es potong dilematis

espotong
Disela-sela penat kerja seperti akhir-akhir ini, aku senang membayangkan masa-masa SD dulu. Waktu dimana kebahagiaan itu rasanya kok gampang sekali diperoleh. Hal-hal yang membuat kita bahagia waktu itu adalah hal-hal sederhana.

Dulu itu, jarak antara sekolahku dan rumah kecil tempatku tinggal kalau tidak salah adalah sekitar 15 km. biasanya aku naik angkutan kota, jalan dulu sekitar sepuluh menit kurang, dari rumah menuju gang depan pinggir jalan raya. Baru dari sana menunggu angkutan kota yang kebetulan disupiri oleh bapak-bapak baik hati.

Rekan-rekan sekalian, dulu itu tarif angkutan kota untuk anak-anak sekolahan adalah seratus rupiah, sedangkan untuk umum seratus lima puluh rupiah. Para supir angkot yang tega nian itu biasanya pasang tampang cuek. Aku sudah menunggu dengan muka memelas di depan gang pinggir jalan raya itu, tapi masih juga mereka tidak berhenti. Ya logis juga sih kalau dipikir, kalau saja bangku yang dipenuhi oleh badan kecilku ini diganti dengan yang tidak pake seragam kan sudah untung limapuluh rupiah.

Setiap hari haruslah aku berangkat lebih pagi. Konsekuensi pulang juga sama, jadi lebih siang. Untunglah, karna banyak pertimbangan, suatu ketika jadwal sekolah di SD kami waktu itu dirubah. Anak kelas tiga masuk siang. Anak kelas tiga jadi pulang sore.

Aku sedikit tertolong. Jadi aku tidak usah pergi terlalu pagi lagi, bisa santai-santai sedikit. Menjelang siang barulah aku jalan kaki sekitar kurang dari sepuluh menit menuju pinggir jalan raya. Di saku sudah ada uang receh duaratus rupiah.

Nah….. mengenai duaratus rupiah inilah aku akan berkisah pada kalian-kalian. Jadi ceritanya begini. Ibuku, dari dulu sekali waktu aku SD, sudah menerapkan sebuah metoda pendidikan anak ala baru. Metoda pendidikan berhemat. Urusan macam begini ibu sudah lebih ahli, dia tahu persis ongkos berangkat seratus rupiah, ongkos pulang seratus rupiah.

Diberikanlah kepadaku duaratus rupiah receh setelah salaman pagi-pagi. Aku tunggu sebentar sambil muka memelas, ibu tidak bergeming. Tunggu lagi sebentar, tetap tidak bergeming. Astaga……… aku menyerah, urusan begini seperti tawar menawar beli barang. Kan kurang lebih begitu kawan? Kita minta sekian, penjual mau sekian, otot-ototan sebentar lalu pasang aksi pura-pura mau kabur, akhirnya harga diberikan setengahnya. Ahai…… aku tahu sedikitlah masalah ini, karna sering mengintip bapak kalau membelikan aku sepatu, bukan main bapak itu ngotot kalau menawar barang, sampai pucat pasi itu penjual sepatu dan menyerah tanpa syarat. Tapi……. Kalau dengan ibu, akal bulus begitu tidak bisa diterapkan. Jadi aku pergi saja langsung ke sekolah sambil jalan setengah diseret.

Perjalanan menuju sekolah sekitar sejam kurang sedikit. Sampai di gerbang depan sekolah itulah aku tersadarkan lagi akan sebuah visi besar dalam hidupku. Mimpi-mimpi yang selama ini menghantui aku waktu tidur dan terjaga. Yang mengobarkan semangatku untuk berfikir keras bagaimana caranya menggapai cita-cita luhur mulia itu. Yaitu cita-cita untuk membeli es potong.

Jangan dulu kau tergelak dengan itu. Es potong itu, rekan-rekan yang saya hormati, adalah semacam karya adiluhung. Mirip es bon-bon, hanya saja lebih manis dan kaya susu. Apalagi setelah dipotong kurang lebih sepanjang lima jari anak kelas tiga SD, dan ditusuk dengan elegan pakai lidi yang diserut dari bambu. Astaga………..

Tapi bagaimana mungkin bisa membeli es potong? Sedangkan uang hanya cukup untuk diberikan kepada supir berbudi luhur yang mau mengangkut anak sekolah serupaku ini? Jadi pelajaran pertama yang kudapat dari mimpi es potong dan didikan ala militer dari Ibu itu ada benarnya juga, yaitu menahan keinginan. Kan katanya keinginan kita itu lebih sering tidak tercapainya daripada terwujudnya, aku tahu benar tentang hal itu.

Biarlah es potong cuma aku lihat dari jauh saja, kunikmati suara kliningan tukang-nya saja. Dari jauh aku tetap bermimpi, suatu nanti pasti akan kubeli.

