Puzzle dunia

puzzle

Dulu sekali, seorang kawan pernah berkirim surat padaku, dan bertanya “apakah wajar, dengan usia kita yang sudah sebegini, kita masih terus mencari jati diri?”.

Waktu itu, kutanggapi pertanyaan temanku itu dengan main-main saja. Tapi kok rasanya akhir-akhir ini aku jadi merenung sendiri dan berpikir bahwa memang pencarian panjang kita akan jatidiri adalah hal yang luarbiasa rumit. 

Sampai sekarang, aku masih yakin benar bahwa pencarian jatidiri adalah proses panjang yang akan bergulir seiring waktu kehidupan kita yang terus menetes.

Hidup ini, kan seperti ekspedisi mencari potongan puzzle kita yang terserak morak. Setelah separuh usia kita jalani ini, dengan susah sungguh sudah kita dapatkan keping-keping teka-teki kita masing-masing, lalu menyusunnya dan mengira-ngira gambarnya. 

Sangat mungkin, di separuh sisa usia kita berikutnya, kita temukan lagi kepingan-kepingan lain, yang bisa jadi merubah total gambaran kita sebelumnya. 

Jadi, kawan, aku sama sekali tidak pernah menganggap bahwa segala kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan kita yang terus mengalir itu, atau segala perenungan-perenungan panjang kita sebagai pertanda bahwa kita ini manusia gamang yang tidak punya jatidiri. Sama sekali tidak!! 

Karna pencarian ini, kawan, akan terus berlangsung sepanjang usia kita, seiring nafas dan nadi yang semakin lamur. 

Nantinya. Kita-kita ini yang akan resapi betul pepatah orang-orang tua dulu, bahwa “belajar itu sepanjang hayat”, katanya. 

Sejatinya, bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah berubah di muka dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Dan setiap mentari baru yang menyeruak dalam hari-hari kita esok, kita ingin seperti isaac newton. Tatkala ribuan orang melihat apel jatuh, hanya kita yang bertanya “mengapa??”. 

Lalu kita dapat satu keping puzzle lagi hari ini, iya kan??

 

Iklan