IBLIS TENGU

sesosok iblis bernama tengu muncul dalam mitologi jepang. Bermata merah menakutkan, rambut keemasan, badan tegap tinggi besar dan berhidung panjang.

Ingatan tentang tengu muncul tiba2 siang tadi. Setelah makan kusempatkan membuka email dan membaca surat dari kawan2. Seorang teman menyinggungnya dan jariku jadi gatal untuk menuliskannya kembali.

Meski baru seumuran jagung usia kerjaku di dunia oilfield, bisalah sedikit aku membuat kesimpulan, bahwa rata2 orang indonesia ini terlalu menganggap bule itu manusia superior. Superhuman yg dalam banyak aspek pastilah lebih unggul dibanding kita.

Aku termasuk yang berfikiran sedikit primitif begitu. Jadi jangan dulu berburuk sangka bahwa aku ini menceritakan jelek2nya orang lain, tidak, ini ceritaku sendiri.

Awalnya dari waktu wawancara kerja dulu. Aku diinterview oleh seorang bule dan seorang lagi pribumi asli. Entah kenapa, rasanya jantung ini sedikit berdegup lebih parah saat si bule melontar pertanyaan. Betapapun pewawancara yang pribumi itu lebih menusuk pertanyaannya.

Tentu saja keterbatasan bahasa jadi soal. Bahsa inggrisku masuk dalam kategori dibawah garis kemiskinan, itu memang salah satu faktor, tapi rasa2nya ada yang lebih dari sekedar itu.

Buktinya adalah, secara pelan2, penghalang besar berupa bahasa itu bisa aku atasi. Benarlah kata orang tua2 dulu kalau lancar kaji karna diulang. Sedikit2 aku bisa bercakap lancar dengan mereka, tapi dalam mindsetku susah sekali dihilangkan anggapan bahwa bule itu pastilah lebih pintar dan lebih segala-gala.

Padahal, dalam teori psikologi, bagaimana otak kita berfikir akan mempengaruhi bagaimana kita bersikap.

Setiap berbicara dengan bule maka tidak berani beradu pandang dalam2. Takut2 menjawab, mana tahu sang bule lebih paham. Setiap ada bule maka berlagak konsentrasi dan kerja keras. Dan setambun perilaku tolol lainnya.

Lha…..iblis tengu dimananya?

Setelah diteliti. Dalam mitologi jepang tadi, iblis tengu merupakan penggambaran ketakutan orang2 jepang akan orang2 eropa yang terdampar di perairan mereka waktu dulu.

Bahkan jepang, rekan2. Bangsa yg secara kasar saja kita pukul rata memiliki etos kerja yang jauh diatas kita, kebudayaan yang jauh lebih maju, dan rasanya berlipat-lipat lebih pintar masih juga susah menghilangkan paradigma itu. Bule sama dengan tengu. Iblis besar bermata merah atau biru, hidung panjang menyeramkan. Ketakutan dan inferioritas mereka menjelma mitos.

Itu jepang, apalagi kita. Mungkin ini penyakit bangsa asia yang mewabah. Dan dalam keseharian kita, banyak hal yang tidak perlu kita takuti tapi kita hantu seramkan sendiri dia dalam benak kita.

Paragrafku sebelumnya yang memukul rata bahwa jepang mungkin jauh lebih pintar dibanding kita, juga satu bentuk men-tengu-kan mereka. Jadi mungkin dalam hidup ini kita banyak memunculkan iblis tengu kita sendiri.

Seperti di suatu siang yg panas. Aku sedang duduk di kelas bisnis maskapai penerbangan paling yahud di negri ini. Pulang kerja dari pulau minyak kalimantan, menuju jakarta. Duduk di sampingku seorang bule darah inggris kalau tidak salah. Kami berbincang banyak. Syukurlah, dengan perjuangan mati2an aku bisa sedikit memapas kekerdilan jiwaku dulu, dan dengan lebih ringan sekarang bisa menganggap setiap yang kujumpai itu sama. Menilai mereka semanusianya manusia. Persetan warna kulit atau pupil mata.

