas kantor (yang mana saya sudah tanda tangan kontrak atau perjanjian), adalah lebih utama dibanding berlama-lama sholat Dhuha. Dengan saya berlama-lama Dhuha, maka saya lalai terhadap tugas kantor yang saya ada janji terhadapnya.

Lain soal kalau ibadah wajib, dan lain soal kalau memang kantor lagi tak ada tugas.

Akhirnya, saya belajar mencintai kenyataan. Bahwa jejak-jejak hikmah dan pengaturan Tuhan terbaca dalam setiap lini hidup yang apapun saja.

Rasulullah SAW, dalam kehidupannya yang begitu spiritual, juga ditarik masuk kedalam keduniawian yang bersahaja, saat beliau sampai menyepi ke dalam gua cukup lama karena bingung sewaktu istri-istrinya menuntut nafkah lebih dari jumlah harta yang biasa Rasulullah berikan.

Ibrahim a.s begitu pula, dalam kehidupannya yang sangat spiritual itu, juga ditarik “mendunia” lewat kebingungannya Sarah dan Hajar clash terus.

Umar bin Khattab, the conqueror, penakluk Romawi dan Byzantium di masanya kalau tak khilaf, juga dibuat membumi lewat berdiam diri-nya beliau, saat diomeli istrinya.

Tetapi dalam keduniawian itu, ternyata tidak satupun yang lepas dari PLOT cerita takdir. Dan keduniawian yang wajar itu ternyata masih juga dalam satu alur cerita DIA bercerita tentang diri-NYA sendiri.

Maka, dalam kebingungan, setelah ini ngapain ya? Bagaimana lagi yang harus dilakukan agar spiritualitas menjadi naik? Ternyata jawabannya memang benar seperti para guru katakan, lakonono saja tugasanmu yang sekarang. Just do it. Meskipun secara harfiah begitu duniawi, akan tetapi dalam cara pandang yang tepat, justru hal-hal duniawi yang sederhana dan wajar itulah jalan hikmah untuk masuk.

Teringat cerita dalam Lathaiful Minan, seorang ulama mazhab maliki, Ibnu Athaillah saat telah menekuni spiritualitas islam lalu merasa hidupnya selama ini ga guna. Dia pengen total menspiritual. Pengen berkhidmat pada gurunya. Lalu kata gurunya, ga gitu caranya….. lakoni saja bagianmu. Apa-apa yang menjadi bagianmu dariku pasti akan sampai padamu.

Kalau bahasanya Ust. Hussien, jangan kalang kabut….nanti DIA susunkan caranya.

Nah… kalau dalam keseharian yang terlalu menspiritual itu, lalu tiba-tiba rekan-rekan ditarik kembali untuk menduniawi, itu saya rasa bukan penanda Tuhan tidak ingin kita menspiritual. Justru itu penanda bahwa DIA begitu bijaksana. Mengenalkan diri-NYA lewat dunia yang apa adanya pada kita.

Bayangkan, kalau diri-NYA semata terpandang dalam citra-citra haru mendayu-dayu, apa ga pusing hidup kita berhari-hari dilewati dengan nangis-nangis melulu?

Maka itu, sekali-kali dikirim-Nya cerita yang begitu wajar dan biasa. Dalam wajar dan biasa yang dunia itu, tetap ada cerita-Nya.

 

LIBURAN DAN FILOSOFI MIKROKOSMOS

self-awarenessSeorang rekan saya, bule, kebetulan orangnya suka sekali cerita. Dia menceritakan bahwa dia dan istrinya memiliki dua tipe liburan yang berbeda.

Liburan tipe pertama adalah tipe istrinya, dimana mereka pergi ke pantai, leyeh-leyeh, santai-santai, menikmati view pemandangan dan hanya diam di satu tempat saja sepanjang hari.

Liburan tipe kedua adalah tipe rekan saya tadi, dimana disini mereka pergi ke salah satu tempat wisata, atau situs-situs bersejarah, lalu kemudian pergi ke tempat lain, lalu ke tempat lainnya lagi, sangat dinamis.

Dua tipe liburan itu dijalankan bergantian pasalnya mereka tahu bahwa mereka satu sama lain berbeda.

