KEMATIAN WOLVERINE DAN SPIRITUALITAS

Lelaki itu terbujur dengan luka pada dadanya. Sebuah kayu menembusi jantungnya. Disela-sela darah merembesi pakaiannya, mukanya yang tua dan letih itu menatap seorang perempuan kecil di depannya. Lalu sepatah kata diucapkan laki-laki itu sesaat sebelum kematiannya, “ternyata begini rasanya”.

Yang saya ceritakan barusan itu, Cuma kejadian dalam filem, hehehe. Sekali-kali nulis resensi filem. Tepatnya film wolverine alias “logan”, mutant terkenal dengan cakar besi adamantium-nya itu.

Ceritanya, Logan seumur hidupnya dihabiskan dengan pertarungan dan bunuh membunuh, lari dari satu tempat ketempat lainnya, ditinggalkan oleh teman-teman terdekatnya, dan memandang kehidupan dengan kacamata yang begitu buram karena baginya siapapun orang-orang dekatnya pasti selalu berakhir dengan tragis. Sehingga dia belum pernah hidup dalam kedamaian sebuah keluarga.

Pada akhirnya dia merasakan seperti apa itu keluarga, setelah di awal-awal cerita dikisahkan bahwa seorang anak perempuan lahir dari bayi tabung, rekayasa genetika yang tanpa sepengetahuannya diambil dari DNA Logan. Yang berarti secara genetis itu anaknya, meski dia sendiri baru tahu sekarang.

Lalu Logan yang bengis dan menghabiskan hari dengan memblokade semua bentuk cinta dalam jiwanya itu, mesti luluh juga, karena pada akhirnya dia merasakan cinta sebagai seorang ayah yang mengorbankan nyawanya sendiri untuk anak yang baru dikenalnya setelah dewasa.

itulah yang dia maksud dengan “ternyata begini rasanya” saat dia menemukan “rasa sayang” dan damai dengan mencintai anak perempuannya, meski dia sendiri mati terbunuh.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa Logan menemukan bentuk kebahagiaan itu di penghujung usianya. Setelah dia melepaskan blokade emosi yang dia buat sendiri.

Bahwa manusia memang butuh mencintai, dan dia menemukan kehangatan sebuah “keluarga” meski jalan yang ditempuh berdarah-darah dan penuh tangis dan tragedi.

Usai menonton filem ini, meski tahu semua ini fiksi, tak urung saya berfikir bahwa “eh….. tinggal kurang sedikit saja lagi, maka Logan ini jadi spiritualis lho….hehehehe.”

Perhatikan bagaimana dia menemukan “makna” dari kasih sayang dan keluarga, di penghujung nafasnya.

Betapa saya suka trenyuh menikmati tulisan atau cerita tentang pesan orang-orang yang sudah hampir sampai di penghujung usianya. Mereka rata-rata menyampaikan pesanan yang serupa.

Bahwa hidup Cuma sebentar. Bahwa yang dicari-cari mati-matian ternyata tidak dibawa pulang. Bahwa sebenarnya kehidupan ini dalam segala perniknya hanyalah medium untuk menemukan makna yang sudah ditanam dalam jiwa kita sendiri.

Sudah berapa triliun manusia hidup di dunia? sudah berapa banyak pesanan dari para Arif? tetapi tak urung setiap manusia menemukan makna hidup sendiri-sendiri.

Misalnya, dalam jiwa kita sendiri sudah ada “rasa kasih”. Tapi toh kita tidak menghargai sebentuk kasih itu, tanpa kita menemukan realitanya di dunia zahir ini.

Saat kita melihat peperangan, melihat anak-anak terluka dan berdarah-darah, baru kita menyadari ada sebuah makna yang bernama “kasih” di dalam relung jiwa kita. Sebuah makna yang enggan muncul tanpa kita menemukan kepingan makna itu dalam realitas sehari-hari.

Tinggal selangkah lagi, setelah kita tahu bahwa seluruh dinamika hidup ini adalah untuk mendefinisikan makna dalam hati kita sendiri; maka di atas itu adalah pemaknaan bahwa semua makna-makna itu tak lain tak bukan untuk menceritakan Sang Pembuat kehidupan itu sendiri.

Jadi sesuatu yang semakin dalam, semakin dalam.

Teringat seorang rekan pernah bertanya pada saya mengenai Neraka-Syurga. Maksud pertanyaan beliau saya paham, bagaimana menemukan konteks yang harmonis antara pemahaman para arif yang seolah menafikan Syurga-Neraka, dengan fakta bahwa dalil Syurga-Neraka itu tak alang kepalang banyaknya di Qur’an dan hadits.

Saya merenung sebelum menjawab, dan mengingat bahwa dulu sekali saya mengalami kebingungan serupa. Sehingga menuliskan jawaban ini seolah menulis ulang renungan perjalanan saya sendiri.

Imam Ibnu Qayyim, kalau saya tak khilaf, adalah beliau yang mengatakan bahwa Khauf (takut) dan Roja’ (pengharapan) adalah sepasang sayap. Dua-dua mesti ada. Jika ada salah satu saja, maka tidak akan imbang.

Tangga pertama, bolehlah kita maknai takut dan harap adalah takut pada neraka, harap akan syurga; maka kita beramal, Itu sudah Ok

Tangga berikutnya ada lagi, kita menyadari bahwa bukan amal kita memasukkan kita ke syurga, bukan amal kita menyelamatkan dari neraka

“Tidak ada seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya.” Dikatakan: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat padaku.” (HR. Muslim: 5037)

Maka kita tetap beramal seperti biasa, tapi the way we look into amal, cara kita memaknai amal; berbeda. Khauf dan roja bukan lagi pada benda. Tetapi pada Allah. Semacam rasa tak enak hati dan ngeri padaNya. Dan semacam rasa  meminta yang manja padaNya.