Hari berlalu seperti angin semilir. Anak tiga SD kan tidak pernah berfikir abstrak. Pokoknya ya ceria saja. Dimarahi orang tua ya sedih sebentar lalu tertawa lagi. Tidak dapat es potong ya kepengen sebentar terus biasa lagi.

Sampai suatu hari. Setelah masa-masa belajar yang melelahkan karna mulai sekolah dari waktu siang hari yang menyeruput keringat, sore-sorenya aku menunggu dengan khidmat dan serius di sebuah persimpangan sekitar lima puluh meter dari lampu merah yang kalau sudah sore warnanya yang menyala hanya kuning saja. Kelap-kelip-kelap-kelip.

Tiba-tiba seorang kawan lewat dan menunggu di depanku. Kami ngobrol juntrungannya kesitu kemari. Lalu muncullah sebuah ide pandai tak karuan dariku. “aha……. Bagaimana kalau kita berjalan saja? Sambil menunggu angkot” seruku dengan pede. Seperti yang analisanya sudah paripurna.

Kawanku ini tadi dengan tololnya mengikuti saranku. Dan jadilah kami dua orang anak kelas tiga SD yang brilian berjalan kaki berkilo meter demi sebuah ide pandai dariku “sambil menunggu angkot”

Tanpa bermaksud menyinggung, aku jadi sedikit tahu kenikmatan bergosip ria. Buktinya waktu seperti tidak terasa, sudah setengah jam kami berjalan dan hari semakin sore. Aku senang bukan main, karna semakin jauh perjalanan, semakin mantaplah tekad kami untuk berjalan saja sampai rumah.

“Ini kan petualangan?” Aku menambahi dengan lebih bodoh lagi. Karna tiba-tiba di otakku berputar-putar bayangan es potong. Begini logikanya, berjalan dengan teman samadengan waktu tak terasa, waktu tak terasa samadengan tiba-tiba sudah sampai rumah, tiba-tiba sudah dirumah kan samadengan ongkos tidak terpakai, ongkos tidak terpakai kan bisa menjelma es potong? Astaga……… benar-benar aku tidak mengerti cara kerja otak. Tanpa kita pikirkan, tanpa kita paksa bekerja, tiba-tiba otak menyodorkan sebuah solusi, cerdas.

Aku sudah mulai akan mengagumi kehebatan logikaku, sampai saat dimana temanku membuyarkan lamunanku dengan berkata “aku duluan ya, sudah sampai”

Apa??????????????
Bodohnya aku. Kenapa tidak dari tadi aku tanyakan dulu rumah laki-laki kecil di sampingku ini. Perjalanan baru setengahnya dan aku sekarang terjebak dalam sebuah dilema.Teman perjalanan sudah sampai tujuan. Tak ada yang lebih menyakitkan selain kawan seperjalanan meninggalkan kita duluan, meski kita tahu takdir sudah berkata begitu. Aku mengiyakan, sambil merutuk sedikit. Kalau saja tahu dia rumahnya dekat dari sekolah kan aku tidak mungkin berjalan kaki.

Rutukan itu sebentar saja rupanya. Tiba-tiba aku melihat di sebrang jalan sana ada seorang penjual es potong. Wah………… es potong yang legendaris itu. Sekarang aku dalam pilihan yang sulit rekan-rekan.

Mari kita urai matematikanya. Diketahui harga es potong adalah duapuluh lima rupiah. Sedangkan tarif angkot seratus rupiah. jika tarif angkot untuk jarak dekat dan jarak jauh selalu sama, dan uang yang kau miliki tinggal seratus-seratusnya itu, bagaimana solusinya?

Soal cerita adalah momok buatku waktu SD dulu, yah wajar saja, bisa dimaklumi jika anak kelas tiga agak tidak terlalu pintar menjawab matematika rumit, maka logikaku ini mungkin agak-agak bisa dibenarkan juga. Jika aku beli satubuah es potong, maka uang ditangan tinggal tujuh puluh lima rupiah. tak bisa naik angkot. Pilih naik angkot berarti mimpi es potong musnah.

Badanku serasa dehidrasi. Ah….. menyelamatkan kesehatan tubuh, itulah yang terpikir olehku sekarang, dan seribu satu alasan pintar demi mendukung es potong. Bukankah mencegah tubuh dari dehidrasi adalah tindakan pintar nan mulia? maka itu aku belanjakanlah sisa uang untuk ongkos tadi dengan es potong. Bukan satu. Tapi kubeli empat. Karna cobalah kau bayangkan rekan-rekan, meskipun kubelikan satu saja es potong, sisa uang tetaplah akan tidak bisa digunakan naik angkot. Daripada mubazir, maka sisa uang kubelikan semuanya.

Itulah pelajaran keduaku, pelajaran untuk memilih diantara hal-hal yang sulit. Membedakan mana kebutuhan dan mana nafsu. Maka ketololanku waktu itu telah dengan sangat pintar menipu diriku. Aku berjalan-jalan dengan senang, rasa hati sudah mendapatkan pencapaian luar biasa. Hari semakin sore, semburat senja memerah di ufuk jauh. Aku berjalan santai dengan melompat-lompat. Makan es potong empat ternyata susah juga.