Istrinya menyukai ketenangan yang kontemplatif, sedang rekan saya tadi menyukai petualangan yang penuh stimulus.

Kalau mereka tidak bergantian melakukan tipe liburan satu sama lain itu, maka salah satu pihak akan boring dan merasa super bosan. Karena secara psikologis memang mereka berbeda kecenderungan. Maka dalam rangka mengerti pola satu sama lain, mereka saling bergantian mencoba satu sama lain.

Saya jadi teringat dengan ini karena ada kesamaan dengan saya sendiri. Misalnya, saya adalah orang yang menyukai ketenangan yang kontemplatif, tetapi istri dan anak saya kebalikannya mereka menyukai hiruk-pikuk yang penuh stimulus.

Maka dalam berlibur misalnya, pergi ke suatu tempat, sepulangnya dari sana anak saya happy luar biasa, tetapi saya malah begitu letih. Karena bagi saya, itu malah menguras tenaga. Hehehehe.

Tapi satu hal saya akhirnya mengerti, dan mendapatkan hikmah. Ialah pertama bahwa “perasaan” enjoy atau tidak enjoy, itu berkaitan dengan cara pandang yang membentuk pribadi kita bertahun-tahun lamanya.

Saat kita melakukan sesuatu, misalnya saya menemani anak saya dan istri pergi jalan-jalan, kalau tipe jalan-jalannya tidak sesuai dengan kepribadian saya yang kontemplatif, maka secara psikologis sudah barang tentu saya akan merasa kurang nyaman. Tetapi, rasa kurang nyaman itu bukan pertanda saya tidak ridho. Rasa kurang nyaman bukan selalunya menjadi penanda ketidak ikhlasan. Akan tetapi sekedar sebagai alarm saja, bahwa ada hal yang secara psikologi, karena pengalaman berpuluh tahun, membuat kita merasa kurang nyaman.

Terlebih, kalau dikaitkan dengan bahasan misalnya membahagiakan anak dan istri sudah tentu baik. Kalau ditilik dari kajian yang lebih tinggi lagi, berbaik-baik pada makhluq-Nya berarti pula berbaik-baik pada penciptanya, bukan?

Walhasil hal sederhana semacam liburan saja ternyata bisa filosofis. Bisa bernilai ibadah, saya rasa.

Disinilah baru menjadi jelas maksud dari Firman Allah, ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (Q.s.,at-Taubah:41).’

Dalam hal berkebaikan, kita mesti belajar melintasi gejolak rasa.

Apakah Ibrahim a.s. Merasa riang gembira saat diperintah menyembelih Ismail a.s.? Saya kira tak mungkin. Pasti ada gundah gulana.

Apakah Musa a.s. Riang gembira saat diperintah menghadap dan memberi peringatan pada Fir’aun yang ayah angkatnya sendiri? Pasti ada gelisah hati.

Akan tetapi, kenyataan bahwa beliau-beliau tetap melakukan perintah meskipun perintah itu bertabrakan dengan rasa gundah hati mereka; justru disitu nilainya.

Seseorang, bahkan diganjar berdasarkan derajat kepayahan yang dia lalui.

Tetapi, dalam kajian mengenai diri sendiri, memang kita harus terampil membedakan bentuk-bentuk perasaan itu.

Ada bentuk perasaan yang sebenarnya muncul karena ketidaknyamanan psikologis saja. Seperti yang diceritakan di atas.

Ada bentuk perasaan yang berupa firasat. Dia muncul bukan karena bentuk ketaknyamanan psikologis. Juga bukan karena asosiasi antara fikiran negatif dan emosi negatif.

Tapi seninya disitu. Mengenali kerajaan diri kita sendiri. Jagad alit. Alias mikrokosmos.


image sources

MANUSIA BUKANLAH MESIN BIOLOGIS

downloadSeorang gadis usia SMA mengalami tabrakan mobil. Dalam insiden itu, ada seorang yang tak dikenal kemudian membopongnya, dan berlari membawanya sejauh beberapa blok sampai ke klinik terdekat. Gadis itu, bahkan tidak sempat bertanya nama dan tak sempat berterimakasih kepada orang asing yang telah membantu dan menyelamatkannya. Orang asing itu langsung pergi, setelah menyelamatkan gadis itu.