Lama kami ngobrol ngalor ngidul. Dia orang yang baik. Friendly. Banyak bercerita. Sampai tiba saatnya makan siang sang pramugari menawarkan dua pilihan menu. Nasi dan daging ayam lalu kentang dan sapi.

Dari depan semua ditawarkan untuk memilih. Ada yg memilih nasi dan ayam, ada yang kentang dan sapi. Terserah.

Sampai di bangku terakhir, tempat kami berdua itu, malangnya hanya tinggal dua porsi menu makan siang. Siapapun yang memilih, maka yang kemudian tidak akan lagi punya pilihan.

Dengan ramah pramugrari tersenyum kepada bule tadi dan dengan baik menawarkan “which one do u prefer sir? Beef or chicken?”

Sang bule menjawab “beef”.
Maka diletakkanlah nampan beef di meja bule tadi.

Lalu dengan agak kurang beretika menurutku, sambil lalu sang pramugari mengatakan kepadaku “bapak yang ini aja ya” sambil meletakkan plate nasi ayam di mejaku.

Bule tadi tahu ada yg salah, dia merasa tak enak hati. Dengan rendah hati dia menawarkan padaku “if u want beef, it’s ok rio, u can take mine”.

Aku menggeleng, “no thanks” kujawab. Sebenarnya aku omnivora. Cobalah cek di buku biologi, manusia itu omnivora, aku tidak pula terlalu soal lauk ayam atau sapi. Tapi berasa ada yg menggelitik batinku.

Mungkin……bagi pramugari maskapai penerbangan terbesar di negri ini tadi, bule ini adalah sesosok tengu, manusia superior yang pastilah dalam segala-gala lebih daripada kita.
Entah kenapa aku tiba2 kasihan padanya.

Lalu aku meneruskan makan saja. Sambil dalam hati berjanji. Suatu nanti kutulis ini. Sambil mengajak siapa saja untuk menganggap manusia sebagai manusia. Untuk berdoa dan berlindung dari jiwa kerdil kita sendiri. Mana tahu dalam hidup ini banyak hal yang biasa, tapi kita hantuseramkan sendiri.

Ada iblis tengu-kah di sekitarmu? Ah…..itu khayalanmu saja.

Iklan

jam jam JAAAAM

jamJam tanganku merknya abal-abal. Kalau tidak salah sudah kupakai sekitar 1 tahun. Sekarang sudah kotor tak karuan, talinya hampir putus tapi masih nyantol sedikit. Prinsipku adalah, semakin lama suatu barang dipakai, semakin enak dibadan.

Ini, jam tangan ini, rasanya sudah seperti ada ikatan batinnya denganku, jadi meskipun jam ini sekarang kalau aku pencet tombol lampunya nanti jam ini tiba2 error dan reset waktunya jadi 00:00, aku tetap setia dengan jam ini. Sudah enak di tangan.

Harga jam ini? Pasti kalian bertanya begitu. Kurang dari seratus ribu rupiah sahaja. Murah meriah. Padahal bagi sekalian orang2, mungkin jam segitu harganya terlampau murah untuk sebuah jam yang dipakai gaya2-an.

Duluuuu sekali, waktu aku sedang asyik2-nya bekerja di rig pemboran di laut sana, waktu di galley(kantin)-nya, kami tiba2 ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana menyinggung-nyinggung jam.

Jam itu, kata temanku, yang pantas dipakai mejeng adalah paling tidak yang harganya limaratus ribu, dengan merk semisal G-SHOCK yang aseli. Lalu mereka mengadakan semacam uji komparasi antar jam. Jam seharga limaratusan ribu itu, menurut teori rekan2 adalah jam yg apabila anda celupkan kedalam air, atau semisal terkena hujan, atau semisal lagi terkena ac ruangan, tidak akan muncul embun di bagian kacanya. Tentulah rekan2 yg familiar dgn jam akan tahu, bahwa meskipun jam itu dikata orang “water proof” tapi tetap saja kadang2 kalau kena hujan kaca dalamnya berembun. Itu keunggulan pertama dari jam limaratus ribuan. Keunggulan kedua adalah jam limaratus ribuan memiliki banyak fitur: fitur stopwatch, fitur alarm anti alien, fitur penghitung kalori yang terbakar kalau kita jogging, fitur gps, fitur anti maling dan macam2 lagi.

