Aku Harus Melaut Lagi

Aku harus melaut lagi
menuju samudera dan langit yang kesepian
yang kupinta hanya kapal menjulang
dan bintang yang menjadi kemudinya*

 

kapal

Perjalananku kali ini membawaku berkenalan dengan seorang tua yang penuh perjuangan menghadapi hidup.beliau ini bekerja sebagai kru kapal, tongkang pengangkut limbah pengeboran minyak lepas pantai. Orang2 biasa memanggilnya “Pak Tua”.

Dari beberapa kali pertemuan aku berbicara banyak dengannya, aku baru tahu bahwa betapa para pekerja sekeras mereka dihargai dengan rupiah yang tak seberapa.

Pak Tua memiliki jadwal kerja 2:1, 2 minggu dia bekerja di kapal siang dan malam, di tengah lautan, bolak-balik ke dermaga, 1 minggu dia diberikan kesempatan off untuk istirahat, begitu seterusnya.

Dari satu minggu istirahat itu, beliau hanya punya waktu lima hari untuk di rumah bersama keluarga, dua hari sisanya adalah perjalanan menuju dan dari tempat kerja.

Setiap hari beliau mengelap keringat di terik panas, menyeka mata yang berair waktu hari sudah larut malam dan pekerjaan kapal belum selesai, dan mengelus dada menguatkan diri bahwa ini semua untuk anak istri, makan sehari-hari, dan beli baju baru waktu idul fitri.

tiba saatnya idul fitri, Pak Tua malang tidak mendapatkan THR dari atasannya, usut punya usut, THR datang bulan berikutnya dan tidak seberapa pula jumlahnya, teringat anak istri dan jungkir balik kerja siang malamnya maka Pak Tua memberanikan diri untuk bertanya “bukankah itu hak saya?” ujarnya.

“betapa susah cari kerja” majikannya berkata, “kalau masih mau diterima, kerja saja dengan sebenar-benarnya, kalau kamu banyak bertanya, lamaran baru masih banyak di meja saya!”

Pak Tua mundur teratur,
sambil tersenyum perih dia lalu menawarkan saya ” mau minum2 kopi dulu pak????”

*) poems by john masefield

Iklan

filosofi lima jari

 fingers

Suatu kali, seseorang pernah menjelaskan padaku tentang filosofi lima jari. Kata beliau, tiap2 jari pada tangan kita merupakan perlambang sesuatu. Aku tercenung khusyuk mendengarkan, lalu dia bertutur.

Ibu jari, kata beliau, merupakan perlambang penguasa, ibu jari adalah jari yang mengumpulkan semua keunggulan empat jari yang lain, dan mengontrolnya untuk dapat melakukan sesuatu, mensinergikan semua kekuatan empat jari yang lain, dan meledakkannya pada momentum yang tepat. “Cobalah kau genggam palu dengan empat jarimu selain ibu jari” kata beliau padaku, “dan ayunkan palu itu sekuat tenaga, hampir pasti palu itu terbang entah kemana”. Itu cerita beliau tentang ibu jari, jari paling besar yang mengontrol empat jari lainnya.

Telunjuk, kata beliau lagi, adalah perlambang orang kaya, itulah kenapa kita terbiasa menunjuk-nunjuk sesuatu, atau memerintahkan seseorang melakukan sesuatu dengan telunjuk, persis seperti orang kaya yang kelakuannya mau apa-apa tinggal tunjuk. Aku tersenyum sedikit, kupikir bisa jadi juga begitu, lalu kudengarkan lamat2 dia meneruskan.

Jari Tengah, ujarnya bijak, adalah perlambang Ulama (orang yang berilmu), jari tengah merupakan jari yang paling tinggi diantara kelima jari,  akan tetapi setiap kali kita akan makan menggunakan tangan, atau mengambil suatu barang, secara anatomis jari tengah akan menarik diri menjadi sejajar dengan empat jari lainnya. Itulah perlambang kebijakan jari tengah, Ulama.

Aku tersenyum simpul, sambil curi-curi kupraktekkan mengambil kerikil di dekat kakiku dan itu dia si jari tengah mensejajarkan diri dengan yang lain.

Jari Manis, ujarnya lagi, ini adalah perlambang pemuda, pemuda selalu manis untuk dipandang, entah karna kepintarannya, luas pengetahuannya, anggun rupanya, atau karna hal2 lain, kau tahu, katanya, itulah kenapa kita pasang cincin di jari manis kita, itu perlambang keindahan pemuda!!

