Lancang…

lancang
Seperti pencuri saja.
Malam-malam kuketikkan ini. Menuliskan sebuah cerita tanpa izin, mungkin adalah sebuah kelancangan. Degap-degup jantungku memompa darah dan adrenalin, biar kiranya jemariku ini bisa bertingkah lebih cepat dari biasanya.
Sebelum lintasan memori yang selalu cuma sebentar nian mampir itu, lenyap. Sebelum malam yang ber-angin pelan ini ikut menyapu niatanku yang setengah ini sampai ludes.

Manusia tercipta dengan tabiat yang gampang sekali lupa. Mungkin itu juga kiranya kenapa Tuhan mengajar kita dengan Kalam, dengan “Pena”. Cerita-cerita kalau tak dituliskan dan dibagikan akan hilang dan mati. Begitu juga ingatanku nanti mungkin membusuk dan ikut dikerubun belatung. Kau belum sempat baca. Tidak pula kawan yang lain sempat tahu. Sedangkan nama yang luarbiasa itu belum sempat diceritakan, dan mungkin nanti hilang ditelan sejarah. Akankah aku yang kalian salahkan???

Baiklah…….
Sudah sekitar enam tahun, sahabatku itu aku kenal. Perkenalan yang biasa dan klise di kampus Padjadjaran. Aku tidak ingat bagaimana mulanya kami kenal. Tapi pastilah tidak dramatis. Sesuatu yang cukup biasa, sampai otak-ku yang masih banyak lowongnya ini tidak menyimpannya. Memori hanya muncul sekilas-sekilas. Rumahnya dulu cukup kecil seingatku, di pinggir jalan tanah yang rumput jalan dan ilalang menyeruak kemana-mana. Ada lapangan bola di seberang sananya, dan titian jalan-jalan setapak menyusur sawah setengah jadi di pinggir-pinggir perumahan yang masih lengang. Setengah pedesaan…… Alami……… Sepi…….. Dan berembun basah……… ya, memang waktu itu musim penghujan, aku ingat betul itu.

Dari sanalah, kalau kau paksa aku runut-runut, ingatan yang cukup baik buatku memulai melintas kebelakang. Ingatan setelah itu adalah rumah itu sudah kuanggap rumah sendiri.

***
Setiap kali kuliah usai, dan aku yang sama sekali bukan aktivis kampus ini tidak punya kegiatan, maka seingatku aku akan bertandang kerumahnya. Menaiki angkot berjejal sambil berceloteh tentang masa ospek yang baru kami lalui, atau mungkin diam saja sampai kalau tidak aku mungkin dia yang akan tiba-tiba berujar tadi siang ada seorang gadis manis yang kita lihat di pinggir jalan kampus.

Dari depan gang kami masih harus berjalan sekitar 15 menit. Ini bagian yang aku paling senang. Sawah-sawah yang masih hijau di pepinggiran jalan itu seperti selintas menyadarkan aku bahwa masih banyak keindahan di sini, selain kejenuhan dan rasa penat yang seperti bercokol di punggung. Aku menyukai suasana itu, dan dia adalah orang yang pertama kali mengajakku untuk melewati jalan sawah itu. Disitulah aku mulai membatin bahwa beliau ini akan menjadi teman baikku. Aku susah berteman memang, tapi bersahabat seumur hidup.

Anak itu melankolis sejati. Dan sedikit-sedikit aku memahami jalan dia berfikir. Banyak yang sama dalam keseharian kami. Keluarga yang ekonomi seadanya. Kami marjinal. Bukan orang yang berperan krusial di konstelasi kampus. Menyukai seni. Merasa diri kami sebagai pria kharismatik yang romantis, dan dalam banyak kesempatan “mana-mana gadis yang dia anggap manis pastilah menurutku lumayan juga”.

Hampir setiap hari aku bertandang kesana. Menghabiskan masakan yang dimasak kakak perempuannya, lalu berbasa-basi seperti mau mencucikan piring. Nantinya anak itu juga tahu semacam basa-basi melarang aku mencuci. Lantas piring kotor kutumpuk saja dibelakang sambil berkomentar betapa enak masakan teteh-nya.