Aku terbengong pucat. Lalu pelan2 menarik tangan kiriku dari piring makan dan kusembunyikan dibawah meja, lalu aku makan saja dengan sendok tanpa garpu. Lalu lagi ada yg bertanya “jam berapa ya, sekarang?” aku diam. Pssssttt……tak usah bilang2 kalau aku punya jam tangan!

Sekarang ini, kawan2 yg baik, yg sedang aku lakukan adalah memlototi jam tanganku yg tua ini, dan mengira2, tahu tidak ya orang2 bahwa jam tangan ini adalah jam emperan? Kasihan benar jam ini, aku jadi iba. Waktu aku beli, jam ini dulu tidak ada kotaknya. Beli, langsung pakai. Amat praktis dan efisien sekali. Sudah pula aku ikut mengurangi limbah plastik dengan membeli jam tanpa kotak, superrrr sekali.

Kembali ke masalah jam tadi, aku pikir tidak ada yang salah dengan kinerja jam kurang dari sratus ribu, bahkan jam puluhan ribu. Karna dr segi fungsi, yg aku butuhkan cuma penunjuk waktu sekarang jam berapa, dan skali2 stopwatch. Kalau alarm aku pikir tidak perlu lah ya, aku agak susah bangun dgn alarm kecil dari jam tangan.

Berfungsi baik2 saja, tidak banyak menuntut dan enak dipakai, itulah jam abal2 punyaku. Tentu saja jika kalian beli di emperan tidak dapat kotaknya.

Begitulah semua dulu berjalan teramat bersahaja sampai pada waktu hampir setiap kali makan di galley rekan2 satu pekerjaanku selalu sibuk membincangkan jam jam jam JAAAAAAAM.

Maka aku mulai terdistorsi. Kegunaan jam sebagai penunjuk waktu sudah agak bias di benakku. Kadang2 aku menyembunyikan jam tangan setiapkali makan di kantin, khawatir ketahuan kalau diperhatikan rekan2. Astagaaaaa, bukan jam G-SHOCK (di benakku tentu saja).

Dan itulah bodohnya aku, padahal peduli apa mereka dengan jam kita??

Tapi itu masih mendingan. Kalau diingat dulu waktu kecil, aku setengah mati mengidamkan jam tangan digital, dan ibuku membelikan sebuah jam tangan digital yang sangat bagus. Ada lampunya, penunjuk waktu (pastinya), ada stopwatch, alarm, kalender, pilihan bunyi alarm-nya ada 4 tipe, bukan main…….. Tapi setiba di sekolah aku harus menahan malu dan menyembunyikan jam di saku celana, pasalnya setiap bertemu orang mereka dengan kurang ajar berkata “wah….hadiah beli klise film ya rio?”.

Ibuku tidak peka merk, dan jam tanganku pas sd dulu merknya “fujifilm” kata ibu itu merk terkenal. Alamaaaaak.

Ah……….
Sampai sekarang aku tidak pernah punya jam tangan mahal. Dan sampai sekarang baru aku sadar, tololnya aku ini, padahal kan setiap kali orang tanya aku bisa jawab sekarang jam berapa, setiap lari pas olahraga di sekolah aku bisa pakai stopwatch, semua sudah terpenuhi. Dan jam itu sudah berjasa ratusan kali, ribuan mungkin. Ndak terhitung brapa kali kulirik-lirik jam itu, sampai jam itu putus talinya, sampai batrenya soak. Tapi toh aku tidak juga bahagia.

