KIBAR!!!

035

Kawan. Dalam dunia pengeboran minyak, salah satu hal yang menjadi tantangan besar kita adalah kenyataan bahwa kita seringkali diharuskan berpindah-pindah tempat kerja.

Dengan jadwal kerja yang diluar orang normal kebanyakan, dan dengan tempat kerja yang juga diluar orang normal kebanyakan, para pemburu minyak bisa tidak bisa mestilah menjadi pandai dan terampil menyeting suasana hatinya.

Sebentar kita bekerja di anjungan pengeboran tengah laut, sebentar kemudian kita terasing di seberang negri antah berantah, di tengah belantara, di pusaran gurun, di pinggir rawa dan delta. Bertemu orang-orang yang baru. Yang berlainan budaya. Yang kepalanya sebatu karang.

Seperti di siang hari yang menyengat membakar ini, waktu baju jadi lengket dengan keringat dan badan gerah bukan main. Emosi bisa berlari seperti deret eksponensial, meloncat-loncat tak karuan beberapa digit.

Aku kesal bukan main. Memang suasana kerja yang panas dan segala letih penat yang mencakar-cakar itu kadang-kadang membuat orang jadi temperamen. Hal ini gampang sekali kau ukur kawanku, bisa diindra secara visual, kasat mata kawan!

Dan diwaktu-waktu seperti inilah aku belajar mengendali suasana hati. Rupanya hati kita itu banyak panel kontrolnya. Tidak bisa disetir dengan satu tombol. Susah sungguh mengaturnya.

Kupikir kawan, pastilah semua orang pernah mengalami kebosanan, muak, penat yang menggerus pondasi tempat kita berdiri, lalu kita limbung dan baru sadar bahwa mungkin ini bukan tempat kita.

Dan dimasa-masa sendiri, dirundung masalah yang brutal mendobrak pertahanan kita, kadang-kadang aku berharap menjelma semut, menjelma tanah kering, air, atau bunga rumput yang digendong angin pelan-pelan sampai ke negri jauh dimana ilalang tidur-tiduran dengan rapih seperti permadani.

Tapi aku sadar, bahwa hidup kita dan hidup siapapun saja adalah seperti perjalanan panjang mendaki terjal tebing. Batu-batu runtuh dan menggelinding siap menghantam kita kapan saja, dengan pola jatuh yang tidak bisa kita bikin permodelan dan cari kemungkinannya.
Lantas apa karna itu kita ingin dikenang sebagai pendaki menyedihkan? yang menangis menggeletek melihat sedemikian tinggi dakian sudah kita capai lalu lutut kita gemetar memandang jauh kebawah. Sungai dalam. Batu cadas!

Atau mungkin hidup kita adalah seperti berjalan di Sahara, menuju jauh pandang yang terlihat macam titik saja. Lantas apa kita ingin dikenang sebagai musafir memalukan? yang menciut dan menangis menggelusur tanah, mengerang-ngerang selayak bayi?

Kita gemetar memang! kita berpeluh memang!

Tapi kebanggaan kita adalah untuk mengenang diri sendiri bahwa di-liput terpa topan badai itu kita tetap menantang tegak, bukan ciut meringkuk!

Sampai nanti kita kibar bendera di puncak sana! Atau di ujung jauh sana!
Atau mati terhantam cadas atau terhempas terbanting badai pasir.
LAWAN!!!

One thought on “KIBAR!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s