es potong dilematis

espotong
Disela-sela penat kerja seperti akhir-akhir ini, aku senang membayangkan masa-masa SD dulu. Waktu dimana kebahagiaan itu rasanya kok gampang sekali diperoleh. Hal-hal yang membuat kita bahagia waktu itu adalah hal-hal sederhana.

Dulu itu, jarak antara sekolahku dan rumah kecil tempatku tinggal kalau tidak salah adalah sekitar 15 km. biasanya aku naik angkutan kota, jalan dulu sekitar sepuluh menit kurang, dari rumah menuju gang depan pinggir jalan raya. Baru dari sana menunggu angkutan kota yang kebetulan disupiri oleh bapak-bapak baik hati.

Rekan-rekan sekalian, dulu itu tarif angkutan kota untuk anak-anak sekolahan adalah seratus rupiah, sedangkan untuk umum seratus lima puluh rupiah. Para supir angkot yang tega nian itu biasanya pasang tampang cuek. Aku sudah menunggu dengan muka memelas di depan gang pinggir jalan raya itu, tapi masih juga mereka tidak berhenti. Ya logis juga sih kalau dipikir, kalau saja bangku yang dipenuhi oleh badan kecilku ini diganti dengan yang tidak pake seragam kan sudah untung limapuluh rupiah.

Setiap hari haruslah aku berangkat lebih pagi. Konsekuensi pulang juga sama, jadi lebih siang. Untunglah, karna banyak pertimbangan, suatu ketika jadwal sekolah di SD kami waktu itu dirubah. Anak kelas tiga masuk siang. Anak kelas tiga jadi pulang sore.

Aku sedikit tertolong. Jadi aku tidak usah pergi terlalu pagi lagi, bisa santai-santai sedikit. Menjelang siang barulah aku jalan kaki sekitar kurang dari sepuluh menit menuju pinggir jalan raya. Di saku sudah ada uang receh duaratus rupiah.

Nah….. mengenai duaratus rupiah inilah aku akan berkisah pada kalian-kalian. Jadi ceritanya begini. Ibuku, dari dulu sekali waktu aku SD, sudah menerapkan sebuah metoda pendidikan anak ala baru. Metoda pendidikan berhemat. Urusan macam begini ibu sudah lebih ahli, dia tahu persis ongkos berangkat seratus rupiah, ongkos pulang seratus rupiah.

Diberikanlah kepadaku duaratus rupiah receh setelah salaman pagi-pagi. Aku tunggu sebentar sambil muka memelas, ibu tidak bergeming. Tunggu lagi sebentar, tetap tidak bergeming. Astaga……… aku menyerah, urusan begini seperti tawar menawar beli barang. Kan kurang lebih begitu kawan? Kita minta sekian, penjual mau sekian, otot-ototan sebentar lalu pasang aksi pura-pura mau kabur, akhirnya harga diberikan setengahnya. Ahai…… aku tahu sedikitlah masalah ini, karna sering mengintip bapak kalau membelikan aku sepatu, bukan main bapak itu ngotot kalau menawar barang, sampai pucat pasi itu penjual sepatu dan menyerah tanpa syarat. Tapi……. Kalau dengan ibu, akal bulus begitu tidak bisa diterapkan. Jadi aku pergi saja langsung ke sekolah sambil jalan setengah diseret.

Perjalanan menuju sekolah sekitar sejam kurang sedikit. Sampai di gerbang depan sekolah itulah aku tersadarkan lagi akan sebuah visi besar dalam hidupku. Mimpi-mimpi yang selama ini menghantui aku waktu tidur dan terjaga. Yang mengobarkan semangatku untuk berfikir keras bagaimana caranya menggapai cita-cita luhur mulia itu. Yaitu cita-cita untuk membeli es potong.

Jangan dulu kau tergelak dengan itu. Es potong itu, rekan-rekan yang saya hormati, adalah semacam karya adiluhung. Mirip es bon-bon, hanya saja lebih manis dan kaya susu. Apalagi setelah dipotong kurang lebih sepanjang lima jari anak kelas tiga SD, dan ditusuk dengan elegan pakai lidi yang diserut dari bambu. Astaga………..

Tapi bagaimana mungkin bisa membeli es potong? Sedangkan uang hanya cukup untuk diberikan kepada supir berbudi luhur yang mau mengangkut anak sekolah serupaku ini? Jadi pelajaran pertama yang kudapat dari mimpi es potong dan didikan ala militer dari Ibu itu ada benarnya juga, yaitu menahan keinginan. Kan katanya keinginan kita itu lebih sering tidak tercapainya daripada terwujudnya, aku tahu benar tentang hal itu.

Biarlah es potong cuma aku lihat dari jauh saja, kunikmati suara kliningan tukang-nya saja. Dari jauh aku tetap bermimpi, suatu nanti pasti akan kubeli.

Hari berlalu seperti angin semilir. Anak tiga SD kan tidak pernah berfikir abstrak. Pokoknya ya ceria saja. Dimarahi orang tua ya sedih sebentar lalu tertawa lagi. Tidak dapat es potong ya kepengen sebentar terus biasa lagi.

Sampai suatu hari. Setelah masa-masa belajar yang melelahkan karna mulai sekolah dari waktu siang hari yang menyeruput keringat, sore-sorenya aku menunggu dengan khidmat dan serius di sebuah persimpangan sekitar lima puluh meter dari lampu merah yang kalau sudah sore warnanya yang menyala hanya kuning saja. Kelap-kelip-kelap-kelip.