Sudah naik setingkat

Lalu di atasnya lagi. Adalah golongan orang-orang yang menikmati suasana “ingat” itu. Melampaui harapan dan takutnya

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Bagaimana mungkin kita bisa sampai pada kedudukan tidak meminta / memohon? seperti dalam hadits itu?

Tak akan bisa kita sampai kesana tanpa melalui jatuh bangun meminta dan memohon. Sampai kita didudukkan pada kondisi dimana kita tak sibuk minta dan mohon lagi. Melainkan “menonton”. Seperti menonton drama

Tapi setiap tingkatan ada adabnya sendiri-sendiri.

Dalam tanda kutip, tak penting untuk sampai ke atas segera. Karena tak mungkin sampai ke atas tanpa dibanting-banting ujian hidup.

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani: berpuas hatilah pada apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu

Ada satu paradoks. Orang-orang menginginkan kelebihan dan karomah seperti yang dipunyai para arifin dan para wali. Lalu Allah hantarkan orang itu sampai pada posisi para wali. Lewat ujian dan hantaman hidup.

Lalu sampailah dia pada posisi para wali.

Tetapi setelah dia sampai, kelebihan-kelebihan dia punyai, dia baru sadar sekarang “dirinya” yang tak ada.

Kita tak bisa sampai ke atas, bersamaan pula dengan masih ada “diri kita”. Kita dihancurkan sampai tak bersisa. Baru sampai kita kesana.

Jadi “tak penting” mencapai maqom yang mana untuk mencapainya pun kita dibanting-banting hidup.

Yang pokok adalah mendekatiNya dengan sebaik-baiknya. Dan berbuat kebaikan pada sekeliling. Nanti kepahaman akan menanjak sendiri.

Karena kita sudah ada dalam rel kehidupan masing-masing, tinggal pada rel kita sekarang ini, pelajaran-pelajaran hidup ayo kita serap dan maknai. Iqro’…dibaca…..Ini lho…..hidup kita yang sekarang ini. Bukan hidup yang lain.


*) Ilustration images taken from this source

APAKAH KEHIDUPAN HANYA UNTUK KEHIDUPAN ITU SENDIRI?

Menarik sekali mengetahui sebuah fakta bahwa perusahaan raksasa sekelas Fuji Film harus banting setir menjadi perusahaan kosmetik. Industri kamera analog dan kamera film semuanya goyang atas serbuan era digital. Termasuk perusahaan Fuji Film berada diambang kehancurannya.

Tetapi Shigetaka Komori, CEO Fuji Film melihat celah untuk mempertahankan perusahaan tersebut, dengan cara banting setir jadi perusahaan kosmetik.

Pada awalnya saya pun bingung juga kenapa jadi perusahaan kosmetik? Ternyata alasannya adalah karena sepanjang kejayaan masa lalu fuji film dengan kamera analog dan film seluloid, mereka sudah melakukan riset puluhan ribu bahan kimia yang berhubungan dengan visualisasi dan warna. Itulah yang kelak akan digunakan dalam industri kecantikan. Dan akhirnya sukses.[1]

Teringat saya dengan salah satu quote masyhur dari Winston Churcill “To improve is to change; to be perfect is to change often.”

Tentang perubahan inilah ternyata yang menjadi benang merahnya.

Mengenai resistensi terhadap perubahan ini saya paham sekali. Karena secara psikologis saya adalah orang cenderung nyaman dengan apa yang sudah ada. Saya malas sekali untuk perubahan-perubahan yang tak tertebak.

Saya kuliah di Geologi. Selepas kuliah saya bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor migas yang sedikit sekali kaitannya dengan geologi. Saya sempat kecewa juga dengan perubahan itu, tetapi setelah bisa memaklumi dan menerima; saya temukan bahwa pekerjaan saya yang lebih berkaitan dengan engineering ini ternyata menyenangkan juga dan memberi kesempatan melihat berbagai-bagai belahan dunia.

Selang berapa lama, saya berkutat dengan engineering, ditempatkanlah saya pada bagian service quality dan process. Satu hal yang sama sekali tak terkait dengan engineering.

Tetapi, ternyata di tempat baru ini saya berkesempatan belajar memandang sesuatu dalam bingkai yang lebih besar. Melihat keseluruhan proses berjalan. Melihat lewat pandangan yang lebih besar. Bigger picture istilahnya.

Itu semua, adalah perubahan yang fisikal. Akan tetapi, baru saya sadari bahwa perubahan pada tataran fisikal sebenarnya hanya jalan menghantarkan perubahan dalam jiwa. cara pandang.

Dalam spiritualitas pun analog dengan itu. Perubahan di dalam jiwa, pada cara pandang, juga sangat penting adanya. Perubahan cara pandang yang lebih spiritual ini seringnya tak kita mengerti karena dia adalah sesuatu yang abstrak. Yang di dalam jiwa.

Sampai-sampai dalam literatur tasawuf dikenal istilah “abdal” atau pertukaran. Pertukaran paradigma. Seseorang menjadi memandang hidup dengan paradigma yang lebih tinggi, lebih mature.

Perubahan paradigma biasanya jarang orang miliki tanpa perubahan pada tataran fisiknya dulu. Keseluruhan perubahan dan ujian dalam tataran fisik yang kita alami, sebenarnya hanya medium saja untuk menghantarkan pada perubahan paradigma.

Berapa waktu lalu saya menghadiri acara buka puasa di TK anak saya. Kebetulan ada sesi parenting di awal-awal sebelum buka puasa. Dijelaskan di sana, untuk anak usia 7 tahun pertama, yang perlu diajarkan kepada mereka adalah “cinta”. Ibadah dijadikan sesuatu yang “memorable” karena mereka suka.

