Kita dikelilingi orang-orang besar.

rose
Seorang teman pernah bercerita padaku.

Sewaktu kuliah, beliau dan teman2nya mengadakan semacam ospek untuk mahasiswa-mahasiswa baru. Seperti biasa dan umumnya ospek, pasti sedikit “nakal”.

Ada seorang mahasiswi yang sebenarnya secara medik kurang begitu sehat dan dianjurkan untuk tidak banyak mengikuti kegiatan-kegiatan fisik. Anehnya, meskipun berpita medik, seorang putri ini tidak pernah absen mengikuti segala kegiatan, sekalipun panitia sudah melarangnya.

Semua panitia (termasuk temanku ini tadi) jadi bingung, kenapa anak ini “kuat” sekali, lalu mereka ingin mengujinya. Sang mahasiswi baru (maba) dipanggil dan disidang oleh para seniornya.

Lalu drama teror mental dimulai. Semua senior bareng2 membentak-bentak dan bertanya, kenapa anak ini sok kuat dengan tetap ikut seluruh kegiatan meskipun sudah dinyatakan tidak usah ikut kegiatan fisik oleh tim medis?

Saat semua senior memasang tampang garang, anak ini lalu menjawab “kak, saya ingin bisa mengikuti semua kegiatan ini meskipun fisik saya tidak kuat. Seandainyapun saya mati disini, saya ingin mati dalam kebaikan, menuntut ilmu itu kebaikan tak terkira kan kak?”

Astaga……..semua senior jadi seba salah tingkah…….. retorika macam apa yang bisa melantakkan keyakinan setegar karang macam begitu?

Drama teror bubar………. Semua diam dalam diam yang luar biasa hening lalu membatin sendiri, entah apa….

Sang putri itu akhirnya diperbolehkan mengikuti semua kegiatan…….sampai suatu ketika semua maba sedang berkumpul dalam ruangan dan diminta untuk menggambar.

“silakan kalian semua menggambar apa saja yang mencerminkan diri kalian!!”

Semua menggambar….. ada yang menggambar matahari, angsa, permata, dan sejenisnya.

Tapi lagi-lagi anak ini menggambar yang tak biasa. Temanku ternyata penasaran luar biasa, lalu mengambil kertas gambar dari maba putri itu.

“apa maksudmu dengan menggambar mawar berduri seperti ini?”

“wanita yang mulia itu seperti mawar kak, dan mawar tidak pernah lengkap tanpa duri, mawar jadi sempurna jika ia punya duri”

Temanku diam, sangat filosofis…….. anak ini luar biasa

“lalu kenapa kau gambar latarnya tebing tinggi? Bukan taman?”

“aku ingin jadi mawar dipinggir jurang yang dalam kak, mawar dalam sebuah taman yang indah tidaklah luar biasa, tapi jika mawar itu tumbuh di pinggir jurang yang dalam dan terjal, maka hanya lelaki luar biasa yang bisa memetiknya”

Temanku terdiam lagi……diam yang lama sekali…..

Iklan