Dini hari tepat di jam tiga

jam tiga

Tepat jam tiga pagi aku terbangun. Udara di sini memang keras. Panas menelusup sampai ke balik pintu, ke bawah karpet, sela-sela lemari dan sudut-sudut ruang kecil ini.

Aku beranjak duduk. Dengan pelan aku mendongak kesamping kiri kanan, ruang sempit putih ini penuh dengan barang-barang. Kardus-kardus berjejal abstrak. Motor dibalik pintu. Tas besar hitam di sudut sebelah kanan belakangku. Sajadah hijau tergolek saja di atas tumpukan plastik. Memang kami baru saja pindah.

Mataku masih memicing sebelah. Inilah yang umum benar dialami kita, setiap bangun tidur harus dikrenyitkan sebentar kening kita lalu mengingat-ingat, kapan mulanya kita berbaring disini? dan mengumpulkan sebentar memori yang lepas-lepas. Lalu kulihat tertidur pulas di sampingku seorang perempuan. Keringat di dahinya berjejer rapih, sebentar lagi menunggu momen untuk berlomba mengalir dan menghampiri karpet orange alas tidurnya dengan tidak bersuara. Kuseka keringat yang membulir di keningnya, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

****

Ternyata aku sudah menikah sekarang. Sudah kuceritakankah padamu tentang hal itu?

Jadi…………… aku mohon maaf yang dalam, untuk kadang-kadang melewatkan satu dua cerita. Sungguh bukan maksud hati ini untuk tidak jujur, bukan pula lancang menganggap kalian-kalian ini tidak cukup dekat di hatiku sampai aku rahasiakan potongan hidupku sebagian dan aku ceritakan saja sebagian lainnya. Tidak.

Cobalah hitung-hitung, baru belasan hari aku berganti status. Apa yang bisa aku ceritakan dari hari yang belum genap menjadi bulan?

Itulah mengapa kadang-kadang aku ingin benar duduk selonjoran saja di pinggir pantai, sambil berbincang-bincang dengan kalian. Lalu mereka-reka kata-kata apa yang cocok jadi pembuka? dari potongan episode yang mana baiknya aku tuturkan? dan dengan intonasi bagaimana baiknya aku mulai menembangkan ceritra itu? Sementara nanti mungkin kalian akan sibuk menikmati angin yang memutar-mutar dedaun jarum pohon-pohon pinus, atau masih sibuk melihat nelayan yang menarik jaring lalu melemparnya lagi, aku bisa tenang sedikit. Karna agak lama aku dalam merangkai kata, untunglah kalian tidak sibuk memburu-buru aku sepertinya.

Begini rupanya menjadi ksatria, rekan-rekan. Menahan haru biru yang menggeletar di dada agar tidak muncrat jadi air mata, waktu orang tua yang kini Bapakku dan Bapaknya, Ibuku dan Ibunya berpesan “baik-baiklah kalian disana”. Mengangkat sebuntelan besar tas penuh barang-barang lalu malam-malam kami menunggu bus di depan bandara, “naiklah duluan dek” kataku sambil menjejalkan timbunan tas ke bagasi, rasanya bukan main.

Begini rupanya menjadi ksatria. Menikmati ekstase kebanggaan menitipkan sejumlah rupiah untuk bekal makan satu bulan kepada istri. Memboncengnya panas-panas siang hari, lalu mengemudi hilir mudik masuk ke gang-gang kecil, bertanya sana sini, lalu sebentar berhenti di depan tulisan “ada kontrakan”, lalu bertanya sambil menoleh sedikit ke belakang “yang ini suka ga dek?”

Begini rupanya menjadi ksatria. Memotong kabel rol listrik limabelas meter, lalu menyambungnya dengan lampu neon dan menggantungnya di atas pelapon kamar mandi yang lampunya dari tadi siang itu malas menyala. Terus aku tersenyum dengan ekspresi paling salah tingkah, bisa juga aku jadi tukang listrik?

Beginilah menjadi ksatria, menggosok lantai kamar mandi dengan sikat yang meleot-leot. Wah… harusnya tadi pagi kita beli sikat WC yang mahalan sedikit tak apa, aku membatin sambil tetap menggosok lantai, menuangkan sesekali pembersih porselen cair wangi itu, sambil dengan cekatan tak karuan menghajar kecoa yang lewat lalu lalang.

Begini rupanya menjadi ksatria. Waktu peluh berjejal-jejal keluar dan lengket di kaos oblong coklatku itu, aku melihatnya mencuci piring-piring. Melihatnya memotong kacang panjang. Melihatnya menyilangkan tangan di depan mukanya waktu minyak goreng meletup-letup di kuali. Melihatnya bolak-balik mengepel dapur belakang, kamar tidur, ruang tamu, lalu teras. Melihatnya menyetrika kemeja hitam lengan panjang punyaku. Lalu melihatnya tertidur berkeringat di ruang tamu sempit disesaki dispenser, rice cooker, tas besar hitam, tas besar coklat, dan kipas angin miyako.

Begini rupanya menjadi ksatria, waktu aku terbangun dini hari tepat di jam tiga, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

Iklan

5 thoughts on “Dini hari tepat di jam tiga

  1. selamat rio…
    barakallahu.. senang mendengarnya..
    semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah..
    langgeng hingga di syurga kelak..
    ammiin..

  2. Barokalloh Kang,,,
    Salam buat Tetehnya ya,,,
    Semoga Tetehnya selalu dilimpahkan kesabaran,,
    hehehehe….
    maen ke Nangor donk, bawa tetehnya,, 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s