Gadis ini adalah Abigail Marsh, yang bertahun kemudian dia menjadi seorang “Psychologist”. Dan dalam salah satu sesi bicaranya pada panggung “Ted Talks” saya mendengar kisah ini.

Disana Abigail Marsh yang seorang psikologis itu menyampaikan ucapan terimakasih secara terbuka kepada sang penolong berapa puluh tahun silam. Dan pada kesempatan itulah dia membahas fenomena “Altruism”, yaitu sebuah sikap perhatian terhadap kesejahteraan orang lain, bahkan tanpa memperhatikan diri sendiri.[1]

Apa sebenarnya yang melatari sehingga orang-orang dengan kecenderungan altruisme ini bisa sampai mengorbankan dirinya sendiri, untuk menolong orang lain yang bahkan dia tidak kenal? Ada orang-orang yang begitu dermawan. Ada orang-orang yang bahkan mendonorkan organ tubuhnya untuk orang-orang asing.

Menolong orang-orang terdekat, adalah sebuah kebaikan yang lumrah. Tetapi mengorbankan diri sendiri untuk orang-orang yang bahkan sama sekali tidak dekat secara personal dengan dirinya, adalah sebuah kebajikan yang luar biasa. Dan inilah yang dibahas dalam kajian mengenai Altruisme itu.

Dikatakan disana, bahwa secara psikologis, “Extraordinary Altruism”, atau Altruisme yang di atas normal ini sebenarnya adalah sisi berlawanan dari “Psikopat”.

Jika seorang psikopat merasakan kebahagiaan dalam hatinya saat melihat rasa takut dari orang lain, maka Extraordinary Altruism adalah orang-orang yang disetir oleh hasrat yang begitu besar untuk membahagiakan orang lain. Ada sebuah kebahagiaan dalam diri pelaku kebajikan, saat dia menolong orang lain.

Dalam konteks seperti itu, Abigail Marsh menganggap bahwa Kebajikan yang Altruisme ini sebenarnya adalah tindakan “Selfish”, alias egois –karena sebenarnya dia ingin dirinya merasakan sensasi bahagia- melalui tindakan membahagiakan orang lain. Egois tapi bermanfaat secara sosial.

Secara struktur otak, dikatakan pada seorang Altruist, ada bagian amigdala yang lebih besar dari rata-rata orang lain.

Yang menarik adalah, dikatakan juga bahwa pada orang normal, mereka akan berkebaikan dengan menolong orang-orang pada lingkar terdekat. Tetapi pada Altruist, konsep lingkaran itu sama sekali berbeda. Bahkan dikatakan mereka tidak memiliki pusat lingkaran. Egosentris hilang, sehingga dirinya sendiri, orang terdekat, dan orang-orang asing adalah sama saja dimata mereka. Mereka membantu siapapun saja. Karena baik dirinya, orang terdekat, atau bahkan orang asing adalah sejatinya sama.

Saya tertarik membandingkan pendapat psikolog ini dengan wejangan para arifin dalam spiritualitas islam. Pada point terakhir, bahwa seorang altruist bahkan tidak membedakan antara dirinya dan orang asing, batas-batas lingkar kedekatan menjadi hilang sama sekali, anda dan saya adalah satu dan sama; ini sudah sering dibahas para arifin.

Akan tetapi, pada bagian dimana Abigail Marsh membahas mengenai sebab-sebab pendorong Altruism, saya melihat ada perbedaan.

Betapa pada approach barat, manusia hanya dianggap sebagai mesin biologis. Sehingga, kebajikan yang dilakukan manusia, selalunya dianggap sebagai aktivitas kelistrikan otak atau aktivitas yang disetir oleh kondisi hormonal. Sensasi kebahagiaan yang biologis.

Sehingga, akibatnya, kebajikan dalam menolong orang lain, hanya terhenti pada tataran pemenuhan kebahagiaan diri sendiri lagi. Karena secara hormonal, manusia akan merasakan sensasi kebahagiaan pada dirinya saat menolong orang lain. Karena manusia “lapar” akan sensasi bahagia itu, maka manusia menolong orang lain.