Kau tahu kepuasan marginal? Teori ekonomi yang diajarkan guru SMP kalau tidak salah. Pertama kali makan es potong rasanya seperti di syurga. Kali kedua kau makan es potong rasanya masih seperti syurga juga tapi agak-agak turun grade, kali ketiga dan keempat lidahmu mulai kebas dan kau nanti akan mulai menyumpah-nyumpah kebodohanmu untuk membeli es sekaligus empat. Mencair menetes tak karuan.

Matahari seperti mau main petak umpet. Dari jauh sayup sayup ceramah zainudin M. Z bergema. Burung-burung terbang seperti gerak lambat. Kadang-kadang mobil seliweran di pinggir jalan raya. Azan maghrib hampir berkumandang, dan aku lari-lari setengah menangis, kaki pegal tak alang kepalang, sedang jarak ke rumah masih seperempatnya. Sumpah mati tak kan pernah kugadai ongkos dengan apapun lagi

Iklan

ayam…….

ayam

Sebenarnya aku ini bukan penyayang binatang, tapi jika sudah sekira satu tahun lebih peliharaan kita itu kita rawat dan kasih makan, kalau jagung kita genggam ditangan dan sodorkan padanya lalu dia datang dan makan dari tangan kita, maka rasanya sangat wajar jika ikatan batin itu muncul. Begitulah aku dengan ayam jantan milikku.

Jadi sebenarnya begini ceritanya. Dahulu sekali, waktu aku masih belum sekolah, kami tinggal di pinggir jalan lintas sumatra, tepi hutan belantara yang tidak ada penghuni kecuali aku yang anak seorang penyuluh pertanian ini dan tetanggaku yang ketiban sial untuk juga ditempatkan disana. Disanalah pertama kali garis singgung antara aku dan ayam jantan itu dimulai.

Entah bagaimana awal mulanya kehadiran ayam jantan itu dikeluarga kami, aku lupa-lupa ingat. Ada beberapa versi –tentu saja versi ini dari memoriku sendiri, kau tahulah rekan-rekan bahwa kadang-kadang ingatan kita dimasa kecil itu susah kita bedakan mana imajinasi dan mana kenyataan-.

Versi pertama. Pada versi pertama ini, berdasarkan ingatanku, bahwa ayam ini adalah pemberian salah seorang teman bapak.
Karna ayam ini adalah ayam jantan nan elok menawan. Dengan bulu yang lebat dan mengilap, taji yang panjang dan tajam, gagah betul, ayam ini dengan cepat menjadi primadona di keluarga kami. Aku yang waktu itu adalah anak satu-satunya menjadi sahabat dekat ayam ini. Hampir semua perikehidupan ayam itu aku tahu, jadwal makannya, teman-teman dekatnya, pacarnya, segala macamlah.

Versi kedua. Dalam versi kedua, ingatanku juga memberikan lintasan bahwa ayam ini adalah ayam hutan. Ayam hutan yang waktu itu seingatku adalah seekor ayam yang bernasib naas karna melintas didepan aku dan bapakku yang sedang mandi. Dahulu itu rekan-rekan, janganlah kalian membayangkan mandi itu adalah sebuah ritual sakral yang dilakukan di sebuah wc bermarmer putih dan bak satu kali satu kali satu meter. Mandi itu adalah bagi kami sebuah fase mendekatkan diri kepada alam, bagaimana tidak, satu-satunya akses air adalah melewati turunan yang terjal seperti jurang, kelok sana kelok sini, pokoknya jauhlah. Untunglah sudah dibuat semacam tangga-tangga, tanah licin itu dibentuk cekungan cekungan macam tangga, dan diujung sekali dari turunan curam itu adalah mata air yang bening, yang dipinggir-pinggirnya tumbuh tanam-tanaman paku, kau pasti ingat tanaman paku, kita pelajari itu dimasa-masa biologi smp dulu.

Nah……. Disitulah, dipinggir tanaman paku itu, disamping mata air bening itu, entah bagaimana hipotesa yang tepat, tapi tiba-tiba saja muncullah seekor ayam, ayam elok nian yang berbulu tebal dan bertaji tajam seperti yang sudah kusebutkan barusan. Dan disitulah nasib naas ayam itu dimulai. Salah dia juga, kenapa memilih melewati tempat dimana disana bapak-bapak gesit seperti bapakku sedang mandi? Jadilah dengan segera sebuah ember besar warna biru –aku ingat betul bagian ini- digunakan bapak jadi semacam perangkap ayam, yang dengan sangat cekatan dilemparkan, PRAAAK, ayam elok nian tadi terperangkap, dan itulah versi nomor dua.

