orasi sandal

sandal

Postulat dunia pengeboran, kawan-kawan yang saya hormati, adalah “all day is just a day”. Tidak pernah ada hal spesial yang membuat suatu hari kita maknai lebih dari hari yang lain. Tidak ada bedanya hari minggu dan senin, sebegitu juga berlaku untuk selasa dan sabtu misalnya. Tentu saja kadang-kadang ada waktu-waktunya dimana hari terasa agak semarak, semisal hari raya atau tujuhbelasan, tapi tetap, pengeboran terus dilakukan, tak ada berhenti, tak ada tapi.

Dalam dunia yang ricuh semacam ini -sebenarnya juga dalam dunia kerja pada umumnya- kita menjadi manusia yang bingung. Karna perlahan betul, pekerjaan yang kita lakoni itu dengan tak terasa membelenggu kita. Tiap hari kita bergelut dengan waktu dan segala macam kesibukan sampai kita tidak lagi tahu kemana kita berlari, kenapa tiba-tiba ritme kita begitu cepat? Kenapa kita lantas belingsatan tak karuan mengerja begitu banyak hal, terpusingkan dengan segala macam, dan menjelma kurcaci kerdil bermental temperamen.

Untunglah, di tempat ini, di anjungan pengeboran tepi laut yang menghabiskan waktu 2 setengah jam speedboat menyusur tepian delta untuk mencapainya, masih ada ruang sempit satu kali satu meter. Ruang yang kami beri nama Musholla.

Kami sudah terbiasa, berjejal didalamnya. Disinilah kami menenangkan diri sejenak, dan merasa seperti ter-teleport bermil-mil jauhnya, ke sebuah negri damai pada kala senja, sambil menggenapkan sujud dengan tuma’ninah dan menikmati kesadaran bahwa hidup kami ternyata tidaklah terputar-putar memuakkan sekeliling dunia saja.

Aku ingat betul, setiap kali aku dihadang masalah kompleks yang pelik, setiap kali kebuntuan menyumbat ide-ide, atau setiap kali resah hinggap dengan tiba-tiba, aku selalu masuk kedalamnya. Berdoa dengan rendah suara, meminta dengan menghamba, biar Yang Maha Perkasa diatas sana mengeluarkan aku dari lumpur yang menyedot kita kedalam pusarannya yang abstrak itu.

Setiap kali aku sholat di dalam musholla kecil itu, aku tinggalkan sandalku diluar. Begitu juga yang berlaku untuk sesiapa saja.

Lama-lama, aku mulai bisa mengetahui siapa yang sedang bersujud didalam ruang sempit itu, siapa yang sedang mengadu di kotak satu kali satu itu, siapa yang lagi berkeluh di surau seadanya itu, hanya dengan melihat sandalnya.

Lama-lama sandal menjadi semacam saksi bisu. Sandal telah dengan sangat pandainya menjadi pemain penting dalam drama pencarian panjang makna hidup.

Hari itu aku mengantri di depan musholla. Menunggu kawan yang bermunajat cukup lama di dalamnya. Tak enak hati rasanya aku mengganggu orang yang sedang berbincang dengan Tuhannya, lalu untuk menghabiskan waktu aku mengamati saja sandalnya.

Alangkah beruntung sandal itu? Dimiliki oleh seorang yang menyingsingkan lengan bajunya untuk berwudhu. Lalu melepaskan diri dari segala sibuk dunia yang melekat seperti minyak mentah, hitam dan lengket.

Sandal itu telah dibawa takdir untuk menopang kaki –mungkin bapak dari anak-anak yang beruntung, suami dari istri yang terpercik rezeki ketenangan hati, anak dari orang tua yang terkirim doa-.
Kupikir nanti di syurga sana, mungkin sandal itu akan menjadi seperti pembicara ulung, berorasi dengan retorika mengalahkan hittler dan soekarno, bercerita bahwa betapa empunya dulu meninggalkan sejenak pipa-pipa yang berputar cepat menembus lubang ribuan meter seharga triliunan rupiah.

Nantinya mungkin sandal-sandal lain di syurga akan iri, ini luar biasa pikir mereka, betapa nantinya sandal itu ditempatkan mungkin setara dengan sepatu lars para syuhada, yang dulu hancur dihantam mortir atau diberondong desing peluru tajam yang berputar dan menikam dengan beringas.

Tapi itu nanti. Sekarang sandal itu masih disitu. Tersusun rapih di depan pintu, ada air di sela-selanya. Dari sepanjang tangga aku baca jejak langkahnya mengular panjang belum hilang.

Tiba-tiba sepasang kaki perkasa menyorongnya. Bapak tua itu tersenyum ramah dan membukakan setengah pintu untukku. Lalu seketika aku ingin meninggalkan sandalku di depan sini tengah malam nanti.

Iklan

4 thoughts on “orasi sandal

  1. Assalamualaikum wr wb

    subhanallah,pengemasan cerita yg begitu menarik.
    Bikin trenyuh.tutur bhasany bgtu puitis tp mudah tuk dipahami.

    Btw,syukron atas kunjungan k blog ane.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s