TRANSISI MAKNA DALAM KETIADAAN AMBISI

Three-Ways-To-Improve-Your-Self-ConfidenceKarena tahu saya bukan seorang yang “dominan” dan “tega’an”, maka saya meminta bos saya untuk mendatangkan seseorang dari Regional Middle East dan Asia Pacific (disingkat “MENA”) agar datang ke Indonesia, untuk membantu mengecek persiapan audit perusahaan kami, yang kebetulan berada dalam naungan regional Middle East dan Asia Pacific.

Alhamdulillah, berkat izin Allah, strategi itu terkabulkan, dan seseorang rekan yang datang ke Indonesia membantu persiapan audit tadi, adalah seorang dengan tipikal sangat detail dan dominan. Walhasil banyak rekan-rekan menjadi terhenyak, termasuk manajer saya sendiri. Wah, ternyata masih banyak yang harus disiapkan, lalu bergeraklah semua orang.

Semua menjadi waspada pada porsinya yang pas, dan alhamdulillah segala kekurangan bisa diselesaikan dalam tempo yang pas dan audit berhasil dilewati dengan baik.

Bertemu seseorang dengan tipikal yang sangat dominan seperti rekan saya dari region MENA itu tadi, membuat saya meninjau kembali perjalanan karir saya.

Salah satu kelebihan orang-orang yang dominan dan ambisius seperti rekan saya itu, adalah mereka sangat tahu apa yang mereka inginkan. Mereka ingin mendaki tangga karir, dan setelah satu jabatan maka mereka menginginkan jabatan yang di atasnya lagi, dan di atasnya lagi.

Jabatan, tentu sebanding dengan tantangannya, tapi mereka tidak menghiraukan itu.

“Mengetahui apa yang diinginkan diri sendiri”, adalah satu tantangan terbesar bagi orang dengan tipikal seperti saya.

Seringkali, setelah tahapan yang sekarang ini saya tidak tahu harus kemana dan apa yang ingin diraih? Utamanya setelah mempelajari mengenai spiritualitas islam / tasawuf, maka ambisi-ambisi seperti makin pupus saja.

Kalau saya menilik perjalanan saya ke belakang, dari awalnya saya seorang pelajar di salah satu kota di Sumatera. Bagi saya masuk universitas di Jawa itu salah satu pencapaian luar biasa, dan saya menyadari kemampuan saya terbatas dari sisi finansial dan dari sisi intelektualitas. Alhamdulillah nyatanya Allah berkenan memasukkan ke Universitas di Jawa. Ambisinya kala itu adalah ingin mendapatkan pendidikan lebih baik, ingin berkembang.

Dari sana saya kemudian lulus dan bekerja di Industri Lapangan Migas, tahunan menghabiskan waktu terapung di lautan, menyusuri tempat-tempat yang jauh dan terpencil di hutan. Ambisinya kala itu adalah beranjak dari kesulitan ekonomi.

Dan lalu akhirnya dari lapangan saya dipindahkan ke kantor. Itupun suatu pertolongan yang ditemui lewat ambisi mendapatkan tempat yang lebih nyaman dan tidak selalu bepergian.

Setelah berada dalam dunia kantor, dan melalui banyak tribulasi hidup. Cara pandang mulai berubah.

Perjalanan meniti tangga karir bagi saya semua adalah anugerah, karena saya sadar betul betapa kemampuan rekan-rekan di sekitar saya sangatlah dahsyat, untuk tidak dikatakan bahwa saya sebenarnya hanya beruntung saja bisa mendaki tangga karir dimana orang-orang luar biasa ada berserak di sekitar saya, dan setiap dari mereka bisa mengganti saya kapanpun saja. Dan terasa sekali bahwa sebenarnya dari awal saya berpindah kesana kemari mengikuti plot-NYA, semua tidak pernah saya bayangkan. Ambisi saya menjadi pudar.

Tetapi disitulah masalahnya, seringkali karena larut dalam suasana kerja, saya mempertanyakan diri saya yang sekarang, karena tidak punya ambisi, seringkali tak tahu harus ngapain lagi? what is next?

Karena saya kadang terpikirkan bagaimana mungkin bekerja tanpa suatu “dorongan” tanpa “ambisi”? Harus ada suatu “dorongan” agar roda fisik saya ini mau bergerak.

Belakangan saya menyadari bahwa dorongan itu rupanya masih ada, hanya saja berubah bentuk.

Dari yang ambisi personal, berubah menjadi keinginan untuk “membantu”.