Kita bisa “memaksa” anak usia 7 tahun pertama agar rajin sholat dan rajin puasa penuh. Tetapi dengan paksaan, hanya akan bertahan sampai usia mereka baligh, beranjak dewasa mereka akan berontak, tak lagi bisa dipaksa.

Akan tetapi, jika ibadah dikaitkan dengan sesuatu yang membekas dan penuh cinta, maka mereka akan mengenangnya. Maka sholat tarawih biarlah mereka bermain-main, jika dengan bermain-main sambil sholat tarawih itu membuat kenangan yang mendalam dan emosional buat mereka. Tarawih menjadi sesuatu yang cantik di mata mereka. Puasa menjadi seru karena ada jajanan dan banyak makanan. Ketika cinta sudah tumbuh, maka lepas tujuh tahun pertama dilanjutkan dengan tujuh tahun kedua mengenai kewajiban dan punishment. Tapi bekal cintanya sudah ada.

Seketika saya teringat dengan approach-nya para arif. Mengakrabi Tuhan dengan cinta. Ternyata praktis kok dalam keseharian sering mirip-mirip dengan yang sudah kita lakukan.

Barangkali kita susah mengerti bahasan mengakrabi Tuhan dengan cinta ini, karena kita sudah kadung terbiasa memandang Tuhan pada sisi JALAL-Nya semata-mata. Dan kita; kebalikannya dari ilustrasi fuji film; kita malah enggan berubah paradigma.

Perubahan pada tataran fisikal kita terjadi terus, muda ke tua, ganti tempat kerja, pindah rumah, dan macam-macam. Tetapi kita lupa bahwa goal dari semua perubahan itu sebenarnya menghantarkan kita ganti paradigma.

Hidup kita dibanting-banting. Kita bertanya, kenapa? kenapa begini? Lalu kita belajar aspek syariat agama, tetapi jarang menyentuh sisi spiritualnya, esoterisnya.

Spiritualitas islam, bukan sesuatu yang angker dan mistis ternyata. Dia menghantarkan kita pada cara memandang kehidupan itu.

Atau buanglah nama….. lalu perhatikan kehidupan yang berganti-ganti dan penuh warna ini. Apakah kehidupan ini hanya untuk kehidupan itu sendiri? Bukan…tentu bukan….

Berganti-gantinya cerita adalah sebuah niscaya. Karena tujuannya adalah sebenarnya mendewasakan pandang kita.

Dari kedewasaan pandangan itulah kita akan bertemu dengan maksud para arif, bahwa hidup ini sebenarnya DIA bercerita tentang DIA sendiri.

References :

[1] https://www.google.co.id/amp/reportasenews.com/fuji-film-selamat-dari-kebangkrutan-dengan-produk-kosmetik/amp/
Image sources

PESANTREN, MAKAN, DAN MASUK LEBIH DALAM

mosque3Bulan puasa begini, teringat sewaktu SMA saya dan rekan-rekan berkunjung ke salah satu pesantren di Bengkulu. Pesantrennya rindang, di depannya ada sebuah telaga besar dengan teratai begitu banyak. Pematangnya dijaga oleh akar-akar pokok kelapa. Masjidnya terletak di atas dataran yang lebih tinggi sedikit seperti bukit. Lalu dari puncak bukit itu lihatlah ke bawah sembari mendengar azan maghrib.

Segala sudut pesantren itu memorable buat saya dan rekan-rekan. Meski kami mengunjunginya sebentar saja.

Tapi satu hal yang juga terkenang bagi saya adalah sewaktu sholat berjamaah disana. Bacaannya ringkas saja, kulhu, falaq, atau an-nas. Akan tetapi tuma’ninah terjaga. Sepanjang apa berdirinya; sepanjang itu pula rukuknya; sepanjang itu pula sujudnya. Oh….satu bagian sunnah tersadarkan kembali pada saya, yaitu tuma’ninah.

Banyak momen dimana saya tersadarkan bahwa sunnah kebaikan bisa bersembunyi pada bentuk-bentuk yang samar, saking samarnya kita tak tahu itu baik, sehingga kita sering luput. Oh…. Baru nyadar. Hal ini juga kebaikan.

Misalnya ….petuah seorang guru SMA, saat kami antri mengambil wudhu di sekolah. Alih-alih menjalankan sunnah tiga kali basuhan dalam setiap bagian wudhu, kami malah dianjurkan untuk sekali saja. Apa pasal? Pasalnya antrian begitu panjang.

Tiga kali basuhan itu sunnah, tetapi memberi ruang untuk antrian panjang rekan-rekan berwudhu dengan waktu yang sempit karena jam istirahat sekolah terbatas; juga “kebaikan” dalam bentuknya yang lain.

Saya teringat dengan ini lagi, karena musholla kantor kami yang lumayan kecil. Jika puasa begini, antrian membludak. Apalagi pas ashar, karena mengejar waktu pulang. Hehehehe. Maka menghabiskan diri berzikir dalam musholla tentu bagus, tapi segera keluar setelah tunai sholat agar rekan lain berkesempatan masuk musholla; adalah juga “kebaikan” dalam bentuknya yang lain.

Dalam memahami bentuk-bentuk kebaikan ini, seseorang bisa menggunakan analisa “fikih”. Misalnya secara fikih, ketika makanan sudah terhidang, dan waktu sholat sudah masuk maka dahulukan makan, setelah makan baru sholat.

Ada kebaikan bersembunyi pada sesuatu yang kita kira “kalah baik”. Kita baru memahami bahwa sesuatu yang kita kira “kalah baik” itu tadi sebagai “kebaikan yang setimbang” atau bahkan lebih baik, setelah disingkapkan oleh fikih.

Ya misalnya itu, dalam konteks tertentu, “makan dulu sebelum sholat itu preferable lho”. Berdasarkan fikih.

