Blog yang tidak mengeluh

 diary

Saat pertama kali terpikirkan untuk menulis sebuah blog, hal yang terpikirkan setelah itu adalah bagaimana caranya agar apa yang kita tulis di blog -yang menurut kita menarik- membuat orang lain tertarik.

Pada kenyataannya tidak semua yang menarik bagi kita itu juga menarik bagi orang lain.

Awal-awalnya, blog itu mungkin semacam diary online, tempat menampung semua keluh kesah kita yang dulu biasanya disimpan sendiri, kini dalam batas-batas tertentu kita coba bagi dengan orang lain, atau lebih dramatisnya kita bagi dengan orang sedunia.

Satu hal yang aku sedapat mungkin coba adalah bahwa blog ini harus memberikan pelajaran kepada orang lain, ada hikmah yang dapat dinikmati barang satu dua teguk.

Meskipun ini adalah -bagaimanapun- sebuah diary online, tetap aku kurang setuju dengan ide mengeluh pada orang sedunia. Blog ini bukan tempat mengeluh. Orang sedunia ini sudah cukup punya masalah masing2 tanpa direcoki pula dengan masalah kita, apa pentingnya mereka mendengar semua keluh kesah kita?

Tapi bagaimanapun juga, inilah yang mungkin jadi alasan kenapa orang membuat diary kecil mereka jadi terbuka bagi orang sedunia. Alasan berbagi!

Maka bolehlah satu dua kali kita mengeluh dan berkesah pada diary jejaring ini, tapi kita adalah orang-orang yang dalam hati sekuat mungkin bertekad, bahwa dalam setiap tulisan kita pada akhirnya ada pelajaran bermakna yang  kita bagi.

Setiap keluh dan kesah kita ditutup dengan paragraf semangat untuk bangkit dan bergerak lagi.

Setiap cerita sedih kita diapit dengan dua tawa.

Setiap kesendirian kita diisi dengan keyakinan berkarat bahwa kita bisa untuk tetap luar biasa.

Tapi bagaimana jika semua terasa terlampau mengiris dan menusuk-nusuk?

Maka setiap keluh dan kesah dalam tulisan kita akan diakhiri dengan doa sedalam-dalamnya, pada Dia penuntas segalanya.

Inilah tulisan kita, teman.

Sejumput Blog yang tidak mengeluh.

Iklan

restart

moon

Teman, sering kali waktu cerita hidupku ini sedang tak bisa aku raba dan cari tahu kemana arah larinya, atau juga saat-saat dimana semua babak terasa tiba-tiba begitu menjemukan dan seperti bergulir tanpa seni, aku merasa bahwa aku harus “Re-Start”.

Waktu rembulan sudah terlihat seperti biasa-biasa saja, atau bebintang malam seperti kurang gemerlap, waktu itulah aku bergeser pelan dari dudukku, lalu berjalan berapa jauh langkah untuk melihatnya dari belah bukit yang lain, atau dari sela-sela jejurang, atau dari pematang-pematang.

Kita seringkali sama-sama bosan dan jenuh, bahwa drama kehidupan kita ini, teman, berjalan dengan babak-babak yang selalu bisa kita tebak, atau jika episodenya baru maka pastilah membuat kita seperti lupa naskah, di babak mana kita harus terhenyak? dan dibabak mana pula kita harus pulang? Tapi kita lupa pula jalan pulang? Iya kan?!!

Mari kita sama-sama berdoa, menundukkan sejenak kepala, pundak, lutut, kaki, mata, hati kita, lalu meminta sebenar-benarnya.

Besok pagi kita jalan sama-sama, barang selangkah, dua, tiga atau beberapa, sampai kita lihat dunia dari sudut yang berbeda.

Hingga belum pernah hari kita seindah menaiki bus siang-siang dipanggang mentari terik-terik.

Belum pernah seindah belajar di kampus sepenat-penat, hingga senja hampir lewat.

Belum pernah seindah kerja sesuntuk-suntuk di kantor-kantor hiruk pikuk.

Belum pernah seindah sendiri menyambut hari yang seperti kemarin-kemarin lagi.

Belum pernah seindah memandang bulan dari sudut rumah tenang, ada kunang-kunang terbang di kiri dan kanan kita, lalu gemerlap bebintang muncul redup muncul redup dari angkasa sana.

Alhamdulillah.

Mengubur masa lalu.

pastpastpastpastpast

Setiap detik aku bergulat dengan waktu dan menjadi gelap dibawah bayang-bayang masa lalu.

Dari setiap bercak-bercak kotor dosa yang membekas hitam di setiap lembar waktu yang telah terlewat itu, aku jadi malu sendiri, lalu beringsut dari kumpulan mereka-mereka yang bersih putih itu. Rasa-rasanya syurga meski diemperannya saja tetap tak layak buatku.

Kutarik nafas pelan di setiap senja-senja yang tenang dan ramah itu, dari warna merah tembaga yang terpapar di laut yang beriak manis di ujung sana aku bercermin dan merenung, sudah satu hari lagi lembar hidup yang kujalani dengan tergesa, membuka pagi dengan terkejut luar biasa, lalu menyongsong sore dengan belum berbuat apa-apa.

Ah….. Tuhan, rasanya dunia ini dalam segala-gala lebih bersih dari kami.

Dengan apa kubersihkan sisa luka dosa yang menganga?

Terhuyung-huyung aku berlari, lalu berwudhu dengan apa saja, air, debu, angin, tawa dan air mata.