Jangan salahkan aku, sudah kubilang aku bukan seorang penyayang binatang, tapi dimana-mana memang cerita yang lebih indah dan dramatis lebih disukai, maka itu sampai sekarang juga aku merasa bahwa ingatanku yang nomor dua adalah awal yang tepat, begitulah bagaimana awal mulanya ayam itu muncul. Sedang ingatanku nomor satu aku percaya hanyalah sebagai sebuah bentuk simplifikasi, sebagian otakku yang berfikir terlalu sederhana dan sama sekali tidak melankolis, tidak dramatis, apalagi romantis telah dengan sangat brilian mengacaukan sejarah. Maklumlah, waktu itu aku masih kanak-kanak.

Nah……. Hari berganti rekan-rekan. Waktu berlalu juga rekan-rekan. Ayam tadi dan aku memiliki semacam ikatan batin. Aku keluar rumah, dia langsung menghampiri. Aku ke dapur dia ikut ke dapur, dimana ada aku disitu ada ayam.
Pada mulanya tidak ada masalah. Hingga suatu ketika……..

Sebuah keputusan super mendadak dari kantor pusat bapakku menyatakan bahwa bapak harus pindah, pindah ke kota bengkulu, kota besar tentu saja jika dibandingkan kehidupan pinggir jalan tengah hutan. Aku berjingkrak-jingkrak tak karuan, seperti setan saja. Sebentar-sebentar aku bertanya “pak..pak…… bengkulu itu seperti apa?” kuulang-ulang dengan tanpa belas kasihan pada bapak pada ibu “bu..bu……disana rame ya?”. Begitulah……… sampai suatu ketika jawaban bapak sangat mengguncang diriku, kata bapak “disana itu ga ada yang pelihara ayam nak”.

Aku bingung. Bagaimana mungkin? Sebuah kota besar tanpa ayam di dalamnya? Ini sungguh ironi? Berhari-hari aku merenung. Malang nian nasib ayam itu, pikirku. Sebenarnya logika bahwa di Bengkulu tidak ada ayam sangatlah menggangguku, tapi daya analisa anak usia TK masihlah pendek rekan-rekan, maka aku hanya terdiam lemas sambil bertanya, “jadi mau diapain ayam itu pak?”

Bapakku menjawab singkat, “dipotong”.

Cerita versi kedua ayam itu tadi, ternyata harus diakhiri dengan tragis. Ayam elok pun dipotong. Sebenarnya kesalahan pertama bapak adalah terlalu tergesa-gesa menjawab bahwa ayam itu akan dipotong. Modus operandinya tertebak sudah. Aku sedikit tahu juga, perjalanan ke bengkulu itu jauh tak karu-karuan. Aku ingat betul waktu itu kami muat semua barang-barang kedalam truk besar. Aku tidur di bak truk yang sempit dan penuh barang-barang tadi, sambil berlindung dari sengat matahari dengan terpal yang menutup kepala kami, dengan sedih kuingat-ingat ayam yang punya hubungan erat denganku tadi, mataku berlinang air mata, tapi mulutku sibuk mengunyah ayam goreng.

Bagaimana lagi, perjalanan jauh, tak ada uang untuk membeli makanan macam-macam di jalan. Sungguh aku sedih, tapi ayam goreng juga menggoda. Maafkan aku ayam.

Singkat kata tibalah truk besar berisi aku bapakku dan ibuku dan barang-barang kami tadi, di bengkulu. Tak lupa juga kuberitahu bahwa disana masih ada juga ayam goreng sepotong. Kusisakan buat nanti kalau aku lapar.

Pindahan selesai. Aku mulai berkeliling komplek. Berinteraksi dengan banyak rumah, banyak hal yang baru. Dan suatu sore aku sadar bahwa disana banyak sekali ayam. Ayam merah. Ayam putih. Ayam abu-abu, semua berkeliaran dan mengais-ngais di jalan. Aku bersungut-sungut, ini tidak bisa dibiarkan, bergegas aku berbalik dan mengambil seribu langkah berlari kembali kerumah. Aku harus protes pada bapak.

*********
Waktu berlalu lagi, hari berganti lagi. Aku sudah mulai bisa melupakan ayam yang dulu itu. Kenyataan waktu itu bahwa keluarga sedang sulit ekonominya mulai pelan-pelan bisa aku pahami. Aku sudah masuk SD waktu itu kalau tidak salah. Aku menjadi sedikit bijak. Disamping ibu punya semacam senjata pamungkas, setiap kali aku terkenang-kenang akan ayam elok nian, maka ibu akan segera berkata “loh…. Ayamnya kan yang makan siapa?”

Aku diam dan tidak lagi pernah mengutik-utik kenangan ayam. Disamping waktu itu aku sudah punya ayam yang baru lagi. Sebuah ayam jantan berwarna merah. Memang sih tidak seelok ayam elok nian yang kudapat dari kisah versi kedua tadi kawan, tapi lumayanlah mengobati dahagaku untuk beternak ayam, bukan beternak, tepatnya memelihara ayam. Satu ayam. Hanya seekor yang jantan itu saja.