Saya jadi teringat, tulisan yang sangat jelas dari Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam Kimiyatus Sa’adah. Kimia kebahagiaan. Beliau memaparkan mengenai istilah “Siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhan-nya”.

Tentu istilah itu sama sekali bukan maksudnya bahwa kitalah Tuhan. Akan tetapi Imam Ghazali menjelaskan bahwa seandainya manusia cermat mengamati dirinya sendiri, dan melihat bagaimana proses urut-urutan sebuah tindakan atau gerak terzahir pada dirinya, maka manusia pasti akan percaya bahwa Tuhan-lah yang mengatur alam.

Jika umpamanya seseorang melihat tulisan, maka dia mengira tulisan itu disebabkan karena pena. Tetapi, orang yang melihat lebih luas akan tahu bahwa tulisan bukan karena pena, tetapi karena pena digerakkan oleh tangan.

Di atas itu lagi, kita akan mengetahui bahwa tangan-pun digerakkan oleh tubuh. Di atasnya lagi kita tahu bahwa tubuh bergerak karena perintah kelistrikan otak. Di atasnya lagi, kita mencermati bahwa aktivitas kelistrikan otak sejatinya disetir oleh “kehendak” manusia.

Mulai dari pena, tangan, tubuh, hingga kelistrikan pada otak manusia, semuanya bisa dianalisa secara empiris, terindera. Tetapi begitu masuk ranah yang lebih dalam, dia akan kehilangan umpama. Bagaimana itu “kehendak” apa itu sebenarnya kehendak? Adakah bentuknya?

Selama ini, manusia selalu mengkaji dunia empiris, yang mana dunia empiris sebenarnya adalah dunia “akibat” saja, dalam pandangan para arifin. Penyebab sejatinya adalah sesuatu yang bukan di dunia empiris.

Nah… pada diri manusia saja, kita bisa melihat bahwa sebuah “kehendak” pada alam yang tidak empiris bisa menjelma gerakan pada dunia yang empiris. Tidakkah kita menjadi yakin bahwa Tuhan, lebih mampu lagi menyetir dunia empiris ini?

Sebagaimana kehendak manusia yang abstrak bisa menyetir gerak tubuh, sebegitu juga dunia yang abstrak semisal malaikat, bisa menyetir gerak elemen-elemen alam. Hujan. Angin… dst….begitu Tuhan mengatur alam. Kata Imam Ghazali.

Tetapi manusia selalu meneliti sebatas yang empiris semata. Padahal, bukti yang non empiris itu begitu dekat. Ada pada dirinya sendiri, kalau mau merenung sebentar.

Jadi kembali lagi…..mengapa seseorang melakukan kebajikan yang luar biasa, seperti yang dilakukan orang-orang altruist itu?

Jika manusia meneliti sebatas alam empiris saja, mereka akan terhenti sebatas info amigdala. Sebatas sensasi hormonal rasa bahagia dan senang.

Tetapi, kalau mau menilik kajian para arifin, dan mengalami sendiri, maka ternyata akan menjadi sangat tahu bahwa sesuatu yang abstrak di dalam diri kita ini yang “penggeraknya”, dalam lingkup tubuh.

Kalau lebih dalam lagi dilihat, ternyata, ruhani manusia yang abstrak ini-pun sebenarnya dihujani dengan ilham-ilham kebaikan dan keburukan.[2]

Bahkan ilham-ilham kebaikan dan keburukan itu datang kepada manusia, bukan dibuat oleh manusia itu sendiri.

Dan dalam konteks cerita yang lebih besar, kita akan melihat cara Allah SWT mencegah kemungkaran segolongan orang, adalah dengan mengerahkan sebagian lainnya untuk melawan kemungkaran itu.[3]

Memandang dunia empiris semata, akan berakibat kita berbuat kebaikan dalam rangka kepuasan diri sendiri. (Melihat kepada kebahagiaan hormonal).

Tetapi dengan pandangan yang lebih tajam, para pelaku kebaikan melihat kepada ilham-ilham kebaikan dan kehendak yang turun menyambangi dirinya, sehingga menjadi bersyukur atas karunia ilham kebaikan itu, dan taufiq dalam menjalankannya.