Mungkin, nanti aku akan bahagia kalau sudah punya jam tangan empatpuluh juta rupiah dibayar tunai. Jam tangan itu nanti haruslah pula penuh dgn fitur yg tak bisa aku rinci satu2 disini. Dan haruslah nanti kalau kupakai -dgn suatu cara entah bagaimana- merknya slalu kelihatan. Taruhlah G-SHOCK LIMITED EDITION. Lalu nanti haruslah pula orang2 yg melihatnya itu punya sedikit pengetahuan mengenai dunia perjaman, hingga paham mereka itu bahwa tanganku sekarang sedang dalam kondisi paling fit karna dibalut “yang dipertuan agung JAM”. Akan lebih bagus lagi bila setiap kupakai itu jam aku bertemu dengan penggila jam swiss, nanti mereka geleng2 kepala.

Tapi sekarang cukuplah dulu jam tangan biasa ini, mumpung batrenya masih nyala, talinya masih kuat juga.

Eh…ngomong2 jam brapa sekarang?

MEMBACA BINTANG

rig
Sekitar satu jam perjalanan dari jakarta. Pesawat memang terbang dengan kecepatan mengagumkan. Sebentar saja aku sudah tiba di bandara sultan mahmud badaruddin dua. Bandara palembang. Dari sini nanti delapan jam lagi perjalanan harus dinikmati. Mengikuti kelok-kelok jalanan yang sudah seperti meander saja. Terguncang-guncang di kerikil berdebu. Berhenti sebentar di pinggir jalan tempat banyak pedagang duren yang murah2, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelah perut kekenyangan.

Aku hampir muntah setelah sampai batasnya. Tubuhku ternyata kuat menahan guncangan sekitar tujuh jam saja. Setelah tujuh jam yang mendebarkan maka sedikit saja tremor akan memicu isi perutku melonjak keluar.

Sudah dua tahun lebih berapa bulan aku bekerja disini. Dunia pemboran minyak. Pekerjaan dengan pola yang tidak umum, mengingat kita harus -tanpa banyak tawar- meloncat-loncat mengikuti sebaran hidrokarbon. Yang namanya minyak bumi itu semau-maunya dia saja. Hampir tidak pernah ada pemboran di tengah kota atau dekat mall, selalu saja di tengah gurun, di tengah laut, atau di belantara lebat terasing. Dan aku sekarang menuju kesana…..perjalanan masih panjang, dan aku terduduk mengenaskan di bangku belakang.

Meskipun kepala terasa benar2 berdenyut, dan mata sudah kunang2 gelap kalau dipaksakan melihat, tapi aku tetap menyempatkan diri untuk menulis sebaris cerita buatmu. Itulah sahabat sejati, ya begini ini. Kalau bukan kubagikan kepada kalian, kan kepada siapa lagi? Jadi aku sambil berbaring-baring saja tak apalah, ya? Yang penting pelan2 tetap aku ceritakan.

***

Mulanya memang pada saat awal2 kuliah dulu itu. Kita semua hidup dengan tujuan2, kan? Entah itu panjang kedepan, atau berapa depa saja, tapi tetap ada kita punya tujuan. Sebelum lulus kuliah itu, tujuanku cuma dua. Yang pertama adalah lulus segera, yang kedua adalah kerja segera.

Aku sekarang sudah lulus kuliah, rupanya. Seperti sebuah mu’jizat. Bagiku banyak hal dlm hidup ini, hal2 yang berhasil aku lalui itu, sebenarnya kemurahan Tuhan saja. Seperti bisa-bisanya aku masuk universitas negri wakstu SPMB dulu, atau semisal bisa juga ternyata aku lulus cepat dgn penelitian yang porak poranda dan pembimbing yang brutal?? Sudah pasti bukan kepandaianku memang, tapi itulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan, yang jelas singkat kata aku lulus.

Setelah lulus, ini seperti mu’jizat lagi. aku langsung diterima bekerja. Nantilah dulu kita debatkan mengenai apakah sebaiknya membangun usaha sendiri ataukah kerja dan menjadi anak buah orang lain? Yang jelas aku berhasil mencapai tujuanku tadi. Yang aku ceritakan ke kalian2 di atas tadi. Benarlah sudah: aku lulus, aku bekerja.

Sampai disini aku mengalami semacam perasaan gembira yang akut, muncul tiba2 dan dengan dosis yg tak bisa ditoleransi. Aku mengalami semacam euphoria, rekan-rekan yang budiman.