Mula-mulanya tidak ada masalah. Sampai suatu ketika. Aku masuk SMP. Seragam harus diganti, sepatu harus diganti. Sementara ekonomi masih betah berputar-putar dilevel itu saja. Ini alamat buruk. Aku sudah berfirasat bahwa akan ada yang terjadi.

Benar saja, bapak memutuskan untuk membawa ayam satu-satunya milikku tadi ke pasar pagi di terminal. Dengan mata yang tidak bisa dipastikan seperti apa ekspressinya, bapak perggi membawa ayam jantan warna merah ke pasar pagi di terminal.

Aku kasihan pada bapak. Kenapa sesulit itu untuk sekedar membelikan ku sepotong celana biru? Tapi itulah, emosi kadang-kadang mengacaukan fikiran jernih kita tentang realita-realita. Aku tidak lagi membayang bapak yang pagi-pagi kepayahan menangkap ayam dan mengikatnya dengan tali karet dari ban dalam yang dipotong, tidak juga aku bayangkan lagi bapak yang membawa motor tua dengan diganduli ayam yang berkeok-keok di belakangnya, tidak juga kubayang lagi bapak yang berbecek-becek di pasar terminal pagi-pagi, menawarkan ayamnya pada orang yang lewat acuh tak acuh tak ada yang peduli.

Yang kutahu waktu itu hanya satu. Aku tidak rela ayam itu dijual. Sepanjang sekolah dari pagi sampai siang aku merutuk-rutuk, hatiku gundah gulana tak bisa dipuisikan, ayam itu tidak boleh hilang doaku.

Sepulang sekolah, dengan langkah gontai aku masuk ke halaman, lalu terkaget-kaget aku tiba-tiba melihat seekor ayam jantan merah, ayam yang tidak terlalu elok tadi, ayam punyaku itu mematuk matuk di halaman. Ia tidak jadi dijual. Bapak bawa pulang kembali ayam itu, karna tidak seorangpun juga mau membelinya. Entah terlampau tua. Entah kurus merana, aku tidak tahu apa masalahnya.

Tiba-tiba aku merasa kasihan pada bapak. Dia sudah berpayah-payah membawa ayam jantan merah ke terminal pagi-pagi, lalu dengan muka suntuk dibawanya lagi pulang ke rumah siang-siang. Capek, berkeringat, dan mungkin juga kebingungan. Sedang aku tak rela ayam itu dijual, tapi masih mengidam celana biru pendek baru.

Pesawat Terbang dan Guci Empat Tahun Enam Bulan

pesawat

Berapa persen penduduk indonesia yang pernah naik pesawat terbang? Persentase yang belum pernah naik pesawat kuduga pastilah sangat besar. Yang pasti adalah ibu termasuk dalam golongan orang yang masih menganggap besi raksasa yang menembus awan-awan itu sebagai jalur transportasi eksekutif. Di awang-awang.

Jauh-jauh hari, sebelum aku menyelesaikan studiku di masa kuliah, ibu sudah menabung. Ibu adalah seorang pedagang kue di sebuah pasar dadakan dekat komplek rumahku. Di pinggir jalan komplek itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu besar, di bawah batang nangka yang tidak pernah berbuah, disitulah ibu membuat sebuah tenda kecil dari kayu-kayu seadanya. Di lapangan itulah ibu dan kawan-kawannya sesama pedagang menjajakan kue-kue, sayuran, atau apa saja hasil kerja keras mereka.

Sebenarnya dulu ibu tidak bekerja. Menjadi ibu rumah tangga yang menyiapkan masakan kesukaan buatku dan bapak adalah titel yang dengan bangga ibu kenakan. Aku ingat benar bahwa goreng tempe sambal buatan ibu adalah lauk sederhana yang membuat persepsiku tentang makan tiga kali sehari jadi berantakan. Aku makan kapanpun aku ingat, pagi, menjelang siang, sore hari dan malam. Benarlah kata orang bahwa rasa tak bisa berbohong.

Akhir-akhir masa SMA adalah waktu yang menjadi titik balik dalam hidupku, dan juga dalam hidup ibu. Keinginan kuliah yang begitu besar, telah menjadi lintasan mimpi-mimpi dalam setiap waktu-waktu aku tidur dan terjaga. Keinginan menenteng buku-buku tebal. Juga mengenakan jubah seperti penyihir dan toga itu selalu membuatku gelisah dan murung.

Ibulah orang yang dengan yakin mendukungku. Waktu itu aku ingat sekali, gaji Bapak dengan hitungan persamaan bagaimanapun juga pastilah tidak bisa membiayai aku kuliah di universitas manapun seantero indonesia ini. Tapi ibu meyakinkan aku bahwa rezeki itu sudah diatur, sudah tertulis dalam lembar buku besar di atas sana, dan doa adalah petarung tangguh yang mampu bergulat dengan takdir kejam seperti apapun juga. Berdoalah, maka Tuhan akan mengabulkannya.