Akan tetapi yang menarik. Setelah kita mengerti batasan-batasan fikihnya, sesuatu itu juga bisa kita maknai lebih dalam, lewat spiritualitas islam. Menikmati sisi esoteris agama.

Misalnya, dalam fikih kalau bepergian boleh jamak. Dulu saya memaknainya sebagai “ah saya masih kuat ni sholatnya ga dijamak ga diqasar.” Seolah-olah jamak dan qasar itu kalah baik dibanding sholat kumplit; padahal sedang bepergian.

Kemudian baru tersadar bahwa saya keliru, setelah memerhatikan seorang arif yang selalu jamak di saat dia bepergian jauh. Jika kebiasaan beliau adalah puasa sunnah hari-hari, maka ketika bepergian jauh beliau berbuka.

Apa alasannya? Pertama tentu fikih membolehkan. Kedua bahwa jamak dan qasar dinilai sebagai hadiah dari Tuhan. ini saya ga kepikiran lho.

Seandainya kita beribadah, tarolah “mengharap balasan” dari Allah, tetapi kita melupakan bahwa disuruh meringkas sholat saat bepergian jauh itu juga “pemberian” dari Allah. Jamak dan Qasar diketahui lewat batasan-batasan fikih, lalu dimaknai sebagai bentuk terimakasih pada Allah; lewat kajian spiritualitas. Ini kan joss sekali.

Memaknai dari sisi esoteris ini lho, yang mesti belajar dari yang ngerti. Karena approach-nya memang rada-rada unik. Karena unik, orang sering menabrakkan ini dengan fikih. Padahal sejalan lho. Esoteris itu menajamkan makna, fikih itu bentukan luarnya.

Ada cerita. Jadi pernah saya merasa kesal juga dengan pembagian gaji dari kantor. Kok ya yang lebih muda mendapatkan yang ditotal-total sama persis bahkan lebih dari saya? Ini mesti suatu kekeliruan. Karena jabatan tinggi saya, dan wewenang tinggi saya. Tetapi kondisi market yang sedang susah tidak berpihak pada saya, karena promosi mesti ditunda. Ini kan ngeselin ya?

Nah… saya memandang sisi baik dari kejadian ini bisa lewat macam-macam sudut. Bisa begini….”ini pasti ada hikmahnya”. Atau bisa begini….”sudahlah rejeki tak akan tertukar”. Atau begini, “yang sudah terjadi mesti takdir”. Atau bisa begini….”yang sabar disayang Tuhan”. hehehe…

Itu semua bagus. Tetapi kalau mau masuk lebih jauh secara spiritualitas, maka saya harus mulai berbenah, dan menyadari yang lebih dalam lagi.

Bahwa bukan saja itu takdir dan berhikmah, melainkan semua ini af’al-Nya (perbuatan-Nya). Karena semua ini af’al-Nya, maka kesal terhadap junior, atau kesal terhadap bos, atau menyalahkan kondisi market menjadi tak relevan lagi. Karena semua tunduk dalam af’al-Nya.

Af’al-Nya, itulah menceritakan makna yang kita kenal dengan sifat-Nya dalam asmaul husna. Jadi bukan tentang gaji saya, melainkan tentang cerita DIA.

Tetapi seorang guru[1] mengajarkan yang lebih dalam lagi bahwa af’al itu ; DIA buat atas dzatNya sendiri. Karena dalam pandangan spiritualitas islam, tak bisa af’al-Nya disini dan dzat-Nya disana. Atau ilmuNya disini dan dzat-Nya disana. Karena ESA. Tapi mesti betul-betul dipahami agar tak keliru mengira Tuhan sama dengan makhluk-Nya. Dan bagian ini monggo langsung ke pakarnya saja, saya bukan ranahnya.

Jadi memang seperti kebaikan yang berubah-ubah bentuk. Pemahaman pun memiliki tangga-tangga yang berjenjang. Dipagari oleh fikih / syariat, lalu menjadi “dalam” dengan pemaknaan spiritualitas-nya.

::

©debuterbang


[1] Ust. H. Hussien Abd Latiff

*) Image sources taken from here

MENIKMATI DO’A

Pernahkah rekan-rekan takut berdo’a? Kalau saya pernah. Bukan takut, tapi pemahaman saya dulu keliru mengenai do’a. Seolah-olah kalau berdo’a maka saya menciderai adab pada Tuhan; kepada Allah kok minta hal-hal remeh yang duniawi. Begitu pemikiran dulu. 
Setelah mempelajari spiritualitas islam, baru saya mengerti fakta bahwa dengan do’a-lah maka kita -istilahnya saja- memberikan hak RububiyahNya. HakNya-lah untuk “dipandang” sebagai Yang Maha Memberi. 

Seorang guru yang arif [1] menjelaskan tiga tingkatan manusia dalam menghadapi ujian hidup:

Pertama, saat ada ujian maka ia berdo’a. 

Kedua, saat ada ujian ia berpasrah saja. 

Ketiga, saat ada ujian ia “tak peduli”. 

Dari contoh di atas kita melihat bagaimana ada tiga sikap menghadapi ujian hidup. Tergantung konteks saat itu. 

Orang yang “butuh”, dan lewat kebutuhan hidup itulah dia menemukan rasa fakir pada Tuhan, dan dapet “feel”-nya bahwa Tuhan Maha Memberi, Menolong, dst…… maka dia berdoa sebagai caranya menzahirkan “HAL” atau “feel”-nya itu. Maka itu baik baginya. 

Ada tingkatan lainnya, yaitu orang yang dalam “butuh”-nya, dia sudah pasrah saja. Terserah kemana angin berhembus. Sepanjang saya amati, tingkatan ini adalah bagi orang-orang yang sudah berulang-ulang dibanting kehidupan. Sampai dia “pasrah”. 