Saya ingin “membantu” orang-orang, dalam kapasitas apapun saja. Maka dalam bekerja, dan dalam dunia karir, saya menggunakan mentalitas itu, bekerja dalam keinginan membantu orang-orang. Saat meeting, saat memberi pengarahan, meng-audit, saya benar-benar merasakan saya sedang membantu orang. Bukan pekerja, tetapi sebagai manusia saya membantu manusia lainnya.

Keinginan “membantu” ini, barulah saya sadari rupanya sebuah pendorong yang berada dalam “transisi” untuk masuk ke ranah yang lebih spiritual.

Kalau guru kami mengatakan, bahwa saat kita berbuat, sebenarnya bukan kita yang berbuat. Melainkan kita mengikuti script-Nya untuk berbuat sesuatu. walhasil, pengertian sebenar-benarnya mengenai kenapa sesuatu terjadi, adalah dengan DIA semata-mata. Manusia, hanya memaknainya dengan kacamata yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas pembelajarannya.

Ambil contoh Seorang dokter, misalnya….dia bekerja karena dia ingin memberi makan keluarga. Setelah itu dia mendapatkan penghasilan tetap, dan lama-lama namanya masyhur di khalayak, dia bekerja karena ingin namanya dikenang orang. Tetapi, di sebalik itu ternyata Allah mentakdirkan kemampuan spesialisasinya terpakai untuk menyelamatkan seorang yang sakit, dimana di kemudian hari seorang sakit itu akan menjadi menteri yang mengentaskan urusan ketertinggalan pendidikan anak-anak di daerah terlantar. Misalnya begitu.

Pekerjaan, bisa dia lihat dari kacamata penghidupan untuk keluarga. Bisa dia lihat dari kacamata kebanggaan diri. Atau bisa dia lihat dari kacamata yang lebih besar yaitu dia hanya “perpanjangan tangan” dari takdir menyelamatkan orang-orang yang mungkin punya kiprah dan cerita besar sendiri-sendiri pula.

Jadi sebenarnya dibalik sesuatu ada sesuatu. Dan sebenar-benar pengertian mengapa sesuatu itu terjadi, adalah pada Tuhan sendiri. Kita hanya memaknai sepotong-sepotong dalam perjalanan kita mengenali diri, dan mengenaliNYA.

Puncak dari perjalanan merevisi makna dalam hidup kita itu adalah “hilangnya diri kita” dan melihat hidup sebagai pagelaran ceritaNYA saja.

Transisi itulah yang baru saya mengerti. karena saya ada dalam transisi itulah mengapa saya sering menjalani karir dengan seperti tidak ada ambisi, tetapi masih bingung…. seharusnya saya bagaimana?

Harusnya saya tidak bingung….. karena seorang arif berpesan, tinggalkan “Pintu Depan”, tinggalkan segala pemaknaan bahwa hidup adalah tentang ini tentang itu, tentang kita. Dan masuk sepenuhnya pada “pintu belakang” dimana tak ada kita. Hanya DIA dan ceritaNYA, menerusi dzat (ciptaanNya).

Masuk dalam pemaknaan seperti itulah, yang hanya bisa karena anugerahNYA semata-mata. Meskipun masih mbulet, setidaknya kita sudah tahu peta perjalanannya.


*) Image Sources

MELEPASKAN BUAH PERBUATAN

Snapshot di Kecamatan Sanga-Sanga
Snapshot di Kecamatan Sanga-Sanga

Pagi hari kemarin saya bertolak dari Jakarta ke Balikpapan, lalu dari Balikpapan saya menuju Kecamatan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara, 3 jam perjalanan darat. Lalu setelah menghabiskan 3 jam berikutnya di lokasi tempat kerja, saya kembali lagi ke Balikpapan dan terbang ke Jakarta. Tiba di Jakarta sekitar jam 10 malam.

Badan terasa linu-linu. Tapi ndilalah saya tiba-tiba teringat seorang rekan saya waktu SMP dulu. Rekan saya dulu itu sangat mencintai kesibukan. Betapa dia dulu sering bercerita pada saya bahwa seharian itu dia sangat sibuk ini itu. Capek, katanya, tapi dalam capeknya itu dia merasa produktif. Rasanya seharian tak ada yang sia-sia.

Berkait dengan itu, tadi malam sewaktu di taxi menuju rumah, saya pun sebenarnya sudah membayangkan malesnya bahwa besok sudah harus ngantor lagi, tapi saya teringat bahasan teman SMP saya dulu tentang “produktif” itu, lalu saya kaitkan dengan kajian yang lebih spiritual dari para guru, bahwa kita ini sebenarnya terberdayakan (tertakdirkan) untuk menjalankan peran sesuai plot Sang Empunya drama. Walhasil, bukan masalah produktif, tapi lakoni saja….