Dari sana aku tahu dia orang yang baik. Entah sudah berapa kali dia merogoh koceknya untuk membeli kerupuk putih atau sekedar membeli gorengan atau mie sebagai teman makan kami. Sudah setengah mati kukatakan padanya bahwa aku sudah lulus pelatihan sengsara di rumahku sebrang sana, masihlah dia tak percaya bahwa aku bisa survive hanya dengan makan nasi saja. Maka setiap kali niatan bertandang itu mengakibatkan uang sakunya keluar menjadi lauk pauk buatku, aku merasa bersalah. Tapi tiap hari pula kuulangi lagi dan aku bertandang lagi.

Dia menjadi sahabat yang aku percaya untuk setiap rahasia-rahasia. Dan aku juga mulai tahu kisah keluarganya. Kesulitan ekonominya. Gadis manis yang dia taksir. Tipu muslihatnya menarik si cantik jelita itu. Dan macam-macam lagi.

Kami sudah seperti anak kembar saja. Bedanya aku lebih tinggi sedikit darinya. Dia menjadi seperti rival. Orang yang aku iri dengan kepandaiannya menggubah lagu. Aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi sahabat yang mendengarkan dengan baik. Bagaimana hidup dengan bersahaja. Dari keluarganya aku belajar bagaimana potret keluarga yang sederhana tapi penuh canda.

Kami pergi ketempat-tempat yang jauh. Menyelesaikan tugas kampus untuk penelitian di Banten. Menyusur hutan. Kami menuruni jurang-jurang curam. Kami tersesat di hutan lebat yang men-tak berkutik-kan GPS kami. Kami sok-sok pandai bertutur sunda halus dengan penduduk kampung. Kami naik turun bus, naik turun ojek. Mandi di sungai deras. Buang air ala penduduk yang tidak punya jamban. Tak terlupakan.

Sampai waktu empat tahun seperti tidak terasa dan berhenti. Entah bagaimana mulanya aku tidak mengerti. Aku sudah lulus. Sedang beliau belum. Ekonomi keluarga yang merapuh kian hari, dan banyak problem -yang sebagai teman aku malu untuk tidak tahu-.

Tapi nyatanya aku sudah menyandang toga, menghadiri wisuda yang riuh dan tatapan bangga orang tua. Sedang sahabatku itu tidak hadir dalam wisudaku.

Sejak saat aku diwisuda itu dia pergi ke pedalaman kalimantan. Mengerjakan sebuah proyek eksplorasi batubara. Ditinggalkannya tugas kuliah dan skripsi yang menunggu itu, demi membantu ekonomi keluarganya. Sendiri. Terasing. Berbulan-bulan. Samar tapi terasa, aku menyadari seperti ada yang salah dengan start yang kumulai lebih dulu ini. Aku telah diterima bekerja.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan menjalani lelakon baru. Berkemeja rapih bergaris dan memakai badge. Aku masuk di sebuah kantor perusahaan besar. Menghadiri meeting dengan para bule. Menikmati training berbulan-bulan di hotel megah berbintang. Tidur di kasur empuk bukan main. Tidak pernah lagi aku merasakan mencuci dan menyetrika. Makan empat sehat lima sempurna sampai berat badanku naik tak karuan. Tiap sore berenang di kolam renang yang banyak pepohonan pinggir-pinggirnya. Tapi seperti ada yang salah.

Maka setelah berbulan-bulan yang panjang, aku sempatkan menaiki bus siang-siang dari jakarta menuju Bandung. Lalu aku ketuk pintu rumahnya dan bertegur sapa dengan ibunya. Nyelonong naik ke lantai atas, dari tangga kayu yang tua dan berdecit, lalu bertemu anak itu yang sedang mengetik di komputer lusuh. Dia tersenyum. Senyum yang biasa dari sahabat melankolisku itu, tapi seperti ada yang sedikit getir.

Aku rahasiakan pada orang tua beliau. Tidak ada yang tahu bahwa aku sudah lulus dan bekerja. Tapi bisakah kita membohongi orang tua? Tatap mata ibunya seperti tahu benar ada yang berubah dari raut muka dan perawakanku. Maka disuatu sore yang tenang dan sangat biasa, kawanku itu bertutur jujur pada ibunya, bahwa aku, sahabatnya, sekarang sudah lulus dan bekerja. Ibunya diam……..diam yang lama. Tidak ada yang salah. Hanya doa dan harapan agar dia bisa lebih cepat menyelesaikan kuliah, yang terlontar dari bibir ibunya. Kawanku itu hening, dan aku tidak bisa berbuat selain tidak berkata-kata.