Tingkatan lainnya. Adalah tak lagi melihat pada ujian. Maka pada ujian; dia ora urus. 

Bagaimana cara mengetahui pada adab yang mana kita berada? Ternyata simple….caranya adalah secara jujur mengakui “feel” yang datang pada kita. 

You cannot deny the feel. Kita tak bisa menyangkal “feel” yang datang. 

Seandainya ada ujian dalam hidup. Lalu rasa gelisah dan takut menyambangi. Tunggangi rasa takut itu untuk berdoa. Agar kita menyesapi fakta bahwa DIA maha pelindung. Saat ada feel seperti itu, maka itulah konteks kita berakrab padaNya. 

Musa berdoa meminta dimudahkan lisannya dan agar Harun menjadi rekanan beliau. Nabi zakariya berdoa minta keturunan. 

Kita tak bisa pura-pura pasrah, tapi hati didatangi feel gelisah. Rugi. Karena gelisah urung bertransformasi menjadi sikap butuh padaNya. 

Tingkatan pasrah dan ora urus, akan kita ketahui sendiri kelak saat ada ujian tetapi kita mendapatkan “feel” yang adem tentrem saja. 

Berarti sesuatu yang harus zahir dari diri kita adalah adab pasrah. 

Tetapi, pasrah dan ora urus, akan sulit dicapai tanpa menempuh tangga do’a itu. Tanpa melazimkan kembali padaNya. 

Tapi ada puzzle satu lagi saya dapat dari beliau, bahwa semata do’a saja akan sulit membawa kita lebih dalam masuk pada tingkat berikutnya. Tanpa menyadari bahwa ujian adalah af’al-Nya. PerbuatanNya. 

Dan sadari pula bahwa af-al tak bisa berdiri sendiri. Af-al mesti lekat dengan DzatNya. Sehingga feel kedekatan itu dapet. 

Begitulah yang saya serap dari hikmah-hikmah disampaikan beliau. Sekarang saya masih diombang ambing gelombang takdir, hehehehehe. Makanya masih jauh betul dari sebenar-benar pasrah, opo meneh level ora urus. 

Tetapi alhamdulillah, tangga-tangga perjalanan itu kita pahami. 

**

[1] ust. H. Hussien Abd Latiff

DIPERJALANKAN


Sedang apa rekan-rekan saat ini? Tentu saja sedang membaca di facebook atau membaca tulisan ini di blog, bukan?

Sekarang bisakah rekan-rekan saya ajak untuk “takut”. saat ini juga?

Tentu kita sulit untuk “takut” seketika, bukan?

Untuk mengalami “takut”, kita butuh alasan tentunya. Apa yang membuat kita takut?

Kita bisa membuat tampang muka seperti orang takut, tapi itu bukan “takut”, itu hanya acting takut. Rasa “takut”nya sendiri absen dari ruang hati kita. 

Nabi Musa as dikejar Fir’aun dan bala tentaranya sampai terjepit di antara Depannya ada laut merah dan belakangnya ada tentara yang siap mencabik. Rasa takut tentu luar biasa, tetapi ketakutan yang luar biasa itu menjelma rasa bergantung pada Allah. Pergantungan yang luar biasa pula. 

Itulah namanya “diperjalankan”. 

Seperti kisah Rasulullah Saw yang diperjalankan menempuh isra’ dan mi’raj. 

Seperti pula Rasulullah Saw -dalam kitab sirah- berdo’a pada Allah sewaktu beliau di thaif. Kala dilempari oleh penduduk thaif dengan batu sampai berdarah dan diteriaki orang gila. 

Doa beliau masyhur sekali. Yang kurang lebih maknanya adalah “duhai Tuhan, kepada siapa engkau menyerahkanku? Kepada musuh yang siap menerkam, atau kepada kerabat yang menolak? Sungguh aku tidak peduli, asalkan engkau ridho kepadaku.”

Redaksinya panjang dan tak persis seperti itu.

Tapi inti dari do’a itu adalah kepasrahan. 

Kepasrahan karena menyadari bahwa “diperjalankan”. 

Setiap orang, diperjalankanNya menempuh masing-masing cerita mereka sendiri. Dari setiap perjalanan itu, tiap orang mendapatkan pengalaman hidup sendiri-sendiri. Setiap pengalaman hidup menghantarkan “rasa”-nya sendiri (Hal Spiritual). Tiap Hal itulah yang berbuah menjadi amaliyah. 

Maka kita bisa meniru lahiriah Nabi Musa, misalnya, tapi “rasa” dalam hatinya tak bisa kita tiru. 

Yang paling penting, adalah kesadaran bahwa kita semua diperjalankan. Ini yang pokok. 

Dulu saya sering kali kesal, kenapa kok saya tak paham-paham dengan bahasan para arif. Setelah melewati gonjang-ganjing onak duri ujian; baru saya paham bahwa setiap hikmah itu akan datang seiring ujian dalam hidup kita. 

Ujian yang mencerabuti rasa “aku”. Sampai kita benar sadar bahwa kita ini “diperjalankan”, bukan berjalan. 

Maka benar sekali kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu. 

Bukan pasif….melainkan agar paham tentang “diperjalankan” ini. Do our best pada maqom sekarang, dan bersyukur. 

Karena, ingin segera naik level itu sama saja meminta Allah menurunkan segala ujian seketika pada kita; dalam satu waktu. Kita tak akan sanggup. 

Oleh seorang arif [1] kita diberitahu urutan skema perjalanan itu. 

Awalnya adalah ujian. Lalu ujian akan settled down (reda) selepas keridhoan datang. Setelah ridho makan akan shifting paradigm (bertukar pandang) atau dalam literatur tasawuf dikatakan “Abdal”.

