masih saja…

Sampai saat ini, dua kali aku melihat ibu menangis.
Pertama adalah waktu Bapak dipindah tugaskan ke Bengkulu, sebelumnya kami tinggal di sebuah tempat terpencil di pelosok, kabupaten di pinggiran bengkulu. Sebenarnya pindah ke kota semestinya jadi sebuah berita gembira, tapi tidak untuk pasangan baru yang sedang menanti hasil panen palawija yang ditanam dengan perjuangan setengah mati, setiap hari membersihkan padang rumput ilalang yang menutupi hektar tanah hutan rimba, membabat pohon2 tinggi besar, menanam, menyiram, dan segala sesuatunya sendiri, hingga tiba waktunya menunggu panen kami sekeluarga dipindahkan. Harus!!! tak ada ulur-uluran waktu.

Singkat kata kami berkemas, waktu itu ibu belum menangis. Seingatku Bapak dan Ibu  itu sangatlah kekurangan dalam banyak hal, uang ditangan sudah habis untuk modal berkebun, panen masih menunggu minggu sedang perintah pindah sudah di depan mata, lantas apa modal untuk pindah?
Dengan luar biasa berat, mas kawin Ibu -tanda cinta mereka berdua itu- dijual, disitulah aku pertama kali melihat ibu menangis.

Kali kedua aku melihat ibu menangis adalah setiba kami di bengkulu.
Kami mengontrak sebuah rumah kecil, sebegitu kecilnya hingga pintu depan dan pintu belakang rumah hanya dipisahkan berapa langkah kaki saja. Tapi hidup harus terus berjalan. Perlahan kami merasa betah, tahun bergulir dan berganti cerita, rumah kontrakan ternyata dijual oleh empunya tanpa pemberitahuan. Sang pemilik baru, berniat membangun kembali rumah yang sedang kami kontrak, tanpa banyak basa-basi segala material bahan bangunan ditumpuk di depan rumah, pagar2 dicabut, apa yang bisa dibongkar dibongkar, sungguh tak sopan, padahal sungguh kami masih ada disana dan masih berhak disana, kami merasa diusir dan dilecehkan. Dan itulah kali kedua aku melihat ibu menangis.

Kami pindah lagi untuk kedua kalinya, kalau kepindahan pertama adalah kepedihan karna harus meninggalkan semua usaha yang telah berbulan-bulan dikerjakan, maka kepindahan kali ini adalah kepedihan karna merasa jadi orang terpinggirkan, nilai sebagai manusia sudah terhempas sampai titik yang serendah-rendahnya, Bapak marah luar biasa, tapi tak ada yang bisa dilakukan, kemarahan dan kesedihan yang mengendap itulah yang memacu Bapak untuk segera mendirikan rumah, rumah kami sendiri.

Tapi apa yang bisa dijadikan modal untuk membangun rumah? Kami keluarga yang sedang-sedang saja, dalam bulan-bulan tertentu kami bisa kekurangan, hampir tidak pernah lebih. Dengan modal nekat bapak membangun rumah, membangun fondasi sendiri, mengangkat batu2 kali sendiri, menegakkan tiap butir bata sendiri, merangkai tiap besi sendiri, merakit jendela dan pintu sendiri, menggali sumur sendiri.
Setiap bulan Bapak dan Ibu menghemat uang untuk membeli semen dan pasir barang satu sak barang setengah gerobak, lalu menempelkannya di sudut rumah, dipinggir pintu, dimana-mana saja yang dapat ditempel.

Itulah rumah kami, kebanggaan bahwa kami sekarang sudah berdiri diatas kaki kami sendiri benar-benar menyulut, maka kami begitu riang ketika tinggal di rumah yang berlantai tanah, berlampu teplok, jendela dari kayu yang dipaku-paku tak karuan, dinding bata merah, dan atap yang tak berpelapon. Setiap hari kami berkumpul di ruang tengah, bercerita banyak hal, kami kerubungi lampu teplok kecil itu seperti anak ayam yang mengerubungi induknya. Tapi ingat teman, kami bahagia.

Perlahan kehidupan seperti roda pedati yang berputar, fase susah payah itu nyata-nyata dengan susah payah kami bisa tempuh, ekonomi membaik, rumah semakin layak huni, lampu teplok kami berganti neon yang menyala terang, lalu kami berkumpul di teras rumah, mendengarkan cerita Bapak yang mendongeng seperti dalang.

“itulah nak, Bapak ceritakan ini semua bukan untuk kita larut dalam romantisme duka, tapi semata buat kita berkaca, bila suatu ketika nanti kita jaya, ingatlah setiap jenak duka cita yang dulu pernah kita lewati sama-sama. maka bersyukurlah!!”

********

Tiba-tiba aku merasa benar2 kecil dan congkak, sedemikian banyak nikmat yang menghujani kita bersambung sambung sedang kita masih saja susah bersyukur, masih saja………….

8 thoughts on “masih saja…

  1. Kosongkan pikiran, baca per paragraf dengan hati, renungkan dalam-dalam, rasakan gejolak hati.

    KEMUDIAN! Apa yang akan kamu lakukan!
    Sebagai pembaca historical, pengambil makna tulisan, atau pengambil keputusan untuk menjadi lebih baik.

    Thx

  2. alhamdulillah,,D diingatkan..
    alhamdulillah,,harusnya ini yg slalu D ingat n ucap..

    Thx Robb,,untuk kmarin,,untuk hari ini,,untuk hari esok..

  3. dulu tak sengaja ku temukan blog ini. setiap aku mau ngenet, yang pertama ku buka adalah blog ini.walau kelihatan sederhana,tapi bermakna.sungguh seseorang yang bisa memahami diri sendiri agar bisa memahami orang lain dan hidup ini. sehingga tiap coretan begitu berarti.stiap coretmu buat aku semangat.makasih.
    i like,,
    keep writing……(n_n)
    semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s