Surat

Kutemukan remukan kertas di pinggir jembatan bambu reot, waktu aku menyusuri jalan setapak panjang sore tadi:

Surat untuk calon istriku.

Dek………. Bagaimana jadinya?

Ah….. bukan………….bukan, maaf, aku selalu tergesa. Harusnya kusampaikan dulu sebuah salam yang bukan basa-basi. Sepotong kalimat yang membahagiakan dan mendoakanmu. Itu visi yang membangun cerita panjang oret-oret suratku, “cintakah itu?” bila kau tanya mungkin jawabnya “ya!”

Dari malam tadi, aku selalu bermenung dan menghabiskan sepotong biskuit dengan teh panas. Tanpa rokok dek. Aku malu menjejali paru-paru yang menarik dan menghembus setiap nafas hidupku ini, dengan kabut. Semburat putih tipis yang nanti mungkin menghantar nikotin ke udara sekitarmu waktu aku jawab “ya” saat kau bertanya “cintakah itu?”

Menulis surat rasanya kebas jari tanganku. Bagaimana mengarang frasa yang memuat berkuintal-kuintal rasa yang tidak mudah sebenarnya dibahasakan? Maka aku remuk lagi kertas ke duapuluh lima yang kutulis malam ini lalu kuambil lagi secarik kertas baru, putih, dan bergaris, dari buku tipis seribu limaratusan. Kutulis salam dulu di bagian atasnya lalu langsung menjawab “ya” untuk tanya yang belum kau jadikan kata “cinta?”

Bagaimana menjanjikan keluarga ya, dek? Dengan harta yang sepeser-sepeser, dengan rumah yang sempit sekamar saja ini, dengan muka yang pias warna pucat sesederhana ini. Bagaimana dek?

Ah………… romansa tiba-tiba jadi begitu picis. Aku mohon maaf yang dalam, untuk telah menggoreskan tinta yang membingungkan. Karna bagiku, mungkin cinta memang tak harus dipuitis-puitiskan.

Aku menyeruput teh lagi dek, barusan…… lalu mengelap jari tangan keringatan dengan serbet tua agak dekil.

Setelah sekian lama waktu, baru malam ini aku beranikan berjanji, untuk nanti rasa-rasanya aku akan menatap lamat-lamat keringatmu yang membulir jatuh waktu mensetrikakan pakaianku! Waktu menggiling dengan susah payah, cabai yang biasanya kau pakai blender di rumahmu dulu! Waktu menyapu sehari enam kali di rumah sempit yang debu jatuh dari sana-sini! Waktu menenteng kantong plastik sekitar enam biji, di tangan kananmu sebelah di tangan kirimu sebelah, saat pulang dari pasar jauh yang biasanya kau pakai mobil di rumahmu dulu! Waktu kau melambai pelan sambil tersenyum, menguat-nguatkan bola mata bulatmu untuk tidak bergetar saat aku terpaksa pergi ke utarakah, ke selatankah, untuk belajar jadi lelaki dan menggenapkan tugas dengan mengantarkan sepotong rizki yang kutemukan di timurlaut atau mungkin baratdaya. Kau tidak sedang sakit meriang kan dek, waktu aku pergi?!

Moga-moga berani kutitipkan surat ini pada seorang kawan. Tak usahlah dibalas dek, aku bingung menjawabnya jika nanti kau bertanya tentang satu kata itu saja “cinta???”.

Dan jika kiranya waktu berbaik hati, menyempatkan kita berbagi banyak cerita, dalam satu rumah dikelilingi anak-anak yang berlari-lari dan berteriak teriak, baru aku akan jawab pertanyaanmu itu. setelah kau bikinkan secangkir teh panas dulu untukku.

Kusimpan kertas itu disaku bajuku sebelah kanan, lalu meniti jembatan reot itu pelan-pelan sambil menebak-nebak, siapa gerangan yang menulis surat ini?.

Iklan

8 thoughts on “Surat

  1. thanks for the letter that u’ve shared….really impressed and inspires me….it’s been a great to have these nice words of wisdom to help at such difficult times.
    Is someone from the past on your mind?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s