Sejak itulah ibu mulai berjualan. Ibu yang pemalu itu, yang waktu mudanya bergelimang harta itu, yang menjadi kebanggaan saudara-saudaranya itu, merelakan egonya untuk bangun malam-malam dan menghalau kantuk. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sedang ibu sudah mulai mengeluarkan perkakas masak dari lemari, lalu membolak-balik buku catatan tata boga semasa dia SMEA dulu, lalu menyalakan kompor minyak tanah dan mengaduk adonan. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sejak itu ibu mulai berjualan. Sejak itu ibu mulai menabung.

Aku bahkan tidak bisa menuliskan waktu-waktu dimana aku meninggalkan rumah. Aku pamit pada ibu yang tidak bisa berkata-kata banyak. Tidak bisa berpesan-pesan banyak. Cuma tersenyum dan berkata bahwa ibu pastilah akan selalu berdoa untuk kemudahan cita-cita semua anaknya. Aku pergi melangkah kaki. Seperti percaya seperti tidak, bahwa setiap satu langkah aku tapakkan setiap itu pula aku semakin jauh dari ibu dan semenjak itu pula takdir hidup baru digulirkan. Tak sanggup aku menoleh kebelakang. Mataku berkaca-kaca, ibu berkaca-kaca.

Waktu-waktu berlari dengan tempo yang berubah-ubah. Seperti ritme lagu yang membingungkan, kadang terasa cepat, kadang terasa lambat. Tapi mimpi yang berkelebat diotakku selalu saja sama. Aku ingin secepatnya diwisuda. Sejak saat pertama kuliah aku sudah belingsatan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa selekas mungkin mengenakan toga dan meringankan beban luar biasa di pundak ibu bapak yang semakin ringkih itu?

Dan dibawah pohon nangka yang tidak berbuah itu, disitulah ibu mengumpulkan seratus rupiah receh, uang seribu yang kumal, atau berapapun yang dia dapat. Dimasukkannya kedalam tas pinggang yang resletingnya sudah macet itu, lalu dia bawa pulang kerumah yang sederhana di pojok komplek. Disimpannya uang tadi dalam guci kecil di atas lemari kayu hitam. Setiap bulan diguncang-guncangnya guci itu, mengira-ngira dengan seksama. Dengan berat yang sudah sebegini, sanggupkah dia membeli tiket pesawat untuk sekeluarga menghadiri wisuda anak tertuanya?

Begitulah. Waktu berlalu. Hari pergi dan datang. Sudah sampai juga masa-masa terakhir kuliah. Tuhan sempatkan untuk aku menyelesaikan studi. Dengan terengah-engah. Dengan nafas yang sepotong-sepotong. Dengan semangat yang berkobar-kobar lagi setiap mengingat siluet ibu yang menggigil di bawah hujan, berkeringat terpanggang panas, waktu sehat, saat sakit meriang, seumpama masih bisa berjalan masih juga ibu langkahkan kaki kelapangan itu, lalu menggelar kue-kue, lalu mengumpulkan receh ke tas pinggangnya.

Ajaib………..

Guci di atas meja hitam itu penuh. Dihitunglah dengan riang oleh Ibu, oleh Bapak, oleh adik. Empat tahun enam bulan menabung ternyata bisa memenuhkan guci. Berdoalah, maka Tuhan akan menjawab doamu, mungkin begitu.

Tak terperi, senang bukan main, aku melompat-lompat tak karuan. Sudah kubayangkan mata bulat adik-adikku yang akan terpukau-pukau waktu kutunjukkan kampus tempatku belajar. Waktu nantinya mungkin akan kuajak berputar-putar kota. Waktu nantinya mungkin mereka bercerita dengan meledak-ledak tentang pesawat terbang yang tinggal landas yang mendarat.

Sampai suatu sore…….

Berita dari jauh sana tiba-tiba menghentikan mimpi-mimpi kita. Embah meninggal. Bapak harus pulang ke jawa segera. Dipecahkanlah guci empat tahun enam bulan itu, malam-malam. Bapak pulang ke jawa. Recehan-recehan disumbangkan untuk pemakaman mbah.

Ibu ikhlas. Bapak ikhlas. Adik-adik ikhlas dan bermata bulat murung. Aku ikhlas dan memandang langit warna tembaga, ada yang menggenang di pelupuk mata tapi pasti bukan tangis duka lara, biasanya kesedihan masih bisa kuseka tapi ini mengalir begitu saja, menetes lewat pipi terus turun ke dagu dan jatuh pelan-pelan seperti bola kecil yang bersinar-sinar ditembus cahaya sisa matahari lewat celah jendela kamar kosan tua.

Tiga hari menjelang wisuda, Ibu dan Bapak menaiki bus lintas sumatra. Menghabiskan sehari semalam lebih perjalanan menuju gedung penobatan para sarjana. adik-adik menunggu di rumah dengan khidmat dan diam.

Selalu begitu…………………………………………

Bapak ibu kita adalah manusia tangguh luar biasa. mereka lebih siap menghadapi banyak kenyataan hidup. Baiknya. Buruknya. Kadang malah yang tak siap itu kita.