Bergerak dalam kerangka kepahaman seperti itu, saya rasa yang membedakan antara Altruisme yang “selfish” atau egois, dengan Altruisme yang spiritual.

Lillah, istilahnya begitu.


References:

[1] Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. (https://id.wikipedia.org/wiki/Altruisme)

[2] Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).

[3] Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (QS Al-Baqoroh : 251)

TIPS BELAJAR DAN MENGENALI YANG BELAJAR

Saya teringat dengan salah seorang rekan saya waktu SMA dulu. Beliau ini sangat ahli di ilmu hitung-hitungan, fisika dan matematika adalah kegemarannya. Nilainya selalu tinggi untuk ilmu-ilmu hitungan seperti itu. Tetapi untuk bidang ilmu lainnya dia tak seberapa mahir. Satu hal yang saya ingat dari dirinya adalah kesediaan untuk belajar.

Pernah dalam satu sesi mata pelajaran, dia bertanya pada saya bagaimana caranya “ngomong” di depan umum. Ya saya katakan, tinggal ngomong saja, hahaha….. Tapi rekan satu ini ternyata serius. Dia bahkan memberanikan diri waktu itu untuk berdiri dan ikut berdebat dan menyampaikan pendapat di salah satu sesi diskusi di dalam kelas. Selepas diskusi dia bertanya pada saya meminta pendapat. Luar biasa memang kawan satu itu. Eh tak dinyana sekarang sudah jadi salah satu petinggi di kepolisian provinsi kalau tidak salah. Dari beliau saya bercermin kesediaan untuk belajar.

Kesediaan untuk belajar ini, kalau saya tilik bisa ditimbulkan dari setidaknya dua hal: Pertama dari kesadaran bahwa diri ini sebenarnya tak banyak tahu. Yang kedua kecintaan yang sangat besar terhadap ilmu.

Menarik, mengetahui sebuah fakta bahwa satu-satunya hal yang Rasulullah diperintahkan untuk meminta tambahan atasnya adalah ilmu. Sudah punya, tapi disuruh minta lagi dan minta lagi, yaitu ilmu itu.

hawkingsBerkaitan dengan ilmu ini, rekan-rekan barangkali sudah tahu dengan Stephen Hawkings. Seorang ilmuwan besar yang badannya lumpuh total. Satu-satunya yang bisa dia gerakkan adalah otot area wajahnya. Dan dari sanalah dia dihubungkan dengan sebuah komputer yang membuat dia bisa mengetik, lalu tulisan di komputer itu dibaca oleh mesin, jadi seolah-olah dia bicara, padahal mesin yang bicara.

Sekujurnya tubuhnya lumpuh, tapi “dia” masih ada. “Kesadarannya” masih hidup. Dan masih bisa berinteraksi dengan kita.

Karena tubuhnya sudah lumpuh total, dan kurang lebih sekedar aksesori saja, saat orang-orang berbincang dengan Stephen Hawkings, sebenarnya orang-orang berbincang dengan “Kesadaran” Stephen Hawkings itu, jasadnya itu hampir tak ada fungsi. Jadi jelas sekali, bahwa “kesadaran” manusia itulah yang disebut sejatinya diri manusia.

Oke, sekarang fisiknya sudah kita nafikan, kita kesampingkan dulu, kita tahu ada sebuah “kesadaran” yang masih hidup disana. Yang meskipun tidak ada fisiknya, dia pun masih ada. “Kesadaran” Stephen Hawkings ini, masih hidup dan membawa seperangkat keilmuan. Orang-orang masih bisa belajar dan membaca buah pikir Stephen Hawkings, diskusi, meskipun hanya diskusi dengan sebuah “kesadaran”.

Artinya, “kesadaran” inilah yang menampung ilmu.

Perangkat pertama yang dipunyai sebuah “kesadaran” ini yaitu jasad fisikal. Lalu perangkat kedua yang dipunyai sebuah “kesadaran” ini yaitu perangkat “mental” alias segala rekam pengalaman hidup, ilmu, dan lain-lain.

Jadi, ilmu itu sebenarnya perangkat juga. Sesuatu yang dibawa-bawa oleh human consciusness, dibawa-bawa oleh “kesadaran” manusia.