Sebenarnya dalam letih dan penat, untuk orang-orang seperti saya ini, malah banyak untungnya. Setidaknya, dengan keseharian yang penat dan banyak tantangan kita jadi lebih menemukan alasan-alasan untuk mengakrabi Tuhan.

Dalam sepanjang perjalanan kadang-kadang dipaksa untuk merenungi, waduh….habis ini apa lagi kiranya?

Lalu teringat pesan guru bahwa lebih baik berdoa ketimbang banyak mikir. Lalu berdoa lah kita. Lewat do’a, jadi kembali pada Tuhan.

Kita ini (utamanya saya), barangkali masih masuk golongan orang-orang yang perlu “alasan” menemui Tuhan. Lewat sebab-sebab di dalam kehidupan, jadi punya konteks, punya cerita buat berdo’a.

Lain lagi kalau para arif, mereka sibuk mengingatiNya, sampai-sampai kehidupan tidak menarik di mata mereka. Nah ini level tinggi. Yang belum sampai sini, pakailah alasan-alasan apapun juga untuk menemui Tuhan. Alasan-alasan yang pastinya tersedia melimpah ruah dalam kesibukan kehidupan kita.

Hidup ini terasa seperti madrasah. Kesibukan dalam pekerjaan misalnya, itu madrasah yang luar biasa. Ada tips agar kita tidak tenggelam dalam kesibukan, tetapi alih-alih malah kita mendapatkan pelajaran.

Dalam kitab Al Hikam disebutkan oleh Ibnu Athaillah As Sakandari, agar kita jangan “tadbir” alias memastikan hasil usaha. Kalau kita berbuat A, maka berbuatlah saja A. Tanpa memastikan bahwa kalau berbuat A maka hasilnya harus B. Karena hasil itu urusan Tuhan. Ada suatu sebab tertentu sehingga kita tertakdir melakukan sesuatu itu.

Padanan petuah ini, kalau dalam istilah di dunia pewayangan dari Epos Mahabarata, Ibaratnya, kita berbuat tanpa mengharapkan “buah” dari pekerjaan itu. Karena kalau kita berbuat tanpa berharap, maka kita akan lepas dari rasa senang dan rasa duka yang temporer.

Kita berbuat, karena “bhakti”.

Seorang Arif mengajarkan, saat kita berbuat, sadari sebenarnya bukan kita yang berbuat. Kita ini “tiada”. Yang ada sebenarnya hanyalah dzat ciptaanNya yang bergerak mengikut scriptNya.

Nah ini agak-agak berat. Tetapi inti sederhananya adalah teruslah berbuat, terus produktif, sambil menyadari bahwa kita ini diperjalankan olehNya, untuk menceritakan diriNya sendiri.

Pelan-pelan memang terasa, terlepas diri kita dari pengharapan mendalam akan “buah” dari apa yang kita kerjakan. Lalu hidup mulai terasa sebagai madrasah pembelajaran. Dan kita salah satu murid di dalamnya, yang diajari sepanjang hayat.

SPIRITUALITAS ANAK RUMAHAN

adventure alm cabin chalet
Photo by Pixabay on Pexels.com

Sudah lama banget saya ga nonton TV, karena rutinitas kantor yang begitu padat, setiba di rumah sudah capek dan maunya leyeh-leyeh santai saja, walhasil TV jarang sekali ditonton. Beralihlah ke YouTube karena sambil tidur masih bisa nonton YouTube di HP.

Tertumbuklah perhatian saya pada satu Channel YouTube yang lumayan edukatif saya rasa, yaitu “Nebeng Boy”. Ceritanya ini mirip-mirip talkshow, tapi dikemas secara santai, dimana pembawa acaranya nyetir mobil, jemput narasumber, terus ngobrol ngalor ngidul sambil nyetir, kadang-kadang juga nyanyi-nyanyi di mobil. Cair banget, tapi berisilah.

Ini obrolannya inspiratif kata saya.

Sebagai gambaran, channel vlog YouTube yang saya sebut tadi bahkan menghadirkan orang sekelas Najwa Shihab untuk naik mobilnya, obrolan serius tapi ketawa-tiwi santai, sekelas Najwa Lho mau. Juga ada Dedy Corbuzier, Maudy Ayunda, Chelsea Islan, Mantan personnel JKT-48 siapa itu namanya lupa saya, Rapper Young Lex, dan sederet nama anak muda semisal Reza Arap, yang mestinya membuat orang tertarik…..eh, apaan ini ya? Channel YouTube aja lho padahal.

