Tembang Tidur

tembangtidur
Menjadi yang pertama, sungguh bukan pilihanku. Ada hal-hal yang dalam kehidupan ini kita tidak bisa memilih. Jadi kepada ketiga adikku, dalam tiap-tiap kesempatan, aku gumamkan sendiri di dalam batin, bahwa tidak pernah aku -di dalam rahim sana misalnya- “mengojok-ojok Tuhan supaya memperkenankan aku lebih dulu hadir ke dunia ini. Biar nantinya kalian-kalian cukuplah jadi yang nomor dua, atau tiga dan empat. Tidak, dek

Tinggal di rumah petak, menyisakan sebuah coretan nostalgi yang cukup membekas juga. Waktu itu aku masih kecil, belum lagi aku mulai masuk sekolah SD. Perasaan waktu itu banyak nian nyamuk dan serangga-serangga, sekeliling rumah bukan main ilalangnya itu tumbuh lebat, acak, dan keras kepala. Itu adalah komplek yang barusaja aku tempati. Disitulah Bapak ditugaskan, dan disitulah lembar baru dimulai. Aku ambil selembar putih kertas, dan kunomori di bagian pojok kanan bawah. SATU.

Dan disinilah aku sekarang menyempatkan diri, kesalahan yang cukup besar memang, mengingat sudah duapuluh lima -tidak sebentar- tahun aku menghabiskan waktu bersama kalian, tapi baru kali ini aku bercerita.

Sampai dimana tadi???
Ah…. rumah petak itu.
Rumah itu dek, adalah sebuah bukti cinta Bapak dan Ibu kita. Cinta yang tidak seromantis dalam novel tentu saja. Ada juga cekcok-cekcok sedikit. Bapak dan Ibu memang agak kurang pandai menyembunyikan raut muka. Aku ini kecil-kecil tapi pandailah juga, tahu benar aku kapan-kapan mereka ribut kapan-kapan mereka romantis.

Waktu itu kau belum lahir Chan! Akulah yang menghabiskan hari dengan main sepeda kecil yang dibelikan kakek dan mengitari komplek yang belum semua rumah ada orangnya. Menghabiskan hari dengan berpetualang tentu saja mengasikkan, kalau kau tanya, kecuali petualangan yang kuhabiskan sendiri dan dinikmat-nikmat sendiri.

Pulang kerumah tentulah aku diam-diam, Bapak akan muntab nantinya jika tahu aku keluyuran seperti setan, waktu sudah hampir senja. Tentulah aku sudah sholat ashar dek, tapi setelah itu aku lari lagi dan pulang ke rumah waktu hari sudah hampir menua. Itu pertaruhan yang mendebarkan. Petualangan yang mengasyikkan dibayar tunai dengan ancaman kemurkaan Bapak. Betul-betul mencekam. Kalau saja, aku tidak ingat bahwa perut Ibu kita semakin membesar semakin hari, pasti aku lebih sering main-main ke rawa ujung jalan itu, atau memasang jerat capung dari getah nangka, atau main gundu dengan rekan-rekan baru itu. Tapi perut ibu semakin membesar dan entah kenapa aku ingin pulang.

Kau lah yang mengkerut di dalam sana dek. Anggota baru keluarga kecil kami, yang sejak kau belum nongol juga sudah aku reka-reka nama yang pas untuk mu. Tapi Bapak dan Ibu tidak meng-approvenya. Sebuah bentuk arogansi orang tua, bukankah anak pertama juga sedikit banyak punya hak dalam menisbatkan nama untuk adiknya yang pertama? Begitu pikirku waktu kecil dulu. Tapi baru sekarang setelah dewasa aku menyadari kebijakan orang tua kita. Untunglah tidak dikabulkan oleh mereka dulu. Atau tidak, kau akan sedikit malas dan jengah tiap kali memperkenalkan namamu. Mengingat dulu aku usulkan Bapak dan Ibu untuk memberimu nama : BOBO.Majalah itulah yang aku gunakan, untuk memayungimu yang ada di gendongan ibu sepulang dari rumah sakit.

