ayam…….

ayam

Sebenarnya aku ini bukan penyayang binatang, tapi jika sudah sekira satu tahun lebih peliharaan kita itu kita rawat dan kasih makan, kalau jagung kita genggam ditangan dan sodorkan padanya lalu dia datang dan makan dari tangan kita, maka rasanya sangat wajar jika ikatan batin itu muncul. Begitulah aku dengan ayam jantan milikku.

Jadi sebenarnya begini ceritanya. Dahulu sekali, waktu aku masih belum sekolah, kami tinggal di pinggir jalan lintas sumatra, tepi hutan belantara yang tidak ada penghuni kecuali aku yang anak seorang penyuluh pertanian ini dan tetanggaku yang ketiban sial untuk juga ditempatkan disana. Disanalah pertama kali garis singgung antara aku dan ayam jantan itu dimulai.

Entah bagaimana awal mulanya kehadiran ayam jantan itu dikeluarga kami, aku lupa-lupa ingat. Ada beberapa versi –tentu saja versi ini dari memoriku sendiri, kau tahulah rekan-rekan bahwa kadang-kadang ingatan kita dimasa kecil itu susah kita bedakan mana imajinasi dan mana kenyataan-.

Versi pertama. Pada versi pertama ini, berdasarkan ingatanku, bahwa ayam ini adalah pemberian salah seorang teman bapak.
Karna ayam ini adalah ayam jantan nan elok menawan. Dengan bulu yang lebat dan mengilap, taji yang panjang dan tajam, gagah betul, ayam ini dengan cepat menjadi primadona di keluarga kami. Aku yang waktu itu adalah anak satu-satunya menjadi sahabat dekat ayam ini. Hampir semua perikehidupan ayam itu aku tahu, jadwal makannya, teman-teman dekatnya, pacarnya, segala macamlah.

Versi kedua. Dalam versi kedua, ingatanku juga memberikan lintasan bahwa ayam ini adalah ayam hutan. Ayam hutan yang waktu itu seingatku adalah seekor ayam yang bernasib naas karna melintas didepan aku dan bapakku yang sedang mandi. Dahulu itu rekan-rekan, janganlah kalian membayangkan mandi itu adalah sebuah ritual sakral yang dilakukan di sebuah wc bermarmer putih dan bak satu kali satu kali satu meter. Mandi itu adalah bagi kami sebuah fase mendekatkan diri kepada alam, bagaimana tidak, satu-satunya akses air adalah melewati turunan yang terjal seperti jurang, kelok sana kelok sini, pokoknya jauhlah. Untunglah sudah dibuat semacam tangga-tangga, tanah licin itu dibentuk cekungan cekungan macam tangga, dan diujung sekali dari turunan curam itu adalah mata air yang bening, yang dipinggir-pinggirnya tumbuh tanam-tanaman paku, kau pasti ingat tanaman paku, kita pelajari itu dimasa-masa biologi smp dulu.

Nah……. Disitulah, dipinggir tanaman paku itu, disamping mata air bening itu, entah bagaimana hipotesa yang tepat, tapi tiba-tiba saja muncullah seekor ayam, ayam elok nian yang berbulu tebal dan bertaji tajam seperti yang sudah kusebutkan barusan. Dan disitulah nasib naas ayam itu dimulai. Salah dia juga, kenapa memilih melewati tempat dimana disana bapak-bapak gesit seperti bapakku sedang mandi? Jadilah dengan segera sebuah ember besar warna biru –aku ingat betul bagian ini- digunakan bapak jadi semacam perangkap ayam, yang dengan sangat cekatan dilemparkan, PRAAAK, ayam elok nian tadi terperangkap, dan itulah versi nomor dua.

