sebentuk cinta buat para guru

Dari kecil, bapak sudah menanamkan dengan sangat, biar kami-kami ini, anaknya, tidak pernah merasa puas untuk belajar hanya dari satu orang guru, dari satu bentuk saja pemahaman, dari satu warna saja pola pikir.

Terlalu luas dunia ini, dan terlalu kecil tempurung otak kita, apatah lagi jika kita batasi diri untuk menerima bentuk kebenaran dari segala yang kita suka saja. Jangan!!!

Maka setiap hari aku belajar dengan jujur pada setiap orang, setiap buku, setiap kebijakan, setiap cerita-cerita, setiap apa saja. Kadang2 pembelajaran yang panjang itu membuatku merasa dekat dengan setiap “guru-guru” yang jauh.

Mereka itu banyak sekali berbuat, dan banyak nian mengajarkan kebijakan. Yakin benar aku, bahwa tidak sekalipun orang-orang itu pernah merasa mengajari seorang yang terlampau biasa ini, yang mereka tidak mungkin juga pernah tebak bahwa setiap penggal kata-kata mereka itu jadi pelita yang mewarna ditengah jatuh terpuruknya aku dalam hari-hari yang pekat, misalnya.

Maka aku sering tercenung dan menangis, menangis untuk hal-hal yang biasa saja, untuk setiap kebijakan yang tiba-tiba timbul dari lontar kata ibu waktu menasehati untuk aku selalu semangat belajar misalnya.
untuk setiap kali aku melihat bapak menatap awang2 langit malam lalu menghela nafas dengan berat misalnya.
untuk setiap kali aku tercenung setelah membaca buku yang kubeli di sudut gramedia itu misalnya.
untuk kelakar supir taxi yang menceritakan uang harian yang dia irit-irit untuk istrinya itu, misalnya.
untuk setiap semua yang biasa.

Lalu kusempatkan berdoa sejenak, untuk semua yang kebijakannya sudah kupulung karna menguntit mereka dari jauh itu, semoga tetes keringat, tiap jejak langkah, tiap kata yang keluar, juga tiap hela nafas berat mereka itu dibalas dengan sebaik-baiknya, diganda-gandakan hitungannya, lalu dibuatkan untuk mereka sebuah istana kecil di firdaus sana, semoga dipajang di pintu depannya

persembahan doa dari murid tak bernama

“sebentuk cinta buat para guru”

*) images taken from google

mimpi

sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna. Jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.

Itulah masalahnya, selama ini hidupku mengalir sebagaimana alir sungai, aku mengikuti saja alurnya, kulakukan apa-apa saja seperti yang kebanyakan orang lakukan saat mereka menginjak fase yang sama denganku. Orang kuliah, ya aku kuliah, orang lulus ya aku lulus, orang kerja ya aku kerja….. jujur, sumpah mati begitu. Terlihat sangat tidak membara dan kurang greget, tapi ya bagaimana lagi, begitulah adanya.

Sampai suatu ketika, dalam suatu hari, dalam perjalanan panjang hidupku yang mengalir sampai sekarang itu, aku tiba-tiba tersentak oleh sebuah kesadaran yang menyeruak tiba-tiba, tanpa katalis macam apa, tanpa alasan apa-apa, aku sadar, bahwa sebuah cinta maha indah telah menuntunku dengan sangat rapih, untuk mengalir pelan dan sampai ke muara.

Segala bentuk syukur bentuk puji kuucap sayup dan lantang, untuk “keajaiban” yang mempertemukan aku dengan kawan-kawan yang membagikan semangat dan mimpinya, hingga jadilah aku, sampai saat ini adalah orang yang hidup dan tumbuh besar atas cipratan mimpi-mimpi mereka.

Sewaktu SMA, alhamdulillah, Tuhan izinkan untuk aku belajar diantara teman-teman yang aku tahu betul kapasitas intelektual mereka itu mencuat-cuat tak dapat dibendung, jadilah aku ikut-ikut juga belajar sampai terengah-engah untuk sedikit saja berupaya mengikuti ritme orkestra mereka yang luar biasa cepat itu. Mereka lulus, aku lulus, mereka kuliah aku kuliah.

Waktu kuliahpun begitu, silih berganti Tuhan pertemukan aku dengan semua orang yang berapi-api semangatnya, yang tak kurang-kurang perjuangannya, yang mimpi-mimpinya itu mereka gantung di langit yang paling ujung, menggantungnya saja sudah membuktikan mereka layak mencapainya.

Selalu begitu, mereka bermimpi, lalu berjuang sampai putih tulang mereka itu terlihat, lalu berjalan terus sampai keringatnya itu bersimbah tak karu-karuan, kukejar mereka sekencang-kencangnya, mereka lulus aku lulus, mereka bekerja aku bekerja.

Sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna, jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.

Maka itu, hari ini aku sudah memutuskan untuk berani bermimpi, anggaplah ini sebagai sujud syukur yang khidmat, atas segala karunia yang berhamburan menghujaniku dari puluhan tahun lalu, atas segala cerita kehidupan yang tersulut dan membara berkobar-kobar oleh nyala mimpi semua orang luar biasa itu.

Akan kubangun sebuah rumah mungil, dipuncak bukit menghadap lembah yang kabutnya melayang-layang tipis itu, lalu meskipun sedikit telat nantinya akan kuucapkan juga sebuah janji dengan kata yang paling sungguh, kan kupesankan anak cucu kita nanti untuk menjelma pribadi yang punya mimpi, yang baik, yang mulia.

Mereka bermimpi………

Kita bermimpi……….

*) images taken from google