Cara pembawa acaranya ngobrol itu asyik banget, berkelas lah. Dia bisa masuk ke semua tipe orang. Suatu keterampilan yang sejak dulu saya iri pisan. Tapi yang paling mengagetkan adalah ketika dia mewawancara Dedy Corbuzier, disitu Dedy Corbuzier mengatakan bahwa dia anak “rumahan”. Seorang Dedy Corbuzier lho…. Tak pikir anak gaul, sekalinya Dedy Corbuzier ini ga suka nongkrong di café, ga suka acara-acara yang banyak orang, kalau lagi ga shooting senangnya di rumah aja. Dia buat sendiri gym di rumahnya, dia buat macem-macem yang intinya dia emang senang di rumah aja.

Begitu juga Raditya Dika, komika terkenal itu aslinya juga anak rumahan. Dia paling ga enjoy di keramaian.

Termasuk, Boy William pembawa acaranya itu sendiri. Dengan ketrampilan bicara dan pendekatan pada orang yang segitunya itu, saya betul-betul kaget ini bahwa dia juga termasuk orang dengan kecenderungan introversi. Malas keluar rumah.

Ini mengingatkan saya pada sebuah buku tentang introversi yang dulu saya pernah baca, dimana disebutkan disana bahwa Oprah Winfrey, sang pembawa acara fenomenal itu, adalah seorang introvert. Oh my God.

Kenapa saya tertarik? Karena saya sendiri adalah anak rumahan. Sangat rumahan. Sejak kecil saya suka sekali di rumah saja dan baca buku. Saya sulit sekali menikmati kumpul-kumpul dalam suatu acara dengan jumlah peserta yang banyak. Termasuk kalau suka ada undangan dinner-lah di kantor, atau kumpul-kumpul meeting di luar jam kantor misalnya, mesti saya berat sekali untuk mengikutinya, walaupun tuntutan mengharuskan saya untuk bisa, dan mau tak mau saya harus mempelajari seni tentang itu.

Nah, kembali ke bahasan tentang anak rumahan, saya mengamati bahwa betapa dalam obrolan di channel YouTube yang saya sebut tadi, orang-orang bisa menjelma menjadi begitu “spiritualis” saat mereka ditempatkan dalam suasana yang “homey”, yang nyaman seperti rumah. Ga peduli introvert atau extrovert, kenyamanan personal itu membuat orang mengeluarkan sisi terdalam mereka, sisi yang spiritual.

Ambil contoh dalam satu sesi wawancara dengan Chelsea Islan, dimana Chelsea bercerita tentang pengalaman hidupnya dimana ibunya sempat divonis kanker. Meskipun pada akhirnya itu ternyata salah diagnosa, tetapi pengalaman itu begitu membekas dan mendorong seorang Chelsea Islan untuk mengadakan acara di banyak tempat, donasi untuk orang-orang yang terkena kanker. Chelsea Islan lho, udahlah modis, penuh prestasi, berjiwa sosial pula.

Begitu Juga misalnya Reza Arap misalnya, Tatoan dan agak-agak urakan gitu, tetapi dalam sesi diskusi dalam mobil, suasana yang homey, saya melihat sisi spiritual seorang Reza Arap keluar. Dimana dia mendonasikan channel YouTube yang dia miliki untuk sebuah rumah sosial, saya lupa nama yayasannya apa, tapi lihat bagaimana seorang anak muda yang tipikal anak gaul millenial bangetlah, ada sisi spiritualnya sendiri.

Dalam suasana yang homey, yang “rumahan” sisi spiritualitas orang-orang itu keluar. Saya jadi teringat seorang guru bilang bahwa “mencari Tuhan” itu adalah fithrah manusia, fithrah itu ibarat cahaya, cahaya itu tidak dapat hilang betapapun orang berbuat dosa, cahaya itu tidak bisa padam.

Maka saya sangat menikmati sekali melihat orang-orang yang dikenal masyarakat dengan sisi ekstroversi-nya itu, gaul, modis, sukses, banyak uang, tetapi ternyata dalam momen yang tepat bisa mengeluarkan sisi yang sangat spiritual. Sisi yang kadang-kadang mungkin dirinya sendiri tidak sadari, tetapi bisa muncul kalau bertemu orang yang tepat.

Ini satu pelajaran penting buat saya.

Pertama, bahwa banyak orang-orang “rumahan” yang ternyata sangat sukses dalam dunia yang dikira khalayak sebagai dunianya orang-orang extrovert. Tetapi bagaimanapun, mereka tetap butuh waktu sendiri, untuk masuk dalam kenyamanan “rumah”nya, dan menikmati dunia dari sudut pandang mereka.

