hujan

 rain
Jakarta hujan lagi. Aku terperangkap dalam sebuah warnet pinggir jalan seusai membaca email seorang kawan nun disana yang bercerita sepenggal kisah dari lubuk hatinya.

Bagaimana aku keluar dari sini ? sedang hujan selebat ini. Aha…..ternyata ada anak kecil menawarkan jasa ojek payung. Kupanggil dia

“dek…sini dek…”

“antarkan kk ke atm sebentar ya”, anak itu mengangguk pelan

“kamu kelas berapa dek?”

“satu smp k”

“lagi ga sekolah dek?”

“tadi masuk pagi kak”

“oooh, kenapa ujan2an, ga takut sakit dek?”

“biasanya sih sakit kak, tapi gimana lagi, butuh uang”

“hmmm…ibunya kerja dimana?”

“ibu kerja di rumah sono k, jadi pembantu rumah tangga”

“oh…kalo bapaknya kerja dimana?”

“bapak udah ga ada”

Lalu aku diam……….. kisah mereka selalu luar biasa, perjuangan yang tak biasa, ketabahan memesona. Aku jadi terharu, lalu kurogoh semua uang di sakuku dan kuberikan untuknya.

“eh dek, kok ga bawa payung dua? Kan kebasahan kalo satu doang payungnya”

“ga punya lagi k, adanya cuma satu”

“lalu kutarik dia mendekat, ga usah jauh2 dek, nanti kena hujan”

Untuk orang-orang seperti mereka, kurapal doa dalam diam sediam-diamnya, lalu berbisik dalam hati, kuceritakan kisahmu nanti untuk tujuh generasi.

Iklan

serenade cinta yang tak cengeng

 angsa

Pernah dengar “11 januari?” lagu ini ternyata persembahan armand maulana untuk istrinya. Aku baru tahu kalau kisah pernikahan armand maulana vokalis gigi itu lumayan unik. Hehe….jarang-jarang aku bercerita seperti ini, ini bukan infotaiment, tapi kisah unik tujuh generasi.

Beliau menikah diam-diam di sebuah tempat di bilangan jakarta barat. Pada saat ijab qabul tiba-tiba listrik mati. Luar biasa panik. Pertolongan datang, tiba-tiba ada pedagang mi tek-tek lewat, pedagang itu dipanggil lalu dibayar lima puluh ribu dan lampu petromaxnya dipinjam sebentar untuk penerangan.  Jadilah “aku terima nikahnya…..” itu diterangi lampu petromax dari pedagang mi tek-tek.

Untuk mengenang cerita itulah maka Armand maulana membuat lagu “sebelas januari” untuk istrinya. Luar biasa.
*******
Pernah dengar pertemuan pertama aa gym dengan teh ninih? Konon kabarnya aa gym terpesona oleh suaranya, pada waktu acara isra’ mi’raj (atau maulid nabi,atau nuzulul qur’an aku udah lupa), beliau hadir dan mendengarkan teh ninih mengaji.  Jadilah cinta aa gym bersemi pada pendengaran pertama, tanpa perlu melihat lebih dulu.

Ini juga luar biasa.
********
Ustad arifin ilham juga ternyata romantis luar biasa. Pada saat meminang istrinya (lewat telpon) beliau berkata “aku ingin terbang ke surga, tapi aku hanya punya satu sayap, maukah kau menjadi sayap satunya dan kita sama-sama terbang ke syurga”, astaga….kontan saja istrinya diam seribu basa.

Ini cinta luar biasa.
*********
Lalu bagaimana cerita kita?

Tuhan, anugerahkan aku cinta luar biasa.
Yang akan jadi dongeng pengantar tidur tujuh generasi. Cinta mulia yang jadi skenario pengganti sinetron-sinetron basi.
Serenade cinta yang tak cengeng, kami bangun dari bait-bait nada tertatih-tatih menujuMu. Lalu berikan kami lampu petromaks pedagang mi malam hari, atau cinta tanpa tatap mata, atau syair terindah “sudikah kiranya” hingga ia diam seribu basa. amin

Sudikah kiranya?

 bungabunga

Ayah, ceritakan sejenak padaku, bagaimana dulu kau temukan bunda diantara berjuta disana? agar aku bisa memilih satu dari sekian bunga. yang mana kiranya sesabar hati bunda?

Ayah, ceritakan padaku bagaimana kau menemukan bunda, agar aku bisa menerka sesiapa yang paling setia, sesabar bunda menemanimu hingga renta, dalam tawa dalam duka.

Malu-malu aku bertanya, apakah bunda dulu cantik jelita? “seperti apa warna bunga menawan hati ayahanda?” biar aku bisa merasa, mana-mana penghibur lara, penyejuk hati penawan mata.

lalu apa pula itu, ayah? senyum malu-malu ibunda waktu bercerita tentang suaminya. Seperti tak ada yang setegar engkau waktu bunda bercerita lelakon epik yang kau mainkan, waktu bunda mengandungku, saat kelahiranku, hari-hari pertama kita di rumah baru, atau waktu engkau marah dalam diam saat-saat berselisih paham. “kata bunda selalu saja kau yang tersenyum lebih mula”.