Lalu aku berdoa, dalam sebuah sujud setelah empat rakaat yang lama. Bahwa semoga yang maha mentipkan rizki dan menitipkan cinta menjelmakan keringat dan bulir airmata mereka menjadi istana kecil nan indah di syurga sana.

Lalu aku terbayang pohon nangka tak berbuah. Lalu terbayang lapangan becek selepas hujan semalaman. Lalu terbayang ibu sedang menggigil meriang. Lalu terbayang guci empat tahun enam bulan. Lalu mata bulat adik-adik. Lalu pesawat terbang.

Berdoalah, Tuhan akan mengabulkan!! Kata ibu.


lima puluh ribu rupiah

lima puluh ribu rupiah

Mengunyah dengan perlahan di bangku paling pojok warung tegal pinggir jalan, di siang hari yang melelehkan keringat. Aku halangi piring nasi itu dengan sesisir pisang ambon yang sudah hilang beberapa biji. Sambil berharap-harap bahwa tidak satu teman jua yang bakal mencuri-curi lihat, apa gerangan yang kupilih sebagai lauk menemani nasi putih, makanan pokok kita dari kecil itu.

Dari sudut bangku warung tegal itulah aku mulai lagi sebuah cerita flash back, bahwa kehidupan itu terkadang naik terkadang turun itu benarlah ternyata, beginilah awal mulanya, kawan.

*********
Seperti yang rata-rata orang sudah mafhum benar, bahwa menyesuaikan diri untuk bisa akur dengan suasana dan lingkungan baru kita adalah sangat sulit. Lama prosesnya.

Waktu itu aku baru saja menyelesaikan studiku. Empat tahun lebih satu semester. Masa kuliah yang tertatih-tatih sudah aku tempuh, dan segera setelah selesai wisuda itu aku mendapatkan pekerjaan.

Inilah tantangan bagi umumnya sarjana di tempat kita. Bahwa rentet gelar belakang nama tidaklah selalu sama dan sebangun dengan peluang kerja yang kita terima. Tapi syukurlah ternyata nasib sedang dalam kurva yang menanjak, aku lulus dan sesegera itu pula aku dapat tempat kerja.

Aku harus sesegera mungkin pindah ke jakarta. Dari Bandung –tempat aku menghabiskan empat tahun satu semester bergelut dengan banyak mata kuliah- aku kemasi barang-barangku dengan perasaan yang kurang nyaman. Kenyataan bahwa aku gembira karna akan memulai fase hidup yang baru, dan kenyataan bahwa aku termasuk cepat mendapatkan pekerjaan, tentu saja sangatlah membuatku bergairah. Tapi masa-masa adaptasi selalu menyiksa buatku. Selalu menghantui fikiranku akan ketakutan-ketakutan tidak beralasan. Jakarta………. Nama itu entah bagaimana terasa agak kurang nyaman.

Waktu itu aku ingat nian, uang di tangan tinggal kurang lebih seratus ribu. Was-was benar aku berfikir, bagaimana aku bertahan hidup di jakarta dengan uang sejumlah ini? Ongkos, makan, biaya kosan? Tapi bukankah tidak ada yang lebih berkuasa menuntaskan segala-galanya ketimbang Dia yang seperti angin melambaikan daun-daun, dan menerbangkan takdir kita ke tempat-tempat yang kita –demi apapun- tidak pernah bisa duga.

Kupasrahkan jua nasibku pada yang Maha Menentu. Maka dengan tekad yang sudah bulat, pada suatu siang yang panas membara, pergi juga aku ke jakarta. Kubawa serta satu koper barang yang kupaksa-paksa jejalkan semua bawaanku kedalamnya.

Singkat kisah tibalah aku di jakarta pada akhirnya. Inilah flashback kebingungan pertama. Mana ada lagi di area jakarta kosan dengan harga kurang dari seratus ribu sebulannya? Kosan termurah sekitar area kantorku waktu itu adalah seharga 350 ribu sebulan.

Kiriman orang tua belumlah lagi sampai, meminta uang lagi rasanya sudah malu benar. Sedang titelku sekarang adalah pegawai baru, yang merasakan bagaimana itu rupanya terima gaji saja belum pernah. Hari pertama ke kantor pun belum jua aku cicipi.

Darimana uang untuk bayar kosan?

Tidak habis akal, aku. Benarlah kata para ahli psikologi bahwa dalam skala tertentu, stress itu bisa memacu kreatiivitas. Dengan sopan aku jalankan sebuah lobi tingkat tinggi kepada empunya kosan. Kukatakan bahwa aku adalah seorang pegawai baru yang sebentar lagi akan memasuki masa training. Aku tidak tahu kapan training akan dimulai, tapi dalam prediksiku pastilah tidak sampai seminggu lagi. Kuserahkan uang 50 ribu ke tangan sang ibu, dan aku berkata anggaplah uang itu sebagai balas jasa untuk aku menumpang nginap berapa malam. Andaikan nantinya aku terpaksa menginap lebih dari satu minggu, aku akan menggenapkan sisanya untuk biaya kosan satu bulan.