Begitupun orang-orang extrovert, ternyata mereka punya sisi spiritualitas yang barangkali terasah sangat tajam lewat perjalanan mereka yang demikian jauh, karena fithrahnya mereka sebagai seorang yang senang “jalan” dan “gaul”, jadi mereka melihat banyak pelajaran. Pelajaran-pelajaran itu mengendap dan menunggu untuk dituliskan, disusunkan.

Sebagai anak “rumahan”, saya merasa sekali bahwa “perjalanan” itu penting. Betapa banyak pelajaran yang saya dapat dari “perjalanan”, tetapi karena dasarnya saya malas keluar, maka takdir yang menuntunkan saya dipaksa berjalan. Bekerja sebagai engineer di dunia lapangan migas, lalu pindah ke kantor, lalu jadi internal auditor, semuanya memaksa saya berjalan dan menemukan hikmah dari orang-orang yang semuanya spiritual dengan cara mereka sendiri.

Kedua. Impian saya adalah, bertemu dengan orang-orang yang tumbuh besar dalam dunia ekstroversi, orang-orang yang saya kagumi dengan perjalanan-perjalanan mereka yang luar biasa, saya ingin mendengarkan cerita mereka, mengapresiasi perjalanan mereka, dan mengatakan pada mereka pesan guru saya, bahwa sesuatu yang mereka cari-cari dalam perjalanan panjang ini jawabannya ada dalam diri mereka sendiri, dalam diri kita sendiri. Fithrah spiritualitas yang tidak bisa padam, meski kita berjalan dalam lorong yang gelap segelap apapun. Kita cuma butuh kenyamanan “rumah”, untuk mengakui, “yak….benar…… ada sisi spiritual dalam diri saya, di dalam sini”

MENDADAK MEETING DAN PENGABDIAN

Agak deg-degan saya tadi pagi. Ceritanya saya diminta menghadiri salah satu meeting di Kantor client, menggantikan Country Manager yang kebetulan berhalangan hadir. Meetingnya sengaja diset seperti diskusi group untuk manajemen atas. Nah ini yang bikin deg-degan, karna kitanya kroco alias ban serep diminta menggantikan pak Bos. Hehehe.

Ketempuan harus bergaya, padahal paling males terlalu formal. Walhasil sejak malam saya sibuk cari kemeja batik resmi lengan panjang, kemeja yang lama tak saya pakai, menyemir kembali sepatu pantofel yang lama tak dicolek, dan pagi harinya terpaksa untuk mengendarai mobil pagi-pagi ke kantor client, sedangkan saya sudah terbiasa dimanja kenyamanan naik motor abang GoJek. Komplit sudah, saya jadi agak kikuk.

Drama kekikukan itu akhirnya bisa diminimalisir setelah saya kembali teringat bahwa saya ini sebenarnya hanya menunaikan “fungsi” saya dalam drama kehidupan ini.

Kata orang bijak, berbakti pada Tuhan Lewat menjalankan peran di kehidupan. Hidup dalam mentalitas “membantu” orang lain lewat peranan masing-masing.

Abraham Maslow, di akhir masa hidupnya mengatakan bahwa puncak pendorong aktivitas atau tindakan manusia itu bukan “aktualisasi diri” melainkan “transendensi diri”.

Transendensi, maksudnya kita berlepas diri dari keinginan-keinginan pribadi, dan kita hidup untuk lebih “mengabdi”.

Mengabdi, ini contohnya sudah banyak sekali. Banyak sekali orang-orang yang berada di puncak karir mereka, kemudian menjadi spiritualis, dan hidup untuk membantu orang lain. Misalnya berderma, sedekah, macem-macem.

Yang menariknya, mengabdi lewat membantu itu tak hanya bisa dilakukan lewat aktivitas yang secara nyata bisa ditafsirkan “membantu”, melainkan bisa dilakukan lewat peranan masing-masing.

Bahkan pekerjaan sehari-hari yang kita lakoni juga bisa punya nilai lebih jika kita menjalaninya dalam mentalitas “mengabdi”.

Jadi dalam kikuk pagi tadi, saya menyadari kembali bahwa mesti ada kebaikan dalam takdir yang menghantarkan saya agar ikut meeting, meskipun hanya ban serep. Dan mesti ada porsi dimana saya bisa berbagi manfaat buat orang lain, “mengabdi” pada Tuhan lewat menjalankan fungsi saya dalam peran sebagai peserta.

Walhasil dalam diskusi tadi kesempatan untuk menyampaikan pendapat mengalir dengan ringan. Dan secara subjektif saya rasakan tertakdir membagikan manfaat dari secuplik pengetahuan yang saya pernah baca mengenai repetisi, dan kaitannya dengan bagaimana mengubah habit dalam dunia industri. Alhamdulillah. Karena hanya menyadari menunaikan peran pengabdian.

