Mungkin ini rindu

sea

Senja masih putih, masih bersih.Semburat merah yang biasa itu masih ragu-ragu menimbang-nimbang, kiranya akan tertunda atau muncul lebih mula.

Nostalgi-ku waktu itu bergerak seperti kapal nelayan kecil di ujung sana. Tenang menyusur tempias ombak menuju tepian memori redup-redup.

Hari sepertinya belum pernah setenang ini, awan-awan putih bersinar terang di pinggir-pinggirnya, lalu berarak tenang seperti bergerak seperti diam.

Tiba-tiba aku merasa asing, rasa-rasanya aku ingin meloncat, dan berlari meniti hampar laut. Ingin kuceritakan pada bunda di belah dunia sana, bahwa betapa anaknya saat ini mengembara di negri-negri yang entah dimana.

Rasa-rasanya ingin melompat aku menangkap camar-camar hitam putih itu, lalu kulayangkan pada adik-adikku, kupesankan untuk bercerita bahwa kakaknya telah menempuh perjalanan separuh dunia.

Mungkin ini, rindu dalam sastra-sastra para pujangga, waktu tiba-tiba hatimu merasakan luasnya dunia dari sudut cakrawala, tapi tak tahu harus bercerita pada siapa.

Seperti waktu kailmu mengena ikan besar di laut kehidupan itu, tapi tak jua kau tarik, karna tiba-tiba hatimu bertanya “dengan siapa aku memakannya?”

Mungkin ini, rindu dari senandung syair negri-negri jauh, waktu senja tiba-tiba terasa begitu putih dan kau berlari diatas hampar ombak naik-turun-naik-turun, sembari menggenggam burung-burung camar, lalu menatap di kejauhan sana ada seorang putri.

Iklan

janji wisudawan

wisuda

Ada rasa haru yang dalam saat mengenakan toga dan topi segilima waktu wisuda itu.Sebenarnya terlihat lucu, pakaian toga itu, dan segala asesorisnya, tapi biarlah aku berkhusnudzon saja bahwa segala hal itu adalah mewakili makna makna tertentu, segilima mewakili sesuatu dan juga jubah seperti penyihir itu mewakili sesuatu.

Saat orang tuaku hadir setelah menempuh perjalanan 24 jam bengkulu bandung, dalam sebuah bus yang penuh, dengan membawa bekal uang seadanya, ada perih menyayat dalam hati.

Pada malam harinya aku merenung dalam, inilah rupa-rupanya kenapa kebijakan universal dari dulu itu mewajibkan kita untuk sedalam dalamnya hormat pada kedua orang tua kita.

Tetes peluh keringat dan airmata mereka tidak bisa kita kumpulkan dan analisa statistiknya.

Doa-doa malam mereka masih jauh dari nalar kita, tentang bagaimana suara hati mereka itu lalu menjelma nada2 hening dalam malam2 sunyi senyap, lalu sampai pada kita nun disebrang lautan sana.

Untuk membantu kita menepis kantuk tengah malam demi beberapa lembar skripsi,
untuk membantu kita bertahan dari setiap lelah tak berujung sepulang kuliah kita,
untuk mendekap hangat ringkuk kita waktu kita benar-benar sendiri,
dan menopang kaki-kaki rapuh kita dalam perjalanan luar biasa panjang ini hingga kita merasa cukup tegar untuk tetap berdiri dan berjalan lagi…….. berjalan lagi……….. berjalan lagi.

Mengingat raut wajah mereka saja sudah menyulut bara dalam setiap renung kita, lalu kita berjanji sepenuh hati, bahwa segala kebodohan kita waktu masih sekolah dulu adalah masa lalu yang sekuat tenaga akan kita rubah,
segala bantah-membantah kita waktu masih kecil dulu adalah ketidakmatangan yang sepenuh hati kita akan gantikan dengan pengertian-pengertian.

Linang air mata bangga mereka hari wisuda itu mematri janji dalam hati paling dalam.

“bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa, dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita”.