Pesawat Terbang dan Guci Empat Tahun Enam Bulan

pesawat

Berapa persen penduduk indonesia yang pernah naik pesawat terbang? Persentase yang belum pernah naik pesawat kuduga pastilah sangat besar. Yang pasti adalah ibu termasuk dalam golongan orang yang masih menganggap besi raksasa yang menembus awan-awan itu sebagai jalur transportasi eksekutif. Di awang-awang.

Jauh-jauh hari, sebelum aku menyelesaikan studiku di masa kuliah, ibu sudah menabung. Ibu adalah seorang pedagang kue di sebuah pasar dadakan dekat komplek rumahku. Di pinggir jalan komplek itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu besar, di bawah batang nangka yang tidak pernah berbuah, disitulah ibu membuat sebuah tenda kecil dari kayu-kayu seadanya. Di lapangan itulah ibu dan kawan-kawannya sesama pedagang menjajakan kue-kue, sayuran, atau apa saja hasil kerja keras mereka.

Sebenarnya dulu ibu tidak bekerja. Menjadi ibu rumah tangga yang menyiapkan masakan kesukaan buatku dan bapak adalah titel yang dengan bangga ibu kenakan. Aku ingat benar bahwa goreng tempe sambal buatan ibu adalah lauk sederhana yang membuat persepsiku tentang makan tiga kali sehari jadi berantakan. Aku makan kapanpun aku ingat, pagi, menjelang siang, sore hari dan malam. Benarlah kata orang bahwa rasa tak bisa berbohong.

Akhir-akhir masa SMA adalah waktu yang menjadi titik balik dalam hidupku, dan juga dalam hidup ibu. Keinginan kuliah yang begitu besar, telah menjadi lintasan mimpi-mimpi dalam setiap waktu-waktu aku tidur dan terjaga. Keinginan menenteng buku-buku tebal. Juga mengenakan jubah seperti penyihir dan toga itu selalu membuatku gelisah dan murung.

Ibulah orang yang dengan yakin mendukungku. Waktu itu aku ingat sekali, gaji Bapak dengan hitungan persamaan bagaimanapun juga pastilah tidak bisa membiayai aku kuliah di universitas manapun seantero indonesia ini. Tapi ibu meyakinkan aku bahwa rezeki itu sudah diatur, sudah tertulis dalam lembar buku besar di atas sana, dan doa adalah petarung tangguh yang mampu bergulat dengan takdir kejam seperti apapun juga. Berdoalah, maka Tuhan akan mengabulkannya.

Sejak itulah ibu mulai berjualan. Ibu yang pemalu itu, yang waktu mudanya bergelimang harta itu, yang menjadi kebanggaan saudara-saudaranya itu, merelakan egonya untuk bangun malam-malam dan menghalau kantuk. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sedang ibu sudah mulai mengeluarkan perkakas masak dari lemari, lalu membolak-balik buku catatan tata boga semasa dia SMEA dulu, lalu menyalakan kompor minyak tanah dan mengaduk adonan. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sejak itu ibu mulai berjualan. Sejak itu ibu mulai menabung.

Aku bahkan tidak bisa menuliskan waktu-waktu dimana aku meninggalkan rumah. Aku pamit pada ibu yang tidak bisa berkata-kata banyak. Tidak bisa berpesan-pesan banyak. Cuma tersenyum dan berkata bahwa ibu pastilah akan selalu berdoa untuk kemudahan cita-cita semua anaknya. Aku pergi melangkah kaki. Seperti percaya seperti tidak, bahwa setiap satu langkah aku tapakkan setiap itu pula aku semakin jauh dari ibu dan semenjak itu pula takdir hidup baru digulirkan. Tak sanggup aku menoleh kebelakang. Mataku berkaca-kaca, ibu berkaca-kaca.

Waktu-waktu berlari dengan tempo yang berubah-ubah. Seperti ritme lagu yang membingungkan, kadang terasa cepat, kadang terasa lambat. Tapi mimpi yang berkelebat diotakku selalu saja sama. Aku ingin secepatnya diwisuda. Sejak saat pertama kuliah aku sudah belingsatan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa selekas mungkin mengenakan toga dan meringankan beban luar biasa di pundak ibu bapak yang semakin ringkih itu?