Pagi buta. Kenapa kau harus keluar pagi-pagi buta, dek? Ya…ya…aku tahu. Mana mungkin kau bisa memilih untuk keluar siang bolong atau semisal senja hari, iya kan? jadi dalam hal ini aku anggap saja kita impas. Aku anak pertama, dan kau lahir belakangan dengan merepotkan Ibu, Bapak, dan aku kena imbasnya juga. Pada suatu subuh di kota Bengkulu. Kota kecil yang kita tinggal di ujungnya sekali, dan sialnya jauh dari rumah sakit, dan sialnya lagi Bapak Ibu tidak punya motor apalagi mobil, dan itu saat-saat pertama kita pindah kesana, tak ada kerabat. Oke, Impaslah kita sekarang.

Jadi, saudaraku, kau lah satu-satunya dalam sejarah perikehidupan kita berempat, yang dilahirkan di Rumah Sakit. Ya…. Di rumah sakit. Aku lahir di rumah, asal kau tahu saja dek, Bayu adikmu itu, juga lahir dirumah, dan Giri si bungsu itu apalagi. Kita semua ditangani bidan dan kau harus diantar sekitar limabelas kilometer gelap-gelap menuju Rumah Sakit Bakti Husada kalau tidak salah. Sampai sekarang geli aku mengingatnya. Bukan masalah itu dek, bukan. Bukan perkara rumah sakitnya, tapi karna sewaktu kau lahir, Bapak tidak sempat meng-azani-mu, jadilah kau satu-satunya yang tidak diazani diantara kita berempat. Janganlah kau protes padaku, cobalah nanti bila mudik kau pinta saja Bapak untuk mengazanimu yang sudah besar ini, membayar hutang selama sembilan belas tahun. Hahahahaha…..

Masa-masa waktu aku menggendong kalian-kalian itu cepat sekali berlalu. Memang kalian itu merepotkan juga, aku selalu diteriaki ibu waktu aku main lompat gundu, terus aku bersungut-sungut pulang dan langsung menggendongmu yang kerjanya meracau saja, senang nian kau dan adik dua mu itu mengganggu ibu masak. Tidak tahu apa kalian? Bahwa memasak itu adalah sebuah ritual sakral buat ibu. Jangan main-main kalian mengacaunya. Sebagai anak kecil SD tentu saja aku kesal, tapi anehnya aku tidak marah. Aku ingat bagaimana aku menemukan teknik jitu dengan menutup semua korden kamar kita, lalu mengayunmu dengan ritmis sambil bernyanyi tembang jawa asal-asalan. Aku Cuma ingat nadanya waktu bapak suka menyanyikan aku dulu, lantas kukopi paste dan kuubah liriknya semau-mauku. Kau tidak protes, nyatanya kau tertidur pulas dan aku semakin lihai menurunkanmu dari gendongan tanpa membuat kau terbangun.

Mungkin begitulah Ibu melihat kita ya dek. Menghabiskan makanan yang dimasak ibu di dapur, dengan tandas, lalu secara tak karuan kita membesar dan menjejali rumah sempit dengan badan kita. Kalian cepat sekali dewasa. Aku senang tidak perlu lagi menggendong, tapi kita sering sekali bertengkar dan berebut mainan. Kapan ya terakhir kali kita bertengkar hebat? Aku lupa, yang aku paling ingat hanya kau merobek majalah Bobo-ku. Luar biasa marahnya aku, bagaimana mungkin kau robek sampul majalah yang hampir menjadi namamu itu? Lalu semakin hari semakin bisa aku menemukan celahnya. Dan aku tidak mungkin bertengkar dengan Bayu dan Giri bukan? Karna seperti kalian yang membesar dengan lincah maka aku tanpa sadar juga tumbuh dan berkembang.

Sebuah perasaan yang asing dan membanggakan mengelindap saat kalian mengakuiku dan memanggilku dengan panggilan “kakak”.

Ah…… bukan.. bukan….. kata Bapak dan Ibu kalian harus memanggilku Mas… ya …………………..Mas!.

2 thoughts on “Tembang Tidur

  1. Bengkulu, seperti sebuah kota yg selalu terlintas dibenakku karna seorang gadis manis. si penulis adalah anak pertama dgn suka dukanya jd anak pertama. tinggal di kompleks yg masih sepi, penuh ilalang. Pengalaman terutama tentang adik pertamanya mengenai kelahirannya yg berbeda dr sodara yg lainnya dan tidak diazani saat kelahirannya.
    suatu ksh yg mnarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s