Senada dengan ini saya temukan kebijakan dalam sloka Bhagavad Gita, secuplik dari kisah Mahabarata. Salah satu jalan untuk menemukan kesejatian diri adalah dengan “bekerja”, menunaikan peran hidup dalam mentalitas pengabdian.

Kita sudah mafhum bahwa peribadatan yang tekun bisa menjadi jalan. Pembelajaran lewat khasanah keilmuan bisa menjadi jalan. Olah spiritual bisa menjadi jalan. Tetapi menarik sekali menyadari bahwa “pekerjaan” juga bisa menjadi jalan.

Snapshot Jakarta tadi pagi

BELAJAR MENGABDI LEWAT BELADIRI

Menyadari bahwa badan sudah tidak terlalu fit sebagaimana zaman muda belia dulu, ditambah lagi sekarang di kantor jarang bergerak, badan jadi makin tambun, saya memutuskan untuk kembali rajin olahraga. Kebetulan ada kelas Muay Thai di gym dekat rumah, ikutlah saya kesana.

Jadi teringat terakhir saya ikut beladiri waktu masih jaman kuliah dulu, gandrung-gandrungnya ikutan kungfu. Tapi sekarang ini setelah punya dua anak agak beda. Bukan masalah beladirinya, tapi masalah gelora di dalam hatinya. Sekarang ini olahraga atau latihan beladiri berasa santai saja. Kalau dulu menggebu sekali.

Saya ingat dulu waktu kuliah, malam-malam saya sering pergi ke tanah lapang sekedar mengulang-ngulang jurus. Kadang-kadang pagi-pagi lepas subuh. Pergi ke tempat-tempat yang jauh dilakoni buat latihan.

Kalau saya renungi, apa yang dulu saya kejar ya?

Merasa diri kurang, lalu belajar beladiri karena ingin menjadi lebih kuat. Setelah belajar, ingin lebih lagi maka latihan diperbanyak lagi. Sampai setelah banyak latihan dan bertahun belajar baru menemukan titik dimana makin belajar makin bodoh, makin tahu bahwa di atas kita begitu banyak orang-orang yang lebih hebat lebih luar biasa. Akhirnya niatan belajar yang karena ingin menjadi kuat….pelan-pelan sirna.

Sampai setelah lama saya tak pernah olahraga lagi, sekarang-sekarang baru tergerak kembali.

Awalnya karena keteteran dengan ritme kerja di kantor yang semakin hari semakin sibuk. Badan dituntut untuk siap dengan rutinitas yang klise dan menjemukan tetapi menguras energi. Walhasil seringkali di rumah hanya tinggal sisa tenaga. Saya fikir-fikir, wah…..ini badan harus lebih fit.

Kalau kurang fit bagaimana mau menunaikan tugas bekerja, bagaimana membagi waktu pada keluarga? Maka kembali menyeruak keinginan untuk olahraga dan latihan beladiri kembali.

Setelah berapa minggu berlatih dan kembali berasa agak segar, baru saya menyadari bahwa beladiri ini sebenarnya miniatur kecil kehidupan.

Umpamanya beladiri dianggap kehidupan keseharian kita, maka banyak diantara kita berlatih berlatih berlatih berlatih berlatih berlatih kesana kesini tanpa tahu mengapa. Lalu di ujungnya baru sadar, apa yang saya cari ya?

Setelah lama grasa grusu, baru kita menemukan jawaban.

Setelah menemukan jawaban, maka kembali kita berkecimpung dalam hidup dengan niatan yang sama sekali baru. Sama-sama bekerja, tetapi beda makna.

Kalau dulu ingin jadi lebih, ingin ada di puncak…….maka setelah dewasa keinginan keinginan itu bergeser lebih matang jadi niatan untuk membantu, niatan untuk berbagi, niatan untuk mengabdi.

Baru saya paham, orang-orang arif sering bilang hidup dalam “pengabdian”. Rupanya itu maksudnya.

Ya misalnya itu tadi, belajar beladiri karena pengen lebih fit, agar tugas tertunaikan dengan baik. Rupanya bisa dimaknai…

Saya baru menyadari, wah…..kalau dimaknai dengan tepat ini bisa jadi pintu masuk agar hidup dalam konteks pengabdian rupanya. Mengabdi pada Tuhan lewat menunaikan tugas kepala keluarga, dimana fit-nya badan dijaga lewat olahraga. Bisa begitu rupanya.

Atau bisa juga begini. Hidup dalam kesyukuran. Saya sangat menikmati melihat dan mempelajari keindahan seni gerak dalam beladiri. Baru sekarang-sekarang ini saya memahami bahwa seni gerak dalam beladiri juga bagian dari cantiknya ilham-ilham DIA yang diberikan pada manusia. Jadi menekuni beladiri, bisa jadi pintu untuk bergelut di padepokan kesyukuran.