Dari situlah aku mulai hidup dalam ritme pekerjaan yang tidak umum ini. Pekerjaan terjadwal empat belas hari kerja dan empat belas hari libur. Pergi ke banyak tempat. Terapung di tengah laut, di pinggir delta, di tengah hutan dan menyeberang benua.

Tapi seperti kebanyakan manusia yang gamang, aku menjadi hilang arah. Entah apa tujuanku waktu itu. Rutinitas yang aku tidak tahu gerbang destinasinya dimana.

Bagiku waktu itu, kerja adalah semacam barter, menukar sekitar seliter dua liter keringat kita dengan sejumlah uang yang nanti tertulis di saldo tabungan mandiri. Sudah, sebatas itu saja, tidak ada itu semisal makna luhur dibalik banting tulangnya aku itu.

Kerja gajian kerja gajian kerja gajian. Sudah. Hidupku terlalu pragmatis. Perputaran logikanya sebatas perut saja.

Aku muak. Suntuk aku dengan rutinitas yang terlalu klise. Samaaaaaa persis setiap harinya, minggunya, bulannya. Lalu kuputuskan aku harus pulang. Pulang dulu ke kampung halaman barang satu dua minggu untuk mereset lagi otak dan batin, bahwa selain kerja dan menghitung hari, masih banyak lagi hal-hal lain yang bernilai dalam hidup ini.

Dan di suatu malam hening yang biasa. Aku, bapakku, dan ibuku duduk di teras luar rumah. Hari hujan setengah2. Lalu ada bunyi entah jangkrik entah kodok. Aku rindu suasana seperti begitu, waktu2 dimana kita merasakan begitu banyak karunia tumpah ruah. Ada teh hangat di meja kecil samping bangku tempatku duduk. Ada laron terbang memutar pelan di atas pelapon yang ada lampu neon sebelas watt-nya itu. Ada jaket yang kutarik ujung2nya karna resluitingnya sudah tidak lagi fungsi. Semua tiba2 menjadi indah, dan sebentar kemudian Bapak memecah keheningan dengan melontar “kamu kapan mau menikah, mas??”

Blaaaaarrr……. Kilat menyambar di kejauhan, lalu sekitar berapa detik kemudian baru bunyinya sampai. Begitulah juga aku. Sibuk berkelana kemana-mana fikiranku, lalu bibir bapak terlihat seperti gerak lambat. “ngomong apa ya bapak tadi?” fikirku…….dan masih juga semua terputar lambat sampai jeda berapa detik hingga otak sederhanaku ini akhirnya bisa memprosesnya.

Luar biasa. Begitulah orangtua. Bisa menilai tanpa perlu banyak kata. Mungkin seperti yang orang bijak fatwakan “wahai para orang tua, jika anak kalian jatuh cinta, maka nikahkanlah!! Atau mereka akan jadi penyair”. Dan bapakku mungkin saja menangkap gelagat itu. Waktu2 semua obrolanku jadi terasa lebih filosofis, atau setiap patah kata yang jumpalitan dari mulutku tiba2 terasa seperti syair pujangga melayu. Ini alamat yang sudah terlalu nyata.

Ini, coba kalian lihat jari tanganku, kuku jariku ini, sepuluh-sepuluhnya masih berwarna orange aneh. Inai…pacar…kalian tahu kan itu? Begitulah pengantin baru di sumatra sana diperlakukan, dibubuhi tanda di kuku jarinya, mungkin biar setiap kali kau mengetik di laptopmu maka inspirasi yang akan muncul adalah seputar dirimu dan pernikahanmu karna warna orange menari-nari terus diatas tuts keyboard.

Aaah…..itulah ya, ternyata baru sadar bahwa aku sudah berusia, tubuh kita menua dengan cepat, tapi kedewasaanku seperti tumbuh dengan lamban. Setelah sempat seperti kapal yang berlayar tanpa panduan arah, sekarang mungkin sudah saatnya aku membaca lagi bintang2.