Ajarkan aku lelakon ksatria, ayah! agar kupetik bunga di atas puncak bukit sana, atau di kedalaman lembah mayapada, atau di pinggir oase gurun sahara, atau dimana-mana yang kaki biasa tak mampu menapaknya, biar kulihat lagi senyum seindah bunda, waktu bercerita tentang suaminya. “kata bunda kau seperti ksatria”.

Dengan bunda yang semulia itu, apakah dulu kau sebijak para nabi, ayah? ajarkan aku membaca -alif ba ta- dunia, lalu kuterjemahkan dalam apa saja, meskipun tak “se-sang nabi sang baginda” tapi aku tetap membaca. Akankah nanti bisa berjumpa pasangan jiwa semulia bunda?

Seperti apa dahulunya kau pinta bunda untuk bersama, ayah? turunkan aku sedikit saja dari keberanianmu yang menggunung itu, biar bila suatu ketika Dia berkenan memberinya, aku berani lantang berkata:

sudikah kiranya dinda menjadi bunda?
untuk yang tidak setegar ayahanda
yang sabarnya tak sesamudera
yang bijaknya tak se -alif ba ta-
yang tak sesatria
sudikah kiranya?

yang tak berbatas, tak bernama

 masjid

seperti pagi-pagi yang biasa, kita terbangun menggeliat, lalu berjalan-jalan menikmati hari yang seperti bernyanyi untuk kita sendiri.

matahari bagaimanapun juga tetap bersinar, meski tidak setiap kita bisa merasa hangat, begitupun juga aku.

kepada kawan yang tahu betul seluk-beluk keseharianku, yang mengerti betul lingkar firasat hatiku, yang mengerti betul seberapa banyak kata-kata menjelma karya-karya, dari mulut dan lakuku.

aku sudah bosan dengan topeng, kawan.

biarkan aku bernyanyi dengan sesuara sumbang, asalkan itu nada2ku sendiri.

kuceritakan juga kepadamu akhirnya bahwa aku berdoa dengan tergesa dalam setiap sholatku yang tertunda itu, bahwa aku meminta Dia mengajarkan kepadaku apa-apa seperti adanya. Dunia yang penuh warna-warna, juga pemahaman kita yang penuh dinamika, mungkin aku, kau, tak sama, iya kan, kawan?

lalu kuceritakan juga padamu, dalam setiap tahajudku yang terlelap itu, aku menangisinya dengan dhuha, lalu apakah kita harus sepakat untuk setiap warna-warna pelangi di pagi harinya? bagaimana jika kurasa jingga lebih pekat dari merah tua? bisa saja kan, kawan?

lalu aku bercerita lagi, pada setiap malam yang dingin dan suram itu, aku cuma berkata “belum pak, ini juga lagi buru2 mau isya” untuk setiap tanya dari muka ramah luar biasa tetangga2 kita, lantas kenapa? aku sudah bosan dengan topeng pura-pura, biar saja, biar nyana

apa masih harus juga aku bercerita, untuk setiap laku dan kerja yang selalu anonim, dan untuk setiap amal yang selalu lupa, apa masih juga harus berdebat riya dan tiada riya?

lalu untuk semua anggukan kepala kita setelah membaca lembar kuning buku2 tua, atau membaca kebijakan orang2 tua, atau membaca takdir tiap2 apa, apakah harus sama?

biarkan aku bernyanyi dengan sesuara sumbang asalkan itu dengan nada2ku sendiri.

Subuh tadi aku berdoa pelan dalam rukukku yang terlambat lagi

“Tuhan, ajarkan aku ilmumu yang tak berbatas, yang tak bernama”

tentang masa kecil (2)

 mother

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu? Waktu ingat-ingat lagi tentang kejadian ini, aku Cuma bisa mengelus dada, dan berdoa, betapa memang tidak akan terbalas jasa kedua orang tua kita, apalagi ibu….ibu……ibu…

Saat-saat akhir menjelang kelulusan sma mungkin adalah saat paling mendebarkan dalam keseluruhan sejarah panjang hidupku. Ini mungkin apa yang orang biasa sebut dengan titik balik.

Campur aduk perasaanku waktu itu, hasrat untuk kuliah yang menggebu-gebu, campur takut yang luar biasa besar, kira-kira apa aku nanti bisa menjebol SPMB? Apa bisa masuk universitas yang baik? Dan ini yang paling pokok “apa ada biaya untuk kuliah nanti?”

Bapak adalah seorang PNS golongan menengah kebawah. Gaji bapak bisa ditebak lah, kira-kira sama dengan standar PNS golongan sekian. Ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga, yang tentu saja tidak berpenghasilan. Ekonomi keluarga, murni, hanya disokong dengan gaji dari Bapak, tidak ada pemasukan lain….sama…..sekali.