Kadang-kadang aku berfikir. Seandainya sebentar saja diberikan kita kesempatan oleh Tuhan untuk mencoba-coba drama kehidupan kawan-kawan, aku tak sanggup memainkan peranan beliau itu. Tinggal di kampus yang semakin hari semakin sedikit saja rekan-rekan yang masih rajin datang. Menikmati kesendirian bolak-balik laboratorium dimana kawan-kawan sudah bergelar S.T. Mengerjakan berlembar-lembar kertas saat tidak lagi ada rekanan tempat mengadu ide-ide, untuk sekedar membakar kembali semangat yang putarannya kian hari kian pelan. Sungguh aku tidak sanggup.

Maka di waktu-waktu aku pulang kembali ke jakarta, setelah bertandang dan sowan ke keluarganya itu, aku merasa ciut. Baru aku tahu lagi bahwa anak lugu itu adalah tipikal yang jatuh berdebam dan sempoyongan berulang kali tapi masih bangkit. Lalu kutitipkan saja doa dan sepenggal sms. Bahwa aku, kawannya yang sudah lulus lebih dulu, dan nama-nama yang baru saja di-toga-kan lainnya itu, menunggunya di sebrang. Kami sudah berteriak-teriak dan meloncat loncat melambai tangan. Kami tahu dia pasti datang.

***
Lama rasanya, jeda waktu semenjak terakhir aku duduk di pinggiran bus yang melintas tol cipularang, terayun-ayun setengah tertidur, lalu nanti baru terbangun setelah sampai di pintu tol cileunyi didekat rumah kawanku itu. Lama rasanya……

Sampai aku mendengar kabar luar biasa itu. Bahwa kolega-ku itu sudah bergelar sarjana kini. Bukan main rasanya. Kugeleng-gelengkan kepala membayangkan dia jatuh tersungkur dan bangun dan sempoyongan dan sampai terjerembab dan bangun lagi dan sekarang dia berdiri!!!
Kawanku itu sudah diterima pula bekerja. Takdir berjalan dengan cara yang unik. Secepat aku bekerja secepat itu pula dia bekerja setelah diwisuda.

Lalu kami bertemu lagi di jakarta. Dari sebuah kosan yang harganya tak mungkin terbayar waktu kami masih mahasiswa dulu, kami pergi kebanyak tempat. Lalu menyalakan laptop dan modem. Membeli kemeja dan celana panjang yang pantas.

Hei……. Roda berputar rupanya…… tak habis-habis aku menggeleng untuk setiap rupiah yang tercetak di saldo tabunganku, untuk setiap kami makan siang bukan dengan bakwan atau indomi goreng lagi, untuk setiap rupiah yang kawanku itu bisa berikan pada Ibunya, pada Bapaknya, pada Adik laki-laki tertuanya. Aku turut bangga.

Tapi pelan-pelan nian kami larut dalam euphoria Jakarta. Menghabiskan hari dengan memlototi layar datar monitor yang membuat mata kami berair. Duduk dibelakang meja yang disesaki kertas-kertas. Bernafas dengan setiap tarikan dan hembusan kami adalah rantai panjang hidrokarbon, barrel minyak, cadangan gas, mata bit yang berputar, pemboran sekian ribu feet dan segala yang mengkorupsi indah hidup.

Lalu Jakarta seperti berembug sepaham dengan rutinitas kami. Macet dimana-mana. Asap dimana-mana. Bunyi klakson. Orang berteriak. Sepeda motor yang berjalan di trotoar. Lampu merah yang menyala dan berganti dengan acak. Bau pesing. Jenuh penat dan menghabiskan tenaga.

Lama rasanya………… jeda waktu dari sejak terakhir kali kami pernah menempuh belasan kilometer belantara kalimantan. Tertawa-tawa dan makan nasi putih dengan ikan asin. Mandi di sungai jernih yang didasarnya batubara hitam mengilap. Naik kapal mesin yang menyusur alir sungai mahakam sampai hulu semalaman. Dan bercerita sebelum tidur tentang mimpi-mimpi masa depan, rencana merebut gadis impian, sambil sesekali menepuk nyamuk yang kurang ajar menginterupsi.

