Ada yang menyublim

old_memories

Ingin menceritakannya saja aku sudah bingung. Dari mana memulainya supaya alur ceritanya runut dan tidak membingungkan kalian-kalian. Ini aku benar-benar terus terang, bahwa sebenarnya aku sering lupa, mana-mana hal yang aku sudah ceritakan padamu, mana-mana yang belum. Tapi rasa-rasanya belumlah pernah aku mendongengkan pada kalian-kalian mengenai suara cericit. Baiklah……… akan aku mulai pelan-pelan saja.

***

Dimana sekarang kita berada? Terlempar ribuan mil dari keluarga yang mengayomi kita, yang semisal Bapak mencereweti kita tentang disiplin atau tentang semangat juang. Yang tiap hari berdebat mengencang urat leher, tapi di tiap-tiap peluh keringatnya yang menetesi punggung baju hansip pns atau baju korpri pas upacara tujuhbelasan itu ada cinta yang menyublim, indah, polos dan menggetarkan.

Dimana kita sekarang tersudut? Menghela nafas di juta-juta kilo jarak dari ibu yang cerewet mengomeli macam-macam saja tingkah kita. Yang memusingkan kepala kita dengan petuah berulang-ulang macam dejavu, tapi di sudut kamar waktu paruh malam yang dingin dan dikerubungi nyamuk, beliau itulah yang menyalakan racun melingkar lingkar dan menyimpannya di pojok kamar, lalu menarik selimut bolong-bolong dan menutupi setengah badan kita yang rapuh dengan perhatian yang bening, yang tulus dan tak terganti.

Dari sinilah, mungkin bisa kita mulai, cerita-cerita pendek saja. Tentang kenangan yang memainkan peranannya seperti keniscayaan sejarah. Kau tahulah, begitulah sejarah memperlakukan kejadian-kejadian, berlalu begitu saja waktu masa terjadinya, lalu barulah kita berikan makna-makna setelah dia lewat berapa kala. Kenangan indah orang bilang. Memori tak terulang orang bilang. Dan kita selalu seperti pelajar yang telat menangkap materi, lalu sama-sama kita tepuk jidat dengan sebelah tangan sambil merutuki ketololan kita sendiri.

Mungkin itu ya, kawan-kawan. Alasannya kenapa kita pergi mengitari separuh dunia, ketempat-tempat hiruk pikuk, kepelosok-pelosok senyap, kegunung-gunung, kelaut, kedesa-kekota, supaya kita bisa merasakan bahwa tempat kita memulai perjalanan dulu itu adalah tempat berharga dan penuh kenangan. Tidak bisa kita percayai itu sebelum kita terasing dan menggelusur di pojokan ratusan hasta dari rumah kita.

Malam ini. Cericit itu muncul lagi. Bunyi gesekan rem karet sepeda dengan pelg ban. Sebagai saksi tuna wicara. Lakon berulang-ulang. Bapak pulang dari kantor pada waktu siang menjelang sore. Sambil mengayuh sepeda tua yang kadang-kadang aku pinjam mengitari komplek sampai rawa-rawa ujung sana sekali itu.

Aku sudah sangat peka sekali, dengan derit suara rem sepeda bapak. Dari jarak sekitar duapuluh meter sudah bisa kuindera dengan sangat baik sekali. Bapak sudah pulang. Rem sepeda sudah menderit. Waktunya aku memainkan sebuah sandiwara apik tak kepalang tanggung: pura-pura memegang gagang sapu, atau langsung mencuci setumpuk baju yang aku rendam dari tadi pagi tapi tak juga disentuh-sentuh, atau muslihat pura-pura membaca buku pelajaran.

Ah…….. masa SD yang tak terulangkan. Begitulah, Bapak menjadi lakon pembicara tunggal, dalam setiap seminar sehari. Diulang-ulangkannya materi yang sama dengan minggu lalu. Dengan minggu sebelumnya lagi. Tentang “kemandirian”, tentang “ketahan bantingan-an”, tentang “kesabaran”, tentang “keuletan”, tentang “pengorbanan”, tentang “ke-nrimo-an”, tentang segala-gala.

Aku mengangguk-angguk takzim, sebagian setuju sebagian tidak, lalu sebagian aku ingat-ingat, banyak bagian aku lupa-lupa. Tak apalah, biasanya Bapak bakal mengulangnya lagi mungkin besok mungkin lusa. Yang jelas tiap pagi pasti disorongnya itu sepeda tua dari sampiran samping rumah yang dindingnya belum diplester itu. Lalu sekira duapuluh kayuhan dari pinggir rumah aku langsung lari gedubrak-gedubruk ke depan tv, nonton pelem atau nggelasar-nggelusur sana sini. Nanti sajalah cuci baju atau belajarnya itu, waktu rem sepeda sudah mencicit dan bapak sudah hampir duapuluh meter dari rumah, siang hampir sore nanti.

***

Begitulah aku memulai perenungan tentang makna hidup dengan mengangkat sebuntelan besar barang-barang dari rumah kecilku di pojok komplek, pergi menyeberang selat, lalu berkelana kesana kemari, untuk lalu malam-malam waktu lagi sendiri nantinya aku menepuk jidat dengan sebelah tangan. Astaga………………

Dimana kita? Ribuan mil jaraknya dari orang tua yang mengajarkan kita kata-kata. Lalu baru sekarang-sekarang kita bisa agak-agak sadar. Dan merindu suara derit rem sepeda Bapak, dan petuah-petuah berulang-ulang dulu itu, dan merindu tangan ibu yang membenarkan selimut bolong-bolong. Karna mungkin ini malam kita kedinginan, mungkin kita dikerubung nyamuk.

Lalu pelan-pelan ada yang menyublim.

One thought on “Ada yang menyublim

  1. sublimating……feel like an audience member watching a theater.
    the stage act around you is such a foreign energy that you feel more like a spectator than a participant.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s