lima puluh ribu rupiah

lima puluh ribu rupiah

Mengunyah dengan perlahan di bangku paling pojok warung tegal pinggir jalan, di siang hari yang melelehkan keringat. Aku halangi piring nasi itu dengan sesisir pisang ambon yang sudah hilang beberapa biji. Sambil berharap-harap bahwa tidak satu teman jua yang bakal mencuri-curi lihat, apa gerangan yang kupilih sebagai lauk menemani nasi putih, makanan pokok kita dari kecil itu.

Dari sudut bangku warung tegal itulah aku mulai lagi sebuah cerita flash back, bahwa kehidupan itu terkadang naik terkadang turun itu benarlah ternyata, beginilah awal mulanya, kawan.

*********
Seperti yang rata-rata orang sudah mafhum benar, bahwa menyesuaikan diri untuk bisa akur dengan suasana dan lingkungan baru kita adalah sangat sulit. Lama prosesnya.

Waktu itu aku baru saja menyelesaikan studiku. Empat tahun lebih satu semester. Masa kuliah yang tertatih-tatih sudah aku tempuh, dan segera setelah selesai wisuda itu aku mendapatkan pekerjaan.

Inilah tantangan bagi umumnya sarjana di tempat kita. Bahwa rentet gelar belakang nama tidaklah selalu sama dan sebangun dengan peluang kerja yang kita terima. Tapi syukurlah ternyata nasib sedang dalam kurva yang menanjak, aku lulus dan sesegera itu pula aku dapat tempat kerja.

Aku harus sesegera mungkin pindah ke jakarta. Dari Bandung –tempat aku menghabiskan empat tahun satu semester bergelut dengan banyak mata kuliah- aku kemasi barang-barangku dengan perasaan yang kurang nyaman. Kenyataan bahwa aku gembira karna akan memulai fase hidup yang baru, dan kenyataan bahwa aku termasuk cepat mendapatkan pekerjaan, tentu saja sangatlah membuatku bergairah. Tapi masa-masa adaptasi selalu menyiksa buatku. Selalu menghantui fikiranku akan ketakutan-ketakutan tidak beralasan. Jakarta………. Nama itu entah bagaimana terasa agak kurang nyaman.

Waktu itu aku ingat nian, uang di tangan tinggal kurang lebih seratus ribu. Was-was benar aku berfikir, bagaimana aku bertahan hidup di jakarta dengan uang sejumlah ini? Ongkos, makan, biaya kosan? Tapi bukankah tidak ada yang lebih berkuasa menuntaskan segala-galanya ketimbang Dia yang seperti angin melambaikan daun-daun, dan menerbangkan takdir kita ke tempat-tempat yang kita –demi apapun- tidak pernah bisa duga.

Kupasrahkan jua nasibku pada yang Maha Menentu. Maka dengan tekad yang sudah bulat, pada suatu siang yang panas membara, pergi juga aku ke jakarta. Kubawa serta satu koper barang yang kupaksa-paksa jejalkan semua bawaanku kedalamnya.

Singkat kisah tibalah aku di jakarta pada akhirnya. Inilah flashback kebingungan pertama. Mana ada lagi di area jakarta kosan dengan harga kurang dari seratus ribu sebulannya? Kosan termurah sekitar area kantorku waktu itu adalah seharga 350 ribu sebulan.

Kiriman orang tua belumlah lagi sampai, meminta uang lagi rasanya sudah malu benar. Sedang titelku sekarang adalah pegawai baru, yang merasakan bagaimana itu rupanya terima gaji saja belum pernah. Hari pertama ke kantor pun belum jua aku cicipi.

Darimana uang untuk bayar kosan?

Tidak habis akal, aku. Benarlah kata para ahli psikologi bahwa dalam skala tertentu, stress itu bisa memacu kreatiivitas. Dengan sopan aku jalankan sebuah lobi tingkat tinggi kepada empunya kosan. Kukatakan bahwa aku adalah seorang pegawai baru yang sebentar lagi akan memasuki masa training. Aku tidak tahu kapan training akan dimulai, tapi dalam prediksiku pastilah tidak sampai seminggu lagi. Kuserahkan uang 50 ribu ke tangan sang ibu, dan aku berkata anggaplah uang itu sebagai balas jasa untuk aku menumpang nginap berapa malam. Andaikan nantinya aku terpaksa menginap lebih dari satu minggu, aku akan menggenapkan sisanya untuk biaya kosan satu bulan.

Ibu kosan baik itu mengangguk. Dan jadilah aku simpan koper penuh barang itu di sebuah kosan sempit dan panas pengap.

Masalah penginapan teratasi. Tinggal sekarang adalah bagaimana aku bisa bertahan di sini? Dengan uang yang tinggal berapa puluh ribu. Dan waktu gajian sudah kuhitung berkali kali ternyata memang masihlah sangat lama.