Belajar hidup dalam pengabdian dan dalam kesyukuran ini yang memang sering sangat terlupakan. Utamanya yang saya rasakan sangat sulit adalah karena kita dibelit rutinitas pekerjaan.

Maka kadang-kadang kalau pekerjaan sudah terlalu membebani, dan kita seperti berlomba dengan target-target, dengan rasa ingin tampil, dengan persaingan-persaingan. Saya kembali teringat dengan miniatur hidup dalam dunia beladiri itu. Bahwa setelah berlatih terus, yang akan kita temukan sebenarnya hanyalah fakta bahwa di atas langit ada langit. Dan tak ada yang lebih pantas untuk dikalahkan selain dari diri kita sendiri.

Salah satu cara terbaik mengalahkan diri sendiri bagi saya antara lain memraktekkan hidup dalam pengabdian dan dalam kesyukuran. Lewat hal-hal kecil yang kita maknai kembali.


*) gambar Ilustrasi courtesy google image.. Saya lupa link-nya

SEJARAH BERULANG, DAN LAUTAN PELAJARAN

History repeats. Kata orang bijak. Sejarah berulang.

Dahulu saya tak seberapa percaya dengan kekata itu, sampai mengalami sendiri.

Satu contoh, misalnya pola pengasuhan masa kecil kita tanpa kita sadari kadang-kadang sering secara refleks kita terapkan ke anak kita. Cara kita menghadapi masalah seringkali juga sama dengan cara orang tua kita menghadapi masalah. Konflik di kantor misalnya, ternyata merupakan konflik yang dulu pernah terjadi dengan pola yang mirip. Kejadiannya beda tapi temanya mirip.

Kehidupan rumah tangga kita kok sepertinya sama dengan kehidupan rumah tangga orang tua kita? Problemnya, konfliknya.

Dalam skala global juga misalnya, Dinasti-dinasti kerajaan mengalami persatuan yang solid, lalu batas-batas kerajaan meluas saking makmurnya. Lalu tidak lama kemudian menjadi stagnan dan bergelimang kemewahan lalu hancur. Polanya selalu begitu. Itu kata Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah [1]

Di dalam Qur’an juga disampaikan kisah kaum-kaum terdahulu. Karena history repeats. Polanya berulang.

Saya dulu memaknainya sebatas “eh beneran bahwa history repeats, sejarah berulang….” sampai suatu hari seorang arif mengajarkan lebih tinggi lagi, bahwa tak cuma sejarah berulang, melainkan “Tuhan mengajari kita lewat kejadian-kejadian hidup. Kalau kita PEKA, maka kita akan melihat polanya dan kita belajar tentang sesuatu dari sana”

Dan sejarah itu diulang-ulang terus sampai manusia belajar. IQRO. Baca, belajar, Kalau kita baca sejarah akan kelihatan kalau polanya mirip-mirip. Kita harus belajar dari repetisi itu.

Hanya saja, tingkat “kedalaman” manusia belajar berbeda-beda. Ada yang belajar sebatas hal-hal yang nampak di permukaan. Ada yang lebih dalam lagi.

Pepatah bilang, jangan sibuk dengan dedaunan tetapi carilah akarnya. Ini perlambang mengenai mengenali gejala-gejala yang nampak di permukaan vs akar masalah sebenarnya yang menimbulkan gejala terjadi.

Sebagai contoh, seseorang terlihat pundaknya kaku dan tegang. Cara mengatasinya barangkali kasih balsem aja di pundaknya. Tetapi itu hanya mengatasi gejala di permukaan. Barangkali, masalahnya adalah karena dia stress sehingga pundak menjadi kaku dan tegang. Selama akar masalah tidak diatasi, maka dedaunan gejala bisa muncul berulang.

Dedaunan gejala di permukaan itu Allah takdirkan secara ritmis berulang terus sampai manusia mengambil pelajaran. Ooooh sebenarnya akar masalahnya ini toh. Lewat perulangan-perulangan itu, kita “diajari”.

Belajar mengamati bagaimana Allah mengajari. Ooohh masalah yang saya hadapi sekarang ini sebenarnya perulangan dari masalah yang dihadapi orangtua saya dulu, misalnya. Hanya saja dulu masalah ini diatasi secara keliru, hanya membahas gejala, tetapi tak sampai di akarnya. Maka tugas generasi sekarang untuk belajar.

Menarik sekali. Rekan-rekan bisa mengamati kehidupan sendiri, dan perhatikan bahwa repetisi sejarah terjadi dimana-mana. Kita hidup dalam lautan pelajaran.