Aku jadi ingin tergelak sendiri, padahal dulu semenjak baru saja aku tamat SMA dan memutuskan untuk bimbel di jogja, akulah yang paling getol dengan visi menikah. Kuambil sebuah kotak kardus kecil, dan kuberi label “sumbangan amal untuk pernikahan” kubolongi bagian atasnya dan komplitlah sudah kotak itu menjadi semacam tabungan. Rekan satu kontrakan semua tergelak berguling-guling.

Masa2 yg luar biasa. Setiap hari aku dan rekan2 menyusuri selokan mataram yang membelah jogja. Duduk2 di pematang sawah yang hijaunya masih hijau muda. Lebih memilih berjalan dibawah terik sengat mentari jogja siang2 ketimbang naik bus, demi menghemat receh dan mencemplungkannya kedalam kotak yang tadi kubuat. Setiap hari belajar sampai larut malam nian.

Letih….tapi tak pernah rasanya aku seriang itu. Rencana2 memacu hidupku berderap cepat dan energik. Lulus SPMB, dan menikah sambil kuliah, itulah target yang kutulis besar2 di buku agenda.

Meskipun pada akhirnya gagal aku masuk universitas tertua di indonesia itu, kampus terbesar di jogja itu, tapi Tuhan kirimkan aku belajar di tempat yang lain lagi. Cerita yang lain lagi. Dan tentu saja tidak mungkin aku menikah sambil kuliah, karna satu dan lain hal, maka takdir sekali lagi berjalan dengan seni yang paling rapih. Tak bisa ditiru dalam rencana-rencana kita ini.

***

Kita harus punya tujuan kan, kawan? Entah itu untuk berapa masa kedepan sana, atau tujuan yang dekat2 saja. Tapi aku sempatlah juga berasa seperti orang yang telat kuliah, aku termasuk yang gelagapan lalu kasak-kusuk tanya bangku kiri kanan.

Masih banyak yang harus aku pelajari dan catat. Entah bagian yang mana baiknya aku potong2 dan ceritakan ke kalian. Tapi sebentar lagi aku sepertinya sampai di lokasi pemboran. Warna hijau pohon2 akasia dari tadi sudah seperti receptionist hotel. Berbaris rapi dan tersenyum sangat formil. Pasti sudah sampai, firasatku mengatakan begitu.

Mobil ranger memutar di jalan berdebu yang barusaja digiling-giling buldozer. Aku turun sempoyongan memanggul tas ransel besar. Biasanya yang akan aku lakukan adalah langsung menuju kamar dan membulati kalender. Ini hari pertama, masih berapa hari lagi aku disini. Tapi bagiku sekarang ini seperti mu’jizat. Kerja bagiku kini agak lebih dari sekedar barter keringat. Aku senang dengan sensasi waktu merasa begitu banyak karunia jatuh berkeping-keping dari langit. Lalu aku tertawa pelan karna sukses juga aku menahan muntah dari tadi. Lalu kutarik nafas menikmati hawa segar udara hutan dan asap mesin diesel yang bercampur. Lalu melihat orang mengangkat pipa2 besi, melihat mesin2 besar bergemuruh dan jalan berguncang-guncang, menara pemboran tinggi menjulang menutupi bulan sabit yang redup dibalik awan yang diseret-seret angin. Aku tersenyum dengan lengkungan paling simetris, karna aku tahu sekarang sudah ada yang menungguku dirumah kontrakan kecil jakarta timur sana. Bekerja sekarang sudah sedikit punya arti.

Begitulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan.

Sudah dulu ya, kupanggul dulu tas besar ini ke kamar. Kepalaku masih sedikit pusing, maka tolong maafkan ceritaku yang berputar-putar.

SIMPANG

persimpangan

 

Di persimpangan. Tiba-tiba aku terbangun. Begitulah keberuntungan bekerja. Datang dengan cara tak diduga, tiba diwaktu tak diduga.

Aku tertidur, tadi itu. Baru saja aku pulang dari bandara. Mengantar istriku ke kampung halaman mengurus satu dua hal. Bus damri yang ber AC itu dengan pandai menyanyikan sebuah serenade pengantar tidur. Aku luluh dengan rayuannya dan terbaring pulas sampai perempatan tadi.