Tak sabar aku menanti yang terakhir, sambil tersenyum aku mendengarkan dia berkata merdu, Jari Kelingking, tak lain tak bukan adalah perlambang wanita, katanya. Kelingking jari terlemah diantara semuanya.

Aku mengangguk takzim, tapi lalu tersenyum nakal “bukankah tidak selamanya perempuan itu lemah?”

Kau benar, kata beliau, itulah kenapa permainan “suit” kita memenangkan kelingking dari ibu jari, penguasa saja bisa bertekuk lutut dengan wanita, kata beliau. Benar juga ya, pikirku, sesaat sebelum dia membuyarkan lamunanku dan berkata, kelingking kalah dengan telunjuk seperti wanita dengan harta ^_^.

tentang cinta yang luruh tadi pagi

pagi 

aku belum pernah terjaga sepagi ini, mengapa embun berjuntai tepat dibalik bayang-bayang pohon dalam kelam diam di ujung sana?

sepi aku hela gigil dari kening berkerut berpikir,

aku belum pernah terjaga sepagi ini, mengapa rindu menetes satu-satu, tak bisa kurasa tak bisa kuseka kutanya kenapa?

daun itu diam tak goyang, tenang bersama bayang dari pohon rindang di seberang jurang, mengapa cemas tak juga terpapas? meski pagi sebentar lagi meski malam sudah hampir hilang dari tadi?

aku belum pernah terjaga sepagi ini, tiba-tiba aku ingin menjelma embun yang menjuntai tepat dibalik bayang-bayang pohon dalam kelam diam di ujung sana

biarlah nanti aku beri sejuk pada bumi, lalu pergi diam-diam sebelum mentari,

“kenapa hari ini cerah sekali?” katamu waktu kau terjaga nanti!

Dalam Do’aku (Poems by Sapardi Djoko Damono)

salam hormatku untuk beliau (sapardi djoko damono), puisinya bagus Pak, aku pinjem ya……..

bird

Dalam Doaku

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Untuk Tiap-tiap Yang Bertahan Hingga Akhir

 

assalamualaikum

salam para penghuni syurga untuk seorang sahabat yang sedang berjuang untuk menyelesaikan sepenggal kisah perjuangan hidup di penghujung masa kuliah ini. untuk keluarga, untuk bakti seorang anak, untuk hormat seorang adik, untuk kebijakan seorang kakak, untuk cinta seorang pemimpi, dan untuk tiap2 apa saja yang kau lakoni dengan penuh kesungguhan dan cita, semoga dilancarkan dan dimudahkan.

saat ini, mungkin kita sudah menempuh jalur hidup yang dihamparkan untuk kita masing2, kawan.
apa kabar harimu?? semoga segala aral melintang pukang dapat dilalui dengan tersenyum, karena kita sadar betul, bahwa semua itu suatu nanti jadi kenangan terindah dalam hidup kita, yang bisa kita ceritakan dengan heroik dan meniru gaya para orang tua kita dulu waktu menceritakan kisah2 kepahlawanan mereka.

betapapun,
akhirnya kita sampai juga pada suatu masa dimana kita harus melewati lagi semua fase itu.
semua fase kesendirian, semua fase keletihan, semua fase yang membuat kita merasa jadi seorang terasing di belantara hidup ini.

tapi betapapun juga,
kita yakin sekali saya- akan jadi orang yang bertahan hingga titik akhir fase cerita itu, nanti kita akan jadi orang bijak yang mengajarkan pada anak2 muda di seberang sana tentang bagaimana caranya menghadapi hidup, tentang bagaimana caranya bertahan, tentang bahwa semua badai pasti berlalu, tentang bahwa semua gelap akan jadi terang, tentang bahwa kita adalah saksi sekaligus pelaku sejarah lakon kekuatan tekad manusia yang meluluh lantakkan karang keras kehidupan.

apa kabarmu di sana, kawan???
semoga semua kesendirian dapat dilewati dengan santai dan tanpa beban, karena kita yakin betul, bahwa kita, suatu ketika akan bercerita dengan ringan, kepada siapapun dia yang menjadi teman hidup kita nanti, bahwa jauh sebelum kehadiran dia, kita sudah merasakan pertanda yang muncul lewat angin yang berdesir,  yang muncul lewat rintik hujan, lewat desah mentari sore yang menjadi tua, lewat malam-malam hening kita yang kita lalui sendiri, kita sudah merasakan pertanda bahwa ada seorang yang juga menanti di ujung belahan dunia sana.
maka itu kita terlalu malu untuk sekadar menjadi orang yang terlalu panik, dan mengejar apa yang orang biasa sebut dengan cinta, karena kita ingin kita menjadi layak -meskipun sedikit- untuk pendamping semulia mereka.