Setelah itu berikutnya adalah hidup seperti apa adanya dalam masyarakat. Berbaur. Bersama. Berkecimpung. Dan tak ada pentingnya untuk mendaku diri lebih baik atau lebih ini itu. Dan diam disitu sampai jika ada tugas menyuruh “keluar” atau selalu diam disana kalau tak ada tugas apa-apa. 

Salah satu tips-nya kata beliau adalah, semakin cepat menyerah dan ridho, maka semakin cepat ujian itu reda / settled down. Karena ujian bukan untuk ujian itu sendiri, melainkan untuk menghantarkan pergantian cara pandang dalam hidup. 

Benar sekali ungkapan yang sangat masyhur dari para arif. Jika orang awam berpikir tentang apa yang akan dilakukannya esok, maka orang arif “menunggu” apa yang akan Allah takdirkan untuknya esok hari. [2]

**

[1] Ust. H. Hussien Bin Abd Latiff

[2] ungkapan ini begitu masyhur. Tetapi saya lupa siapa yang mengucapkan. 

Ilustration image taken from this source

APA BEDANYA WACANA PLURALITAS LIBERAL DAN PLURALITAS SPIRITUAL?

Waduh, ini bisa bahaya ini, saya bergumam sendiri sewaktu membaca tulisan seorang anak muda mengenai memaknai keberagamaan, keributan yang sedang laris manis sekarang ini.

Kenapa bahaya? Karena saya seringkali melihat orang yang bermain dalam wacana pluralitas, tetapi mendekatinya “semata” dari sisi filsafat, akan cenderung jatuh pada tahap meremehkan Tuhan. Maka anak-anak muda yang sampai pada kegelisahan mengenai hal itu –pluralitas, keragaman- semoga mereka melangkah lebih jauh melampaui analisa filsafat fikir semata-mata, dan masuk ke kedalaman “rasa” spiritualitas.

Sebenarnya saya tak hendak menulis ini. Dari berapa hari lalu sudah mendesak-desak poin-poin mengenai ini terfikirkan, tetapi saya tahan menuliskannya….karena apalah gunanya?

Qadarullah, sore ini seorang rekan bertanya kepada saya tentang satu hal yang benang merahnya sama persis, jadi bismillah saja saya tuliskan, semoga bermanfaat.

Menerima keragaman, dalam pandangan saya, jika semata-mata disandarkan pada filsafat, analisa fikiran, maka seringkali berujung pada “mengecilkan” adab pada Tuhan.

Dengan begitu santai mengecilkan norma dan syariat agama. Karena toh semuanya sama saja. Dan apapun saja keragaman dalam dunia ini, dalam tanda kutip dianggap “benar”. Maka saya sangat tidak sepakat dengan wacana pluralisme yang diusung oleh pemikiran liberal. Karena hilangnya “adab” pada Tuhan, dalam wacana itu.

Akan tetapi, satu hal yang mengherankan saya, semakin menekuni spiritualitas islam, semakin saya menemukan para arif begitu menghargai pluralitas. Lho kenapa ya?

Tetapi…cara mereka menghargai pluralitas berbeda dengan cara para liberal berfikir. Mulanya saya tak paham benar bedanya apa. Tapi sekarang baru saya mengerti.

Bahwa penghargaan terhadap pluralitas, yang terbit dari pemahaman yang mendalam akan spiritualitas agama, akan membuat mereka semakin beradab pada Tuhan.

sepintas sama, tetapi berbeda ujung ke ujung dengan filsafatnya liberal.

Para arif, dalam spiritualitas islam, memahami keragaman sebagai cara Tuhan menzahirkan kehebatanNya sendiri. Dalam lain kata, keragaman merupakan implikasi tak terelakkan dari kemampuan-Nya mencipta.

Jika orang awam memandang orang-orang yang berdosa sebagai kumpulan calon neraka, maka para arif melihat orang-orang pendosa sebagai bukti dari Al-Ghafur, sifat-Nya yang Maha pengampun.

Tanpa terzahirnya para pendosa di muka bumi ini, maka sifat Maha Pengampun-nya Tuhan tak memiliki bukti. Atau dalam lain kata, terzahirnya para pendosa –yang kemudian diampuni- merupakan implikasi tak terelakkan dari sifatNya itu sendiri.

Jika orang awam memandang pendosa dengan kacamata benci. Maka para arif memandang pendosa dengan kacamata yang berbeda.

Akan tetapi, hal itu tidak mengakibatkan mereka menjadi abai akan kewajiban-kewajiban mereka. Semakin seseorang melihat keragaman sebagai cara Tuhan bercerita tentang diriNya sendiri, maka semakin pula orang itu akan dekat dan ber-adab pada Tuhan.

Mereka menyampaikan kebaikan, menyeru pada kebaikan, tetapi mereka tidak merasa bahwa palu hakim pengadilan hisab ; neraka-syurga; ada pada tangan mereka.

Jangankan neraka syurga, Rasulullah SAW sendiri pernah ditegur oleh Allah SWT, karena Rasulullah SAW terlalu duka pada keingkaran kaumnya sendiri.[1]

Mereka menyampaikan kebaikan, karena adab mereka pada Tuhan, tetapi mereka tidak mendaku diri mereka mengetahui rahasia yang lebih besar selain dari sebatas “peranan” yang mereka harus lakukan pada saat sekarang ini. Karena mereka paham bahwa semua ini cerita-Nya sendiri.

Saya teringat, baru-baru ini saya dan beberapa orang rekan berkesempatan mewawancarai kandidat yang ingin melamar masuk ke perusahaan saya bekerja saat ini. Syarat teknisnya jelas, yaitu punya pengalaman bekerja di area panas bumi minimal lima tahun.