Suatu hari, Bapak mengajakku berbincang-bincang, pembicaraan antar anak dan ayah, antar laki-laki dan laki-laki. This is a very much straight forward conversation, padahal Bapak biasanya adalah orang yang selalu berbicara dengan metafor-metafor.

Inti pembicaraan itu adalah bahwa menilai kondisi ekonomi keluarga saat ini Bapak merasa tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahku, seandainya pun sanggup, besar kekhawatiran Bapak bahwa kuliahku nanti tidak akan sampai ke akhirnya, karna alasan klasik, biaya.

Aku protes………aku berontak, euphoria semangat muda ku menafikan realitas, “ini mimpi pak”, ujarku.

Dan mimpi tentang kesuksesan itu bagiku adalah kuliah di Jawa, di universitas ternama, itu gengsi yang lebih dari segala-gala bagiku saat itu (ah…betapa waktu itu aku masih sangat muda).

Hari-hari menemui jalan buntu, dead lock, aku bersikeras dengan segala mimpi dan euphoria “apa yang aku pikir dengan cita-cita mulia”, dan Bapak tetap dengan pendiriannya bahwa realita mengalahkan segalanya.

Tegang, panas, suasana rumah jadi kaku. Di tengah-tengah keadaan itu yang menyejukkan hatiku adalah ibu, selalu ibu.

“tidak satupun orang tua itu yang tidak mau anaknya maju, mas” begitu kata ibu, “Cuma kalau kondisi tidak memungkinkan apa mau dikata”

Ibu memang bukan orator, kalimatnya tidak retoris, tapi selalu membuat aku luluh, aku tidak pernah bisa menentang ibu

egoku hancur luluh, aku sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya aku mulai sedikit bisa mengerti realita yang sejak dulu Bapak cerita, baiklah Bu, mungkin kuliah di Jawa bukanlah segalanya, aku siap dengan segala kemungkinan terburuk untuk kuliah di Bengkulu saja atau  tidak kuliah sama sekali juga aku rela.

Tapi ternyata ibu memang luar biasa.

Suatu hari di bulan ramadhan ibu membeli belanjaan lebih banyak dari biasanya, aku heran, “ada apa ini?” ternyata ibu berniat membantu ekonomi keluarga, dan menyokong apa yang tadi aku sebut-sebut dengan cita2.

Tak habis pikir aku, ibu adalah seorang yang pemalu, luar biasa pemalu, bagaimana mungkin Ibu mau menyingsingkan lengan bajunya untuk berkeringat dan bangun pagi buta, membuat kue sampai fajar menyingsing, dan nantinya dijual di pasar dekat rumah atau dibawa berkeliling komplek.

Aku terdiam, apakah aku terlalu memberatkan mereka?

Hari pertama itu, aku yakin hari yang sangat berat bagi ibu, seorang pemalu yang berasal dari keluarga yang berkecukupan akan menjajakan dagangan untuk menyambung cita-cita anak tertuanya. Aku tak bisa berkata apa2, sungguh.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?

Waktu aku melihat ibu pulang tergesa sore itu dengan membawa dagangan yang tidak habis sama sekali dan sembab merah di pelupuk matanya, aku yakin aku melihat syurga.

Keranjang dagangan ibu jatuh berceceran di tikungan jalan itu, di hari pertama ibu memutuskan berdagang, untukku.

Bagaimana mungkin syurga tidak dibawah kaki ibu?

dari negri seribu kupu-kupu

butterfly

assalamualaikum

teruntuk sahabat tercinta,

ini surat dari negri seribu kupu-kupu,

kami cuma bisa memandangmu sambil tersenyum, untuk seribu luka di tubuhmu yang kami bisa rasa tapi tak bisa kami seka.

senyum kami untuk setiap detik perjuangan di harimu, dengan sepanggul besar beban di pundakmu yang kami bisa lihat tapi tak bisa kami angkat.

selalu kami tersenyum untuk hati seluas samudera yang dianugerahkan kepadamu, yang mengizinkan kami sejenak masuk dan berbagi cerita, tentang suka duka, tentang cita-cita, juga tentang setia.

sungguh, ini senyum kami tanam dalam-dalam, dalam diam.

lalu kami menghela nafas sejenak,

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

dari setiap pagi yang datang dengan tergesa itu, kami telah menyiapkan bangku untukmu, lalu sabar menunggu di sengat surya siang perkasa hingga malam-malam gulita.

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

kami tidak berkemas hingga pagi tiba lagi, karna kami menanti, karna kami berjanji, karna kami tepati. Seperti yakin sekali dengan firasat hati, bahwa suatu nanti kau sudi mengunjungi.

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

dengan sayap-sayap kami yang rapuh ini, izinkan kami untuk sejenak menemanimu terbang, setiap beban dan luka di pundakmu biar kami angkat, biar kami seka.

tapi biar saja dalam diam, dalam cinta….

bertandanglah sebentar ke negri kami hai saudari……

untukmu,

dari negri seribu kupu-kupu