apa kabarmu di sana kawan???
semoga semua ketidakpastian akan masa depan dapat dijadikan semangat menggelegar karena yakin bahwa hidup ini akan menjadi lebih luar biasa dengan kejutan kejutan.

dalam tataran apapun, dan dalam status apapun yang akan diberikan kepada kita nantinya, kita hanya punya satu cita2, bahwa semua akan berbahagia untuk telah melahirkan anak seperti kita, untuk memiliki adik seperti kita, untuk memiliki kakak seperti kita, untuk memiliki seorang sahabat seperti kita.

apa kabarmu di sana kawan???
semoga selalu baik,
karena sampai detik waktu terakhir nanti, kita akan terus mengukir epik, menjadikan dunia ini untuk tidak menyesal  karena catatan harinya terukir dengan cerita bahwa terdapat pejuang kehidupan yang mengisi lembar sejarahnya,
pejuang yang bernama KITA.

waktu kita terus mengalir detik demi detik,
mungkin pada akhirnya nanti, dunia ini tidak pernah kenal siapa kita, tetapi paling tidak kita telah memenuhi janji pada diri sendiri untuk berbuat yang terbaik yang kita bisa, untuk ayah dan bunda, kakak dan adik kita, untuk teman2 terbaik kita, untuk pasangan jiwa nun di sana, dan pada akhirnya…………untuk dunia

apa kabarmu di sana kawan????

kupersembahkan untuk sahabat-sahabat terbaik yang berjuang hingga akhir, terima kasih, kalianlah inspirasi inspirasi itu

 

image taken from here

Romansa

 romance

Sejak usia belasan, kita mulai belajar mengeja, bahwa sudah takdirNya untuk tiap-tiap suatu apa yang ada di dunia, selalu ada pasangannya.

Agak terbata kita, saat sadar kita mulai bisa membaca bahwa semua kekaguman kita bermuara pada tiap-tiap senyum manis, kerling mata menawan, wajah rupawan, dan pada setiap gemulai gerak dengan anugerah keindahan.

Tiap-tiap paragraf kita bercerita tentang betapa sulit untuk lari dari setiap tawa yang membuat kita terseret deras entah kemana, tentang hampir mustahil kita mendustakan keelokan sesempurna siluet surya tenggelam di ufuk sana.

Lama-lama kita mulai bisa mengerti makna, betapa rupa tidaklah selamanya! karna warna memudar, karna yang kuat merapuh, yang segar melayu, yang muda menua.

lalu kita mengambil selembar kertas, dan menuliskan segores pesan untuk anak cucu kita, bahwa betapa bahagia bila menghabiskan sisa umur kita dengan yang menyejukkan pandang mata, dengan yang mengingatkan bila lupa, dengan yang membawa tawa bila duka, dengan yang bila terentang jarak dunia “kita percaya!!!”.

Di penghujung usia kita, bolehlah kita bermimpi untuk tertidur pulas dipangkuan, tersungging di bibir sebentuk putih senyuman, seputih melati pilihan waktu usia belasan!

Sampai Nanti, Sampai Mati!

struggle 

Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita sempatkan diri untuk dengan jujur merasa malu dan meminta maaf atas sekian ratus lembar hidup yang kita lewati dengan mengubur dalam-dalam bara semangat yang mestinya menyala berkobar-kobar.

Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita sempatkan diri untuk dengan jujur merasa malu dan meminta maaf atas percaya diri yang telah lama kita binasakan, atas nyali yang sudah sejak lama menciut dan raib.

Hanya karna tangan ini belum menggenggam dunia sebanyak apa yang orang lain bisa genggam,

hanya karna kita belum bisa menjejakkan kaki pada jarak sejauh tapak-tapak mereka membekas,

hanya karna kita belum bisa bicara selantang dan selugas suara mereka bergema,

hanya karna kita belum bisa menulis seindah apa yang orang lain tulis,

hanya karna syair kita kita masih terlalu polos dibanding gurindam orang-orang disana.

Kita dengan picik telah meluluh-lantakkan pondasi harga diri yang puluhan tahun telah Ayah dan Ibu kita bangun! lalu dengan rendah diri beringsut dari keramaian, dan bersembunyi dibalik batu besar sembari berbisik lirih “tidak sekali-kali aku dapat berdiri sama tinggi dengan orang lain”

Tibalah kita pada hari ini, jenak dimana kita keluar malu-malu dari persembunyian kita sambil berjanji bahwa kita akan tetap melangkah…………………………….bicara………………………menulis………………..dan bersyair

SAMPAI NANTI, SAMPAI MATI!