delapan belas tahun

Delapan belas tahun, sejak Bapak memutuskan untuk membangun rumah sendiri, dengan tangan sendiri, keringat sendiri, menegakkan bata demi bata, mengangkat berkarung karung semen, merangkai kayu mengayu, dan mengatapi jengkal demi jengkal pucuk rumah.
Delapan belas tahun itu juga kami tempati rumah sederhana itu dengan segala suka segala dukanya, rumah itu sudah cukup setia menemani aku tumbuh besar dan berkembang dewasa untuk berani bercita-cita sejauh-jauh mata bisa menerawang.

Hanya satu kekurangannya, rumah itu, bagian depannya tidak memiliki teras.

Pembangunan rumah terpaksa dibekukan, hibernasi yang panjang, aliran rezeki berpindah alur dari rumah menuju kampus di pinggir jalan lintas bandung sumedang, kampus tempat aku belajar banyak hal, tempat dimana Bapak dan Ibu mengajarkan padaku bahwa orangtua adalah penjaga tangguh luar biasa, yang tidak sekalipun membiarkan mimpi2 kita itu untuk runtuh atau doyong, seberapapun harga yang harus ditebusnya.

Setelah delapan belas tahun yang panjang, barulah aku memiliki kemampuan untuk meneruskan kerja berat Bapak dan ibu dulu, membangunkan rumah kecil itu dari tidur panjangnya, dan menambahkan sebuah teras mungil menghadap ke barat, menghadiahkan mereka waktu-waktu berharga untuk berselonjor menikmati semburat ufuk merah tembaga.

********

Suatu malam yang tenang, Bapak, ibu dan adik2ku berkumpul di teras mungil depan rumah lalu saling bercerita banyak hal.

Terlambat……
baru malam itu saja aku benar-benar sadar, bahwa hidup yang kita lakoni jungkir balik di dunia yang berputar cepat ini akan tidak berarti sebelum kita memberi arti. Bahwa harga kita sebagai manusia sama sekali tidak diukur dengan jumlah toga, rentet gelar dibelakang nama, saldo deposito kita, atau karya-karya besar mendunia.

Kita ini seperti terlampau cepat berlari, setengah mati kita pacu langkah tanpa tahu kemana kita menuju. Kita pergi bermil-mil jauhnya, kita sebrangi banyak selat banyak samudera, setengah mati kita mendaki setiap yang terjal lalu menuruni setiap yang melereng, kita mau kemana????

Payah kita membolak balik lembar buku-buku tebal, sekian guru tempat kita bertanya, sekian teman tempat kita berkeluh, masih juga kita tak terang kemana kita semestinya.

Delapan belas tahun baru bisa pelan-pelan aku mengeja, bahwa semakin banyak kebahagiaan bisa kita derma, maka semakin bahagia pula kita.

Lalu juga, pada suatu malam yang berhujan rintik, kutuliskan cerita ini dari pinggir rumah tua, untuk semua saudara yang mencari arti mencari bahagia, tolonglah…… jangan habiskan delapan belas tahun dengan sia-sia.

Padahal kebahagiaan kita itu semestinya terserak-serak di pinggir-pinggir rumah kita, bertumpuk-tumpuk sudah tak kita sentuh dari dulu-dulu sekali.

3 thoughts on “delapan belas tahun

  1. hmm…pas lagi mikir gmn caranya ngerasain jauh dr rumah…selalu terinspirasi “breakaway”nya kelly clarkson..kapan ya bs pergi … spread my wings and learn how to fly

    Hmm..

  2. 18 taun ya yo? memang waktu yang terlampau panjang buat membangun sebuah rumah…he2..kau tidak terlambat kawan, memang kadang butuh proses sekian panjang untuk kita bisa memahami, bukankah 18 tahun itu perjuangan kawan? kau benar2 tidak menyia2kannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s