Sudikah kiranya?

 bungabunga

Ayah, ceritakan sejenak padaku, bagaimana dulu kau temukan bunda diantara berjuta disana? agar aku bisa memilih satu dari sekian bunga. yang mana kiranya sesabar hati bunda?

Ayah, ceritakan padaku bagaimana kau menemukan bunda, agar aku bisa menerka sesiapa yang paling setia, sesabar bunda menemanimu hingga renta, dalam tawa dalam duka.

Malu-malu aku bertanya, apakah bunda dulu cantik jelita? “seperti apa warna bunga menawan hati ayahanda?” biar aku bisa merasa, mana-mana penghibur lara, penyejuk hati penawan mata.

lalu apa pula itu, ayah? senyum malu-malu ibunda waktu bercerita tentang suaminya. Seperti tak ada yang setegar engkau waktu bunda bercerita lelakon epik yang kau mainkan, waktu bunda mengandungku, saat kelahiranku, hari-hari pertama kita di rumah baru, atau waktu engkau marah dalam diam saat-saat berselisih paham. “kata bunda selalu saja kau yang tersenyum lebih mula”.

Ajarkan aku lelakon ksatria, ayah! agar kupetik bunga di atas puncak bukit sana, atau di kedalaman lembah mayapada, atau di pinggir oase gurun sahara, atau dimana-mana yang kaki biasa tak mampu menapaknya, biar kulihat lagi senyum seindah bunda, waktu bercerita tentang suaminya. “kata bunda kau seperti ksatria”.

Dengan bunda yang semulia itu, apakah dulu kau sebijak para nabi, ayah? ajarkan aku membaca -alif ba ta- dunia, lalu kuterjemahkan dalam apa saja, meskipun tak “se-sang nabi sang baginda” tapi aku tetap membaca. Akankah nanti bisa berjumpa pasangan jiwa semulia bunda?

Seperti apa dahulunya kau pinta bunda untuk bersama, ayah? turunkan aku sedikit saja dari keberanianmu yang menggunung itu, biar bila suatu ketika Dia berkenan memberinya, aku berani lantang berkata:

sudikah kiranya dinda menjadi bunda?
untuk yang tidak setegar ayahanda
yang sabarnya tak sesamudera
yang bijaknya tak se -alif ba ta-
yang tak sesatria
sudikah kiranya?

Iklan