Maka sebelum cerita ini terlupa dan kami akan sibuk dengan anak istri, aku tuliskan lagi kisah ini. Meski menuliskan sebuah cerita tanpa izin mungkin adalah sebuah kelancangan.

Tembang Tidur

tembangtidur
Menjadi yang pertama, sungguh bukan pilihanku. Ada hal-hal yang dalam kehidupan ini kita tidak bisa memilih. Jadi kepada ketiga adikku, dalam tiap-tiap kesempatan, aku gumamkan sendiri di dalam batin, bahwa tidak pernah aku -di dalam rahim sana misalnya- “mengojok-ojok Tuhan supaya memperkenankan aku lebih dulu hadir ke dunia ini. Biar nantinya kalian-kalian cukuplah jadi yang nomor dua, atau tiga dan empat. Tidak, dek

Tinggal di rumah petak, menyisakan sebuah coretan nostalgi yang cukup membekas juga. Waktu itu aku masih kecil, belum lagi aku mulai masuk sekolah SD. Perasaan waktu itu banyak nian nyamuk dan serangga-serangga, sekeliling rumah bukan main ilalangnya itu tumbuh lebat, acak, dan keras kepala. Itu adalah komplek yang barusaja aku tempati. Disitulah Bapak ditugaskan, dan disitulah lembar baru dimulai. Aku ambil selembar putih kertas, dan kunomori di bagian pojok kanan bawah. SATU.

Dan disinilah aku sekarang menyempatkan diri, kesalahan yang cukup besar memang, mengingat sudah duapuluh lima -tidak sebentar- tahun aku menghabiskan waktu bersama kalian, tapi baru kali ini aku bercerita.

Sampai dimana tadi???
Ah…. rumah petak itu.
Rumah itu dek, adalah sebuah bukti cinta Bapak dan Ibu kita. Cinta yang tidak seromantis dalam novel tentu saja. Ada juga cekcok-cekcok sedikit. Bapak dan Ibu memang agak kurang pandai menyembunyikan raut muka. Aku ini kecil-kecil tapi pandailah juga, tahu benar aku kapan-kapan mereka ribut kapan-kapan mereka romantis.

Waktu itu kau belum lahir Chan! Akulah yang menghabiskan hari dengan main sepeda kecil yang dibelikan kakek dan mengitari komplek yang belum semua rumah ada orangnya. Menghabiskan hari dengan berpetualang tentu saja mengasikkan, kalau kau tanya, kecuali petualangan yang kuhabiskan sendiri dan dinikmat-nikmat sendiri.

Pulang kerumah tentulah aku diam-diam, Bapak akan muntab nantinya jika tahu aku keluyuran seperti setan, waktu sudah hampir senja. Tentulah aku sudah sholat ashar dek, tapi setelah itu aku lari lagi dan pulang ke rumah waktu hari sudah hampir menua. Itu pertaruhan yang mendebarkan. Petualangan yang mengasyikkan dibayar tunai dengan ancaman kemurkaan Bapak. Betul-betul mencekam. Kalau saja, aku tidak ingat bahwa perut Ibu kita semakin membesar semakin hari, pasti aku lebih sering main-main ke rawa ujung jalan itu, atau memasang jerat capung dari getah nangka, atau main gundu dengan rekan-rekan baru itu. Tapi perut ibu semakin membesar dan entah kenapa aku ingin pulang.

Kau lah yang mengkerut di dalam sana dek. Anggota baru keluarga kecil kami, yang sejak kau belum nongol juga sudah aku reka-reka nama yang pas untuk mu. Tapi Bapak dan Ibu tidak meng-approvenya. Sebuah bentuk arogansi orang tua, bukankah anak pertama juga sedikit banyak punya hak dalam menisbatkan nama untuk adiknya yang pertama? Begitu pikirku waktu kecil dulu. Tapi baru sekarang setelah dewasa aku menyadari kebijakan orang tua kita. Untunglah tidak dikabulkan oleh mereka dulu. Atau tidak, kau akan sedikit malas dan jengah tiap kali memperkenalkan namamu. Mengingat dulu aku usulkan Bapak dan Ibu untuk memberimu nama : BOBO.Majalah itulah yang aku gunakan, untuk memayungimu yang ada di gendongan ibu sepulang dari rumah sakit.