Tersentak Aku bangun. Baru tadi itu aku mengalami berapa macam sensasi berurutan: bangun tidur, kaget, berdiri panik, lalu lari sekencang-kencangnya.

Dan sore yang hiruk pikuk itu memainkan peranannya dengan sangat baik. Belum lagi aku tiba dirumah tapi rasanya sudah ada yang kosong.

Kalian salah, jika mengira kutulis ini setiba aku di rumah dan menyalakan laptop di ruang tamu. Tidak. Kutulis ini dalam benakku sepanjang menyusur jalan pinang ranti tadi.

Motor-motor berjalan pelan. Azan maghrib merambat di udara. Dan langkahku cepat-cepat patah-patah, seperti modus stakato nyanyian mars pejuang-pejuang itu. Dengan situasi macam itu, tak bisalah aku melawan niatan menulis yang mendesak-desak.

Lalu kuturuti saja. Tiba-tiba aku serasa ingin mengajakmu menghitung-hitung. Berapa banyak persimpangan sudah kita lewati dari mula kita lahir dulu? Setiap fase hidup memberikan persimpangannya sendiri-sendiri.

Kita besar dan meninggi dengan beringas. Terus meronta-ronta melawan petuah Bapak Ibu kita. Kita melanglang ke tempat-tempat yang jauh. Lalu berlabuh di rumah kecil yang seorang perempuan kita pasrahkan memegang kunci pintunya. Lalu untuk berapa fase kemudian kita menunggu lahirnya bayi mungil, lalu kita pula yang giliran berperan jadi Bapak-bapak penuh nasehat atau ibu-ibu cerewet nantinya. Lalu kita menunggu ajal saja sesudahnya.

Setiap persimpangan, buatku selalu menyodorkan tantangan. Seperti menjawab essay fisika. Membahasakan essay untuk menjadi enak dibaca saja sudah setengah mati. Apatah lagi membumikan fisika??? Aku selalu menjadi pembelajar yang telat. Kadang-kadang juga pembelajar yang kalut. Takut aku kadang-kadang untuk berada di simpang.

Padahal bumi berputar itu niscaya. Daun hijau merangas menua lalu mati itu niscaya. Anak-anak tumbuh besar dan beranak pinak juga niscaya. Mau lari kemana???

Betapapun gentarnya kita menghadapi setiap fase hidup toh pilihan kita ya hadapi saja atau sirna ditelan sejarah.

Cobalah, sebagai misal. Seperti sukarno dengan retorika halilintar itu apa tidak pernah dia itu mengalami semacam nervous? Semacam gemeletar kakinya, atau sedikit berdiri bulu kuduknya kapan dia mau berbicara? Atau chriss john sang legenda itu apa tidak pernah dia berasa mau mati saja kapan menatap musuh beringas macam babi hutan di pojok ring sebelah sana???

Kurasa, mungkin ya, orang-orang besar itu pernah juga gemetaran kakinya, atau jedat-jedut jantungnya. Atau berkeringat dingin sebulir-bulir jagung. Tapi dibalik pucat pasi mereka, atau ciut nyalinya itu, mereka selalu saja bisa tampil natural. Terlihat tenang dan selalu tajam. Mereka bisa jadi takut memang, bisa jadi gemetaran memang, tapi mereka tidak pernah lari.

Dan orang-orang biasa macam kita-kita ini yang setiap hari merutuk nasib atau meratapi ketololan kita sendiri, untuk takut menghadapi masa depan, untuk mengkhawatiri kerja dan penghasilan, untuk skripsi yang bertumpuk-tumpuk, untuk ini untuk itu untuk apapun saja.

Dan tiba-tiba aku sudah di pengkolan jalan, gang kecil ke rumahku ada di sebelah kanannya. Aku menyeberang setengah berlari menghindari motor bebek berlampu redup dan mobil kijang hitam metalik. Lalu mengambil handphone dari saku celana dan mengetikkan sms buat istriku, sepertinya sebentar lagi dia sampai.

Untuknya, rasanya berani aku menyusur persimpangan mana saja.