Jangan salahkan aku, sudah kubilang aku bukan seorang penyayang binatang, tapi dimana-mana memang cerita yang lebih indah dan dramatis lebih disukai, maka itu sampai sekarang juga aku merasa bahwa ingatanku yang nomor dua adalah awal yang tepat, begitulah bagaimana awal mulanya ayam itu muncul. Sedang ingatanku nomor satu aku percaya hanyalah sebagai sebuah bentuk simplifikasi, sebagian otakku yang berfikir terlalu sederhana dan sama sekali tidak melankolis, tidak dramatis, apalagi romantis telah dengan sangat brilian mengacaukan sejarah. Maklumlah, waktu itu aku masih kanak-kanak.

Nah……. Hari berganti rekan-rekan. Waktu berlalu juga rekan-rekan. Ayam tadi dan aku memiliki semacam ikatan batin. Aku keluar rumah, dia langsung menghampiri. Aku ke dapur dia ikut ke dapur, dimana ada aku disitu ada ayam.
Pada mulanya tidak ada masalah. Hingga suatu ketika……..

Sebuah keputusan super mendadak dari kantor pusat bapakku menyatakan bahwa bapak harus pindah, pindah ke kota bengkulu, kota besar tentu saja jika dibandingkan kehidupan pinggir jalan tengah hutan. Aku berjingkrak-jingkrak tak karuan, seperti setan saja. Sebentar-sebentar aku bertanya “pak..pak…… bengkulu itu seperti apa?” kuulang-ulang dengan tanpa belas kasihan pada bapak pada ibu “bu..bu……disana rame ya?”. Begitulah……… sampai suatu ketika jawaban bapak sangat mengguncang diriku, kata bapak “disana itu ga ada yang pelihara ayam nak”.

Aku bingung. Bagaimana mungkin? Sebuah kota besar tanpa ayam di dalamnya? Ini sungguh ironi? Berhari-hari aku merenung. Malang nian nasib ayam itu, pikirku. Sebenarnya logika bahwa di Bengkulu tidak ada ayam sangatlah menggangguku, tapi daya analisa anak usia TK masihlah pendek rekan-rekan, maka aku hanya terdiam lemas sambil bertanya, “jadi mau diapain ayam itu pak?”

Bapakku menjawab singkat, “dipotong”.

Cerita versi kedua ayam itu tadi, ternyata harus diakhiri dengan tragis. Ayam elok pun dipotong. Sebenarnya kesalahan pertama bapak adalah terlalu tergesa-gesa menjawab bahwa ayam itu akan dipotong. Modus operandinya tertebak sudah. Aku sedikit tahu juga, perjalanan ke bengkulu itu jauh tak karu-karuan. Aku ingat betul waktu itu kami muat semua barang-barang kedalam truk besar. Aku tidur di bak truk yang sempit dan penuh barang-barang tadi, sambil berlindung dari sengat matahari dengan terpal yang menutup kepala kami, dengan sedih kuingat-ingat ayam yang punya hubungan erat denganku tadi, mataku berlinang air mata, tapi mulutku sibuk mengunyah ayam goreng.

Bagaimana lagi, perjalanan jauh, tak ada uang untuk membeli makanan macam-macam di jalan. Sungguh aku sedih, tapi ayam goreng juga menggoda. Maafkan aku ayam.

Singkat kata tibalah truk besar berisi aku bapakku dan ibuku dan barang-barang kami tadi, di bengkulu. Tak lupa juga kuberitahu bahwa disana masih ada juga ayam goreng sepotong. Kusisakan buat nanti kalau aku lapar.

Pindahan selesai. Aku mulai berkeliling komplek. Berinteraksi dengan banyak rumah, banyak hal yang baru. Dan suatu sore aku sadar bahwa disana banyak sekali ayam. Ayam merah. Ayam putih. Ayam abu-abu, semua berkeliaran dan mengais-ngais di jalan. Aku bersungut-sungut, ini tidak bisa dibiarkan, bergegas aku berbalik dan mengambil seribu langkah berlari kembali kerumah. Aku harus protes pada bapak.