Sesuatu yang dikatakan sebagai Human Consciusness itu, “Kesadaran” kita itu, sudah ada sejak kita di dalam kandungan, dan masih ada setelah kita lahir, dan masih ada setelah kita besar, dan akan tetap ada setelah kita mati (hanya saja pindah alam). Semuanya kesadaran yang sama.

Akan tetapi, yang membuatnya berkembang, tumbuh dan mengalami individuasi, menjadi lebih baik seiring pendewasaannya, adalah sesuai dengan apa-apa yang dia serap.

Jadi, salah satu cara untuk menjadi “dirimu” yang lebih baik adalah dengan menyerap lebih banyak ilmu.

Pengalaman hidup, ilmu, itulah sebenarnya yang membuat sebuah “kesadaran” mengalami individuasi dan menjadi sesuatu yang kita kenal dengan identitas diri kita. Pengalaman hidup yang diserap oleh “kesadaran” kita itu, pada gilirannya membentuk cara pandang mental yang kita kenal dengan ego. Ego itulah kita yang telah mengalami individuasi.

Akan tetapi. Kita ternyata juga harus memahami bahwa “ilmu”, itu sejatinya milik Tuhan. Sudah banyak orang-orang arif yang mengatakan bahwa kita tidak boleh mengaku memiliki ilmu, tetapi kita harus sadari bahwa kita dipinjami ilmu.

Sekarang, yang menjadi menarik adalah, saat kita mengetahui bahwa ilmu sejatinya bukan milik kita, dan tak boleh diakui sebagai milik kita; sedangkan kita tahu bahwa kumpulan pengalaman hiduplah, ilmu-lah yang membuat sebuah “kesadaran” manusia tumbuh dan mengalami individuasi menjadi orang-orang yang berbeda, menjadi identitas, menjadi ego; maka ternyata memang masuk akal bahwa kita tidak boleh mengaku “wujud”.

Tidak boleh mengaku ada. Karena, sejatinya identitas yang kita akui sebagai “ada” itu adalah kumpulan pengalaman hidup, kumpulan ilmu, bukan?

Dan kalau kita tidak boleh mengakui ilmu sebagai milik, maka konsekuensi logis berikutnya adalah tidak bolehnya kita mengakui identitas mental atau ego kita sebagai sesuatu yang “wujud”.

Menghilangkan keakuan.

Seninya disini rupanya.

Pada satu sisi kita diminta untuk semakin belajar, semakin menuntut ilmu, dan mengakibatkan kita akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Tapi di saat yang sama, pengakuan kita terhadap ilmu harus dilepas, yang pada gilirannya akan membuat kita menyadari bahwa kita sendiri sebenarnya tidak wujud.

Pada kondisi seperti itulah baru terasa jika kita lepaskan semua atribut fisikal, dan melepaskan semua atribut mental dan keilmuan, melepas nama, adakah bedanya antara saya, anda, mereka, kita?

Ternyata tiada beda.

LAGI, TENTANG DUALITAS

Kembali teringat syair Rumi dalam matsnawi. Banyak diantaranya mengatakan bahwa sebenarnya dualitas baik dan buruk tak bisa dipisahkan. Adakah sesuatu yang murni baik tanpa ada sisi buruknya? Adakah sesuatu yang murni buruk tanpa ada bilah kebaikannya?

Bahwa kita belajar menapaki kehidupan dengan tatanan syariat yang sudah Rasulullah SAW gariskan; itu jelas. Tetapi ini adalah perkara memandang dan memaknai sekitar.

Selain Allah SWT, semua ada dualitas. Bilah kebaikan dan keburukan yang bergolak tiada henti.

Kita berjalan dalam tuntunan yang sudah digariskan. Tetapi belajar juga memandang dunia sebagaimana adanya. Baik dan buruk adalah makna yang DIA ajarkan. Dua-duanya untuk menceritakan DIA yang tunggal. Melampaui persepsi baik dan buruk.

*) pagi ini melihat truk di jalan tol membawa sepaket peralatan boneka tradisional. Dalam citranya yang menyeramkan, boneka “keburukan” itu menjadi wasilah rezeki “kebaikan”.