ceritra

Suatu pagi yang berkabut, aku menulis sebuah cerita nostalgi dengan ekstase perjuangan yang meluap-luap.

Bismillahirrahmanirrahim.

Ayahku sering sekali bercerita dengan heroik, kepada kami-kami ini, anaknya, tentang bagaimana dulu beliau berjuang setengah mati untuk hidupnya, untuk sekolahnya, untuk masa depannya.

Cerita-cerita semacam itu selalu menyulut, sehingga kami-kami ini seperti tertantang untuk bisa ikut tegar dan bersemangat menghadapi perjuangan panjang yang berkelok yang mendaki.

Sebegitu seringnya ayah mengulang-ulang cerita itu hingga sebagian aku sudah hafal bagaimana mulanya bagaimana akhirnya, tapi aku -menunaikan tugas sebagai anak yang menghargai orang tua – tetap dalam pose mendengarkan yang hikmat sembari berkhayal, dengan khusyuk aku telah menyiapkan cerita penyemangat yang nanti akan kudongengkan kepada anak-anakku.

 

Mungkin begini aku akan bercerita.

 

Nak, dengarlah petuah ayah dan Ibumu,

janganlah pernah mengeluh dalam menjalani cerita panjang hidupmu,lalui semua jalan mulus yang kami pernah tempuh, hindari setiap yang membuat kami terjerembab.

 

Setiap kesulitan yang kamu hadapi yakinlah bahwa akan ada kemudahan yang mengapitnya.

Setiap kesendirian yang kamu hadapi yakinlah Ayah dan Ibumu adalah orang yang ikut menghabiskan malam-malamnya untuk mendoakan kebaikan kepadamu sebanyak banyak yang kami bisa pinta.

 

Sebagai yang tertua maka tugasmulah melambungkan adik-adikmu menjadi manusia-manusia luar biasa.

Sebagai yang termuda maka tugasmulah untuk belajar banyak dari cerita saudara tua, lalu berterimakasih yang dalam untuk setiap cinta yang tersurat atau terpendam.

 

Sebisa mungkin kami berharap jalan kalian lurus dan mulus, maka setiap bimbingan dan petuah kami anggaplah surat-surat cinta.

Setiap yang berkenan di hati maka laksanakan dengan suka ria,setiap yang bertentang dihati simpanlah barang sementara untuk kau buka nanti rahasianya seiring usiamu yang berbilang yang bertambah.

 

Jadikan kami teman yang kalian percaya untuk setiap rahasia. Percayai kami sepenuhnya untuk setiap cerita-cerita.

 

Suatu ketika nanti saat kalian sudah harus menempuh kehidupan kalian sendiri, sempatkan waktu untuk menjenguk dan bercerita.

Nanti saat kami sudah renta cukuplah kami bahagia dengan mendengar bahwa kalian sudah berkelana separuh dunia.

Berkembang lebih besar dari kami.

Tumbuh lebih tinggi dari kami. 

 

Pilihlah pasangan yang luar biasa, nak.

Yang mengamini setiap doa-doa kebaikan yang kalian kerjakan.

Yang beristighfar atas setiap khilaf-khilaf terpelesetmu dan selalu menyambut tanganmu untuk tidak terjerembab dalam.

Yang dalam setiap lelahnya dia tersenyum untuk menghiburmu.

Yang dalam setiap kesalnya dia diam untuk tidak berkata buruk.

Yang menemanimu dalam setiap pagi yang cerah bersinar dan tidak akan lari dalam setiap senja yang menjelang gelap.

 

(Si kecil tiba-tiba bertanya dengan lantang)

“oh…. Iya…. Ayah belum pernah bercerita bagaimana mulanya  ayah menemukan bunda??”

 

*****************

Benar juga… bagian itu, belum tahu aku bagaimana menulisnya!!

 

Iklan