*********
Waktu berlalu lagi, hari berganti lagi. Aku sudah mulai bisa melupakan ayam yang dulu itu. Kenyataan waktu itu bahwa keluarga sedang sulit ekonominya mulai pelan-pelan bisa aku pahami. Aku sudah masuk SD waktu itu kalau tidak salah. Aku menjadi sedikit bijak. Disamping ibu punya semacam senjata pamungkas, setiap kali aku terkenang-kenang akan ayam elok nian, maka ibu akan segera berkata “loh…. Ayamnya kan yang makan siapa?”

Aku diam dan tidak lagi pernah mengutik-utik kenangan ayam. Disamping waktu itu aku sudah punya ayam yang baru lagi. Sebuah ayam jantan berwarna merah. Memang sih tidak seelok ayam elok nian yang kudapat dari kisah versi kedua tadi kawan, tapi lumayanlah mengobati dahagaku untuk beternak ayam, bukan beternak, tepatnya memelihara ayam. Satu ayam. Hanya seekor yang jantan itu saja.

Mula-mulanya tidak ada masalah. Sampai suatu ketika. Aku masuk SMP. Seragam harus diganti, sepatu harus diganti. Sementara ekonomi masih betah berputar-putar dilevel itu saja. Ini alamat buruk. Aku sudah berfirasat bahwa akan ada yang terjadi.

Benar saja, bapak memutuskan untuk membawa ayam satu-satunya milikku tadi ke pasar pagi di terminal. Dengan mata yang tidak bisa dipastikan seperti apa ekspressinya, bapak perggi membawa ayam jantan warna merah ke pasar pagi di terminal.

Aku kasihan pada bapak. Kenapa sesulit itu untuk sekedar membelikan ku sepotong celana biru? Tapi itulah, emosi kadang-kadang mengacaukan fikiran jernih kita tentang realita-realita. Aku tidak lagi membayang bapak yang pagi-pagi kepayahan menangkap ayam dan mengikatnya dengan tali karet dari ban dalam yang dipotong, tidak juga aku bayangkan lagi bapak yang membawa motor tua dengan diganduli ayam yang berkeok-keok di belakangnya, tidak juga kubayang lagi bapak yang berbecek-becek di pasar terminal pagi-pagi, menawarkan ayamnya pada orang yang lewat acuh tak acuh tak ada yang peduli.

Yang kutahu waktu itu hanya satu. Aku tidak rela ayam itu dijual. Sepanjang sekolah dari pagi sampai siang aku merutuk-rutuk, hatiku gundah gulana tak bisa dipuisikan, ayam itu tidak boleh hilang doaku.

Sepulang sekolah, dengan langkah gontai aku masuk ke halaman, lalu terkaget-kaget aku tiba-tiba melihat seekor ayam jantan merah, ayam yang tidak terlalu elok tadi, ayam punyaku itu mematuk matuk di halaman. Ia tidak jadi dijual. Bapak bawa pulang kembali ayam itu, karna tidak seorangpun juga mau membelinya. Entah terlampau tua. Entah kurus merana, aku tidak tahu apa masalahnya.

Tiba-tiba aku merasa kasihan pada bapak. Dia sudah berpayah-payah membawa ayam jantan merah ke terminal pagi-pagi, lalu dengan muka suntuk dibawanya lagi pulang ke rumah siang-siang. Capek, berkeringat, dan mungkin juga kebingungan. Sedang aku tak rela ayam itu dijual, tapi masih mengidam celana biru pendek baru.

3 thoughts on “ayam…….

  1. baca cerita ini inget adeku,, paling hobi pelihara binatang,, tapi ndak hobi merawatnya,, dia rela menyisihkan uang jajannya untuk membeli seekor ayam hutan,ikan2 hias, kura-kura.. tapi yang ngerawat itu semua adalah ibu jadinya..
    tapi hewan yang paling dia sukai dan hobi bermain dengannya adalah 2 ekor kucing yang diberi nama qori dan raihan (nama yang bagus untuk kucing bukan??)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s