Ikhlas Delapan Gelas

Glass of water

Aku sebenarnyalah hanya menuruti kata-kata para ahli saja, kawan. Mereka mengatakan bahwa minimal kita haruslah meminum delapan gelas air dalam sehari, demi kesehatan tubuh kita. Maka dengan manut-manut aku lakukan juga pesan itu, cobalah kawan-kawan sekalian pikirkan, siapa yang lebih tahu tentang bagaimana menjaga tubuh selain dari pakar-pakar kesehatan itu?

Begitulah awalnya rekan-rekan, sampai di suatu siang yang panas waktu itu aku duduk di sebuah bangku bagian paling belakang bus jurusan Bandung-Jakarta. Dengan gagah kugenggam di tangan kananku sebotol aqua enam ratus mililiter sekira mungkin dua gelas air putih, demi kesehatan kawan!

Waktu baru saja kuminum setengah botol, tiba-tiba aku terhenti. Tepat didepanku ada seorang nenek-nenek yang berdiri kepayahan. Inilah yang menjadi dilema besar bus kota pada umumnya kawan. Para sopir dan keneknya itu, biasanya dengan sangat lihainya merayu calon penumpang. Aku lama-lama mengira mereka menggunakan semacam hipnotis yang membuat penumpang lugu di pinggir trotoar itu mau untuk masuk dan berjejal ke dalam bus yang jelas-jelas tidak lagi ada bangku yang belum dikuasai penumpang.

Seperti nenek malang itu. Dan disinilah moral kita diuji. Aku kasihan dengan nenek itu. Tapi anehnya yang terpikirkan bagiku adalah sebuah pertanyaan maha krusial “apakah nenek malang yang sedang berdiri kepayahan itu sudah meminum hampir delapan gelas hari ini?”. Inilah salah satu bentuk kebodohan ilmiah rekan-rekan. Dihadapkan pada kenyataan bahwa bangku sudah penuh dan ada seorang renta berdiri kepayahan termegap-megap, maka pertanyaan dan pembahasan mengenai jumlah minimal air yang harus diminum adalah pertanyaan tolol yang jatuh pada konteks amat sangat tidak tepat, tak karu-karuan bodohnya.

Sebenarnya begini, kawan. Aku ini, sudah pula tergerak untuk membantu, untuk dengan serta merta berdiri dan menawarkan bangku tempat dudukku kepada sang nenek. Tapi apalah daya, kakiku terasa lemas nian. Badan mendadak seperti meriang. Apakah ini akibat dehidrasi? Pikirku? Ah…. Wajar saja….. pastilah ini karna air yang kuminum baru setengah botol… cobalah kawan-kawan bayangkan. Setengah botol aqua enam ratus mililiter pada sebuah siang yang panasnya beringas seperti setan, manalah cukup untuk jadi asupan energi? Itulah retorika pembenaran paling hebat sepanjang sejarah hidupku. Ini yang disebut argumen ilmiah untuk membelit-belit keadaan.

Seperti lomba cepat tepat babak rebutan. Sebenarnyalah aku sudah kalah beberapa detik. Tiba-tiba seorang bapak yang tadinya duduk disampingku langsung berdiri dan dengan elegan menawarkan bangku tempat duduknya kepada Nenek kasihan itu.

Aah……. Baru saja aku ingin berdiri teman, sungguh….. baru saja.

Tapi syukurlah, setidaknya secara moril, aku sudah tidak begitu terbebani, bahwa kenyataan dihadapanku sekarang berganti menjadi seorang bapak-bapak muda berdiri tegap menggantikan sang nenek yang menghela nafas lega di sampingku, tidaklah terlalu mengganggu pikiran. Pak….. kita sama-sama laki-laki tangguh dan perkasa, kataku dalam batin.

Dan bus melaju sekira delapan puluh lima kilometer perjam. Seseorang turun di tepi jalan. Dan bapak baik hati telah mendapatkan lagi tempat duduk. Sang nenek kasihan tadi tak henti-henti memuji kebaikan bapak-bapak tegap, dan nenek kasihan itu merapal banyak nian doa untuk sang bapak.

Dalam hati aku berfikir. Ah………… andai saja aku yang menolong nenek kasihan itu tadi?

Sekarang sudah tepat satu botol aku habiskan. Lalu mataku menelusur ke depan dan mencari apa kiranya ada orang berdiri kepayahan yang akan aku tolong dengan dramatis. “mbak-mbak……. Silakan duduk di bangku saya” sudah kusiapkan kata-kata indah hasil pertapaan dan minum air kesehatan tadi.

Sekali lagi babak cepat tepat dibuka. Dan itu dia, sepuluh langkah di depanku seorang mbak-mbak setengah baya, agak kesusahan dengan level yang sekira setengah nenek kasihan tadi. Dan bel sudahlah pula kutekan dengan seksama TEEEEET……. “mbak, duduk aja di bangku saya” ujarku dengan sopan dan penuh tatakrama.
“ga usah dek di simpang depan saya turun kok” katanya……

Lalu aku dengan muka malu-malu kembali duduk di bangkuku. Tidak apa-apa, dibabak ini pilihan salah tidaklah mengurangi nilai.

Sang mbak setengah baya turun, penumpang baru naiklah sudah dan aku menangkap soal berikutnya. Pertanyaan kedua, babak rebutan: “apakah yang harus dilakukan saat ada seorang ibu baru naik bus dan tidak mendapatkan tempat duduk, sedangkan anda sedang duduk dengan berleha-leha dan baru saja minum hampir delapan gelas air sehari? “

Astaga…… pertanyaan PMP jaman kita sekolah dulu rekan-rekan. Anak-anak TK juga tahu jawabannya, maka aku ulangi lagi kata-kata barusan “bu… duduk aja di bangku saya”.

Inilah aku pikir tindakan paling heroik yang pernah aku lakukan selama seminggu ini. Dan dengan harap-harap cemas aku menantikan babak dimana ibu yang baru naik tadi nantinya akan memuji-mujiku terus dan merapal doa kebaikan bagiku seperti laku sang nenek tadi untuk bapak-bapak tegap itu.

Bus sekarang di level sembilan puluh kilometer perjam. Dan waktu telahlah bergeser tigapuluh lima menit. sang ibu-ibu diam seribu basa. sedang tak ada tanda-tanda penumpang akan turun satupun. Jalan tol yang biasanya ditempuh sekarang sedang ditutup karna satu dan lain hal. Jalan alternatif adalah memutar lewat pinggiran puncak dengan lama perjalanan dikali dua ditambah faktor tak tentu kurang lebih satu jam.

Kakiku mulai gemetar. Mata berkunang-kunang. inilah akibatnya jika berbuat kebaikan dengan tekad yang tidak bulat.

Babak terakhir. Pertanyaan agama: “hal apakah yang bisa menghanguskan amal seperti api yang memakan kayu bakar?”

Pastilah itu jawabannya………. Pasti………………….

*lalu aku melongok kepada nenek-nenek yang tertidur pulas, lalu bapak-bapak tegap yang terpejam pejam, lalu ibu-ibu yang menerawang kosong ke hijau teh di kebun pinggir bukit-bukit sebelah kiri jalan ini*

Sementara bus merayap mungkin enampuluh kilometer perjam, dan aku sedang belajar ikhlas sembari berharap jeda air dua gelas lagi.

One thought on “Ikhlas Delapan Gelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s