[1] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Historic_recurrence?wprov=sfti1

MENCARI RAHMAT DALAM ROTI, SUSU JAHE, DAN TUKANG PARKIR

Sore-sore sekitar limabelas menit sebelum jam pulang kantor, saya keluar kantor menuju warung waralaba yang sedang marak sekarang ini. Tak ada hal yang penting-penting amat untuk dibeli sih, cuma beli roti pengganjal perut. Tetapi sengaja saya sempatkan waktu untuk menghirup aroma sore, menyeruput sedikit matahari yang hangat selepas ashar. Sebuah rahmat yang jarang saya nikmati.

Sekarang saya senang mencari momen-momen untuk menikmati rahmat. Sesederhana Momen jalan kaki dari kantor ke warung di sore hari. Atau sesederhana naik motor dari rumah menuju angkringan tempat jual susu jahe di malam hari. Ternyata nikmat sekali.

Tentang hal ini, saya ada cerita. Jadi kemarin malam saya keluar niatnya mau beli susu jahe. Sebelum mampir ke angkringan saya stop dulu di Indomar*t mau beli obat flu. Setibanya di parkiran pandangan saya tertumbuk pada lelaki gempal yang meniup peluit, otomatis saya membatin kesal, yah……..ada tukang parkir lagi.

Dalam hati saya langsung mengingat-ingat di saku mana saya simpen uang receh, sembari agak males karena kadang saya rasa tukang parkir ini cuma muncul pas mau ambil bayaran aja.

Saya parkir. Lalu melangkah mau masuk ke toko. Sejurus kemudian motor saya yang sedang diparkir itu berjalan mundur ke arah jalan raya. Karena rupanya saya parkir di area yang kurang rata. Saya langsung kaget bukan kepalang, dan tebak siapa yang menyelamatkan motor saya? Tukang parkir yang tadi saya grundelin dalam hati. Hehehehehe. Dengan cekatan dia menyelamatkan motor saya.

Walhasil saya urung kesal pada beliau. Dan saya berikan uang parkir dengan sigap. Inilah akibatnya kalau suka grundelin orang. Hehehehe.

Pelajarannya, saya rasa adalah untuk meluaskan persepsi kita -utamanya saya- tentang rahmat. Rahmat hadir dalam benda-benda, dalam momen, dan bahkan berupa orang-orang yang selama ini ada di sekitar kita tetapi kita luput menyadari mereka.

Kenapa luput? Saya rasa salah satunya karena cara pandang. Terlalu menganggap hidup ini kompetisi dan orang lain dianggap mengancam eksistensi kita.

Betapa cara pandang bahwa hidup itu adalah rahmat, penting banget.

Tanpa kesadaran bahwa jalan sore beli roti dan naik motor malem ke angkringan adalah rahmat, saya sering luput untuk memancing kesyukuran mekar dalam hati saya.

Dan dari tukang parkir, saya diajari menyadari bahwa orang-orang di sekitar kita pun rahmat.

Ada cerita lagi tentang ini. Jadi sewaktu saya awal-awal kerja kantoran di bidang Service Migas, saya memandang kompetitor itu sebagai semata-mata lawan bisnis. Sampai pandangan itu saya harus koreksi sendiri ketika dalam banyak sekali kesempatan Perusahaan saya malah membeli barang dari kompetitor. Atau bahkan meminjam barang dari kompetitor. Lho ini lawan kok malah ditemani? Saya kan bingung.

Seorang rekan saya yang kebetulan mengambil Master Degree di bidang bisnis menjelaskan pada saya bahwa teori marketing yang modern tidak lagi memandang persaingan sebagai kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan kompetitor malah dijadikan teman kolaborasi. Sebuah pendekatan baru.

Disini saya tiba-tiba terfikir. Inilah jangan-jangan yang dimaksud Qur’an bahwa dijadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal mengenali.

Nilai-nilai masyarakat di masa dahulu sekali, menganggap bahwa perang antar kabilah, antar kerajaan adalah hal lumrah. Perlahan-lahan manusia modern bergeser dan melihat bahwa kerjasama antar negara lebih baik ketimbang perang.

Inilah sebenarnya kita hidup dalam lautan rahmat. Tetapi sering kita luput mengamatinya. Karena kita tidak belajar tentang orang lain. Tidak mengenali mengapa mereka berbeda. Dan yang utamanya kita mengira rahmat itu hanya berupa benda, atau momen-momen bahagia. Padahal keragaman dalam hidup ini rahmat juga.

Dalam orang-orang yang berbeda-beda dan seliweran di hari kita.