Hari-hari kerja dimulai. Setiap pagi aku nikmati perjalanan ke kantor. Tak percaya rasanya bahwa aku sekarang adalah seorang pekerja kantoran. Dengan dandanan sedikit beda dari anak kuliahan. Mengenakan kemeja lengan panjang dengan sedikit lintingan di lengannya, sepatu rapih dan celana bergaris bekas setrikaan. Lalu di leherku menggantung kalung badge id card yang multifungsi. Penanda status dan sekaligus kartu ajaib pembuka pintu gerbang tebal kantor luarbiasa itu. Euforia kantor baru sudah cukup jadi penghibur bagiku untuk melupakan sedikit kesusahan. Sejak pagi hari aku akan mulai melupakan kenyataan bahwa aku sekarang sedang kesusahan keuangan, begitu terus beberapa jam sampai waktunya makan siang.

Setiap hari juga aku dan rekan-rekan sepenanggungan yang baru diterima bekerja pergi ke warung tegal pinggir jalan. Dan setiap hari pula aku nikmati menu yang sama, ikan teri dan sayur. Itu saja tidak lebih.

Tiap hari lagi-lagi aku ambil bangku deretan paling pojok, kuhalangi piring makan siangku dengan gelas besar, tempat tissue, atau sesisir pisang ambon yang di hidang di meja warung. Bukan rendah diri rekan-rekan, hanya saja agak tak enak hati rasanya, saat semua makan dengan menu yang empat sehat lima sempurna sedang aku hanya makan dengan lauk seadanya. Aku tak ingin rekan-rekan yang lain merasa iba.

Begitulah hari-hari berhasil kulalui dengan penghematan luar biasa. Tapi sehebat-hebatnya aku menghemat, tidaklah mungkin lagi uang recehan yang tersisa itu bisa aku gunakan untuk bertahan hingga akhir bulan.

Dengan berat hati, aku malu-malu meminjam uang kepada seorang kawan yang baik. Dipinjamkannya aku limapuluh ribu. Itulah penyambung nyawaku.

Tiap pagi aku jalani rutinitas dengan baju kemeja rapih dan masuk ke kantor mewah. Bertemu dengan orang-orang pintar dan penuh percaya diri. Menghadiri meeting dengan bahasa para bule bermata biru. Untuk kemudian istirahat siangnya nanti aku menyudut di pojok warung penuh sesak dan makan siang dengan menu tidak sehat tidak sempurna.

Tapi entah kenapa aku merasa bahagia. Bukan karna aku sekarang bekerja dan gaji akan segera turun beberapa hari lagi, tapi karna menyadari bahwa ditengah coba dunia yang menusuk-nusuk itu aku masih berdiri tegak. Masih tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa sungguh tak ada arti kesusahan ini dibanding banyak kawan yang cobaan hidupnya tak terperi. Yang lebih merantai melilit. Yang lebih menyayat-nyayat. Yang macam-macam

**********

Setiap hari, adalah masa-masa menegangkan.

Dengan kawan baik yang meminjamkan aku uang tadi, tiap hari kami hitung dan tandai kalender tergantung di dinding kamar yang sama sekali tidak rapih. Sudah sekian hari lagi berlalu berarti sekian hari lagi gajian akan tiba.

Hingga suatu ketika di akhir bulan waktu dua tahun yang lalu. Sore hari menjelang maghrib saat matahari masih bersinar setengah dan hampir padam setengah, aku meloncat-loncat di ATM sebelah kantor demi melihat nominal saldo di rekening bank-ku melejit berapa digit.
Malam itu aku makan empat sehat lima sempurna, kawan.

***********
dan di siang hari yang sejuk waktu itu, aku kembalikanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepada teman yang menyelamatkan sisa hariku dulu.

Tiba-tiba dengan pelan dia bercerita. Beberapa minggu yang lalu, katanya pelan, saat aku meminjam uang padanya sebenarnya dia hanya punya beberapa puluh ribu saja. Tapi karna menduga bahwa aku pastilah lebih membutuhkannya, maka dengan ikhlas dipindah-tangankanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepadaku.

Aku tertegun dan menggelengkan kepala. kepadanya aku kirimkan salam. Salut yang teramat untuk kebaikan yang sangat.

Karna ternyata rekan-rekan, ada seorang lagi yang menunya tidak empat sehat lima sempurna di sudut warung waktu dulu itu.

5 thoughts on “lima puluh ribu rupiah

  1. memang betul kawan…hidup adalah perjuangan,,,hanya orang-orang yang bersabarlah yang mampu bertahan selamat sampai tujuan..sabar ibarat kuda yang tak pernah merasa lelah untuk mencapai tujuan…selamat berjuan semoga sampai tujuan..

  2. bagus eu… perjalanan dengan sejuta makna.. selama akal dan hati di bimbing untuk menemukan hikmah dan slalu berpaut sama Yang Punya Rizki… “Pasti ada dari jalan manapun Yang Alloh kehendaki”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s