Stop!!!

sudahlah….. berhentilah berdebat…….. belajarlah dari setiap orang yang kita temui. (pak dan inosanto, kupinjam puisinya ya).

mountain

We are all climbing different paths through the mountain of life,
and we have all experienced much hardship and strife.

 

There are many paths through the mountain of life,
and some climbs can be felt like the point of a knife.

  

Some paths are short and others are long,
who can say which path is right or wrong?

  

The beauty of truth is that each path has its own song,
and if you listen closely you will find where you belong.

  

So climb your own path true and strong,
but respect all other, truths for your way for them could be wrong.

-Dan Inosanto

Iklan

Kita dikelilingi orang-orang besar (5)

waiting

Sungguh, sesulit apapun masalah dan ujian yang kita hadapi. Seberapa membelit-belitnya perasaan yang kita alami, jikalah kita mau menyempatkan diri untuk sebentar menengok kiri kanan, maka akan kita dapati bahwa beribu-ribu orang di sekitar kita memiliki masalah yang luar biasa pelik dan membuat kita malu untuk telah menganggap sentilan kecil dalam lika-liku panjang kita ini sebagai masalah.

Pak win…..
Begitu orang biasa memanggilnya.
Beliau ini adalah seorang tentara, kalau tidak salah, seingatku Pak win adalah seorang kopassus. Tapi jauh sekali dari gambaran kopassus yang terekam di benak kita. Pak win sudah tua. Tua sekali. Tapi meskipun tua, pak win tidak pernah kurang rasa humornya, dan selalu menganggap semua orang yang lebih muda dari beliau sebagai orang yang lebih terpelajar.

Pak win ditugaskan sebagai security pada sebuah fasilitas ground control (waste management, fasilitas pengolahan limbah hasil pemboran minyak lepas pantai, tempat dimana aku terkadang ditugaskan bekerja).

Hari ke hari mengenal seorang Pak Win, aku semakin kagum.
Beliau bertugas di kalimantan timur, padahal rumahnya adalah di jawa. Dan tahukah kamu kawan, seberapa lama dia harus bertugas??? dia sudah bertugas lebih dari dua tahun dengan jadwal kerja 3 bulan satu minggu. Artinya dia wajib bekerja selama tiga bulan dan setelah itu dapat liburan satu minggu untuk pulang ke jawa. Tentu saja itu adalah di atas kertas, jadwal sebenarnya adalah terus bekerja tanpa tahu kapan dia berhenti dan tanpa tahu kapan dia bisa bertemu keluarga.

Entah ketegaran sekeras intan atau keterpaksaan yang merantai membuat dia sanggup menjalani jadwal semacam ini. Sudah coba kutimbang-timbang, dan coba2 kurasa-rasa, bagaimana jika aku menjadi Pak Win????
Wah….. bisa mampus aku, apa rasanya 3 bulan bekerja di negri orang, dan tak bisa ketemu keluarga?? lalu libur yang hanya satu minggu itu pula terkadang dikebiri, dipotong, habis seperti arang binasa…… tapi kesabaran itu menjelma jadi wujud seorang bapak tua mantan kopassus yang senang mancing pagi2 dan sore2, lalu bercanda dengan para karyawan2 yang lebih muda2 dan terpelajar2, lalu mengajarkan tawa dan arti hidup pada kita, seperti apa yang namanya “tegar” itu, lalu menghabiskan malamnya dengan sendiri lagi dengan sendiri lagi…….. sepi…….. senyap.

Lalu menyampaikan salamnya pada istri dan anak2 tercintanya dengan kiriman uang awal bulan…….

Lalu dengan setia melambaikan tangan kepada kami yang pulang pergi dari sana

” Mas rio… sampaikan salamku pada Jawa” katanya….

BE WATER MY FRIENDS!!

water

Suatu kali, bruce lee pernah mengeluarkan pernyataan “be like water”.

Dalam banyak kesempatan bruce lee mengingatkan murid-muridnya untuk berprinsip seperti air.

“if you put water into a cup, it becomes a cup. You put water into a bottle, it becomes the bottle. You put water into a teapot, it becomes the teapot. The water can flows, or it can crush. BE WATER MY FRIENDS”

begitu kurang lebih kata si dedengkot kungfu itu.

Dalam banyak kesempatan, biasanya dalam kesendirian, atau dalam masalah yang sangat berbelit (biasanya berhubungan dengan orang lain), aku terkadang senyum-senyum sendiri kalo inget falsafah itu.

Wah… ini dia testing filosofi bruce lee, pikirku.

Banyak sekali hal yang pernah kita alami, mengharuskan kita untuk fleksibel dan selalu bisa menyesuaikan diri dengan orang lain.

Banyak juga hal yang mengharuskan kita untuk benar-benar bisa memilih, kapan kita “flows” kapan kita harus bikin “crush”.

Sadar betul kalo pemahaman seperti ini penting, maka aku –dengan meniru gaya bruce lee – bercerita kepada adik-adikku dan berpesan “be water my brothers“.

lalu tiba-tiba mereka menyela….

“lho…. kalo air dalam gelas kan bisa diwarnai mas???”

walah… iya juga ya??? Tapi spontan saja aku langsung menjawab

“maka itu, jadilah mata air yang mengalir deras”

hehe…….. ini adalah pembelajaran tiada henti, kita juga harus pandai berimprovisasi kan my friends?

tapi tetep….. “the water can flows… or it can crush”

BE WATER MY FRIENDS!!!!!

🙂