Tiba-tiba seorang kawan lewat dan menunggu di depanku. Kami ngobrol juntrungannya kesitu kemari. Lalu muncullah sebuah ide pandai tak karuan dariku. “aha……. Bagaimana kalau kita berjalan saja? Sambil menunggu angkot” seruku dengan pede. Seperti yang analisanya sudah paripurna.

Kawanku ini tadi dengan tololnya mengikuti saranku. Dan jadilah kami dua orang anak kelas tiga SD yang brilian berjalan kaki berkilo meter demi sebuah ide pandai dariku “sambil menunggu angkot”

Tanpa bermaksud menyinggung, aku jadi sedikit tahu kenikmatan bergosip ria. Buktinya waktu seperti tidak terasa, sudah setengah jam kami berjalan dan hari semakin sore. Aku senang bukan main, karna semakin jauh perjalanan, semakin mantaplah tekad kami untuk berjalan saja sampai rumah.

“Ini kan petualangan?” Aku menambahi dengan lebih bodoh lagi. Karna tiba-tiba di otakku berputar-putar bayangan es potong. Begini logikanya, berjalan dengan teman samadengan waktu tak terasa, waktu tak terasa samadengan tiba-tiba sudah sampai rumah, tiba-tiba sudah dirumah kan samadengan ongkos tidak terpakai, ongkos tidak terpakai kan bisa menjelma es potong? Astaga……… benar-benar aku tidak mengerti cara kerja otak. Tanpa kita pikirkan, tanpa kita paksa bekerja, tiba-tiba otak menyodorkan sebuah solusi, cerdas.

Aku sudah mulai akan mengagumi kehebatan logikaku, sampai saat dimana temanku membuyarkan lamunanku dengan berkata “aku duluan ya, sudah sampai”

Apa??????????????
Bodohnya aku. Kenapa tidak dari tadi aku tanyakan dulu rumah laki-laki kecil di sampingku ini. Perjalanan baru setengahnya dan aku sekarang terjebak dalam sebuah dilema.Teman perjalanan sudah sampai tujuan. Tak ada yang lebih menyakitkan selain kawan seperjalanan meninggalkan kita duluan, meski kita tahu takdir sudah berkata begitu. Aku mengiyakan, sambil merutuk sedikit. Kalau saja tahu dia rumahnya dekat dari sekolah kan aku tidak mungkin berjalan kaki.

Rutukan itu sebentar saja rupanya. Tiba-tiba aku melihat di sebrang jalan sana ada seorang penjual es potong. Wah………… es potong yang legendaris itu. Sekarang aku dalam pilihan yang sulit rekan-rekan.

Mari kita urai matematikanya. Diketahui harga es potong adalah duapuluh lima rupiah. Sedangkan tarif angkot seratus rupiah. jika tarif angkot untuk jarak dekat dan jarak jauh selalu sama, dan uang yang kau miliki tinggal seratus-seratusnya itu, bagaimana solusinya?

Soal cerita adalah momok buatku waktu SD dulu, yah wajar saja, bisa dimaklumi jika anak kelas tiga agak tidak terlalu pintar menjawab matematika rumit, maka logikaku ini mungkin agak-agak bisa dibenarkan juga. Jika aku beli satubuah es potong, maka uang ditangan tinggal tujuh puluh lima rupiah. tak bisa naik angkot. Pilih naik angkot berarti mimpi es potong musnah.

Badanku serasa dehidrasi. Ah….. menyelamatkan kesehatan tubuh, itulah yang terpikir olehku sekarang, dan seribu satu alasan pintar demi mendukung es potong. Bukankah mencegah tubuh dari dehidrasi adalah tindakan pintar nan mulia? maka itu aku belanjakanlah sisa uang untuk ongkos tadi dengan es potong. Bukan satu. Tapi kubeli empat. Karna cobalah kau bayangkan rekan-rekan, meskipun kubelikan satu saja es potong, sisa uang tetaplah akan tidak bisa digunakan naik angkot. Daripada mubazir, maka sisa uang kubelikan semuanya.

Itulah pelajaran keduaku, pelajaran untuk memilih diantara hal-hal yang sulit. Membedakan mana kebutuhan dan mana nafsu. Maka ketololanku waktu itu telah dengan sangat pintar menipu diriku. Aku berjalan-jalan dengan senang, rasa hati sudah mendapatkan pencapaian luar biasa. Hari semakin sore, semburat senja memerah di ufuk jauh. Aku berjalan santai dengan melompat-lompat. Makan es potong empat ternyata susah juga.

Kau tahu kepuasan marginal? Teori ekonomi yang diajarkan guru SMP kalau tidak salah. Pertama kali makan es potong rasanya seperti di syurga. Kali kedua kau makan es potong rasanya masih seperti syurga juga tapi agak-agak turun grade, kali ketiga dan keempat lidahmu mulai kebas dan kau nanti akan mulai menyumpah-nyumpah kebodohanmu untuk membeli es sekaligus empat. Mencair menetes tak karuan.

Matahari seperti mau main petak umpet. Dari jauh sayup sayup ceramah zainudin M. Z bergema. Burung-burung terbang seperti gerak lambat. Kadang-kadang mobil seliweran di pinggir jalan raya. Azan maghrib hampir berkumandang, dan aku lari-lari setengah menangis, kaki pegal tak alang kepalang, sedang jarak ke rumah masih seperempatnya. Sumpah mati tak kan pernah kugadai ongkos dengan apapun lagi

Iklan

2 thoughts on “es potong dilematis

  1. hmmm.. hai salam kenal..
    saya ga kenal kmu.. tapi saya suka postingan ini.. 😀

    sangat masa lalu sekali.. dulu saya pernah seperti itu juga..
    indahnya masa kecil..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s