Pagi buta. Kenapa kau harus keluar pagi-pagi buta, dek? Ya…ya…aku tahu. Mana mungkin kau bisa memilih untuk keluar siang bolong atau semisal senja hari, iya kan? jadi dalam hal ini aku anggap saja kita impas. Aku anak pertama, dan kau lahir belakangan dengan merepotkan Ibu, Bapak, dan aku kena imbasnya juga. Pada suatu subuh di kota Bengkulu. Kota kecil yang kita tinggal di ujungnya sekali, dan sialnya jauh dari rumah sakit, dan sialnya lagi Bapak Ibu tidak punya motor apalagi mobil, dan itu saat-saat pertama kita pindah kesana, tak ada kerabat. Oke, Impaslah kita sekarang.

Jadi, saudaraku, kau lah satu-satunya dalam sejarah perikehidupan kita berempat, yang dilahirkan di Rumah Sakit. Ya…. Di rumah sakit. Aku lahir di rumah, asal kau tahu saja dek, Bayu adikmu itu, juga lahir dirumah, dan Giri si bungsu itu apalagi. Kita semua ditangani bidan dan kau harus diantar sekitar limabelas kilometer gelap-gelap menuju Rumah Sakit Bakti Husada kalau tidak salah. Sampai sekarang geli aku mengingatnya. Bukan masalah itu dek, bukan. Bukan perkara rumah sakitnya, tapi karna sewaktu kau lahir, Bapak tidak sempat meng-azani-mu, jadilah kau satu-satunya yang tidak diazani diantara kita berempat. Janganlah kau protes padaku, cobalah nanti bila mudik kau pinta saja Bapak untuk mengazanimu yang sudah besar ini, membayar hutang selama sembilan belas tahun. Hahahahaha…..

Masa-masa waktu aku menggendong kalian-kalian itu cepat sekali berlalu. Memang kalian itu merepotkan juga, aku selalu diteriaki ibu waktu aku main lompat gundu, terus aku bersungut-sungut pulang dan langsung menggendongmu yang kerjanya meracau saja, senang nian kau dan adik dua mu itu mengganggu ibu masak. Tidak tahu apa kalian? Bahwa memasak itu adalah sebuah ritual sakral buat ibu. Jangan main-main kalian mengacaunya. Sebagai anak kecil SD tentu saja aku kesal, tapi anehnya aku tidak marah. Aku ingat bagaimana aku menemukan teknik jitu dengan menutup semua korden kamar kita, lalu mengayunmu dengan ritmis sambil bernyanyi tembang jawa asal-asalan. Aku Cuma ingat nadanya waktu bapak suka menyanyikan aku dulu, lantas kukopi paste dan kuubah liriknya semau-mauku. Kau tidak protes, nyatanya kau tertidur pulas dan aku semakin lihai menurunkanmu dari gendongan tanpa membuat kau terbangun.

Mungkin begitulah Ibu melihat kita ya dek. Menghabiskan makanan yang dimasak ibu di dapur, dengan tandas, lalu secara tak karuan kita membesar dan menjejali rumah sempit dengan badan kita. Kalian cepat sekali dewasa. Aku senang tidak perlu lagi menggendong, tapi kita sering sekali bertengkar dan berebut mainan. Kapan ya terakhir kali kita bertengkar hebat? Aku lupa, yang aku paling ingat hanya kau merobek majalah Bobo-ku. Luar biasa marahnya aku, bagaimana mungkin kau robek sampul majalah yang hampir menjadi namamu itu? Lalu semakin hari semakin bisa aku menemukan celahnya. Dan aku tidak mungkin bertengkar dengan Bayu dan Giri bukan? Karna seperti kalian yang membesar dengan lincah maka aku tanpa sadar juga tumbuh dan berkembang.

Sebuah perasaan yang asing dan membanggakan mengelindap saat kalian mengakuiku dan memanggilku dengan panggilan “kakak”.

Ah…… bukan.. bukan….. kata Bapak dan Ibu kalian harus memanggilku Mas… ya …………………..Mas!.