Dan dibawah pohon nangka yang tidak berbuah itu, disitulah ibu mengumpulkan seratus rupiah receh, uang seribu yang kumal, atau berapapun yang dia dapat. Dimasukkannya kedalam tas pinggang yang resletingnya sudah macet itu, lalu dia bawa pulang kerumah yang sederhana di pojok komplek. Disimpannya uang tadi dalam guci kecil di atas lemari kayu hitam. Setiap bulan diguncang-guncangnya guci itu, mengira-ngira dengan seksama. Dengan berat yang sudah sebegini, sanggupkah dia membeli tiket pesawat untuk sekeluarga menghadiri wisuda anak tertuanya?

Begitulah. Waktu berlalu. Hari pergi dan datang. Sudah sampai juga masa-masa terakhir kuliah. Tuhan sempatkan untuk aku menyelesaikan studi. Dengan terengah-engah. Dengan nafas yang sepotong-sepotong. Dengan semangat yang berkobar-kobar lagi setiap mengingat siluet ibu yang menggigil di bawah hujan, berkeringat terpanggang panas, waktu sehat, saat sakit meriang, seumpama masih bisa berjalan masih juga ibu langkahkan kaki kelapangan itu, lalu menggelar kue-kue, lalu mengumpulkan receh ke tas pinggangnya.

Ajaib………..

Guci di atas meja hitam itu penuh. Dihitunglah dengan riang oleh Ibu, oleh Bapak, oleh adik. Empat tahun enam bulan menabung ternyata bisa memenuhkan guci. Berdoalah, maka Tuhan akan menjawab doamu, mungkin begitu.

Tak terperi, senang bukan main, aku melompat-lompat tak karuan. Sudah kubayangkan mata bulat adik-adikku yang akan terpukau-pukau waktu kutunjukkan kampus tempatku belajar. Waktu nantinya mungkin akan kuajak berputar-putar kota. Waktu nantinya mungkin mereka bercerita dengan meledak-ledak tentang pesawat terbang yang tinggal landas yang mendarat.

Sampai suatu sore…….

Berita dari jauh sana tiba-tiba menghentikan mimpi-mimpi kita. Embah meninggal. Bapak harus pulang ke jawa segera. Dipecahkanlah guci empat tahun enam bulan itu, malam-malam. Bapak pulang ke jawa. Recehan-recehan disumbangkan untuk pemakaman mbah.

Ibu ikhlas. Bapak ikhlas. Adik-adik ikhlas dan bermata bulat murung. Aku ikhlas dan memandang langit warna tembaga, ada yang menggenang di pelupuk mata tapi pasti bukan tangis duka lara, biasanya kesedihan masih bisa kuseka tapi ini mengalir begitu saja, menetes lewat pipi terus turun ke dagu dan jatuh pelan-pelan seperti bola kecil yang bersinar-sinar ditembus cahaya sisa matahari lewat celah jendela kamar kosan tua.

Tiga hari menjelang wisuda, Ibu dan Bapak menaiki bus lintas sumatra. Menghabiskan sehari semalam lebih perjalanan menuju gedung penobatan para sarjana. adik-adik menunggu di rumah dengan khidmat dan diam.

Selalu begitu…………………………………………

Bapak ibu kita adalah manusia tangguh luar biasa. mereka lebih siap menghadapi banyak kenyataan hidup. Baiknya. Buruknya. Kadang malah yang tak siap itu kita.

Lalu aku berdoa, dalam sebuah sujud setelah empat rakaat yang lama. Bahwa semoga yang maha mentipkan rizki dan menitipkan cinta menjelmakan keringat dan bulir airmata mereka menjadi istana kecil nan indah di syurga sana.

Lalu aku terbayang pohon nangka tak berbuah. Lalu terbayang lapangan becek selepas hujan semalaman. Lalu terbayang ibu sedang menggigil meriang. Lalu terbayang guci empat tahun enam bulan. Lalu mata bulat adik-adik. Lalu pesawat terbang.

Berdoalah, Tuhan akan mengabulkan!! Kata ibu.


3 thoughts on “Pesawat Terbang dan Guci Empat Tahun Enam Bulan

  1. Hikzz………..
    Hiks….
    Perjalanan yang mengharukan,…
    Jiwaku pilu,
    Ini tak hanya sekedar cerita, tapi sebuah kisah nyata…

    Ayah Bunda,…
    “I Mizz U”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s