Ibu kosan baik itu mengangguk. Dan jadilah aku simpan koper penuh barang itu di sebuah kosan sempit dan panas pengap.

Masalah penginapan teratasi. Tinggal sekarang adalah bagaimana aku bisa bertahan di sini? Dengan uang yang tinggal berapa puluh ribu. Dan waktu gajian sudah kuhitung berkali kali ternyata memang masihlah sangat lama.

Hari-hari kerja dimulai. Setiap pagi aku nikmati perjalanan ke kantor. Tak percaya rasanya bahwa aku sekarang adalah seorang pekerja kantoran. Dengan dandanan sedikit beda dari anak kuliahan. Mengenakan kemeja lengan panjang dengan sedikit lintingan di lengannya, sepatu rapih dan celana bergaris bekas setrikaan. Lalu di leherku menggantung kalung badge id card yang multifungsi. Penanda status dan sekaligus kartu ajaib pembuka pintu gerbang tebal kantor luarbiasa itu. Euforia kantor baru sudah cukup jadi penghibur bagiku untuk melupakan sedikit kesusahan. Sejak pagi hari aku akan mulai melupakan kenyataan bahwa aku sekarang sedang kesusahan keuangan, begitu terus beberapa jam sampai waktunya makan siang.

Setiap hari juga aku dan rekan-rekan sepenanggungan yang baru diterima bekerja pergi ke warung tegal pinggir jalan. Dan setiap hari pula aku nikmati menu yang sama, ikan teri dan sayur. Itu saja tidak lebih.

Tiap hari lagi-lagi aku ambil bangku deretan paling pojok, kuhalangi piring makan siangku dengan gelas besar, tempat tissue, atau sesisir pisang ambon yang di hidang di meja warung. Bukan rendah diri rekan-rekan, hanya saja agak tak enak hati rasanya, saat semua makan dengan menu yang empat sehat lima sempurna sedang aku hanya makan dengan lauk seadanya. Aku tak ingin rekan-rekan yang lain merasa iba.

Begitulah hari-hari berhasil kulalui dengan penghematan luar biasa. Tapi sehebat-hebatnya aku menghemat, tidaklah mungkin lagi uang recehan yang tersisa itu bisa aku gunakan untuk bertahan hingga akhir bulan.

Dengan berat hati, aku malu-malu meminjam uang kepada seorang kawan yang baik. Dipinjamkannya aku limapuluh ribu. Itulah penyambung nyawaku.

Tiap pagi aku jalani rutinitas dengan baju kemeja rapih dan masuk ke kantor mewah. Bertemu dengan orang-orang pintar dan penuh percaya diri. Menghadiri meeting dengan bahasa para bule bermata biru. Untuk kemudian istirahat siangnya nanti aku menyudut di pojok warung penuh sesak dan makan siang dengan menu tidak sehat tidak sempurna.

Tapi entah kenapa aku merasa bahagia. Bukan karna aku sekarang bekerja dan gaji akan segera turun beberapa hari lagi, tapi karna menyadari bahwa ditengah coba dunia yang menusuk-nusuk itu aku masih berdiri tegak. Masih tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa sungguh tak ada arti kesusahan ini dibanding banyak kawan yang cobaan hidupnya tak terperi. Yang lebih merantai melilit. Yang lebih menyayat-nyayat. Yang macam-macam

**********

Setiap hari, adalah masa-masa menegangkan.

Dengan kawan baik yang meminjamkan aku uang tadi, tiap hari kami hitung dan tandai kalender tergantung di dinding kamar yang sama sekali tidak rapih. Sudah sekian hari lagi berlalu berarti sekian hari lagi gajian akan tiba.

Hingga suatu ketika di akhir bulan waktu dua tahun yang lalu. Sore hari menjelang maghrib saat matahari masih bersinar setengah dan hampir padam setengah, aku meloncat-loncat di ATM sebelah kantor demi melihat nominal saldo di rekening bank-ku melejit berapa digit.
Malam itu aku makan empat sehat lima sempurna, kawan.

***********
dan di siang hari yang sejuk waktu itu, aku kembalikanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepada teman yang menyelamatkan sisa hariku dulu.

Tiba-tiba dengan pelan dia bercerita. Beberapa minggu yang lalu, katanya pelan, saat aku meminjam uang padanya sebenarnya dia hanya punya beberapa puluh ribu saja. Tapi karna menduga bahwa aku pastilah lebih membutuhkannya, maka dengan ikhlas dipindah-tangankanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepadaku.

Aku tertegun dan menggelengkan kepala. kepadanya aku kirimkan salam. Salut yang teramat untuk kebaikan yang sangat.

Karna ternyata rekan-rekan, ada seorang lagi yang menunya tidak empat sehat lima sempurna di sudut warung waktu dulu itu.