Selalu cinta

brothers

Waktu pulang menjelang lebaran kemarin, sudah kuniatkan dalam hati untuk mengajarkan sesuatu buat dua adikku yang paling kecil. Yang nomer dua kelas satu smp, yang bungsu kelas lima sd. Bayu dan Giri.

Sudah kuputuskan bahwa aku bakal mengajarkan mereka mengetik sepuluh jari (yang aku juga struggle belajar sendiri pake software typing pal, hehe).

Strateginya begini, “mas beliin game baru, transformer, tapi kalo yang mau main game harus latihan ngetik dengan mas, gimana?”, kontan saja mereka semua mengiyakan, haha…demi game baru apa sih yang enggak, dasar mereka.

Lalu hari-hari itu pun dimulai, Bayu, adikku yang lebih tua, masuk sekolah siang hari, dan giri si bungsu masuk sekolah pagi hari. Kerjaan tiap hari ya nganterin mereka ke sekolah pagi-pagi, dan siang-siang.

Maka strategi dimulai. Kujanjikan sebuah hadiah. “ini sayembara dek, diakhir waktu mas liburan di bengkulu ini, mas bakal adakan lomba, lomba mengetik sepuluh jari, siapa diantara Bayu atau Giri yang lebih cepet dan lancar mengetik sepuluh jari mas kasih hadiah lima puluh ribu, dan yang kalah mas kasih sepuluh ribu”.

Hari-hari semakin menarik dan menantang.Setiap pagi, aku mengajari bayu mengetik, jari demi jari. Siangnya gantian si Giri. Tentu saja setelah beberapa menit mengetik kita lantas main game sama-sama, dan aku juga ikutan, hehe…ini taktik pendekatan luar biasa.

Pelan-pelan kuajari mereka mengetik dengan semua jarinya, pagi, siang, dan juga malam hari sembari bercerita apa saja, kadang-kadang aku bercerita dan mereka yang menuliskannya, terkadang mereka menulis apa-apa yang mereka ingin tulis, keluh kesah, orat-oret ga jelas, juga puisi.

Semakin hari mereka semakin lancar, dan aku juga sadar bahwa ini semua harus dilakukan dengan enjoy, jadi di hari-hari terakhir tak kupaksakan mereka untuk belajar. Tapi ternyata mereka yang meminta “mas, ayo ajari lagi ngetik” kata mereka.

Lalu kita mulai lagi mengetik semua, kumpulan puisi si bungsu, atau orat-oret abstrak kakaknya. Lalu main game lagi, pastinya.

Tiba-tiba suatu hari handphone ku berdering, “rio, kamu lusa berangkat ke samarinda ya! Tiket sudah dipesen, ada di kantor”, panggilan tugas, seperti biasa, dari kantorku. Syawal ini berarti jauh dari mereka semua.

Tinggal dua hari lagi. Kukabarkan pada mereka bahwa malam terakhir aku di bengkulu, itulah malam pelaksanaan sayembara, dan pemenangnya akan kukabari pada pagi harinya sebelum aku berangkat ke bandara.

Malam keberangkatan. Kumulailah sayembara itu. Bayu mendapatkan waktu lebih dulu, mengetik tulisan yang sudah kupasang di komputer, dengan kucatat waktunya, lalu Giri giliran kedua.

“aha………..sedikit sekali selisihnya” teriakku “lima detik saja”. Karuan saja mereka penasaran dan ingin tahu, siapa pemenangnya. “ayo mas, sekarang aja” teriak mereka. “haha…..tunggu besok pagi dek” ujarku.

“keesokan paginya setelah berkemas dan Bapak siap mengantar ke bandara, kuhadiahkan amplop kepada masing2 mereka. “liat di dalam amplop dek, siapa yang dapet lima puluh ribu dia pemenangnya. Yang dapet sepuluh ribu latihan lagi ya……”

lalu kusalami ibu dengan syahdu, “bu…aku pergi dulu, maaf lebaran ini aku tidak bisa pulang”

Aku berangkat, motor bapak sudah dihidupkan dan aku dibonceng dibelakang. Lalu kudengar bayu berteriak “hore…..aku menang….amplopku isinya lima puluh ribu” aku tersenyum, lalu giri mengeluh “yah…berarti aku kalah.

Motor berjalan dan aku membatin pelan “dek, seandainya saja mas ga bisa beramal sehebat orang-orang disana, cukuplah ilmu yang kuajarkan itu jadi pahalaku”.

Lalu tiba-tiba giri sontak berteriak “waaaa……amplopku juga lima puluh ribu”.

Suatu malam di samarinda:“mas, makasih hadiahnya, uang dan amplop ini kami simpan dalam lemari, buat kenang2an, ga akan kami pake jajan”.

Tuhan, jelmakan mereka jadi pribadi luar biasa yang melampaui kakaknya, mengadopsi segala kelebihan orangtuanya, jadi obat buat kekurangan keluarganya.

Dari setiap jalan mereka yang jatuh terjerembab, biarkan mereka berdiri lagi sendiri. Bisikkan saja di telinganya bahwa selalu masih ada cinta buat mereka.

-1 syawal 1428 H-

Iklan

One thought on “Selalu cinta

  1. ah..rio..
    senengnya punya ade..
    mungkin yang rio rasakan sama dengan apa yang kakak indah rasakan
    dan apa yang ade-ade rio rasa kan sama seperti apa yang indah rasakan:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s