Jurnal Perjalanan

jurnal


Pak, aku takkan lelah berjalan sampai ke sebrang, persis seperti lelakon ksatria yang selalu engkau ceritakan menjelang tidur-tidur malamku, dulu.

Bu, tiap hari setengah mati aku tapaki setiap episode hidup, yang padahal sudah dari dulu kau bocorkan ceritanya………………………Lama sekali aku menyingkap apa-apa yang ada dibalik semua, padahal sudah dari dulu kau bertutur tentang rahasia-rahasia.

Pak, belum juga setengah jarak tempuh tapak-tapakku menyusulmu, tapi sudah berat nian rasanya kaki berdiri, sudah rabun agaknya mata memandang, hati sudah mulai ciut pula nyali, padahal tak pernah henti jua kau pesani “bahwa sungguh semua malam akan jadi pagi”

Bu, susah sungguh aku berdoa dalam setiap malam, setiap senja, setiap pagi buta, setiap masa, bahwa aku ingin diturunkan sedikit saja dari sabarmu yang sesamudera itu, biar tidak menangisi “sendiri yang sepinya menusuk-nusuk ubun2 hingga kaki”, biar tidak menangisi “duri yang yang berserak-serak sepanjang jalan ini”.

Lalu terkadang aku merenung sendiri, kadang waktu senja, kadang waktu gulita, tentang seraut roman muka tua yang digdaya. Kalian yang menimang-nimang aku waktu kecil dulu, yang setiap tangisku diseka dengan senyum tawa, yang tidak juga letih mengajarkan sejengkal demi sejengkal perjalanan, yang sabar membiarkan aku mengeja huruf demi huruf, yang luar biasa sanggup menahan lapar untuk “sebagian nasimu aku yang memakan”, yang tidak pernah menunjukkan sedikit saja dari kerut2 di kening kalian……………….. “ah tidak apa2″…………… selalu saja begitu kalian berkata.

Dari setiap jenak ketegaran yang kalian ajarkanĀ sejak dulu itu Pak, Bu, aku ingin berterima kasih setulus-tulusnya tulus, secinta-cintanya cinta.

8 thoughts on “Jurnal Perjalanan

  1. Yo…kalo kali ini aku jadi menitikkan air mata, menusuk hati rasanya, goresan penamu membuat ku teringat sm orangtuaku….:(šŸ˜¦ sedih…semangat Yo seperti apa yang selalu kamu katakan padaku…

  2. What I should I say????
    Thx for remind us about our great parents bro…..Ortu gw juga ga pernah lelah mencintai dan berusaha untuk kebahagiaan kami… Walaupun mata sudah rabun, rambut sudah memutih dan kerut wajah semakin nyata….
    Semoga kita masih sempat untuk membalas jasa mereka ya bro…..

  3. Biarkanlah Kebenaran di ungkapkan sampai ke ujung lorong-lorong kumuh
    biarkanlah cinta kasih menjadi senjata yang paling ampuh dalam setiap peperangan di dunia yang angkuh ini
    biarkanlah keberpihakan pada mereka yang lemah dan tertidas menjadi sebuah ledakan yang akan menghancurkan tembok-tembok ketidak adilan.

    http://www.abnersanga.wordpress.com

  4. never ending story or our parents..
    like a book without page
    song never stop

    I luv u mother..
    My esteem for u father..
    Both u all
    I always hava a dream
    Ur wish is my choice of my life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s