buku

Saat aku membaca satu buku, aku merasa aku pintar dan orang lain bodoh.

Saat aku membaca puluhan buku, aku merasa aku pintar dan orang lain pintar.

Setelah kubaca ribuan buku, aku merasa aku bodoh dan orang lain pintar.

 

 

Sambil duduk-duduk dalam sebuah senja yang santai, melepas pandang sejauh ufuk-ufukyang menyemburat jingga, aku berkelana jauh ke saat-saat dimana aku masih sangat sangat “muda”. 

 

Awal-awal sma dulu, semangat untuk belajar dan memahami sesuatu bergelora luar biasa. Seperti kebanyakan orang-orang muda itu kawan, kita selalu ingin berontak dan mendobrak. Waktu “muda” dulu kita ingin mengganti pusat tata surya, menggeser poros bumi, kita ingin mencairkan kutub, teriakan lantang kita seperti bisa menyapu bersih gurun sahara. Kita  hijau, muda, bersemangat, lantang… dan tentunya juga “baru membaca satu buku”.

 

Dulu itu, penilaian kita yang maha hebat telah dengan sangat brilian menyalahkan semua pandangan yang berseberangan dengan kita. Hidup dimata kita adalah perputaran logika kita dan “buku” kita.

 

Seperti kecambah, setelah beroleh kesempatan untuk sejenak mengembangkan kita punya kehidupan, kita mulai melihat dunia semakin berwarna-warna, pelan-pelan betul kita mulai belajar satu hal, lalu belajar lagi lain hal. 

 

Lama-lama “buku” yang kita baca mulai agak banyak. Hidup disini bagi kita adalah perputaran logika “buku” kita, dan “buku-buku lain” yang teman-teman kita baca.  

 

Perlahan dunia sudah mulai tidak terlalu hitam putih. “Kenapa teman kita berbeda warna beda selera” sudah mulai bisa kita cari sela-selanya, tentu saja untuk kemudian kita kritik dengan bahasa yang luar biasa pintar, niat kita dulu itu mulia sekali kan kawan?? “untuk menyadarkan mereka yang belum mengangguk-angguk dengan buku kita”. Kita baca “buku” mereka dengan harap-harap cemas untuk mencari dimana kira-kira letak salahnya?

 

Padahal hidup kita ini kan sepertinya terlalu sayang jika kita tidak sebisa mungkin memulung kebijakan dari banyak orang. absorb what usefull and reject what is useless. Persis seperti kita pintar benar membedakan mana telur mana kotoran ayam, meski keluar dari tempat yang sama toh kita tidak pernah salah ambil atau kemudian menjadi beringas dan radikal menolak semua telur. 

 

Dalam dunia yang berwarna ini, hidup kita adalah perputaran logika untuk belajar dari “buku” kita dan “buku” yang orang lain punya.

 

Sudah membaca ribuan “buku”??? Bukankah tiba2 orang lain “pintar” dan kita ini “bodoh”??

5 thoughts on “buku

  1. “waktu ‘muda’…”
    kadang masih suka ga nyadar kalo kita ini tambah tua…hehe*tawa beku on

    setuju pak, semakin banyak belajar, semakin banyak yang tidak kita tau…

  2. semakin banyak membaca ‘buku’ seharusnya membuat kita tahu bahwa ada banyak ‘buku’ yang belum kita baca, wahai para kutu ‘buku’…

  3. bener Mas…semakin banyak saya belajar semakin saya sadar banyak hal yang belum saya ketahui.

    Hmm…posting-an Mas menjawab pertanyaan saya selama ini. Kenapa setelah kuliah, saya merasa sangat bodoh sekali. Saya juga jadi menyadari banyak hal bahwa tidak ada manusia yang sempurna (sebenernya saya sudah sering dengar kalimat ini, tapi butuh waktu yg cukup lama untuk memahaminya ternyata…:p).

    Namun setiap kita Allah SWT ciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Masing-masing kita berfungsi sebagai potongan puzzle. Hilang satu potongan, maka tidaklah sempurna puzzle tersebut.

    Maka tidaklah pantas secuil pun muncul rasa sombong dalam hati manusia. Tidak pantas meski hanya sekelebat.

    hmm…terimakasih karena sudah mengingatkan kembali. Salam kenal…=D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s