Dari jalan yang naik dan yang turun

Tuhan hadirkan banyak hikmah dalam setiap hari yang kita lewati.

Pertemuan yang menyenangkan dengan banyak teman, orang-orang baik yang membangkitkan semangat, yang banyak sekali hal bisa kita tiru dari mereka-mereka. Atau kejadian kejadian yang menghibur dan mewarna halaman-halaman sejarah kita. Atau penghargaan yang membubungkan kita ke angkasa yang bertingkat-tingkat itu.

Menarik benar, menyadari betapa Tuhan dengan sangat bijaksananya mempergulirkan malam setelah siang benderang kita, mempersempit ruang setelah lapang kita, menelusupkan lelah setelah kuat menggelegarnya kita, mensenyapkan sunyi setelah hiruk pikuk kita.

Hari-hari selalu dibimbingnya dengan maha indah untuk mengajarkan kita arti tunduk dalam, arti syukur yang lapang, yang ikhlas, yang menerima benar atas segala naik turunnya cerita-cerita kita.

Kita ini sudah terlampau sering menangis dan ciut, bersembunyi dibalik rerimbun belukar, kita kutuk-kutuk gelap hari padahal Tuhan bimbing kita untuk jelma kesatria.

Banyak nian kita meratap-ratap nasib, kita iba-iba diri yang terseok-seok, padahal Tuhan tempa kita untuk sekeras karang sekeras baja.

Kita tanam susah duka dalam-dalam, padahal Tuhan bimbing kita untuk syukur.

Kemana lagi kita lari bersembunyi jika malam itu niscaya jika pagi itu niscaya?

Tuhan….
Syukurkan hati kami untuk setiap yang benderang.
Kuatkan hati kami untuk setiap yang gulita.
Ajarkan kami untuk percaya benar bahwa Engkau memandang kami dengan senyum, bangkitkan Jiwa kami yang ciut merangkak-rangkak ini.
Keluarkan kami dari sembunyi panjang ini.
Yakinkan kami akan setiap janji pagi yang mengintai dibalik pekat malam.
Cukupkan kami untuk memohon-mohon padaMu, ajarkan kami untuk berdiri tegak disetiap terjang topan badai.
Lalu lembutkan hati kami untuk selalu sujud menapak tanah serendah-rendah.

Telusupkan ketenangan ke dalam-dalam sumsum belulang kami ini, untuk berdiri dan mengamini doa kami tadi.

warisan

Aku sudah bisa membaca………..

Adalah Kakek, orang yang dengan sabar mengajarkan aku mengenal huruf demi huruf, membunyikan konsonan dan vokal, merangkai kata dan kalimat, terus begitu hingga kakek meninggal saat aku kelas 3 SD.

Tidak banyak warisan yang kakek tinggalkan, aku tidak ingat lagi dimana-mana saja barang-barang peninggalan beliau, satu-satunya benda yang aku tahu adalah sebuah buku tua.

Buku dengan ejaan melayu lama itu menjadi barang bersejarah buatku, itu adalah sebuah buku tanya jawab agama, bukan buku luar biasa.

Aku terus membaca buku itu lembar demi lembar, bahasan demi bahasan. Sampai aku sangat yakin, jika suatu ketika seseorang bertanya padaku, buku apa yang paling berpengaruh bagi kehidupanku, aku akan menjawab lantang dan cepat “buku tanya jawab agama, buku kuno warisan kakekku”.

Lembar-lembar buku tua itu mengajariku bagaimana menganalisa suatu masalah, bagaimana membandingkan banyak ragam pendapat, bagaimana memahami kenapa para bijak cendikia itu menghukumi suatu masalah dengan begini dengan begitu, akhirnya buku itu mengajariku bagaimana berpendirian ditengah gelombang perbedaan penafsiran banyak kepala manusia.

Tak putus-putus aku memikirkan betapa warisan itu telah mempengaruhi sepanjang ini perjalanan hidupku.

Jika suatu nanti aku telah menjadi kakek-kakek, akan aku ingat betul untuk meninggalkan sebuah buku berharga untuk anak cucuku nanti, tapi sebelum itu aku akan mengajarinya mengenal huruf dan angka, mengeja kata dan kata.

Jika cucu kita sudah bisa membaca sejak masih belia, dan dilahapnya pula buku tua peninggalan kita kata demi kata, maka semoga pahalanya mengalir deras sampai ke langit dan ujung-ujungnya, menerangi tempat pembaringan kita dengan temaram yang indah tak alang kepalang.