Tetapi pada saat wawancara, pertimbangan menjadi begitu kompleks. Ada pertimbangan adab, ini orangnya mature atau tidak saat diwawancara. Stylenya sopan tidak? Lalu ada pertimbangan apakah kira-kira ini orang betulan mau atau tidak bergabung? Lalu pertimbangan teknis lainnya semisal okelah dia punya pengalaman panas bumi, tapi apakah dia punya pengalaman pengeboran laut dalam?

Cobalah bayangkan….untuk urusan masuk sebuah perusahaan saja, tak bisa leterlek. Apatah lagi urusan penghakiman atas keragaman?

Saya pakai contoh “pintu depan”. Apakah orang eskimo masuk neraka? Bagaimana kita bisa menentukan itu? Penghakiman atas itu ada pada keadilan Tuhan. DIA-lah sang hakim yang paling adil.

Allah mengetahui. Apakah dakwah sampai atau tidak pada orang eskimo? Jika sampai apakah orang eskimo tadi menerima atau menolak? Jika menolak apakah dia benar menolak atau karena cara dakwahnya yang tak tepat konteks? Jika memang dia yang menolak; maka apakah dia menolak karena bebal atau karena faktor lain? Jika bebal apakah itu karena faktor keluarga dan sosial masyarakat yang membuatnya bebal? Jika karena faktor keluarga apakah…….

Dan ribuan pertimbangan yang hanya bisa ditetapkan Tuhan sendiri.

Dalam pandangan seperti itulah, maka kita bisa memahami kenapa Rasulullah SAW yang –hanya– berduka, dan menyayangkan kok kaumnya ini ndableg terus, sampe capek didakwahi ga mau dengar; malah beliau ditegur oleh Allah SWT. Itu Rasulullah SAW. Bukan kita.

Karena Allah mengetahui. Karena DIA-lah hakimNya. Karena DIA menzahirkan semua ini untuk menceritakan diriNya sendiri.

Begitulah para arif memandang pluralitas. Lewat sisi spiritualitas yang semakin-makin mempertemukan mereka pada adab. Semakin-makin merasa kecil dan merasa dekat. Semakin-makin tunduk.

Ini berbeda ujung ke ujung dengan filsafat pluralitasnya kaum liberal.

Kalau kaum liberal memperbolehkan segalanya karena bingung mana batasan? Toh buat apa ada batasan kalau semuanya sama?

Para arifin berada pada kutub satunya lagi, memandang semua orang dengan pandangan kasih, akan tetapi tetap mendakwahkan kebaikan yang dirasa perlu, sebatas pandangan manusiawi mereka sesuai yang disyariatkan. karena bukan mereka hakimnya. Dengan cinta. Dengan tanpa menghakimi. Dengan merasakan bahwa “seperti sebuah hadits…. Kalau kita jenguk orang sakit, akan kita dapati orang sakit itu “disisi-Nya”.

Bukan saja pluralitas adalah DIA menzahirkan sifat-sifatNya. Lebih dari itu pluralitas adalah DIA bercerita tentang diriNya sendiri.

Lebih dari itu lagi, para arif mengatakan bahwa dia itu ESA. ESA artinya bahwa sifatNya tak bisa berdiri sendiri lepas dari dzatNya. Bahwa siapa sebenarnya yang berkebaikan itu? dan siapa yang sebenarnya kita beri kebaikan itu??

Itulah yang membuat saya menjadi haru. Dan mendoakan agar siapapun saja yang sampai pada kegelisahan mengenai pluralitas, menemukan tahap selanjutnya yang lebih dari sebatas main-main analisa filsafat.

Masuklah dalam spiritualitas islam. Dan pandanglah pluralitas hidup dari sana. Kita akan menemukan pluralitas sebagai wujud kasihNya, tanpa menjadi bingung dengan peran kita di dunia harus seperti apa.


[1]  “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

*) gambar ilustrasi saya pinjam dari link berikut

MAMANG GEROBAK DAN DIMENSI RASA

Tadi sore anak saya merengek pada saya minta uang dua ribu rupiah. Saya akhirnya memberikannya uang dua ribu rupiah. Untuk apa uang itu?

Ternyata untuk membeli sesuatu dari pedagang keliling yang membawa pernak-pernik jualan anak-anak. Anak-anak di komplek menyebutnya “mamang gerobak”.

Di dalamnya ada macam-macam, ada kuncir rambut, ada bando, ada mainan, ada pistol air, sticker anak-anak, mainan slime yang lagi trendi, sampai boneka barbie tiruan.

Dalam seminggu pasti ada saja anak saya dan teman-temannya membeli mainan di pedagang gerobak itu. Kuncir rambut saja entah sudah berapa biji, belum lagi bando-nya.

Tapi tiba-tiba yang menarik adalah saya menjadi tersadar, bahwa mamang gerobak ini analogi yang pas untuk membahasakan tentang perjalanan “fikir” dan kemudian masuk pada kedalaman “rasa”. Tentu kita tahu perumpamaan ini tidak ideal, maha suci Allah dari perumpamaan, ini hanya upaya mendekatkan pemahaman saja.

Mendekati Tuhan, dengan analisa fikir, itu seumpama kita membeli barang pada mamang gerobak lalu asyik bercerita dan menganalisa barang itu.

Kita membeli jajanan pada mamang gerobak, lalu kemudian asyik menganalisa jajanan itu, entah bandonya keren, entah mainannya elok, pistol-pistolannya yahud dan sebagainya, akan menghantarkan kita pada bukti-bukti.

Segenap bukti-bukti yang ada itu, akan berujung pada kesimpulan bahwa mamang gerobak itu ada, mamang gerobak itu tadi lewat sini, jualan mamang gerobak itu komplit, jualan mamang gerobak itu bagus-bagus.

