tentang masa kecil (2)

 mother

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu? Waktu ingat-ingat lagi tentang kejadian ini, aku Cuma bisa mengelus dada, dan berdoa, betapa memang tidak akan terbalas jasa kedua orang tua kita, apalagi ibu….ibu……ibu…

Saat-saat akhir menjelang kelulusan sma mungkin adalah saat paling mendebarkan dalam keseluruhan sejarah panjang hidupku. Ini mungkin apa yang orang biasa sebut dengan titik balik.

Campur aduk perasaanku waktu itu, hasrat untuk kuliah yang menggebu-gebu, campur takut yang luar biasa besar, kira-kira apa aku nanti bisa menjebol SPMB? Apa bisa masuk universitas yang baik? Dan ini yang paling pokok “apa ada biaya untuk kuliah nanti?”

Bapak adalah seorang PNS golongan menengah kebawah. Gaji bapak bisa ditebak lah, kira-kira sama dengan standar PNS golongan sekian. Ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga, yang tentu saja tidak berpenghasilan. Ekonomi keluarga, murni, hanya disokong dengan gaji dari Bapak, tidak ada pemasukan lain….sama…..sekali.

Suatu hari, Bapak mengajakku berbincang-bincang, pembicaraan antar anak dan ayah, antar laki-laki dan laki-laki. This is a very much straight forward conversation, padahal Bapak biasanya adalah orang yang selalu berbicara dengan metafor-metafor.

Inti pembicaraan itu adalah bahwa menilai kondisi ekonomi keluarga saat ini Bapak merasa tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahku, seandainya pun sanggup, besar kekhawatiran Bapak bahwa kuliahku nanti tidak akan sampai ke akhirnya, karna alasan klasik, biaya.

Aku protes………aku berontak, euphoria semangat muda ku menafikan realitas, “ini mimpi pak”, ujarku.

Dan mimpi tentang kesuksesan itu bagiku adalah kuliah di Jawa, di universitas ternama, itu gengsi yang lebih dari segala-gala bagiku saat itu (ah…betapa waktu itu aku masih sangat muda).

Hari-hari menemui jalan buntu, dead lock, aku bersikeras dengan segala mimpi dan euphoria “apa yang aku pikir dengan cita-cita mulia”, dan Bapak tetap dengan pendiriannya bahwa realita mengalahkan segalanya.

Tegang, panas, suasana rumah jadi kaku. Di tengah-tengah keadaan itu yang menyejukkan hatiku adalah ibu, selalu ibu.

“tidak satupun orang tua itu yang tidak mau anaknya maju, mas” begitu kata ibu, “Cuma kalau kondisi tidak memungkinkan apa mau dikata”

Ibu memang bukan orator, kalimatnya tidak retoris, tapi selalu membuat aku luluh, aku tidak pernah bisa menentang ibu

egoku hancur luluh, aku sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya aku mulai sedikit bisa mengerti realita yang sejak dulu Bapak cerita, baiklah Bu, mungkin kuliah di Jawa bukanlah segalanya, aku siap dengan segala kemungkinan terburuk untuk kuliah di Bengkulu saja atau  tidak kuliah sama sekali juga aku rela.

Tapi ternyata ibu memang luar biasa.

Suatu hari di bulan ramadhan ibu membeli belanjaan lebih banyak dari biasanya, aku heran, “ada apa ini?” ternyata ibu berniat membantu ekonomi keluarga, dan menyokong apa yang tadi aku sebut-sebut dengan cita2.

Tak habis pikir aku, ibu adalah seorang yang pemalu, luar biasa pemalu, bagaimana mungkin Ibu mau menyingsingkan lengan bajunya untuk berkeringat dan bangun pagi buta, membuat kue sampai fajar menyingsing, dan nantinya dijual di pasar dekat rumah atau dibawa berkeliling komplek.

Aku terdiam, apakah aku terlalu memberatkan mereka?

Hari pertama itu, aku yakin hari yang sangat berat bagi ibu, seorang pemalu yang berasal dari keluarga yang berkecukupan akan menjajakan dagangan untuk menyambung cita-cita anak tertuanya. Aku tak bisa berkata apa2, sungguh.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?

Waktu aku melihat ibu pulang tergesa sore itu dengan membawa dagangan yang tidak habis sama sekali dan sembab merah di pelupuk matanya, aku yakin aku melihat syurga.

Keranjang dagangan ibu jatuh berceceran di tikungan jalan itu, di hari pertama ibu memutuskan berdagang, untukku.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?

Iklan

dari negri seribu kupu-kupu

butterfly

assalamualaikum

teruntuk sahabat tercinta,

ini surat dari negri seribu kupu-kupu,

kami cuma bisa memandangmu sambil tersenyum, untuk seribu luka di tubuhmu yang kami bisa rasa tapi tak bisa kami seka.

senyum kami untuk setiap detik perjuangan di harimu, dengan sepanggul besar beban di pundakmu yang kami bisa lihat tapi tak bisa kami angkat.

selalu kami tersenyum untuk hati seluas samudera yang dianugerahkan kepadamu, yang mengizinkan kami sejenak masuk dan berbagi cerita, tentang suka duka, tentang cita-cita, juga tentang setia.

sungguh, ini senyum kami tanam dalam-dalam, dalam diam.

lalu kami menghela nafas sejenak,

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

dari setiap pagi yang datang dengan tergesa itu, kami telah menyiapkan bangku untukmu, lalu sabar menunggu di sengat surya siang perkasa hingga malam-malam gulita.

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

kami tidak berkemas hingga pagi tiba lagi, karna kami menanti, karna kami berjanji, karna kami tepati. Seperti yakin sekali dengan firasat hati, bahwa suatu nanti kau sudi mengunjungi.

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

dengan sayap-sayap kami yang rapuh ini, izinkan kami untuk sejenak menemanimu terbang, setiap beban dan luka di pundakmu biar kami angkat, biar kami seka.

tapi biar saja dalam diam, dalam cinta….

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

untukmu,

dari negri seribu kupu-kupu