Sebanyak-banyaknya kita membeli jajanan mamang gerobak, dan menganalisanya, jika berhenti sebatas itu saja, kita tidak bisa masuk pada “kedekatan” yang lebih bersahabat pada mamang gerobak.

MELAINKAN, kita duduk dan berbincang dengan mamang gerobak. Kemudian menanyakan kabarnya. Kemudian berdiskusi tentang harinya. Dan seterusnya.

Membeli jajanan mamang gerobak, dan menganalisanya, hingga sampai pada bukti-bukti tentang keberadaan mamang gerobak dan mengagumi kekomplitan jajanan yang dibawakan mamang gerobak, itu analog dengan ulul albab.

Orang yang duduk, berdiri, tidur, sembari “merenungkan” tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian sampai pada kesimpulan bahwa betapa Allah itu luar biasa. Maha suci DIA.[1]

Jangan salah lho ya, levelan ulul albab atau ahli renungan ini sangat-sangat keren. Lewat kemampuan analisanya, mereka sampai pada bukti-bukti tentang kehebatan Tuhan. ini ciamik sekali. Dzikir dan merenungi ciptaan-Nya. ini indah sekali.

Hanya saja, selepas ini –dan alhamdulillah baru saya mengerti sekarang- bukti-bukti yang didapatkan dari khasanah analisa itu tadi, harus menghantarkan orang tersebut masuk ke kedalaman “rasa”.

Kedalaman rasa itu, itulah yang disebut “ihsan”. Bukan saja mengumpulkan bukti bahwa DIA Maha Hebat, melainkan menyesapi rasa dekat dengan-Nya.

Dalam analogi di atas tadi, bukan saja mengumpulkan macam-macam jajanan mamang gerobak, melainkan masuk lebih akrab dan bersahabat dengan duduk bersama mamang gerobak, dan berbincang padanya.

Disinilah kelirunya saya selama ini.

Setiap kali saya merasa ada sebuah ruang kosong di hati saya. Saya berusaha menggenapinya dengan approach analisa. Maka saya menganalisa sesuatu, memikirkan keterkaitan sesuatu itu dengan ke-maha-an Tuhan. Atau saya membaca buku-buku yang menambah kekaguman saya pada Tuhan, dengan menyodorkan bukti-bukti yang lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi.

Jangan keliru, itu memang bagus…..tetapi, harusnya tak berhenti disana. Karena, seperti anak-anak yang membeli jajanan itu. Jika dia membeli jajanan bando misalnya, lalu esoknya membeli kuncir, esoknya membeli sticker, esoknya membeli yoyo, esoknya membeli bandana…. Begitu terus, maka sampai selama-lamanya dia hanya akan “tenggelam” dalam kumpulan bukti, tanpa masuk lebih dalam pada “kedekatan”.

“kedekatan” itu, itulah Ihsan[2].

Ihsan ini, dia menjadi berbeda dengan approach analisa semata. Kalau analisa, kita mengumpulkan bukti empirik dan melihat kuasa Tuhan dari sana. Kalau approach Ihsan, ini sudah mulai lebih tajam sedikit.

Bukan semata analisa empirik, tetapi “menyadari” bahwa segala yang terjadi adalah af’al-Nya. Af’al itu begitu dekat. Perbuatannya berlaku pada kita 24 jam sehari.

Kemudian bukan saja mengingatiNya, tetapi masuk lebih “rasa” pada level seperti komunikasi. Kata seorang guru, cara paling gampang untuk mengingatiNya salah satunya masuk lewat pintu do’a. karena lewat pintu do’a kita punya konteks untuk cerita pada DIA. Konteksnya kebutuhan hidup, dan DIA terpandang sebagai Yang Memberikan apa yang kita butuh.

Lebih tinggi lagi dari itu, seorang guru mengatakan bahwa bukan saja af’al-Nya terpapar pada kita, tetapi af’al yang berlaku terus menerus itu sejatinya bersandar pada dzat-Nya yang Wajibul Wujud. Bahasanya fisika kuantum, yang kita lihat nyata ini hanya hologram. Yang aslinya adalah sesuatu yang undefined. jadi bukan lagi bukti tentang DIA hebat, ya tentu DIA hebat, tapi masuk lebih dalam pada feel kedekatan itu.

Jadi bergerak lebih dalam, masuk ke dalam, dari sekedar mengumpulkan bukti, lalu melangkah ke ranah kedekatan, merasakan DIA hadir dalam setiap jenak hidup. Ini majaz ya, tentu rekan-rekan paham maksudnya.

Jadi, siapa tahu ada rekan-rekan yang merasakan yang serupa. Sudah banyak kita renungkan, sudah banyak kita kaji, kita merasa sudah mengingatiNya, tetapi kenapa seperti masih ada ruang kosong? Seperti ada puzzle yang belum genap?

Nah inilah barangkali puzzle-nya. Karena kita selama ini berhenti setakat mengumpulkan bukti-bukti tentang-Nya, belum masuk pada menyadari kedekatan-Nya.

Sehingga DIA tertampil sebagai yang begituuuuu baik, begitu luar biasa dan hebat; –sebab bukti-bukti yang kita pahami dan kumpulkan-, tapi entah mengapa kita masih merasa DIA sebagai entitas yang begitu jauh dari kita.

Saya masih jatuh bangun memahami ini. Seorang arif mengatakan, diatasnya Ihsan ini, adalah ilmu keridhoan.

Tapi sungguh benar bahwa kita tak bisa menerapkan ilmu keridhoan, tanpa kita memahami af’al-Nya berlaku terus menerus pada kita. Tanpa memahami rasa kedekatan itu.

Wallahu’alam bish shawab.


[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allahmemberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

[2] “……Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ‘ Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu……” (H.R. Muslim, No.9)

*) gambar ilustrasi saya pinjam dari link berikut ini